tgindex
Последний пост
5 авг.
Последнее чтение
14 авг.
Постов за неделю
0
Всего постов
26
Тип
открытый
Язык
und
В каталоге с
14 авг.
Подписчики
1 883
+1 за 4 дн.
Сутки
+2
+0,11%
Неделя
 
Месяц
 
Просмотров на пост
450
26 постов
Вовлечённость
23,9%
к подписчикам
Постов в день
0,0
всего 26
Упоминаний
0
каналов
Охват размещения
оценка
1/24сутки в ленте
309
1/48двое суток
354
1/72трое суток
381

Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.

Посты

  • PUNCAK KEBAHAGIAAN BUKAN KELUARGA DAN HARTA By. Satria Hadi Lubis BANYAK orang mengira bahwa puncak kebahagiaan adalah memiliki keluarga yang harmonis, anak-anak yang membanggakan, dan harta yang melimpah. Karena itu, sebagian besar energi hidup dihabiskan untuk mengejar semua itu. Tidak ada yang salah dengan keluarga. Tidak ada yang salah dengan harta. Bahkan keduanya termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada manusia. Namun masalah muncul ketika kita menganggap bahwa keluarga dan harta adalah tujuan akhir kehidupan. Islam mengajarkan bahwa keluarga dan harta bukanlah tujuan, melainkan sarana. Bukan puncak kebahagiaan, melainkan ujian yang Allah titipkan kepada kita. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (ujian) bagimu, dan di sisi Allah-lah pahala yang besar." (QS. At-Taghabun: 15) Ayat ini sangat menarik. Allah tidak mengatakan bahwa harta dan anak adalah puncak kebahagiaan. Allah justru menyebutnya sebagai fitnah, yaitu ujian. Mengapa? Karena melalui harta, Allah menguji apakah kita bersyukur atau kufur. Melalui kekayaan, Allah menguji apakah kita dermawan atau kikir. Melalui jabatan, Allah menguji apakah kita amanah atau khianat. Melalui anak-anak, Allah menguji apakah kita mampu mendidik mereka menuju surga atau justru membiarkan mereka menjauh dari agama. Banyak orang bahagia ketika memiliki harta, tetapi lupa bahwa setiap rupiah akan dimintai pertanggungjawaban. Banyak orang bangga memiliki anak yang sukses di dunia, tetapi lupa bertanya apakah anak tersebut juga sukses dalam ketaatan kepada Allah. Karena itu, ukuran kebahagiaan seorang muslim berbeda dengan ukuran kebahagiaan kebanyakan manusia. Bagi seorang muslim, kebahagiaan tertinggi bukanlah banyaknya harta yang dimiliki. Bukan pula banyaknya anak yang dimiliki. Bukan pula megahnya rumah atau tingginya jabatan. PUNCAK KEBAHAGIAAN ADALAH KETIKA ALLAH RIDHO KEPADA KITA. Apa artinya memiliki keluarga yang lengkap jika akhirnya keluarga itu tidak membawa kita semakin dekat kepada Allah? Apa artinya memiliki harta berlimpah jika harta itu justru menyeret kita kepada kesombongan dan kelalaian? Apa artinya kekurangan harta dan kemiskinan jika itu membuat kita berputus asa dan hilang harapan terhadap pertolongan Allah? Apa artinya memiliki anak-anak yang sukses jika mereka tumbuh jauh dari petunjuk Allah? Semua itu hanyalah kesenangan sementara. Allah Ta'ala berfirman: "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia..." (QS. Al-Kahfi: 46) Perhatikan, Allah menyebutnya perhiasan, bukan tujuan hidup. Perhiasan memang indah. Tetapi nilai manusia tidak ditentukan oleh perhiasannya. Demikian pula harta dan anak. Keduanya adalah nikmat yang patut disyukuri, tetapi tidak boleh menjadi pusat kehidupan. Seorang mukmin mencintai keluarganya, tetapi cintanya kepada Allah lebih besar. Ia bekerja mencari harta, tetapi tidak menjadikan harta sebagai sesembahan. Ia mendidik anak-anaknya, tetapi tidak menggantungkan seluruh kebahagiaannya kepada mereka. Karena ia sadar bahwa semua yang ada di dunia ini bersifat sementara. Hari ini ada, besok bisa tiada. Hari ini bersama kita, besok bisa dipanggil oleh Allah. Maka puncak kebahagiaan bukanlah memiliki harta dan keluarga semata. Puncak kebahagiaan adalah ketika harta dan keluarga menjadi jalan untuk mendapatkan ridha Allah dan mengantarkan kita menuju surga-Nya. Sebab pada akhirnya, yang paling membahagiakan bukanlah apa yang kita miliki di dunia. Yang paling membahagiakan adalah ketika Allah menerima kita sebagai hamba-Nya yang dicintai dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya. https://t.me/oaseiman

