Matan Minhaj
Статистика📱 Telegram https://t.me/matanxminhaj 📱 Instagram http://bit.ly/4jfEbbk 📱 Facebook https://bit.ly/4mpBhn3
- Последний пост
- 27 июл.
- Последнее чтение
- 15 авг.
- Постов за неделю
- 0
- Всего постов
- 25
- Тип
- открытый
- Язык
- und
- Категория
- Религия (по похожим)
- В каталоге с
- 13 авг.
- 1/24сутки в ленте
- 1 129
- 1/48двое суток
- 1 293
- 1/72трое суток
- 1 395
Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.
Посты
Matan Minhaj pinned a photo
LIK JAROT MEMBONGKAR KISAH DIBALIK LAYAR SEMINAR ONLINE, GAGAL MENCARI BEMPER Adab Jelek Panitia Setelah mereka membuat produk, disusunlah skenario menawarkan "produk buatannya" kepada salah satu Ma'had Asatidzah Senior dan menghubungi seorang ustadz kontributor Asy-Syariah agar menjadi pembuka produk mereka dan.... Gagal!! Demikianlah akhlaq jongkok kepada orang yang lebih tua di dalam dakwah. Tiada kata bermusyawarah dan meminta bimbingan dengan yang lebih tua dan senior, karena itu adalah komando! Namun mereka justru menjajakan komando isti'jal pula, namun gagal. Hikmah besar di balik gagalnya mencari bemper, Jarotpun sibuk meliuk-liuk mencari pembenaran Syaikh Seminarnya yang jelas² jadi pembicara Daurah bersama² Penyelenggara circle Masyayikh STC Arafāt cs di Barat dengan Khawarij Abbas al-Jaunah dll. Radio Miratspun dibawa² karena tercantum nama Arafāt. Bahkan dia masih bisa menambahkan (syubhat renyahnya) dengan searching postingan Arafāt di saluran Ahlussunnah sebelum fitnah. #ahsudahlah
⛔ MENYUMPAL MULUT PEMBELA HARI AHADI Inilah keputusasaan pembela hari ahadi akhir akhir ini.. Ketika kejahatan jejak digital Hari Ahadi dibongkar—bahwa ia berkelit enggan mentahdzir Rodja, MLM, dan membela hizbiyyin—mereka tidak sanggup menjawab setetes pun hujjahnya secara ilmiah. Lantas apa yang mereka lakukan? Mereka bersembunyi di balik nama Ustadz Muhammad Rijal, memamerkan poster kajian layaknya anak kecil yang berlindung di belakang orang dewasa. Wahai orang tertipu, kedatangan seorang 'Alim ke suatu tempat BUKANLAH dalil (tazkiyah) atas lurusnya manhaj sang tuan rumah jika sang tuan rumah sudah terbukti secara meyakinkan memiliki mukhalafah. Dalam kaidah ushul yang disepakati, kritikan terperinci beserta bukti nyata (Al-Jarh Al-Mufassar) mutlak didahulukan di atas pujian atau rekomendasi umum (At-Ta'dil). Apakah jika seorang Ustadz belum mengetahui kondisi penyimpangan seseorang, lantas penyimpangan itu menjadi halal? Tentu tidak, Jangankan Ustadz Rijal, ulama kibar sekelas Asy-Syaikh Al-Albani dan Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumallah pun di masa lalu pernah memuji atau bermajelis dengan tokoh yang di kemudian hari ketahuan sebagai ahlul bid'ah (seperti Abul Hasan Al-Ma'ribi atau Ali Hasan Al-Halabi). Apakah ulama kibarnya yang ditahdzir? Tentu tidak! Ketidaktahuan seorang 'alim terhadap kondisi tersembunyi seseorang adalah udzur baginya, namun bukti kebatilan tetaplah membatalkan kehormatan si penyimpang. Lalu tulisan "mulut orang bangkrut" yang dipajang oleh orang bernama abinya harun, Siapa sesungguhnya yang bangkrut? Yang bangkrut adalah mereka yang menjadikan "siapa yang mampir ke rumahku" sebagai standar kebenaran, bukan dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah, Agama ini dibangun di atas argumentasi ilmiah, bukan di atas event organizer kajian. Jika Hari Ahadi dan para pembebeknya merasa di atas kebenaran, suruh mereka turun ke gelanggang ilmiah, umumkan bara' (berlepas diri) dari Rodja dan MLM secara terbuka! Selama mereka lari dari hal ini, ribuan ustadz pun yang mampir ke ma'hadnya tidak akan menyucikan noda tamyi' di manhajnya. ——————— 📱 Telegram : https://t.me/matanxminhaj 📱 Instagram : http://bit.ly/4jfEbbk 📱 Facebook : https://bit.ly/4mpBhn3
без подписи
