tgindex
MUHAMMAD NURUL BANAN (GUS BANAN)

MUHAMMAD NURUL BANAN (GUS BANAN)

Статистика

MUHAMMAD NURUL BANAN (GUS BANAN) Trainer Spiritual Prosperity | Writer | Public Speaker - 1 Day Spiritual Prosperity Class - Servo Prosperity Online Class Facebook, Fanspage, Youtube, Telegram, Ig: Muhammad Nurul Banan Website : www.gusbanan.com

Последний пост
12 авг.
Последнее чтение
15 авг.
Постов за неделю
4
Всего постов
20
Тип
открытый
Язык
und
Категория
Видео
В каталоге с
14 авг.
Подписчики
3 092
−1 за 2 дн.
Сутки
−1
−0,03%
Неделя
 
Месяц
 
Просмотров на пост
246
20 постов
Вовлечённость
8,0%
к подписчикам
Постов в день
0,6
всего 20
Упоминаний
0
каналов
Охват размещения
оценка
1/24сутки в ленте
102
1/48двое суток
116
1/72трое суток
126

Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.

Посты

  • Apapun yang penuh itu hanya akan tumpah lalu mencapai kekosongannya kembali. Saat kosong itulah titik nol. Tuhan. Kamu kayakan dirimu dengan harta hingga penuh, nanti akan tumpah sendiri untuk mencapai kekosongannya. Andurrahman bin Auf, King Solomon, King Janaka mencapainya, kan? Mereka kekayaannya fultank, hasilnya kosong. Tuhan. Kalau kaya—asal penuh—itu hanya akan mencapai tumpah lalu kosong, kenapa kamu ragu dengan jalanmu kalau menjadi kaya itu mengganggu kesalehanmu? Ayo berharta! Di sana hanya ada Tuhan.

  • Cinta itu bukan soal hati, itu soal transaksi. Kalau valuemu minus: miskin, insecure, dan boring, jangan baper kalau kamu di-delisting. Orang tidak meninggalkan karena jahat, mereka cuma berhenti berinvestasi di saham yang tidak bernilai. Cinta itu harga transaksi. Jika kamu tidak mampu membelinya, maka dia tidak matre, dia hanya realistis. Berhenti bangga jadi miskin tapi setia. Kesetiaan tanpa uang itu cuma beban jangka panjang. Cinta tanpa uang itu cuma dongeng untuk menghibur orang gagal. Orang kaya selingkuh dimaafkan, orang miskin setia ditinggalkan.

  • Syarat tauhid (oneness) itu syahadat (penysaksian). Kamu bukan aktornya, melainkan saksi. Kamu melepaskan uang: rasanya eman-eman, rasa sayang, rasa kehilangan, rasa bangga, rasa stres, rasa ketar-ketir dan lain-lain, itu kamu bukan saksi, tapi kamu aktornya. Itu ciri kamu tidak syahadat walaupun "lambemu" sudah ucapkan syahadat. Maka kalau mau syahadat uang, kamu harus bertauhid uang. Pastikan rasa: "uangmu keluar itu tidak kemana", ia hanya balik ke dalam tubuhmu sendiri. Sama seperti: Kamu berak. Kotoran berakmu dimakan ikan. Ikannya dimakan kembali olehmu. Maka uang yang keluar hanya proses kembali ke dalam dirimu sendiri. Menjadi tauhid: kembali satu.

  • Ketika sesuatu berlebih, sistem menariknya kembali agar stabil (feedback). Contoh: tubuh manusia mengatur suhu. Terlalu panas, tubuh berkeringat, suhu tubuh pun turun: stabil. Jika satu kelompok terlalu ekstrem, sering muncul penyeimbang dari arah berlawanan. Kedua jenis feedback ini saling berkelindan. Positive feedback bisa menciptakan lonjakan (boom, kepanikan, kebangkitan massal), sementara negative feedback menjaga agar sistem tidak hancur total. Jadi, Anda yang terlalu ekstrem baik, itu hanya akan menarik negative feedback yang setara: kejahatan. Anda bertanya: "Mengapa saya sangat dermawan dan sepenuhnya hanya ingin menolong kok malah kena fitnah keji ini?" Jawabnya: Itu hanya positive feedback yang berkelindan dengan negative feedback. Maka, kalau Anda merasa telah berbuat baik kok belum menarik keburukan, itu artinya Anda belum total dalam berkomitmen kebaikan.

