شرح السنة/Syarhus Sunnah📚
СтатистикаBerpegang dengan As Sunnah dengan pemahaman Shahabah penanggung jawab Abu Ya'qub Ahmad Hamdani bin Muslim bin Muhidi Al Jawi
- Последний пост
- 15 авг.
- Последнее чтение
- 15 авг.
- Постов за неделю
- 38
- Всего постов
- 94
- Тип
- открытый
- Язык
- индонезийский
- Категория
- Религия (по похожим)
- В каталоге с
- 13 авг.
- 1/24сутки в ленте
- 48
- 1/48двое суток
- 55
- 1/72трое суток
- 59
Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.
Посты
Terjemahan ✍🏻 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله تعالى berkata: > “Adapun kesedihan (الحزن), maka Allah dan Rasul-Nya tidak memerintahkannya. Bahkan Allah melarangnya dalam beberapa keadaan, meskipun kesedihan itu berkaitan dengan urusan agama. Allah Ta‘ala berfirman: ﴿وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ﴾ ‘Janganlah kalian merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kalianlah yang paling tinggi derajatnya jika kalian orang-orang beriman.’ (QS. Ali ‘Imran: 139) Dan Allah berfirman: ﴿وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ﴾ ‘Dan janganlah engkau bersedih terhadap mereka dan janganlah engkau merasa sempit terhadap tipu daya yang mereka lakukan.’ (QS. An-Nahl: 127) Dan firman-Nya: ﴿إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا﴾ ‘Ketika dia berkata kepada sahabatnya: Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’ (QS. At-Taubah: 40) Dan firman-Nya: ﴿وَلَا يَحْزُنكَ قَوْلُهُمْ﴾ ‘Janganlah perkataan mereka membuatmu bersedih.’ (QS. Yunus: 65) Dan firman-Nya: ﴿لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ﴾ ‘Agar kalian tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kalian dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan kepada kalian.’ (QS. Al-Hadid: 23) Dan ayat-ayat semisalnya masih banyak. Hal itu karena kesedihan tidak mendatangkan manfaat dan tidak pula menolak mudarat, sehingga tidak ada faedah padanya. Sesuatu yang tidak memiliki faedah tidaklah diperintahkan oleh Allah. Namun terkadang kesedihan disertai dengan sesuatu yang menyebabkan seseorang mendapatkan pahala dan dipuji. Maka kesedihan tersebut terpuji dari sisi yang menyertainya, bukan dari sisi kesedihannya itu sendiri. Seperti seseorang yang bersedih karena musibah yang menimpa agamanya atau karena musibah yang menimpa kaum Muslimin secara umum. Ia mendapatkan pahala karena apa yang ada di dalam hatinya berupa kecintaan kepada kebaikan, kebencian terhadap keburukan, dan hal-hal yang mengikuti keduanya. Adapun apabila kesedihan tersebut menyebabkan lemahnya hati dan membuat seseorang sibuk dengannya sehingga meninggalkan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, maka kesedihan itu tercela dari sisi tersebut, meskipun dari sisi lain ia bisa saja terpuji.” — Majmū‘ Al-Fatāwā (10/16–17) Intinya: Kesedihan bukanlah tujuan seorang Muslim. Jika kesedihan muncul karena kecintaan kepada kebaikan dan agama, maka seseorang dapat memperoleh pahala. Tetapi jika kesedihan melemahkan hati hingga menghalangi seseorang dari ketaatan dan amal yang bermanfaat, maka kesedihan tersebut menjadi tercela.
*⭕ Jika seseorang berwudhu, lalu setelah selesai dia mendapati ada bagian dari anggota wudhunya yang belum terkena air, apakah dia cukup mengusap bagian itu? Ataukah dia harus mengulang wudhunya? ❓* *🔆 Al-‘Allamah Muhammad bin Utsaimin rahimahullah menjawab:* *💥 Pertama:* Ucapanmu "apakah diusap" itu tidak tepat. Karena tidak ada "usap" kecuali pada kepala. Selama itu bagian yang wajib dicuci, meskipun sedikit, maka wajib dicuci. Akan tetapi dia mencuci bagian yang tertinggal itu, dan juga mencuci anggota setelahnya. *💥 Contohnya:* Jika yang tertinggal di kedua tangan, maka kita katakan: _Cucilah bagian yang belum terkena air itu, lalu usap kepalamu dan telingamu, dan cucilah kedua kakimu._ Jika yang tertinggal di kedua kaki, maka kita katakan: _Cucilah bagian itu saja_, karena tidak ada anggota setelah kedua kaki. *📓 Liqa' Al-Bab Al-Maftuh *[81]
Inilah keuntungan yang besar. Inilah perdagangan yang menguntungkan: yaitu seorang ayah mengajarkan anaknya ilmu yang bermanfaat. Dan dia akan tahu hakikat perkara ini ketika dia mati. Orang yang melarang anaknya menuntut ilmu, menyibukkannya dengan dunia, dan memusuhinya jika ingin menuntut ilmu syar’i, maka dia akan tahu akibat buruknya ketika dia mati. Dan dia akan menyesal dengan penyesalan yang paling besar. Adapun orang yang mendidik anaknya di atas kebaikan dan di atas ilmu yang bermanfaat, maka dia akan sangat gembira ketika mati. Dan dia akan melihat pahala-pahala besar yang dia miliki di kuburnya, di padang mahsyar, sampai dia masuk surga dengan keutamaan Allah ‘Azza wa Jalla dan rahmat-Nya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak paham. Kebanyakan orang bodoh, mereka membuka mata mereka untuk