tgindex
Farhan Fadilat Syah

Farhan Fadilat Syah

Статистика
@fadilatsyahРелигияиндонезийский

Channel @fadilatsyah ini dibuat bertujuan untuk belajar, membagikan ilmu, sharing faidah dalam bentuk tulisan, audio-visual atau pun media lainnya yang bermanfaat. Dikelola langsung oleh Farhan Fadilat Syah. Selamat belajar! Baarakallahu Fiikum.

Последний пост
9 авг.
Последнее чтение
15 авг.
Постов за неделю
0
Всего постов
179
Тип
открытый
Язык
индонезийский
Категория
Религия (по похожим)
В каталоге с
13 авг.
Подписчики
11 321
−19 за 4 дн.
Сутки
−7
−0,06%
Неделя
 
Месяц
 
Просмотров на пост
1 675
40 постов
Вовлечённость
14,8%
к подписчикам
Постов в день
0,0
всего 179
Упоминаний
1
каналов
Охват размещения
оценка
1/24сутки в ленте
493
1/48двое суток
564
1/72трое суток
609

Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.

Посты

  • 9 авг.433205

    Ketika Nasihat Menjadi Ujian Sering kali, seseorang diuji dengan apa yang ia sampaikan kepada orang lain. Seorang penulis diuji dengan apa yang ia tuliskan. Seorang dai diuji dengan apa yang ia dakwahkan. Sebab, tidak semua yang mudah kita sampaikan kepada orang lain, mudah pula kita jalankan sendiri. Apa yang kita tuliskan dan dakwahkan menjadi nasihat bagi orang lain. Namun sejatinya, ia lebih dahulu menjadi pengingat dan tuntutan bagi diri kita sendiri. Allah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2–3) Maka teruslah berdoa kepada Allah agar memberikan kita kekuatan untuk mengamalkan apa yang kita sampaikan, keistikamahan dalam kebaikan, serta perlindungan dari segala fitnah dan ujian yang dapat menggoyahkan hati. Farhan Fadilat Syah Madinah, 09 Agustus 2026 | 26 Safar 1448 H

  • 8 авг.556228

    Menjaga Rasa Malu di Zaman Media Sosial Di antara sifat mulia wanita dari generasi terbaik umat ini adalah rasa malu. Mereka menjaga diri dan tidak bermudah-mudah menampakkan perhiasan dan kecantikan kepada lelaki yang bukan mahram. Allah berfirman: وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) terlihat.” (QS. An-Nur: 31) Di media sosial, terkadang kita menganggap sebuah foto hanyalah sesuatu yang biasa. Padahal, sekali diunggah, ia dapat dilihat oleh begitu banyak mata yang tidak kita kenal; disimpan, dibagikan, dan terus beredar di luar kendali kita. Maka, menampakkan diri di zaman ini tidak lagi hanya berarti hadir di hadapan seseorang secara langsung. Satu foto atau video yang diunggah ke media sosial dapat membuat seorang wanita hadir di hadapan begitu banyak lelaki yang tidak berhak melihatnya. Dan di sinilah kita perlu kembali bertanya: apakah semua yang indah harus diperlihatkan? Apakah semua yang boleh dilihat oleh kita, juga layak dilihat oleh orang lain? Maka, salah satu bentuk kasih sayang seorang suami adalah membantu istrinya menjaga rasa malu tersebut, bukan justru menjadi sebab terkikisnya. Menjaga bukan hanya dari pandangan lelaki di luar rumah, tetapi juga dari pandangan yang datang melalui layar. Sebab terkadang, cinta bukan tentang menunjukkan kepada dunia bahwa kita memiliki seseorang yang indah. Cinta justru tentang menjaga agar keindahan itu tidak menjadi tontonan bagi mereka yang tidak berhak melihatnya. Farhan Fadilat Syah Madinah, 08 Agustus 2026 | 25 Safar 1448 H

