- Последний пост
- 12 авг.
- Последнее чтение
- 15 авг.
- Постов за неделю
- 1
- Всего постов
- 25
- Тип
- открытый
- Язык
- und
- В каталоге с
- 14 авг.
- 1/24сутки в ленте
- 2
- 1/48двое суток
- 2
- 1/72трое суток
- 2
Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.
Посты
“Dr. Majdi Al-Rabie, seorang sejarawan yang mengkhususkan diri dalam sejarah Syiah, menghabiskan 10 tahun hidupnya untuk mempelajari sejarah Syiah, termasuk jejak sejarah mereka, tokoh-tokoh penting, serta konflik mereka dengan Sunni. Dalam sejarah, orang-orang Syiah disebut pernah melepaskan pintu Ka’bah, menanggalkan kiswah (kain penutup Ka’bah), membunuh semua orang yang berpegangan pada tirai Ka’bah, dan mencuri Hajar Aswad.”
📝 _Antara Gaji dan Keikhlasan; dua hal yang tidak perlu dipertentangkan_
fawaid kajian Batu,Malang : https://drive.google.com/drive/folders/1O_5G_wVaKxhz2wfzSOjxweRxt5rtUEdw?usp=sharing
Dr. Majdi al-Ruba'i, seorang spesialis sejarah Syiah, mengatakan: Saya menghabiskan sepuluh tahun hidup saya mempelajari Syiah, meneliti sejarah mereka, mengungkap artefak mereka dan kehidupan tokoh-tokoh terkemuka mereka, dan memeriksa konflik mereka dengan Sunni. Ini selama perjalanan akademis saya, di mana saya memperoleh gelar Master dan Doktor dalam sejarah Syiah, khususnya di Irak dan Iran. Saya berhenti sejenak untuk merenungkan Syiah esoteris yang menganggap darah Muslim diperbolehkan. Mereka menyebarkan Syiah dengan paksa, memaksa rakyat Iran untuk memeluknya 400 tahun yang lalu. Mereka memaksa jutaan Sunni di Iran untuk memeluk Syiah. Sejarawan memperkirakan bahwa negara Safawi membunuh satu juta Muslim Sunni, dibantai dengan pedang di tangan Rafidiyah. Dengan demikian, Iran berubah dari Iran Sunni menjadi Iran Zoroastrian Rafidiyah 400 tahun yang lalu. Lebih jauh lagi, selama salah satu periode paling kritis dalam sejarah, mereka bahkan bersekutu dengan Yahudi dan Kristen melawan Sunni. Hal ini akhirnya menghentikan penaklukan Ottoman. Di Eropa, setelah menaklukkan Eropa Timur, mereka berhasil menembus jantung Eropa dan mengepung Wina. Namun, serangan Safawi dari belakang memaksa Ottoman untuk menghentikan pengepungan Wina dan kembali ke Timur, sehingga menghancurkan impian mereka untuk menaklukkan Eropa dan mengislamkan penduduknya. Hal ini mendorong salah satu sejarawan Barat terkemuka untuk mengatakan: Seandainya bukan karena pengkhianatan Syiah Safawi terhadap Kekhalifahan Ottoman dan serangan mereka dari belakang, Ottoman akan menaklukkan seluruh Eropa, dan Eropa akan menjadi benua Islam. Di antara kejadian yang saya renungkan panjang lebar, hampir tidak percaya bahwa manusia dapat melakukan tindakan seperti itu, apalagi seseorang yang mengaku sebagai Muslim, adalah apa yang dilakukan Syiah Qarmatian (salah satu sekte esoteris) terhadap Ka'bah Suci pada tahun 317 H pada Hari Tarwiyah. Mereka menyerang para peziarah, membunuh lebih dari tiga puluh ribu dari mereka. Mereka menghancurkan Kubah Zamzam, mencopot pintu Ka'bah, dan merobek penutupnya. Mereka membantai setiap peziarah yang berpegangan pada tirai Ka'bah dan mengubur orang-orang Muslim yang terbunuh di dalam sumur. Mereka memenuhi sumur Zamzam dengan mayat-mayat, lalu mereka memindahkan Batu Hitam dari tempatnya dan membawanya ke rumah mereka... Pada saat itu, saya yakin akan kebenaran apa yang dikatakan Syekh al-Islam Ibn Taymiyyah (semoga Allah merahmatinya) tentang kaum Syiah esoteris: bahwa mereka lebih kafir daripada orang Yahudi dan Kristen... dan bahwa membunuh mereka lebih wajib daripada membunuh orang kafir karena mereka dianggap murtad... Hari ini, setelah apa yang telah kita lihat di Suriah—penyembahan Assad, pembunuhan, pembantaian, dan pengusiran kaum Sunni dalam serangkaian pembantaian yang bahkan tidak dilakukan oleh orang Yahudi dan Tatar—dan penghancuran serta penodaan masjid, saya yakin bahwa Bashar al-Assad dan kaum Syiah Nusayri (Alawi) adalah keturunan dari kelompok-kelompok esoteris dan Qarmatian ini... Dan firman Tuhanku, Yang Maha Tinggi, adalah benar: *{Keturunan, sebagian dari mereka dari yang lain}* Seolah-olah sejarah terulang kembali! ✍ Ditulis oleh... Dr. Magdi al-Ruba'i, seorang ahli sejarah. Semoga Allah membalas kebaikannya. 📲 Bagikan ini kepada seluruh umat Muslim di seluruh dunia agar mereka dapat memahami gagasan kelompok sesat ini.