dunia dan memejamkan mata mereka dari selain dunia. Tidak ada perhatian mereka kecuali kepada dunia. Dunia adalah kegelisahan mereka dan tujuan mereka. Mereka bekerja untuknya, mengagungkannya, dan sibuk dengannya di malam dan siang mereka. Dan mereka melupakan akhirat sama sekali atau hampir melupakannya. Inilah keadaan kebanyakan manusia. Oleh karena itu mereka memerangi ilmu, dan memerangi anak-anak mereka jika ingin menuntut ilmu. Ini karena sangat bodohnya mereka. Andai mereka tahu hakikat perkara, niscaya mereka akan bersegera mendidik anak-anak mereka di atas kebaikan, dan bersegera mengajarkan anak-anak mereka apa yang akan mendatangkan manfaat besar bagi mereka dan pahala yang besar. *_🎙️ Oleh Fadhilatusy Syaikh: Abu Bakar bin ‘Abduh Al-Hammadi Hafizhahullah wa ra’ah_* #Fatawa_Tertulis | #Fiqhiyah
*📚 Al-‘Udzubah Fid Fatawa Al-Mufarroghah Al-Maktubah* *📃 Pertanyaan 🖋️* Apa nasihat anda untuk sebagian salafiyin yang memasukkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah formal? Dan kami mohon penjelasannya tentang sebagian mafsadah/kerusakan di dalamnya? *✍🏼 Jawaban :* Nasihat saya untuk mereka adalah agar mereka mendaftarkan anak-anaknya ke majelis-majelis ilmu. Majelis yang di dalamnya diajarkan Kitabullah ‘Azza wa Jalla dan Sunnah Nabi ﷺ. Karena inilah kebaikan: agar anak belajar agamanya, belajar Kitabullah ‘Azza wa Jalla dan Sunnah Nabi ﷺ. Inilah yang akan bermanfaat baginya di akhiratnya. Nabi ﷺ bersabda: *"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga"* [HR. Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه]. Maka ilmu agama mengantarkan ke surga. Adapun ilmu dunia, ia tidak mengantarkan kecuali kepada dunia. Ia akan sirna dengan sirnanya dunia dan tidak mengantarkan ke akhirat. Ia adalah ilmu yang lemah, tidak mengantarkan ke akhirat. Adapun ilmu syar’i maka ia mengantarkan ke surga. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada Nabi-Nya: *"Maka berpalinglah dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak menginginkan kecuali kehidupan dunia. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka."* [An-Najm: 29-30] Yaitu batas ilmu mereka hanya dunia. Terkadang salah seorang dari mereka mencapai perkara besar dalam urusan dunia seperti berbagai macam penemuan, dan mengetahui hal-hal yang detail dari urusan dunia. Namun bersamaan dengan itu dia tidak paham sedikitpun tentang urusan agama dan akhiratnya. Allah Ta’ala berfirman: *"Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia, sedangkan tentang akhirat mereka lalai."* [Ar-Rum: 6-7] Padahal dengan arah mereka kepada ilmu dunia pun mereka tidak mengetahui semua urusan dunia, melainkan hanya lahirnya saja. Maka orang-orang seperti ini dicela oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Maka hendaknya seseorang bersemangat untuk mengajarkan anak-anaknya apa yang bermanfaat bagi mereka dari agama, yaitu ilmu Al-Qur’an dan Sunnah. Inilah yang akan bermanfaat bagi anak dan juga bermanfaat bagi orang tuanya. Orang tua akan mendapatkan manfaat dari mengajari anaknya kebaikan. Karena jika seorang ayah mengajarkan anaknya kebaikan, maka setiap kebaikan yang dilakukan anak: shalat, puasa, haji, umrah, dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, baca Al-Qur’an, dakwah kepada kebaikan, dan amalan shalih lainnya... maka orang tuanya dapat pahala yang semisal. Karena dialah yang mengarahkan anaknya kepada kebaikan. Bisa jadi anak itu menjadi ulama dan bermanfaat bagi umat manusia, dan orang tuanya dapat pahala yang semisal. Bahkan bisa jadi ulama itu melahirkan ulama-ulama, dan ulama-ulama itu melahirkan ulama-ulama lain sampai dekat kiamat. Maka berapa banyak pahala yang terus-menerus dan banyak yang didapat orang tua ini, sebab dia mendidik anaknya di atas kebaikan dan mengajarkan anaknya Kitabullah ‘Azza wa Jalla dan Sunnah Nabi ﷺ. Adapun jika dia hanya mengajarkannya urusan dunia, maka orang tua itu tidak akan menuai kecuali beberapa dirham yang sedikit dan tidak kekal. Dunia dan isinya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: *"Seandainya dunia ini di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan memberi minum seteguk air pun kepada orang kafir darinya selamanya."* Dunia dan isinya dari awal sampai akhirnya tidak sebanding di sisi Allah dengan sayap nyamuk. Lalu apa yang akan didapat orang tua dari anaknya? Beberapa dirham dan sesuatu yang remeh dari urusan dunia. Jika dia mengajarkannya agama, maka dia akan mendapat manfaat di dunia dan di akhirat dengan manfaat yang besar. Berapa banyak pahala dan kebaikan untuknya. Nabi ﷺ bersabda: *"Atau anak shalih yang mendoakannya"* [HR. Muslim] Maka anak shalih itu akan mendoakannya setelah kematiannya. Dan orang tua akan mendapatkan pahala dari amalan anaknya, karena dialah yang menunjukkannya kepada kebaikan.