  • KONSLET ENERGI: "HARTAKU AKAN DIHISAB" Anda melakukan hubungan seks dengan pasangan nikah sah; di situ Anda penuh penerimaan bahwa seks adalah kebutuhan biologis Anda. Penolakan karena rasa berdosa juga tidak ada, karena sadar dia halal bagi Anda. Dengannya Anda pun bisa sangat terbuka untuk urusan yang sebenarnya sangat tabu. Nyaman dan enak, kan? Beda ketika zina: Anda dihantui mungkin rasa berdosa, rasa takut, rasa tidak berharga dan lainnya. Efeknya hawa nafsu Anda merasa enak, tapi nurani Anda menangis sedih. Ada sabotase energi. Malah seks itu bisa sangat menyakitkan, kalau Anda diperkosa. Anda bekerja cari uang, perasaan Anda meyakini: "Hartaku akan dihisab. Pertanggungjawabannya berat." Itu sabotase energi. Makin berharta Anda makin sakit. Konslet. Cobalah sadari! Harta itu manifestasi Zat Maha Al-Ghani-Nya. Sama seperti kasih sayang ibu kepada anak itu adalah manifestasi Zat Ar-Rahim-Nya. Nah, biar nyaman dan enak seperti Anda nge-seks dengan pasangan nikah yang sah, sadari bahwa harta Anda adalah manifestasi mutlak dari Zat Al-Ghani. Karena sadar manifestasi Zat Al-Ghani, harta di tangan Anda itu menjadi zikir. Kelak bila Anda dihisab dan ditanyai pertanggungjawaban, buku catatan amal Anda hanya akan bilang, "Ini ahli zikir kepada Al-Ghani". Pada saat itu, mereka yang tidak berharta justru akan menyesal sesesal-sesalnya: "Kenapa dulu saya tidak berharta?" - Muhammad Nurul Banan - Gus Banan - Transmuting Dark Energy into Spiritual Prosperity

  • без подписи

  • Semesta bekerja pada hukum vibrational matching: Alam semesta selalu merespons siapa diri Anda (state of being), bukan merespons apa yang Anda inginkan. State being Anda yang direspons. Kalau mencari uang dengan state being: "Saya belum punya, maka saya harus bekerja untuk mencukupi/memenuhi," maka respons Semesta hanya akan mengirim energi rezeki yang tanpa Anda kenali kenyangnya/penuhnya. Lapar direspons lapar, sebab itu vibrasi yang ter-matching. Nah, di situ pentingnya tabungan (saldo rekening/simpanan emas). Bukan agar Anda menumpuk-numpuk harta, melainkan agar Anda bervibrasi matching: bekerja bukan untuk mencukupi, tetapi bekerja karena telah kecukupan.

  • KATROK TAPI NYATA "Saya dulu selalu berpikir kalau tidur cepat, bangun pagi, rajin olahraga, Tidak merokok, dan tidak minum alkohol bisa bikin umur panjang. Tapi belakangan saya dengar, penemu treadmill meninggal di usia 54 tahun, Pencipta senam meninggal di usia 57 tahun, Juara dunia binaraga meninggal pada usia 41 tahun, Dan pemain sepak bola terbaik dunia meninggal di usia 60 tahun. Sebaliknya, para pecinta makanan malah beda cerita. Pendiri KFC hidup sampai 94 tahun, Penemu cokelat sampai 88 tahun, Ketua asosiasi minuman keras sampai 114 tahun, Bahkan pembuat rokok Winston katanya hidup sampai 128 tahun. Kelinci tiap hari lompat ke sana kemari, tapi umurnya cuma dua tahun. Sedangkan kura-kura hampir tidak olahraga, Tapi bisa hidup lebih dari 400 tahun. Jadi kesimpulannya... Hidup santai dan makan enak ternyata bisa bikin panjang umur 😆🤣🤣" Sumber: Akun Tiktok @xiao_khang