https://t.me/ktbmashhur/748 Katalog 150++ kitab-kitab bentuk PDF karya Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman _hafidahullah_
*b. Metode kedua* : menyebut firqah dahulu, lalu pemikirannya * Contohnya, penulis menyebut Mu‘tazilah, lalu menjelaskan akidah mereka. Menyebut Khawarij, lalu menjelaskan ciri-cirinya. Menyebut Syiah, lalu menjelaskan cabang dan keyakinannya. *c. Metode gabungan* * Sebagian kitab menggabungkan dua metode tersebut. Contoh: kitab Maqālāt al-Islāmiyyīn karya Abu al-Hasan al-Asy‘ari menggunakan dua pendekatan: pada satu bagian menyebut firqah dahulu lalu pemikirannya, dan pada bagian lain menyebut pemikiran dahulu lalu siapa yang memegangnya. *I. Referensi Kitab-Kitab dalam Ilmu Firaq* Beberapa kitab klasik yang disebut dalam transkrip antara lain: 1. Maqālāt al-Islāmiyyīn karya Abu al-Hasan al-Asy‘ari. Kitab ini dinilai paling lengkap dan teliti dalam menukil pendapat kelompok-kelompok Islam. Penulisnya banyak menukil, tetapi tanpa mengkritik. 2. Al-Farq bayna al-Firaq karya al-Baghdadi. Kitab ini menyusun firqah-firqah dengan lebih sistematis, tetapi penulisnya berakidah Asy‘ari dan memandang Ahlus Sunnah dari perspektif Asy‘ariyyah. 3. Al-Fiṣal fi al-Milal wa al-Ahwā’ wa al-Niḥal karya Ibn Hazm. Kitab ini lebih luas karena tidak hanya membahas firqah Islam, tetapi juga agama lain seperti Yahudi, Nasrani, dan kelompok filsafat. 4. Al-Milal wa al-Niḥal karya asy-Syahrastani. Kitab ini juga membahas kelompok Islam dan non-Islam, termasuk filsafat Yunani, Yahudi, Nasrani, dan kelompok lainnya. Tidak semua kitab maqālāt dapat dijadikan pegangan mutlak, karena penulisnya berasal dari latar belakang akidah yang berbeda-beda: ada yang Syiah, Mu‘tazilah, Asy‘ari, dan Ahlus Sunnah. Karena itu, kitab-kitab tersebut berguna sebagai literatur untuk mengenali pendapat kelompok, tetapi penilaian benar-salahnya tetap harus ditimbang dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman salaf. *J. Sikap Ilmiah dalam Mengkritik Kelompok atau Tokoh* > Salah satu pelajaran penting dari transkrip adalah pentingnya amanah ilmiah. Ketika mengkritik kelompok tertentu, seseorang tidak boleh menambah-nambahi, mengurangi, atau memelintir perkataan mereka. *Cara yang adil adalah:* * *Pertama* , membaca langsung sumber mereka.Kedua, memahami maksud mereka secara benar. * *Ketiga* , menukil dengan amanah. * *Keempat* , baru kemudian mengkritik berdasarkan dalil dan kaidah ulama. Mengkritik kesalahan ulama bukan berarti menghina ulama. Para ulama sejak dahulu saling mengkritik, tetapi tetap menjaga adab dan keilmiahan. *K. Kesimpulan Utama* Ilmu firaq penting dipelajari sebagai bagian dari penjagaan akidah. Tujuannya bukan untuk sibuk memberi label kepada orang lain, tetapi untuk memahami mana jalan Ahlus Sunnah dan mana jalan penyimpangan. Pokok pelajaran: 1. Ilmu akidah tidak hanya membahas rukun iman, tetapi juga membahas penyimpangan yang merusak iman. 2. Firqah-firqah lama bisa hilang sebagai kelompok, tetapi pemikirannya dapat muncul kembali dengan nama baru. 3. Banyak penyimpangan datang dengan nama-nama indah, sehingga umat perlu memahami substansinya, bukan hanya istilahnya. 4. Kitab-kitab firaq penting dibaca, tetapi harus hati-hati karena penulisnya memiliki latar belakang akidah yang berbeda. 5. Mengkritik kesalahan harus dilakukan dengan amanah, adil, dan berdasarkan ilmu. Jadi, substansi mempelajari ilmu firaq adalah untuk penjagaan: menjaga akidah dari penyimpangan, menjaga umat dari syubhat, dan membantu seorang Muslim memahami kebenaran dengan lebih kokoh.
1. *Khawarij* , yaitu kelompok yang mudah mengkafirkan kaum Muslimin dan memberontak terhadap penguasa. Mereka dikenal keras dalam takfir dan dalam sejarah banyak membunuh kaum Muslimin. 2. *Qadariyyah* , yaitu kelompok yang menyimpang dalam masalah takdir. Mereka diserupakan dengan Majusi karena keyakinan mereka terkait penciptaan perbuatan manusia dianggap menyerupai dualisme. 3. *Mu‘tazilah* , yaitu kelompok yang dikenal dengan penggunaan akal secara berlebihan dalam akidah. Mereka menolak sebagian sifat Allah, mengatakan Al-Qur’an makhluk, dan memiliki prinsip-prinsip khas seperti al-uṣūl al-khamsah. 4. *Jahmiyyah* , yaitu kelompok yang menolak sifat-sifat Allah secara ekstrem. 5. *Syiah/Rafidhah* , yaitu kelompok yang ghuluw terhadap Ahlul Bait dan mencela para sahabat. 6. *Asy‘ariyyah* , yaitu kelompok ini memiliki perkembangan pemikiran dari masa ke masa. Disebutkan bahwa akidah Asy‘ariyyah tidak selalu satu bentuk, karena mengalami fase dan perubahan pada tokoh-tokohnya. 7. *Qur’aniyyah* , yaitu kelompok yang hanya menerima Al-Qur’an dan menolak Sunnah Nabi ﷺ. 8. *Ateisme dan agnostisisme* , disebut sebagai isu kontemporer yang perlu dibahas karena mengganggu keimanan, khususnya dalam masalah rububiyyah dan keberadaan Allah. *E. Masalah Bid‘ah: Definisi dan Perbedaan Pendekatan Ulama* * Bagian cukup penting dibahas adalah pembahasan bid‘ah. Dijelaskan bahwa ulama berbeda dalam mendefinisikan bid‘ah. Ada yang membagi bid‘ah menjadi lima hukum, seperti wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Namun pembagian semacam itu lebih tepat dipahami sebagai bid‘ah secara bahasa, bukan bid‘ah secara syar‘i. * Bid‘ah secara bahasa bisa mencakup hal-hal baru yang tidak ada pada zaman Nabi ﷺ, seperti ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu musthalah hadits, atau sarana-sarana pendidikan. * Adapun bid‘ah secara syar‘i adalah perkara baru dalam agama yang dimaksudkan sebagai bentuk ibadah dan tidak memiliki dasar syar‘i. Disebutkan bahwa definisi bid'ah oleh Imam asy-Syathibi dinilai lebih kuat, yaitu bid‘ah sebagai jalan baru dalam agama yang menyerupai syariat dan dimaksudkan untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah. *F. Masalah Fikih yang Masuk dalam Kitab Akidah* Tidak semua pembahasan dalam kitab akidah murni masalah akidah. Ada sebagian masalah fikih yang dimasukkan ke dalam kitab akidah karena menjadi pembeda antara Ahlus Sunnah dan ahlul bid‘ah. Contohnya: * Mengusap khuf. Secara asal, ini masalah fikih. Namun karena sebagian kelompok seperti Khawarij mengingkarinya padahal haditsnya mutawatir, maka pembahasan ini masuk dalam kitab akidah. * Ketaatan kepada penguasa Muslim. Secara asal, ini juga terkait fikih siyasah. Tetapi karena berkaitan dengan pemikiran Khawarij, pemberontakan, dan takfir terhadap penguasa, maka masuk dalam pembahasan akidah. * Khabar ahad. Ini berkaitan dengan ilmu hadits, tetapi masuk dalam pembahasan akidah karena banyak masalah akidah ditetapkan berdasarkan hadits ahad. Jika hadits ahad ditolak, maka banyak perkara akidah ikut ditolak. Jadi, suatu masalah bisa masuk kitab akidah karena menjadi ciri khas penyimpangan kelompok tertentu, atau karena menyentuh prinsip besar dalam agama. *G. Makna “Maqālāt” dalam Kitab Firaq* Dalam konteks kitab-kitab klasik, maqālāt bukan berarti “makalah” seperti tulisan ilmiah modern, tetapi berarti pernyataan keyakinan, doktrin, atau pendapat akidah suatu kelompok. Misalnya: * maqālah al-Jahmiyyah berarti pendapat atau doktrin Jahmiyyah. * maqālah al-Mu‘tazilah berarti pendapat atau doktrin Mu‘tazilah. * maqālāt al-Islāmiyyīn berarti kumpulan pendapat kelompok-kelompok yang menisbatkan diri kepada Islam. *H. Metode Penulisan Kitab-Kitab Firaq* Para ulama memiliki beberapa metode dalam menulis kitab tentang firqah dan maqālāt. *a. Metode pertama* : menyebut pemikiran dahulu, lalu tokohnya * Contohnya, penulis menjelaskan suatu pemikiran seperti hulul, ittihad, penolakan sifat Allah, atau pendapat tertentu, lalu menyebut siapa saja kelompok atau tokoh yang berpandangan demikian.
