Ask The Experts
описание
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Лучшие посты
за три месяцаpagi ini diingatkan oleh Ibu Ketua DJSN tentang pesan ini semoga semakin menguatkan integritas duta BPJS Kesehatan #jaga diri jaga teman jaga bpjs kesehatan ✊️
без подписи
https://www.instagram.com/p/Da-GZdYlAM9/?img_index=2&igsh=YXhta282cmMyNXVr Mohon doa dan dukungan untuk karya kolaborasi Duta BPJS Kesehatan Semoga memberi manfaat untuk Indonesia #salam integritas ✊
https://www.instagram.com/p/DbVb_R0GGJv/?igsh=MWFjZGZlZHVhMzlpaw==
Di peta, Jayapura mungkin terlihat jauh, tapi bagi Duta BPJS Kesehatan, setiap perjalanan adalah cara untuk mendekatkan harapan ✈️ Selama ini, kami belajar bahwa melayani bukan hanya tentang hadir di tempat kerja. Melainkan tentang hadir untuk masyarakat, menjaga kepercayaan, dan memastikan Program JKN terus memberikan manfaat hingga ke ujung negeri 🇲🇨 Terus semangat para Duta BPJS Kesehatan 💪 https://www.instagram.com/reel/DbvKOBMJUix/?igsh=MW9ub3J6bHQ3czFwNQ== 📸 @papavesya
Tur Sejarah Habibie
THE ONE AND ONLY 💯🎉 Selamat kepada Kk Abriadi @Maaf_tolongyah (Staf PMPF Kab Kep Tanimbar KC Ambon) yang menjadi satu-satunya peserta dengan jawaban yang benar pada Tebak-Tebak Seru Polling Telegram ATE pada match Indonesia Vs Vietnam 🇮🇩 Terima kasih untuk seluruh Sobat ATE yang sudah ikut berpartisipasi. Sampai bertemu di challenge berikutnya 🚀 #INISIATIF
Oleh: Dedi Priadi 𝘚𝘦𝘦𝘬𝘰𝘳 𝘬𝘶𝘤𝘪𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘚𝘪𝘯𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘧𝘴𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘵𝘪𝘬𝘶𝘴. Peribahasa Afrika ini adalah panggilan jiwa untuk tujuan yang lebih tinggi, yakni memetakan jarak antara diri Anda saat ini dan potensi terbesar Anda. Tikus melambangkan kepuasan instan dan kebiasaan Anda yang nyaman, tetapi merusak, seperti menunda pekerjaan penting, 𝘴𝘤𝘳𝘰𝘭𝘭𝘪𝘯𝘨 konten di sosial media dalam jangka waktu yang panjang, atau menyengaja bangun tidur kesiangan. Godaan kecil ini tanpa sadar menjebak Anda dalam siklus kemajuan yang biasa-biasa saja. Secara psikologis, ketertarikan pada "tikus" adalah manifestasi dari 𝘣𝘪𝘢𝘴 𝘴𝘵𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘲𝘶𝘰—perangkap zona nyaman. Ia menjanjikan kepastian dan keamanan emosional palsu di masa kini, namun harga yang dibayar adalah stagnasi dan terhambatnya pengaktifan potensi pertumbuhan dan ambisi jangka panjang. Inilah medan pertempuran sesungguhnya. 𝘛𝘩𝘦 𝘩𝘢𝘳𝘥𝘦𝘴𝘵 𝘣𝘢𝘵𝘵𝘭𝘦 𝘪𝘴 𝘣𝘦𝘵𝘸𝘦𝘦𝘯 𝘺𝘰𝘶𝘳 𝘰𝘭𝘥 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘵𝘴 𝘢𝘯𝘥 𝘺𝘰𝘶𝘳 𝘯𝘦𝘸 𝘴𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢𝘳𝘥𝘴. Pergulatan batin yang paling sengit adalah pertentangan antara kebiasaan yang telah mendarah daging dengan batasan mutu diri yang baru Anda tetapkan. Untuk menjadi Singa, Anda harus mentransformasi identitas inti Anda. Kurangi berpikir sebagai kucing; mulailah bertindak dan berpikir sesuai standar Raja hutan. Kehilangan selera makan adalah medan perang psikologis antara tujuan jangka pendek dan jangka panjang, menuntut pengorbanan berupa penundaan kepuasan instan tikus demi imbalan jangka panjang yang signifikan — menjadi Singa. Sadari bahwa jalan menuju Singa penuh tantangan. Setiap kesulitan adalah alat untuk membentuk mental yang kuat—inilah energi utama untuk mencapai hasil yang Anda impikan. Ambil kendali penuh atas rutinitas Anda. Ganti perilaku bernilai rendah—yang hanya menguntungkan kucing—dengan tindakan bernilai tinggi yang diwujudkan oleh Singa. Setiap kebiasaan kecil yang konsisten (𝘢𝘵𝘰𝘮𝘪𝘤 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘵𝘴) akan membangun identitas baru yang Anda cita-citakan. Setiap kali Anda menolak tikus, Anda bukan hanya melepaskan kebiasaan buruk, tetapi sedang merebut kedaulatan atas diri Anda sendiri. Tegakkan integritas Anda, melangkahlah dengan penuh keyakinan, karena keagungan sejati—takhta Sang Singa—menanti jiwa yang siap memimpin dengan rendah hati dan bertanggung jawab. #INISIATIF #TGIF
