Pendidikan Merdeka Belajar
СтатистикаInfo dan tips pendidikan #MerdekaBelajar. Ayo ajak yang lain bergabung
- Последний пост
- 7 авг.
- Последнее чтение
- 15 авг.
- Постов за неделю
- 0
- Всего постов
- 21
- Тип
- открытый
- Язык
- индонезийский
- В каталоге с
- 13 авг.
- 1/24сутки в ленте
- 161
- 1/48двое суток
- 184
- 1/72трое суток
- 198
Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.
Посты
Budaya Hore-hore yang Belum Saya Tanyai Sebelum saya sempat bertanya apa-apa, kepala saya sudah dikalungi budaya hore-hore — dan saya baru tahu itu namanya belakangan. https://medium.com/@bukik/budaya-hore-hore-yang-belum-saya-tanyai-f356606ff685?sharedUserId=bukik
Mengapa Menulis Community First Kami telah terjun dalam dunia pendidikan lebih dari 27 tahun, berawal di Sekolah Cikal hingga pada tahun 2016 berdiri menjadi Guru Belajar Foundation. Kami mencapai sejumlah keberhasilan, sebagaimana kami mendapatkan pelajaran dari sejumlah kegagalan. Dari kegiatan pelatihan guru, menjadi program peningkatan kapasitas yang lebih kompleks, hingga menjadi pengorganisasian komunitas yang lebih berdaya. Hingga saat ini, kami telah mendampingi puluhan ribu guru belajar di lebih dari 200 daerah di Indonesia dengan beragam level keberdayaan. Perluasan dampak melalui Program Pengembangan Kepemimpinan Guru dan Temu Pendidik Nusantara pun telah mendapatkan rekognisi global sebagai 10 finalis UNESCO-Hamdan Prize for Teacher Development. Dari perjalanan panjang tersebut, kami mengenali sejumlah pola yang bertahan dalam ekosistem pendidikan dari waktu ke waktu. Ada pola yang menghasilkan keberhasilan dan terus merawat peningkatan. Ada pola yang menghasilkan kegagalan meski seringkali bisa dikemas sebagai keberhasilan. Sebagaimana komitmen kami dalam pembelajaran berpihak pada anak, maka komitmen kami dalam pendidikan adalah berpihak pada komunitas. Apabila selama ini program lebih dipandang dari sudut pandang manajemen, kami menggeser lensanya menjadi sudut pandang komunitas. Karena komunitas bukan hanya penerima manfaat, tapi penggerak sesungguhnya dari misi yang dibawa oleh program. Oleh karena itu, kami mencetuskan buletin Community First di LinkedIn — untuk menyajikan wawasan dari sudut pandang komunitas. Harapannya, ketika manajemen program, baik CSR maupun lembaga filantropi, mendapatkan wawasan ini, akan lahir program yang lebih berdampak dan berkelanjutan. Enam artikel yang telah terbit sejauh ini sebenarnya berputar di satu titik yang sama: yang selama ini dirawat sebagai keberhasilan sering kali hanyalah kepatuhan pada logika program — bukan pada kebutuhan komunitas yang bergerak jauh lebih lambat dan tidak selalu linear. Enam pola ini baru diagnosis. Dari sinilah kami sedang menyusun langkah berikutnya — bagaimana pola-pola ini bisa dijawab, bukan sekadar dikenali. Dan untuk sampai ke sana, kami butuh satu hal yang tidak bisa kami dapatkan dari refleksi internal saja: sudut pandang Anda sebagai pembaca yang mengalami langsung ekosistem ini dari posisi yang berbeda-beda. Caranya sederhana. Dari enam artikel di atas, pilih satu yang paling terasa dekat dengan yang pernah Anda alami atau amati — lalu jawab di kolom komentar: Kenapa artikel itu yang paling terasa dekat bagi Anda? Apa yang menurut Anda masih perlu ditambahkan atau diperbaiki dari artikel tersebut? Jawaban paling tajam dan reflektif — baik yang mengafirmasi maupun yang mengoreksi — akan kami pilih untuk mendapatkan buku terbitan GBF, sebagai tanda terima kasih. Batas menjawab: 10 Agustus. Kami menunggu sudut pandang Anda di https://www.linkedin.com/pulse/mengapa-menulis-community-first-bukik-setiawan-2ir9c
Mengapa Miskonsepsi Manajemen Berbasis Sekolah Dirawat Dua Dekade Lebih? Sebuah miskonsepsi bisa bertahan dua dekade lebih bukan karena tidak terlihat, tapi karena semua pihak punya alasan untuk tidak melihatnya. https://www.linkedin.com/pulse/mengapa-miskonsepsi-manajemen-berbasis-sekolah-dirawat-bukik-setiawan-egx9c
