RIHLAH SYABAB
СтатистикаRihlah Syabab: Catatan Ringan yang semoga bermanfaat untuk bersama. ✉️📨Surel: abuzurah31@gmail.com
- Последний пост
- 29 июл.
- Последнее чтение
- 13 авг.
- Постов за неделю
- 0
- Всего постов
- 21
- Тип
- открытый
- Язык
- индонезийский
- Категория
- Религия (по похожим)
- В каталоге с
- 13 авг.
- 1/24сутки в ленте
- 303
- 1/48двое суток
- 347
- 1/72трое суток
- 374
Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.
Посты
📃(99) Kenapa Harus Tauhid yang pertama? " Ada kuburan... Ada Kuburan..." Teriak ringan anak-anak santri ketika singgah di sebuah masjid dalam agenda perjalanan safar. Menanamkan akidah Tauhid & bahaya kesyirikan merupakan perkara yang wajib bagi pendidik bagi para Orangtua. Coba bayangkan ketika seorang mati diatas kesyirikan apa yang terjadi padanya. Pasti tempat kembalinya Neraka. Tak akan diampuni dosanya. Terus bagaimana yang terus menerus didalam kesyirikan sampai meninggal!!! Miris melihat saat-saat ini seolah perkara kesyirikan di legalkan dan menjadi perkara yang lumrah dengan alasan Budaya atau semisalnya... Padahal Allah تعالى jelas mengancam: { وَلَقَدۡ أُوحِیَ إِلَیۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكَ لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ } [سُورَةُ الزُّمَرِ: ٦٥] Nabi صلى الله عليه وسلم saja diingatkan kalau beliau berbuat syirik akan dihapus seluruh amalan kebaikannya dan dimasukkan dalam golongan yang merugi. Bagaimana dengan Mereka yang jauh dari Nubuwah. Lebih pantas lagi ancaman tersebut berlaku. Fokus ajarkan Tauhid dan Bahaya kesyirikan semenjak dini sebelum terlambat. Semoga Allah memberikan keIstiqomahan kepada kita sampai akhir hayat. Join: https://t.me/RihlahSyabab ✍Abu Zur'ah Muhammad Salihin
. Mengapa Air Zamzam Terasa Payau❓ Al-Hafizh Ibnu Hajar pernah bertanya kepada gurunya, Ibnu 'Arafah, tentang ini. Beliau menjawab, ‘Air Zamzam tidak diciptakan tawar agar diminum dengan tujuan ibadah, bukan untuk dinikmati begitu saja.’ (Mufidul Anam karya Ibnu Jasir, 4/255). Syaikh Al-'Utsaimin rahimahullah juga berkata, Dalam hadits disebutkan, "Air Zamzam sesuai dengan niat orang yang meminumnya." Hal itu karena air Zamzam tidaklah segar dan manis, melainkan cenderung asin. Seorang mukmin tidaklah meminum air yang cenderung asin ini kecuali karena yakin akan keberkahannya. Maka, meminumnya hingga kenyang merupakan bukti keimanan. (Asy-Syarhul Mumti', 7/348). 📱| Dikutip dari channel Syaikh Ubaid Asy-Syamri (salah satu masyaikh Irak). .