*Rangkuman Materi Daurah Ilmu Firaq oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja Hafidzhahullah | Sesi Pertama* _Ahad, 30 Mei 2026_ _Gedung Ma'had Ibadurrohman - Bina Dakwah Sunnah_ *A. Pengantar: Apa Itu Ilmu al-Firaq?* Ilmu al-firaq adalah ilmu yang membahas kelompok-kelompok keagamaan, khususnya kelompok-kelompok yang menisbatkan diri kepada Islam, baik yang masih berada dalam lingkup Islam maupun yang menyimpang jauh darinya. Istilah: الفِرَقُ المُنْتَسِبَةُ إِلَى الإِسْلَامِ al-firaq al-muntasibah ilā al-Islām yaitu kelompok-kelompok yang mengaku atau berafiliasi kepada Islam. Pembahasan ini bukan untuk mencari-cari kesalahan semata, tetapi untuk mengenali jalan penyimpangan agar seorang Muslim lebih kokoh dalam memahami kebenaran dan tidak mudah tertipu oleh nama-nama indah yang digunakan oleh kelompok menyimpang. *B. Pokok Besar Pembahasan Akidah* Kajian akidah tidak hanya membahas rukun iman secara umum, tetapi juga pembahasan-pembahasan pelengkap yang penting. Secara garis besar, tema-tema akidah yang disebutkan antara lain: *Pertama, masā’il al-īmān*, yaitu pembahasan tentang iman. Di dalamnya masuk pembahasan tentang hakikat iman, hubungan iman dan Islam, bertambah dan berkurangnya iman, istitsnā’ dalam iman, pembatal-pembatal iman, serta masalah al-asmā’ wa al-aḥkām, yakni status pelaku dosa besar: apakah masih mukmin, kafir, fasik, atau berada di antara dua kedudukan. *Kedua, al-i‘tiṣām bi al-sunnah*, yaitu berpegang teguh kepada sunnah dan meninggalkan bid‘ah. Di sini dibahas kesempurnaan syariat, kewajiban mengikuti Nabi ﷺ, kedudukan sunnah, serta bahaya bid‘ah. *Ketiga, pembahasan firqah-firqah* seperti Khawarij, Mu‘tazilah, Murji’ah, Jahmiyyah, Syiah, Qadariyyah, dan kelompok lainnya. *Keempat, pembahasan mazhab-mazhab pemikiran modern* seperti rasionalisme, liberalisme, pluralisme, darwinisme, Qur’aniyyah, ateisme, agnostisisme, dan pemikiran-pemikiran kontemporer yang mengganggu akidah. *Kelima, pembahasan al-adyān* , yaitu agama-agama lain, seperti Yahudi, Nasrani, Majusi, Sikh, Hindu, dan lainnya, khususnya dari sisi keyakinan yang menyelisihi Islam. *C. Mengapa Ilmu Firaq Penting Dipelajari?* Mengenali keburukan bukan berarti ingin mengikutinya, tetapi agar bisa menjauhinya. Disebutkan makna ungkapan: _“Aku mengenal keburukan bukan untuk melakukannya, tetapi untuk menjauhinya.”_ Maksudnya, orang yang hanya mengetahui kebaikan tetapi tidak mengenali bentuk-bentuk penyimpangan, bisa saja terjatuh ke dalam penyimpangan tanpa sadar. *Urgensi mempelajari ilmu firaq antara lain:* a. Mengetahui lawan dari kebenaran > Kebenaran akan semakin jelas ketika lawannya juga diketahui. Al-Qur’an sendiri menyebut jalan orang beriman, tetapi juga menyebut jalan Yahudi, Nasrani, kaum munafik, musyrikin, dan orang-orang sesat. Tujuannya agar jalan kebenaran dan jalan kebatilan sama-sama tampak jelas. *b. Membantah ahlul bid‘ah* > Membantah bid‘ah termasuk bagian dari pembelaan terhadap agama. Bid‘ah dianggap berbahaya karena merusak agama dari dalam. Kalau musuh dari luar tampak jelas, maka bid‘ah sering datang dengan wajah agama, bahkan dianggap sebagai sunnah. *c. Menjaga umat dari penyimpangan lama yang muncul kembali* > Ditekankan bahwa setiap kaum memiliki pewaris. Artinya, meskipun suatu firqah lama telah melemah atau hilang sebagai organisasi, pemikirannya bisa muncul lagi dengan nama baru. Misalnya pemikiran Mu‘tazilah, Jahmiyyah, atau Qadariyyah bisa hidup kembali dalam bentuk modern. *d. Tidak tertipu oleh nama-nama indah* > Banyak penyimpangan datang dengan “casing” yang menarik. Dalam transkrip diberikan contoh bahwa sebagian kelompok menamakan penyimpangan mereka dengan istilah indah seperti “tanzih”, “keadilan”, “cinta Ahlul Bait”, “zuhud”, “ma‘rifat”, “Islam progresif”, dan sejenisnya. Padahal substansinya bisa merusak ajaran Islam. *D. Contoh Firqah dan Isu yang Dibahas* Beberapa kelompok dan isu yang dibahas antara lain:
без подписи
lalu pulang dan tetap dituntut hadir secara emosional untuk keluarganya. 5. Amanah Dakwah dan Kegiatan di Luar Sebagian pendidik juga memiliki: jadwal kajian, perjalanan dakwah, konsultasi, atau kegiatan sosial lainnya. Akibatnya, hidup terasa terus berpindah dari satu tanggung jawab ke tanggung jawab lain tanpa banyak jeda. 6. Perasaan Bersalah Ketika Ingin Beristirahat Tidak sedikit pendidik merasa bersalah ketika: ingin menyendiri, mengambil waktu istirahat, atau mengurangi interaksi. Karena ada perasaan: “Masih banyak santri yang membutuhkan perhatian.” Padahal manusia memiliki batas kapasitas. Pendidikan Adalah Seni Menjaga Keseimbangan Pada akhirnya, menjadi pendidik bukan hanya soal kemampuan mengajar, tetapi juga kemampuan: mengelola diri, mengatur energi, menjaga emosi, membagi perhatian, dan menyeimbangkan berbagai peran kehidupan. Seorang pendidik sering berada di antara banyak tuntutan: ingin hadir untuk santri, ingin bertanggung jawab terhadap keluarga, ingin menjalankan dakwah, dan tetap ingin menjaga kesehatan dirinya sendiri. Karena itu, mendidik manusia bukan pekerjaan ringan. Ia membutuhkan: kesabaran, kebijaksanaan, kedewasaan emosi, dan pertolongan Allah. Namun di balik kesulitannya, pendidikan juga merupakan jalan amal yang sangat mulia. Karena melalui interaksi-interaksi itulah seorang pendidik berusaha membantu manusia tumbuh menjadi lebih baik, lebih bertanggung jawab, dan lebih dekat kepada Allah.
