tgindex
Studi Islam & Bahasa Arab

Studi Islam & Bahasa Arab

Статистика
@studi_arabРелигияиндонезийский

Majelis yg telah berkiprah sejak 2016: - Kuliah Bahasa Arab Online - Kajian Kitab Online Ilmu KeIslaman - Akademi Fiqih Siyasah - Kursus Terjemah Arab-Indonesia https://wa.me/6289526856480 Jika ada iklan diluar admin, mohon abaikan, itu bukan dari admin

Последний пост
15 авг.
Последнее чтение
15 авг.
Постов за неделю
4
Всего постов
21
Тип
открытый
Язык
индонезийский
Категория
Религия
В каталоге с
13 авг.
Подписчики
8 891
−7 за 2 дн.
Сутки
0
0,00%
Неделя
 
Месяц
 
Просмотров на пост
880
21 постов
Вовлечённость
9,9%
к подписчикам
Постов в день
0,6
всего 21
Упоминаний
0
каналов
Охват размещения
оценка
1/24сутки в ленте
340
1/48двое суток
389
1/72трое суток
420

Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.

Посты

  • без подписи

  • *Bala Tentara Allah* إن لله جنوداً يحفظونك ويدافعون عنك، منها: عملك الصالح Sesungguhnya Allah Ta'ala memiliki bala tentara yg menjagamu dan membelamu, di antaranya adalah amal salehmu. (Mustafa As-Siba'i rahimahullah) Syaikh Mustafa as-Siba’i rahimahullah mengingatkan kita dengan kata-kata yang mampu meruntuhkan semua rasa takut yang selama ini kita kira wajar. Kita mungkin sering berpikir bahwa penjagaan Allah itu jauh. Berupa malaikat bersayap, berupa kejadian ajaib yang membelokkan mobil di detik terakhir, berupa orang baik yang datang menolong. Itu benar. Tapi Syaikh as-Siba’i mengajak kita menoleh ke arah yang lebih dekat: ke dalam diri kita sendiri. Ia berkata, salah satu pasukan Allah itu adalah amalmu. Coba bayangkan. Shalat Subuh yang kau paksakan bangun saat mata masih berat, ia tidak menguap begitu saja. Sedekah yang kau masukkan ke kotak amal tanpa ada yang melihat, ia tidak hilang. Sabar yang kau telan ketika difitnah, maaf yang kau berikan padahal kau bisa membalas, al-Qur’an satu halaman yang kau baca di sela kerja — semua itu dikumpulkan. Disimpan. Lalu pada hari ketika hidupmu terasa paling rapuh, Allah kirim kembali kepadamu dalam bentuk penjagaan. Kadang kita selamat dari musibah yang entah bagaimana bisa terhindar. Kadang pintu rezeki terbuka padahal semua orang bilang buntu. Kadang hati yang semalaman gelisah tiba-tiba tenang setelah azan. Kita menyebutnya keberuntungan. Padahal bisa jadi itu adalah amal kita yang dulu kita tanam, kini tumbuh menjadi pagar. Ini hukum yang sangat adil. Allah tidak pernah melupakan._“Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu.”_ Menolong agama itu tidak selalu pidato di mimbar. Cukup dengan menjaga diri agar tetap taat. Cukup dengan tidak melukai orang. Cukup dengan tetap baik di tempat yang sepi, saat tidak ada kamera. Ketaatan itu akan berjalan mendahului kita, menjadi doa yang hidup, menjadi tentara yang berdiri di depan kita. Qaul ini sekali lagi benar-benar mengingatkan. Saat kita merasa dunia berat, merasa tidak ada yang membela, merasa sendiri, mungkin masalahnya bukan karena Allah meninggalkan. Mungkin karena kita sendiri sudah lama tidak mengirim "pasukan". Orang yang tenggelam dalam maksiat seperti orang yang melucuti senjatanya sendiri. Sedangkan orang yang istiqamah dalam ketaatan, ia sedang membangun benteng yang tak terlihat, tapi kokoh. Karena itu jangan pernah remehkan hal kecil. Senyum kepada tukang parkir. Menyingkirkan batu dari jalan. Menahan komentar pedas. Menelpon orang tua. Semua itu bukan “tidak penting”. Semua itu adalah "bala tentara". Ia tidak berisik. Ia tidak minta diumumkan. Tapi ia bekerja diam-diam untuk menjagamu. Wahai kita yang sedang lelah, mari perbanyak amal. Bukan karena Allah butuh. Dia Maha Kaya. Tapi karena kitalah yang butuh. Butuh tameng saat dunia menekan. Butuh teman saat di kubur nanti gelap. Butuh pembela saat di Padang Mahsyar semua orang sibuk dengan dirinya sendiri. Mulai hari ini, ubah cara pandang kita. Setiap kebaikan adalah deposito penjagaan. Setiap ketaatan adalah surat perlindungan yang kita kirim lebih dulu ke langit. Karena pada akhirnya, setelah Allah, penjaga paling setia yang kita miliki adalah amal saleh yang kita titipkan. Dan ia tidak akan pernah berkhianat. *YSP*

