KALAM MUROBBI & MASYAIKH
СтатистикаBerkongsilah posting-posting Yang dengan jujur jangan claim itu milk anda.
- Последний пост
- 10 февр.
- Последнее чтение
- 13 авг.
- Постов за неделю
- 0
- Всего постов
- 20
- Тип
- открытый
- Язык
- индонезийский
- В каталоге с
- 13 авг.
- 1/24сутки в ленте
- —
- 1/48двое суток
- —
- 1/72трое суток
- —
Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.
Посты
Cintai Al QURAN KITAB yang satunya di alam ini KALAM dari ALLAH SWT. Jangan biarkan umat ini jauh dan buta dengan Al QURAN. Fahami dan lihat kehidupan dalam kacamata AL QURAN . Keilmuan Panca indera terbatas, Keilmuan akal lebih luas namun juga terbatas. Keilmuan Ruh lebih luas namun tetap juga terbatas. Maka semua perlu di pandu akan Keilmuan Langsung dari ALLAH pencipta insan dan alam yang tiada terbatas yakni AL QURAN. Al QURAN adalah Mentari Kehidupan.
IBLIS menghijab Ruh dari MAKRIFAT dengan Keegoan akuan diri. SYAITAN menguasai jiwa dengan kelalaian dan membisik kejahatan . DAJAL menguasai pemikiran kepada kebebasan daripada Wahyu. IBLIS dihilangkan dengan Cahaya MAKRIFAT. SYAITAN dilemahkan dengan Akhlak MUHAMADIAH. DAJAL dikalahkan dengan PERADABAN NUBUWWAH.
Jangan salah pilih guru, berikut lima kriteria guru sejati . Rasulullah tidak hanya memberi peringatan, tetapi juga memberikan ukuran yang jelas: guru yang layak diikuti adalah guru yang menuntun hati, bukan sekadar mengajarkan kata-kata. Dialah yang menyalakan lilin ketenangan, bukan api perpecahan. Dialah yang menambah iman, bukan kebingungan. Dialah yang mengajak kita lebih dekat kepada Allah, bukan lebih dekat kepada dunia. Di antara banyaknya orang yang mengaku berilmu, tak semuanya mampu menuntun hati menuju jalan yang benar. Sebab ilmu bukan sekadar kata-kata, bukan pula deretan dalil atau gelar yang terpampang. Ilmu sejati adalah cahaya dan hanya hati yang bercahaya yang mampu menerangi hati manusia lainnya. Itulah mengapa Rasulullah berpesan agar kita tidak duduk kepada setiap "orang berilmu", kecuali kepada mereka yang membawa kita dari lima kegelapan menuju lima cahaya kehidupan. وعنِ النَّبِي أَنَّهُ قَالَ: «لَا تَجْلِسُوا عِندَ كُلِّ عَالِمٍ إِلَّا الَّذِي يَدْعُوكُمْ مِنَ الْخَمْسِ إِلَى الْخَمْسِ مِنَ الشَّكَ إِلَى الْيَقِينِ، وَمِن َ التَّكَبْرِ إِلَى التَّوَاضْعِ، وَمِنَ الْعَدَاوَةِ إِلَى النَّصِيحَةِ ، وَمِنَ الرَّيَاءِ إِلَى الْإِخْلَادِ، وَمِنَ الرَّغْبَةِ إِلَى الزَّهْدِ "Janganlah kalian duduk (berguru) kepada setiap orang yang mengaku berilmu, kecuali kepada orang yang mengajak kalian dari lima hal menuju lima hal: dari keraguan menuju keyakinan, dari kesombongan menuju kerendahan hati, dari permusuhan menuju ketulusan nasihat, dari riya' menuju keikhlasan, dan dari ketamakan menuju sifat zuhud." Lima Kriteria Guru menurut tashawuf yang dapat menuntun jiwa dari lima kegelapan menuju lima cahaya, diantaranya: 1. Dari Keraguan Menuju Keyakinan Hidup ini penuh tanda tanya. Namun seorang guru sejati tidak menambah bingung, tidak memecah batin muridnya dengan teori-teori yang saling bertentangan. la justru memperkuat iman, menenangkan hati, dan membimbing agar muridnya semakin yakin bahwa Allah selalu ada, selalu menjaga, dan selalu menuntun. Keyakinan adalah hadiah terbesar dari ilmu. Tanpa itu, semua pengetahuan menjadi kosong. 