без подписи
без подписи
без подписи
Jangan sampai ketinggalan gaisss. Deadlinenya 31 Agustus 2026 Follow, like, share 🇲🇨 https://www.instagram.com/p/DbdILv2Hbgb/?igsh=MTl5aXp3ZHRtYzN0MQ==
Di balik keberlanjutan Program JKN, ada banyak cerita yang mungkin belum pernah kamu dengar ✅ Salah satunya adalah kisah Duta BPJS Kesehatan ini. Sebagai penyandang disabilitas tunadaksa yang berkarya di Kedeputian Bidang Aktuaria, ia membuktikan bahwa kontribusi tidak selalu terlihat, tetapi selalu bermakna 👏 Bravo Duta BPJS Kesehatan 🇲🇨 https://www.instagram.com/reel/Db5YZoHJ5q2/?igsh=NXQ1ZG9rZ3FyYzdy 📸@Bimavl
Oleh: Iwan Kusworo Selamat Pagi, Sahabat! Hari ini saya mampir ngopi di Smiljan Emhalway di Blok M. Salah satu hal yang saya suka dari tempat ini adalah mereka menyediakan rak buku yang bebas dibaca oleh pengunjung. Sambil menikmati secangkir kopi, saya memilih buku berjudul Primary Greatness karya Stephen R. Covey untuk menemani saya. Covey mengingatkan bahwa banyak orang mengejar apa yang ia sebut secondary greatness: jabatan, kekayaan, popularitas, penghargaan, atau berbagai bentuk keberhasilan yang terlihat dari luar. Semua itu tidak salah, tetapi sifatnya sementara dan sangat bergantung pada keadaan. Sebaliknya, primary greatness dibangun dari karakter. Inilah yang menjadi fondasi kehidupan yang kokoh, apa pun situasi yang kita hadapi. Covey kemudian menguraikan dua belas prinsip universal yang menjadi dasar primary greatness. 1. Integrity (Integritas), hidup selaras antara nilai, perkataan, dan tindakan. 2. Contribution (Kontribusi), lebih berfokus pada apa yang dapat kita berikan daripada apa yang bisa kita dapatkan. 3. Priority (Prioritas), mendahulukan hal-hal yang benar-benar penting. 4. Sacrifice (Pengorbanan), bersedia melepaskan kenyamanan sesaat demi sesuatu yang lebih bernilai. 5. Service (Pelayanan), menggunakan hidup untuk melayani dan membawa manfaat bagi orang lain. 6. Responsibility (Tanggung Jawab), memilih bertanggung jawab atas respons kita, bukan menyalahkan keadaan. 7. Continuous Learning (Pembelajaran Berkelanjutan), terus belajar dan bertumbuh sepanjang hidup. 8. Renewal (Pembaruan Diri), menjaga keseimbangan dengan memperbarui diri secara fisik, mental, emosional, dan spiritual. 9. Trust (Kepercayaan), membangun karakter yang dapat dipercaya. 10. Justice (Keadilan), memperlakukan setiap orang dengan adil dan penuh hormat. 11. Honesty (Kejujuran), hidup dalam kebenaran dan ketulusan. 12. Love (Cinta/Kasih), memilih mengasihi dan menginginkan kebaikan bagi sesama. Yang menarik, Covey menyebut semuanya sebagai prinsip universal. Bukan sekedar nilai yang berlaku di budaya tertentu, melainkan prinsip-prinsip yang bekerja seperti hukum alam. Kita bebas memilih untuk mengikutinya atau mengabaikannya, tetapi kita tidak bebas memilih konsekuensinya. Membaca beberapa halaman buku ini membuat saya kembali bertanya kepada diri sendiri. Selama ini, apakah saya lebih sibuk mengejar keberhasilan yang terlihat dari luar, atau justru sedang membangun karakter yang akan tetap bertahan ketika semua pencapaian itu suatu hari nanti hilang? Pertanyaan yang sederhana, tetapi rasanya layak untuk kita renungkan bersama. Buku apa yang Anda baca hari ini? #INISIATIF
