Kumpulan terjemah kitab kuning
Статистика- Последний пост
- 17 апр. 2018 г.
- Последнее чтение
- 13 авг.
- Постов за неделю
- 0
- Всего постов
- 20
- Тип
- открытый
- Язык
- und
- В каталоге с
- 13 авг.
- 1/24сутки в ленте
- —
- 1/48двое суток
- —
- 1/72трое суток
- —
Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.
Посты
اَدِّمَا افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكَ تَكُنْ اَعْبَدَ النَّاسِ وَاجْتَنِبْ مَحَارِمَ اللهِ تَكُنْ اَزْهَدَ النَّاسِ وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللهُ لَكَ تَكُنْ اَغْنَى النَّاسِ. Bagian Kedua PETUNJUK YANG MEMUAT TIGA PERKARA 27. Yang Paling Beribadah, Zuhud, dan Terkaya Sebagaimana yang diriwayatkan dari Abdullah bin Masud ra. sebagai berikut : `Kerjakanlah apa yang telah diwajibkan oleh Allah kepadamu, maka kamu akan menjadi orang yang paling banyak beribadah, dan jauhilah larangan laranganNya, maka kamu akan menjadi orang yang paling zuhud. Dan puaslah dengan apa yang telah diberikan Allah kepadamu, maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya.``
مَنْ لَقِيَنِى وَهُوَ يُحِبُّنِى اَدْخَلْتُهُ جَنَّتِى وَمَنْ لَقِيَنِى وَهُوَ يَخَافُنِى اَجْنَبْتُهُ نَارِى وَمَنْ لَقِيَنِى وَهُوْ يَسْتَحْيِ مِنِّى اَنْسَيْتُ الحَفَظَةَ ذُنُوْبَهُ . Bagian Kedua PETUNJUK YANG MEMUAT TIGA PERKARA 26. Cinta, Takut, dan Malu kepada Allah SWT. Sebagaimana firman allah kepada NabiNya : ``Barangsiapa yang menemuiKu dalam keadaan cinta kepadaKu, maka ia akan Aku masukkan ke dalam kedalam SurgaKu. Dan barangsiapa yang menemuiKu dalam keadaan takut kepadaKu, maka ia akan Aku jauhkan dari NerakaKu. Serta barangsiapa yang menemuiKu karena ia mati dalam keadaan malu kepadaKu, maka Aku jadikan malaikat(pencatat amal) lupa terhadap dosa dosa orang itu. `` Keterangan : Maksud aku lupakan malaikat Hafadhah terhadap dosa-dosanya ialah, Allah menyuruh malaikat Hafadhah untuk tidak menulis dosa orang itu sebagai karunia dari Allah SAW.
قَالَ : بَعْضُ الْعَارِ فِيْنَ الصَّبْرُ ثَلَاثُ مَقَامَاتٍ : تَرْكُ الشَّكْوَى وَهِيَ دَرَجَةُ التَّابِعِيْنَ وَالرِّضَاءُ بَالْمَقْدُوْرِ وَهِيَ دَرَجَةُ الزَّاهِدِيْنَ وَالْمَحَبَّةُ بِالْإِبْتِلَاءِ وَهِيَ دَرَجَةُ الصِّدِ يْقِيْنَ . Bagian Kedua PETUNJUK YANG MEMUAT TIGA PERKARA 25. Ciri ciri Orang Beriman Keterangan : Sebagian ulama ahli makrifat mengatakan, sabar itu ada tiga tingkatan : ``Berkatalah sebagian Ulama Ahli Makrifat. Sabar itu ada tiga. Tidak suka menceritakan nasib buruk kepada selain Allah, ini adalah sabar tingkatan tabiin. Ridha atas ketetapan Allah, ini adalah tingkat orang-orang zuhud. Cinta akan musibah, ini adalah sabar tingkatan para shiddiqin.``
اُعْبُدِ اللهَ عَلَى الرِّضَا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَفِى الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرٌ كَثِيْرٌ . Bagian Kedua PETUNJUK YANG MEMUAT TIGA PERKARA 25. Ciri ciri Orang Beriman Dalam sebuah hadits diterangkan : ``Beribadalah kalian kepada Allah dengan ikhlas, apabila kamu tidak mampu,maka bersabarlah kamu trhadap perkara yang tidak kamu sukai, karena dalam hal itu terdapat kebaikan yang banyak. ``