. Jangan Bawa Kesedihan ke Rumah! Imam Abu Ishaq Al-Harbi – rahimahullah – berujar, “Aku tak pernah mengeluhkan kepada ibuku, saudara perempuanku, istriku, atau anak-anak perempuanku, tentang sakit apapun yang menimpaku. Sebab seorang lelaki sebenarnya adalah mereka yang menanggung sendiri kesedihannya. Bukan malah menjadi beban keluarganya. Dan sungguh, sudah 25 tahun aku menderita sakit kepala yang amat sangat, tak pernah sekalipun kusampaikan pada siapa pun. Dan sudah 20 tahun penglihatanku hanya bertumpu pada satu mata, tapi tak sekali pun aku membahasnya.” [ Thabaqat Al-Hanabilah 1/220 ] . Sumber : Al jauziyyah
Keempat : Bagi yang ingin memperdalam ilmu Al Qur’an, maka persiapkan betul hafalan Al Qur’an mu! Di Masjid Nabawi, halaqah-halaqah Al Qur’an sangat banyak pilihannya. Mulai dari tahsin, hifz, murojaah, hingga ijazah bersanad. Semuanya harus diuji sebelum masuk, dan setelah berjalan selalu ada ujian-ujian. Kelima : Sejak sebelum berangkat, tentukan target dan tujuannmu! Apa yang engkau cari di kota Madinah? Apa yang hendak engkau pelajari di Masjid Nabawi? Ingat, ilmu itu sangat luas. Ilmu itu berbagai macam disiplin. Andaikan kita punya waktu puluhan tahun, seumur hidup, belum tentu satu bidang ilmu bisa dikuasai. Apalagi jika waktunya hanya terbatas beberapa tahun, atau beberapa bulan. Maka, diskusikan dan mintalah saran kepada seorang ustadz tentang target thalabul ilmi di kota Nabi. Intinya, dalam hitung-hitungan manusia; siapa yang sungguh-sungguh thalabul ilmi di Indonesia, dia akan sungguh-sungguh thalabul ilmi di kota Madinah. Sebaliknya, kalau di Indonesia malas dan tidak semangat, sulit rasanya untuk kemudian di Madinah bisa tekun dan tahan banting dalam thalabul ilmi. Ingat, Thalabul ilmi tidak bisa bergantung pada orang lain. Kesadaran dan kemauan harus dimulai dari diri sendiri. Semoga kita istiqamah dalam thalabul ilmi. Tanah Suci, 06 Rabiul Awwal 1447 H/29 Agustus 2025 https://t.me/anakmudadansalaf
(345) Thalabul Ilmi Pun Berjihad. Apa Bekalmu? Di mana pun, thalabul ilmi bisa dilakukan. Namun, tulisan ini fokus pada cita-cita setiap hati yang terpaut di kota Nabi. Madinah adalah pusat ilmu dan sumber peradaban. Di sana ada Masjid Nabawi yang memiliki banyak kekhususan dan keistimewaan. Satu dari 3 tujuan syaddur rihaal, selain Masjdil Haram dan Masjidil Aqsha. Apa yang didapat di Madinah, sesuai tekad dan niat. Ada yang niatnya murni bekerja. Ada yang jalan-jalan dan traveling. Ada yang ingin beribadah. Ada yang belajar dengan macam-macam pilihan disiplin ilmu. Ada yang penasaran. Ada yang bikin konten medsos. Ada yang sekadar diajak dan ikut-ikutan. Bahkan ada yang bingung jika ditanya tujuan. Ini tentang seorang thalibul ilmi yang bertekad menimba ilmu di kota Madinah, khususnya di Masjid Nabawi. Thalabul ilmi adalah jihad. Jangan ragukan itu! Sahabat Abu Darda’ (Jami’ Bayan, Ibnu Abdil Barr 116) menegaskan, “ Barangsiapa menganggap berangkat menuntut ilmu, baik pagi maupun petang, bukan termasuk berjihad, maka sungguh akal dan pikirannya telah berkurang “. Apalagi di Masjid Nabawi! Rasulullah ﷺ bersabda : مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا، لَمْ يَأْتِهِ إِلَّا لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ، فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ، فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ “ Barangsiapa datang ke masjidku ini. Dia tidak datang kecuali untuk kebaikan yang ingin dipelajarinya atau diajarkannya, maka kedudukannya seperti orang yang berjihad fi sabilillah. Barangsiapa datangnya untuk selain tujuan tersebut, maka kedudukannya seperti seseorang yang melihat-lihat barang milik orang lain “ HR Ibnu Majah nomor 227 dari sahabat Abu