tgindex
الفوائد النـافعة

الفوائد النـافعة

Статистика
@af0saРелигияиндонезийский

Berbagi kumpulan faidah bermanfaat berdasarkan manhaj salafus shalih. Silakan repost dengan menyertakan name tag tanpa ditambah dan kurangi isinya, semoga menjadi amal jariyah bagi kita semua. Bila ada komentar, DM ke IG: @alfawaaid_annaafiah

Последний пост
9 авг.
Последнее чтение
15 авг.
Постов за неделю
0
Всего постов
20
Тип
открытый
Язык
индонезийский
Категория
Религия (по похожим)
В каталоге с
13 авг.
Подписчики
1 744
−1 за 2 дн.
Сутки
0
0,00%
Неделя
 
Месяц
 
Просмотров на пост
398
20 постов
Вовлечённость
22,8%
к подписчикам
Постов в день
0,0
всего 20
Упоминаний
1
каналов
Охват размещения
оценка
1/24сутки в ленте
86
1/48двое суток
98
1/72трое суток
106

Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.

Посты

  • видео или голосовое, без подписи

  • Lihatlah betapa mereka sangat berusaha menjaga ‘iffah dan ‘izzahnya

  • 〰〰〰🌟 〰〰〰🌟 Bagaimana Meraih Keberkahan Waktu? إن الله تعالى قد ينزل البركة للإنسان في قته بحيث يفعل في الوقت القصير ما لا يفعل في الوقت الكثير. ومن أعظم ما يعينك أن تستعين بالله عز وجل في جميع أفعالك، بأن تجعل أفعالك مقرونة بالاستعانة بالله، حتى لا توكل إلى نفسك لأنك إن وكلت إلى نفسك وكلت إلى ضعف وعجز، وإن أعانك الله فلا تسأل عما يحصل لك من العمل والبركة “Sesungguhnya Allah dapat menurunkan keberkahan pada waktu seseorang, sehingga dalam waktu yang singkat, ia mampu menyelesaikan apa yang tidak mampu diselesaikan dalam waktu yang lama. Di antara sebab terbesar yang akan membantumu meraih keberkahan itu adalah senantiasalah memohon pertolongan kepada Allah pada setiap aktivitasmu. Jadikan setiap aktivitasmu selalu disertai dengan isti’anah (meminta pertolongan) kepada-Nya, agar kamu tidak mengandalkan dirimu sendiri. Sebab, jika kamu mengandalkan dirimu sendiri, maka kamu akan diserahkan kepada kelemahan dan ketidakmampuanmu. Namun jika Allah menolongmu, maka jangan lagi bertanya betapa banyak amal dan keberkahan yang akan engkau peroleh.” -Syarh Hadits Jabir fi Shifati Hajjatin Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam: 144-145

