tgindex
🟢 Fawaid Hazimiyah

🟢 Fawaid Hazimiyah

Статистика

💧 Tetesan dari Lautan Ilmu dan Hikmah 📮 t.me/bhzm20_bot # https://t.me/musykudanah 🟢 Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbB4FyYFXUuRt5u44T0Y

Последний пост
15 авг.
Последнее чтение
15 авг.
Постов за неделю
3
Всего постов
431
Тип
открытый
Язык
und
Категория
Религия (по похожим)
В каталоге с
13 авг.
Подписчики
6 358
+2 за 6 дн.
Сутки
−2
−0,03%
Неделя
 
Месяц
 
Просмотров на пост
1 678
40 постов
Вовлечённость
26,4%
к подписчикам
Постов в день
0,4
всего 431
Упоминаний
11
каналов
Охват размещения
оценка
1/24сутки в ленте
686
1/48двое суток
786
1/72трое суток
847

Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.

Посты

  • Santun dan tegas...

  • .... Memang, sejarah para salaf sangat memengaruhi semangat kita dalam menuntut ilmu. Ketika semangat mulai memudar, bacalah kembali kisah-kisah mereka. Baca sejarah mereka, ahlul akhirah ya..., jangan ahlud dunya, gak bakal nyambung. Di antara kisah yang begitu menggugah adalah perjalanan Baqi bin Makhlad rahimahullah dalam mencari hadis kepada Imam Ahmad rahimahullah. Beliau menempuh perjalanan yang luar biasa, dari Andalusia menuju Baghdad dengan berjalan kaki selama kurang lebih dua tahun. Ketika hampir sampai di Baghdad, beliau mendapat kabar bahwa Imam Ahmad rahimahullah sedang dipenjara di rumahnya dan dilarang mengajar. Namun, berita itu tidak membuat langkah Baqi bin Makhlad berhenti. Sesampainya di Baghdad, beliau pun berusaha menemui Imam Ahmad rahimahullah. Demi mendapatkan hadis dan ilmu dari sang imam, beliau rela merendahkan dirinya, bahkan menyamar sebagai orang miskin yang berkeliling meminta-minta, agar dapat bertemu dengan Imam Ahmad tanpa menimbulkan kecurigaan. Dengan kesungguhan itu, terkumpullah sekitar tiga ratus hadis. Subhanallah! Bukan sekadar perjalanan yang jauh, tetapi juga pengorbanan yang besar. Bukan hanya kaki yang lelah, tetapi harga diri pun rela beliau kesampingkan demi satu tujuan: mencari ilmu. Hingga ketika Imam Ahmad rahimahullah kembali diperbolehkan mengajar, beliau selalu mempersilakan Baqi bin Makhlad rahimahullah untuk duduk dekat di sisinya. Bahkan, beliau memberikan tazkiyah yang sangat tinggi kepada Baqi dengan makna: “Orang seperti ini pantas disebut sebagai penuntut ilmu.” Lalu bagaimana dengan kita? Ya Rabb... Kita yang hanya menghadiri majelis ilmu seminggu sekali, dua kali, bahkan sebulan sekali. Ada yang semangatnya hanya ketika daurah. Ada yang baru membuka kitab ketika ada kesempatan. Bahkan, terkadang baru beberapa kali tidak hadir, sudah merasa cukup. Belum lagi ketika tersinggung oleh ucapan seorang ustaz, padahal mungkin sang ustaz tidak bermaksud menyinggung siapa pun, lalu kita meninggalkan majelisnya. Apakah kita sudah pantas mengaku sebagai thalabul ilmi? Baqi bin Makhlad berjalan kaki bertahun-tahun demi hadis. Mereka rela lapar, letih, demi mendapatkan ilmu. Ketahuilah... Kekesalan apa pun yang engkau rasakan selama menuntut ilmu, bahkan jika sebagian kekesalan itu sebenarnya engkau ada-adakan sendiri, kelak menjadi penyesalan yang panjang. Hari-hari yang telah berlalu tidak akan kembali. Majelis yang telah engkau tinggalkan mungkin tidak akan pernah engkau temui lagi. Ustaz yang dahulu bisa engkau datangi mungkin suatu hari tidak lagi berada di tempatnya. Dan kesempatan untuk duduk di majelis ilmu yang dahulu begitu mudah, bisa jadi kelak menjadi sesuatu yang sangat engkau rindukan. Jangan biarkan ego mengalahkan ilmu. Jangan biarkan satu ucapan menghapus bertahun-tahun kebaikan. Jangan tinggalkan majelis hanya karena hatimu tersinggung. Belajarlah untuk menundukkan jiwa demi ilmu, sebagaimana para salaf menundukkan diri mereka demi mendapatkan ilmu. Semoga Allah menghidupkan kembali semangat kita dalam menuntut ilmu, mengikhlaskan niat kita, dan menjadikan kita benar-benar termasuk thalabatul ‘ilmi yang sabar dalam menempuh jalan ilmu. •┈┈•┈•⊰▫️⊱•┈•┈┈• ☕ Fawaid Hazimiyah 🔵 Telegram: https://t.me/abuhazim_faris 🟢 WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbB4FyYFXUuRt5u44T0Y