  • "Dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti menang." (QS. As-Saffat: 173) Jika lima prinsip ini sungguh-sungguh dilakukan, maka hidup kita tidak akan mudah digoyahkan oleh berbagai godaan dunia. Sebab orientasi kita bukan sekadar sukses di dunia, melainkan keselamatan dan kemuliaan di hadapan Allah pada hari ketika seluruh manusia mempertanggungjawabkan amalnya. "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra: 36) Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas kebenaran hingga akhir hayat. Aamiiin yaa robbal 'aalamiin... https://t.me/oaseiman

  • LIMA PRINSIP HIDUP YANG TAK BISA DITAWAR ✍️ By. Satria hadi lubis DI TENGAH dunia yang terus berubah, banyak orang yang kehilangan arah. Standar benar dan salah berganti mengikuti tren. Hari ini dianggap baik, besok bisa dianggap buruk. Yang dulu dipandang sebagai kemuliaan, kini sering dianggap sebagai beban. Seorang muslim tidak boleh hidup tanpa kompas. Ia harus memiliki prinsip yang kokoh, yang tidak berubah oleh waktu, tekanan, maupun keadaan. Ada lima prinsip hidup yang menjadi fondasi seorang muslim dalam menjalani kehidupan: 1.⁠ ⁠Allahu Ghayatuna (الله غايتنا) Allah adalah tujuan kami. Inilah prinsip pertama dan paling mendasar. Seorang muslim tidak hidup untuk mengejar pujian manusia, jabatan, kekayaan, atau popularitas. Semua itu hanyalah sarana, bukan tujuan. Tujuan akhirnya hanya satu: meraih ridha Allah Ta'ala. "Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya." (QS. Al-Bayyinah: 5) Ketika Allah menjadi tujuan, maka bekerja menjadi ibadah, belajar menjadi ibadah, berkeluarga menjadi ibadah, bahkan seluruh aktivitas hidupnya bernilai pahala di sisi-Nya. 2.⁠ ⁠Ar-Rasul Qudwatuna (الرسول قدوتنا) Rasul adalah teladan kami. Tidak cukup mencintai Nabi Muhammad saw. Kita juga harus meneladani beliau. Cara beliau beribadah, berdakwah, memimpin keluarga, bermuamalah, memaafkan, hingga menghadapi musuh adalah contoh terbaik sepanjang zaman. "Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi kalian..." (QS. Al-Ahzab: 21) Setiap kali bingung menentukan sikap, tanyakan kepada diri sendiri: "Bagaimana Rasulullah saw akan bersikap jika menghadapi dalam situasi ini?" 3.⁠ ⁠Al-Qur'an Dusturuna (القرآن دستورنا) Al-Qur'an adalah pedoman hidup kami. Al-Qur'an bukan sekadar kitab yang dibaca ketika Ramadhan atau saat ada kematian. Al-Qur'an adalah petunjuk hidup. Untuk orang yang hidup. Dari Al-Qur'an kita belajar tentang akidah, ibadah, akhlak, keluarga, ekonomi, kepemimpinan, hingga kehidupan bermasyarakat. "Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus." (QS. Al-Isra': 9) Ketika Al-Qur'an menjadi rujukan, kita tidak lagi mengikuti hawa nafsu atau sekadar pendapat manusia. 4.⁠ ⁠Al-Jihad Sabiluna (الجهاد سبيلنا) Jihad adalah jalan kami. Jihad berarti bersungguh-sungguh di jalan Allah. Jihad bukan hanya di medan peperangan, tetapi juga melawan hawa nafsu, menuntut ilmu, berdakwah, mendidik keluarga, bekerja dengan jujur, membela kebenaran, membantu kaum lemah, dan memperjuangkan kemaslahatan umat. "Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-'Ankabut: 69) Seorang muslim tidak boleh hidup bermalas-malasan. Ia harus menjadi pribadi yang terus berjuang memperbaiki diri dan memberi manfaat bagi orang lain. 5.⁠ ⁠Al-Mautu Fi Sabilillah Asma Amanina (الموت في سبيل الله أسمى أمانينا) Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami yang tertinggi. Setiap manusia pasti akan mati. Yang membedakan hanyalah bagaimana ia menutup kehidupannya. Seorang muslim berharap dipanggil Allah dalam keadaan beriman, istiqamah, dan sedang memperjuangkan agama-Nya. "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Muslim." (QS. Ali 'Imran: 102) Harapan terbesar seorang mukmin bukan sekadar panjang umur, tetapi husnul khatimah, akhir kehidupan yang diridhai Allah SWT. Lima prinsip ini bukan sekadar slogan, melainkan arah hidup seorang muslim yang tak bisa ditawar. •⁠ ⁠Allah tujuan kami. •⁠ ⁠Rasulullah teladan kami. •⁠ ⁠Al-Qur'an pedoman hidup kami. •⁠ ⁠Jihad jalan perjuangan kami. •⁠ ⁠Mati di jalan Allah menjadi cita-cita tertinggi kami. Jika lima prinsip ini benar-benar tertanam dalam hati, kita menjadi bala tentaranya Allah (jundullah), dan hanya tentara Allah yang akan memperoleh kemenangan. Di dunia kita hidupnya mulia atau mati dalam keadaan syahid (bersaksi atas kebenaran ajaran Allah Ta'ala). Isy kariman awmut syahidan.