Hurairah. Untuk berjuang di palagan thalabul ilmi, tentu bukan tanpa modal dan dengan tangan kosong. Berikut ini beberapa hal yang harus dipersiapkan ; Pertama: Niat. Ulama ahli hadis bernama Hisyam Ad Dustuwa’i bercerita, “ Demi Allah, saya tidak berani memastikan bahwa; saya pernah menuntut ilmu hadits, walaupun satu hari saja, dalam rangka berharap wajah Allah ‘azza wa jalla “. Adz Dzahabi (Siyar A’lam, 7/152) menanggapi, “ Demi Allah, saya pun tidak berani memastikan untuk diri saya sendiri “. Point ini sangat penting. Ikhlas itu antara dirimu dengan Allah Ta’ala. Tidak gampang ikhlas itu. Tidak segampang ketika mengaku-aku. Ikhlas dibuktikan dengan semangat, konsistensi, dan istiqamah hingga akhir. Kedua: Mental yang membaja! Thalabul ilmi itu ibarat berperang. Tidak ada istirahatnya. Tidak ada istilah menyerah, lelah, apalagi berpikir mundur ke belakang. Jangan lari meninggalkan gelanggang thalabul ilmi! Ingat, ada lapar dan haus. Ada dingin atau panas. Ada capek juga letih. Ada saat di mana betapa sulitnya mencerna pelajaran, betapa beratnya menghafal materi, dan betapa berlapisnya beban ketika harus ujian. Ada bosan yang selalu datang. Ada jenuh yang terus mengganggu. Seringkali harus menunggu, dan lagi-lagi menunggu. Karena, tidak semua rencana berjalan semanis dan selancar yang disusun. Banyak kejadian muncul tiba-tiba. Benar-benar di luar dugaan. Di situ, mental thalibul ilmi diuji! Rapuh atau kokoh? Ketiga: Persiapkan bahasa Arab mu sebaik mungkin! Jangan remehkan bekal ini! Ingat, setibanya di kota Madinah, semua aktivitas belajar berkaitan dengan bahasa Arab. Jangan alasan, “ Ah, aku belajar sambil jalan saja. Biar mengalir “. Kesempatan thalabul ilmi di Madinah waktunya terbatas. Tidak ada yang bisa menjamin bisa lama. Maka, selagi masih ada waktu di Indonesia, kuatkan basis bahasa Arab mu! Sehingga, tibamu di Madinah, langsung aktif dalam kegiatan belajar. Tidak perlu lagi adaptasi bahasa. https://t.me/anakmudadansalaf
✨ *Spesial Promo Agustus, Umrah Bulan September 2025* 🇮🇩 Hanya Rp 15 JUTA SUDAH BISA BERANGKAT UMRAH! 📍 Start dari Kota Jakarta, Pekanbaru, dan Padang 🛫 *Fasilitas Utama:* ✅ Tiket pesawat ekonomi (PP) – Tiket sudah _Confirm_. ✅ Hotel di Mekkah dan Medinah 🌟3. Bisa jalan kaki ✅ Free City Tour ke Thaif. Umrah ke-2 (Badal Umrah), Miqat _Qarnul Manazil_. ✅ Free Bagasi: 20-25 kg ✅ Langsung berangkat hanya dengan bayar *Rp 15jt* ✅ Sisa bisa dicicil sepulang umrah Rp 500rb-1jt/ bulan ❗ *Catatan Penting:* 🚫 *Tidak Termasuk*: 🛄 Perlengkapan umrah (+Rp 1.500.000). 📆 *Khusus pendaftaran tgl 28 Agustus - 05 September 2025 (Tidak berlaku sebelumnya)* 💰 Untuk jemaah yang melunasi sebelum keberangkatan, total setor hanya Rp 22jt. 📃 Pembimbing Ibadah: Ustadz Abu Zur'ah Muhammad Salihin حفظه الله (Pengajar Ma'had Dzunnurain Parung Bogor Jawa Barat) 📞 *Segera daftar dan amankan seat Anda! Hubungi kontak dibawah: 📲Ikhwan/Pria: 085255801108 📲Akhwat/Wanita: +62 812-5431-9070. InsyaAllah perjalanan Umrah lancar, berkah, dan penuh makna. _*Barakallahu fiikum*_
без подписи
✅ Pekerjaan yang paling Afdhal بسم الله الرحمن الرحيم Bekerja atau memiliki profesi merupakan salah satu sebab seorang bisa melaksanakan kewajiban Allah subhanahu wa ta’ala, terlebih lagi seorang pria muslim yang memiliki tanggungan pihak – pihak yang wajib ia nafkahi. ❓Lalu apakah profesi yang paling utama? Ternyata para ulama pun berbeda pendapat dalam hal ini, 1. Ada yang berpendapat lebih baik bertani karena pertani memiliki tawakkal tinggi kepada Allah agar Allah menurunkan hujan, dan hasilnya bermanfaat untuk banyak orang. 2. Pendapat lain berdagang lebih utama, karena padanya terdapat kemulianb dan keberkahan. 