  • 3 авг.805176

    Buah Manis Ilmu Akidah Di antara buah paling indah dari mempelajari ilmu akidah adalah tumbuhnya semangat untuk menolong, meringankan, dan memudahkan urusan orang lain. Semakin seseorang mengenal Allah, memahami nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta semakin kuat keyakinannya kepada janji-janji-Nya, semakin ringan pula hatinya untuk berbuat baik kepada sesama. Ia mengenal Allah sebagai al-Ghaniyy yang tidak berkurang sedikit pun karena memberi, ar-Razzaq yang telah menjamin rezeki setiap hamba, dan asy-Syakur yang tidak pernah melewatkan satu kebaikan pun tanpa catatan. Karena itu, ia tidak melihat bantuan yang diberikannya sebagai sebuah kerugian, tetapi sebagai “investasi” yang akan kembali kepadanya dalam bentuk pertolongan dari Allah. Ia yakin bahwa setiap kali ia meringankan beban saudaranya, pada hakikatnya ia sedang membuka pintu pertolongan Allah untuk dirinya sendiri. Karena itulah, seorang yang kokoh akidahnya akan berusaha menjadi orang yang paling bermanfaat, paling mudah memberi jalan keluar, dan paling ringan tangan dalam membantu orang lain. Dalam sebuah hadits yang panjang, Rasulullah ﷺ bersabda, di antaranya: وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ “Allah akan selalu menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim) Maka, setiap kali kita diberi kesempatan untuk membantu orang lain, jangan hanya melihatnya sebagai kesempatan untuk berbuat baik kepada manusia. Lihatlah ia sebagai kesempatan untuk meraih pertolongan Allah. Sebab pada hakikatnya, kita semua adalah hamba yang fakir, yang sangat membutuhkan pertolongan Allah di setiap waktu. Tanpa taufik dan pertolongan-Nya, kita tidak akan mampu istikamah dalam ibadah, mengambil keputusan yang benar, menghadapi ujian kehidupan, bahkan melakukan kebaikan sekalipun. Maka, jangan sia-siakan setiap kesempatan untuk membantu orang lain. Bisa jadi, itulah salah satu sebab Allah menurunkan taufik, pertolongan, dan keberkahan-Nya dalam kehidupan kita. Farhan Fadilat Syah Kosambi, 3 Agustus 2026 | 20 Safar 1448 H

  • 10 июл.1 6163110

    Healing Terbaik Ada di Majelis Ilmu Luangkan waktu untuk mengajak orang tua, pasangan, anak, keluarga, atau sahabat kita menghadiri majelis ilmu di masjid. Karena di sanalah hati dihidupkan, iman dikuatkan, dan jiwa mendapatkan ketenangan yang tidak akan kita temukan di tempat lain. Jika hari-hari ini hati kita terasa berat, semangat ibadah menurun, atau futur berkepanjangan, maka datanglah ke majelis ilmu. Sebab inilah healing yang sesungguhnya. Healing yang tidak hanya menenangkan perasaan sesaat, tetapi juga menghidupkan hati dan mendekatkan kita kepada Allah. Farhan Fadilat Syah Kosambi, 10 Juli 2026 | 25 Muharram 1448 H

  • 5 июл.1 853161

    Ketika Penyimpangan Mulai Berbaju Kebebasan Di antara ancaman besar yang kita hadapi hari ini adalah penyebaran LGBTQ+ yang kian masif dan terang-terangan. Yang dahulu disembunyikan, kini justru dipertontonkan. Yang dahulu diakui sebagai penyimpangan, kini dibungkus dengan istilah kebebasan, hak asasi, dan ekspresi diri. Yang lebih memprihatinkan, kampus-kampus, tempat semestinya lahir pemikiran yang jernih dan akal yang sehat, mulai menjadi ruang penyebaran dan normalisasi komunitas ini. Padahal di sanalah generasi muda kita dibentuk, dan dari sanalah arah bangsa ini akan ditentukan. Kita perlu menyadari bahwa ini bukan perkara ringan. Allah telah mengabadikan kisah kaum Nabi Luth ’alaihissalam sebagai peringatan bagi umat setelahnya: ﴿وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ الْعَالَمِينَ﴾ “Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini).’” (QS. Al-A’raf: 80) Perbuatan ini disebut Allah sebagai “fahisyah”, sebuah keburukan yang begitu nyata kekejiannya. Dan sejarah mencatat bagaimana Allah menimpakan azab yang belum pernah ditimpakan kepada umat mana pun sebelumnya kepada kaum yang menghalalkannya. Maka menghadapi ini bukan tugas satu golongan saja. Kita semua punya andil dan peran masing-masing. Para ustaz dan tokoh agama berperan menjelaskan kebenaran dengan hikmah dan ilmu. Para pendidik menjaga ruang belajar tetap bersih. Aparat dan penegak hukum menjalankan amanah menjaga ketertiban. Dan kita sebagai bagian dari masyarakat berkewajiban mengedukasi, mengingatkan, serta menjaga lingkungan terdekat kita. Di Indonesia, negara pun telah menegaskan sikapnya. Dalam Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025-2029, penyebaran budaya Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, and Queer (LGBTQ) secara resmi dikategorikan sebagai salah satu ancaman nonmiliter berdimensi sosial dan budaya. Di dalamnya, ancaman ini disebut berdampingan dengan penyebaran paham ateisme, separatisme, terorisme, dan radikalisme . Artinya, kekhawatiran kita terhadap penyebaran ini bukan sekadar sikap keagamaan, melainkan juga selaras dengan cara pandang negara dalam menjaga keselamatan bangsa. Karena itu, mari kita dukung dan ikut berpartisipasi dalam mengedukasi umat mengenai bahaya ini, dengan cara yang penuh hikmah, ilmu yang benar, dan tetap menjaga adab. Sebab tujuan kita bukanlah memusuhi pribadi, melainkan menyelamatkan manusia dari kerusakan. Semoga Allah menjaga anak-anak muda kita, meneguhkan hati mereka di atas fitrah yang lurus, dan melindungi mereka dari penyakit ini. Sesungguhnya Allah Maha Pelindung atas hamba-hamba-Nya. Semoga bermanfaat, baarakallahu fiikum. Farhan Fadilat Syah Yogyakarta, 05 Juli 2026 | 20 Muhrram 1448 H