  • видео или голосовое, без подписи

  • 🪻🪻🪻🪻 Jangan Terpedaya oleh Tarbiyahmu Betapa banyak kita melihat para orang tua yang bersikukuh mencurahkan waktunya, tenaganya, hartanya, bahkan air matanya demi mendidik anak-anaknya. Mereka berjuang untuk memilihkan lingkungan yang baik, guru yang shalih, membentuk bi’ah yang baik di rumahnya, mengajarkannya adab, dan terus menasihati dengan penuh kesabaran. Ini semua merupakan ikhtiar yang diperintahkan. Namun, jangan sampai hati bergantung kepada hal itu, dan melupakan sesuatu yang jauh lebih penting. Tidaklah seorang anak menjadi shalih hanya karena hebatnya metode pendidikan orang tuanya. Sebagaimana tidaklah seorang anak menjadi istiqamah semata-mata karena banyaknya nasihat yang ia dengar. Hidayah bukanlah hasil dari kecerdasan dan kehebatan orang tua dalam mendidik. Hidayah merupakan karunia dari Allah semata. Ada penjelasan bagus dari Syaikh Abdurrazzaq Al- Badr hafidzahullah yang dapat direnungi para orang tua dalam perkara ini: لا يمكن أن يصلح لك أي فرد من أفراد ذريتك إلا إذا أصلحه الله لك، مهما اجتهدت في تأديبه وتربيته وأطره على الحق وإلزامه على الاستقامة، لا يمكن أن يستقيم ويصلح إلا إذا أصلحه الله لك. فالهادي هو الله، والموفق هو الله سبحانه وتعالى، لهذا ينبغي على المسلم أن يعظم رجاءه بالله، وسؤاله لله، وإلحاحه على الله سبحانه وتعالى أن يصلح ذريته، فها هو خليل الرحمن في دعائه يقول: ربنا واجعلنا مسلمين لك ومن ذريتنا أمة مسلمة لك. “Tidak mungkin seorang pun dari keturunanmu menjadi baik bagimu kecuali jika Allah yang memperbaikinya untukmu, sekeras apa pun usahamu dalam mendisiplinkannya, mendidiknya, membimbingnya ke jalan yang benar, dan mewajibkannya untuk tetap istiqamah. Ia tidak akan bisa menjadi lurus dan baik kecuali jika Allah yang memperbaikinya untukmu. Sebab, Yang Memberikan Hidayah adalah Allah, dan Yang Memberikan Taufiq adalah Allah. Oleh karena itu, seorang Muslim harus mengutamakan harapannya kepada Allah, memohon kepada-Nya, dan terus menerus memohon kepada-Nya agar (Allah) memperbaiki keturunannya. Inilah yang diucapkan oleh Khalilur-Rahman (Ibrahim ‘alaihissalam) dalam doanya: “Ya Rabb kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan jadikanlah dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu.” Inilah yang selayaknya ditanamkan pada hati orang tua, bahwa orang tua diperintahkan untuk berikhtiar dalam mendidik anak sebaik mungkin, namun jangan menggantungkan hati pada ikhtiar tersebut. Karena tarbiyah adalah sebab, sedangkan Allah yang membolak-balikkan hati. Maka gabungkanlah doa, ikhtiar dan tawakkal dalam setiap prosesnya, dan janganlah merasa cukup hanya dengan ikhtiar yang sudah dikerahkan. 💭 t.me/af0sa

  • видео или голосовое, без подписи

  • 〰〰〰🌟 〰〰〰🌟 Mengupload Foto Wanita Berhijab, Benarkah Termasuk Bentuk Dakwah? Belakangan ini kita cukup sering menjumpai foto wanita berhijab, bahkan yang bercadar dengan hanya tampak kedua matanya, atau ditutupi, yang kemudian diunggah dan disebarkan dengan alasan untuk mengajak wanita lain mengenakan hijab atau menyebarkan kebaikan. Dalam agama ini, tujuan yang baik juga harus ditempuh dengan cara yang benar. Pernahkah kita mendapati para shahabiyat melakukan hal semacam ini ketika ayat hijab diturunkan?. Tentu tidak. Justru kesempurnaan hijab seorang wanita adalah semakin sedikit dirinya terlihat oleh pandangan laki-laki yang bukan mahramnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ليس للنساء ‌وسط ‌الطريق. “Bukanlah bagian tengah jalan itu untuk para wanita.” (HR. Ibnu Hibban) Ketika para shahabiyat mendengar sabda tersebut: فكانت المرأة ‌تلتصق ‌بالجدار حتى إن ثوبها ليتعلق بالجدار من لصوقها به. “Mereka pun berjalan merapat ke dinding hingga pakaian mereka tersangkut pada dinding karena sangat dekatnya mereka berjalan di sisinya.” (HR. Abu Dawud) Jika para wanita terbaik ummat ini begitu menjaga diri agar tidak menarik perhatian ketika berada di jalanan, maka tidakkah kita perlu kembali mempertimbangkan kebiasaan menyebarkan foto wanita di sosial media? Foto wanita berhijab di sosial media bisa menjadi lebih berbahaya daripada sekadar keluarnya ia dari rumahnya, di antaranya karena: • Foto memudahkan orang untuk memandanginya. • Foto dapat diperhatikan berulang-ulang dalam waktu yang lama, berbeda dengan seseorang yang hanya sesaat melintas di jalan. • Foto bisa dilihat oleh puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang. • Foto dapat disimpan, disalin, atau disalahgunakan oleh siapa saja. • Keluar rumah bersifat sementara, sedangkan foto yang diunggah dapat terus tersebar dan dilihat kapan saja. Terlebih jika yang diunggah berupa video, karena gerakan lebih mudah menarik perhatian daripada gambar yang diam. Walau hanya sekadar foto atau video tangan, kepala, bahkan kaki yang dilapisi kaus kaki, semua ini dapat menjadi pintu fitnah yang dahsyat. Semoga Allah ampuni kita, menganugerahkan kepada kita ilmu yang benar, rasa malu yang terpuji, dan taufiq untuk menjaga diri sesuai dengan petunjuk syariat. Karena terkadang, sesuatu yang kita sangka sebagai jalan menuju kebaikan justru perlu ditimbang kembali dengan timbangan ilmu. 🌷t.me/af0sa