3. Pendapat lain : menjual jasa atau skil keahlian tertentu, karena bisa bermanfaat untuk kalangan yang lebih luas. Namun profesi yang paling Afdhal adalah yang sesuai dengan sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam: احرص على ما ينفعك Yaitu : Yang paling bermanfaat” Paling bermanfaat untuk dirinya, paling bermanfaat untuk keluarganya, dengannya dia bisa melaksanakan kewajiban menafkahi keluarga, orang tua dan anak-anaknya, atau dengan nya dia bisa melunasi hutang-hutangnya. Tentu yang paling bermanfaat untuk ketentraman jiwa dan hatinya dan dapat meningkatkan ibadah dan ketaatannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Akhir kalam, Semoga Allah azza wa jalla selalu memberikan kita profesi yang halal, berkah dan menjadi wasilah kebaikan dunia akhirat kita . آمين يا رب العالمين ✍ Disarikan dari penjelasan syekh Abdurrahman bin Nashir As'Si'di rahimahullah. @Ibnu_Salihin #masjid muhajirin kalteng 📆Senin 21 Juli 2025 / 25 Muharram 1447 H. https://t.me/atstsabaat
без подписи
без подписи
без подписи
(98) Merajut Ukhuwah meraih Istiqomah Suasana sejuk, Sepoi angin dan Cuaca dingin membersamai para Santri di lembah gunung gede pangrango, Tenda-tenda didirikan sebagai tempat istirahat, tak lupa dapur Umum dibuat untuk menunjang konsumsi para peserta camping. Camping santri tahun ini membawa pesan: " merajut Ukhuwah meraih Istiqomah" tujuan dari pesan tersebut meskipun para santri berbeda-beda tempat belajarnya, berbeda asalnya ukhuwah tetap selalu dijaga. Diantara bentuk mempererat ukhuwah adanya agenda camping tahunan, diikuti 17 pondok pesantren Ahlussunnah yang tersebar di Jakarta, Jawa barat, Jawa tengah. Agenda kumpul seperti ini juga merupakan ajang untuk memperat perhatian antara anak dan orangtua. Tak sedikit para orangtua yang mengikuti agenda camping tahun ini. Total keseluruhan peserta tahun ini kurang lebih 800 orang terdiri dari santri dan Wali santri. Tutur Abu Zubair selaku ketua pelaksana acara camping. Petugas dapur memasak sekitar 70 kg beras untuk sekali makan peserta, dedikasi para petugas dan panitia perlu di apresiasi, tak kenal lelah dan capek dalam membantu kelancaran dalam berlangsungnya acara. Semoga Allah تعالى, membalas dengan yang lebih baik. Permainan yang mendukung persahabatan antara santri tak lupa dilaksanakan dari sepak Bola, Lomba Lari, Pembacaan puisi, Pantun dan atraksi bela diri dan semisalnya. Semuanya kembali pada tujuan "Mempererat Ukhuwah antara Ahlus Sunnah." Teringat pesan ulama terdahulu ketika untuk selalu berpesan dengan kebaikan karena mereka termasuk orang - orang yang asing ditengah komunitas Masyarakat. Imam Sufyan At-Tsauri betutur: استوصوا بأهل السنة خيرًا فإنهم غرباء" . " Berpesanlah kebaikan untuk Ahlus Sunnah karena mereka termasuk orang-orang yang Asing " Yuk, Sudah saatnya bersatu diatas kebenaran dan Istiqomah diatasnya sampai akhir hayat kita. https://t.me/RihlahSyabab Wisata Alam Pangsalatan. Ahad 21 Juli 2025 M/25 Muharram 1447H
Rekening donasi yayasan Pusdiklatmu: 692501022180531 A/n: YAYASAN PUSDIKLATMU
без подписи
(338) Rezeki Terjamin! Kata-kata Ibnul Qayyim (Al Fawaid, hal.57) berikut sangat bermakna, فَمَا دَامَ الْأَجَلُ بَاقِيا كَانَ الرزق آتِيَا “ Sepanjang hidup masih berlangsung, sepanjang itu lah rezeki bersambung “. Selanjutnya Beliau mempertegas, “ Dengan hikmah dari Allah, jika Dia menutup satu pintu dari sekian banyak pintu rezeki, pasti Allah dengan rahmat- Nya membukakan pintu rezeki lain yang jauh lebih bermanfaat “. Kemudian Ibnul Qayyim menerangkan fase manusia dari sejak janin hingga di surga, tentang pintu-pintu rezekinya. Alhamdulillah was syukru lillahi wahdah. Kegiatan belajar mengajar di Pusdiklatmu Lendah berbasis bebas biaya alias gratis. Bukan