🌸 مكتبة السلفية 🌸
СтатистикаUntuk peminjaman maktabah salafiyyah, kita off dulu ya teman2. bukunya sudah di mahad semua. dibaca santriwati alhamdulillah. bagi yang pernah ikut andil donasi buku ke maktabah, gpp, buku tetap dibaca santriwati, antuna ttp dpt pahala jariyyah insyaAllah
- Последний пост
- 14 авг.
- Последнее чтение
- 15 авг.
- Постов за неделю
- 4
- Всего постов
- 22
- Тип
- открытый
- Язык
- индонезийский
- В каталоге с
- 14 авг.
- 1/24сутки в ленте
- 3
- 1/48двое суток
- 3
- 1/72трое суток
- 3
Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.
Посты
без подписи
без подписи
без подписи
Teman2 ada yg belum kebagian di cetakan yg kemarin? 🌸 Kalau ada minimal 10 yg mau insyaAllah ana cetak lagi pekan ini ya. Bisa hubungi kontak berikut: https://wa.me/6285213486472 Mumpung lagi promo akhawat, hanya 59k. Harga asli 80k Barokallahu fiikum shalihah
سبحان الله سبحان الله ، اللهم ارزقنا يقينًا كيقين هذا الرجل...
без подписи
سبحان الله سبحان الله ، اللهم ارزقنا يقينًا كيقين هذا الرجل...
وُجُوهٞ يَوۡمَئِذٖ نَّاضِرَةٌ، إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٞ Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhan-nyalah mereka melihat. –Qs. Al Qiyaamah: 22 & 23 Sesungguhnya nikmat terindah di surga bukan karena keberadaan bidadarinya, walaupun itu sesuatu yang sangat indah! Bukan pula (aliran) sungai-sungainya, walaupun itu sesuatu yang menarik! Tapi kenikmatan terindah adalah memandang wajah Allah ta'aala. Ketika penduduk surga masuk ke dalam surga, Allah berkata kepada mereka: “Maukah kalian Ku berikan tambahan?” lalu mereka berkata, “Bukankah Engkau sudah masukkan kami ke dalam surga, menjadikan wajah kami berseri-seri, dan menyelamatkan kami dari neraka?” Lalu Ia menyingkap tabir dan terlihatlah wajah Rabb yang Maha Mulia. Maka tidak ada sesuatu pun yang lebih disukai oleh mereka selain memandang Rabb mereka -عز وجل-! Sumber: كتاب رسائل من القرآن (أدهم شرقاوي)
Sungguh, tak ada yang lebih menguatkan hati kita selain ketauhidan kita pada Rabb kita. Karena setiap ketidakmungkinan dan ketakutan, bisa ditepis dengan nama dan sifat-Nya. Kepada siapa seorang pesakit bersandar kalau bukan pada Allah asy-Syāfī? Kepada siapa seorang miskin meminta kalau bukan pada Allah al-Ghaniy? Dan bagaimana seseorang yang sudah berputus asa bisa kembali kalau bukan dengan mengingat kuasa al-Qādir? Semua kekalutan yang kita rasakan, habibaty, jawabannya adalah dengan mengembalikan semua kepada-Nya, dan dengan mengingat lagi nama dan shifat-Nya.. Bersambung ..
Ditulis oleh: Maryam bintu Yuniarso, dalam buku: يا غالية كوني قوية مع الله .. 🌸 Teringat nasihat Syaikhah pengajar kami pada suatu sore di Mushola Ma’had, beliau menasehati di tengah-tengah majlis yang diadakan pekan itu: “المرأة قوية وليست ضعيفة،" Perempuan itu kuat dan tidak lemah. Deg! Mendengar itu seketika tubuh ini merinding dan tenggelam pada potret keseharian yang mungkin banyak sekali kekurangan dan keluhan yang terlontar sadar-tidak sadar. Perempuan… mudah sekali merasa dirinya lemah dan tidak mampu.. Perempuan… mudah sekali layu karena lembut perasaannya. Namun, mungkin kita sudah salah memaknai kelembutan sebagai kelemahan.. Nasihat kala sore itu masih membekas sampai hari ini. Kata-kata itu mungkin singkat sekali, namun maknanya sangat mendalam. Berakar dari sini, terbitlah keinginan untuk mengumpulkan renungan yang kami tuangkan dalam lembaran-lembaran buku Yā Ghāliyah, kūnī qawiyyatan ma’Allāh. Hanya untuk menyampaikan: *Ingatlah saudariku, perempuan itu kuat dan tidaklah lemah..