  • видео или голосовое, без подписи

  • 〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️ 𝐃𝐢𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐟𝐚𝐢𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐧𝐝𝐮𝐤𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐧𝐝𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐣𝐞𝐥𝐚𝐬𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐈𝐛𝐧𝐮𝐥 𝐐𝐚𝐲𝐲𝐢𝐦 𝐫𝐚𝐡𝐢𝐦𝐚𝐡𝐮𝐥𝐥𝐚𝐡, 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐧𝐮𝐤𝐢𝐥 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐛𝐞𝐛𝐞𝐫𝐚𝐩𝐚 𝐤𝐢𝐭𝐚𝐛: ومن آفات النظر أنه يورث الحسرات والزفرات والحرقات, فيرى العبد ما ليس قادرا عليه ولا صابرا عنه. Di antara bahaya pandangan adalah bahwa ia mewariskan penyesalan, rintihan, dan luka yang membakar hati. Sebab seseorang melihat sesuatu yang tidak mampu ia raih, namun ia juga tidak sanggup bersabar untuk berpaling darinya. (Al-Jawaabul Kaafi) ولهذا كان غض البصر عن المحارم يوجب ثلاث فوائد عظيمة الخطر جليلة القدر: • حلاوة الإيمان ولذته. • نور القلب وصحة فراسته. • قوة القلب وثباته وشجاعته. Oleh karena itu, menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan akan menghasilkan tiga faidah besar yang sangat agung nilainya, yakni: • Manisnya iman dan kelezatannya. • Cahaya hati serta benarnya firasat. • Kuatnya hati, keteguhannya, dan keberaniannya. (Ighatsatul Lahfan) فمن غض بصره عما حرمه الله عليه عوضه الله من جنسه ما هو خير منه فكما أمسك نور بصره عن المحرمات أطلق الله نور بصيرته وقلبه. Maka barang siapa menundukkan pandangannya dari apa yang Allah haramkan baginya, niscaya Allah akan menggantinya dengan kenikmatan yang lebih mulia. Sebagaimana ia menahan cahaya penglihatannya dari hal-hal yang haram, Allah pun akan membukakan cahaya bashirah dan juga hatinya. (Ighatsatul Lahfan) 📃 t.me/af0sa