كَيْفَ اَصبَحْتُمْ ؟ قَالُوْا : اَصْبَحْنَا مُؤْمِنِيْنَ بِاللهِ فَقَالَ : وَمَا عَلَامَةُ إِيْمَانِكُمْ ؟ قَالُوْا : نَصْبِرُ عَلَى الْبَلَاءِ وَنَشْكُرُ عَلَى الرَّخَاءِ وَتَرْضَى بِالْقَضَاءِ. فَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ : اَنْتُمُ الْمُؤْ مِنُوْنَ حَقًّا وَرَبِّ الْكَعْبَةِ . Bagian Kedua PETUNJUK YANG MEMUAT TIGA PERKARA 25. Ciri ciri Orang Beriman Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW. Menemui para sahabatnya, lalu beliau bertanya : ``Apa kabar kalian pagi ini ?`` lalu para sahabat menjawab, ``Pada pagi ini kami tetep beriman kepada Allah SWT. `` Nabi Muhammad SAW. Bertanya lagi, ``Apa ciri iman kalian ?`` mereka menjawab, ``Kami bersabar menghadapi ujian (musibah), bersyukur atas kelapangan dan ridha(rela) dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT(Qadha). Lalu Nabi SAW. Bersabda,Kalau begitu kalian benar-benar termasuk orang-orang mukmin yang sebenarnya. Demi Allah yang memelihara kabah. `
مَنْ خَرَجَ مِنْ ذُلِّ الْمَعْصِيَةِ إِلىَ عِزِّ الطَّاعَةِ اَعْنَاهُ اللهُ تَعَالَى مِنْ غَيْرِ مَالٍ وَاَيَّدَهُ مِنْ غَيْرِ جُنْدٍ وَاَعَزَّهُ مِنْ غَيْرِعَشِيْرَةٍ . Bagian Kedua PETUNJUK YANG MEMUAT TIGA PERKARA 24. Kekayaan, Kekeuatan, dan Kemenangan Sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Sebagaimana berikut : ``Barangsiapa yang keluar dari kehinaan maksiat menuju kepada kemuliaan taat, maka Allah akan menjadikannya sebagai orang yang kaya tanpa harta, kuat tanpa pasukan dan menang tanpa bala. `` Keterangan : Jika kita selalu bertaqwa kepada Allah, Allah akan selalu memberikan pertolongan kepada kita dalam segala keadaan.
مَا مِنْ صَبَاحٍ اِلَّا وَيَقُوْلُ الشَّيْطَانُ لِى : مَا تَأْكُلُ ؟ وَمَا تَلْبَسُ ؟ وَاَيْنَ تَسْكُنُ ؟ فَاَقُوْلُ : آكُلُ الْمَوْتَ وَاَلْبَسُ الْكَفَنَ وَاَسْكُنُ الْقَبْرَ فَيَهْرَبُ مِنِّى. Bagian Kedua PETUNJUK YANG MEMUAT TIGA PERKARA 23. Makanan, Pakaian dan Perumahan Sebagaimana yang diriwayatkan dari Hatim Al Asham berikut ini : `Tiada suatu pagi pun berlalu melainkan syaitan bertanya kepadaku, ``Apakah yang akan kamu makan ? Apa yang kamu pakai? Dan Dimana kamu akan bertempat tinggal ? `` maka akupun menjawab, ``Maut adalah makananku, kain kafan menjadi pakaianku, dan aku tinggal di dalam kubur.`` Maka syaitan lari terbirit birit. `` Keteranagan : حَاتِمُ الْأَصَمِّNama aslinya Abdur Rahman Hatim bin Uhwan atau disebut juga Hatim bin Yusuf. Beliau adalah seorang ulama besar di Neadalah seorang ulama besar di Negeri Khurasan. Hatim Ali Al Ansam artinya Hatim yang tuli. Sejarahnya adalah sebagai berikut : Suatu saat ada seorang wanita datang kepada Hatim menanyakan suatu masalah. Tiba-tiba wanita tersebut kentut, sehingga merahlah wajah wanita itu karena malu. Namun Hatim malah berkata, Keraskanlah suaramu, aku kurang bisa mendengar. Wanita tersebut merasakan senang, rasa malunya hilang, karena ia yakin kentutnya tidak terdengar oleh Hatim. Padahal pendengaran Hatim masih normal, hanya saya ia berpura-pura tuli agar wanita itu tidak kecewa karena malu. Maka sejak itulah Rahman Hatim bin Yusuf dipanggil Hatim Al Asam.