  • KEIKHLASAN PASTI DIUJI @ Aunurrofiq Saleh Tamhid Sering kali seseorang mengira dirinya telah ikhlas karena ia telah berniat baik. Padahal, keikhlasan baru benar-benar teruji ketika kebaikan itu berbenturan dengan keinginan diri, ketika kamu tidak mendapatkan ucapan terima kasih, dan ketika keberhasilan dinisbatkan kepada orang lain. Pada saat itulah akan tampak hakikatnya: Apakah kamu benar-benar beramal karena Allah, atau sebenarnya karena dirimu sendiri yang senang dipuji melalui amal ketaatan? Ibnu Qayim al-Jauziyah berkata: “Ikhlas adalah memurnikan amal dari segala noda, sehingga tidak ada yang dicintai karenanya selain Allah, dan tidak ada tujuan selain-Nya.” Contoh yang menjelaskan makna ini dengan sangat jelas, sekaligus menyingkap tipuan niat dan hakikat keikhlasan Seorang guru di sebuah masjid mengajarkan Surah Al-Fatihah kepada sekelompok murid. Ia mengajar dengan penuh cinta. Ia merasa dirinya ikhlas, dan di dalam hati selalu berkata, “Aku tidak menginginkan apa pun selain ridha Allah.” Beberapa waktu kemudian, orang-orang mulai memuji salah seorang muridnya. Mereka berkata, “Masya Allah… suara si fulan begitu indah. Bahkan bacaannya lebih baik daripada gurunya!” Lalu murid itu mulai diundang menjadi imam shalat dan membaca Al-Qur’an di berbagai majelis. Di sinilah datang saat ujian. * Sang guru tidak lagi menerima pujian. * Keberhasilan dinisbatkan kepada muridnya. * Jerih payah dan perjuangannya seakan terlewati tanpa disebut. Apa yang terjadi pada hatinya? Jika dadanya terasa sesak, rasa iri mulai bergerak di dalam dirinya, dan ia merasa kecewa karena namanya tidak disebut… Maka saat itulah tersingkap bahwa niatnya masih membawa bagian untuk dirinya sendiri, walaupun hanya sehelai benang yang sangat tipis hingga selama ini tidak ia sadari. Namun jika ia justru bergembira dari lubuk hatinya seraya berkata, “Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepadanya. Tinggikanlah derajatnya dengan Al-Qur’an. Aku tidak menginginkan selain tersebarnya kebaikan, baik melalui tanganku maupun melalui tangan orang lain.” Maka itulah keikhlasan yang tidak dapat dikelabui. Keikhlasan yang tetap teguh ketika engkau kehilangan publikasi dan sorotan cahaya. Keikhlasan yang tetap hidup ketika orang lain memperoleh penghargaan atas sesuatu yang dahulu engkau tanam. Di sinilah tampak nyata perkataan Ibnu Qayyim: “Memurnikan amal dari segala noda, sehingga tidak ada yang dicintai karenanya selain Allah, dan tidak ada tujuan selain-Nya.” Artinya, seseorang bisa saja mengira niatnya telah tulus… Sampai Allah mengujinya pada keadaan-keadaan yang tidak mampu dilewati, kecuali oleh hati yang lebih mencintai Allah daripada mencintai citra dirinya di hadapan manusia. (ars) Repost https://t.me/oaseiman