  • без подписи

  • 11 авг.1 079311

    https://shamelagpt.com/ Maktabah Syamilah Versi AI Sangat memudahkan dalam pencarian referensi. Walhamdulillah

  • 10 авг.1 08654

    .... Di sini terdapat satu faedah penting yang hanya sedikit orang yang menyadarinya, kecuali orang yang benar-benar memahami perkara ini: Setiap orang yang bertaubat pasti pada awal taubatnya akan mengalami suatu tekanan dan himpitan dalam hatinya, berupa kegelisahan, kesedihan, kesempitan, atau duka. Bahkan, jika tidak ada sebab lain, rasa sakit karena harus berpisah dengan sesuatu yang dicintainya saja sudah cukup membuat hatinya tertekan dan sesak. Karena ujian inilah, banyak orang yang kembali dari taubatnya dan akhirnya mundur serta kembali kepada keadaan semula. Adapun orang yang memahami perkara ini dan diberi taufik oleh Allah, ia akan mengetahui bahwa kegembiraan, kebahagiaan, dan kenikmatan yang dirasakan setelah taubat akan sebanding dengan tekanan dan kesulitan yang ia rasakan ketika bertaubat. Semakin kuat dan berat tekanan tersebut, semakin sempurna pula kegembiraan dan kenikmatan yang diperolehnya. Sebab, semakin besar sesuatu yang ingin diraih, semakin banyak pula rintangan dan penghalang yang menghadang untuk mencapainya. Referensi: Thariq al-Hijratain, 1/529 •┈┈•┈•⊰▫️⊱•┈•┈┈• ☕ Fawaid Hazimiyah 🔵 Telegram: https://t.me/abuhazim_faris 🟢 WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbB4FyYFXUuRt5u44T0Y