  • 5 июл.1 32441

    без подписи

  • 3 июл.1 492124

    Mengarahkan Anak Mencintai Al-Qur’an Sejak Dini Peran orang tua dalam mengarahkan dan membimbing anak sangatlah besar. Ketika sejak kecil seorang anak dibiasakan untuk dekat dengan Al-Qur’an, mencintainya, serta menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari, maka itu adalah bekal yang sangat berharga. Dengan izin Allah, kedekatan dengan Al-Qur’an akan menjadi sebab datangnya banyak kebaikan, keberkahan, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan mereka. Karena itu, menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an sejak usia dini merupakan salah satu investasi terbaik yang dapat kita lakukan ketika Allah mengaruniakan amanah menjadi orang tua. Farhan Fadilat Syah Yogyakarta, 03 Juli 2026 | 18 Muharram 1447 H

  • 1 июл.1 498115

    Bekal Menuju Kematian Ada sebuah nasihat yang sangat indah dan perlu kita renungkan dari Imam Ibnul Jauzi (W: 597 H) rahimahullah. Beliau berkata: «انْظُرْ إِلَى حَالِكَ الَّذِي أَنْتَ عَلَيْهِ، إِنْ كَانَ يَصْلُحُ لِلْمَوْتِ وَالْقَبْرِ، فَاسْتَمِرَّ عَلَيْهِ، وَإِنْ كَانَ لَا يَصْلُحُ لِهَذَيْنِ، فَتُبْ إِلَى اللهِ مِنْهَا، وَارْجِعْ إِلَى مَا يَصْلُحُ». “Perhatikanlah keadaan dirimu yang sedang engkau jalani. Jika keadaan tersebut layak untuk menghadapi kematian dan alam kubur, maka teruskanlah. Namun jika keadaan tersebut tidak layak untuk menghadapi keduanya, maka bertaubatlah kepada Allah darinya, dan kembalilah kepada keadaan yang layak untuk menghadapi kematian dan alam kubur.” (Ibnul Jauzi, _Bustān al-Wā‘izhīn wa Riyāḍ as-Sāmi‘īn_) Nasihat emas ini mengajak kita untuk melihat kembali keadaan diri kita hari ini. Bagaimana keadaan hati kita hari ini? Bagaimana kualitas ibadah kita? Bagaimana kedekatan kita kepada Allah? Apakah keadaan yang sedang kita jalani saat ini sudah layak menjadi bekal ketika kita menghadapi kematian dan memasuki alam kubur? Sebab pada akhirnya, setiap manusia akan sampai pada perjalanan itu. Harta, kedudukan, dan segala sesuatu yang kita kejar di dunia akan ditinggalkan. Yang tersisa hanyalah amal dan rahmat Allah. Maka jangan menunda untuk kembali kepada Allah. Segeralah bertaubat, perbaiki diri, dan gunakan sisa umur yang masih Allah berikan untuk memperbanyak bekal menuju kehidupan yang abadi. Semoga Allah memperbaiki keadaan kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan akhir kehidupan kita dalam keadaan husnul khatimah. Farhan Fadilat Syah Yogyakarta, 01 Juli 2026 | 16 Muharram 1448 H