без подписи
Oleh karena itu, orang-orang yang menghadiri majelis-majelis yang di dalamnya terjadi ghibah dan namimah, tetapi mereka tidak mengingkarinya—terlebih lagi jika yang digunjingkan adalah para pemimpin kaum Muslimin dan para ulama—maka perkaranya lebih berat. Hal itu karena para ulama dan para pemimpin memiliki peran penting dalam agama; dengan mereka urusan umat dapat berjalan dengan baik. Maka wajib membela mereka, karena membela mereka merupakan bagian dari membela agama dan para penjaganya. (Hal. 500-501)
Kitab Penjelasan Al Kabair (Dosa-dosa Besar) karya Syaikh Sholih Al Fauzan Ya, kedua hadis yang disebutkan dalam bab tersebut memang diriwayatkan, tetapi derajat keduanya perlu dibedakan. 1. Hadis Sahl bin Hunaif رضي الله عنه النص: > «مَنْ أُذِلَّ عِنْدَهُ مُسْلِمٌ فَلَمْ يَنْصُرْهُ وَهُوَ يَقْدِرُ أَنْ يَنْصُرَهُ، أَذَلَّهُ اللَّهُ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» “Barang siapa seorang Muslim direndahkan di hadapannya, lalu ia tidak menolongnya padahal ia mampu menolongnya, niscaya Allah akan merendahkannya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat.” Riwayat: Ahmad no. 15985. Namun, sanadnya dha‘if. Dalam penilaian yang dikutip dalam sumber takhrij, sanad hadis ini dinilai lemah. Jadi, tidak tepat mengatakan hadis ini sahih secara sanad. --- 2. Hadis Jabir dan Abu Thalhah رضي الله عنهما النص: > «مَا مِنِ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا فِي مَوْضِعٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ، إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ، وَمَا مِنِ امْرِئٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْضِعٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ، إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ نُصْرَتَهُ» “Tidaklah seseorang menelantarkan seorang Muslim di tempat yang kehormatannya dilanggar dan kehormatannya direndahkan, kecuali Allah akan menelantarkannya pada suatu tempat yang ia sangat membutuhkan pertolongan. Dan tidaklah seseorang menolong seorang Muslim di tempat kehormatannya direndahkan dan kehormatannya dilanggar, kecuali Allah akan menolongnya pada tempat yang ia sangat membutuhkan pertolongan.” Riwayat: Abu Dawud no. 4884 dan Ahmad no. 16368. Untuk hadis ini terdapat perbedaan penilaian ulama: Al-Albani: dha‘if. Syu'aib al-Arnauth: sanadnya dha‘if. Sebagian ulama menghasankannya, karena adanya syawahid/penguat. Abu Dawud sendiri tidak memberikan penilaian eksplisit terhadap hadis tersebut dalam Sunannya. Penjelasan Syaikh Al Fauzan hafidhahulloh (233) Wajib bagi seorang Muslim memperhatikan keadaan orang yang dizalimi. Maka seorang Muslim wajib membantu orang yang dizalimi dan membebaskannya dari kezalimannya apabila ia mampu. Jika ia meninggalkannya padahal ia mampu menolongnya, maka ia telah melakukan salah satu dosa besar. Adapun sabda Nabi ﷺ: «مَنْ أَذَلَّ مُسْلِمًا، فَلَمْ يَنْصُرْهُ وَهُوَ يَقْدِرُ أَنْ يَنْصُرَهُ، أَذَلَّهُ اللهُ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» “Barang siapa merendahkan seorang Muslim—baik pada tubuhnya, hartanya, maupun kehormatannya—lalu tidak menolongnya, yaitu tidak membelanya dari kezalimannya, padahal ia mampu menolongnya, maka Allah akan menghinakannya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat.” Hadits ini menunjukkan bahwa tidak menolong orang yang dizalimi padahal mampu menolongnya termasuk dosa besar. Sebab, pada asalnya seorang Muslim hendaknya membela saudaranya sebagaimana ia membela dirinya sendiri. 📕«الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ» “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak menelantarkannya.” - HR. Muslim - penerj. ▪️Adapun sabda beliau ﷺ: “Tidaklah seseorang menghinakan seorang Muslim di suatu tempat yang kehormatannya dilanggar dan harga dirinya direndahkan, kecuali Allah akan menghinakannya di suatu tempat yang ia sangat mengharapkan pertolongan.” Ini semakna dengan hadis sebelumnya. Barang siapa ketika saudaranya sesama Muslim dibicarakan kehormatannya, maka wajib baginya membela kehormatan saudaranya tersebut. Jika ia meninggalkannya padahal ia mampu membela, maka balasannya adalah Allah akan menghinakannya pada suatu keadaan ketika seharusnya ia mendapatkan pertolongan. Sebaliknya, barang siapa membela saudaranya di tempat ia direndahkan, maka Allah akan menolongnya pada tempat yang ia sangat membutuhkan pertolongan. Sebab, balasan itu sesuai dengan jenis amal perbuatan.