  • 5 авг.1 69032

    .... Apa Makna Perkataan Ulama, "Niat Seseorang Lebih Agung daripada Amalnya"? Penjelasannya dapat ditinjau dari beberapa sisi: Pertama, niat yang belum disertai amal tetap dapat diberi pahala, sedangkan amal yang tidak disertai niat tidak akan bernilai pahala. Kedua, seseorang yang berniat melakukan kebaikan, kemudian telah mengerjakan semampunya, tetapi tidak mampu menyempurnakannya karena suatu uzur, maka ia tetap memperoleh pahala seperti orang yang menyempurnakan amal tersebut. Ketiga, hati adalah raja bagi seluruh anggota badan, sedangkan anggota badan adalah tentaranya. Apabila rajanya baik, baik pula para tentaranya. Sebaliknya, apabila rajanya rusak, rusak pula para tentaranya. Niat merupakan amalan hati, yaitu amalan sang raja, sedangkan amalan lahiriah hanyalah amalan para tentaranya. Keempat, tobat orang yang tidak mampu lagi melakukan maksiat tetap sah menurut Ahlus Sunnah. Misalnya, tobat orang yang telah kehilangan alat kelaminnya dari perbuatan zina, atau tobat orang yang lidahnya telah terpotong dari perbuatan menuduh (qadzaf), dan maksiat-maksiat lainnya. Sebab, hakikat tobat adalah tekad dan penyesalan dalam hati, dan hal itu tetap ada meskipun seseorang tidak lagi mampu melakukan maksiat tersebut. Kelima, niat pada dasarnya tidak dimasuki kerusakan sebagaimana amalan-amalan lahiriah. Sebab, hakikat niat adalah kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya serta keinginan untuk mencari rida-Nya. Semua itu pada dirinya merupakan sesuatu yang dicintai dan diridai oleh Allah dan Rasul-Nya. Adapun amalan lahiriah, banyak sekali gangguan dan penyakit yang dapat merusaknya. Selama amalan itu belum selamat dari berbagai penyakit tersebut, maka belum tentu diterima. Oleh karena itu, amalan hati yang murni lebih utama daripada amalan anggota badan yang berdiri sendiri. Sebagian ulama salaf berkata, "Kekuatan seorang mukmin terletak pada hatinya, meskipun tubuhnya lemah. Adapun kekuatan seorang munafik terletak pada tubuhnya, sementara hatinya lemah." Penjelasan mengenai hal ini masih sangat panjang. Wallahu a'lam. Sumber: Majmu' al-Fatawa, 22/243. Beliau rahimahullah menyebutkan dalil-dalil yang menguatkan setiap poin di atas. Ringkasan ini hanya memuat pokok-pokok penjelasannya. •┈┈•┈•⊰▫️⊱•┈•┈┈• ☕ Fawaid Hazimiyah 🔵 Telegram: https://t.me/abuhazim_faris 🟢 WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbB4FyYFXUuRt5u44T0Y

  • 4 авг.1 80495

    .... Berturut-turut munculnya berbagai persoalan dalam benak merupakan tanda kecerdasan dan pemahaman. Itulah salah satu jalan menuju ilmu. Sebab, sudah menjadi sesuatu yang jelas bahwa orang yang tidak memiliki persoalan atau pertanyaan tidak akan terdorong untuk mencari jawabannya. Sebaliknya, ketika muncul sebuah persoalan, jiwa akan bergerak untuk mencari penjelasan dan solusinya. Tidakkah engkau melihat seseorang yang mendengar suara yang asing atau ucapan yang tidak ia pahami? Jiwanya pasti terdorong untuk mengetahui maknanya. Berbeda halnya dengan orang tuli yang tidak mendengar apa pun. Sehingga persoalan adalah setengah dari ilmu, sebab ia akan mengantarkan seseorang kepada jawabannya. Dan mengetahui letak persoalan itu sendiri merupakan ilmu, dan merupakan karunia yang Allah bukakan kepada hamba-Nya. Itulah kenikmatan yang dirasakan oleh para ulama. Mereka mampu menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan, tenggelam dalam membaca, menelaah, dan meneliti. Pada malam harinya, mereka kembali mengulang pelajaran yang telah diperoleh, merenungkannya, lalu mengikatnya dengan hafalan dan catatan. Bagi mereka, semua itu bukan beban, melainkan kenikmatan yang sulit digambarkan. •┈┈•┈•⊰▫️⊱•┈•┈┈• ☕ Fawaid Hazimiyah 🔵 Telegram: https://t.me/abuhazim_faris 🟢 WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbB4FyYFXUuRt5u44T0Y

  • 1 авг.2 2971

    Bismillah INFO TA'AWUN Urgent Bismillah Qoddarallah wama sya'a fa'ala. Telah terjadi kecelakaan tunggal pada Kamis Malam 30 Juli. Korban bernama Ibnu Mas'ud, putra dari al Akh Abu Umar, Tinjowan, Simalungun, SUMUT. Ibnu langsung dilarikan ke RS Bidadari…