  • 20 июн.1 867104

    Allah telah memberi peringatan keras tentang menukar ilmu dan ayat-Nya dengan harga yang murah: وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا "Dan janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit." (QS. Al-Baqarah: 41) Imam Ibnu Katsir menukil dari para ulama salaf bahwa makna larangan ini adalah jangan sampai seseorang mengganti ilmu dan petunjuk yang ada padanya dengan keuntungan dunia yang fana, sebab dunia seluruhnya, betapapun banyaknya, tetaplah sedikit dan akan sirna. (Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim) Semoga Allah senantiasa menjaga iman kita, menjaga hati guru-guru kita, dan membimbing kita semua di atas sunnah dan taufik-Nya. Semoga dakwah ini tetap bersih, lurus, dan ikhlas hanya untuk-Nya. Baarakallahu Fiikum, semoga bermanfaat! Farhan Fadilat Syah (Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Akidah, Universitas Islam Madinah) Yogyakarta, 20 Juni 2026 | 05 Muharram 1448 H

  • 20 июн.1 737186

    Dakwah yang Mulai Kehilangan Wajahnya Alhamdulillah, itulah kalimat yang paling layak kita ucapkan ketika menyaksikan geliat dakwah Islam hari ini. Begitu banyak yang mulai ingin belajar, mulai ingin menggali, dan mulai ingin kembali kepada ajaran agamanya. Ada kerinduan yang tumbuh, ada hati-hati yang mulai bergerak mendekat. Dakwah tersiar, kajian merebak, dan dauroh marak di mana-mana. Kehausan akan ilmu agama perlahan mulai menemukan dahaganya, dan secercah harapan akan perubahan yang lebih baik kian terlihat di depan mata. Ketika kita melihat kembali sejarah dakwah salafiah di Indonesia, kita akan mendapati bahwa kajian dahulu sarat dengan ilmu. Terutama pembahasan akidah dan manhaj, dua pondasi yang menjadi ruh dari dakwah ini. Para ustaz menyajikan ilmu yang substansial dan menyentuh inti. Semuanya berpijak di atas dalil dan pemahaman para salaf. Sebab inilah jalan yang telah Allah perintahkan: قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي "Katakanlah (wahai Muhammad), 'Inilah jalanku, aku mengajak (manusia) kepada Allah di atas bashirah (ilmu dan keterangan yang nyata), aku dan orang-orang yang mengikutiku.'" (QS. Yusuf: 108) Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan setiap orang yang mengaku mengikuti Nabi ﷺ, syaratnya adalah berdakwah di atas bashirah, yaitu di atas ilmu. (Miftah Daris Sa'adah) Para ustaz berlomba saling mengingatkan perkara akhirat dan membimbing umat menuju jalan yang lurus, sementara jamaah duduk untuk mendengar dan mencatat. Mereka menyimak dengan fokus, dalam hening, dan berusaha menghadirkan keikhlasan. Majelis itu tenang, namun berisi. Sederhana, namun berbobot. Sebuah pola yang diwariskan secara turun-temurun sejak generasi terbaik. Begitulah dahulu para salaf kita menuntut ilmu. Mereka datang bukan untuk hiburan, melainkan untuk perbaikan diri. Namun kini, rasanya ada pergeseran "metode" dalam penyampaian dakwah salafiah. Generasi penerus mulai tampil berbeda dari generasi awalnya, dan fokus serta tema pembahasan pun perlahan terasa ikut bergeser dari titik asalnya. Kajian berkonsep teater mulai menjamur, dauroh berbayar mulai tersebar. Kajian dengan rentetan brand di belakangnya mulai banyak digandrungi. Stand dan bazar pun ikut memeriahkan "kajian" ini, terutama di kota-kota besar. Suasananya ramai, megah, dan penuh sorotan. Tema soal cinta, taaruf, dan pernak-pernik rumah tangga terasa lebih "menjual" di kalangan anak muda. Dari sudut bisnis, topik-topik ini memang lebih memikat brand, karena traffic yang dihasilkan jauh lebih banyak. Maka ilmu yang berat dan substansial perlahan tergeser oleh tema yang ringan dan ramai peminat. Mari mengambil napas sejenak. Benarkah seperti ini "metode" yang diajarkan para salaf kita? Benarkah ini cara berdakwah yang diwariskan para guru dan masyaikh kita terdahulu? Ke mana qudwah? Ke mana wara'? Ke mana dakwah salafiah yang fokus pada akidah dan manhaj? Bukankah ruh dari dakwah ini terletak pada keduanya? Sebab para salaf sangat menjaga kemurnian niat dalam ilmu. Sufyan Ats-Tsauri berkata: مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي "Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku perjuangkan daripada (meluruskan) niatku." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Al-Ikhlas wan Niyyah) Tulisan ini bukan untuk menghukumi, apalagi sampai menghakimi. Sekadar refleksi ringan, dan pengingat bahwa kita perlu kembali ke rel yang benar. Mengikuti petunjuk generasi awal, dan meneladani bimbingan para perintis dakwah ini. Sebab di antara tanda kebaikan adalah ketika kita mau menengok kembali, dan jujur pada diri sendiri. Jangan sampai dakwah ini menjelma menjadi komoditas yang diperjualbelikan. Jangan sampai ilmu agama hanya dijadikan alat untuk mendatangkan traffic, hingga akhirnya dakwah berubah menjadi ajang komersialisasi dan sarana memperkaya diri.