  • без подписи

  • без подписи

  • без подписи

  • без подписи

  • без подписи

  • 11 июл.495из video_kehidupan

    Obat dari penyakit lisan adalah BANYAK DZIKIR https://t.me/video_kehidupan

  • 11 июл.505из video_kehidupan

    без подписи

  • Aib saudaramu bukan untuk disebarkan, tetapi untuk ditutupi dan didoakan Lisan yang terbiasa mengingat Allah tidak akan mudah sibuk menggunjing manusia. Setiap ucapan yang keluar akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Allah Ta'ala berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, serta janganlah menggunjing satu sama lain..." (QS. Al-Hujurat: 12) Rasulullah bersabda: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Al-Bukhari no. 6018 dan Muslim no.47) Semoga Allah menjaga lisan kita dari ghibah, fitnah, namimah, dan ucapan yang tidak bermanfaat. Aamiin. https://t.me/oaseiman

  • без подписи

  • *JIKA ANAK TIDAK SUKA MEMBACA, COBA LIHAT RAK BUKU AYAH* Suatu malam... Seorang ayah berkata kepada anaknya, _"Nak, jangan terlalu sering bermain HP. Bacalah buku."_ Anak itu mengangguk. Namun matanya melihat sesuatu, sudah berbulan-bulan ia tidak pernah melihat ayahnya membuka buku. Tidak pernah melihat ayahnya membaca Al-Qur'an setelah Maghrib. Tidak pernah melihat ayahnya mencatat ilmu. Yang setiap hari ia lihat justru layar ponsel yang tak pernah lepas dari genggaman ayah. Anak itu pun belajar. Bukan dari nasihat, tetapi dari kebiasaan. Budaya membaca tidak lahir dari perintah. Ia lahir dari teladan. Seorang anak yang tumbuh di rumah yang akrab dengan buku akan menganggap membaca sebagai sesuatu yang wajar. Sebaliknya, anak yang tidak pernah melihat kedua orang tuanya membaca akan menganggap buku hanyalah benda yang diperlukan saat ujian. Allah memulai wahyu pertama dengan satu kata yang sangat agung, _"Iqra'..." (Bacalah!)_ (QS. Al-'Alaq: 1) Bukan "berbicaralah". Bukan "perintahlah". Tetapi bacalah. Karena peradaban besar selalu lahir dari keluarga yang mencintai ilmu. *Apa Kata Penelitian?* Penelitian dari OECD menunjukkan bahwa anak yang tumbuh di rumah dengan budaya membaca cenderung memiliki kemampuan bahasa, daya pikir, dan prestasi akademik yang lebih baik. Neurosains juga menjelaskan bahwa membaca secara rutin memperkuat jaringan saraf yang berkaitan dengan konsentrasi, empati, dan kemampuan berpikir kritis. Yang menarik... Anak lebih mudah meniru kebiasaan membaca daripada dipaksa membaca. Rasulullah ﷺ dan Semangat Belajar Rasulullah ﷺ bersabda: _"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga."_ (HR. Muslim) Maka setiap kali ayah membuka mushaf, Membaca buku dan menghadiri majelis ilmu. Sesungguhnya ayah sedang menunjukkan kepada anak bahwa belajar adalah jalan menuju kemuliaan. *Renungan Ayah Pejuang* Jika anak diminta menggambarkan kebiasaan ayah di rumah... Mana yang lebih dulu mereka ingat? 📱 Ayah memegang ponsel? Atau... 📖 Ayah membaca Al-Qur'an dan buku? Karena apa yang paling sering mereka lihat, itulah yang perlahan menjadi budaya dalam hidup mereka. *Tantangan Hari Ini* Mulailah Program 20 Menit Literasi Keluarga. Setelah Maghrib atau sebelum tidur: 📖 10 menit ayah membaca Al-Qur'an. 📚 10 menit membaca buku bersama anak. Tidak perlu ceramah, cukup duduk bersama. Karena pemandangan seorang ayah yang sedang membaca akan lebih membekas daripada seratus kali perintah untuk membaca. *Pesan Para Ulama* Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata: _"Barang siapa menginginkan dunia, hendaklah dengan ilmu. Barang siapa menginginkan akhirat, hendaklah dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan keduanya, hendaklah dengan ilmu."_ Maka jadikan rumah kita bukan hanya tempat beristirahat. Tetapi juga tempat bertumbuhnya ilmu. *Pesan Hari Ini* Anak tidak akan mencintai buku karena disuruh. Mereka akan mencintai buku ketika melihat orang yang paling mereka cintai juga mencintai buku. Karena setiap kali ayah membuka mushaf atau membaca buku, sesungguhnya ia sedang membuka jendela masa depan anak-anaknya.