  • 31 июл.2 3963

    без подписи

  • 31 июл.2 3353

    без подписи

  • 31 июл.2 32544

    Bismillah INFO TA'AWUN Urgent Bismillah Qoddarallah wama sya'a fa'ala. Telah terjadi kecelakaan tunggal pada Kamis Malam 30 Juli. Korban bernama Ibnu Mas'ud, putra dari al Akh Abu Umar, Tinjowan, Simalungun, SUMUT. Ibnu langsung dilarikan ke RS Bidadari Batubara. Beliau menderita luka jahitan, luka memar ditambah tulang paha yang patah. Pihak rumah sakit memberikan waktu hingga hari Senin untuk mengurus BPJS atau siapkan dana ± 20 Juta selain biaya inap. Mempertimbangkan BPJS Ibnu yang ada masalah, pihak keluarga tidak yakin bisa mendapatkan BPJS hanya tersisa waktu hari Jumat. Sabtu dan Ahad libur, dan Senin sudah jatuh ke Umum. Keluarga memutuskan untuk membawanyapulang dan dirawat di dukun patah. Jumat siang Ibnu dicabut dari RS Bidadari dengan biaya yang dipinjamkan Rp 4.500.000, Selama masa rawat ± 12 jam. Ibnu langsung dirawat di dukun patah dengan biaya Rp 5.000.000 sekalian perawatan medis yang masih berlanjut. Total biaya Rp 9.500.000 Disamping kebutuhan sehari-hari, anak yang sedang laka, biaya yang cukup besar. Sementara kesehariannya beliau termasuk mengalami kesulitan ekonomi. Mari kita sisihkan rizki untuk meringankan beban saudara kita, semoga Allah membalas kita dengan yang berlipat ganda. Bantuan bisa ditransfer ke rekening BRI no 534401032667538 an. Fadli Wardoyo Setelah transfer harap konfirmasi ke 081260546193 Jazakumullah khoiron Semoga Allah memberikan barokah pada keluarga dan harta kita Diketahui oleh: - Ustadz Abdul Mannan - Ustadz Azwar - Ustadz Azhar hafizhahumullah

  • 31 июл.2 06486

    .... (Penjelasan Syaikh al Albani rahimahullah: Terkait Hukum Berjabat Tangan dan Salam kepada Orang-orang di suatu Majelis) Saya ingin menyampaikan sesuatu kepada saudara ini. Pada masa sekarang telah muncul suatu kebiasaan yang saya tidak menemukan dasarnya dalam sunnah. Yaitu, ketika seseorang memasuki sebuah majelis. Padahal sunnahnya—sebagaimana yang insyaallah telah diketahui oleh kita semua—adalah mengucapkan salam kepada seluruh orang yang hadir. Kemudian, jika setelah itu ia sempat berjabat tangan dengan setiap orang yang hadir, maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan. Namun, apabila jumlah orang yang hadir sangat banyak sehingga berjabat tangan satu per satu menimbulkan kesulitan atau memberatkan, maka tidak perlu dipaksakan. Sebab Nabi ﷺ bersabda: "Aku dan umatku dibebaskan dari sikap memaksakan diri." Setelah mengucapkan salam, hendaknya ia duduk di tempat yang kosong hingga batas akhir majelis. Adapun yang sering terjadi pada masa sekarang—meskipun bukan dilakukan oleh semua orang, tetapi oleh sebagian mereka—adalah seseorang masuk lalu mengucapkan salam kepada setiap orang secara terpisah: "Assalamu'alaikum, Assalamu'alaikum, Assalamu'alaikum..." Misalnya, jika ada sepuluh orang atau lebih, ia mengulang salam sebanyak jumlah orang yang duduk di majelis. Saya tidak mengetahui adanya dasar amalan seperti ini dalam sunnah. Karena itu, saya ingin menjelaskan bahwa apabila engkau masuk ke dalam suatu majelis—semoga Allah memberkahimu—cukup ucapkan: "Assalamu'alaikum." Salam itu sudah mencakup seluruh orang yang hadir, sebagaimana yang telah engkau lakukan. Kemudian, jika memungkinkan untuk berjabat tangan dengan orang-orang yang hadir, maka itu adalah amalan yang baik. Sebab Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan, melainkan dosa-dosa keduanya berguguran sebagaimana gugurnya daun-daun dari pohon pada musim gugur." Itulah keutamaan berjabat tangan. Adapun salam, cukup satu kali kepada seluruh hadirin dengan mengucapkan "Assalamu'alaikum", kemudian duduk di tempat yang kosong hingga batas akhir majelis. Itulah yang ingin saya ingatkan dalam majelis yang penuh berkah ini, insyaallah. .... Semoga Allah memberkahi kalian. Sesungguhnya seseorang yang masuk ke suatu majelis lalu mengucapkan salam, maka salamnya telah mencakup seluruh orang yang hadir. Kemudian, jika setelah itu ia ingin berjabat tangan dengan orang-orang yang hadir, maka hal itu sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: "Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan, melainkan dosa-dosa keduanya akan berguguran sebagaimana gugurnya daun-daun dari pohon pada musim gugur." Orang yang masuk, mengucapkan satu salam kepada seluruh hadirin, kemudian melanjutkannya dengan berjabat tangan kepada setiap orang, maka itulah yang lebih baik. Sebab, selain telah mengamalkan sunnah mengucapkan salam, ia juga mengamalkan sunnah berjabat tangan yang disebutkan dalam hadis kedua. Ketika saya menyampaikan penjelasan ini, tujuan saya hanyalah untuk mengikuti sunnah. Sebab, kita mengetahui bahwa Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata: "Setiap kali kami bertemu Rasulullah ﷺ, beliau selalu berjabat tangan dengan kami." Maka, ketika Rasulullah ﷺ bertemu dengan para sahabatnya, beliau berjabat tangan dengan mereka satu per satu. Akan tetapi, sejauh yang saya ketahui, tidak pernah diriwayatkan bahwa beliau mengucapkan salam secara khusus kepada setiap orang yang beliau jabat tangannya. Inilah ilmu yang sampai kepada saya. Sumber: بوابة تراث الإمام الألباني https://share.google/FiUjl8M5EBLxjAK8r •┈┈•┈•⊰▫️⊱•┈•┈┈• ☕ Fawaid Hazimiyah 🔵 Telegram: https://t.me/abuhazim_faris 🟢 WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbB4FyYFXUuRt5u44T0Y