WAHAI USTADZ HARI AHADI, MENSCROLL SEJARAH LALU MEMASANG TAZKIYAH TERHADAP AKIDAH RODJA (HALABIYAH IKHWANIYAH) ADALAH UPAYA PEMUTIHAN HIZBIYAH Yang kami yakini, ketika Anda menegaskan pengulangan sampai 4 kali 'tazkiyah' atas akidah Rodja sama dengan akidah Ahlussunnah itu jelas ucapan "vonis" yang diiringi dasar keilmuan SETELAH mempelajari Rodja dan para dainya secara utuh. Maka mempertanyakan "Apa bukti penyimpangannya?", bukanlah pertanyaan orang yang tidak tahu tetapi PERTANYAAN TANTANGAN dari orang yang telah meyakini seyakin²nya keAhlussunnahan Rodja. Tidak ada jalan untuk membuldozer pernyataan anda kecuali dengan membangkitkan kembali jejak digital SEJARAH Ikhwaniyah Halabiyah Turatsiyah Rodjaiyah yang telah dibuang & dikubur bertahun-tahun oleh Halabiyun dari pandangan umat pasca dahulu kami bongkar bukti keterkaitan Rodja dengan Dedengkot Ikhwanul Muslimin Internasional, Muhammad al-Arifi! Kami datang tuk penuhi tantanganmu: http://web.archive.org/web/20121222052652/http://rodja.tv/narasumber/
Akhir-akhir ini muncul berbagai komentar/status yang mengajak agar ketika menyampaikan suatu masalah, semua pendapat ulama disebutkan tanpa memilih pendapat yang dianggap paling rajih. Kemudian dibangun kesan bahwa jika seseorang merajihkan salah satu pendapat ulama, berarti ia mengajak kepada fanatisme terhadap seorang ulama. Bahkan ada yang menyebut bahwa manhaj tarjih adalah manhaj fanatik dan taqlid. Lalu muncullah ungkapan seperti: "Saya memilih pendapat ini, tetapi saya tidak menyalahkan pendapat yang tidak saya pilih." Ungkapan seperti ini perlu dipahami dengan benar. Sebab hakikat tarjih adalah meyakini bahwa suatu pendapat lebih kuat daripada pendapat lainnya berdasarkan dalil. Jika semua pendapat dianggap sama-sama benar dalam satu masalah yang saling bertentangan, lalu apa makna tarjih? Memilih satu pendapat berarti meyakini bahwa pendapat itulah yang lebih benar. Adapun pendapat lain keliru/salah, meskipun orang yang berijtihad padanya tetap mendapat udzur sesuai kadar ijtihadnya. Ini berbeda dengan mencela atau merendahkan para ulama. Yang mengherankan, ada yang dengan mudah menuduh bahwa metode pendidikan tarjih merupakan metode tarbiyah yang buruk. Padahal, sejak kapan para ulama Ahlus Sunnah mencela tarjih? Bukankah mereka justru memerintahkan untuk mengikuti dalil yang paling kuat sesuai kemampuan? Maka patut dipertanyakan: Ucapan-ucapan semacam ini bersumber dari ulama siapa? Apakah benar memiliki landasan dari para imam Ahlus Sunnah, ataukah hanya merupakan kesimpulan akal yang dipengaruhi slogan-slogan toleransi dan relativisme, sehingga semua pendapat dianggap sama benarnya? Merajihkan suatu pendapat bukanlah fanatisme kepada tokoh, melainkan usaha untuk mengikuti dalil yang dinilai paling kuat. Adapun fanatisme adalah tetap membela seseorang meskipun telah jelas bahwa dalil berada pada pihak yang lain.
Khutbah dan Sholat Jum'at Kec Muara Badak
* Apa sebenarnya sikap terhadap Rodja? * Apa sikap terhadap MLM? * Apa sikap terhadap Mushofiqah? * Apa sikap terhadap berbagai penyimpangan yang selama ini dipermasalahkan para asatidzah? Selama hal-hal tersebut tidak dijelaskan secara terang, maka wajar apabila sebagian ikhwan masih merasa belum tenang. Bukan karena ingin mencari-cari kesalahan, tetapi karena persoalan ini menyangkut arah dakwah, manhaj, dan orang-orang yang akan mengambil ilmu. Apalagi apabila yang lebih sering tampak justru ajakan untuk tidak terlalu mempermasalahkan perselisihan tersebut dengan alasan "sama-sama Ahlus Sunnah". Padahal, menurut banyak ulama, bentuk-bentuk penyimpangan dalam manhaj dan wala' bara' terhadap ahlul bid'ah bukanlah perkara ringan yang boleh dianggap sepele. Jadi Dengan demikian, inti persoalannya bukan sekadar membantah satu demi satu informasi yang beredar, tetapi memberikan kejelasan sikap yang konsisten terhadap pokok-pokok masalah yang sejak awal dipersoalkan. Sebab dalam perkara manhaj, yang menjadi ukuran bukan hanya pernyataan, tetapi juga sikap, praktik, dan dampaknya terhadap umat.