karena ada donatur yang memback-up secara keseluruhan. Bukan karena kemampuan dalam tata kelola keuangan. Bukan pula karena pandai berefisiensi anggaran. Semata-mata karunia dari Allah Ta’ala. Dengan jumlah siswa rata-rata 70 per tahun, keyakinan bahwa tiap-tiap orang telah ditentukan dan dipastikan rezekinya, sangatlah menyejukkan. Kenapa mesti mengkhawatirkan suatu hal yang telah ditetapkan Allah semenjak belum terlahir di dunia? Sabda Rasulullah ﷺ di dalam hadis Ibnu Mas’ud (Bukhari 3208 Muslim 2643) merupakan pegangan kuat-kuat, bahwa setelah fase janin menjadi segumpal daging; ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الـْمَلَكُ فَيَنفُخُ فِيْهِ الرٌّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ “ Kemudian diutuslah malaikat, lalu meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan untuk menulis 4 perkara; tentang rezekinya, amalannya, ajalnya, dan apakah termasuk orang sengsara atau bahagia “ Melalui pesan singkat ini, izinkan kami untuk mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas support luar biasa yang telah diberikan. Tidak ada kalimat yang dapat kami ucapkan, selain : Jazaakumullahu khairan wa baarakallahu fiikum, wahai hamba Allah yang dermawan. Semoga Allah Ta’ala membalas dengan kebaikan dan keberkahan berlimpah. Ada seorang yang baik. Saya tidak mengenal Beliau secara langsung. Beliau nya pun tidak pernah memperkenalkan diri. Beliau hampir setiap hari Jum’at mengirim bukti transferan ke rekening Lembaga Pendidikan di sini. Sudah berjalan lebih dari setengah tahun. Subhaanallah! Nilainya bagi banyak orang mungkin tidak seberapa, namun bagi kami sangat bermakna. Pernah 50 ribu, kadang 25 ribu, dan yang paling sering 20 ribu. Pernah saya membalas chat Beliau dengan doa, “ Masya Allah. Njih, Mas. Mudah-mudahan Njenengan selalu diliputi kedamaian”. Terakhir transfer, balasan saya adalah, “ Nun injih, Mas. Semoga Njenengan selalu diberi perlindungan oleh Allah Ta’ala”. Iya, hanya doa dan kata-kata. Tidak ada yang lebih dari itu yang bisa kami lakukan. Semoga kelak di padang Mahsyar, Panjenengan sekeluarga beroleh naungan yang meneduhkan. Sebagaimana Panjenengan gemar berbagi, mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan ganti yang jauh lebih baik, dan memperluas rezeki yang berkah. Baarakallahu fiikum Lendah, 18 Muharram 1447 H/14 Juli 2025 Abu Nasim Mukhtar bin Rifai https://t.me/anakmudadansalaf
без подписи
📜Kalam Bijak Ulama Dulu dikatakan, orang yang bertakwa itu, syahwatnya lebih kuat. Karena orang yang tidak bertakwa, biasanya akan melampiaskan syahwatnya dengan ‘melihat’ dan ‘menyentuh’. Bukankah kamu tahu, sebuah riwayat menyebutkan, “Kedua mata bisa berzina, kedua tangan pun bisa berzina”? Ketika ia telah melampiaskan syahwatnya lewat ‘pandangan’ dan ‘sentuhan’, keinginannya untuk berjima' menjadi kurang. ◈ Sedangkan orang yang bertakwa, ia selalu menahan diri dari ‘melihat’, apalagi ‘menyentuh’, sehingga syahwatnya bertumpuk dalam dirinya, menjadikannya lebih sering melakukan jima’. ▣ Abu Bakar Al-Warraq berkata, “Setiap (pelampiasan) syahwat dapat mengeraskan hati, kecuali jima’, jima’ dapat menjernihkan hati. Oleh karena itu para nabi pun melakukannya.” 📚 | Tafsir Al-Qurthubi (An-Nisa: 54). #Kalam Bijak Sumber:https://t.me/aljauziyyah
без подписи
Foto dari MUJAWWAD TOUR & TRAVEL