https://paraminda.com/2026/07/18/hujan-tanah-dan-percakapan-tentang-pendidikan-catatan-tpn-xiii/
Mengapa Peningkatan Kapasitas yang Berulang Tidak Selalu Memperbesar Dampak pada Komunitas? Portofolio proyeknya terus bertambah, kemampuan mengelolanya terus meningkat — tapi daya pengaruh organisasi terhadap perubahan yang sebenarnya berhenti di titik yang sama selama bertahun-tahun. https://www.linkedin.com/pulse/mengapa-peningkatan-kapasitas-yang-berulang-tidak-selalu-setiawan-3lx9c
Membaca yang Ternyata Bukan Milik Saya Andala menoleh ke arah buku, lalu menatap ibunya, seperti memastikan sesuatu sebelum menoleh lagi ke halaman yang sedang dibuka. https://medium.com/@bukik/membaca-yang-ternyata-bukan-milik-saya-a18cd65effa7
Proyek selesai dengan baik, tapi bagaimana ekosistemnya? Semakin disiplin sebuah proyek mengikuti logikanya sendiri, semakin jauh hasilnya dari ekosistem yang ingin dibangunnya. https://www.linkedin.com/pulse/proyek-selesai-dengan-baik-tapi-bagaimana-bukik-setiawan-xhpvc
Menggendong yang Tidak Pernah Saya Kuasai Andala bergerak menjauh dari posisi yang saya kira sudah pas — saya ikut bergerak, dan begitu terus, sampai saya kehilangan hitungan keberapa kalinya. https://medium.com/p/menggendong-yang-tidak-pernah-saya-kuasai-1af047b87650?source=social.tw
When a program ends, why does the impact leave with it? Many education programs end with strong evaluations, yet a year later most of their impact is gone — and this is not a failure of implementation, but a hidden assumption about agency that needs re-examining. https://www.linkedin.com/pulse/when-program-ends-why-does-impact-leave-yayasangurubelajar-ukqse/
*Mengapa intervensi paling komprehensif justru paling berisiko gagal?* Bukan karena cakupannya terlalu luas — tapi karena luasnya itu jarang diuji terhadap kapasitas nyata yang akan menjalankannya. https://www.linkedin.com/pulse/mengapa-intervensi-paling-komprehensif-justru-gagal-bukik-setiawan-h0cxe
Mengapa intervensi yang berhasil di satu tempat sering gagal di tempat lain? Bukan selalu karena intervensinya salah — tapi lebih karena kondisi yang membuatnya berhasil hampir tidak pernah ikut pindah. https://www.linkedin.com/pulse/mengapa-intervensi-yang-berhasil-di-satu-tempat-sering-bukik-setiawan-m7ebc
📚✨ *Cerita dari Kelas #CDK3* "Setiap Anak Punya Kisah untuk Dibagikan" Belajar tidak hanya terjadi di dalam kelas. Melalui cerita, anak-anak belajar mengamati, bertanya, berimajinasi, dan memahami dunia di sekitarnya. Mari bergabung dalam “Cerita dari Kelas”, sebuah kegiatan seru yang menghadirkan kisah-kisah inspiratif, kreativitas, dan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak-anak. Yuuk catat dulu: 🗓️ Sabtu, 13 Juni 2026 📍 Perpustakaan Hanoman ⏰ 09.00–12.00 WIB 💰 Kontribusi: Rp15.000,- 🤩 Terbuka untuk Umum. Bersama, kita merayakan rasa ingin tahu, keberanian bercerita, dan sukacita belajar. Karena setiap anak adalah penulis dari kisah hebatnya sendiri. 🌱📖💛 Pendaftaran: 0897-1747-788
Menurut Bukik, penerimaan murid baru untuk tingkat pendidikan dasar semestinya memang dilakukan pemerintah daerah melalui dinas pendidikan, bukan oleh sekolah secara mandiri. Selain itu, ia menilai semua anak yang memenuhi kriteria usia di suatu wilayah, wajib diterima, kemudian didistribusikan ke sekolah negeri atau swasta yang dibiayai pemerintah. Bukik menyebut, ketika penerimaan murid baru jadi urusan daerah, maka potensi diskriminasi dan seleksi berbasis kemampuan bisa diminimalkan. Sehingga, sekolah tidak punya kewenangan mempertimbangkan kesiapan sebagai syarat masuk, melainkan pemda menyediakan asesmen psikolog. Asesmen ini juga bukan sebagai alat seleksi, tetapi peta awal untuk menyesuaikan pendampingan. Baca artikel detikedu, "Kata Ahli, Ini yang Perlu Dilakukan Supaya Anak Siap Masuk SD" selengkapnya https://www.detik.com/edu/sekolah/d-8503511/kata-ahli-ini-yang-perlu-dilakukan-supaya-anak-siap-masuk-sd.