Sulitnya Menjadi Pendidik, Ketika Harus Menyeimbangkan Diri Saat Berinteraksi dengan Santri Banyak orang memandang tugas pendidik sebatas menyampaikan ilmu, memberi aturan, lalu mengarahkan santri agar menjadi lebih baik. Padahal dalam kenyataannya, mendidik manusia jauh lebih rumit daripada sekadar menyampaikan materi atau menegur kesalahan. Seorang pendidik bukan hanya berhadapan dengan pelajaran, tetapi juga berhadapan dengan hati, emosi, karakter, latar belakang, dan kebutuhan manusia yang berbeda-beda. Karena itu, salah satu kesulitan terbesar dalam dunia pendidikan adalah menjaga keseimbangan diri saat berinteraksi dengan santri. Dua Jenis Interaksi dalam Pendidikan Secara umum, interaksi dengan santri dapat dilihat dari dua sisi besar: 1. Interaksi untuk Menjalin Hubungan Interaksi ini bertujuan membangun: kedekatan, rasa aman, kepercayaan, dan keterbukaan hati. Contohnya: mendengar curhat, bercanda, menenangkan, menunjukkan perhatian, atau menemani santri dalam kondisi sulit. Dalam interaksi seperti ini, pendidik dituntut untuk: hangat, empatik, sabar mendengar, dan hadir secara emosional. Karena banyak santri tidak hanya membutuhkan arahan, tetapi juga membutuhkan rasa dipahami dan diperhatikan. 2. Interaksi untuk Mengarahkan dan Memberi Tanggung Jawab Di sisi lain, pendidik juga harus: menegakkan aturan, mengingatkan kewajiban, memberi target, menegur kesalahan, dan menjaga disiplin. Dalam interaksi ini, pendidik perlu: tegas, jelas, konsisten, dan mampu menjaga wibawa. Karena pendidikan bukan hanya soal membuat santri nyaman, tetapi juga membentuk tanggung jawab dan kedewasaan. Sulitnya Menyeimbangkan Keduanya Di sinilah letak salah satu kesulitan terbesar seorang pendidik. Jika terlalu fokus pada hubungan: santri mungkin merasa dekat, tetapi pengarahan menjadi lemah, disiplin menurun, dan batasan menjadi kabur. Namun jika terlalu fokus pada aturan dan tugas: hubungan menjadi kering, santri merasa hanya diawasi, takut terbuka, dan komunikasi kehilangan sentuhan hati. Padahal pendidik sering dituntut untuk mampu: dekat tanpa kehilangan wibawa, lembut tanpa kehilangan ketegasan, dan tegas tanpa mematikan kenyamanan hubungan. Ini bukan perkara mudah. Interaksi dengan Santri Menguras Energi Banyak orang tidak menyadari bahwa interaksi pendidikan bukan hanya menguras tenaga fisik, tetapi juga: energi emosional, energi mental, perhatian, dan kapasitas sosial. Ketika mendengar masalah santri, memahami konflik mereka, memikirkan cara menasihati, menjaga hubungan, lalu tetap harus mengarahkan dan menegur, semua itu membutuhkan keterlibatan batin yang besar. Apalagi jika jumlah santri banyak dan masing-masing memiliki: karakter berbeda, masalah berbeda, dan kebutuhan pendekatan yang berbeda pula. Kendala-Kendala yang Dihadapi Pendidik 1. Kelelahan Emosional Pendidik sering harus: mendengar masalah, memahami kondisi santri, menjaga hubungan, dan mengendalikan emosinya sendiri. Lama-kelamaan hal ini bisa menguras batin, terutama jika jarang memiliki waktu pemulihan. 2. Sulit Membagi Energi antara Hubungan dan Ketegasan Kadang pendidik ingin dekat dengan santri, tetapi khawatir kehilangan wibawa. Sebaliknya, ketika terlalu menjaga ketegasan, hubungan terasa menjadi dingin. Perpindahan antara dua pendekatan ini sering melelahkan secara psikologis. 3. Kurangnya Waktu untuk Diri Sendiri Interaksi dengan santri membutuhkan: waktu, perhatian, dan kesiapan mental. Akibatnya, sebagian pendidik sering kekurangan: waktu tenang, ruang pribadi, atau kesempatan memulihkan energi. Hal ini lebih terasa bagi pendidik yang memiliki pembawaan introvert, karena interaksi sosial yang intens dapat sangat menguras energi mereka. 4. Harus Membagi Waktu dengan Keluarga Setelah selesai membina santri, seorang pendidik masih memiliki tanggung jawab lain: kepada pasangan, anak, orang tua, dan keluarganya. Padahal secara mental dan emosional, dirinya mungkin sudah lelah. Kadang ia harus berpindah cepat: dari mendengar masalah santri,
Mengapa santri mencuri di pondok?