  • без подписи

  • إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا "Di antara tanda-tanda hari kiamat adalah: sedikitnya ilmu, tersebarnya kebodohan, diminumnya khamr dan merebaknya perzinaan." (HR. Bukhari & Muslim)

  • *Catatan Pahala yang Tidak Pernah Putus* إذَا مَرِضَ العَبْدُ أوْ سَافَرَ، كُتِبَ له مِثْلُ ما كانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا “Jika seorang ahli ibadah jatuh sakit atau safar, ia tetap diberi pahala ibadah sebagaimana Ibadah yang dia lakukan ketika sehat atau ketika tidak safar.” (HR. Al-Bukhari) Hadits ini adalah kabar gembira sekaligus pengingat. Allah Maha Adil. Ia tidak menyia-nyiakan kebiasaan baik yang telah kita bangun. Kita mungkin sering merasa rugi saat sakit menahan langkah ke masjid. Merasa tertinggal saat safar membuat shalat malam dan majelis tertunda. Kita cemas, jangan-jangan dakwah berhenti ketika tenaga melemah dan waktu menyempit. Namun Allah menilai konsistensi, bukan hanya satu momen. Selama kita tidak sengaja meninggalkan amal, maka catatan itu tetap berjalan. Shalat berjamaah yang rutin, sedekah yang istiqamah, majelis ilmu yang selalu dihadiri, semuanya tetap dicatat. Seolah kita melakukannya, padahal tubuh sedang lemah di pembaringan atau sedang jauh dalam perjalanan. Inilah kemurahan Rabb. Kebiasaan baik tidak akan hilang hanya karena kondisi berubah. Pesan ini tentu sangat penting bagi para pengemban dakwah. Dakwah bukan soal satu kegiatan besar, melainkan kesinambungan amal yang konsisten dilakukan. Muallim yang rutin mengisi kajian, saat sakit pahalanya tetap mengalir. Donatur yang biasa membiayai fasilitas tersebarnya ilmu, saat safar catatannya tetap berjalan. Penyeru kebaikan yang istiqamah mengajak, saat lemah malaikat tetap menulis amalnya. Bahkan setelah wafat, selama ilmunya diamalkan, pahalanya tidak terputus. Maka bangunlah kebiasaan baik mulai hari ini. Pilih satu amal kecil yang mudah, rutin dan teruskan. Hadir di majelis. Mengajar satu ayat. Menulis satu nasihat. Menyebarkan kesadaran Islam ke kerabat dan kolega. Kita tidak tahu kapan tubuh melemah sakit atau langkah harus jauh. Namun jika kebiasaan itu telah tertanam, ia akan menjadi tabungan yang terus bertambah. Tubuh boleh berhenti. Safar boleh memisahkan. Sakit kronis boleh melemahkan. Tapi pahala, selama niat dan kebiasaan itu ada, ia tidak akan pernah berhenti dicatat. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan yang catatannya terus mengalir, di kala sehat maupun sakit, di kala mukim maupun safar. *YSP*