2. Dari Kesombongan Menuju Kerendahan Hati. Ilmu bisa menjadi cahaya, tetapi juga bisa menjadi api yang membakar jika membuat seseorang merasa lebih tinggi dari yang lain. Guru yang baik selalu menundukkan dirinya dan menundukkan muridnya di hadapan Allah. la tidak menuntun untuk menjadi lebih bangga, tetapi lebih rendah hati. Sebab kesombongan adalah hijab yang menutup rapat semua pintu hidayah. 3.Dari Permusuhan Menuju Ketulusan Nasihat. Ada ilmu yang membuat hati keras, memandang salah semua orang selain dirinya. Tapi guru yang benar membimbing muridnya untuk mencintai, menasihati, dan memperbaiki, bukan membenci. la mengajarkan bahwa menasihati adalah tanda cinta, bukan tanda ingin menang. Bahwa memperbaiki hubungan lebih mulia daripada memperpanjang permusuhan. 4. Dari Riya' Menuju Keikhlasan. Betapa banyak ibadah yang tampak indah di mata manusia, namun kosong di sisi Allah. Guru sejati mengajak muridnya membersihkan niat, menyingkirkan keinginan untuk dilihat, dipuji, atau dianggap shalih. Ia mengingatkan bahwa amal kecil yang ikhlas lebih berharga daripada amal besar yang dipamerkan. 5. Dari Ketamakan Menuju Zuhud. Dunia selalu menggoda. Harta, jabatan, perhatian manusia semua bisa memalingkan hati dari Allah. Guru sejati mengarahkan muridnya untuk mengambil dunia sekadar kebutuhan, bukan tujuan. Ia membimbing agar hati bebas dari belitan keinginan yang tak ada habisnya. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, tapi menjadikan dunia tetap di tangan bukan di hati. Carilah Guru yang Menuntun Hatimu Tidak semua orang berilmu dapat menuntun, tetapi yang menuntun pasti berilmu. Dan yang paling berbahagia adalah mereka yang menemukan guru yang menuntunnya menuju cahaya.
Penutup: Kerohanian Tanpa Ilmu, Jalan Paling Cepat Tersesat Bukan semua yang nampak “spiritual” itu betul. Bukan semua yang bercakap tentang “wahdah”, “fana’”, “wujud” itu benar. Islam sangat jelas: Allah tetap Allah. Makhluk tetap makhluk. Kita dekatkan diri kepada Allah dengan taat, tunduk, sujud dan mengikut syariat—bukan dengan menyamakan diri dengan Tuhan. Kerohanian tanpa ilmu membawa kekeliruan. Kerohanian dengan ilmu membawa keselamatan.
HULUL & ITTIHAD: BILA AQIDAH MENYIMPANG DARI JALAN SUCI Dalam dunia tasawuf dan kerohanian Islam, ada banyak istilah indah—mahabbah, muraqabah, mujahadah—yang semuanya membawa kita menuju Allah dengan cara yang sahih dan selamat. Namun, di sudut lain ada juga istilah yang kelihatan “spiritual”, tetapi sebenarnya membawa manusia keluar daripada landasan akidah. Dua daripadanya ialah Hulul dan Ittihad. Ramai orang keliru kerana istilah-istilah ini sering disebut oleh golongan tertentu yang mengaku “sufi”. Maka elok kita fahami secara santai, apa sebenarnya masalahnya? Apa Itu Hulul & Ittihad? Hulul ➡️ Fahaman yang percaya “Allah masuk ke dalam makhluk”. Seolah-olah Allah “menetap” dalam tubuh manusia atau objek tertentu. Ittihad ➡️ Fahaman “Allah bersatu dengan makhluk”. Dua jadi satu—kononnya manusia boleh “jadi Tuhan”. ➡️ Kedua-duanya lahir daripada fahaman