Syaikh Ahmad Khatib boleh dikatakan mahaguru nya ulama-ulama Nusantara. Selain kedua ulama Sumatera Thawalib diatas, Beliau juga merupakan guru dari KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari (pendiri Nahdhatul Ulama). Beliau juga secara nasab masih merupakan paman dari Haji Agus Salim, pahlawan nasional yang terkenal itu. Kembali ke pembahasan awal, mengenai apakah benar Imam Muhammad Nur Idris ini adalah guru Ustadz Abdul Hakim Abdat ? Wallahu a'lam. Sekali lagi, murid-murid Beliau yang bisa menjawabnya. ============================== Yang jelas, penulisan lebih serius mengenai riwayat/sejarah ustadz-ustadz Salafi seperti ini menjadi kebutuhan yang penting. Agar nasab keilmuan ini diketahui dengan jelas dan hubungan silaturahim tetap terjalin. Dan yang lebih penting, agar murid-murid mereka menjadi lebih paham kepada siapa mereka harusnya menaruh hormat. Sumber: Cinta Islam
Dari keterangan-keterangan di atas, terlihat bagaimana ustadz-ustadz Salafi di Indonesia, memiliki nasab keilmuan lokal yang tersambung dengan tokoh-tokoh dan ormas-ormas pembaharu di Indonesia, seperti Muhammadiyah dan Persis. Sejarah ini yang seharusnya tak boleh dilupakan, terutama sekali oleh mereka yang mengklaim sebagai murid-murid dari ustadz-ustadz sepuh tersebut. ============================== Catatan Tambahan : Sebagian kawan menanyakan, bagaimana dengan Ustadz Abdul Hakim Abdat. Kami pribadi belum memiliki informasi lebih jelas mengenai fase belajar Beliau. Sedikit yang bisa diketahui, bahwa pada masa kecilnya Beliau pernah berguru di sekolah/madrasah yang dipimpin oleh ulama kharismatik asal Betawi, K.H. Abdullah Syafi’I (1910 – 1985), meskipun masa belajar Beliau di sana tidak terlalu lama. Namun, beberapa tahun lalu kami pernah membaca sebuah tulisan (dan entah kenapa tulisan tersebut kemudian susah dilacak), bahwa Ustadz Abdul Hakim pernah berguru sangat lama kepada salah seorang Ulama Ahli Tafsir & Qira'at yang sangat disegani di Indonesia. Tulisan tersebut tidak menyebut secara jelas siapa nama ulama tersebut, hanya memberikam "clue" bahwa nama ulama tersebut mirip dengan nama asli Imam asy Syafi'i (Muhammad bin Idris). Kami sendiri mencoba mencari dan mengira-ngira siapakah nama ulama tersebut. Kami menduga ulama tersebut pastilah mempunyai karya tulis yang berkaitan dengan tafsir. Karena kecil kemungkinan ada seorang ulama ahli tafsir masyhur, namun tanpa karya tulis sama sekali. Kemudian, ulama tersebut juga setidaknya masih hidup sampai sekitar tahun 1970 – 1980-an dan berdomisili di Jakarta (domisili Ustadz Abdul Hakim Abdat). Dari aktivitas pengumpulan tafsir hasil karya ulama Nusantara yang kami lakukan beberapa tahun terakhir ini, kami mendapat nama ulama tafsir yang mirip dengan "clue" di atas. Nama ulama tersebut adalah : Imam Muhammad Nur Idris. Imam Muhammad Nur Idris ini adalah penulis tafsir berjudul : Al Qur'anul Hakim, yang diterbitkan pada tahun 1961 (foto terlampir). Beliau menulis tafsirnya ini bersama-sama dengan 2 ulama lainnya, yakni H.M. Kasim Bakry dan A. Dt. Madjoindo. Selain Tafsir Al Qur'anul Hakim, Beliau juga menulis buku bertajuk "Peladjaran Tafsir Qur'an" yang ditulis dalam 2 jilid. Dalam buku ini Beliau menulisnya bersama H.M. Kasim Bakry. Mengenai profil Imam Muhammad Nur Idris ini, disebutkan dalam pengantar tafsir yang ditulisnya, bahwa Beliau ini merupakan lulusan Sumatera Thawalib Padang Panjang, dan kemudian melanjutkan pendidikan di sekolah Normal Islam Padang. Beliau kemudian aktif berdakwah sejak tahun 1928. Terakhir Beliau menjabat sebagai Ahli Pendidikan Agama pada Djawatan Pendidikan Agama Pusat, di Jakarta. Mengenai tahun lahir dan wafat Beliau, kami belum mendapat info lebih lanjut. Lalu apakah benar Imam Muhammad Nur Idris inilah guru Ustadz Abdul Hakim Abdat ? Dengan mengingat : 1. Beliau ahli tafsir 2. Berdomisili di Jakarta 3. Kemungkinan masih hidup sampai tahun 1970 - 1980 an. Wallahu a'lam. Murid-murid Ustadz Abdul Hakim lah yang pantas menjawabnya. Namun jika itu benar, ada relasi unik disini. Dimana nasab keilmuan lokal Ustadz Abdul Hakim Abdat melalui gurunya ini, tersambung dengan perguruan Sumatera Thawalib. Perguruan Sumatera Thawalib ini adalah salah satu perguruan pengusung paham pembaharuan yang aktif dan terkenal di Sumatera. Sumatera Thawalib sendiri didirikan pada tahun 1919 oleh ulama-ulama Kaum Muda Minang, diantaranya Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul, ayah dari Buya HAMKA) dan Haji Abdullah Ahmad. Sedikit mengenai Haji Rasul sendiri pernah kami ulas di sini https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10207153918563542&id=1749713045 Terlihat bagaimana kepribadian Haji Rasul yang sangat teguh & ulet. Mengingatkan kita dengan karakter dan kepribadian Ustadz Abdul Hakim Abdat di masa kini. Sebagai tambahan informasi, Haji Rasul dan Haji Abdullah Ahmad ini sama-sama pernah belajar kepada ulama keturunan Minang yang bermukim di Makkah : Syaikh Ahmad Khathib al Minangkabawi.