  • Hari ini kita mengeluh karena rumah belum besar. Padahal… Allah sudah memberi tempat berteduh. Kita mengeluh karena kendaraan sederhana. Padahal… Masih bisa pulang menemui keluarga. Kita mengeluh karena usaha belum berkembang. Padahal… Masih diberi kesehatan untuk berusaha lagi esok hari. Kita sibuk menghitung… Apa yang belum kita miliki. Sampai lupa menghitung… Apa yang Allah pertahankan setiap detik. Penutup Surah Ar-Rahman bukan sekadar surah tentang nikmat. Ia adalah surah yang mengadili kelalaian manusia. Setiap kali ayat itu kembali… Seakan-akan Allah bertanya langsung kepada kita, “Setelah semua yang Aku berikan… masih adakah alasan bagimu untuk mengingkari-Ku?” Mungkin selama ini kita mengira ayat itu sedang diulang. Padahal… Yang sebenarnya diulang adalah kesempatan Allah agar hati kita kembali sadar. Karena Allah tahu… Hati manusia tidak selalu luluh hanya dengan satu nasihat. Kadang… Ia perlu diketuk lagi. Dan lagi. Sampai akhirnya air mata itu jatuh. Sampai akhirnya lidah ini mampu berkata dengan penuh kejujuran, “Ya Allah… tidak ada satu pun nikmat-Mu yang pantas aku dustakan.” #KeajaibanAlQuran #AlQuran #MukjizatAlQuran https://t.me/oaseiman

  • Mengapa Allah Mengulang Ayat “Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?” Sebanyak 31 Kali dalam Surah Ar-Rahman? Apakah Allah Sedang Mengulang, atau Justru Sedang Mengetuk Hati yang Lalai? Pernahkah Anda membaca Surah Ar-Rahman… Lalu merasa seperti ada satu kalimat yang terus kembali? فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu berdua dustakan?” Sekali… Dua kali… Sepuluh kali… Dua puluh kali… Hingga akhirnya… 31 kali. Lalu muncul pertanyaan… Mengapa Allah mengulang ayat yang sama sebanyak itu? Bukankah Allah Maha Mengetahui bahwa manusia sudah membacanya sekali? Bukankah satu kali sudah cukup? Mengapa harus tiga puluh satu kali? Apakah ini sekadar pengulangan? Ataukah… Ada pelajaran yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan? Allah Tidak Sedang Mengulang… Allah Sedang Mendidik Hati Manusia. Bayangkan seorang ayah… Anaknya hampir tertabrak kendaraan. Sang ayah berteriak, “Berhenti!” Anaknya tidak mendengar. Ia berteriak lagi, “Berhenti!” Masih tidak berhenti. Lalu ia berteriak berkali-kali. Apakah karena ayah itu kehabisan kata? Tidak. Tetapi… Karena kasih sayangnya lebih besar daripada keinginannya untuk berhenti berbicara. Demikian pula Allah. Pengulangan dalam Al-Qur’an… Bukan tanda kekurangan bahasa. Justru… Tanda sempurnanya kasih sayang Allah. Karena Allah mengetahui… Manusia adalah makhluk yang paling mudah lupa. Perhatikan Polanya… Inilah yang sering tidak disadari. Ayat itu tidak diulang secara acak. Setiap kali Allah menyebut satu nikmat… Atau satu tanda kekuasaan… Allah bertanya kembali, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Allah menyebut penciptaan manusia. Lalu bertanya. Allah menyebut Al-Qur’an. Lalu bertanya. Allah menyebut matahari dan bulan. Lalu bertanya. Allah menyebut lautan. Lalu bertanya. Allah menyebut buah-buahan. Lalu bertanya. Bahkan… Ketika Allah berbicara tentang Hari Kiamat… Tentang neraka… Tentang surga… Pertanyaan itu tetap kembali. Mengapa? Karena… Bahkan peringatan adalah nikmat. Orang yang diperingatkan sebelum celaka… Sedang diberi kasih sayang. Yang Lebih Menggetarkan Lagi… Ayat ini tidak berbunyi, “Nikmat Tuhanmu yang manakah yang tidak kamu syukuri?” Tetapi… ”…yang kamu dustakan?” Mengapa menggunakan kata mendustakan? Karena… Sebagian manusia… Tidak hanya lupa bersyukur. Mereka hidup seolah-olah semua keberhasilan adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Napas… Dianggap biasa. Jantung berdetak… Dianggap otomatis. Mata melihat… Dianggap wajar. Anak lahir sehat… Dianggap keberuntungan. Padahal… Tidak satu pun itu milik kita. Semuanya… Titipan Allah. Sains Menunjukkan Betapa Banyak Nikmat yang Tidak Kita Sadari Tubuh manusia bekerja tanpa kita perintahkan. Jantung berdetak sekitar 100.000 kali setiap hari. Paru-paru menghirup ribuan liter udara. Otak mengoordinasikan miliaran sinyal saraf. Sistem imun mengenali dan melawan ancaman yang bahkan tidak kita sadari. Kita tidur… Tetapi tubuh tetap bekerja. Kita lupa… Tetapi Allah tidak pernah lupa menjaga kita. Ironisnya… Manusia lebih sering menghitung uangnya… Daripada menghitung nikmat yang membuatnya tetap hidup. Mungkin… Karena nikmat yang hadir setiap hari… Sering kali menjadi nikmat yang paling tidak dihargai. Mengapa Tepat 31 Kali? Para ulama telah menjelaskan hikmah pengulangannya, tetapi Allah dan Rasul-Nya tidak memberikan penjelasan khusus mengapa jumlahnya tepat 31 kali. Karena itu, kita tidak boleh memastikan alasan yang tidak memiliki dalil. Yang dapat dipastikan adalah bahwa pengulangan itu merupakan bagian dari keindahan retorika (balaghah) Al-Qur’an. Setiap pengulangan hadir setelah penyebutan nikmat, tanda kekuasaan, ancaman, atau balasan, sehingga pertanyaan itu kembali mengetuk hati pembaca dari sudut yang berbeda. Jadi… Yang menjadi mukjizat bukan sekadar angkanya. Tetapi… Cara Allah menggunakan satu kalimat yang sama untuk menyentuh hati manusia dalam puluhan konteks yang berbeda. Lalu Apa Hubungannya Dengan Kehidupan Kita? Mungkin…