Kristian yang mengatakan Tuhan bersatu dengan Nabi Isa. Kenapa Islam Menolak Dua Fahaman Ini? Kerana akidah Islam sangat jelas: Allah tidak sama, tidak bersatu, tidak menempati dan tidak melekat dengan makhluk apa pun. Allah berfirman: "Laysa kamithlihi shay’un" Tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Para ulama Ahlus Sunnah sejak zaman awal sudah membentang garis besar akidah ini: • Allah berkuasa tanpa bertempat, • tidak menyatu, • tidak menempel, • tidak menyerupai makhluk. Kalau seseorang percaya Allah itu “masuk” atau “bersatu” dengan alam, manusia, batu, pokok, atau apa-apa sekalipun—dia sedang merosakkan akidah tanzih yang menjadi tunjang Islam. Senang Cerita: Ini Bukan Tasawuf. Ini Kesesatan. Jangan keliru—tasawuf yang benar, yang dibawa oleh para wali dan ulama muktabar, tak pernah sekali pun mengajar manusia untuk menganggap dirinya Tuhan. Tokoh-tokoh besar tasawuf seperti: • Imam al-Junaid • Imam ar-Rifa‘i • Syeikh Abdul Qadir al-Jilani • Imam Sahl at-Tustari … semuanya menolak keras fahaman hulul dan ittihad. Ada kata-kata ulama tasawuf yang sangat tegas: “Seandainya aku penguasa, nescaya aku akan memenggal orang yang mengatakan ‘tiada yang wujud kecuali Allah (secara zat)’.” – Imam al-Junaid Ini menunjukkan bahawa fahaman ini bukan saja salah, bahkan merosakkan umat. Macam Mana Boleh Timbul Fahaman Macam Ini? Biasanya datang daripada 3 golongan: 1. Orang beribadah tanpa ilmu Tinggi zikirnya, tetapi cetek ilmu akidah. Zikir tanpa ilmu ibarat naik kereta tanpa stereng—akhirnya terjunam. 2. Mutasawwifah Iaitu golongan “mengaku sufi”, gaya sahaja sufi… tetapi isi kosong. Inilah yang Imam Junaid dan ulama-ulama dahulu paling bimbang. 3. Tersalah faham ungkapan sufi Sebahagian kata-kata para wali zaman dulu bersifat syathahat—ungkapan kerohanian ketika fana’ yang bukan untuk dijadikan pegangan akidah. Pihak jahil terus ambil bulat-bulat dan jadikan pegangan. Contoh Kesesatan Hulul & Ittihad Golongan ini pernah mengatakan: • “Aku adalah Allah.” • “Tidak ada wujud kecuali Allah.” • “Dinding ini pun Allah.” • “Alam ini Allah.” Atau mereka beri contoh seperti: • Allah dengan alam macam garam larut dalam air. • Tuhan dengan makhluk macam sambal yang bercampur bawang, cili dan garam. Ini bukan saja salah—bahkan sangat biadab dan merendahkan kesucian sifat ketuhanan. Bahaya Besar Fahaman Ini Jika kita kata Allah bersatu dengan makhluk, secara tidak langsung: • Syurga = Allah • Neraka = Allah • Batu = Allah • Najis = Allah • Manusia = Allah Na‘uzubillah. Ini lebih buruk daripada aqidah Yahudi dan Kristian, kerana mereka hanya syirikkan Allah dengan beberapa makhluk… tetapi fahaman hulul dan ittihad menjadikan LANGIT DAN BUMI sebagai “tuhan”. Tasawuf Yang Benar Tak Pernah Mengajar Begini Tasawuf yang sahih mengajar: • Mengenali diri sebagai hamba, bukan “tuhan kecil”. • Meningkatkan kerohanian dengan syariat, bukan dengan imaginasi. • Membersihkan hati, bukan mengangkat diri ke tahap ketuhanan. Para sufi sebenar selalu berkata: “Tauhid adalah membezakan Allah yang Qadim daripada makhluk yang baharu.” Selagi kita faham beza antara Pencipta dan makhluk, kita berada di jalan selamat.
Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnad-nya. Suatu hari, di depan Rasulullah ﷺ Abu Bakar menceritakan seorang sahabat yang amat rajin ibadatnya. Ketekunannya menakjubkan semua orang tapi Rasulullah ﷺ tak memberikan komentar apa-apa. Para sahabat keheranan, mereka bertanya-tanya, mengapa Nabi tak menyuruh sahabat yang lain agar mengikuti sahabat ahli ibadat itu. Tiba-tiba orang yang dibicarakan itu lewat dihadapan majelis Nabi. Ia kemudian duduk di tempat itu tanpa mengucapkan salam. Abu Bakar berkata kepada Nabi, _“Itulah orang yang tadi kita bicarakan, ya Rasulullah.”_ Nabi hanya berkata, _“Aku lihat ada bekas sentuhan setan di wajahnya.”_ Nabi lalu mendekati orang itu dan bertanya, _“Bukankah kalau kamu datang disatu majelis kamu merasa bahwa kamulah orang yang paling shalih dimajelis itu?”_. Sahabat yang ditanya menjawab, _“Allahumma, na’am. Ya Allah, memang begitulah aku.”_ Orang itu lalu pergi meninggalkan majelis Nabi. Setelah itu Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat, _“Siapa diantara kalian yang mau membunuh orang itu?”_ _“Aku,”_ jawab Abu Bakar. Abu Bakar lalu pergi tapi tak berapa lama ia kembali lagi, _“Ya Rasulullah, bagaimana mungkin aku membunuhnya?, Ia sedang ruku’.”_ Nabi tetap bertanya, _"Siapa yang mau membunuh orang itu?”_. Umar bin Khaththab menjawab, _“Aku.”_ Tapi seperti juga Abu Bakar, ia kembali tanpa membunuh orang itu, _“Bagaimana mungkin aku bunuh orang yang sedang bersujud dan meratakan dahinya di atas tanah?”_ Nabi masih bertanya, _“Siapa yang akan membunuh orang itu?”_. Sahabat Ali bangkit, _“Aku.”_ Ia lalu keluar dengan membawa pedang dan kembali dengan pedang yang masih bersih, tidak berlumuran darah, _“Ia telah pergi, ya Rasulullah.”_ Nabi kemudian bersabda, _“Sekiranya engkau bunuh dia, umatku takkan pecah sepeninggalku….”_ Dari kisah ini pun kita dapat mengambil hikmah, selama ditengah-tengah kita masih terdapat orang yang merasa dirinya paling shalih, paling berilmu, dan paling benar dalam pendapatnya, pastilah terjadi perpecahan di kalangan kaum muslimin. Nabi memberikan pelajaran bagi umatnya bahwa perasaan ujub akan amal shalih yang dimiliki adalah penyebab perpecahan ditengah orang Islam. Ujub menjadi penghalang naiknya manusia ke tingkat yang lebih tinggi, penawarnya hanya satu, belajarlah menghinakan diri kita, seperti yang dinasihatkan Abu Yazid Al-Busthami kepada santrinya. *اللهم صلي وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين* Wallahu a'lam bisshowab, Semoga bermanfaat,Aamiin... 
PENYEBAB HATI TETAP GELISAH MESKI RAJIN BERIBADAH Di samping seorang sufi, Abu Yazid Al Busthami juga adalah pengajar tasawuf, diantara jamaahnya, ada seorang santri yang juga memiliki murid yang banyak. Santri itu juga menjadi kyai bagi jamaahnya sendiri karena telah memiliki murid, santri ini selalu memakai pakaian yang menunjukkan keshalihannya, seperti baju putih, serban, dan wewangian tertentu. Suatu saat, muridnya itu mengadu kepada Abu Yazid. _“Tuan Guru, saya sudah beribadat tiga puluh tahun lamanya, saya shalat setiap malam dan puasa setiap hari, tapi anehnya, saya belum mengalami pengalaman ruhani yang Tuan Guru ceritakan, saya tak pernah saksikan apapun yang Tuan Guru gambarkan.”_ Abu Yazid menjawab _“Sekiranya kau beribadat selama tiga ratus tahun pun, kau takkan mencapai satu butir pun debu mukasyafah dalam hidupmu.”_ Murid itu heran, _“Mengapa demikian, ya Tuan Guru?”_ _“Karena kau tertutup oleh dirimu sendiri,”_ jawab Abu Yazid. _“Bisakah kau obati aku agar hijab itu tersingkap?”_, pinta sang murid. _“Bisa, tapi kau takkan mampu melakukannya.”