Oleh: Ronald Satria Banyak pemimpin masih mengira tantangan terbesar saat membangun tim layanan Gen Z adalah soal disiplin. Mereka melihat keterlambatan, kurang inisiatif, atau respons yang dianggap kurang sigap sebagai masalah utama. Padahal, sering kali akar persoalannya bukan disiplin, melainkan desain komunikasi yang tidak relevan. Gen Z bukan sulit diarahkan, mereka hanya tidak lagi terhubung dengan pola kepemimpinan lama yang terlalu instruktif dan minim konteks. Dalam dunia service, komunikasi bukan hanya alat untuk memberi arahan. Komunikasi adalah mesin penggerak performa, karena kualitas layanan sangat bergantung pada bagaimana tim memahami, merespons, dan mengeksekusi ekspektasi. Fondasi pertama adalah Precision. Bukan sekadar jelas, tetapi presisi. Instruksi yang kabur menciptakan interpretasi yang berbeda-beda dan akhirnya menghasilkan standar layanan yang tidak konsisten. Kalimat seperti, “Tolong lebih perhatian pada customer,” terdengar baik tetapi sulit dijalankan. Bandingkan dengan instruksi seperti, “Setiap pelanggan yang menunggu lebih dari 7 menit wajib diberikan update status dan reassurance.” Presisi menciptakan kepastian. Fondasi kedua adalah Flow. Cara menyampaikan pesan sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri. Gen Z tumbuh di era kecepatan informasi, sehingga mereka lebih mudah merespons komunikasi yang runtut, singkat, dan langsung ke inti. Briefing yang terlalu panjang sering kali justru kehilangan makna. Mereka membutuhkan alur berpikir yang mudah dipahami, bukan penjelasan berputar-putar. Bukan banyak bicara, tetapi pesan yang mudah diproses. Fondasi ketiga adalah Role Certainty. Banyak kegagalan layanan bukan karena tim tidak kompeten, melainkan karena batas tanggung jawab tidak jelas. Ketidakjelasan ini membuat energi habis untuk saling menunggu dan saling melempar tugas. Siapa yang follow up pelanggan? Siapa yang mengambil keputusan saat komplain terjadi? Siapa yang menjaga standar layanan tetap konsisten? Ketika peran jelas, tim bergerak lebih cepat dan lebih percaya diri. Namun ada satu hal yang lebih penting dari semuanya, yaitu psychological safety. Gen Z tidak hanya membutuhkan arahan, tetapi juga rasa aman untuk bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan tanpa takut langsung dihakimi. Leader yang hanya hadir saat evaluasi akan menciptakan ketegangan. Sebaliknya, leader yang hadir sebagai growth partner akan membangun loyalitas. Mereka tidak mencari atasan yang sempurna, tetapi pemimpin yang hadir, mendengar, dan membantu mereka berkembang. Membangun tim service Gen Z bukan soal mengawasi lebih ketat, melainkan menciptakan lingkungan kerja yang membuat mereka ingin memberikan yang terbaik. Service excellence tidak lahir dari tekanan, tetapi dari trust, clarity, dan rasa memiliki. Pada akhirnya, pengalaman pelanggan yang luar biasa selalu berawal dari pengalaman karyawan yang sehat. Jika ingin customer merasa dilayani dengan baik, mulailah dengan memastikan tim Anda merasa dipimpin dengan baik. #INISIATIF