  • видео или голосовое, без подписи

  • Faidah berharga dari perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: Rahasia digandengkannya kalimat Laa ilaaha illallah dan istighfar dalam firman Allah pada Surah Muhammad ayat 19: “Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu serta untuk kaum mukminin laki-laki dan perempuan.” Adalah bahwa tauhid menghilangkan akar syirik, sedangkan istighfar menghapus cabang-cabangnya. Maka sanjungan dan pengagungan yang paling mulia kepada Allah adalah ucapan: “Laa ilaaha illallah.” Dan doa yang paling mulia adalah ucapan: “Astaghfirullah.” Karena itu, Allah memerintahkannya untuk bertauhid dan memohon ampunan bagi dirinya sendiri serta bagi saudara-saudaranya dari kalangan kaum mukminin dan mukminat. -Majmu’ Al-Fatawa 697/11 💕 t.me/af0sa

  • Berkata Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah: Barangsiapa yang beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya di masa mudanya, maka Allah akan memberinya hikmah di masa tuanya. Renungkanlah firman Allah ini: “Dan setelah ia (Musa) dewasa dan sempurna akalnya, Kami anugerahkan kpdnya hikmah dan ilmu. Dan demikianlah kami memberi balasan pada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al- Qashash: 14) ~Miftah Daaris Sa’adah 168/1 🪶 t.me/af0sa

  • Satu celupan di surga akan membuat seorang hamba melupakan seluruh kesedihan yang pernah ia rasakan di dunia. Maka bagaimana dengan kenikmatan yang abadi, kebahagiaan yang tak pernah berakhir, dan perjumpaan dengan Rabb yang Maha Pengasih? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: يؤتى بأشد الناس بؤسا من ‎أهل الجنة، فيصبغ صبغة (يغمس غمسة) في الجنة. فيقال له: هل رأيت بؤسا قط؟، هل مر بك شدة قط؟. فيقول : لا والله يا رب. “Akan didatangkan seorang penghuni surga yang dahulu merupakan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia. Lalu ia dicelupkan ke dalam surga satu kali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya: ‘Apakah engkau pernah merasakan kesengsaraan?. Apakah engkau pernah mengalami kesulitan?’. Ia menjawab: Tidak, demi Allah wahai Rabbku.” (HR. Muslim) Wallah, kenikmatan di surga sedikit saja bisa melenyapkan semua kesengsaraan, dan kesedihan yang dirasakan di dunia, lantas bagaimana dengan kenikmatan yang kekal selamanya?. Maka, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. t.me/af0sa

  • Seorang salafi mengetahui bahwa menahan lisan dari membicarakan keburukan pemimpin muslim dan mendoakannya dengan kebaikan, perbaikan, dan hidayah merupakan prinsip dasar dalam manhaj salaf, dan ciri khas kaum salafi. Karenanya, tidak dikenal di kalangan mereka yang mencela pemimpin, mendoakan keburukan padanya, atau sibuk mencari-cari kekurangannya. Mereka mengetahui bahwa mencela pemimpin muslim, mengutuknya, dan mendoakan keburukan padanya merupakan prinsip yang dipegang oleh ahlul bidh’ah dan kelompok-kelompok yang menyimpang. Oleh karena itu, yang sering dijumpai di kalangan mereka adalah mengutuk pemimpin muslim, mendoakan keburukan padanya, dan sibuk mencari-cari kekurangannya. ~Syaikh Sulaiman Ar- Ruhaili hafidzahullah اللهم اهد ولاة أمورنا ورعيتهم، وارزقنا البر والتقوى، واجمعنا على الحق. 🪶 t.me/af0sa