  • 18 июн.1 379187

    Renungan Singkat Waktu kita di dunia ini sangat singkat, maka isi dengan hal-hal yang baik, bermanfaat dan indah. Teruslah menuntut ilmu syar'i agar setiap langkah kita punya arah yang jelas, dan pilihlah “circle” yang membawa pada kebaikan, sembari perlahan melepaskan yang menjauhkan. Lalu, perbanyak istighfar dan doa. Istiqomah itu pemberian Allah, kita hanya diminta untuk terus berusaha dan memohon kepada-Nya. Farhan Fadilat Syah Yogyakarta, 18 Juni 2026 | 03 Muharram 1448 H

  • 18 июн.1 40572

    🕋 Yuk Join Channel WA: Bekal Umroh Mandiri Channel ini insyaAllah hadir untuk teman-teman yang ingin menunaikan umroh secara mandiri dengan bekal yang benar. Di sana kita belajar bersama: 📖 Fikih dan manasik umroh dan haji sesuai dalil. 🧭 Panduan teknis yang lengkap dan praktis terkait umroh mandiri. ✨ Sharing pengalaman dan insight berkaitan umroh mandiri. Prinsipnya channel ini: berangkat berbekal ilmu, pulang meraih mabrur. Jika teman-teman punya keluarga, sahabat, atau siapa pun yang berkeinginan menunaikan umroh mandiri, di sinilah tempat yang tepat untuk memulai. Yuk, bergabung dan belajar bersama: https://whatsapp.com/channel/0029VbCXRm7CXC3KXobxHe0e Baarakallahu fiikum Farhan Fadilat Syah

  • 9 июн.2 1971324

    без подписи

  • 9 июн.2 2731113

    REKAMAN WEBINAR KAJIAN AQIDAH SERIES 4.1 "Antara Ambisi dan Ketetapa Ilahi: Mengatasi Quarter Life Crisis dengan Tauhid" Bersama: 👤 Ustaz Farhan Fadilat Syah, B.A. ‎- حفظه الله تعالى (Mahasiswa pascasarjana jurusan Akidah dan Dakwah Universitas Islam Madinah) 💻 Link Rekaman: https://youtu.be/soU_pZVDv7c

  • 4 июн.2 520232

    Mari Hidupkan Sunnah di Kehidupan Kita Hidupkanlah sunnah dalam kehidupan kita, dan jangan pernah meremehkannya. Sebab, di balik amalan-amalan sunnah terdapat keberkahan yang sering kali tidak kita sadari. Sunnah menjadi penyempurna bagi kekurangan dalam amalan wajib, menghidupkan hati yang lalai, serta membuka pintu ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki. Semakin seorang hamba menjaga sunnah, semakin dekat ia kepada kecintaan Allah dan semakin kokoh langkahnya di atas jalan ketaatan. Istiqamah dalam menjalankan sunnah merupakan salah satu sebab yang mengantarkan seorang hamba kepada husnul khatimah. Lihatlah betapa besar pengaruh menjalankan sunnah dalam membentuk keimanan, memperbaiki amal, dan menyiapkan bekal kita untuk perjumpaan dengan Allah. Farhan Fadilat Syah Kosambi, 04 Juni 2026 | 18 Zulhijjah 1448 H