_ ucap Abu Yazid _“Tentu saja akan aku lakukan,”_ sanggah murid itu. _“Baiklah kalau begitu,”_ kata Abu Yazid. _“Sekarang tinggalkan pakaianmu, sebagai gantinya, pakailah baju yang lusuh, sobek, dan compang-camping, gantungkan dilehermu kantung berisi kacang, pergilah kau ke pasar, kumpulkan sebanyak mungkin anak-anak kecil di sana, katakan pada mereka, “Hai anak-anak, barangsiapa diantara kalian yang mau menampar aku satu kali, aku beri satu kantung kacang.”, lalu datangilah tempat dimana jamaah kamu sering mengagumimu, katakan juga pada mereka, “Siapa yang mau menampar mukaku, aku beri satu kantung kacang!”_. _“Subhanallah, masya Allah, laa ilaaha illallah,”_ kata murid itu terkejut. Abu Yazid berkata, _“Jika kalimat-kalimat suci itu diucapkan oleh orang kafir, ia berubah menjadi mukmin tapi kalau kalimat itu diucapkan oleh seorang sepertimu, kau berubah dari mukmin menjadi kafir.”_ Murid itu keheranan, _“Mengapa bisa begitu?”_ Abu Yazid menjawab, _“Karena kelihatannya kau sedang memuji Allah, padahal sebenarnya kau sedang memuji dirimu, ketika kau katakan : Tuhan mahasuci, seakan-akan kau mensucikan Tuhan padahal kau menonjolkan kesucian dirimu.”_ _“Kalau begitu,”_ murid itu kembali meminta, _“berilah saya nasihat lain.”_ Abu Yazid menjawab, _“Bukankah aku sudah bilang, kau takkan mampu melakukannya!”_ Cerita ini mengandung pelajaran yang amat berharga. Abu Yazid mengajarkan bahwa orang yang sering beribadat mudah terkena penyakit ujub dan takabur. _“Hati-hatilah kalian dengan ujub,”_ Pesan Iblis. Dahulu, Iblis beribadat ribuan tahun kepada Allah tetapi karena takaburnya terhadap Adam, Tuhan menjatuhkan Iblis ke derajat yang serendah-rendahnya. Takabur dapat terjadi karena amal atau kedudukan kita, kita sering merasa menjadi orang yang penting dan mulia. Abu Yazid menyuruh kita menjadi orang hina agar ego dan keinginan kita untuk menonjol dan dihormati segera hancur, yang tersisa adalah perasaan tawadhu dan kerendah-hatian hanya dengan itu kita bisa mencapai ke hadirat Allah SWT. Orang-orang yang suka mengaji juga dapat jatuh kepada ujub, mereka merasa telah memiliki ilmu yang banyak. Suatu hari, seseorang datang kepada Nabi ﷺ, _“Ya Rasulullah, aku rasa aku telah banyak mengetahui syariat Islam, apakah ada hal lain yang dapat kupegang teguh?”_ Nabi menjawab, : _”Katakanlah : Tuhanku Allah, kemudian beristiqamah-lah kamu.”_ Ujub seringkali terjadi dikalangan orang yang banyak beribadat, orang sering merasa ibadat yang ia lakukan sudah lebih dari cukup sehingga ia menuntut Tuhan agar membayar pahala amal yang ia lakukan. Ia menganggap ibadat sebagai investasi, orang yang gemar beribadat cenderung jatuh pada perasaan tinggi diri. Ibadat dijadikan cara untuk meningkatkan statusnya ditengah masyarakat, orang itu akan amat tersinggung bila tidak diberikan tempat yang memadai statusnya, sebagai seorang ahli ibadat dan ahli dzikir, ia ingin disambut dalam setiap majelis dan diberi tempat duduk yang paling utama.
Syeikh al-Qushashi رحمه الله تعالى dalam kitabnya al-Simth al-Majid, beliau menulis : “Tasawwuf adalah ilmu untuk membersihkan hati daripada kekeruhan sifat manusia, agar ia layak menerima limpahan nur makrifat Allah.” Syeikh al-Qushashi رحمه الله تعالى adalah guru kepada Syeikh Ibrahim al-Kurani رحمه الله تعالى dan Syaikh Ibrahim al kurani adalah Guru pada Syaikh Abdul Malik( Tok Pulau Manis) Syaik Al Qushashi antara tokoh penting tasawwuf di Madinah — menjelaskan bahawa tasawwuf bukan sekadar ajaran zikir atau wirid, tetapi ilmu tentang tazkiyah al-nafs (penyucian jiwa). Hati yang kotor tidak mampu menampung cahaya makrifat. Sebagaimana bekas yang keruh tidak boleh menampung air jernih, demikianlah hati manusia yang masih diselimuti hasad, riya’, ujub dan cinta dunia. Dalilnya jelas dalam firman Allah Ta'ala : “Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan rugilah orang yang mengotorinya.” (Surah al-Syams, 91:9–10) Syeikh al-Qushashi menegaskan bahawa sebelum seseorang mencapai makrifatullah, dia wajib melalui takhalli (mengosongkan sifat tercela), kemudian tahalli (menghiasi diri dengan sifat terpuji), barulah sampai ke tajalli (penyingkapan nur Ilahi).