Natsir, Ustadz Ahmas Faiz diterima belajar di Universitas Imam Muhammad bin Su’ud, menyusul kedua rekannya tadi di atas. Sepulangnya dari Saudi, ketiga tokoh Salafi diatas mengukir sejarahnya sendiri-sendiri. Ustadz Abu Nida sempat ditugaskan untuk mengajar di Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Solo, pimpinan Ustadz Abdullah Sungkar dan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir. Tak lama kemudian, Beliau memilih hijrah ke Yogyakarta dan mengembangkan sayap dakwah di sana, dengan mendirikan Yayasan Majelis At Turats Al Islami yang membawahi beberapa bidang kerja, seperti Pondok Pesantren Jamilurrahman dan Islamic Center Ibnu Baz di Bantul. Sedangkan Ustadz Aunur Rofiq, memilih berdakwah di kampung sendiri di Sidayu, Gresik. Disana Beliau mendirikan Pondok Pesantren Al Furqan Al Islami. Pengalaman unik dialami oleh Ustadz Ahmas Faiz. Sekembalinya dari Arab Saudi, Beliau mengajar selama tiga tahun di Ponpes MWI Kebarongan. Ustadz Ahmas Faiz kemudian mengusulkan untuk mengadopsi manhaj Salafi secara total dalam kehidupan sehari-hari para siswa MWI. Beliau juga menyarankan untuk memperkenalkan lebih banyak buku-buku Salafi, khususnya kitab Ushul al Tsalatsah dan Kasyfu Syubuhat. Namun usul Ustadz Ahmas Faiz ini tidak diterima oleh keluarganya yang lain, sehingga membuat Beliau pada tahun 1988 memutuskan untuk pindah ke cabang MWI lain di Karangduwur, Petanahan, Kebumen, dimana di sana Beliau menerima respons yang lebih positif darit tokoh MWI disana. Di sana Beliau mengadakan kelas khusus, yang kemudian disebut “khittah”, dimana para siswa disini hanya diajarkan pengetahuan agama Islam. Namun demikian, pandangan Beliau yang tanpa kompromi terhadap praktik-praktik adat lokal yang masih diterapkan oleh masyarakat sekitar, mengakibatkan penduduk desa menentang Beliau dan pada tahun 1992, kelas khusus “khittah” resmi dibubarkan. Peristiwa ini membuat Ustadz Ahmas Faiz memutuskan untuk pindah ke Solo. Dengan dukungan keuangan dari Ihya al-Turats, Ustadz Ahmas Faiz berhasil mendirikan pesantren Salafi modern, yakni Pondok Pesantren Imam Bukhari. Pada perkembangannya, pondok-pondok yang didirikan oleh 3 Ustadz Salafi senior ini menjadi basis pengkaderan da'i-da'i Salafi di era selanjutnya. ============================== Sebagai tambahan informasi, nasab keilmuan lokal juga dimiliki oleh da'i-da’I Salafi lain yang secara angkatan sedikit dibawah ketiga da'i di atas. Tiga nama yang bisa disebut disini adalah : Ustadz Yazid Jawas (lahir 1962), Ustadz Ja'far Umar Thalib (1961 – 2019), dan Ustadz Yusuf Utsman Baisa. Dengan mengesampingkan dinamika hubungan mereka bertiga yang terjadi di era-era belakangan, ketiganya tercatat pernah berguru dan menimba ilmu kepada Ustadz Abdul Qadir Hassan (1914 – 1984) di Pesantren Persatuan Islam (Persis) Bangil Ustadz Abdul Qadir Hassan merupakan putra (sekaligus murid) dari Ustadz A. Hassan (1887 – 1958), yang merupakan ulama Persis yang sangat masyhur itu. Buya M. Natsir juga merupakan salah satu murid Ustadz A. Hassan. Ustadz A. Hassan sendiri terkenal sebagai ulama yang sangat teguh dan gemar berpolemik dengan ulama-ulama yang tidak sepaham dengannya (sekilas mengenai polemik-polemik Beliau bisa dilihat disini https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10204491458883714&id=1749713045 ). Keteguhan karakter Beliau ini tentu mengingatkan kita dengan keteguhan karakter yang dimilik Ustadz Ja'far Umar Thalib semasa hidupnya, yang tak sungkan mengkritik kawannya yang tak sepaham dengannya. Sepeninggal Ustadz Abdul Qadir Hassan, ketiga ustadz tersebut sempat melanjutkan menimba ilmu di LIPIA Jakarta, sebelum kemudian memulai petualangan mereka belajar di luar negeri. Ustadz Yazid & Ustadz Yusuf memilih belajar ke Saudi, sedangkan Ustadz Ja'far malang melintang belajar ke Afghanistan, Pakistan, Yaman, dan Saudi. Sepulangnya dari luar negeri, ketiga ustadz tersebut sama-sama diamanahi tugas mengajar di Pondok Pesantren Al Irsyad di Salatiga, sebelum kemudian "sejarah terjadi" sebagaimana yang sama-sama telah diketahui, yang membuat hubungan ketiganya tak lagi sama seperti sebelumnya.