* Bekal pertama: Mari kencangkan tali aqidah dan tauhid, wahai saudariku! Teringat sebuah sabda dari lisan Nabi kita ﷺ; di dalam hadits itu Nabi ﷺ menceritakan seorang pemuda yang sedang disidang di Hari Akhir. Lembaran dosanya sudah sampai ujung pandangan mata (saking banyak dosa yang sudah dilakukan). Pemuda ini pun sudah tak memiliki harapan melihat catatan dosa yang lengkap, tidak ada yang luput sama sekali. Bagaimana pula ia akan lari sedangkan kebenaran sudah terkuak, dan Yang Maha Adil sudah di depan matanya? Pengadilan sudah ditegakkan, pintu Surga dan Neraka dibuka menunggu penghuninya dimasukkan? Lemah sekali pemuda ini di hadapan 99 catatan dosanya. Sampai akhirnya… Allah berfirman : ‘Bahkan engkau di sisi kami mempunyai satu kebaikan’. Tidak ada kezhaliman terhadapmu pada hari ini’. Lalu dikeluarkanlah padanya sebuah kartu (bithaqah) yang tertulis : Asyhadu an Laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluh (aku bersaksi bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya). Allah berfirman : ‘Perlihatkan kepadanya’. Orang itu berkata : ‘Wahai Rabb, apalah artinya kartu ini dengan seluruh catatan amal kejelekan ini ?’. Dikatakan : ‘Sesungguhnya engkau tidak akan dizhalimi”. Seketika di hati pemuda ini timbul percikan harap, namun apakah mungkin sebuah kartu mengalahkan 99 lembaran keburukan? Nabi ﷺ bersabda : “Lalu diletakkanlah catatan-catatan amal kejelekan itu di satu daun timbangan. Ternyata catatan-catatan itu ringan dan kartu itulah yang jauh lebih berat. Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat daripada nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” Seketika membuncah beribu kebahagiaan. Betapa sau kartu menyelamatkan akhir kekekalan hidupnya. Betapa untaian kalimat yang ia genggam pada hidupnya telah mengantarkannya pada happy ending ever after. Saudariku… Jika kita yang ada pada posisi pemuda itu, kira-kira seberapa besar ketakutan yang bisa menenggelamkan kita? Dan bagaimana rasanya kebahagiaan yang telah menyelamatkan dari ribuan penderitaan yang hampir saja ia terima? Sungguh, membayangkannya pun kita tak mampu. Namun, ucapan laa ilaha illallah saja belum cukup tanpa pengamalan, sayangku.. Masih ada satu tugas lain… Ucapan laa ilaha illallah memiliki konsekuensi yang perlu kita amalkan, di antaranya untuk tidak menyekutukan Allah seumur hidup yang kita miliki di dunia. Tidak menyekutukan Allah dalam beribadah kepada-Nya, dalam berdoa, dalam keyakinan kita pada satu-satunya Tuhan tempat kita bersandar. Tidak ada tempat untuk mempercayai orang-orang “pintar”. Tidak ada tempat untuk meyakini ramalan bintang. Tidak ada tempat untuk meminta doa pada “wali”. Karena setiap harap sudah kita serahkan pada-Nya.
وقال أبو بكر البلخي : شهر رجب شهر الزرع ، وشهر شعبان شهر سقي الزرع ، وشهر رمضان شهر حصاد الزرع . Abu Bakr Al Balkhi berkata, “Bulan Rajab saatnya menanam. Bulan Sya’ban saatnya menyiram tanaman dan bulan Ramadhan saatnya menuai hasil.” وقال – أيضاً – : مثل شهر رجب كالريح ، ومثل شعبان مثل الغيم ، ومثل رمضان مثل المطر ، ومن لم يزرع ويغرس في رجب ، ولم يسق في شعبان فكيف يريد أن يحصد في رمضان . Abu Bakr Al Balkhi juga berkata, “Bulan Rajab seperti angin, bulan Sya’ban bagaikan mendung dan bulan Ramadhan bagaikan hujan. Siapa yang tidak menanam di bulan Rajab, lalu tidak menyiram tanamannya di bulan Sya’ban, maka jangan berharap ia bisa menuai hasil di bulan Ramadhan.”
Rajab .. Salah seorang Salaf berkata: “Bulan Rajab itu bagaikan angin.. Bulan Sya’ban itu bagaikan awan.. Dan bulan Ramadhan itu bagaikan hujan.. Barangsiapa tidak menanam benih (amal shalih) di bulan Rajab, dan tidak menyiraminya di bulan Sya’ban, bagaimana mungkin ia akan memanen (buah takwa) di bulan Ramadhan..?" Ya Allah.. Sampaikanlah kami kepada hari-hari yang berkah ini..
без подписи
без подписи
без подписи
без подписи
без подписи
без подписи
без подписи
без подписи