Beberapa Catatan atas Klarifikasi Tersebut 1. Apa yang dimaksud dengan "memuji Rodja"? Pada poin pertama disebutkan bahwa tidak pernah ada pujian kepada Rodja, bahkan sampai disertai sumpah. Namun perlu dijelaskan terlebih dahulu, apa definisi "pujian" yang dimaksud? Apabila seseorang mengatakan bahwa Rodja, RII, dan yang semisalnya masih Ahlus Sunnah, atau memberikan kesan bahwa penyimpangan mereka bukan perkara yang perlu dipermasalahkan, maka menurut sebagian orang, itu sendiri sudah dianggap sebagai bentuk pembelaan atau pujian. Sedangkan menurut yang bersangkutan mungkin itu bukan pujian. Jadi persoalannya bukan sekadar mengatakan, *"Saya tidak pernah memuji."* Yang dibutuhkan adalah penjelasan terhadap substansi ucapan dan sikapnya. 2. Tahdzir tidak harus menunggu seseorang divonis sebagai ahli bid'ah Dalam klarifikasi tersebut seakan-akan dibangun kesan: > "Kalau mereka belum dipastikan sebagai ahli bid'ah, berarti tidak boleh ditahdzir." Ini adalah cara memahami yang kurang tepat. Para ulama menjelaskan bahwa tahdzir memiliki banyak sebab, tidak terbatas hanya karena seseorang telah divonis sebagai ahli bid'ah. Di antara sebab seseorang diperingatkan adalah apabila ia: * membela atau melunakkan sikap terhadap ahli bid'ah, * mempromosikan tokoh atau kelompok yang menyebarkan penyimpangan, * menjadi pintu masuk tersebarnya syubhat, * mengajak kepada persatuan di atas kebatilan, * atau menampilkan sikap yang membuat masyarakat tertipu terhadap penyimpangan yang ada. Karena itu, pertanyaan: > "Apakah mereka ahli bid'ah?" bukanlah jawaban yang otomatis menggugurkan alasan adanya tahdzir. 3. Mengapa masih bertanya tentang penyimpangan Rodja? Disebutkan bahwa pertanyaan tentang penyimpangan Rodja hanyalah untuk menambah bekal ilmu. Namun justru di sinilah muncul pertanyaan. Kalau memang selama ini belum mengetahui secara jelas penyimpangan Rodja, lalu atas dasar apa sebelumnya tidak pernah memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang penyimpangan tersebut? Bukankah hal itu justru menguatkan kesan yang selama ini berkembang bahwa sikap terhadap Rodja memang tidak tegas? Maka wajar apabila sebagian ikhwan menilai bahwa pertanyaan tersebut bukan sekadar mencari tambahan ilmu, tetapi menunjukkan belum jelasnya sikap terhadap penyimpangan yang telah lama dibahas oleh para asatidzah. 4. Mengaku meminta bimbingan, tetapi kesan yang muncul justru berjalan sendiri Disebutkan berbagai kisah pernah mendatangi beberapa ustaz untuk meminta bimbingan. Alhamdulillah apabila memang demikian. Namun yang menjadi pembahasan bukan sekadar pernah bertemu atau berkonsultasi. Yang menjadi pertanyaan adalah: Dalam perkara-perkara besar yang menimbulkan fitnah di tengah salafiyyin, apakah hasil bimbingan itu tampak dalam sikap dan langkah yang diambil? Karena yang dilihat masyarakat adalah kenyataan yang muncul. Apabila di satu sisi mengatakan selalu meminta bimbingan, namun di sisi lain tetap mengambil langkah-langkah yang menimbulkan polemik, maka tidak mengherankan apabila muncul kesan bahwa sebenarnya lebih memilih berjalan dengan ijtihad sendiri. Terlebih lagi ketika muncul berbagai komentar dari para pendukung yang justru memperkuat kesan tersebut. 5. Menafikan marah tidak cukup tanpa menjelaskan fakta Mengatakan, > "Wallahi saya tidak marah." belum tentu menyelesaikan persoalan. Sebab setiap orang memiliki cara mengekspresikan kemarahannya. Ada yang marah dengan suara keras. Ada pula yang marah dengan nada halus, sindiran, atau penolakan yang tegas. Karena itu, yang perlu dijelaskan bukan hanya penafian, tetapi bagaimana sebenarnya peristiwa yang dimaksud terjadi sehingga tuduhan tersebut muncul. 6. Yang dinilai masyarakat adalah sikap yang tampak Penjelasan mengenai pernah berdakwah di perusahaan, kemudian berhenti, tidak menjawab pokok persoalan yang menjadi pembicaraan. Yang ingin diketahui masyarakat justru adalah:
Melepas status Pembina? Buat apa hal itu. Sementara para Asaatidzah sendiri tidak menuntut hal itu dari kami. Bahkan sebagian ustadz senior lain di Kaltim menasihati beberapa Ikhwan untuk tidak perlu ada tambahan pembina. Apalagi sampai menghapus kami dari pembina, sungguh ini tidak pernah terjadi. -> buat pa? ya buat memperbaiki keadaan, krn antum yg jauh ga bisa membina ikhwah di tenggarong, yg ada keadaan yg tambah parah setiap waktunya. kenapa begitu sulit antum lepas? Bukankah antum saat itu tidak begitu aktif di mahad selama bekerja disana?!l kenapa harus menunggu asatidzah, bagusnya antum sadar dg kadar diri dan kondisi yg ada, dan serahkan pada ustad lain yang bisa membina ikhwah disana agar terjaga ukhuwahnya, tidak seperti sekarang akhirnya banyak yang milih keluar dari mahad dan kepngurusan bahkan sampai pindah domisili. "Pesan kami kepada siapa pun yang terus menyebarkan fitnahan di atas dan menggiring orang-orang untuk menjatuhkan kehormatan kami sebagai muslim, takutlah kepada Allah. Dan ingatlah hari pembalasan amal. Jangan sampai, mengalami kebangkrutan pada hari tersebut." -> antum pun takutlah kepada Allah mas hary, dan ingatlah hari pembalasan amal. begitu banyak ikhwah tenggarong dan kaltim yg kecewa dg antum, persatuan ikhwan sudah menjadi korban. jangan terlalu mudah menyimpulkan bahwa jalannya asatidzah kurang tepat, jangan merasa langkah antum dalam dakwah adalah langkah terbaik, terhikmah, dan paling tepat, ingatlah mas diatas langit masih ada langit. ✏️ Abu Abdillah Al Kalimantani (salah satu pengurus mahad), Kaltim 24 al-Muharram 1448 / 09 Juli 2026
Tanggapan atas tanggapan mas hary ahadi: --» Wallahi, Demi Allah! Tidak satu kata pun ada kami memuji rodja di grup alumni Ibnul Qayyim tersebut. Bagi yang menyebut demikian, silakan dia datangkan bukti, atau jika tidak, itu akan menjadi dosa fitnah di hadapan Allah kelak. "Tidak satu kata pun memuji rodja di grup alumni IQ" -> Lantas bagaimana di kesempatan lainnya? Apa benar antum tidak pernah sama sekali memuji rodja?!? Coba jelaskan dengan tegas, lugas, n jelas pada kami, bagaimana keadaan rodja dan para ustadznya di sisi antum? ———————————————————————— --» Apakah mlm Dzulqarnain cs. adalah Ahli Bid'ah? Silakan tanyakan dengan tegas kepada para Asaatidzah. Apakah mereka ahli bid'ah. Tidak hanya kami, ada sekian ustadz lain yang tidak berani mengatakan dengan tegas bahwa mereka adalah AHLI BID'AH. -> sudah ada yang menghubungi salah satu asatidzah (sengaja nama ustadz tidak disebutkan krn beliau belum mengizinkan utk dipublish) dan beliau menjawab "Naam, mereka AHLI BID'AH AHLI HAWA, tanpa ragu ana menyimpulkan demikian, karena telah jelas bimbingan syaikh rabi' ttg hal tsb." ———————————————————————— --» Sudah kami jelaskan alasannya di grup alumni. Apakah salah seseorang menanyakan untuk memastikan dan menambah bekal buat menjelaskan. Terlebih, memang dalam beberapa tahun ke belakang, tidak sedikit para ustadz kita yang kembali ingin memperjelas kesesatan rodja. -> ya tentunya tidak salah mas hary, tapi kenapa pertanyaan yg antum sampaikan di grup itu terkesan seperti pengingkaran atas sikap asatidzah kita yang selama ini sudah jelas dalam menyikapi mereka?!? Dan "beberapa tahun ke belakang..." -> tuduhan jahat macam apa ini yang antum berikan pada asatidzah kita, mengerikan sekali. ——————————————————————— --» Wallahi, ini adalah kebohongan. Sekian kali di Tenggarong ada kajian para ustadz, dan kami selalu hadir dan mendampingi. Bahkan demi Allah, kami pernah nyaris tidak memiliki uang untuk modal berangkat ke muara badak untuk mendatangi Ust Abdul Mu'thi bin Mughni di kediamannya, tetapi tetap kami datangi beliau untuk meminta bimbingan, dengan meminjam uang untuk pergi dari salah seorang keluarga. Ini satu contoh. Belum lagi komunikasi kami kepada para ustadz lainnya melalui chat. Seperti Ust Abdushamad Bawazier. -> iya di tenggarong memang benar ada kajian asatidzah kita, tapi apakah panitia samarinda yg menjadwalkan ke sana atau pengurus mahad antum yg memohon utk didatangi? Silahkan tanyakan pada pihak terkait, maka akan terlihat siapa yg hanya memanfaatkan momentum kedatangan asatidzah sebagai hujjah bahwa mahad tenggarong bersama asatidzah, padahal klau mau jujur tidak sejalan dengan apa yang antum gambarkan. ———————————————————————— --» Wallahi. Ini