  • 29 июл.2 006167

    .... Tadi malam, tanpa sengaja saya mendengar beberapa ayat dari Surah At-Taubah: 75–77, وَمِنْهُم مَّنْ عَٰهَدَ ٱللَّهَ لَئِنْ ءَاتَىٰنَا مِن فَضْلِهِۦ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ (٧٥) فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُم مِّن فَضْلِهِۦ بَخِلُوا۟ بِهِۦ وَتَوَلَّوا۟ وَّهُم مُّعْرِضُونَ (٧٦) فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِى قُلُوبِهِمْ إِلَىٰ يَوْمِ يَلْقَوْنَهُۥ بِمَآ أَخْلَفُوا۟ ٱللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ "Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menghukum mereka dengan kemunafikan pada hati-hatinya sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta." Ayat-ayat itu terus terngiang dalam ingatan. Rasa takut, cemas, sekaligus bahagia seakan menyatu dalam hati. Ternyata, banyak sekali manusia yang kondisinya seperti ini: berjanji, bercita-cita, dan memohon sesuatu. Namun, ketika apa yang diinginkannya benar-benar terwujud, ia justru berubah. Bahkan, kondisinya menjadi semakin buruk hingga Allah menggolongkannya ke dalam sifat kemunafikan. Dahulu ia berjanji, jika diberi kekayaan, ia akan banyak membantu orang-orang yang membutuhkan. Namun, ketika kekayaan itu datang, ia justru menjadi bakhil. Atau, ia begitu dermawan kepada orang lain, tetapi keluarganya sendiri di rumah justru ditelantarkan. Dahulu ia berjanji akan setia kepada istrinya. Namun, ketika harta dan kedudukan datang, ia justru berselingkuh. Dahulu ia bercita-cita membangun investasi dan menyiapkan masa depan yang lebih baik bagi keluarganya. Namun, ketika rezeki itu datang, justru dihabiskan untuk judi online. Dahulu ia berkata, “Kalau sudah berkecukupan, saya ingin umrah.” Namun, ketika Allah benar-benar memberinya kelapangan rezeki, justru menjadi sangat perhitungan kepada istri dan anak-anaknya sampai melarat. Dahulu dan setelahnya ternyata berbeda... Ya Rabb, Ya Arhamar-Rahimin... Sesayang itukah Engkau kepada hamba-Mu? 💦 Terkadang, Allah menunda sebuah permohonan bukan karena Dia tidak mendengar, tetapi karena Dia Maha Mengetahui bahwa hamba-Nya belum siap menerimanya. Bisa jadi, jika kekayaan itu diberikan lebih cepat, ia justru akan berubah menjadi bakhil. Bisa jadi, jika kedudukan itu diberikan lebih cepat, ia justru akan menjadi sombong. Bisa jadi, jika keinginan itu segera diwujudkan, ia justru akan semakin jauh dari Allah. Allah Maha Mengetahui. Sedangkan kita tidak mengetahui. Oleh karena itu, sebagian ulama membenci ucapan-ucapan semacam ini. Menurut mereka, lebih baik seseorang memperbanyak doa dan memohon kepada Allah kebaikan, daripada terlalu banyak berangan-angan dan menebar janji tentang apa yang akan dilakukannya nanti. Nabi ﷺ pun mengajarkan kepada kita untuk memohon rezeki yang baik, disertai hidayah, ilmu yang bermanfaat, dan ketakwaan. Sebab, bukan sekadar banyaknya rezeki yang kita butuhkan, tetapi kemampuan untuk menggunakan rezeki itu dalam ketaatan kepada Allah. Bukan sekadar terkabulnya doa yang kita harapkan, tetapi keselamatan kita setelah doa itu dikabulkan. Maka, jangan hanya berdoa agar Allah memberikan apa yang kita inginkan. Berdoalah pula agar ketika Allah memberikannya, kita tetap menjadi hamba-Nya yang taat dan salih. Renungkanlah... •┈┈•┈•⊰▫️⊱•┈•┈┈• ☕ Fawaid Hazimiyah 🔵 Telegram: https://t.me/abuhazim_faris 🟢 WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbB4FyYFXUuRt5u44T0Y