  • 1 июн.2 443294

    Kalau Bukan Kita yang Membantu, Siapa Lagi? In this economy, kita perlu lebih sering melihat ke bawah. Menyadari bahwa di sekitar kita, ada yang sedang berjuang keras hanya untuk makan hari ini. Ketika di kota Tebing Tinggi, ana sempat berkunjung ke sebuah rumah yang sederhana. Kepala keluarganya seorang tukang becak dayung, mengayuh sepeda dengan tenaga sendiri, hari demi hari, tanpa jaminan penghasilan tetap. Hidupnya tidak mudah. Tapi ia tidak mengeluh, dan tidak pula meminta-minta. Ia punya tiga anak. Yang pertama dan kedua kerja serabutan. Yang ketiga kini menjadi satu-satunya harapan keluarga. Kemiskinan itu nyata. Mereka ada di sekitar kita, bahkan mungkin tepat di sebelah rumah kita. Hanya saja, kita terlalu sibuk untuk memperhatikan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak sempurna keimanan seseorang di antara kalian, hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu) Kita ingin hidup berkecukupan. Kita ingin makan dengan layak. Kita ingin anak-anak kita punya masa depan. Maka saudara kita yang sedang kesulitan pun menginginkan hal yang sama. Dan iman itulah yang mendorong kita untuk peduli. Kita, terutama yang sudah belajar agama, seharusnya yang paling peka. Bantu mereka semampu kita. Bisa dengan memberikan bahan makanan, menyumbang dana, atau sesederhana membeli dagangan mereka. Semakin dalam kita mengenal syariat ini, seharusnya semakin lembut hati kita. Semakin luas kepedulian kita. Semakin ringan tangan kita untuk membantu. Yuk, saling tolong dan saling bantu. Kalau bukan kita yang membantu, siapa lagi? Farhan Fadilat Syah Senin, 01 Juni 2026 | 15 Zulhijjah 1447 H

  • 25 мая2 239273

    Inilah Saat Terbaik untuk Kita Berdoa! Rasulullah ﷺ bersabda: خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang aku ucapkan, juga yang diucapkan para nabi sebelumku, adalah: Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya seluruh kerajaan, milik-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. At-Tirmidzi no. 3585, dari ‘Amr bin Syu‘aib dari ayahnya dari kakeknya. Hasan li ghairihi; dihasankan Syekh Al-Albani) 1. Keutamaan ini milik kita semua Sabda Nabi ﷺ ini membahas tentang keutamaan harinya, bukan sekadar tempatnya. Maka kita yang berada jauh dari Arafah, di rumah, di tempat kerja, di tengah kesibukan, tetap mendapat bagiannya. Pintu yang sama dibuka untuk semua, tinggal siapa yang sungguh-sungguh untuk mengetuknya. 2. Hajat kita banyak, dan diri kita lemah Berapa banyak hajat yang menumpuk di dada kita? Urusan yang belum selesai, dosa yang ingin diampuni, hati yang ingin diteguhkan. Dan di hadapan semua itu, kita ini lemah, tidak punya daya kecuali dari Allah. Maka perbanyaklah doa dan munajat. Doa adalah senjata seorang mukmin, pembuka segala pintu kebaikan. Hari ini, senjata itu sedang berada dalam genggaman kita. 3. Minta yang lebih kekal, jangan berhenti pada yang fana Jangan sampai kita hanya meminta dunia. Dunia memang perlu, dan tidak salah memintanya. Tetapi alangkah ruginya jika di hari semulia ini lidah kita hanya berputar pada urusan yang akan kita tinggalkan suatu hari nanti. Minta surga. Minta taufik untuk taat, hidayah agar tidak tersesat, dan istikamah agar kaki ini tetap kokoh di atas jalan-Nya. Allah Mahakaya, tidak akan berkurang kerajaan-Nya meski kita meminta yang paling besar sekalipun. Hari Arafah hanya singgah setahun sekali, lalu pergi. Selagi mataharinya belum tenggelam, mari kita penuhi dengan tahlil, dengan pujian, dengan doa dari hati yang benar-benar berharap. Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum. Farhan Fadilat Syah Medan, 09 Zulhijah 1447 H