  • видео или голосовое, без подписи

  • 💕🌷✉️🩷 Nasihat Berharga dari Dr. Thalal Al-Hassan hafidzahullah, yang Artinya: Bila kita menginginkan kemuliaan dan peningkatan dalam agama dan kehidupan dunia kita, dan kita juga bercita-cita untuk hal-hal yang tinggi, maka dekatilah orang-orang yang berilmu, dan duduklah bersama orang yang memiliki semangat dan tekad yang kuat. Karena ruh mengambil pengaruh dari ruh yang lain, dan jiwa memperoleh bekal dari jiwa yang lain. Dan pertemanan memiliki pengaruh tersembunyi pada hati, dan pengaruhnya masuk dengan perlahan, sehingga tanpa disadari, sedikit demi sedikit telah merubah tabiat seseorang, merubah semangatnya, dan mengangkatnya pada tingkatan yang bahkan sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Betapa banyak orang yang dulunya tampak biasa-biasa saja, tidak memiliki cita-cita dan tekad yang tinggi, namun ketika ia bergaul dgn orang yang berilmu dan shalih, ia pun mulai menyerap akhlaq yang baik dari mereka, turut meneladani semangat dan tekad mereka, dan mendapatkan banyak manfaat dari mereka. Hingga seiring waktu, ia menjadi pribadi yang lebih baik, dan memiliki cita-cita serta tekad yang tinggi. Inilah mengapa berkumpul bersama orang-orang shalih di masa salaf merupakan salah satu pintu pendidikan yang mulia; seseorang masuk kedalamnya, lalu ia tidak keluar kecuali ilmunya bertambah, akalnya menjadi lurus, tekadnya meningkat, dan dirinya menjadi lebih baik. Al-Hafidz Adz- Dzahabi rahimahullah menyinggung perkara ini dalam kitabnya “Siyar A’lamin Nubala’ 10/458, ketika beliau menukil ucapan Ahmad bin Yunus: إذا رجعت من عند سفيان الثوري؛ أخذت نفسي بخير ما علمت، وإذا أتيتُ مالك بن مغول؛ تحفظتُ من لساني، وإذا أتيت شريكا؛ رجعت بعقل تام، وإذا أتيتُ مندل بن علي؛ أهمتني نفسي من حسن صلاته. “Jika aku pulang dari sisi Sufyan Ats-Tsauri, aku terdorong untuk mengamalkan ilmu yang telah aku ketahui. Jika aku mendatangi Malik bin Mighwal, aku menjadi lebih menjaga lisanku. Jika aku mendatangi Syarik, aku pulang dengan pemahaman dan akal yang lebih baik. Dan jika aku mendatangi Mundil bin Ali, aku menjadi lebih memperhatikan diriku karena melihat bagusnya shalat beliau.” Perhatikanlah. Pertemuan, dan perkumpulan bersama orang shalih itu bukan sekadar tempat mendengarkan, tapi tempat pembinaan jiwa, dan pembentukan kepribadian. Seseorang keluar dari sana dgn keadaan hati menjadi lebih bersih, dan tekad menjadi lebih kuat, atau sebaliknya. Kesimpulannya adalah: Setelah pertolongan dan taufiq dari Allah, tiada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya dalam memperbaiki diri seseorang melainkan dgn bergaul bersama orang-orang mulia, dan sering berkumpul bersama orang-orang shalih. 🌙 t.me/af0sa