Bagi 'arifin billah (para wali yang mengenal Allah), telah tersingkap di dalam batin mereka bahawa hakikat nama Ahmad adalah merupakan lambang ketinggian martabat Baginda disisi Allah. Iaitu rahsia keterkaitan antara nama Rasulullah, Ahmad dengan Nama Allah yang terdapat pada ayat pertama Surah al-Ikhlas, iaitu Ahad. Tambahan huruf mim (م) yang terletak antara huruf ha (ح) dan dal (د) dalam nama Ahad mengisyaratkan suatu rahsia halus yang tersirat pada nama Ahmad. Maka mim tersebut adalah isyarat ciptaan yang dipanggil sebagai lingkaran alam ciptaan (دائرة عالم الخلق). Maka, nama Ahmad adalah penzahiran intipati kepada seluruh ciptaan yang menjadi penunjuk kepada ketunggalan Allah di mana dalam kalangan makhluk, Allah telah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai tunggal memiliki keistimewaan dan keunikan yang tidak terdapat pada mana-mana makhluk yang lain. Penerangan Sayyidil Habib mengenai rahsia nama Ahmad bagi Rasulullah SAW ini adalah sebuah jendela kepada perbincangan ilmu haqiqat dan makrifat yang lebih mendalam. Semoga Allah kurniakan kita pengenalan yang mendalam kepada Allah dan Kekasih-Nya, Nabi Muhammad SAW. Amin ya Robbal alamin. iqbal Zain al-jauhari
PELIHARA AMALMU DARI HEMBUSAN IBLIS 1. Terdapat kisah Amirul Mukminin Saidina Abu Bakar Assidiq ra walaupun telah dilantik menjadi Amirul Mukminin beliau tetap menjaga seorang tua dan memerah susu kambing untuk orang tua itu. Dan ini terus dilakukannya hingga ke akhir hayat. Begitu juga Saidina Usman ra tetap berkhidmat memotong kayu untuk orang miskin sekalipun telah menjadi Amirul Mukminin. Begitulah Saidina Umar ra & Saidina Ali ra. 2. Apabila ditanya, Aku tidak mahu jawatan khalifah ini menjadikan aku sombong daripada melakukan hal-hal tersebut, hal-hal kecil berkenaan. 3. Dalam melakukan kebaikan, kerja-kerja amal ibadah, kita mesti berdasarkan tapak qalbu yang suci yang bersih. Apabila kita melakukannya tanpa tapak qalbu yang suci, disitulah munculnya sifat riak, sum'ah, bongkak sehingga setiap amal kebaikan tadi menjadi debu disisi tuhan. Kita mahu dipuji, dimuliakan, disanjung & disebut. Hal ini menyebabkan amal kebaikan kita terselit hembusan iblis. 4. Kita perlu menghalusi gerak qalbu kita. Setiap apa kita lakukan direnung sedalam-dalamnya. Kita bimbang amal kebaikan kita itu dimurkai oleh Allah swt. Kamu bertopengkan kebaikkan, tetapi apa yang dicari bukan redha-Nya. Apa yang dicari kesanjungan & kemuliaan diri. 5. Apakah tandanya kita mencari kesanjungan & kemuliaan diri? Tandanya, kita mudah tersentuh apabila melihat & mendengar perkataan yang menyakitkan kita. Kita merasa akan ditimpa bencana orang yang bersalahan, berbeza dengan kita. Justeru, berhati-hatilah. Guru Walid Ibrahim Al-Malik 11 Oktober 2025
Muslimin muslimat semua dijemput hadir Tlg panjang ²kan In Shaa Allah IKAN TANPA AIR IKAN MATI HATI TANPA ZIKIR HATI MATI ILMU IMAM KEPADA AMAL
без подписи
Semua bermula kerana ada iman dan kasih sayang yang membawa rahmat sekalian alam. 15. Syukur ada Mufti Sabah yang menjadi tunggak dalam membawa sufi kepada masyarakat di Sabah. Moga-moga ia terus berkembang dan hidup di negeri ini. Catatan Andak Hasyim