  • *Seandainya Pahala Itu Tampak di Depan Mata* Ka’ab al-Akhbar rahimahullah pernah melontarkan satu kalimat yang cukup untuk membuat kita terdiam lama: لو أن ثواب مجالس العلماء بدا للناس لاقتتلوا عليه حتى يترك كل ذي إمارة إمارته وكل ذي سوق سوقه Seandainya pahala menghadiri majelis para ulama diperlihatkan kepada manusia, niscaya mereka akan saling berperang demi mendapatkannya, sehingga setiap orang yg memiliki pemerintahan akan meninggalkan kekuasaannya, dan setiap orang yg memiliki pasar akan meninggalkan perdagangannya. (Ka'ab bin al-Ahbar rahimahullah) Bayangkan. Tahta ditinggalkan. Dagangan dikunci. Rapat bisnis penting dibatalkan. Bukan karena bangkrut, tetapi karena ada yang jauh lebih berharga di sisi Allah: satu majelis yang di dalamnya dibahas ilmu agama dan disebut nama-Nya. Perkataan ini bukan sekadar kiasan. Ia adalah timbangan. Ia menyingkap penyakit kita hari ini. Kita begitu gesit berebut kursi dalam rapat yang hasilnya fana. Kita rela antre demi acara dunia yang usai dalam sejam. Kita kejar relasi demi keuntungan yang belum tentu membawa berkah. Namun ketika ada seruan untuk duduk di majelis ilmu, alasan pun berdatangan: terlalu jauh, terlalu lelah, lain kali saja dan beribu alasan yang sangat mudah diucapkan. Padahal andai tabir gaib itu tersingkap, kita akan melihat hakikat yang sebenarnya. Malaikat berdesakan memenuhi majelis. Rahmat Allah turun membasahi. Dosa-dosa berguguran. Derajat diangkat setingkat demi setingkat. Nama-nama kita disebut di hadapan para penghuni langit. Dan semua itu hanya dengan satu keputusan: melangkahkan kaki ke majelis ilmu. Ka’ab tidak sedang mengajak kita membenci dunia. Ia hanya mengingatkan agar kita tidak tertukar prioritas. Jangan sampai kita menukar intan dengan kerikil. Jabatan ada masanya. Pasar ada tutupnya. Harta akan kita wariskan. Pekerjaan kita di perusahaan akan ada yang menggantikannya. Namun satu majelis ilmu bisa menjadi sebab anak & keluarga kita mendapat hidayah. Bisa menjadi sebab dosa kita diampuni. Bisa menjadi sebab wajah kita disinari di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Maka sebelum terlambat, datanglah. Tinggalkan sebentar kesibukan. Tunda sebentar urusan dunia. Pilih satu majelis malam ini, dan hadiri dengan hati yang ikhlas. Karena bisa jadi, majelis yang kita anggap biasa itulah yang akan mengubah arah hidup kita. Datanglah. Duduklah. Dengarkanlah. Sebelum Allah memperlihatkan kepada kita besarnya pahala itu… pada hari ketika penyesalan sudah tidak lagi berguna. *YSP*