CENNING RARA APA YANG DIPAKAI MARVINA SEHINGGA BISA MENIKAH 15 KALI? Oleh: Dul Abdul Rahman Peristiwa tentang Marvina, seorang perempuan di Sulawesi Selatan yang telah menikah hingga lima belas kali, mengundang rasa ingin tahu yang lebih dalam daripada sekadar sensasi. Ia bukan selebritas, bukan pula figur dengan daya tarik fisik yang dianggap luar biasa oleh standar umum. Namun, fakta bahwa banyak lelaki datang dan pergi dalam lingkar hidupnya membuka satu pertanyaan filosofis: apa sebenarnya yang membuat seseorang “menarik”? Di tengah masyarakat Bugis, muncul satu jawaban lama yang berbau kultural sekaligus mistis: CENNING RARA. Sebuah istilah yang tidak sekadar merujuk pada kecantikan fisik, melainkan seni memperindah diri di hadapan orang lain, terutama lawan jenis. Namun, Cenning Rara bukan sekadar riasan wajah; ia adalah pertemuan antara kata, niat, simbol, dan harapan. Salah satu bacaan CENNING RARA Bugis berbunyi: Eru mata siduppa mata, Iyapa naewa siduppa mata namanyameng atinna (sebut namanya) Dari CENNING RARA tersebut menunjukkan bahwa daya tarik pertama memang kasat mata, tetapi yang mengikat adalah sesuatu yang lebih dalam: rasa, kesan, dan mungkin juga energi batin yang tidak terlihat. Dalam praktik tradisional, bagi seorang perempuan, CENNING RARA dibacakan saat menggunakan bedak dari tepung beras, yang dianggap paling manjur adalah beras ketan. Ketan sendiri bukan bahan yang dipilih secara kebetulan. Ia lengket, mudah menyatu, simbol dari harapan agar hubungan pun demikian: melekat, erat, dan sulit dipisahkan. Bahkan dalam cerita lama, ada pula praktik menjampi makanan seperti songkolo untuk “menyatukan rasa” antara dua insan. Namun, di titik ini kita perlu berhenti sejenak. Apakah benar daya tarik manusia bisa direduksi menjadi mantra dan simbol semata? Secara filosofis, CENNING RARA bisa dibaca bukan sebagai praktik magis literal, melainkan sebagai metafora. Ia adalah representasi dari usaha manusia untuk mengendalikan sesuatu yang pada dasarnya tidak bisa dikendalikan: cinta dan ketertarikan. Manusia selalu mencari formula, entah itu dalam bentuk doa, ritual, penampilan, atau bahkan strategi psikologis, untuk membuat dirinya menarik dan dipuji. Jika kita melihat Marvina dari sudut ini, mungkin pertanyaannya bergeser. Bukan lagi “apa yang ia pakai,” tetapi “apa yang ia pancarkan.” Bisa jadi daya tariknya bukan pada fisik, melainkan pada kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, atau cara ia membuat orang lain merasa berarti. Hal-hal seperti ini sering kali jauh lebih “lengket” daripada sekadar kecantikan luar. Di era modern, praktik seperti CENNING RARA mulai ditinggalkan, terutama karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan, khususnya dalam Islam yang menekankan tauhid. Namun, menariknya, esensinya tidak benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk. Kini, orang menggunakan parfum mahal, belajar public speaking, membangun citra di media sosial. Semua itu, jika dipikirkan, adalah versi kontemporer dari CENNING RARA. Dengan kata lain, manusia tetap berusaha “mempercantik diri di mata orang lain,” hanya medianya yang berbeda. Maka, kisah Marvina bukan sekadar cerita tentang seorang perempuan yang menikah berkali-kali. Ia adalah cermin dari pertanyaan abadi: apa yang membuat seseorang dicintai? Apakah itu mantra, simbol, atau sesuatu yang lebih subtil seperti kehadiran yang hangat dan jiwa yang terbuka? Barangkali, CENNING RARA yang paling ampuh bukanlah yang dibacakan di atas bedak atau makanan, melainkan yang tumbuh dari dalam diri: cara seseorang memahami dirinya, menghargai orang lain, dan membangun hubungan yang terasa hidup. Dan jika benar demikian, maka “mantra” itu sebenarnya tidak pernah hilang. Ia hanya berubah nama. Tabek! #INISIATIF