  • 23 мая2 149397

    Di Atas Awan, Ia Bercerita Pesawat dari Batam menuju Medan baru saja lepas landas. Ana membuka kitab _Fadhlul Islam_ di iPad, belum sempat jauh membaca, pria di sebelah ana menoleh. Matanya jatuh ke layar. Lalu ia yang bertanya duluan. “Itu (buku Arab) apa, Bang?” Maka ana jelaskan. Beberapa poin penting dari kitab itu. Momentum paling pas untuk berbagi adalah ketika orang lain yang membuka pintunya sendiri. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan. Dari nafas pertama yang kita hirup di dunia, hingga nafas terakhir sebelum pulang. Ana menjelaskan tentang Al-Quran. Kitab panduan yang sempurna dan lengkap, diturunkan Allah kepada rasul terakhir-Nya, Muhammad ﷺ. Ia mendengarkan. Dan obrolan pun mengalir dengan sendirinya. Namanya Muara Siregar. Lahir tahun 95. Kerjanya di laut, membantu kapal bersandar, kadang di atas air, kadang di dermaga. Tubuhnya terbiasa berpindah antara dua dunia. Tamatan SMP. Ia mengucapkannya dengan sadar, bukan dengan malu. Ia tahu betul konsekuensinya, sejauh apapun ia bekerja keras, ada langit-langit yang tidak bisa ditembus hanya karena selembar ijazah yang tidak sempat ia miliki. Pernah jadi supir di Malaysia, mencoba peruntungan di negeri orang. Tapi hidup membawanya kembali, dan ia berlabuh di Batam. Gajinya pernah menyentuh 32 juta sebulan, waktu kapal ramai. Keluarganya di Tanjung Leidong. Putrinya baru berusia empat tahun. Dan dalam setahun, ia hanya punya dua belas hari libur. Dua belas hari. Ana diam sejenak. Ada sesuatu yang perlu dicerna dari angka sekecil itu. Ana tanya soal masa lalunya. Dulu, katanya, ia dekat dengan dunia yang gelap. Narkoba dan lingkungan yang rusak. Perubahannya dimulai dari langkah kecil, memilih untuk mendekat ke agama. Perlahan. Dan di sanalah semuanya bergeser. Kita sering beranggapan seseorang baru bisa berubah setelah jatuh ke titik paling bawah. Seolah kesakitan adalah syarat untuk kembali. Tapi Muara mengajarkan sesuatu yang berbeda: pintu itu tidak mensyaratkan kita datang dalam keadaan bersih. Kita bisa datang dalam keadaan berlumuran dosa. Kini ia ingin putri kecilnya masuk pondok. Pondasi yang ia sendiri tidak punya sejak awal, ingin ia letakkan lebih awal di kaki anaknya. Supaya sang anak tidak perlu memutar jalan sejauh yang pernah ia tempuh. Ada sesuatu yang indah dari fitrah seorang ayah di sini. Ketika seseorang sudah merasakan betapa mahalnya harga dari jalan yang salah, ia tidak ingin anaknya membayar harga yang sama. Dan satu hal lagi yang ia rindukan adalah family time. Duduk di mana saja, yang penting bersama. Bagi sebagian orang itu terdengar biasa. Tapi bagi Muara, dua belas hari dalam setahun terlalu sempit untuk menampung semua kerinduan yang menumpuk. Ia menanggungnya dengan diam. Tetap berangkat. Tetap mengirim nafkah ke Tanjung Leidong. Tetap menyimpan mimpi tentang anaknya di pondok, dan liburan keluarga yang belum tahu kapan bisa terwujud. Pesawat mendarat di Kualanamu. Kami berpisah di terminal yang sama. Tapi ana membawa pulang pelajaran. Bahwa ilmu yang kita bawa bisa menjadi jembatan untuk obrolan yang tak terduga. Bahwa di setiap perjalanan, selalu ada kisah yang lebih besar dari sekadar tujuan kita sendiri. Bahwa pintu hidayah tidak selalu terbuka karena musibah, kadang ia terbuka hanya karena seseorang memilih untuk mendekat, dan Allah yang menyempurnakan sisanya. Di sudut-sudut yang tidak tersorot, ada banyak Muara lain yang sedang berjuang. Menanggung beban yang berat dengan tangan yang tidak gemetar. Semoga Allah jaga ia dan keluarganya. Farhan Fadilat Syah Medan, 13 Mei 2026 | 6 Zulhijjah 1447 H