  • *Hidup di Jalan Allah Kunci Segala Kebaikan* قال رسول الله ﷺ: «مَن كانتِ الآخرةُ هَمَّهُ جعلَ اللَّهُ غِناهُ في قلبِهِ وجمعَ لَه شملَهُ وأتَتْهُ الدُّنيا وَهيَ راغمةٌ، ومَن كانتِ الدُّنيا هَمَّهُ جعلَ اللَّهُ فقرَهُ بينَ عينَيْهِ وفرَّقَ عليهِ شملَهُ، ولم يأتِهِ منَ الدُّنيا إلَّا ما قُدِّرَ لَهُ *Rasulullah ﷺ bersabda*: "Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, Allah akan menanamkan kekayaannya di dalam hati, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina. Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, Allah akan menanamkan kefakirannya di depan matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan ia tidak akan memperoleh dari dunia kecuali apa yang telah ditetapkan baginya." (HR. At-Tirmidzi) Nabi ﷺ dalam hadis ini meletakkan sebuah pedoman agung terkait fokus utama seorang hamba ketika menjalani kehidupan. Beliau menjelaskan bagaimana niat dan perhatian seseorang hamba akan tercermin pada kondisi batin maupun keadaan lahiriah, baik secara psikologis maupun fisik-materi. Dalam hadits ini, manusia terbagi menjadi dua golongan: *Pertama*: Orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya (pemilik cita-cita yang tinggi). Dialah yang menjadikan ridha Allah dan negeri akhirat sebagai tujuan mendasar dalam setiap perbuatan dan tingkah lakunya. Allah menganugerahkan kepadanya tiga hal: (1) Menanamkan kekayaan di dalam hatinya: diberi ketenangan, rasa cukup, dan puas dengan apa yang dimilikinya. Hidup bergantung kepada Allah, tidak menoleh kepada apa yang ada pada orang lain, dan tidak tamak terhadapnya. (2) Allah menyatukan urusannya: segala perkara yang tercerai-berai dikumpulkan, sehingga merasakan ketenteraman jiwa, kestabilan batin, dan kemudahan dalam urusan hidupnya. (3) Dunia datang kepadanya dalam keadaan hina: dunia tunduk dan mengikuti, rezeki yang telah ditetapkan Allah akan datang kepadanya tanpa ia harus merendahkan diri untuk mengejarnya, selama tetap mengambil sebab-sebab yang halal. *Kedua*: Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya (pemilik orientasi duniawi). Dialah yang mengerahkan seluruh pikiran dan tenaganya hanya untuk mengumpulkan harta dunia, mengikuti hawa nafsu, dan mengejar gemerlapnya. Konsekuensi dari arah hidup seperti ini tampak dalam tiga hal yang berlawanan dengan golongan pertama: (1) Allah menanamkan kefakiran di depan matanya: Allah menumbuhkan rasa takut miskin dan kebutuhan dalam hatinya, sehingga tetap serakah dan kalah secara batin. Selalu melihat bayangan kefakiran di hadapannya, meskipun ia termasuk orang kaya. (2) Allah mencerai-beraikan urusannya: segala urusannya menjadi kacau, diliputi kegelisahan dan kesedihan, sehingga tidak pernah merasakan ketenangan dan kestabilan hidup. (3) Tidak memperoleh dari dunia kecuali apa yang telah ditetapkan: meski berlari, bersusah payah, dan menguras pikiran, ia tidak akan mampu mendapatkan lebih dari apa yang sudah ditentukan Allah untuknya. *Kesimpulan* Hadits ini bukanlah ajakan untuk meninggalkan usaha dunia, melainkan seruan membebaskan hati dari keterikatannya. Dunia seharusnya berada di tangan kita untuk melayani agama dan akhirat, bukan menguasai hati hingga menjerat pikiran. Tiada amal yang lebih agung setelah iman kepada Allah selain berjuang menegakkan syariat-Nya, agar hukum-Nya berkuasa dan kalimat-Nya senantiasa tinggi. إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (QS. Qaf [50]: 37) Syaikh Abdurrahman ‘Umar (Ulama Suriah) *YSP*