Tausiah Ayahanda Walid di Majlis Selawat & Zikir Di Masjid Az-Zaeemah. 1. Dalam perjalanan Sufi. Kita tidak berbicara tentang Dzat Allah Taala. Tapi membicarakan tentang kesedaran hati tentang Allah Taala. Bagaimana cara untuk membina hati yang sedar, daripada hati yang lalai. 2. Bermula dengan ingatan, Guru Sufi mentalqinkan zikir dengan pelbagai jalan dan kaedah, kemudian mengetuk keegoan di dalam hati mengikut jalan yang diijtihad oleh para Ulama Sufi mengikut zaman. Kerana hati yang bersarang dengan nafsu tak mampu menikmati kelazatan ibadah dan ayat Allah. Ibarat orang sakit yang tak mampu menikmati makanan. 3. Sedangkan nama-nama Allah telah dinikmati di alam roh. Jadi zikir adalah untuk mengetuk qalbu supaya ruh kembali menyaksikan Allah : Bala Syahidna. Nama itu telah hilang. Jika hilang, maka ingatlah kembali dengan menyebut nama Allah. 4. Banyak perkara telah melalaikan kita. Begitu juga harta, dunia dan anak-anak telah melalaikan kita untuk ingat kepada Allah. Maka para Nabi membawa peringatan agar kita kembali kepada Allah. Mereka mencari rohani yang hilang agar kembali kepada Allah swt. 5. Untuk membersihkan hati, mesti melalui syariat iaitu tubuh mesti dibersihkan dengan ibadah. Kemudian aqal dibersihkan dengan ilmu aqidah. Dan yang ketiga adalah tasawuf. Membersihkan hati agar hilang segala selain Allah. 6. Di barat, musnah kerana kosongnya jiwa. Mereka mengisi kekosongan jiwa dengan perkara yang dimurkai Allah Taala. Dan perkara ini dibawa ke Nusantara. Iaitu kejahilan, kemiskinan dan perpecahan yang telah dirancang musuh supaya kita tidak bersatu dan bergaduh. 7. Perkara ini telah menjadi sumber perpecahan kepada tarekat, perguruan, organisasi dan sebagainya. Justeru kita perlu melihat bagaimana sejarah leluhur kita yang dipecah belahkan. Musuh menjadikan kita, membahagikan kita sehingga kita lemah. 8. Pada ketika kemuncak kekayaan dan keilmuan, Allah merobohkan melalui tentera Mongol yang datang. Semuanya kerana hilang qalbunya dengan Allah. Sehingga mereka bergaduh sesama sendiri, dibantu oleh musuh. Kerajaan Uthmaniah jatuh kerana perkara ini juga. 9. Justeru, Kota Sufi yang kita adakan adalah untuk membawa penyatuan dan cinta. Cinta yang hidup dalam jiwa. Masalah yang kecil tidak dibesarkan jika ada cinta. Jika tiada cinta perkara kecil dibesarkan. 10. Ajaran sufi perlu dibawa kembali. Ianya mengajak kepada pembersihan jiwa. Sehingga menjadi nafsu muthmainnah. Dia tidak merasa mulia, tidak berbuat jahat. Jika nafsu tidak dibersihkan, kita akan derita. Negara porak peranda dan huru hara. 11. Kita perlu menjadi rakyat yang menegakkan kebenaran atas hikmah. Jangan menegakkan kebenaran atas kemarahan. Kerana jika marah, kita akan dikuasai musuh. Kita tidak mahu mencari kebaikan, namun musuh mengambil kesempatan. Seperti yang diuji di Indonesia. Kita tidak mahu Malaysia jadi begitu. Keamanan adalah suatu nikmat yang begitu berharga. 12. Justeru dalam tasawuf, mewujudkan kesedaran dalam hati. Menyatulah pelbagai jemaah seperti tabligh, politik dan sebagainya. Ianya akan menjatuhkan kejahatan. Sesuatu yang benar mesti datang daripada kebenaran qalbu. 13. Maka kembalilah kepada bahtera leluhur. Aqidahnya ASWJ, fiqh As Syafie dan tasaufnya. Sehingga menjadikan bahtera ini kuat dan kukuh. Kita mesti bersatu, membawa umat kepada akhlak, membina peradaban, yang terbina atas aqidah yang benar dan akhlak yang mulia. Jika manusia dibetulkan, maka tamadun akan terbina. Jika hancur manusia, maka tamadun akan hancur. Maka solusinya adalah Islam. Jika benar Islam memimpin, maka akan tertegaklah kemanusiaan, keinsanan. Inilah yang kita akan dapat kerana tasauf adalah kemanusiaan, mahabbah, kebajikan dan pelbagai kebaikan. 14. Hidupkan Cahaya Nabi dengan mawlid, agar masyarakat bersatu. Begitu juga bacaan Yaasin, mereka bersatu kerana al Quran. Tujuan yang sebenarnya adalah penyatuan. Sehingga kita menjadi kuat, mandiri, saling membantu, utuh dan tidak memerlukan pihak lain.