شرح كتاب الكبائر — 📕Penjelasan Kitab Al Kabir ▪️Bab: Kezaliman dalam Harta Dalam Ash-Shahih disebutkan: «وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ» Artinya: “Dan tidaklah seseorang merampas suatu barang rampasan yang membuat manusia mengarahkan pandangan kepadanya ketika ia merampasnya, sedangkan ketika itu ia masih seorang mukmin.” Penjelasan Syaikh Sholeh Al Fauzan hafidhahullah Kata الانتهاب (intihāb) berarti merampas, yaitu mengambil sesuatu secara paksa. Dahulu orang-orang Arab pada masa jahiliah biasa melakukan penyerangan dan merampas harta manusia dengan kekerasan. Termasuk di dalamnya orang yang mencuri harta, mengambilnya dengan tipu daya, atau dengan penipuan. Harta seorang Muslim adalah haram untuk diambil kecuali dengan cara yang dibenarkan oleh syariat. Adapun sabda Nabi ﷺ: «يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ» Maksudnya, barang yang dirampas tersebut memiliki nilai yang besar, sehingga menarik perhatian manusia dan membuat mereka menginginkannya. Jika yang diambil adalah sesuatu yang remeh dan tidak bernilai, maka tidak termasuk ancaman khusus dalam hadis ini. Namun tetap haram mengambilnya. Sedangkan sabda Nabi ﷺ: «وَهُوَ مُؤْمِنٌ» Maksudnya adalah iman yang sempurna. Artinya, ketika seseorang melakukan perampasan tersebut, ia tidak berada dalam keadaan memiliki iman yang sempurna. (Hal 499) Kesimpulan: Perampasan dan pengambilan harta orang lain dengan cara yang batil merupakan dosa besar, dan harta seorang Muslim tidak boleh diambil kecuali dengan hak yang dibenarkan syariat.
WAJIB MELARANG BID'AH قال الإمام ابن باز رحمه الله : البدع وذرائع الشرك يجب النهي عنها، ولو حسن قصد فاعلها أو الداعي إليها؛ لما تفضي إليه من الفساد العظيم وتغيير معالم الدين مجموع الفتاوى ( ٤٠٧/١ ) Berkata Al-Imam Ibnu Baz rahimahullah : "Bid'ah dan perantara-perantara kesyirikan wajib dilarang, walaupun niat pelakunya atau orang yang menyeru kepadanya baik. Karena hal itu akan mengantarkan kepada kerusakan yang besar dan mengubah rambu-rambu agama." _Majmu' Fatawa 1/407_
DAMPAK POSITIF IBADAH YANG BENAR قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله: وَالْمُسْلِمُ الصَّادِقُ إِذَا عَبَدَ اللهَ بِمَا شَرَعَ، فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ أَنْوَارَ الْهِدَايَةِ فِي مُدَّةٍ قَرِيبَةٍ. Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata : “Seorang muslim yang jujur, apabila ia beribadah kepada Allah sesuai dengan apa yang Allah syariatkan, niscaya Allah akan membukakan baginya cahaya-cahaya petunjuk dalam waktu yang dekat.” 📚 Al-Istiqāmah, Ibnu Taimiyah, 1/100.
⭕ Maksiat dan Bid‘ah Mengurangi Keimanan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata: > “Apabila manusia terjatuh ke dalam bid‘ah dan kemaksiatan, maka iman mereka akan berkurang. Adapun orang yang mengetahui kebenaran dan berkeinginan untuk mengikutinya, maka hal itu akan membuatnya tidak membutuhkan keyakinan terhadap kebatilan dan mengikutinya. Oleh karena itu, para sahabat رضي الله عنهم adalah manusia yang paling jauh dari dosa dan bid‘ah, karena mereka merasa cukup dengan ilmu, iman kepada Allah, dan apa yang mereka terima dari Rasulullah ﷺ. Engkau tidak akan mendapati seseorang terjatuh ke dalam suatu bid‘ah, kecuali karena berkurangnya ittiba‘ (pengikutan) terhadap Sunnah, baik dalam ilmu maupun amal.” 📚 Jāmi‘ al-Masā’il, 5/250. ▪️Bid'ah nampaknya ibadah tapi hakikatnya menurunkan iman dan menjauhkan dari Allah.