  • видео или голосовое, без подписи

  • 🔍🔍 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: من تعلم علما مما يبتغى به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة “Barang siapa mempelajari ilmu yang seharusnya dicari untuk mengharap wajah Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud) Hadits ini menjadi peringatan bahwa menuntut ilmu syar’i sekalipun dapat kehilangan keberkahannya apabila dicari untuk tujuan duniawi. Maka bagaimana jika sejak awal orang tua telah menanamkan kepada anak bahwa tujuan belajar adalah agar terkenal, dipuji, atau dihormati manusia? Ketika anak mulai belajar menghafal Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, atau mengikuti pendidikan pendidikan lainnya, hendaknya orang tua membiasakan ucapan-ucapan yang mengingatkan tentang keikhlasan. Misalnya, sambil kita usap kepalanya atau diusap punggungnya, kita bilang: “Nak, kita belajar supaya kelak bertemu dgn Allah, kita memiliki hujjah bahwa kita telah berusaha mengenal agama-Nya, nak” “Nak, hafalan ini untuk bekal kita bertemu dgn Allah.” “Nak, yang terpenting bukanlah pujian manusia, tetapi Allah ridha sama kita. Biar berkah hidup kita.” Kalimat-kalimat sederhana semacam ini, apabila terus diulang, terus disounding, insya allah akan membentuk cara pandang anak kita terhadap amal. Allah Ta’ala berfirman: وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5) Perhatikanlah kawan, Allah mendahulukan keikhlasan sebelum amalan-amalan lainnya. Ini menunjukkan bahwa ikhlas merupakan ruh dari seluruh ibadah. Tanpa keikhlasan, amal yang tampak besar di mata manusia bisa jadi tidak bernilai apa-apa di sisi Allah. Sebaliknya, amal yang kecil dan tersembunyi bisa menjadi sangat besar karena keikhlasan pelakunya. Ibnul mubarak rahimahullah berkata: رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية “Betapa banyak amalan yang kecil, tetapi menjadi sangat besar pahalanya karena niat (yang tulus karena Allah). Dan betapa banyak amalan yang tampak besar, tetapi justru menjadi sedikit pahalanya karena niat (yang rusak).” Sebagian orang tua merasa bahagia ketika anaknya tampil di hadapan banyak orang. Hal itu tidak mengapa selama kebahagiaan tersebut tidak berubah menjadi kebanggaan yang melalaikan. Karena sesungguhnya ukuran kemuliaan dalam Islam bukanlah ketenaran. Allah Ta’ala berfirman: إن أكرمكم عند الله أتقاكم “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13) Maka ukuran keberhasilan pendidikan bukanlah seberapa banyak manusia mengenal anak kita, melainkan seberapa besar ketakwaannya kepada Allah. Boleh jadi ada seorang anak yang tidak menjadi sosok yang terkenal, tidak memiliki ribuan murid, dan tidak dikenal masyarakat luas. Namun ia menjaga shalatnya, berbakti kepada kedua orang tuanya, menjaga lisannya, menjaga tauhidnya, menjauhi syirik dan bidh’ah, kemudian ia meninggal di atas sunnah. Maka wallahi kawan, yang seperti ini juga merupakan keberhasilan yang sangat besar. Bahkan salafus shalih dahulu lebih takut kehilangan keikhlasan dan istiqamah daripada kehilangan kedudukan dan popularitas. Karena yang akan menyelamatkan seorang hamba di hadapan Allah bukanlah banyaknya pengikut, tetapi benar dan ikhlasnya suatu amalan. Oleh sebab itu, jangan hanya mengajarkan anak untuk menjadi pintar. Ajarkan pula mereka untuk ikhlas dan tawadhu. Jangan hanya mengajarkan anak untuk menjadi unggul. Ajarkan pula mereka untuk takut kepada Allah. Jangan hanya mengajarkan anak agar dicintai manusia. Ajarkan pula mereka agar dicintai oleh Allah. Karena apabila seorang anak telah memiliki tauhid yang benar, aqidah yang lurus, keikhlasan dalam amal, dan ketakwaan kepada Rabb-nya, maka itulah keberhasilan terbesar yang seharusnya menjadi cita-cita setiap orang tua. Wallahuta’ala a’lam. t.me/af0sa