Ketika Bayi Tiga Bulan Mengajari Saya Cara Belajar Bayi tiga bulan mengajari saya bagaimana cara belajar lebih utuh dibandingkan pelatihan yang pernah saya ikuti. Mengurus bayi baru lahir adalah pekerjaan penuh waktu — dan itu terutama pekerjaan isteri saya. Ia yang mengurus Andala dari pagi hingga malam: menyusui, memandikan, mengganti pakaian, menenangkan tangisan. Saya membantu dengan cara yang paling sederhana — menggendong. Saya menggendong Andala — tiga bulan tiga minggu usianya — pada petang dan malam, ketika saya tidak di luar kota. Tubuhnya di dada saya, kepalanya di bahu, napasnya yang pendek-pendek menenangkan sesuatu di kepala saya yang masih penuh urusan kantor. Di saat itulah celotehan itu muncul. Suara-suara kecil — campuran vokal dan desisan — keluar dari mulut mungilnya tanpa pola yang bisa saya kenali. Saya mendengarnya. Tapi seperti mendengar hujan: tahu ada bunyi, tidak perlu memahami artinya. Dengar tapi tidak memahami. Begitulah saya memperlakukan ocehan Andala selama berminggu-minggu. Hingga suatu sore, Andala berbaring di kasur, saya duduk di depannya, menatap matanya. Situasinya santai — ia segar, pakaiannya bersih, tidak ada tangisan yang perlu diselesaikan. Saya iseng mengenalkan kata-kata pendek berirama: kiki kaka, koko keke, anda andi, Andala Pantha. Andala merespons dengan senyum. Bukan senyum kecil — senyum penuh sampai muncul lesung pipi di pipi kirinya. Dan celotehan. Saya ulangi. Ia respons lagi. Tiga kali bolak-balik. Esok harinya saya coba lagi. Hasilnya sama. Di titik itu saya mulai curiga: ini bukan kebetulan. Baca lengkapnya di https://medium.com/p/cb64d2dc4a21
AI tidak akan menggantikan guru. Tapi AI bisa membantu guru keluar dari rutinitas yang melelahkan dan kembali fokus pada pembelajaran yang bermakna. Lewat perspektif Bukik Setiawan yang merupakan Praktisi Pendidikan Kontekstual sekaligus pengantar pakar dalam buku Brave New Words, kita diingatkan bahwa AI baru benar-benar berguna di tangan guru yang terus belajar: menemukan, merefleksikan, dan menularkan praktik baik Karena di era sekarang, memahami teknologi saja tidak cukup. Kita juga perlu memahami bagaimana kita mengambil peran dalam proses belajar dan mengajar. Baca lengkapnya di https://www.instagram.com/p/DYebQbikfFJ/?igsh=aHQ4MmR3bHRrN3My
https://c.org/jMSxCrtG2X
Dua Kekhawatiran Guru Kedua kekhawatiran itu muncul hampir setiap hari, tapi hanya satu yang menentukan: kita guru untuk siapa? https://medium.com/@bukik/dua-kekhawatiran-guru-0dd68969ea1b
Diskusi Pendidikan Indonesia https://youtu.be/hN-V0YYDSak?si=kbz2Sm3D3drU54cJ
Topic: Pra-KPI Sesi 2: Membangun Daerah dari Pendidikan: Menguatkan SPM melalui Data dan Kolaborasi Date: 12 May 2026 Time: 14:00 - 23:59 (WIB) Join URL: https://us06web.zoom.us/j/84301042000?pwd=kbNn3qaB8AV0Felxk7eteTAQOuutHQ.1 Meeting ID: 84301042000 Passcode: PraKPI2
Belajarkah Kita dari Kasus Little Aresha? Kasus Little Aresha mengejutkan banyak orang. Tapi bukan karena pelakunya — melainkan karena korbannya. Bukan hanya anak-anak yang diikat tangan dan kakinya di dalam ruangan tertutup itu. Tapi juga orang tua mereka — yang setiap hari mengantar dengan penuh harap, menjemput dengan lega, dan tidak tahu apa yang terjadi di antaranya. Selama berbulan-bulan. Ada yang bertahun-tahun. Bagaimana bisa? Pertanyaan itu mudah diajukan dari luar. Tapi jawabannya hanya bisa ditemukan dari dalam — dari dalam pengalaman orang tua yang menitipkan anaknya, memilih tempatnya, merasakan sinyal-sinyal yang ada, dan tetap tidak bergerak cukup cepat. Tulisan ini mencoba masuk ke sana. Bukan untuk menghakimi. Tapi untuk belajar. Dari sekian banyak kesaksian orang tua korban Little Aresha, kita akan mengikuti satu perjalanan — perjalanan seorang ibu yang kita namai Ibu Pertiwi. Ia bukan satu orang. Ia adalah akumulasi dari banyak suara, banyak momen, banyak keputusan yang terasa masuk akal — sampai semuanya tidak lagi masuk akal. https://medium.com/@bukik/belajarkah-kita-dari-kasus-little-aresha-0f4cefc83a3a