PETIKAN HADITS DARI KITAB SHAHIHAINI 1. Nabi ﷺ adalah penghulu anak Adam عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ: > «أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ، وَأَوَّلُ شَافِعٍ، وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ» Artinya: “Aku adalah penghulu anak Adam pada hari Kiamat, orang pertama yang kuburnya dibelah, orang pertama yang memberi syafaat, dan orang pertama yang diberi izin untuk memberi syafaat.” 📚 HR. Muslim no. 2278 --- 2. Bahaya ucapan yang tidak dipikirkan عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ: > «إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا، يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ» Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu perkataan tanpa memikirkan kandungannya, lalu ia terjerumus karenanya ke dalam Neraka sejauh jarak antara timur dan barat.” 📚 HR. Muslim no. 2988 --- 3. Bersedekah untuk orang tua yang telah meninggal عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: > «أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ: إِنَّ أَبِي مَاتَ وَتَرَكَ مَالًا، وَلَمْ يُوصِ، فَهَلْ يُكَفَّرُ عَنْهُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهُ؟ قَالَ: نَعَمْ» Artinya: “Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah ﷺ: ‘Sesungguhnya ayahku telah meninggal dan meninggalkan harta, namun tidak berwasiat. Apakah jika aku bersedekah atas namanya dapat menjadi penebus baginya?’ Beliau menjawab: ‘Ya.’” 📚 HR. Muslim no. 1630 --- 4. Susu adalah fitrah عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: > «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أُتِيَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِهِ بِإِيلِيَاءَ بِقَدَحَيْنِ مِنْ خَمْرٍ وَلَبَنٍ، فَنَظَرَ إِلَيْهِمَا، ثُمَّ أَخَذَ اللَّبَنَ، فَقَالَ جِبْرِيلُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَاكَ لِلْفِطْرَةِ، وَلَوْ أَخَذْتَ الْخَمْرَ غَوَتْ أُمَّتُكَ» Artinya: “Pada malam beliau di-Isra-kan, Rasulullah ﷺ dibawakan di Iliya dua bejana: satu berisi khamar dan satu berisi susu. Beliau memandang keduanya, kemudian mengambil susu. Jibril berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberimu petunjuk kepada fitrah. Seandainya engkau mengambil khamar, niscaya umatmu akan tersesat.’” 📚 HR. Bukhari no. 5576
без подписи
Terjemah: 🔸Termasuk Adab Memberi kepada Orang Tua* Jika engkau memberi orang tuamu harta yang kau dapatkan dengan susah payah, atau bahkan engkau berhutang demi mereka, maka jangan sekali-kali engkau sebutkan itu kepada mereka. Karena ucapanmu: _"Aku berhutang untuk kalian"_ atau _"Aku capek banget sampai bisa dapat ini"_ Bisa menyakiti hati mereka, membuat mereka merasa terbebani dengan pengorbananmu, dan bahkan bisa membuat mereka merasa sedang diungkit. Maka berilah mereka sambil merasa minta maaf karena masih kurang, dan sambil merasakan betapa besar hak mereka. Jangan buat mereka merasa dengan apa yang telah engkau berikan. Sebaik-baik pemberian adalah yang sampai ke tangan mereka, tanpa membuat hati mereka merasa terbebani sedikitpun. _Faisal Al-Hasyidi - hafizhahullah wa rafa'a qadrahu_
Jadi, ketika kita berkata: "Fitnah menjatuhkan ulama", maka kita tidak membela setiap sorban, setiap gelar, setiap orang terkenal, dan setiap orang yang tampil dalam wacana agama. Kita membela *rujukan ilmiah Salafiyah Sunniah yang kokoh.* Dan pada saat yang sama kita memperingatkan dari sumber kesesatan, dari kepala-kepala kebodohan, dari setiap hizbiyah yang menjadikan organisasi di atas dalil, dari aktivisme bodoh yang mendahulukan semangat di atas ilmu, dan dari bid'ah akidah di mana pun ia muncul. Tapi kita lakukan itu semua dengan ilmu, adil, dan bukti. Maka: __Tidak semua yang terkenal adalah alim. Tidak semua da'i adalah faqih. Tidak semua yang menyelisihi adalah ahlul bid'ah. Tidak semua kesalahan adalah bid'ah. Tidak semua ahlul bid'ah sama. Tidak semua alim yang salah lalu gugur._* Perbedaan-perbedaan inilah yang disebut fikih. Dan menghapusnya adalah fitnah. Sesungguhnya peperangan kita bukan peperangan nama-nama, tapi peperangan timbangan: Timbangan yang