tidak pernah terjadi. Marah-marah saat Ikhwan membahas rodja. Sungguh besar fitnah ini. Dan hendaknya orang yang menyebarkan hal demikian takut dengan nasibnya karena membawa dosa fitnah. -> jangan dipelintir ya mas, bukan marah-marah, tapi antum marah artinya antum ga suka bila antara ikhwah ada yg membahas rodja, dan ana sebegai salah satu saksi dari pengurus lama yang mengalami dan pernah merasakan amarah antum tsb, bertakwalah pda Allah wahai ustadzku. ———————————————————————— --» ya, kami pernah berdakwah di perusahaan yang disebutkan. Dan kami tetap aktif dalam berbagai urusan ma' had. Saat ini (Juli 2026), sudah hampir 1 tahun kami tidak berdakwah di perusahaan itu lagi. Sehingga menetap di Tenggarong. -> "tetap aktif dalam berbagai urusan ma'had" padahal urusan yg dimaksud adalah yg bisa memuluskan keinginan antum klau mau jujur, semisal pkbm. Adapun urusan mahad lain yg tidak mendatangkan keuntungan bagaimana? Apakah tetap diurus? Jawabannya tidak, silahkan lihat bagaimana kondisi madrasah, keutuhan ikhwah, pengurus, kajian, dll. ————————————————————————
🛡️ SANGGAHAN UNTUK KLARIFIKASI MILIK HARI AHADI Pertama, perhatikan kontradiksi konyol antara poin 1 dan poin 3. Di poin 1, hari ahadi bersumpah "Wallahi" tidak pernah memuji Rodja. Namun di poin 3, ia mengaku secara sadar bertanya, "Apa sih penyimpangan Rodja?" dengan dalih ingin memastikan dan menambah bekal. Bagaimana mungkin seorang pengajar, Ustadz Ahlussunnah di tahun ini masih mempertanyakan "apa kesesatan Rodja" padahal fatwa Ulama Kibar dan tahdzir keras dari para Asatidzah atas Rodja dan Halabiyyun sudah menggelegar dan mutawatir selama lebih dari satu dekade? Pura-pura bodoh atau menunda-nunda sikap terhadap kelompok menyimpang yang kesesatannya sudah gamblang? Kedua, cermati manuver pelarian yang sangat aneh pada poin 2. Ia ditanya tentang keengganannya mentahdzir "Rodja, MLM, dll". Namun, lihat bagaimana ia menjawab, Ia sengaja mengamputasi nama "Rodja" dari jawabannya, dan hanya menjadikan status "MLM" sebagai perisai. Ia berdalih: "Apakah MLM ahli bid'ah? Sekian ustadz tidak berani mengatakan mereka ahli bid'ah." Ini adalah syubhat batil, Sejak kapan kewajiban tahdzir dan hajr (boikot) mensyaratkan pelakunya harus divonis kafir atau mubtadi' tulen terlebih dahulu? Seseorang yang menyimpang dari ushul manhaj dan terus membela kebatilan wajib di-tahdzir demi menjaga akidah umat, terlepas dari apakah ia sudah divonis ahli bid'ah atau belum. ulama salaf sejak dahulu telah menetapkan kaidah emas tentang kewajiban menjauhi dan memperingatkan umat dari siapa saja yang secara terang-terangan menyelisihi prinsip Ahlussunnah, tanpa harus menunggu vonis final atas status personalnya. Ketiga, mari kita bedah & bongkar taktik Name Dropping murahan di poin 4. Ia mungkin menganggap manhajnya lurus hanya karena ia datang ke kajian di Tenggarong, bertamu ke kediaman Ustadzuna Abdul Mu'thi, atau chatting dengan Ustadz Abdushamad. Ketahuilah, setor muka ke rumah asatidzah bukanlah barometer lurusnya manhaj seseorang, Berapa banyak pengkhianat dakwah yang duduk di majelis ulama, tersenyum dan mencium tangan mereka, namun di belakang bermanuver membela hizbiyyin? Manhaj seseorang diukur dari loyalitasnya (Al-Wala wal Bara'), ketegasannya dalam mentahdzir kebatilan, dan dengan siapa hatinya condong bersahabat. wahai Hari Ahadi dan pembelanya (lik jarot) Berhentilah berlindung di balik kata "tabayyun" dan rentetan sumpah! Ahlussunnah tidak butuh sumpah, Ahlussunnah butuh pernyataan BARA' (berlepas diri) yang tegas dan terang benderang dari Rodja, MLM, dan komplotannya, serta keikutsertaanmu dalam mentahdzir mereka di lisan dan perbuatanmu, Selama engkau menolak melakukan itu, kelakarmu sebagai "korban fitnah" hanyalah lelucon murahan di mata thullabul ilmi. Sebagaimana kaidah salafi yang masyhur, Barangsiapa yang menyembunyikan kebid'ahannya dari kami, maka teman duduknya tidak akan bisa disembunyikan dari kami. ——————— 📱 Telegram : https://t.me/matanxminhaj 📱 Instagram : http://bit.ly/4jfEbbk 📱 Facebook : https://bit.ly/4mpBhn3