يَا عُزَيْرُ اِذَا اَذْنَبْتَ ذَنْبًا صَغِيْرًا فَلَا تَنْظُرْ اِلَى صِغَرِهِ وَانْظُرْ اِلَى مَنْ اَذْنَبْتَ لَهُ وَاِذَا اَصَابَكَ خَيْرٌ يَسِيْرٌ فَلَا تَنْظُرْ اِلَى صِغَرِهِ وَانْظُرْ اِلَى مَنْ رَزَقَكَ وَاِذَا اَصَابَكَ بَلِيَّةٌ فَلَا تَشْكُونِى إِلَى خَلْقِى كَمَا لَا اَشْكُوْكَ إِلَى مَلَائِكَتِى إِذَا صَعِدَتْ إِلَيَّ مَسَاوِيْكَ. Bagian Kedua PETUNJUK YANG MEMUAT TIGA PERKARA 22. Dosa Kecil, Rizqi, dan Musibah Diterangkan dalam sebuah pernyataan, bahwa Allah SWT. Telah berfirman kepada Nabi Uzair as. Sebagai berikut : ``Wahai Uzair, jika kamu melakukan dosa kecil, maka kamu jangan melihat kecilnya, tapi lihatlah kepada siapa kamu telah berbuat dosa. Jika kamu mendapatkan yang sedikit, maka kamu jangan melihat yang sedikitnya, tapi lihatlah siapakah yang telah memberikan itu kepadamu. Dan jika kamu mendapatkan suatu musibah, maka janganlah kamu mengadukanKu kepada makhlukKu, sebagaimana Aku tidak mengadukanmu kepada MalaikatKu, jika kejelekanmu disampaikan kepada Ku. `` Keterangan : Menceritakan nasib buruk (sial) kepada orang lain disebut شِكَايَةٌ hukumnya haram. شِكَايَةٌhanyalah kepada Allah. Masalah : jika menceritakan nasib buruk kepada orang lain tapi hatinya ridha dan sabar karena menjawab orang-orang yang bertanya kepadanya, hal itu tidak termasuk syikayah. Sebab, Nabi pun pernah berkata demikian kepada Malaikat Jibril. Saat menjelang wafat Jibril bertanya : Ya Muhammad apa yang terasa olehmu ?. Nabi menjawab : Aku susah dan bingung. Jibril bertanya lagi : Apa yang menyebabkan kamu susah dan bingung ?. Nabi menjawab :Nasib umatku diakhir zaman.