  • без подписи

  • 29 июл.2 325178

    💦Sedikit Kisah Kami Semalam 💦Semalam kami membahas kitab Lum'atul I'tiqad, tepat pada pembahasan penutup, yaitu tentang disyariatkannya menghajr (memboikot) ahli bid'ah, disertai paparan ilmiah, dalil-dalil syar'i, serta penjelasan para ulama Ahlus Sunnah mengenai hikmah dan tujuan hajr dalam menjaga kemurnian agama. Setelah kajian selesai, kami berbincang dengan salah seorang ikhwah yang telah cukup lama menimba ilmu di majelis-majelis Ahlus Sunnah. Di tengah perbincangan, beliau berkata dengan nada penuh kerinduan, "Kami rindu, kajian-kajian daurah-daurah seperti dahulu; daurah yang membahas aqidah, tauhid, manhaj, ushul Ahlus Sunnah, serta mengenalkan berbagai kelompok yang menyimpang agar umat memiliki bashirah dalam beragama." Beliau melanjutkan, bahwa pembahasan seperti itu terasa begitu menghidupkan hati, menguatkan keyakinan, dan meneguhkan langkah di atas Sunnah. Bukan berarti mengurangi nilai pembahasan fikih, akhlak, tafsir, atau bidang ilmu lainnya, namun pembahasan tentang pokok-pokok agama dan prinsip-prinsip Ahlus Sunnah memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menjaga istiqamah seorang penuntut ilmu di tengah derasnya syubhat dan banyaknya penyimpangan. Perbincangan itu kemudian membawa kami mengenang masa-masa awal mengenal dakwah Salafiyyah. Betapa semangat menghadiri majelis ilmu, membaca kitab-kitab aqidah, mengenal manhaj para salaf, serta memperhatikan peringatan para ulama terhadap ahlul ahwa' begitu terasa hidup. Hati dipenuhi semangat untuk belajar, beramal, dan menjaga agama. Semoga kerinduan itu bukan sekadar menjadi nostalgia, tetapi menjadi pemantik untuk kembali menghidupkan semangat menuntut ilmu, mempelajari ushul Ahlus Sunnah, dan berpegang teguh kepada manhaj salaf hingga akhir hayat. Di penghujung perbincangan, kami pun saling mendoakan agar Allah ﷻ menganugerahkan kepada kami istiqamah di atas Al-Qur'an dan As-Sunnah menurut pemahaman para sahabat, menjauhkan kami dari fitnah syubhat dan syahwat, serta mewafatkan kami di atas tauhid dan Sunnah. اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك، ويا مصرف القلوب صرف قلوبنا إلى طاعتك. 🖋️Saudaramu karena Allah Abu Ahmad Syakir