Pesan kami kepada siapa pun yang terus menyebarkan fitnahan di atas dan menggiring orang-orang untuk menjatuhkan kehormatan kami sebagai muslim, takutlah kepada Allah. Dan ingatlah hari pembalasan amal. Jangan sampai, mengalami kebangkrutan pada hari tersebut. ✏️ Hary Ahadi, Tenggarong 24 al-Muharram 1448 / 09 Juli 2026
✏️ kami nukilkan sebuah pesan klarifikasi dari hari ahadi yang datang dari lik jarot sebagai berikut : (Lik Jarot) Tadi saya tabayyun ke Mas Hari Ahadi, terkait statement di atas dan statement dari yang "katanya info pengurus Tenggarong" . Mas hari jawab begini : Kami, an. Hary Ahadi ingin menanggapi artikel lawas ini, karena terus disebarkan tanpa ada kroscek kepada pihak yang dibicarakan. Kami lakukan ini dengan niat mengamalkan hadits, انصُرْ أخاكَ ظالِمًا أو مَظلومًا. “Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang terzalimi.” [H.R. Al-Bukhari (2444)]. Menolong yang zalim: yaitu dengan menghentikannya melakukan kezaliman. Berikut artikel yang tersebar tersebut dan sanggahan kami dengan diawali tanda (--») ———————————————————————— Assalamualaikum tadz. Alhamdulillah tadi pagi pengurus di ma'had ust hari mampir. Jd ada bbrp point yg beliau ceritakan 1. Berawal dari group wa mantan santri ust hari eks ibnul qoyyim balikpapan. Pujian ust hari terhadap rodja. Dan sm pengurus di tanyakan dan minta bimbingan ke ust qomar hafidzahullahu. Ust hari ga terima dan marah2. --» Wallahi, Demi Allah! Tidak satu kata pun ada kami memuji rodja di grup alumni Ibnul Qayyim tersebut. Bagi yang menyebut demikian, silakan dia datangkan bukti, atau jika tidak, itu akan menjadi dosa fitnah di hadapan Allah kelak. ———————————————————————— 2. Mengatakan semua baik rodja, muso, mlm dll masih ahlusunnah dan tdk mau men tahdzir nya. --» Apakah mlm Dzulqarnain cs. adalah Ahli Bid'ah? Silakan tanyakan dengan tegas kepada para Asaatidzah. Apakah mereka ahli bid'ah. Tidak hanya kami, ada sekian ustadz lain yang tidak berani mengatakan dengan tegas bahwa mereka adalah AHLI BID'AH. ———————————————————————— 3. Ketika di tanyakan tentang rodja malah balik Menanyakan tentang apa sih penyimpangan rodja. --» Sudah kami jelaskan alasannya di grup alumni. Apakah salah seseorang menanyakan untuk memastikan dan menambah bekal buat menjelaskan. Terlebih, memang dalam beberapa tahun ke belakang, tidak sedikit para ustadz kita yang kembali ingin memperjelas kesesatan rodja. ———————————————————————— 4. Ingin jalan sendiri dan susah di nasehati. Di bawa kembali merujuk ke orangtua kita asatidzah ga mau --» Wallahi, ini adalah kebohongan. Sekian kali di Tenggarong ada kajian para ustadz, dan kami selalu hadir dan mendampingi. Bahkan demi Allah, kami pernah nyaris tidak memiliki uang untuk modal berangkat ke muara badak untuk mendatangi Ust Abdul Mu'thi bin Mughni di kediamannya, tetapi tetap kami datangi beliau untuk meminta bimbingan, dengan meminjam uang untuk pergi dari salah seorang keluarga. Ini satu contoh. Belum lagi komunikasi kami kepada para ustadz lainnya melalui chat. Seperti Ust Abdushamad Bawazier. ———————————————————————— 5. Manhaj nya lembek. Ketika ikhwan berbicara tentang rodja dia marah. Tapi tdk juga mau menampakan mauqif nya --» Wallahi. Ini tidak pernah terjadi. Marah-marah saat Ikhwan membahas rodja. Sungguh besar fitnah ini. Dan hendaknya orang yang menyebarkan hal demikian takut dengan nasibnya karena membawa dosa fitnah. 6. Saat ini ust hari kerja di pt pama. Lokasi kalimantan tengah. Ma'had di tinggal. Dars hanya melalui online. Ketika di suruh melepas statusnya sbgai pembina, ust hari ga mau. Ma'had ust hari di tenggarong kaltim. --» ya, kami pernah berdakwah di perusahaan yang disebutkan. Dan kami tetap aktif dalam berbagai urusan ma' had. Saat ini (Juli 2026), sudah hampir 1 tahun kami tidak berdakwah di perusahaan itu lagi. Sehingga menetap di Tenggarong. Melepas status Pembina? Buat apa hal itu. Sementara para Asaatidzah sendiri tidak menuntut hal itu dari kami. Bahkan sebagian ustadz senior lain di Kaltim menasihati beberapa Ikhwan untuk tidak perlu ada tambahan pembina. Apalagi sampai menghapus kami dari pembina, sungguh ini tidak pernah terjadi.