  • KECERDASAN MENGUMPULKAN PAHALA (The Intelligence to Collect Rewards) By. Satria hadi lubis BANYAK orang berlomba menjadi cerdas. Ada yang mengejar kecerdasan akademik, kecerdasan bisnis, kecerdasan teknologi, kecerdasan sosial, bahkan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Semua itu penting dan bermanfaat. Namun, ada satu kecerdasan yang jauh lebih tinggi nilainya. Yaitu, kecerdasan mengumpulkan pahala dan menjauhi dosa. Inilah kecerdasan yang menentukan nasib manusia, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Orang yang cerdas bukan sekadar pandai mencari uang, tetapi pandai mengubah setiap aktivitasnya menjadi ibadah. Bekerja menjadi pahala. Mendidik anak menjadi pahala. Menuntut ilmu menjadi pahala. Menolong sesama menjadi pahala. Bahkan makan, tidur, berolahraga, dan rekreasi pun dapat menjadi pahala apabila diniatkan karena Allah dan dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah saw. Sebaliknya, ada orang yang sangat cerdas menurut ukuran dunia, tetapi setiap hari justru sibuk mengumpulkan dosa. Lisannya melukai orang lain. Matanya memandang yang haram. Tangannya mengambil yang bukan haknya. Hartanya bercampur dengan yang haram. Akalnya hebat, tetapi catatan amalnya semakin berat oleh dosa. Kecerdasan mengumpulkan pahala pada hakikatnya adalah kecerdasan mencari ridha Allah dan keberkahan-Nya. Dengan selalu mencari ridha Allah SWT hati menjadi tenang. Keberkahan hadir dalam hidup kita, sehingga yang sedikit terasa cukup, yang sempit menjadi lapang, dan yang sulit menjadi mudah. Itulah kesuksesan yang hakiki: tenang dan barokah di dunia dan selamat di akhirat. Apalagi hidup di dunia ini sangat singkat. Allah Ta’ala mengingatkan: "Allah berfirman, 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?' Mereka menjawab, 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari....'" (QS. Al-Mu'minun: 112–113).» Di hadapan kehidupan akhirat yang abadi, puluhan tahun usia kita di dunia terasa seperti sehari atau bahkan setengah hari saja. Karena hidup begitu singkat, jangan habiskan waktu untuk hal-hal yang sia-sia. Jangan biarkan berjam-jam berlalu hanya untuk hiburan tanpa manfaat, perdebatan yang tidak berguna, atau scrolling media sosial tanpa tujuan. Lebih buruk lagi jika waktu itu justru digunakan untuk bermaksiat sehingga bukan hanya tidak menghasilkan pahala, tetapi juga menambah dosa. Setiap menit yang berlalu tidak akan pernah kembali. Waktu yang hilang tidak dapat dibeli dengan harta sebanyak apa pun. Karena itu, orang yang cerdas akan selalu bertanya, "Apakah aktivitas ini menambah pahala atau justru mengurangi bekalku menuju akhirat?" Rasulullah saw juga mengingatkan: "Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu." (HR. al-Hakim)» Seorang mukmin memang wajib berharap kepada rahmat-Nya, tetapi harapan itu harus dibuktikan dengan kesungguhan dalam beramal saleh, bertaubat, dan menjauhi maksiat. Rahmat Allah diharapkan, bukan dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dalam beribadah. Maka biasakanlah bertanya sebelum melakukan sesuatu: "Apakah ini mendekatkanku kepada ridha Allah?" "Apakah ini menambah pahala atau justru menambah dosa?" Sebab pada akhirnya, orang yang paling cerdas bukanlah yang memiliki gelar paling tinggi, harta paling banyak, atau jabatan paling besar. Orang yang paling cerdas adalah mereka yang paling pandai mengumpulkan pahala, paling hati-hati menjauhi dosa, dan paling bersungguh-sungguh mencari ridha Allah. Karena hidup ini singkat, tetapi pahala dan dosa akan menemani kita selamanya. https://t.me/oaseiman