  • *Tiga Pilar Keselamatan* النجاة في ثلاثة: أكل الحلال، و أداء الفرائض، و الاقتداء بالنبي صلى الله عليه و سلم Keselamatan itu terletak pada tiga perkara: Memakan makanan yang halal, menunaikan segala kewajiban dan meneladani Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. (Sahl bin Abdillah rahimahullah) Kehidupan modern sering membuat hati goyah karena derasnya informasi, kerasnya persaingan, dan godaan materi. Di tengah itu, *Sahl bin Abdillah rahimahullah* mengingatkan: _"Keselamatan itu ada pada tiga perkara: memakan yang halal, menunaikan kewajiban, dan meneladani Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam."_ Tiga kalimat ini mencakup seluruh dimensi hidup seorang Muslim, jasmani, sosial, dan spiritual. Pertama, *menjaga kehalalan*. Maknanya kini jauh lebih luas dari sekadar makanan. Ia menyangkut sumber rezeki, cara membelanjakan, dan apa yang kita konsumsi setiap hari. Di era digital, "makanan" juga untuk mata dan telinga. Konten dusta, ghibah, dan maksiat adalah racun bagi hati, sama seperti harta riba dan transaksi curang. Memilih yang halal di zaman serba instan adalah keberanian iman, karena darinya lahir doa yang dikabulkan, hati yang tenang, dan keberkahan. Kedua, *menunaikan kewajiban*. Bukan hanya ibadah mahdhah seperti shalat dan zakat, tapi juga amanah dunia: menepati janji, mendidik anak, berlaku adil di tempat kerja, dan berbakti kepada orang tua. Saat banyak orang mencari alasan untuk menunda, fondasi hidup justru rapuh bila kewajiban diabaikan. Siapa yang tertib pada hak Allah, maka Allah akan mudahkan urusan dunianya. Ketiga, *meneladani Nabi ﷺ*. Zaman menawarkan banyak panutan yang reputasinya bisa runtuh. Hanya Rasulullah ﷺ yang suri teladannya abadi. Meneladani beliau bukan sekadar penampilan, tapi meniru kejujurannya dalam berdagang, kesabarannya saat dicaci, kelembutannya pada keluarga, dan kedermawanannya pada fakir miskin. Ia memilih memaafkan ketika mampu membalas, memilih jujur ketika bisa berbohong, dan memilih zuhud ketika dunia menawarkan kemewahan. Bahkan termasuk dalam bernegara pun Nabi kita sudah memberikan panduan. Dengan demikian, tiga pilar ini menjadi kompas. Kehalalan menjaga energi kita, kewajiban menjaga keteraturan, dan keteladanan menjaga arah. Keselamatan bukanlah bebas dari ujian, melainkan memiliki ketenangan saat diuji, pegangan saat bingung, dan akhir yang baik di sisi Allah. Maka mari kita mulai dari hal kecil: memastikan setiap rupiah halal, setiap amanah ditunaikan, dan setiap keputusan kita bertanya, _"Andai Rasulullah di posisi saya, apa yang beliau lakukan?"_ Semoga Allah menganugerahkan kita keselamatan dunia dan akhirat. *YSP*

  • المال هو ادنى درجات الرزق، والعافية اعلى درجات الرزق، وصلاح الابناء افضل انواع الرزق، واما رضى رب العالمين فهو تمام الرزق Harta adalah tingkatan rezeki yang paling rendah. Kesehatan adalah tingkatan rezeki yang paling tinggi. Keturunan shalih adalah bentuk rezeki yang paling utama. Adapun ridha Rabb semesta alam, itulah rezeki yang paripurna. (Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya'rawi rh)

  • 2 авг.1 0308

    ‏ثلاث ضيوف يأتون بلا موعد: الرزق و القدر و الموت. اللهم اجعل رزقنا حلالا، واجعل قدرنا جميلا، ولا تأخذنا إليك إلا وأنت راض عنا Ada tiga tamu yg datang tanpa membuat janji dulu, yaitu: rezeki, takdir, dan kematian... Ya Allah jadikanlah bagi kami rezeki yg halal, takdir yg indah, dan wafatkan kami dalam keridha’an-Mu.