.... Perlu dibedakan antara nasihat pribadi dan perbaikan kesalahan yang telah dipublikasikan. Terkadang ada seseorang yang telah melakukan kesalahan secara terbuka, menyebarkan syubhat, atau menimbulkan kebingungan di tengah umat. Kemudian ketika dinasihati oleh para asatidzah secara pribadi, ia merasa hal itu sudah cukup, tanpa ada pengakuan kesalahan, tanpa taubat yang tampak, dan tanpa menjelaskan kepada masyarakat di mana letak kekeliruannya serta bagaimana pemahaman yang benar. Lalu ketika ada yang mengingatkan, jawabannya: "Tanyakan saja kepada asatidzah, mereka sudah menasihati saya." Padahal cara seperti ini justru dapat menimbulkan kesan bahwa tidak ada masalah yang perlu diluruskan, sehingga masyarakat mengira bahwa apa yang telah dipublikasikannya dahulu adalah benar atau setidaknya tidak bermasalah. Padahal persoalannya bukan di situ. 1. Seseorang diwaspadai karena fakta dan kesalahannya Peringatan terhadap seseorang tidak semata-mata bergantung pada ada atau tidaknya tahdzir khusus dari ulama atau asatidzah. Yang menjadi ukuran pertama adalah fakta kesalahan yang nyata, syubhat yang tersebar, serta dampak yang ditimbulkannya di tengah masyarakat. 2. Jika mengaku telah dinasihati, maka tampakkan perbaikannya Kalau memang telah menerima nasihat, maka hendaknya terlihat buah dari nasihat tersebut. Apa yang salah? Di mana letak kekeliruannya? Bagaimana penjelasan yang benar? Ini yang semestinya diterangkan kepada masyarakat, terutama jika kesalahannya dahulu disampaikan secara terbuka. Adapun diam seribu bahasa, lalu menjadikan tidak adanya tahdzir yang tegas sebagai bukti kebenaran, maka ini bukan cara berpikir yang tepat. Tidak ditahdzir bukan berarti otomatis benar. 3. Jangan menjadikan keberadaan ulama sebagai tameng Seorang ulama atau ustadz senior bisa saja duduk dalam satu majelis dengan orang yang memiliki kesalahan atau bahkan catatan penyimpangan yang berbahaya. Hal itu tidak otomatis menghapus kesalahan orang tersebut. Para ulama memiliki ilmu, hikmah, pertimbangan maslahat dan mafsadat, serta kedudukan yang tidak dimiliki setiap orang. Karena itu, jangan menjadikan kehadiran seorang alim atau duduknya beliau dalam suatu majelis sebagai dalih untuk membenarkan semua pihak yang hadir di sana. Kesalahan tetaplah kesalahan sampai diperbaiki. Syubhat yang telah disebarkan tetap membutuhkan pelurusan dari orang yang menyebarkannya. 4. Lihatlah realita yang ada Fakta yang masih terlihat hingga hari ini adalah banyak syubhat lama yang tetap beredar di kalangan murid, pengikut, dan para pembelanya. Sering kali syubhat tersebut tidak ditinggalkan, tetapi hanya dipoles dengan ungkapan baru, retorika yang lebih halus, atau berbagai pembenaran agar tetap tampak dapat diterima. Padahal yang dibutuhkan bukan sekadar memperindah kemasan, melainkan kembali kepada kebenaran, mengakui kesalahan, dan meluruskan apa yang dahulu telah menimbulkan kebingungan di tengah umat. Karena hakikat rujuk kepada kebenaran bukanlah sekadar mengaku telah dinasihati, tetapi tampaknya perbaikan, penjelasan, dan pelurusan terhadap kesalahan yang pernah disebarkan.