Kota Sufi Se-Nusantara 3.0 Akan Berlangsung Tidak Lama Lagi “𝘔𝘢𝘫𝘭𝘪𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘮𝘪𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 22 𝘖𝘨𝘰𝘴 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘪 𝘔𝘢𝘴𝘫𝘪𝘥 𝘉𝘢𝘯𝘥𝘢𝘳𝘢𝘺𝘢 𝘒𝘰𝘵𝘢 𝘒𝘪𝘯𝘢𝘣𝘢𝘭𝘶. 𝘗𝘢𝘥𝘢 21 𝘖𝘨𝘰𝘴 𝘥𝘪 𝘒𝘶𝘯𝘥𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘔𝘢𝘴𝘺𝘢𝘺𝘪𝘬𝘩 𝘚𝘶𝘧𝘪𝘺𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘫𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘒𝘶𝘯𝘥𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 “𝘗𝘳𝘰𝘨𝘳𝘢𝘮 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘩𝘢𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘵𝘰𝘬𝘰𝘩-𝘵𝘰𝘬𝘰𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘶𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘩𝘭𝘪-𝘢𝘩𝘭𝘪 𝘚𝘶𝘧𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘬𝘭𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘒𝘦𝘮𝘣𝘰𝘫𝘢, 𝘛𝘩𝘢𝘪𝘭𝘢𝘯𝘥, 𝘉𝘳𝘶𝘯𝘦𝘪 𝘋𝘢𝘳𝘶𝘴𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮, 𝘚𝘪𝘯𝘨𝘢𝘱𝘶𝘳𝘢, 𝘐𝘯𝘥𝘰𝘯𝘦𝘴𝘪𝘢, 𝘔𝘢𝘭𝘢𝘺𝘴𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘧𝘢𝘩𝘢𝘮𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘶𝘴𝘵𝘳𝘢𝘭𝘪𝘢. “𝘚𝘦𝘵𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘬𝘭𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘩𝘢𝘥𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘒𝘦𝘮𝘣𝘰𝘫𝘢, 𝘛𝘩𝘢𝘪𝘭𝘢𝘯𝘥, 𝘉𝘳𝘶𝘯𝘦𝘪 𝘋𝘢𝘳𝘶𝘴𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮, 𝘚𝘪𝘯𝘨𝘢𝘱𝘶𝘳𝘢, 𝘐𝘯𝘥𝘰𝘯𝘦𝘴𝘪𝘢, 𝘔𝘢𝘭𝘢𝘺𝘴𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘧𝘢𝘩𝘢𝘮𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘶𝘴𝘵𝘳𝘢𝘭𝘪𝘢,” 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢. - Media Sabah Online Jom Warga Sabah, kita hadir ke Kota Sufi Se-Nusantara 3.0 pada 21-25 Ogos 2025. . . #KotaSufiSabah #JomHadir #KotaSufiSeNusantara3 #Tasawuf #MajlisIlmu #Zikir #SabahBerselawat #CintaUlama #SufiyahNusantara #kuliahperdana #majlisilmubersamaulama #RabithahMasyaikhSufiah pengikut | Sorotan | @topfans
без подписи
без подписи
без подписи
INFAQ DANA CCTV AKQAN 💞 Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh 💞 Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT, Akademi Al-Qur’an An Nur (AKQAN) kini akan membuka cawangan baharu di Muar, Johor yang dijadualkan mula beroperasi pada bulan OGOS ini. Bagi menjamin keselamatan dan kelancaran operasi cawangan, pemasangan sistem CCTV amat diperlukan bagi tujuan pemantauan keselamatan terutamanya di luar waktu operasi dan waktu malam. 🎯 Sasaran Dana: Wiring & Sistem CCTV Keselamatan 🖥️📹 Jumlah Diperlukan: RM6,000 Kami membuka ruang infaq dan sumbangan ikhlas daripada sahabat-sahabat yang ingin turut serta menyumbang kepada keselamatan dan kelangsungan dakwah ini. Setiap ringgit anda adalah pelaburan akhirat yang besar nilainya 💳 Salurkan Sumbangan ke Akaun Rasmi: 🏦 MAYBANK 📌 An Nur By Uya Enterprise 📌 No Akaun: 5540 5363 0552 📱 Untuk sebarang pertanyaan & penghantaran resit: 011 – 6499 4238 (Admin AKQAN) 📎 Boleh juga terus scan QR yang dipaparkan di poster untuk kemudahan sumbangan anda. 💬 “Barang siapa memudahkan urusan saudaranya, Allah akan mudahkan urusannya di dunia dan akhirat.” Jazakumullahu khairan atas keprihatinan dan sokongan anda. Semoga Allah melipatgandakan pahala dan rezeki buat para penyumbang, serta memelihara kita semua di bawah naungan rahmat dan kasih sayang-Nya. #InfaqKeselamatan #SumbanganCCTVAKQAN #DakwahBerterusan
*IKLAN SEBENTAR*