  • 31 июл.1 1821

    إن المسلم لا يبلغ حقيقة الإيمان حين يعرف أسماء الله الحسنى، وإنما حين يرى آثارها في حياته، فيتعلق قلبه بالرحمن في الشدة، ويأنس بالحكيم عند القضاء، ويرجو الكريم عند التقصير، ويطمئن إلى العدل عند البلاء. Seorang muslim tidak akan mencapai hakikat iman hanya sekedar dengan mengetahui nama-nama Allah yg indah. Melainkan ketika menyaksikan pengaruh nama-nama tersebut dalam kehidupannya. Maka hatinya bergantung kepada ar-Rahman yg Maha Pengasih saat berada dalam kesusahan, merasa tenang dengan al-Hakim yg Maha Bijaksana ketika menghadapi ketetapan takdir, berharap kepada al-Karim yg Maha Pemurah saat ia lalai, dan merasa tenteram kepada al-‘Adl yg Maha Adil ketika tertimpa ujian. (Ust. Mu'nis Humaid al-'Iraqi)

  • 31 июл.1 1566

    العبد يتقلب في ثلاثة اطباق: ذنب يجب عليه فيه الاستغفار، وابتلاء يجب عليه فيه الصبر، وانعام يجب عليه فيه الشكر. Seorang hamba senantiasa berada dalam tiga keadaan: dosa yg mengharuskannya beristighfar, ujian yg mengharuskannya bersabar, dan nikmat yg mengharuskannya bersyukur. (Ibnul Qayyim rh)

  • 30 июл.1 140из studi_arab

    без подписи

  • 30 июл.1 101из studi_arab

    Kembali Dibuka Pendaftaran Shafar 1448 H Berantas Buta Kitab Gundul Angkatan ke 27 Tahun 2026 Berhubung banyaknya peminat yg ingin belajar bahasa Arab. Team KBA Online kembali membuka pendaftaran bagi calon peserta Kuliah Bahasa Arab Online. Kuliah ini bersifat non formal, dengan desain fleksibilitas tinggi bagi siapapun yg mau ikut, bahkan bagi anda yg super sibuk sekalipun bisa ikut serta. Termasuk bg pemula yg belum punya dasar sekalipun bisa ikut juga. Karena itu, mari bagi yg mau ikut kelas bahasa Arab online gelombang tahun 2026 ini, bisa registrasi segera dgn format: (1) BA_nama + no hp, (2) nama kota tinggal anda, kirim ke admin melalui no wa/tlgrm 085950697212 klik @staffadmincs احرصوا على تعلم اللغة العربية فإنها جزء من دينكم Seriuslah mempelajari bahasa Arab, karena bahasa Arab itu merupakan bagian dari agama kalian. (Umar bin Khattab ra) تعلموا العربية كما تعلمون حفظ القرآن. Pelajarilah Bahasa Arab, sebagaimana kalian belajar menghafal Alquran (Ubayy bin Ka’b ra) Jangan nunggu waktu luang dan kesempatan, namun ciptakan waktu dan kesempatan, belajar b. Arab investasi akhirat. لا تمض يومك في غير منفعة، و لا تضع مالك في غير صنعة Jangan kaulewatkan harimu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, dan jangan kau sia-siakan hartamu untuk sesuatu yang tidak produktif.

  • ‏في المدارس نتعلم الدروس ثم نمر على الامتحانات أما في الحياة فنمر بالامتحانات ثم نتعلم الدروس Di sekolah kita memperoleh pelajaran, lalu melalui ujian. Sedangkan dalam kehidupan nyata, kita melalui ujian terlebih dahulu, setelah itu baru memperoleh pelajaran.