.... Saat itu sebagian syabab menjadikan alasan bahwa boleh bermudah-mudahan menyebarkan faedah dari buku-buku orang kafir. Dalih yang sering dibawakan adalah kisah bahwa Asy-Syaikh As-Sa'di rahimahullah pernah terinspirasi menulis sebuah kitab setelah membaca salah satu buku karya nonmuslim. Waktu itu pembahasan ini cukup ramai. Sebagian membuat status dan menjadikannya sebagai pembenaran. Saya pun mencoba menjelaskan bahwa perkaranya tidak sesederhana itu. Membaca buku orang kafir, lalu menyebarkan isinya kepada masyarakat umum, bukanlah perkara yang bisa dilakukan tanpa melihat maslahat dan mafsadahnya. Harus dipertimbangkan siapa yang membaca, untuk tujuan apa, sejauh mana ilmunya, dan apa dampak yang mungkin timbul. Demikian pula ketika berbicara tentang buku-buku ahli bid'ah atau tulisan tokoh-tokoh yang masih menjadi bahan pembahasan dan perselisihan. Tidak semua orang memiliki kapasitas yang sama. Seorang ulama atau ustaz yang kokoh ilmunya mungkin membaca, menelaah, mengkritisi, bahkan mensyarah sebuah buku, kemudian menyaring mana yang benar dan mana yang keliru sebelum menyampaikannya kepada umat. Itu berbeda dengan seorang penuntut ilmu pemula yang belum memiliki kemampuan membedakan syubhat dan kebenaran secara matang. Karena itu, kurang tepat apabila seseorang langsung beralasan: "Kalau ulama melakukannya, berarti saya juga boleh." Atau berkata: "Kalau ustaz tidak disalahkan, mengapa saya disalahkan?" Cara berpikir seperti ini sering kali mengabaikan perbedaan kapasitas ilmu, pengalaman, kewibawaan ilmiah, dan kemampuan menimbang maslahat serta mafsadah. Padahal perbedaan itu sangat berpengaruh dalam penerapan sebuah kaidah. Di sinilah sering terjadi kekeliruan. Sebagian orang membangun kesimpulan berdasarkan logika yang sederhana, kemudian mencari potongan ucapan ulama yang tampak mendukung kesimpulannya. Bahkan terkadang ada yang hanya mengambil sebagian perkataan ulama tanpa melihat konteks, syarat, dan penjelasan lengkapnya. Akhirnya ucapan ulama justru dipakai untuk menguatkan pendapat yang sejak awal sudah dibangun berdasarkan asumsi pribadi. Akibatnya, muncullah berbagai status yang mengajak belajar kristologi, membahas buku-buku pemikiran yang menyimpang, atau menyebarkan bacaan-bacaan yang sebenarnya tidak layak dikonsumsi oleh masyarakat umum, dengan alasan "agar bisa membantah" atau "karena ulama juga pernah membaca." Padahal, sebelum melangkah sejauh itu, semestinya seseorang bertanya kepada dirinya sendiri berkali-kali: * Apakah saya memiliki bekal ilmu yang memadai? * Apakah saya mampu membedakan syubhat dari kebenaran? * Apakah manfaatnya lebih besar daripada mudaratnya? * Apakah para ulama memang menganjurkan setiap orang melakukan hal tersebut, ataukah itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang memang memiliki kapasitas ilmiah? Semangat memang merupakan sifat yang baik. Namun semangat harus dibimbing oleh ilmu, hikmah, dan bimbingan para ulama. Jangan sampai semangat mendahului kemampuan, sehingga justru membuka pintu syubhat bagi diri sendiri maupun orang lain. Sebagaimana dikatakan oleh para ulama, meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya sering kali berawal dari semangat yang tidak diiringi dengan bashirah (ilmu dan pandangan yang benar).
.... Terlepas dari benar atau tidaknya berbagai penilaian tentang Covid-19, tidak tepat jika kesalahan selalu diarahkan kepada asatidzah. Saat itu, para asatidzah tidak mengambil sikap berdasarkan pendapat pribadi. Mereka merujuk kepada para ulama dan umara, sebagaimana manhaj Ahlus Sunnah: mengembalikan perkara-perkara besar kepada ahlinya. Kalau memang demikian keadaannya, jelas keliru jika yang terus-menerus disalahkan para asatidzah. Bahkan, Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah sendiri juga menerima vaksin pada masa itu. Karena itu, mohon dijaga komentar-komentar yang selalu menyudutkan asatidzah dalam persoalan ini. Lagi pula, itu pembahasan yang sudah lama. Hari ini, Ahlus Sunnah Salafiyyin lebih disibukkan dengan menuntut ilmu, menghadiri majelis taklim, dan membenahi diri. Sementara di situ masih ada saja yang terus mengungkit dan sibuk mengurusi persoalan yang sudah berlalu. Wallahul Musta'an
Harus bertanggungjawab bagi dia yang telah menyebarkan pertama kali. Sekarang diteruskan oleh akun Facebook musuh-musuh dakwah. Dan bisa terancam pidana menyebarkan foto tanpa izin, apalagi mencemari nama baik seseorang. Apa yang dikawatirkan benar-benar…
Harus bertanggungjawab bagi dia yang telah menyebarkan pertama kali. Sekarang diteruskan oleh akun Facebook musuh-musuh dakwah. Dan bisa terancam pidana menyebarkan foto tanpa izin, apalagi mencemari nama baik seseorang. Apa yang dikawatirkan benar-benar terjadi, Qadarullah Syabab!
без подписи