  • 〰〰〰🌟 Mencetak Generasi Shalih; Apa yang Sering Terlupakan? Kawan, izinkan aku berbagi sedikit nasihat yang semoga Allah menjadikannya bermanfaat bagi kita semua dan memudahkan kita untuk mengamalkannya. Sebagian dari nasihat ini mungkin pernah aku sampaikan, baik melalui lisan maupun tulisan. Namun, aku merasa perlu mengingatkannya kembali, yang semoga apa yang disampaikan ini dapat menjadi manfaat bagi kita semua; baik yang telah memiliki anak maupun yang belum, baik yang sudah menikah maupun yang belum menikah. Nasihat ini juga tidak terbatas bagi orang tua kepada anaknya, tetapi dapat diterapkan oleh kakak kepada adiknya, guru kepada muridnya, atau siapa saja yang Allah beri amanah untuk membimbing dan mendidik orang lain. Yakni, banyak orang tua menginginkan anak-anaknya menjadi imam di masjid-masjid besar, menjadi, menjadi ustadz/ ustadzah besar yang dikenal luas di tengah umat, dan hal-hal semisal itu. Keinginan tersebut pada dasarnya tidak tercela, namun perlu disadari bahwa terkadang ada harapan-harapan terselubung duniawi di dalamnya, berupa harapan popularitas, dan keinginan pada kedudukan di mata manusia. Maka, hal itu telah masuk ke dalam bagian dari harapan duniawi, dan demikian dapat menghilangkan keberkahan. Mengapa?, sebab penting bagi orang tua untuk menyadari bahwa pendidikan dan perjalanan ilmu anak termasuk bagian dari ibadah yang tidak akan bernilai tanpa keikhlasan niat karena Allah semata. Dan setiap amal yang tujuan utamanya bukan karena Allah, hal itu merupakan ke sia-siaan belaka. Maka hendaknya orang tua memperbaiki niat dan arah didikannya. Tujuan utama mendidik anak bukanlah agar mereka mencapai kedudukan tinggi di mata manusia, tetapi agar mereka menjadi hamba yang lurus aqidahnya, takut kepada Allah, ikhlas dalam beramal, dan baiknya ubudiyah kepada Rabbnya.. Ketika orang tua mengarahkan anak-anaknya untuk menuntut ilmu syar’i, hendaknya mereka juga menanamkan keikhlasan dalam menuntut ilmu; agar anak memahami bahwa kemuliaan bukan pada kedudukan di mata manusia,melainkan pada kejujuran niatnya di hadapan Allah subhanahu wata’ala. Maka, didiklah diri dan anak-anak kita agar senantiasa meluruskan niatnya. Sebab, perkara niat merupakan pondasi seluruh amal. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda. إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa baiknya tujuan tidaklah cukup. Sebuah amal baru bernilai di sisi Allah apabila dibangun di atas niat yang benar karena Allah Ta’ala. Karena itu, ketika orang tua menginginkan anaknya menjadi penghafal Al-Qur’an, menjadi penuntut ilmu syar’i, menjadi da’i dan da’iyah, menjadi imam di masjidil haram misalnya, atau hal-hal semacam itu, maka hendaknya yang paling pertama diperhatikan adalah niat yang ada di balik harapan tersebut. Apakah kita menginginkan hal itu agar agama Allah tegak pada diri mereka?. Ataukah ada keinginan tersembunyi agar mereka menjadi dikenal manusia, dan mendapatkan kedudukan di tengah masyarakat?. Maka seorang mu’min hendaknya selalu mengoreksi dirinya, karena hati manusia sangat mudah berubah. Mengoreksi dirinya, bukan mengoreksi orang lain. Para salafus shalih sangat memperhatikan masalah niat sebelum memperhatikan banyaknya amal. Diriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah bahwa beliau berkata: ما عالجت شيئا أشد علي من نيتي، لأنه تتقلّب عليّ “Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat atas diriku daripada niatku, karena ia selalu berbolak-balik padaku.” Perkataan ini menunjukkan bahwa para ulama besar sekalipun senantiasa khawatir terhadap niat mereka. Lalu bagaimana dengan kita yang penuh kekurangan ini? Karena itu, meluruskan niat bukanlah pekerjaan yang sekali selesai dan sekali jadi, tetapi perjuangan yang terus-menerus hingga akhir hayat. Hendaknya para orang tua juga memahami bahwa menuntut ilmu syar’i adalah ibadah. Lanjutan 🔍🔍

  • видео или голосовое, без подписи

الفوائد النـافعة — tgindex