  • 29 июл.1 0784

    اعطوا الله ما يحب يعطكم ما تحبون، استجيبوا لله اذا دعاكم يستجب لكم اذا دعوتموه Berikanlah kepada Allah apa yg Dia cintai, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian apa yg kalian cintai. Penuhilah panggilan Allah ketika Dia memanggil kalian, niscaya Dia akan mengabulkan doa-doa kalian ketika kalian memohon kepada-Nya. (Ibnu al-Jauzi rh)

  • 28 июл.1 2644

    وإذا رأيتم من يعتقد أنه لا ذنب له، فاعلموا أنه قد هلك. وإن العجب من أعظم الذنوب، وأمحقها للأعمال. فتحفظوا حفظنا الله وإياكم من العجب والرياء Apabila kalian melihat ada orang yg merasa tidak punya dosa, ketahuilah dia membahayakan dirinya. Sebab sifat ujub, kagum pada diri sendiri, termasuk dosa besar yg melenyapkan amal kebaikannya. Maka waspadalah semoga Allah lindungi kita semua dari sifat ujub dan riya. (Ibnu Hazm rh)

  • 27 июл.1 2852

    الاشتغال بتطهير القلوب أفضل من الاستكثار من الصوم والصلاة مع غش القلوب Sibuk menyucikan hati itu lebih utama daripada memperbanyak puasa dan sholat sunnah yang disertai kepalsuan hati. (Ibnu Rajab Al-Hanbali rh)

  • الشرع الشريف حث على نشر الخير بين المسلمين، وأن من دعا إلى الله وتبعه غيره فاهتدى بهدايته، أو دل على خيرٍ أو عملٍ صالٍح؛ كتعليم علمٍ، أو عبادةٍ أو أدبٍ أو غير ذلك، فله أجره وأجر من تبعه وعمل بدعوته لا ينقص من أجر الفاعل شيء وذلك لأنَّ الدعوة إلى الخير والهُدى خصلةٌ من خِصال الأنبياء. Syariat Islam yg mulia mendorong umat Islam menyebarkan kebaikan. Siapa yg mengajak orang lain mentaati Allah, lalu yg lain mengikuti dan memperoleh petunjuk, atau menunjukkan kepada kebaikan dan yg lain beramal shalih karenanya; baik berupa penyampaikan ilmu, ibadah, adab, maupun amal saleh lainnya, maka ia memperoleh pahala dari amalnya sendiri sekaligus pahala dari yg mengikutinya dan beramal karena ajakan tersebut, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Hal ini karena dakwah mengajak kepada kebaikan dan petunjuk adalah warisan mulia dari para nabi. (Syaikh Prof. Syauqi Ibrahim 'Allam)

  • 24 июл.1 1912

    قال أبو الليث: من جلس عند عالم ولم يقدر على حفظ شئ من العلم نال سبع كرامات فضل المتعلمين وحبسه عن الذنوب ونزول الرحمة عليه حال خروجه من بيته وإذا نزلت الرحمة على أهل الحلقة حصل له نصيب ويكتب له طاعة ما دام مستمعا وإذا ضاق قلبه لعدم الفهم صار غمه وسيلة إلى حضرة الله تعالى ويرى عز العالم وذل الفاسق فيميل طبعه الى العلم ويرد قلبه عن الفسق Abu al-Laits rh berkata: Siapa yg hadir di majelis seorang ulama, meskipun tidak mampu menghafal sedikit pun ilmu yg disampaikan, maka tetap memperoleh tujuh kemuliaan: 1) Mendapatkan keutamaan sebagai pencari ilmu, 2) dijauhkan dari dosa, 3) mendapat rahmat Allah yg turun kepadanya sejak keluar rumah menuju majelis, 4) memperoleh pula bagian rahmat yg turun pada jama'ah majelis, 5) dicatat sebagai ketaatan selama menyimak, 6) dijadikan kesedihannya karena belum paham sebagai jalan mendekat kepada Allah, 7) serta hatinya akan condong kepada kemuliaan ilmu dan berpaling dari kefasikan karena ia menyaksikan langsung bedanya orang berilmu dan orang yg fasik.