  • Di dunia 3D, hampir semua orang bergerak dengan frekuensi rendah: ada yang cemas, ada yang marah, ada yang ambisius. Yang merasa pintar butuh mendebatmu agar mereka tampak pintar. Yang merasa shalih butuh menghakimimu agar tampak kudus. Yang merasa miskin butuh uangmu agar mereka kenyang. Yang merasa lemah butuh merampas rasa kasihanmu agar kamu iba. Yang merasa ketakutan butuh menjatuhkanmu agar ia merasa aman. Dan seterusnya. Hampir semua butuh memangsa orang lain untuk survive: bertahan hidup. Karena itu jika kamu dituduh, "Sok pamer", "Sok pintar", "Sok kaya", "Sok pelit." Jawab saja, "Itu urusan emosimu yang kesulitan memangsaku. Silakan urusi sendiri emosimu." Lalu, bodo amat.

  • Ibnu Abbas RA pernah melihat sekelompok orang dari Yaman yang datang berhaji tanpa membawa bekal sama sekali. Mereka berkata, "Kami adalah orang-orang yang bertawakal (mutawakkilun)." Apa jawaban telak dari sahabat Nabi ini? Beliau berkata: "Kalian bukan orang yang bertawakal, tapi kalian adalah orang-orang yang membebani orang lain (muta-akkilun—orang yang cuma mau numpang gratis)!" Kamu mengaku tawakal dengan menerimakan kekurangan uang. Itu bukan tawakal. Itu mental "membebani orang lain".

  • Banyak orang tidak sedang tawadhu. Mereka cuma kecanduan citra. Demi dipuji sebagai orang yang rendah hati, mulutnya sibuk mengucap: "Saya masih bodoh." "Saya ini bukan siapa-siapa." "Saya belum layak." "Saya fakir ilmu." Padahal, yang mereka rawat bukan tawadhu, melainkan "branding kerendahan hati". Ironisnya, demi mendapat validasi sebagai orang tawadhu, mereka rela mengkhianati kenyataan tentang dirinya sendiri. Allah menitipkan kapasitas, tapi mereka menyangkalnya. Allah memberi kemampuan, tapi mereka pura-pura tidak punya. Bukan karena rendah hati, melainkan karena takut dicap sombong. Tawadhu itu bukan mengecilkan diri, bukan pula membesarkan diri. Tetapi dirimu tampil sesuai dengan dirimu apa adanya saja.

  • 10+6=17. Londo ireng. Lele ditanam. Ga ikut nyoblos tapi ikut mumet.

  • Semakin besar Anda bergantung kepada seseorang, semakin kecil posisi tawar Anda. Misalnya: Anda sangat butuh pekerjaan → sulit menolak perlakuan buruk atasan. Anda sangat butuh pasangan → rela diselingkuhi atau direndahkan demi tidak ditinggalkan. Anda sangat butuh pengakuan → mudah dimanipulasi dengan pujian atau kritik. Anda sangat butuh uang → lebih mudah menerima kesepakatan yang merugikan. Maka itu: Orang itu takut kepada orang yang nggak butuh ke mereka. Kebutuhanmu adalah titik lemahmu.

  • Rendah hati itu tidak perlu menonjolkan, tetapi juga tidak perlu menyembunyikan cahaya. Pura-pura rendah hati itu menyembunyikan cahaya agar orang lain tidak iri atau tersinggung. Menghindari resistensi. Hal itu lahir dari ketakutan (takut dijauhi, takut dianggap sombong, takut mengganggu, takut ada friksi). Ibarat sebagai matahari sengaja meredup agar tidak menyilaukan semut. Begitu itu yang disebut pura-pura rendah hati (fake). Rendah hati fake ini yang menyebabkan semesta dengan kejam menempatkan seorang Wapres sejajar dengan kursi para menterinya. Anda masih mau meredupkan diri demi dipuji sopan dan berbudi?