(321) Yang Kadang Terlewatkan Tentang Zuhud Karena harta, manusia saling bunuh. Karena wanita, manusia tidak menghargai nyawa. Karena jabatan, kawan seperjuangan difitnah dengan kejam. Demi sesuap nasi, batasan halal haram tidak dipedulikan. Demi hobi dan kesenangan, banyak kewajiban diabaikan. Demi uang, murka Allah tidak ditakuti. Iya, walaupun demikian, tidak sedikit hamba-hamba Allah yang memilih hidup zuhud. Masih ada yang tidak rakus harta. Masih ada yang menahan pandangan dan hati terhadap wanita. Masih ada yang tidak terbawa arus memburu jabatan. Ada hamba Allah yang mencukupkan dengan makanan dan minuman yang ada. Ada hamba Allah yang tidak mau mengorbankan kewajibannya demi hobi. Ada hamba Allah yang tidak mata duitan. Bicara tentang zuhud, seringkali pikiran langsung terkoneksi dengan hal-hal keduniaan yang rela ditinggalkan demi meraih cinta Allah Ta’ala. Benar! Itulah zuhud. Namun, zuhud tak hanya tentang itu. Ibnul Qayyim dalam Thariqul Hijratain menyebutkan jenis dan tingkatan zuhud. " Zuhud terhadap dirimu sendiri! Inilah bentuk zuhud yang paling berat, dan paling sulit ", terang Ibnul Qayyim. Beliau menjelaskan bahwa; zuhud terhadap hal-hal yang haram, masih terbilang mudah. Zuhud terhadap hal-hal makruh, hal-hal mubah secara berlebih, dan hal-hal keduniaan, semuanya masihlah dapat dicapai banyak orang. Namun, zuhud terhadap diri sendiri, inilah yang sulit! Apa yang dimaksud zuhud terhadap diri sendiri? Ibnul Qayyim membuatnya menjadi 2 tahapan. Tapi, kita bicara tahapan pertama saja terlebih dahulu. " Engkau buat dirimu mati, sehingga tidak ada lagi harganya sama sekali. Jangan marah karena merasa dirimu berharga, jangan senang kepada seseorang karena merasa dirimu dihargai. Jangan membela dirimu sendiri, jangan ingin membalas karena merasa dirimu tidak dihargai ", jelas Ibnul Qayyim. Ibnul Qayyim memang benar! Ada orang mampu zuhud terhadap hal-hal keduniaan, namun sulit berzuhud terhadap dirinya! Ia melihat dunia tidak ada harganya. Ia memandang rendah jabatan, harta, godaan wanita, dan apapun tentang dunia. Namun, ia masih merasa dirinya ada harga, hingga tidak seharusnya dicela. Ia masih merasa dirinya tinggi, hingga tidak pantas direndahkan. Ibunda Aisyah menerangkan tentang Rasulullah ﷺ: وما انْتَقَمَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ لِنَفْسِهِ في شيءٍ قَطُّ، إلَّا أنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ، فَيَنْتَقِمَ بهَا لِلَّهِ " Demi Allah! Beliau tidak pernah satu kali pun marah demi membela diri sendiri, kecuali ada hukum Allah yang dilanggar, barulah Beliau marah karena Allah " HR Bukhari 6126 Muslim 2327 Menurut An Nawawi hadis di atas mengajarkan kita (terkait pribadi) untuk mudah memaafkan, berlapang jiwa, dan tidak mempedulikan gangguan orang. Benar-benar sulit! Seperti keterangan Ibnul Qayyim! Seseorang bisa makan minum seadanya. Dia bisa berpakaian sangat sederhana. Dia bisa irit bicara. Dia bisa hidup ala kadarnya. Tapi, saat dirinya dicela dan dihina, marahlah dia! Ketika dibilang pelit, ia tersinggung (padahal memang pelit). Ketika dikatakan bodoh, ia sakit hati (padahal siapa di antara kita yang tidak bodoh?). Ketika dikomentari tidak berperasaan, tidak ikut andil, tidak berpartisipasi, atau tidak mau membantu (padahal kenyataannya demikian), dia tidak terima. Bahkan dia cenderung untuk menyebutkan satu per satu "kebaikan", "andil', dan "partisipasi" yang pernah dia lakukan. " Dirimu sendiri, menurutmu, adalah hal yang paling najis untuk dibela", kata Ibnul Qayyim. Jika zuhud sudah di tingkat ini, maka ia sudah melewati tanjakan terakhir dalam perjalanan. Ia telah tiba di puncak tertinggi. Setelahnya, kata Ibnul Qayyim, " Ia bisa turun ke lembah keabadian, mereguk dari mata air kehidupan. Ruh nya telah terbebas dari penjara ujian dan cobaan. Ruh nya telah terbebas dari belenggu syahwat. Dan dia benar-benar sudah berkaitan dengan Rabb nya, Sesembahan nya, dan Pelindung nya, yaitu Dzat Yang Maha Benar". Mudah-mudahan Ramadhan tahun ini, kita semakin jauh melangkah menuju kebaikan. Lendah, 22 Ramadhan 1446 H t.me/anakmudadansalaf