membedakan antara alim dan sok tahu, antara Sunnah dan bid'ah, antara kesalahan dan manhaj, antara ijtihad dan penyimpangan, antara kritik dan menjatuhkan, antara nasihat dan pencemaran nama baik. Maka kita tidak mengkultuskan orang, tidak merendahkan kedudukan ulama, dan tidak menjadikan orang bodoh sebagai hakim atas orang yang kokoh. Tapi kita menimbang manusia dengan kebenaran, menimbang kesalahan mereka dengan adil, dan memberikan setiap orang yang punya kedudukan sesuai kedudukannya. Karena Sunnah tidak butuh kezaliman untuk melindunginya, dan kebenaran tidak butuh kebatilan untuk memenangkannya. Dan Allah-lah tempat kembali. *Sulaim bin 'Ied Al-Hilali* Murid Al-Imam Al-Albani Kamis 30 Shafar 1448 H 13 Agustus 2026 M
Perhatikan ketelitian kenabian: beliau menyebut mereka "kepala-kepala". Bisa jadi orang bodoh punya pengikut, mimbar, popularitas, dan pengaruh. Tapi dia tetap bodoh jika bicara dalam hal yang tidak dia ketahui. Karena itu, kepala-kepala bodoh dari kalangan aktivis yang tampil tidak menjadi ulama hanya karena banyaknya massa, dan tidak boleh semangat mereka didahulukan di atas ilmu para ulama yang kokoh. #### *Bagaimana dengan ulama Asy'ariyah dan Maturidiyah?* Di sini kita butuh ilmu dan adil bersamaan. Asy'ariyah dan Maturidiyah menyelisihi apa yang ditetapkan oleh ulama manhaj salafi dalam beberapa masalah akidah, terutama dalam bab sifat dan iman dan lainnya. Dan para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah telah membahas penyelisihan ini dan menjelaskannya. Tapi menghukumi sebuah perkataan itu satu hal, menghukumi orang yang mengucapkannya hal lain. Orang-orang yang menisbatkan diri kepada madzhab ini tidak satu tingkatan dalam kadar penyelisihan, ilmu, dan kedekatan kepada Sunnah. Dan seorang alim bisa saja terjatuh dalam bid'ah atau berijtihad dalam satu bab, dan itu tidak melazimkan semua ilmunya dan keutamaannya digugurkan. Dan sungguh para ulama yang dinisbatkan kepada Asy'ariyah atau terpengaruh dengannya telah meninggalkan warisan besar dalam hadits, fikih, tafsir, dan bahasa seperti An-Nawawi, Ibnu Hajar, As-Suyuthi dan selainnya. Maka kita mengakui apa yang mereka benar di dalamnya, mengambil manfaat dari apa yang mereka benar di dalamnya, dan kita tolak apa yang mereka menyelisihi Sunnah di dalamnya sesuai dalil. Ini berbeda dengan manhaj Haddadiyah yang ghuluw atau Saruriyah yang bermudah-mudahan. Dan inilah pilihan para syaikh besar kita: Al-Albani, Ibnu Baz, Al-Utsaimin, Al-Wadi'i, dan fatwa Lajnah Daimah. Manhaj kita bukanlah menghapus keutamaan karena kesalahan, sebagaimana juga bukan menghapus kesalahan karena keutamaan. Allah berfirman: *{Dan janganlah kebencianmu kepada suatu kaum mendorongmu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa}* [Al-Maidah: 8] Keadilan tidak bisa ditawar. Dan barangsiapa tidak adil kepada orang yang menyelisihinya, maka dia telah menyia-nyiakan salah satu senjata terbesar yang dia klaim untuk membela Sunnah dengannya. #### *Ulama Sunni bisa saja salah* Dan inilah titik ujian yang sesungguhnya. Ulama yang kita bela kedudukannya bukanlah ma'shum. Dia bisa salah dalam satu masalah. Bisa berijtihad dalam peristiwa besar lalu tidak tepat. Bisa tergelincir. Bisa merajihkan satu pendapat yang diselisihi ulama Sunni lainnya. Tapi kesalahan parsial tidak diubah oleh para musuh menjadi "manhaj". Dan "manhaj" yang diduga itu tidak diubah menjadi vonis menjatuhkan orangnya secara keseluruhan. Di sinilah para ghulat jatuh. Mereka mulai dari satu kesalahan, lalu berkata: "Dia punya prinsip di situ", lalu: "Manhajnya menyimpang", lalu: "Orangnya berubah", lalu: "Ilmunya tidak boleh diambil", lalu peringatan meluas kepada orang yang tidak setuju menjatuhkannya! Begitulah lahir rantai gila menjatuhkan. *Kita tidak mengkultuskan ulama dan juga tidak menyerahkan mereka kepada para ruwaibidhah untuk dijatuhkan agar ilmu diambil dari orang-orang kecil.