  • 22 мая1 837267

    Ketika Doa Menjadi Metode Pendidikan Anak Salah satu pembeda utama antara parenting Islam dan selainnya adalah kehadiran tauhid di dalam tarbiyah. Kita mendidik anak-anak kita dengan doa. Menginginkan kebaikan bagi mereka dengan meminta langsung kepada Dzat yang membolak-balikkan hati mereka. Dan inilah tarbiyah yang sesungguhnya. Munajat yang tulus dan konsisten kepada Allah. Betapa banyak teori pendidikan, terutama dari Barat, yang melewatkan aspek terpenting ini. Mereka membangun sistem yang canggih, menyusun kurikulum yang rapi, meneliti pola asuh selama puluhan tahun. Tapi satu hal yang luput: bahwa hati anak bukan milik kita untuk diubah sesuka hati. Hati ada dalam genggaman-Nya. Nabi ﷺ sendiri senantiasa berdoa: «يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ» “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi) Jika Nabi ﷺ saja memohon ketetapan hati kepada Allah, bagaimana dengan kita sebagai orang tua yang menginginkan kebaikan bagi anak-anak kita? Maka fondasi akidah dan tauhid dalam pendidikan bukan pelengkap. Ia adalah intinya. Karena perubahan yang sesungguhnya seringkali bukan karena kehebatan teknik atau kecanggihan teori kita. Tapi karena Allah, Yang Maha Kuasa membolak-balikkan hati hamba-hamba-Nya, berkenan menggerakkannya. Farhan Fadilat Syah Batam, 22 Mei 2026 | 5 Zulhijjah 1447 H

  • 21 мая1 868217

    Yang Tidak Engkau Dengar Tidak Akan Mengotori Hatimu Salah satu kunci hidup tenang adalah belajar untuk tidak mengetahui semua hal tentang manusia, terutama aib dan kekurangannya. Kita hidup di zaman di mana informasi datang tanpa kita minta. Cerita orang, urusan tetangga, masalah teman, semuanya mengalir begitu saja. Dan tanpa kita sadari, hati kita menjadi penuh dengan hal-hal yang sebenarnya bukan urusan kita. Padahal Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan: مِنْ حُسْنِ إسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ “Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya”. (HR. Tirmidzi) Meninggalkan yang tidak bermanfaat bukan berarti tidak peduli. Ini tentang menjaga hati kita agar tidak terisi oleh sesuatu yang justru merusaknya. Jika kita bisa memilih untuk tidak tahu, tidak dengar, dan tidak ikut membicarakan aib seseorang, maka itulah pilihan yang terbaik dan paling menenangkan. Karena saat kita mendengar keburukan orang lain, ada dua bahaya yang mengintai: lisan kita yang bergerak meneruskan, dan hati kita yang mulai berubah memandang. Keduanya sama-sama melukai, keduanya sama-sama meninggalkan bekas. Rasulullah ﷺ menyampaikan: مَنْ ستَرَ مُسْلِمًا سَتَرَه اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ “Barangsiapa menutup aib seorang Muslim, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim) Saat kita memilih diam, memilih untuk tidak meneruskan, kita sedang menanam sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar menjaga perasaan orang lain. Kita sedang menjaga diri kita sendiri. Semakin sedikit yang kita tahu tentang keburukan orang lain, semakin bersih hati kita memandangnya. Husnuzan adalah pilihan. Pilihan untuk menjaga hati kita tetap jernih di tengah dunia yang terus menawarkan alasan untuk berprasangka buruk. Allah menutup aib hamba-Nya bukan karena aib itu tidak ada, melainkan karena Dia Maha Tahu bahwa manusia tidak layak menanggung pandangan buruk sesamanya. Maka biarkan Allah yang menutup aib mereka, dan biarkan hati kita tetap lapang. Karena hati yang tenang bukan milik mereka yang tahu segalanya, melainkan milik mereka yang tahu apa yang perlu diabaikan. Farhan Fadilat Syah Batam, 21 Mei 2026 | 4 Zulhijah 1447 H