اَللَّهُمَّ اَجْعَلْنِىْ صَبُوْرًا وَاجْعَلْنِى شَكُوْرًا وَاجْعَلْنِى فِى عَيْنِىْ صَغِيْرًا وَفِى اَعْيُنِ النَّاسِ كَبِيْرًا . Bagian Kedua PETUNJUK YANG MEMUAT TIGA PERKARA 21. Manusia Dalam Pandangan Allah, Dirinya Sendiri dan dalam Pandangan Orang Lain Keterangan : Islam tidak membeda-bedakan manusia karena perbedaan harta, tahta, atau turunan. Akan tetapi, Islam mengajarkan manusia sama derajatnya di sisi Allah dan manusia yang lebih mulia adalah orang yang lebih taqwa di antara mereka. Oleh karena itu, sebagian para ulama berdoa dengan doa sebagai berikut : ``Ya Allah, jadikanlah aku orang yang sabar dan bersyukur, dan jadikanlah aku dalam memandang diriku seorang yang kecil/hina dan jadikanlah aku seorang yang memandang besar ketika memandang diri orang lain. ``
اِذَالَقِيْتَ اَحَدًا مِنَ النَّاسِ رَأَيْتَ الْفَضْلَ لَهُ عَلَيْكَ وَتَقُوْلُ عَسَى اَنْ يَكُوْنَ عِنْدَ اللهِ خَيْرًا مِنِّىْ وَاَرْفَعَ دَرَجَةً فَإِنْ كَانَ صَغِيْرًا قُلْتَ : هَذَ الَمْ تَعْصِ اللهَ وَاَنَاقَدْ عَصَيْتُ فَلَا شَكَّ اَنَّهُ خَيْرٌ مِنِّىْ وَاِنْ كَانَ كَبِيْرًا قُلْتَ هَذَا قَدْ عَبَدَ اللهَ قَبْلِىْ وَاِنْ كَانَ عَالِمًا قُلْتَ هَذَا اُعْطِيَ مَالَمْ اَبْلُغْ وَنَالَ مَالَمْ اَنَلْ وَعَلِمَ مَاجَهِلْتُ وَهُوَ يَعْمَلُ بِعِلْمِهِ وَاِنْ كَانَ جَاهِلًا قُلْتَ هَذَا عَصَى اللهَ بِجَهْلٍ وَ اَنَاعَصَيْتُهُ بِعِلْمٍ وَلَا اَدْرِىْ بِمَ يُخْتَمُ لِىْ اَوْبِمَ يُخْتَمُ لَهُ, وَاِنْ كَانَ كَافِرًا قُلْتَ لَااَدْرِىْ عَسَى اَنْ يُسْلِمَ فَيُخْتَمُ لَهُ بِخَيْرِ الْعَمَلِ وَعَسَى اَنْ اَكْفُرَ فَيُخْتَمُ لِىْ بِسَوْءِ الْعَمَلِ . Bagian Kedua PETUNJUK YANG MEMUAT TIGA PERKARA 21. Manusia Dalam Pandangan Allah, Dirinya Sendiri dan dalam Pandangan Orang Lain Syekh Abdul Qadir Al Jaelani berkata, ``Apabila kamu bertemu dengan seseorang, hendaklah engkau memandangnya lebih utama daripada kamu, dan engkau mengatakan, mungkin dia lebih baik disisi Allah daripada aku, dan lebih tinggi derajatnya. Apabila dia lebih kecil hendaklah engaku mengatakan,orang ini tidak berbuat dosa kepada Allah sedangkan aku telah berbuat dosa, maka aku tidak ragu lagi bahwa ia lebih baik dari pada aku. Dan apabila keadaan orang yang kau lihat lebih tua, hendaklah engkau mengatakan, Orang ini telah beribadah kepada Allah sebelum aku. Apabila keadaan orang yang engkau pandang seorang alim (kiai), hendaklah engkau mengatakan, Orang ini telah diberi sesuatu (anugerah) yang belum aku dapatkan dan ia telah mengetahui apa yang belum aku ketahui serta mengamalkan ilmunya. Apabila orang itu bodoh, hendaklah engkau mengatakan, Orang ini durhaka kepada Allah karena kebodohannya, sementara aku berdosa karena aku berilmu. Aku tidak tahu dengan apa aku diakhiri atau dengan apakah dia diakhiri (kehidupannya( حُسْنُ الْخَاتِمَةِatau سُوْءُ الْخَتِمَةِ . Dan apabila keadaan orang yang engkau lihat kafir, hendaklah aku mengatakan,Aku tidak tahu, mungkin aku menjadi kafir sehingga aku berakhir dengan amal yang jelek. `