  • 𝐇𝐈𝐒𝐓𝐎𝐑𝐈𝐒 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆-𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐏𝐄𝐑𝐍𝐀𝐇 𝐌𝐄𝐍𝐄𝐍𝐓𝐀𝐍𝐆 𝐀𝐋𝐋𝐀𝐇 𝐒𝐖𝐓 DIANTARANYA ADALAH : 𝟏.𝐏𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤 𝐓𝐢𝐭𝐚𝐧𝐢𝐜 𝐏𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐚𝐭𝐚…..𝐁𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐓𝐮𝐡𝐚𝐧 𝐩𝐮𝐧 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐠𝐞𝐥𝐚𝐦𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐩𝐚𝐥 𝐢𝐧𝐢….. akan tetapi 𝐭𝐚𝐡𝐮𝐤𝐚𝐡 𝐚𝐧𝐝𝐚 𝐚𝐩𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐫𝐣𝐚𝐝𝐢..? 𝐊𝐚𝐩𝐚𝐥 itu 𝐭𝐚𝐤 𝐥𝐚𝐦𝐚 𝐤𝐞𝐦𝐮𝐝𝐢𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐧𝐠𝐠𝐞𝐥𝐚𝐦. 𝟐. 𝐔𝐜𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐈𝐛𝐮 𝐁𝐞𝐫𝐤𝐚𝐭𝐚 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐩𝐮𝐭𝐫𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧-𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 : 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐖𝐓 𝐛𝐞𝐬𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐮 anak ku….?? 𝐈𝐫𝐨𝐧𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚, 𝐬𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐮𝐭𝐫𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐰𝐚𝐛 : 𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐝𝐚 𝐫𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐦𝐨𝐛𝐢𝐥 𝐤𝐞𝐜𝐮𝐚𝐥𝐢 𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐠𝐚𝐬𝐢. 𝐃𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐩𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐚𝐧, 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐚𝐦𝐢 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐥𝐚𝐤𝐚𝐚𝐧. 𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐮𝐧 𝐝𝐢𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐦𝐨𝐛𝐢𝐥 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐥𝐚𝐤𝐚𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮. 𝐌𝐨𝐛𝐢𝐥 𝐫𝐮𝐬𝐚𝐤 𝐩𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐛𝐚𝐠𝐚𝐬𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩 𝐮𝐭𝐮𝐡, 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐭𝐢 𝐭𝐞𝐥𝐮𝐫 𝐝𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐛𝐚𝐠𝐚𝐬𝐢, 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐝𝐚 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐩𝐮𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐞𝐜𝐚𝐡. 𝟑. 𝐒𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐲𝐚𝐡 𝐁𝐞𝐫𝐤𝐚𝐭𝐚 𝐊𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐏𝐮𝐭𝐫𝐚𝐧𝐲𝐚, “𝐒𝐞𝐦𝐨𝐠𝐚 𝐀𝐋𝐋𝐀𝐇 𝐒𝐖𝐓 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠𝐢𝐦𝐮 anak ku" 𝐝𝐚𝐧 𝐩𝐮𝐭𝐫𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐚𝐭𝐚, 𝐓𝐞𝐦an-𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧𝐤𝐮 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠𝐢𝐤𝐮 𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐀𝐋𝐋𝐀𝐇. 𝐒𝐞𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚, 𝐬𝐞𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐥𝐮𝐫𝐮 𝐧𝐲𝐚𝐬𝐚𝐫 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐧𝐮𝐡𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢 𝐝𝐞𝐩𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧-𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐨𝐧𝐭𝐨𝐧 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠𝐢𝐧𝐲𝐚. 𝟒. 𝐒𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐏𝐫𝐢𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐠𝐢𝐤𝐚𝐧 Berita 𝐭𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐋𝐋𝐀𝐇 𝐒𝐖𝐓 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐡𝐚p𝐮𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐃𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐚𝐭𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐡𝐚𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐀𝐋𝐋𝐀𝐇 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐝𝐚 𝐝𝐢 𝐦𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐢𝐧𝐢, S𝐞𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐩𝐫𝐢𝐚 𝐢𝐭𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 s𝐭𝐫𝐞𝐬 selama 𝟖 𝐭𝐚𝐡𝐮𝐧 𝐥𝐚𝐦𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐝𝐢𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥. 𝐏𝐫𝐢𝐚 𝐥𝐚𝐢𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐠𝐢𝐤𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐧𝐲𝐚𝐤 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠, 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐚 𝐝𝐢𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐞𝐫𝐚𝐣𝐚𝐭𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐬𝐞𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚𝐚n𝐲𝐚. 𝐀𝐋𝐋𝐀𝐇 𝐒𝐖𝐓 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐚 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭 𝐝𝐢𝐭𝐮𝐭𝐮𝐩 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚 𝐩𝐮𝐧 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮𝐢 𝐩𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐧𝐠𝐤𝐚𝐭 𝐢𝐭𝐮. 𝐃𝐚𝐧 𝐣𝐢𝐤𝐚 𝐀𝐧𝐝𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐭𝐮𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐀𝐋𝐋𝐀𝐇 𝐒𝐖𝐓….. 𝐊𝐢𝐫𝐢𝐦 𝐩𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐢 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐚𝐢𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐣𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐬𝐢𝐦𝐩𝐚𝐧 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐝𝐢𝐡𝐚𝐩𝐮𝐬, 𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐮𝐣𝐮𝐚𝐧 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐧𝐠𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐀𝐋𝐋𝐀𝐇 𝐒𝐖𝐓. 𝟓. 𝐏𝐫𝐞𝐬𝐢𝐝𝐞𝐧 𝐀𝐫𝐠𝐞𝐧𝐭ina𝐚 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐚𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚, 𝐬𝐞𝐭𝐞𝐥𝐚𝐡 𝟖 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐩𝐮𝐭𝐫𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥.𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐢 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐚𝐤𝐫𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐚𝐫 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. *6. Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump mengatakan akan membumihanguskan Gaza dan menjadikanx sbg neraka jika Hamas tidak melepaskan tawanan sebelum día dilantik pd tgl 20 Januari 2025. Tapi Allah membalas ucapan Trump dengan membumihanguskan seluruh California-Los Angeles dengan mengirimkan angin dan api sehingga menjadi seperti neraka. Masya Allah, Subhanallah...* https://t.me/oaseiman