OLAH-OLAH BAHLIL DI HMI CABANG IRIAN JAYA Oleh: Yusran Darmawan Dia masih menjadi sopir angkot ketika bergabung di HMI. Bahkan ketika masih menjadi aktivis HMI, dia ditahan aparat hingga 11 kali. Di HMI, dia menemukan pelajaran penting yang membawanya ke posisi penting republik ini. “Bahlil adalah orang yang benar-benar ditempa dari nol,” kata Hasbi. Sebelum menjadi pengusaha, menurutnya, Bahlil belum mempunyai apa-apa. Jalan hidupnya tidak mulus. Mungkin justru karena kemiskinan itulah HMI menjadi menarik baginya. Di sana ia melihat sebuah paradoks: banyak senior hidup pas-pasan, tetapi mempunyai pengaruh besar. Mereka bisa kekurangan uang makan, menumpang tidur, bahkan berutang, tetapi mempunyai kapasitas intelektual dan jaringan yang membuat pendapat mereka diperhitungkan. Bahlil menemukan bahwa ada jenis modal lain selain uang. Ada pengetahuan. Ada kepercayaan. Ada keberanian. Ada jaringan. Semuanya bisa dibangun. Ia kemudian merumuskan metafora yang khas mengenai “pangkat” dalam organisasi. Ada orang berpangkat jenderal tetapi berjiwa kopral: jabatannya tinggi, tetapi tidak memiliki kapasitas dan otoritas moral. Sebaliknya, ada orang berpangkat kopral tetapi berjiwa jenderal. Jabatannya mungkin rendah, tetapi orang mendengarkannya karena ia memiliki kemampuan membaca keadaan, membangun jaringan, dan memegang prinsip. Bahlil memilih yang kedua. Pengaruh tidak selalu datang dari jabatan. Baca selengkapnya 👇 https://www.timur-angin.com/2026/08/olah-olah-bahlil-di-hmi-cabang-irian.html #INISIATIF #Yakusa
Oleh: Hendy Mustiko Aji Short talk sama istri sebelum sahur... Kita berdua ngobrolin orang-orang yg belum bisa berdamai sama diri mereka sendiri karena gengsi dan tersandera validasi orang lain. Orang-orang yg sangat berat hatinya mengakui kekurangan atau kesalahan, karena yg demikian berarti mendegradasi harga diri. Orang-orang seperti ini sangat dekat dgn karakter arogan atau angkuh. Padahal ketika mulut dipaksa bilang: "Maaf saya memang salah..." "Maaf saya gak tau..." "Maaf....." .... rasanya sangat melegakan di hati.. Ketika kata-kata tersebut terucap, niscaya seketika runtuh pondasi arogansi dan keangkuhan di hati. Hati jadi terasa lebih bersih dan lembut. Nasihat akan lebih mudah masuk dan mengiluminasi sampai ke relung hati. Trust me! Yes, ini pengalaman pribadi. Walhamdulillah ☺️ Kalo salah, akui salah. Gak usah denial cari pembelaan diri. Kalo gak bisa, akui gak bisa. Gak usah sok jago. Kalo miskin, akui miskin. Gak usah sok kaya. This is the art of berdamai dengan diri sendiri, lepas dari tersandera validasi orang lain ☺️🫰 #INISIATIF
😂🤣🥲☺️😊🙂 Pernah nggak sih, setelah ngobrol sama seseorang kamu malah jadi mikir, "Eh, jangan-jangan aku yang salah ingat?” 😵💫 Misalnya: 💬 Kamu: “Kamu kemarin bilang akan datang jam 7” 💬 Dia: “Aku nggak pernah bilang begitu. Kamu pasti salah ingat” Atau kalimat-kalimat seperti: “Kamu terlalu sensitif” “Itu cuma bercanda, jangan lebay” “Semua ini cuma ada di kepalamu” Sounds familiar? 👀 Bisa jadi kita sedang berhadapan dengan gaslighting, yaitu bentuk manipulasi psikologis yang membuat seseorang mulai meragukan ingatan, persepsi, perasaan, bahkan penilaiannya sendiri. 📢Panggilan untuk seluruh Sobat ATE para pemburu ilmu, pejuang 2 JP, pemburu doorprize, pengisi waktu LDR-an, atau apa pun motivasi rekan-rekan… 😆 Yuk, jangan lupa merapat di ATE Edisi 424 "Are You Gaslighting Me? Bedakan Konflik, Kritik, atau Manipulasi" 🗓 Rabu, 19 Agustus 2026 ⏰ 19.00 WIB – selesai 📍 Grup Telegram ATE (Khusus Internal Pegawai & PATT) https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1 🎁 Ilmu + 2 JP + Doorprize #INISIATIF #BecomingAnExpertWithATE
без подписи