كُنْ عِنْدَ اللهِ خَيْرَ النَّاسِ وَكُنْ عِنْدَ النَّفْسِ شَرَّ النَّاسِ وَكُنْ عِنْدَ النَّاسِ رَجُلًا مِنَ النَّاسِ. Bagian Kedua PETUNJUK YANG MEMUAT TIGA PERKARA 21. Manusia Dalam Pandangan Allah, Dirinya Sendiri dan dalam Pandangan Orang Lain Telah diriwayatkan dari Ali ra. sebagai berikut : ``Jadilah engkau orang yang paling baik dalam pandangan Allah, dan jadilah engkau orang yang paling hina dalam pandanganmu sendiri, dan jadilah engkau orang yang sewajarnya dalam pandangan orang lain. `` Keterangan : Kita harus memeandang diri orang lain lebih baik daripada kita dan memandang diri kita lebih jelek daripada orang lain dalam hal iman, ilmu, dan amal. Namun kita jangan memandang non-muslim lebih baik daripada kita. Sebab, Allah berfirman : وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْأَ عْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْ مِنِيْنَ . ``Janganlah kamu merasa hina dan jangan pula merasa bersedih hati, sedang kamu ada dalam derajat yang tinggi apabila kamu dalam keadaan beriman. ``
دَارِهِمْ مَا دُمْتَ فِى دَارِه#وَاَرْضِهِمْ مَا دُمْتَ فِى اَرْضِهِم Bagian Kedua PETUNJUK YANG MEMUAT TIGA PERKARA 20. Sunnatullah, Sunnatur Rasul, dan Sunnah Waliyullah Adapun tentang ramah tamah (sopan santun) adalah sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah syair berikut ini : ``Berbuat baiklah kepada mereka selama engkau berada di rumah mereka. Dan buatlah hati mereka menjadi ridha (rela), selama engkau berada di bumi mereka. ``
مَا سُنَّةُ اللهِ ؟ قَالَ : كِتْمَانُ السِّرِّ وَقِيْلَ مَا سُنَّةُ الرَّسُوْلِ ؟ قَالَ : الْمُدَارَةُ بَيْنَ النَّاسِ وَ قِيْلَ مَا سُنَّةُ اَوْلِيَائِهِ ؟ قَالَ : اِحْتِمَالُ اْلاَذَى عَنِ النَّاسِ وَكَانُوْا مِنْ قَبْلِنَا يَتَوَا صَوْنَ بِثَلَاثِ خِصَالٍ : وَيَتَكَا تَبُوْنَ بِهَا مَنْ عَمِلَ لِآخِرَتِهِ كَفَاَهُ اللهُ اَمْرَدِ يْنِهِ وَدُنْيَاهُ وَمَنْ اَحْسَنَ سَرِيْرَتَهُ اَحْسَنَ اللهُ عَلَا نِيَتَهُ وَمَنْ اَصْلَحَ مَابَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ اَصْلَحَ اللهُ مَابَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ . Bagian Kedua PETUNJUK YANG MEMUAT TIGA PERKARA 20. Sunnatullah, Sunnatur Rasul, dan Sunnah Waliyullah Kemudian ditanyakan kepada Sayyidina Ali ra. : `` Apakah sunnatullah itu ? ``Beliau menjawab, ``yaitu menyimpan rahasia.`` Ditanyakan lagi, ``apakah sunnah Rasulullah ?`` Beliau menjawab, ``Berbuat baik (ramah tamah) kepada sesama manusia. Dan ditanyakan pula, ``Apakah sunnah waliyullah itu ?`` Beliau juga menjawab, ``Menaggung kesabaran atas sesuatu yang menyakiti mereka. Keadaan para wali sebelum kami berwasiat dengan 3 perkara dan mereka mengirimkan surat kepada sebagian mereka tentang hal itu, yaitu : barangsiapa yang beramal untuk akhiratnya, maka Allah akan memberi kecukupan kepadanya dalam keadaannya dalam urusan agama dan dunianya, barangsiapa yang baik batinnya, maka Allah akan memperbaikinya dzahirnya, dan barangsiapa yang mengikhlaskan amal yang berhubungan dengan Allah maka Allah, akan meluluskan amalnya yang berhubungan antara dia dan manusia. `` Keterangan : اَ صْلَحَMaksudnya اَخْلَصَberarti mengikhlaskan niat yaitu membersihkan niat dari riya`, ujub, dan sunnah. (سُمْعَةٌ)
مَنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ سُنَّةُ اللهِ وَسُنَّةُ رَسُوْلِهِ وَسُنَّةُ اَوْلِيَائِهِ فَلَيْسَ فِى يَدِهِ شَىْءٌ . Bagian Kedua PETUNJUK YANG MEMUAT TIGA PERKARA 20. Sunnatullah, Sunnatur Rasul, dan Sunnah Waliyullah Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ali ra. berikut ini : ``Barangsiapa yang tidak ada sunnatullah di sisinya, sunnah Rasul dan sunnah para waliyullah, maka ia tidak mempunyai suatupun di tangannya. ``
طُوْبَى لِمَنْ تَرَكَ الدُّنْيَا قَبْلَ اَنْ تَتْرُكَهُ وَبَنَى قَبْرَهُ قَبْلَ اَنْ يَدْخُلَهُ وَاَرْضَى رَبَّهُ قَبْلَ اَنْ يَلْقَاهُ. Bagian Kedua PETUNJUK YANG MEMUAT TIGA PERKARA 19. Tiga Perkara Merupakan Bekal Akhirat Sebagaimana yang diriwayatkan dari Yahya bin Muadz ar Razi berikut ini : ` Sungguh beruntung orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, orang yang menyediakan kuburan sebelum ia memasukinya dan orang yang mendapatkan ridha Tuhannya, sebelum ia menemui Nya. `` Keterangan : a. Sebelum harta meninggalkan, maksudnya sebelum kafir. b. Membangun kubur sebelum memasukinya maksudnya, beramal saleh sebelum meninggal. c. Meridhai Tuhannya yakni dengan cara melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. d. Sebelum menemuinya, artinya sebelum mati.
اَسْعَدُ النَّاسِ مَنْ لَهُ قَلْبٌ عَالِمٌ وَبَدَن ٌصَابِرٌ وَ قَنَاعَةٌ بِمَا فِى الْيَدِ . Bagian Kedua PETUNJUK YANG MEMUAT TIGA PERKARA 17. Tanda tanda Orang Yang Berbahagia Sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah pernyataan sebagai berikut : `` Orang yang paling berbahagia adalah orang yang mempunyai hati yang alim, badan yang sabar dan merasa puas terhadap apa yang ada di tangannya. `` Keterangan : Qana`ah adalah menerima pemberian Allah dengan senang hati (menerima apa adanya).
إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ هَلَكَ قَبْلَكُمْ بِثَلَاثِ خِصَالٍ : بِفُضُوْلِ الْكَلَامِ وَفُضُوْلِ الطَّعَامِ وَ فُضُوْلِ الْمَنَامِ. Bagian Kedua PETUNJUK YANG MEMUAT TIGA PERKARA 18. Perkara perkara Yang Menyebabkan Celaka Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibrahim An NakhaI ra. sebagai berikut : ` Sesungguhnya orang orang yang sebelum kamu itu celaka hanya karena disebabkan tiga perkara, yaitu bicara yang berlebihan, makan yang berlebihan, dan terlalu banyak tidur. ``
إِلَهِى لَئِنْ طَلَبْتَنِى بِذَنْبِى لَاَطْلُبَنَّكَ بِعَفْوِكَ وَلَئِنْ طَالَبْتَنِى بِبُخْلِى لَاَطْلُبَنَّكَ بِسَخَائِكَ وَلَئِنْ اَدْخَلْتَنِى النَّارَ لَاَخْبَرْتُ اَهْلَ النَّارَ بِاَنِّى اُحِبُّكَ. Bagian Kedua PETUNJUK YANG MEMUAT TIGA PERKARA 16. Permohoman Imam Sulaiman Ad Darani Sebagaimana yang diriwayatkan dari Abdurrahman bin Athiyah, bahwa dalam doanya Imam Abu Sulaiman Ad Darani ra. menuntut kepada Allah SWT. Sebagai berikut : `` Wahai Tuhanku, apabila Engkau memuntunku karena dosaku, maka akupun akan menuntut kepada Mu akan ampunanMu. Dan apabila Engkau menuntutku karena kebakhilanku, maka akupun akan menuntut kepadaMu akan kedermawananMu. Dan apabila Engkau memasukkan aku ke dalam neraka, maka akan aku sampaikan kepada para ahli neraka, bahwa sesungguhnya aku sangat mencintaiMu.``
لَوْ جَمَعْتَ كَثِيْرًا مِنَ الْعِلْمِ لَمْ يَنْفَعْكَ إِلَّا أَنْ تَعْمَلَ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ لَاتُحِبُّ الدُّنْيَا فَلَيْسَتْ بِدَارِ الْمَؤْمِنِيْنَ وَلَاتُصَاحِبِ الشَّيْطَانَ فَلَيْسَ بِرَفِيْقِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَلَا تُؤْذِ اَحَدًا فَلَيْسَ بِحِرْفَةِ الْمُؤْمِنِيْنَ . Bagian Kedua PETUNJUK YANG MEMUAT TIGA PERKARA 16. Sebab sebab Ilmu Bermanfaat Diterangkan dalam sebuah riwayat, bahwa seseorang dari kaum Bani Israil telah mengumpulkan buku yang berisi ilmu sebanyak delapan puluh peti, tapi tak satupun dari semuanya itu bermanfaat baginya. Karenanya Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Mereka, agar memberikan nasihat kepada orang itu : `` Seandainya kamu kumpulkan ilmu lebih banyak dari itu semua, tentu tidak akan bermanfaat bagimu, melainkan dengan mengerjakan tiga perkara yaitu, janganlah kamu mencintai dunia, karna ia bukanlah balasan bagi orang orang beriman, janganlah kamu bersahabat dengan syaitan, karena ia bukanlah sahabat orang orang yang beriman dan janganlah kamu menyakiti seorangpun karena hal itu bukan perbuatan orang orang yang beriman. `` Keterangan : Dunia bukan tempat orang mukmin maksudnya bukan tempat menerima balasan bagi orang mukmin, karena tempat menerima pahala adalah surga. Adapun jika mendapat keuntungan sesudah beribadah (beramal saleh) itu hanyalah merupakan hikmah, sedangkan jika mendapat kecelakaan, itu bukan siksa bagi mukmin, akan tetapi hanya merupakan peringatan. Menemani setan maksudnya, menaati perintahnya dan membantah perintah Allah.
يَا فَتَى إِنِّى اَعِظُكَ بِثَلَاثِ خِصَالٍ فِيْهَا عَلْمُ الْاَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ خَفِ اللهَ فِى السِّرِّ وَ الْعَلَانِيَةِ وَامْسِكْ لِسَانَكَ عَنِ الْخَلْقِ وَلَا تَذْكُرُهُمْ اِلَّا بِخَيْرٍ وَانْظُرْ خُبْزَكَ الَّذِى تَأْكُلُهُ حَتَّى يَكُوْنَ مِنَ الْحَلَالِ : فَامْتَنَعَ الْفَتَى عَنِ الْخُرُوْجِ اِلَى بَلَدٍ آخَرَ لِطَلَبِ الْعِلْمِ . Bagian Kedua PETUNJUK YANG MEMUAT TIGA PERKARA 14. Taqwa, Menjaga Lisan dan Meneliti Makanan Dalam sebuah riwayat diterangkan, bahwa seseorang pemuda dari Bani Israil hendak pergi menuntut ilmu ke luar negeri. Maka kabar itu sampai pula kepada Nabi mereka pada saat itu. Lalu ia dipanggil dan setelah menghadap, maka Nabi itu bersabda kepadanya : ``Wahai pemuda, Sesungguhnya aku akan memberikan nasihat kepadamu dengan tiga perkara yang didalammya mengandung ilmu orang orang yang terdahulu dan yang akan datang (zaman ahkir), yaitu kamu harus takut kepada Allah SWT, baik secara tersembunyi maupun secara terang terangan di tempat umum, jagalah lisanmu dari mengumpat sesama makhluk, janganlah menceritaknnya kepada siapapun kecuali tentang kebaikannya, dan telitilah rotimu(makanan) yang hendak kamu makan, sehingga kamu memakan dari barang yang halal (Pemuda tersebut ternyata kemudian tidak mau pindah ke tempat lain untuk mencari ilmu). ``