  • 28 июл.1 719159

    .... Pada akhirnya, kita sebagai pembina memang harus banyak-banyak bersabar. Tidak bisa pula kita terus-menerus saling menyalahkan satu sama lain. Apalagi di zaman sekarang, semuanya serba media sosial, ada UU, ada pengacara, dan berbagai hal lainnya. Ngeri juga. Bisa-bisa pondok yang justru terkena dampaknya, bahkan sampai ditutup secara permanen. Sekadar mengingatkan, hukuman fisik pun jangan sampai dilakukan terus-menerus, kalau bisa pun ditiadakan saja. Kadang, saya justru rindu masa-masa itu. Ketika mondok, ada hukuman berupa pukulan dan berbagai bentuk ketegasan lainnya. Namun, begitulah cara mereka dahulu mendidik. Banyak di antara mereka yang akhirnya berhasil. Kita juga mengenal kisah ‘Ikrimah rahimahullah —sebagaimana disebutkan dalam sebagian riwayat— yang pernah diikat kakinya oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma agar ia bersungguh-sungguh dalam mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah, bahkan dalam sebagian riwayat disebutkan tentang ilmu waris. Dan sebagian anak-anak salaf yang biasa dan sering bersumpah atas nama Allah dalam perkara yang remeh, juga dipukul oleh pendidiknya. Dan masih banyak yang lainnya. Kalau sekarang? Santri dihukum, padahal hukumannya ringan sekali, orang tua datang membela di hadapan para mudarris. Akhirnya, si anak menjadi kebal dan merendahkan mereka, merasa punya kuasa. Lalu, dari mana lagi kita berharap kebaikan dan perubahan pada dirinya? Wujudnya memang santri di ma’had, tetapi aturan yang berlaku seolah-olah dibuat sendiri dari rumah. Yang lain, baru ditegur sedikit sudah baper. Mentalnya tidak kuat, akhirnya tidak mau mondok lagi. Apalagi bermunculan berbagai pola parenting baru yang seolah-olah meniadakan ketegasan kepada anak sama sekali. Wallahu a‘lam, dampaknya sangat besar. Justru, mental anak-anak kaum muslimin dikhawatirkan menjadi lemah, lembek. Sampai ada orang yang menduga, apakah memang demikian mereka sengaja merusak kondisi anak-anak muslimin dengan sesuatu yang berbalut "parenting"? Padahal, Nabi ﷺ mengajarkan adanya bentuk disiplin kepada anak, termasuk memukul dalam batasan tertentu, selama tidak melukai dan tidak dilakukan dengan cara yang zalim. Dari satu sisi, anak-anak mereka dididik layaknya militer yang siap tempur, tangguh dan kuat. Padahal mereka juga yang membikin "parenting-parenting" itu. Ya Rabb, ternyata begini keadaan sebagian generasi penerus zaman ini. Lembutkanlah hati kami semua, ya Rabb. Berikanlah kepada kami kesabaran dalam mendidik, ketegasan dalam membimbing, dan hikmah dalam menghadapi berbagai keadaan. Jangan jadikan kami sebagai pembina yang mudah menyerah, dan jangan pula jadikan anak-anak didikan kami sebagai generasi yang mudah patah. Semoga Allah memperbaiki kita semua dan menjadikan generasi penerus kita sebagai generasi yang kuat, berilmu, beradab, dan bermanfaat bagi umat. •┈┈•┈•⊰▫️⊱•┈•┈┈• ☕ Fawaid Hazimiyah 🔵 Telegram: https://t.me/abuhazim_faris 🟢 WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbB4FyYFXUuRt5u44T0Y