  • 26 июн.427из robbanimediatama

    https://youtu.be/8E77tp1z95w

  • Ketika kita sibuk berdakwah, membina, mengajar, membantu, atau melayani orang lain, hidup terasa lebih berarti dan hati menjadi lebih hidup. Asalkan niatnya karena Allah, bersama Allah, dan dengan tujuan mendapatkan ridho Allah Ta’ala. Yang juga penting adalah belajar menikmati kebersamaan dengan diri sendiri. Sebagian orang takut sendirian karena belum berdamai dengan dirinya. Ia terus membutuhkan keramaian untuk mengalihkan perhatian dari berbagai luka dan kegelisahan yang ada di dalam hatinya. Padahal seorang mukmin perlu memiliki waktu untuk mengevaluasi dirinya. Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok." (QS. Al-Hasyr: 18) Muhasabah sering kali membutuhkan suasana yang tenang dan jauh dari keramaian. Di situlah kita mengenali kekurangan diri, memperbaiki niat, dan memperkuat hubungan dengan Allah. Pada akhirnya, obat terbaik bagi kesepian bukanlah selalu mencari manusia, tetapi mendekat kepada Allah, Sang Maha Kasih. Manusia memiliki keterbatasan. Mereka bisa sibuk. Mereka bisa pergi. Mereka bisa berubah. Tetapi Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang mendekat kepada-Nya. Maka jika suatu hari Anda harus berjalan sendirian, jangan takut. Jika suatu hari Anda merasa tidak ada seorang pun yang memahami Anda, jangan putus asa. Jika suatu hari hidup terasa sepi, jangan terburu-buru mencari pelarian. Mendekatlah kepada Allah. Perbanyak dzikir. Perbanyak doa. Perbanyak membaca Al-Qur'an. Tingkatkan kekhusyukan sholat. Isi hidup dengan amal dan manfaat. Kesendirian justru menjadi ruang yang indah untuk bertumbuh, mendekat kepada-Nya, dan menemukan ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh siapa pun selain oleh Allah SWT. "Ketika hati telah dipenuhi oleh Allah, kesepian tak lagi ada." https://t.me/oaseiman