* Nabi ﷺ bersabda: *"Sesungguhnya di antara tanda kiamat adalah ilmu dicari kepada orang-orang kecil"* _HR. Ibnu Mubarak dalam Az-Zuhd 61, didhaifkan Al-Albani_ Ibnu Mubarak berkata: _"Al-Ashaghir: Ahlul bid'ah"_ Jadi kita tidak sedang membuat golongan kasta di Islam. Kema'shuman hanya untuk Rasulullah ﷺ dalam menyampaikan dari Rabbnya. Perkataan alim butuh dalil, bukan diterima hanya karena dia yang mengucapkannya. Tapi ada jarak yang sangat jauh antara menolak kesalahan alim dan meruntuhkan alim itu karena kesalahannya. Kita katakan kepadanya: "Kamu salah", dengan tetap menjaga ilmunya. Kita tolak perkataannya, dengan tetap menjaga jasanya. Kita bahas hujjahnya, dan tidak mengorek niatnya. Dan kita menimbang 50 tahun ilmu dengan 50 tahun, bukan dengan 50 detik yang dipotong dari rekaman! Inilah keadilan. #### *Peperangan timbangan*
*_Bismillahirrahmanirrahim Fitnah Menjatuhkan Para Ulama (3)__ *Ulama yang mana yang kita maksud?* Ketika kita berbicara tentang fitnah menjatuhkan para ulama, memperingatkan dari mencela mereka, dan menuntut agar kehormatan mereka dijaga serta jasa mereka diketahui, maka kita harus berhenti pada pertanyaan mendasar: *Ulama yang mana yang kita maksud?* Apakah yang kita maksud setiap orang yang memakai pakaian ahli ilmu? Setiap orang yang di depan namanya ada gelar "Syaikh" atau "Doktor"? Setiap khatib yang menggelegar di mimbar? Setiap da'i yang dikerumuni massa? Setiap orang terkenal yang dijadikan rujukan oleh media sosial dalam semalam? *Jawabannya: Tidak.* Tidak semua orang yang bicara tentang agama adalah ulama. Tidak semua orang yang salah lantas gugur. Tidak semua orang yang menyelisihi kita adalah ahlul bid'ah. Karena manusia punya tingkatan, kesalahan punya derajat, dan adil itu adalah memberikan setiap derajat hukumnya. Di sinilah dimulai timbangan Ahlus Sunnah wal Jamaah. #### *Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah yang kita maksud* Yang kita bicarakan adalah *ulama Rabbani dari Ahlus Sunnah wal Jamaah*; Yaitu yang dikenal kokoh ilmunya, lurus prinsipnya, mengagungkan Al-Qur'an dan Sunnah, meneladani para sahabat dan salaf, dan dipersaksikan oleh ahli ilmu atas keutamaan dan istiqamahnya. Allah berfirman: *{Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama}* [Fathir: 28] Dan Allah berfirman: *{Maka bertanyalah kepada ahli dzikir jika kalian tidak mengetahui}* [An-Nahl: 43] Seorang alim tidak dibentuk oleh popularitas. Tapi dia dikenal - secara umum - dengan ciri-ciri yang tampak: Kokoh ilmunya, lurus prinsipnya, mengikuti dalil, memahami manhaj salaf, adanya persaksian ahli ilmu untuknya, lama bergelut dalam belajar dan mengajar, dan wara' dari berkata atas nama Allah tanpa ilmu. Inilah rujukan ilmiah yang kita bicarakan bahayanya jika dijatuhkan. #### *Ulama adalah pewaris nabi, bukan produk partai* Ulama Rabbani tidak menjadikan nash mengikuti kelompok. Tidak menimbang kebenaran dengan kemaslahatan organisasi. Dan tidak mengubah prinsipnya karena berubahnya aliansi dan permusuhan. Timbangannya: *Allah berfirman, Rasulullah ﷺ bersabda, dan apa yang di atasnya para sahabat dan orang yang mengikuti mereka dengan baik.* Karena itu pembicaraan kita tentang kehormatan ulama tidak mencakup setiap orang yang tampil dari kalangan hizbi yang menjadikan organisasinya sebagai timbangan hak dan batil. Loyal karena organisasi, memusuhi karena organisasi, dan memelintir nash-nash sesuai kebutuhan mereka. Nabi ﷺ telah memperingatkan dalam hadits Hudzaifah tentang *"para penyeru di pintu-pintu Jahannam, barangsiapa yang menyambut seruan mereka maka mereka akan melemparkannya ke dalamnya"* [Muttafaq 'alaih] Dan tidak boleh kita menjatuhkan sifat kenabian ini kepada orang tertentu hanya karena permusuhan atau perselisihan. Karena hukum terhadap individu ada ilmunya dan ada buktinya. Tapi hadits ini meruntuhkan sebuah prinsip berbahaya: *Tidak semua penyeru adalah penyeru hidayah, dan tidak semua orang yang berpidato agama termasuk ulama yang diambil darinya agama.* #### *Dan bukan "kepala-kepala bodoh" dari kalangan aktivis* Dan di antara ujian terbesar zaman kita adalah mencampuradukkan antara ulama dan influencer. Bisa jadi seseorang bicara tentang akidah, fikih, politik, jihad, peristiwa besar, dan nasib negara, padahal dia tidak dikenal memiliki pengokohan ilmiah yang kokoh, tidak pernah menetap di majelis ulama, dan tidak meneliti masalah-masalah syariat. Tapi dia punya massa. Di sinilah popularitas berubah jadi "persaksian", semangat berubah jadi "fikih", dan panggung berubah jadi kursi fatwa! Nabi ﷺ bersabda: *"Hingga ketika Allah tidak menyisakan seorang alim, maka manusia menjadikan kepala-kepala yang bodoh. Lalu mereka ditanya dan berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan"* [Muttafaq 'alaih]