  • 28 июл.1 51694

    .... Jika kamu takut terpaan angin kencang di ketinggian, ya jangan berani-berani naik ke panjat sosial. Begitu pula dalam bermedia sosial. Jika kamu tidak ingin tulisanmu di-screenshot, disebarkan, atau diketahui orang lain, maka jangan menulis sesuatu yang memang tidak pantas untuk diketahui orang lain. Jangan lupa, ketika kamu menulis sesuatu di ruang publik, kamu telah membuka kemungkinan bahwa tulisan itu dibaca, disimpan, di-screenshot, bahkan dibagikan oleh orang lain. Maka, sebelum mengetik, pikirkan baik-baik apa yang hendak kamu tulis. Jangan sampai setelah tulisanmu diketahui orang lain, kamu justru marah, kecewa, dan menyalahkan orang yang menyebarkannya. Sebab, jika tulisanmu memang baik, benar, dan layak diketahui, semestinya kamu tidak perlu merasa malu ketika tulisan itu dibaca atau diketahui orang lain. Namun, jika kamu justru panik dan marah ketika tulisanmu diketahui, boleh jadi masalahnya bukan pada orang yang membacanya, tetapi pada apa yang kamu tulis. Telah kita maklumi bersama, orang yang melakukan atau menulis sesuatu yang buruk biasanya akan merasa malu, risih, atau marah ketika keburukannya diketahui oleh orang lain. •┈┈•┈•⊰▫️⊱•┈•┈┈• ☕ Fawaid Hazimiyah 🔵 Telegram: https://t.me/abuhazim_faris 🟢 WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbB4FyYFXUuRt5u44T0Y

  • 28 июл.1 58254

    .... Di antara kitab-kitab yang paling dapat mengangkat seseorang menuju tingkatan pengetahuan yang tinggi adalah matan-matan ilmiah. Matan ilmiah merupakan salah satu hasil pemikiran manusia yang paling kaya dan penting dalam membangun pengetahuan teoretis. Bacalah kitab ilmiah apa saja yang Anda kehendaki, lalu pelajarilah salah satu matan ilmiah dengan kajian yang mendalam, sistematis, dan kokoh. Kemudian, bandingkan manfaat yang Anda peroleh dari keduanya. Niscaya perbedaannya akan terlihat dengan jelas. Hal ini bukan untuk meremehkan kitab-kitab selain matan ilmiah, tetapi untuk menjelaskan betapa besar manfaat matan ilmiah dibandingkan dengan kitab-kitab lainnya. Matan ilmiah merupakan salah satu sarana terpenting untuk meningkatkan wawasan keilmuan, mencapai keunggulan dalam bidang ilmu, serta mengembangkan pola pikir dan kemampuan intelektual. Mari kita bandingkan antara seseorang yang mempelajari sejumlah matan ilmiah secara mendalam, sistematis, dan kokoh, dengan seseorang yang telah membaca ratusan jilid kitab tanpa terlebih dahulu mempelajari matan-matan ilmiah sebagai dasar keilmuan. Kita akan mendapati bahwa orang yang mempelajari matan-matan ilmiah memiliki penguasaan ilmu yang lebih kuat, lebih siap untuk mengembangkan kemampuan ilmiahnya, dan lebih berpeluang mencapai keunggulan dalam bidang ilmu. Ia juga memiliki kemampuan untuk terus menambah dan memperluas pengetahuannya lebih besar dibandingkan yang lainnya. Kesimpulannya: curahkanlah sebagian besar usaha Anda untuk mempelajari, menguasai, dan memahami matan-matan ilmiah dengan baik. Setelah beberapa tahun, Anda akan melihat manfaat besar yang diperoleh pada tingkat keilmuan Anda. Jangan beralih kepada kitab-kitab yang panjang dan luas pembahasannya sebelum Anda benar-benar menguasai kitab-kitab ringkas. •┈┈•┈•⊰▫️⊱•┈•┈┈• ☕ Fawaid Hazimiyah 🔵 Telegram: https://t.me/abuhazim_faris 🟢 WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbB4FyYFXUuRt5u44T0Y

  • 27 июл.1 67677

    Intinya jangan jalan sendiri...

  • 27 июл.1 81575

    👍👍👍