Nasab Keilmuan Lokal Ustadz-Ustadz Sepuh Salafi di Indonesia ============================== Dalam disertasinya, Noorhaidi Hasan menyebut ada 3 da'i Salafi paling menonjol yang mempengaruhi perkembangan awal dakwah salafi di Indonesia pada sekitar awal dekade tahun 1980. Ketiganya adalah Ustadz Abu Nida Chomsaha Sofwan (lahir di Lamongan, tahun 1954), Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron (lahir di Gresik, tahun 1956), dan Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin. Ketiganya sama-sama merupakan kader Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang kemudian atas rekomendasi dari Buya M. Natsir (1908 – 1993), mereka bertiga berkesempatan mendapatkan beasiswa untuk belajar ke Saudi, tepatnya di Universitas Imam Muhammad bin Su'ud. Sebelum belajar ke Saudi, sebenarnya ketiganya sudah mempunyai nasab keilmuan lokal, yang berhubungan erat dengan organisasi-organisasi lokal pengusung dakwah "kembali kepada Al Qur'an dan Sunnah", seperti Ormas Muhammadiyah. Ustadz Abu Nida merupakan lulusan Pendidikan Guru Agama (PGA) Muhammadiyah di Karangasem, Paciran, Lamongan. Kabarnya Beliau juga menimba ilmu langsung dari KH. Abdurrahman Syamsuri (1925 - 1997) pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah di Karangasem, Paciran, Lamongan. Sedangkan Ustadz Aunur Rofiq, Beliau pernah menimba ilmu di PGA Muhammadiyah di Sidayu, Gresik. Kemudian Beliau melanjutkan menimba ilmu di PGA Muhammadiyah di Karangasem, Paciran, Lamongan. Di Lamongan ini, Beliau (sama seperti Ustadz Abu Nida) berguru kepada KH. Abdurrahman Syamsuri. Jadi boleh dikatakan Ustadz Abu Nida dan Ustadz Aunur Rofiq adalah saudara seperguruan, sama-sama murid KH. Abdurrahman Syamsuri. Uniknya, meski merupakan tokoh Muhammadiyah, KH. Abdurrahman Syamsuri sendiri dalam fase menuntut ilmunya, pernah nyantri selama kurang lebih 1 tahun kepada Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari di Tebu Ireng, Jombang. Sedangkan Ustadz Ahmas Faiz, Beliau sendiri dilahirkan di tengah-tengah keluarga santri. Ayah Beliau, KH. Asifuddin Zawawi (wafat tahun 1981), merupakan pimpinan Pondok Pesantren dan Madrasah Wathoniyah Islamiyah (MWI), Kebarongan, Banyumas. Sedangkan kakek buyut Beliau, KH. Muhammad Habib (wafat 1888), merupakan ulama berpengaruh di daerah Banyumas, yang melakukan "babad alas" membuka Desa Kebarongan. KH. Muhammad Habis sendiri pernah nyantri dan bermukim di Makkah selama 20 tahun. Pondok MWI sendiri pada awalnya beraliran tradisional sama seperti pondok-pondok di Indonesia pada umumnya. K.H. Muhammad Habib sendiri tercatat sebagai ulama pengamal tarekat Naqsyabandiyah. Namun saat kepemimpinan pondok dipegang oleh K.H. Abdullah Zawawi Habib, putra bungsu dari K.H. Muhammad Habib, yang memimpin pesantren dari tahun 1911 hingga 1938, terjadi pergeseran pemikiran dari paham tradisional ke paham reformis, K.H. Zawawi Habib sendiri pernah menuntut ilmu ke Makkah. Sekembalinya ke Kebarongan, Beliau mulai mendakwahkan pemurnian ajaran Islam sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Beliau mengkritik praktik tawassul yang saat itu marak di masyarakat. Beliau jugalah yang mulai mengganti 2 Adzan Sholat Jumat menjadi 1 Adzan saja dan mengganti jumlah rokaat Sholat Tarawih dari 20 rakaat menjadi 8 rakaat. Meskipun demikian, Beliau belum mengajarkan karya karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, walau Beliau sendiri sering merujuk kepada pemikirannya dalam ajarannya tentang tauhid. Barulah di era KH. Asifuddin Zawawi (periode tahun 1950 - 1980) dimasukkan kitab Fathul Majid syarah Kitabut Tauhid karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan (cucu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) sebagai salah satu kitab pegangan di kurikulum Pondok. Sedikit cuplikan mengenai cikal bakal kisah pengajaran kitab Fathul Majid ini bisa dilihat disini https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10203429724421016&id=1749713045 Sebagai salah satu kader penerus MWI, Ustadz Ahmas Faiz tentu saja sangat diharapkan oleh ayahnya untuk meneruskan estafet dakwah MWI ke depannya. Hubungan erat antara MWI dengan DDII pimpinan Buya M. Natsir, akhirnya membuka kesempatan Ustadz Ahmas Faiz untuk melanjutkan belajar di Saudi. Berbekal rekomendasi dari Buya M.
Saat- saat koalisi Amerika menghancurkan Iraq yang dikuasai oleh Sadam Husein (sunni) 20 Maret 2023 M. Menelan korban sekitar 200.000 - 300.000 jiwa warga sipil menurut Ai. Sedemikian mengerikan dampak perang
Bahwa sejak tgl 2 Januari 2026 KUHP terbaru (UU No 1 Tahun 2023) sudah di berlakukan dan hukum mengontrol kehidupan masyarakat yg lebih spesifik seperti : 1. Hidup bersama tanpa pernikahan (kumpul kebo) atau istilah hukumnya Kohabitasi dapat di pidana (Pasal 412 ayat (1), 2. Mabuk di muka umum di denda 10 juta (Pasal 316 ayat (1), 3. Memutar musik tengah malam di denda 10 juta (Pasal 265), 4. *Mengatakan org dgn kata Anjing, Babi dapat di pidana dan denda (Pasal 436 KUHP),* 5. Hewan peliharaan yg masuk pekarangan org dan merusak tanaman org (Pasal 278) & pasal 336 apabila melukai orang, pemilik hewan dapat di denda atau di pidana. 6. Memasuki, menggunakan, atau menguasai lahan milik orang lain tanpa hak atau izin pemiliknya yang sah (Pasal 607) dapat di Pidana dan di denda. Untuk itu, mari kita semua mulai dari keluarga dengan saling mengingatkan, membimbing, dan menjaga anggota keluarga agar senantiasa *Berhati-hati* dalam bersikap, bertutur kata, dan berperilaku, sehingga terhindar dari pelanggaran hukum serta tetap berada dalam koridor nilai Agama dan ketertiban bermasyarakat. Mohon informasi ini dapat di sampaikan ke semua keluarga maupun kerabat baik di lingkup Umat, Jemaat, RT/RW serta tempat kerja untuk di ketahui bersama._*