  • Jokowi diam tapi makin berkuasa. Itu keberanian dan kedaulatan diri. Anaknya diam, tapi duduk sejajar menteri. Itu ketakutan diri.

  • Apa Matahari peduli kalau Neptunus kekurangan sinarnya, sementara Venus kepanasan kalau terlalu intens terima sinarnya? Matahari tidak peduli. Sedikitpun dia tidak mau merendahkan dirinya dengan "sedikit saja sopan" untuk memahami bahwa Venus kepanasan, Neptunus kedinginan. Itu bukan egois. Itu karena Matahari sadar dengan takdir kosmiknya sebagai pemimpin tata surya: sebagai sumber pencerah. Menjadi wapres itu takdir kosmiknya menunjukkan diri sebagai sumber pencerah (wakil pemimpin). Bukan kemudian berjalan saja menerima di belakang. Dikritik tajam menerima diam. Bersalaman menerima mencium tangan. Itu bukan tawadhu. Bukan andap asor. Itu pemimpin yang tidak tahu takdir kosmiknya sebagai energi sumber (wapres). Itu pemimpin yang tidak berdaulat atas dirinya. Mau ini dan itu ewuh pekewuh, merasa tak layak, merasa tak enak hati. Karena guilt (merasa tak layak di kursi depan), semesta pun menempatkannya duduk sejajar menteri. Kapok.

  • Masa kecil saya sandal jepit masih istimewa. Anak-anak paling punya satu sandal itupun hanya dipakai setelah mandi sore hingga malam hari. Siang hari—saat bermain—dilarang ortu pakai sandal jepit biar awet tak cepat putus. Karena berharga, tiap minggu hampir dengar geger-geger jamaah masjid kehilangan sandal jepit. Sekarang sudah lebih makmur. Beli sandal jepit tidak berat lagi. Dengar geger-geger hilang sandal jepit jarang sekali. Artinya iman kuat itu sangat terbantu oleh uang. Makanya, Negara paling korup di dunia adalah Sudan Selatan (skor 9 - 12). Negara miskin. Negara paling bersih korupsi adalah Denmark (skor 89). Negara kaya. Masih meyakini kekurangan uang itu menyalehkanmu?

  • Listrik itu akan mati kalau arus negatifnya kamu matikan. Lalu kenapa saat kamu diberi arus negatif hidup, kamu malah sibuk menolak agar lenyap? Sibuk healing, sibuk release, sibuk cari solusi. Arus negatifmu dimusuhi, divonis buruk. Ya pantas hidupmu buruk terus, listrik hidupmu pun tidak pernah nyala, karena kamu sibuk memusuhi dan memusnahkannya. Terima. Peluk dengan bahagia arus negatifmu sebagaimana kamu memeluk arus positifmu.

  • Ingat pepatah: "Kantong kosong, nyaring bininya."

  • Mulutmu teriak, "I love you," tapi hatimu tidak cinta. Kira-kira dia percaya? Lalu kenapa kamu heran ketika mulutmu berdoa, "Ya Allah, lancarkan rezekiku," sementara hatimu terus berbisik, "Aku miskin. Aku seret. Aku tidak mampu." Lebih lucu lagi, kamu membenci orang kaya, padahal setiap kebencian pasti menjauhkan. Uang itu bukan frekuensinya orang shaleh. Uang murni frekuensinya orang kaya harta. Lalu kamu membenci si kaya? Tentu itu auto menjauhkanmu dari lancar rezeki yang kamu minta. Mulutmu meminta kaya. Hatimu betah menjadi miskin. Yang menang bukan ucapanmu, tapi frekuensi yang paling sering kamu hidupi.