KAMIS, 30 SHOFAR 1448H/13/08/2026 *Membantu Sesama Muslim dengan Senyuman* *Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata:* *"فَمَن لَم يُوَاسِ النَّاسَ بِمَالِهِ، وَطَعَامِهِ، وَشَرَابِهِ، فَلْيُوَاسِهِم بِبَسْطِ الوَجهِ، وَالخُلُقِ الحَسَن"* *Terjemah:* _"Barangsiapa yang tidak bisa meringankan beban manusia dengan hartanya, makanannya, dan minumannya, maka ringankanlah beban mereka dengan wajah yang cerah dan akhlak yang baik"_ *[Hilyatul Auliya 7/388]* *Faedah dari ucapan beliau:* 1. *Sedekah itu luas* - Tidak harus pakai harta. Kalau belum mampu, sedekah dengan senyum dan akhlak. 2. *Wajah cerah itu sedekah* - Rasulullah ﷺ bersabda: _"Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun hanya bertemu saudaramu dengan wajah cerah"_ [HR. Muslim 2626] 3. *Akhlak yang baik = meringankan* - Banyak orang "berat" bukan karena tidak diberi uang, tapi karena diperlakukan kasar. Akhlak baik bisa mengobati.
*Kata-kata #Ibnu_Taimiyah* *Tentang #Doa* *1* Jika Allah menginginkan kebaikan untuk seorang hamba, Dia akan mengilhamkannya untuk berdoa... dan menjadikan doa itu sebagai sebab untuk kebaikan yang telah Allah tetapkan untuknya. *2* Doa termasuk sebab terbesar untuk mendapatkan apa yang diinginkan dan menolak apa yang ditakuti. *3* Dengan terus-menerus berdoa dan merasa butuh kepada Allah, mereka menjadi wali-wali Allah... Dan tidak ada jalan yang lebih dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya melebihi "merasa sangat butuh kepada-Nya". *4* Barangsiapa berdoa kepada Allah dengan ikhlas karena agama-Nya, dengan doa yang diperbolehkan, maka Allah akan mendengar dan mengabulkan doanya. Sama saja apakah doanya dengan bahasa Arab fasih atau tidak fasih. Bahkan sepantasnya orang yang berdoa tidak perlu memaksakan diri berbahasa Arab fasih. *5* Orang yang sangat terdesak akan berdoa dengan hatinya, doa yang langsung terbuka untuknya padahal sebelumnya dia tidak pernah memikirkannya. Ini adalah perkara yang dirasakan oleh setiap mukmin dalam hatinya. *6* Jika seorang hamba bermunajat kepada Rabbnya di waktu sahur, memohon pertolongan kepada-Nya dan berkata: _"Ya Hayyu Ya Qayyum, Laa ilaaha illa Anta, bi rahmatika astaghiits"_ _"Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang Maha Berdiri Sendiri, tidak ada Tuhan selain Engkau, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan"_ Maka Allah akan memberinya pertolongan/kekuatan yang tidak ada yang tahu kecuali Allah. *7* Hendaknya dia memperbanyak doa, karena doa adalah kunci segala kebaikan. Dan jangan tergesa-gesa lalu berkata: "Aku sudah berdoa tapi belum dikabulkan". Dan hendaknya dia memilih waktu-waktu yang mulia seperti akhir malam. *8* Terkadang seorang hamba berdoa dan merendah kepada Rabbnya karena satu hajat, lalu Allah justru membukakan untuknya kelezatan bermunajat yang itu lebih dia cintai daripada hajatnya tersebut. *9* Dzat Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, jika diminta sesuatu yang spesifik dan Allah tahu itu tidak baik untuk hamba-Nya, maka Allah akan memberinya ganti yang semisalnya. Sebagaimana seorang ayah kepada anaknya, jika anaknya meminta sesuatu yang tidak baik untuknya, maka dia beri dari hartanya ganti yang semisalnya. Dan bagi Allah perumpamaan yang paling tinggi. *10* Bershalawat kepada Nabi ﷺ bersamaan dengan doa adalah termasuk sebab terkuat yang diharapkan dengannya terkabulnya doa. --- *Faedah penting dari perkataan beliau:* Intinya: Doa itu ibadah, sebab terkabul, dan cara paling dekat ke Allah. Kuncinya = ikhlas, yakin, terus menerus, dan di waktu mustajab.
без подписи