يا معشَر المسلِمينَ مَن لي مِن رجالٍ يُؤذونَني في أهلي، وما علِمتُ على أهلي سوءًا أخرجه البخاري (٤١٤١)، ومسلم (٢٧٧٠) "Ada apa dengan sekelompok laki-laki yang menyakitiku mengenai keluargaku, dan mengatakan terhadap mereka sesuatu yang tidak benar? Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang keluargaku kecuali kebaikan" 7. Posisikan lah dirimu menjadi orang yang dinasehati . Dahulu dalam perjalanan pulang perang Khaibar dengan kondisi yang sangat letih nabi ﷺ bersabda kepada Bilal : اكلَأْ لنا اللَّيلَ "Awasi kami malam ini" Kemudian Bilal berusaha untuk menjalankan perintah Nabi beliau sholat malam semampunya hingga larut malam, saat menjelang subuh tiba ia bersandar di untanya sebentar, dan mengarahkan pandangan ke ufuk kemudian tiba-tiba beliau tertidur. Ketika matahari telah terik barulah Nabi dan para sahabatnya bangun. Nabi tidak langsung memarahi Bilal karena Nabi memahami bagaimana posisi beliau jika menjadi Bilal saat itu. Beliau hanya mengatakan: أي بلال "Wahai Bilal" Bilal pun mengatakan: أخذ بنَفْسِي الذي أخَذَ -بأبي أنتَ وأمِّي يا رَسولَ اللهِ- بنَفْسِك “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Rasulullah, Dzat yang menidurkanmu Dia lah juga yang telah menidurkanku.” Kemudian merekapun mendirikan sholat subuh. Setelah sholat subuh usai Nabi ﷺ bersabda «من نَسِيَ الصَّلاةَ فلْيُصَلِّها إذا ذكَرَها» [أعذار التخلف عن الجمعة و الجماعة ص: ١٥٢-١٥٣] “Barang siapa lupa salat, maka hendaklah ia melaksanakannya ketika ia mengingatnya.” Jama'ah kaum muslimin رحمنى و رحمكم Segala puji bagi Allah yang menjadikan nasihat sebagai tanda keimanan dan sebab keselamatan. Semoga kita menjadi hamba yang saling menasihati dengan cara yang benar dan kita berharap nasehat kita menjadi amal yang tulus hanya karena Allah ﷻ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، اللَّهُمَّ وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى،وَخُذْ بِنَاصِيتهِمْ لِلْبِرِّ وَالتَّقْوَى. اللَّهُمَّ اصْرِفْ عَنَّا الزَّلَازِلَ وَالْفِتَنَ،وَاكْشِفْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْمِحَنَ اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إندونيسيا واجْعَلْهَا بِلَادًا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، وَاحْفَظْ أَهْلَهَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةًۭ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةًۭ وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةًۭ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
فقلْتُ له: بأبي وأمِّي يا رَسولَ اللهِ، وأنا واللهِ أُحبُّكَ، Maka aku menjawab, ‘Demi ayah dan ibuku (sebagai tebusanmu), wahai Rasulullah, aku pun demi Allah sungguh mencintaimu.’ فقالَ: «أُوصيكَ يا مُعاذُ، لا تَدعَنَّ في دُبرِ كلِّ صَلاةٍ أنْ تَقولَ: اللَّهمَّ أعِنِّي على ذِكرِكَ، وشُكرِكَ، وحُسنِ عِبادتِكَ».الحاكم، المستدرك على الصحيحين (٥٢٨٢) • Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Wahai Mu‘adz, aku wasiatkan kepadamu: janganlah engkau tinggalkan untuk mengucapkan di setiap akhir salat (setelah salam atau sebelum salam): اللَّهمَّ أعِنِّي على ذِكرِكَ، وشُكرِكَ، وحُسنِ عِبادتِكَ "Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan sebaik-baiknya kepada-Mu.’” Pada kesempatan yang lain Nabi ﷺ pernah juga menasehati Umar radiyallahu 'anhu untuk bersikap lembut saat menyentuh hajar aswad. Awal kali yang Nabi lakukan adalah Nabi mempersiapkan supaya diri Umar bisa menerima nasehat Nabi ﷺ: يا عمرُ إنَّكَ رجلٌ قويُّ “Wahai ‘Umar, sesungguhnya engkau adalah seorang laki-laki yang kuat. لا تُؤذي الضَّعيفَ إذا أردتَ استِلامَ الحجرِ فإن خلا لَكَ فاستَلِمهُ وإلّا فَاسْتَقْبِلْهُ وَكَبِّرْ • أخرجه أحمد (١٩٠) Maka janganlah engkau menyakiti orang yang lemah (ketika hendak mencium Hajar Aswad). Jika engkau mendapati tempat itu kosong, maka ciumlah Hajar Aswad. Tetapi jika penuh sesak, maka cukup hadapilah ke arahnya dan bertakbirlah.” 5. Jangan terlalu merinci sesuatu hingga setiap persoalan harus dikritik. Lihatlah apa yang dilakukan oleh Nabi ﷺ Aisyah bercerita: Suatu saat Nabi ﷺ masuk rumah dan bertanya: هَل عندَكُم مِن ذلِكِ الطَّعامِ؟ "Apakah kalian punya makanan?" فقُلتُ: لا، Aku menjawab: "Tidak." فقالَ: إنِّي صائمٌ Lalu beliau berkata: "Ya sudah aku berpuasa saja hari ini." Disini Nabi terlihat tidak memperinci masalah Nabi tidak membentak Aisyah kenapa tidak masak Nabi tidak memarahi istrinya kenapa tidak ngomong kalo tidak ada makanan dari tadi dan seterusnya dan seterusnya sama sekali Nabi tidak memperinci masalah apalagi hanya maslah sepele Kemudian kejadian ditempat yang lain pada saat pembagian harta rampasan perang Hunain, seorang Arab Badui minta bagian harta kepada Nabi ﷺ menarik rida' Nabi ﷺ sampai memebekas luka di leher nabi Arab Badui tersebut sambil berkata dengan kasar: يا مُحَمَّدُ! مُرْ لِي مِنْ مالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ. “Wahai Muhammad! Perintahkan agar aku diberi (bagian) dari harta Allah yang ada padamu.” فالْتَفَتَ إلَيْهِ رَسولُ اللَّهِ صلّى اللهُ عليه وسلَّم ثُمَّ ضَحِكَ، ثُمَّ أمَرَ له بعَطاءٍ. البخاري، صحيح البخاري (٥٨٠٩) • [صحيح] • أخرجه البخاري (٥٨٠٩)، ومسلم (١٠٥٧) Maka Rasulullah ﷺ menoleh kepadanya, kemudian beliau tertawa, lalu memerintahkan agar orang itu diberi sesuatu.” Lihatlah dalam hadits diatas Nabi tidak terlalu mendetailkan masalah terlebih perkaranya hanya perkara dunia yang remeh. Nabi tidak pernah membela dirinya yang Nabi bela hanya Agama Allah Nabi tidak berkata "kenapa kau tarik bajuku". Nabi tidak berkata "hey Arab Badui bukannya kau tau aku sebagai Nabi " dll. Karena Nabi faham tidak semua masalah harus disikapi dan ditanggapi. 6. Jika engkau mampu menasihati saudaramu dengan sindiran tanpa menyebutkan orangnya secara langsung, maka lakukanlah. Nabi pernah bersabda mengingatkan sahabatnya yang mengangkat pandangannya ke langit saat sholat. Padahal Nabi tau siapa orang tersebut namun nabi hanya mengatakan: لينتَهينَّ أقوامٌ يرفعونَ أبصارَهم إلى السَّماءِ أو لا تَرْجِعُ أبصارُهُم "Hendaklah berhenti beberapa suatu kaum yang mengangkat pandangan mereka ke langit (ketika shalat), atau pandangan mereka tidak akan kembali kepada mereka." Nabi ﷺ juga pernah bersabda menasehati orang-orang yang menuduh Aisyah berzina dengan kalimat sindiran. Padahal Nabi ﷺ tau siapa mereka, mereka adalah Abdullah bin ubay bin salul dan semisalnya namun nabi menegur dengan sindiran: