tgindex
Garasi Fauzil Adhim

Garasi Fauzil Adhim

Статистика
Последний пост
7 авг.
Последнее чтение
13 авг.
Постов за неделю
0
Всего постов
24
Тип
открытый
Язык
und
В каталоге с
13 авг.
Подписчики
4 262
−6 за 4 дн.
Сутки
−5
−0,12%
Неделя
 
Месяц
 
Просмотров на пост
610
24 постов
Вовлечённость
14,3%
к подписчикам
Постов в день
0,0
всего 24
Упоминаний
0
каналов
Охват размещения
оценка
1/24сутки в ленте
366
1/48двое суток
419
1/72трое суток
452

Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.

Посты

  • Tahun 2010, Nicholas Carr menulis buku yang judulnya The Shallows. Ketika itu Nicholas Carr menyoroti bahwa pada saat seseorang banyak menyibukkan diri dengan membaca (masih membaca, lho) berita-berita pendek, banyak mengkonsumsi internet, maka terjadi fenomena shallowing. Pendangkalan. Orang menjadi tidak betah berpikir, orang menjadi cepat mengambil kesimpulan tanpa data yang kuat, dan ini mempengaruhi kualitas belajar seseorang. ⁣ Hari ini, kita mendapati keadaan yang jauh lebih instant lagi. Karena itulah ketika Norwegia, Swedia, Denmark memutuskan untuk kembali ke pena, ini bukan soal tidak mau dengan kemajuan, tetapi karena menulis maupun membaca secara langsung; menulis dengan pena di atas kertas, membaca dan menuliskan ringkasannya, ini sangat bermanfaat untuk mengembangkan kecakapan dasar dalam belajar. ⁣ Kalau kecakapan dasar dalam belajar sangat kuat, maka anak-anak itu akan memiliki penguasaan ilmu yang jauh lebih matang dan mendalam. https://www.instagram.com/reel/Dbt2Q0rPmvy/?igsh=MWx2a2R0NnZqZDNj

  • Seburuk apapun keadaan di kelas, masih mungkin untuk berubah selama guru memiliki kemauan yang keras. Bukan teriakan yang keras. Teriakan dan ancaman bisa menjadi blunder. *** Guru itu tak sanggup lagi menahan marah. Wajahnya merah. Matanya menyala. Tangan kanannya mengepal menggebrak meja. Suaranya menggelegar keras mengeluarkan ancaman, “Diam!!! Kalau kalian tidak mau diam, saya keluar.” Para siswa diam sejenak. Bukan karena taat, tetapi karena percuma bersuara di saat ada suara yang menggelegar. Tetapi diamnya mereka hanya sesaat. Selesai ancaman itu terucapkan, kelas kembali berisik. Kelas dipenuhi suara anak-anak yang asyik berbicara sesama mereka, tak peduli gurunya yang meluap kemarahannya. Tingkah siswa-siswa itu semakin membakar amarah. Sikap mereka yang tidak hormat dan terasa merendahkan membuat guru itu mulai frustasi. Sekali lagi guru itu berteriak membentak menyuruh diam, tetapi kelas kembali berisik. Bahkan semakin menjadi. Sempurna kegaduhannya sehingga guru itu akhirnya benar-benar frustrasi. Ketika tidak lagi melihat ada jalan, guru itu akhirnya mengeluarkan ancaman yang mengubah keadaan. Suaranya kali ini lebih tertata, artikulasinya jelas, dan volume suaranya bergerak dari keras kepada suara sangat keras saat menyampaikan pertanyaan: “Kalau kalian tidak bisa diam, saya akan keluar,” kata guru itu dengan suara keras, tegas dan jelas. Kemudian ia berteriak dengan suara yang jauh lebih keras, “Kalian bisa diam, tidak?” Dan jawaban yang tak terduga itu pun datang serempak, seketika, bersama-sama; seakan para siswa itu sudah latihan vokal bersama meneriakkan kata, “Tidak.....!!!” Sebuah jawaban singkat yang menghancurkan harga diri dan struktur kelas. Guru dihadapkan pada dilema. Keluar berarti kalah, tidak keluar juga kalah dan terhina. Akhirnya guru itu hanya terduduk di kursinya sambil menelungkupkan wajah ke permukaan meja yang kali terasa sangat tidak nyaman. Airmatanya bukan lagi jatuh. Airmatanya mengalir. Dan para siswa seakan belum puas menjatuhkan mental gurunya dengan berkata, “Diam.... Diam.... Diam... Ada yang nangis, lho.” ⁣ Ketika kelas sudah seperti itu, apa yang bisa Anda harapkan??! Tidak ada, kecuali jika Anda mau melakukan perubahan. Sekarang juga. Dan perbaikan itu masih sangat mungkin. Membalik keadaan dari kelas mengenaskan menjadi kelas yang mengagumkan. . https://www.instagram.com/p/DbVHcFPj6oP/?igsh=MXVwMXN5bWxqbWhtNg==

  • Ada istri yang memilih cerai daripada membangun kembali rumah-tangganya. Bukan karena hadirnya orang ketiga, bukan pula karena suaminya tak lagi cinta, tetapi karena ia perhatiannya telah terkuras oleh media sosial. ⁣ Inilah contoh technoference. ⁣ Ada ibu yang tak lagi peduli kepada anaknya. Anak memakai pampers sepanjang hari sampai popok ajaib itu tak mampu lagi menampung kotoran anaknya, barulah ia membersihkan ala kadarnya. Perkembangan dan pertumbuhan anak terhambat bukan karena ibunya harus berjibaku mencari nafkah, tetapi karena perhatiannya tersedot oleh media sosial. ⁣ Ini juga salah satu contoh technoference. ⁣ Beberapa tahun terakhir, ada berbagai kasus yang hadir ke ruang konsultasi di rumah saya. Cerai bukan karena suami tak peduli. Juga bukan karena suami tak lagi cinta. Tetapi karena istri lebih memilih asyik dengan Snapchat atau Tiktok daripada ngobrol dengan suami. Ia kehilangan suami dan keutuhan rumah-tangganya disebabkan technoference. ⁣ Di kasus lain, seorang ibu lebih memilih menyerahkan hak pengasuhan kepada mantan suaminya. Bukan karena mantan suaminya tidak memperhatikan kebutuhan nafkah anak. Bahkan sangat perhatian. Masih rajin datang berkunjung menengok putranya dan berusaha tetap baik hubungannya dengan mantan mertua. Tetapi ibu anak itu terjebak oleh technoference. Ia lebih asyik dengan konten media sosial daripada mengisi ruang batin dirinya sendiri dan anaknya. Sekali waktu saja ia ingin bertemu anaknya untuk menjadi konten video pendek. ⁣ Lalu, apa sih technoference itu? Secara sederhana, technoference adalah gangguan hubungan antarmanusia akibat interupsi teknologi. Bukan sekadar anak terlalu lama bermain gawai. Tetapi ketika teknologi mengambil alih perhatian yang seharusnya diberikan kepada orang-orang yang kita cintai. ⁣ Technoference tidak melulu soal media sosial, tetapi pintu utama technoference lebih banyak melalui media sosial. Menurut saya, inilah salah satu tantangan terbesar keluarga di zaman kita. Dan saya ingin kita belajar memahami technoference ini bersama. Bagaimana menurut Anda? https://www.instagram.com/p/DbRrzEUj-eB/?igsh=bjhnMDV4OHB3OXlq

  • без подписи

  • без подписи

  • без подписи

  • без подписи

  • без подписи

  • Anak-anak sekarang bukan kekurangan kasih-sayang. Bukan. Mereka hanya kurang perhatian. ⁣ Banyak orangtua sangat mencintai anaknya. Tetapi sekedar kata cinta tidak menjadikan anak merasa dicintai. Banyak orangtua di masa dahulu tidak pernah mengatakan cinta kepada anaknya, tetapi anak merasa sangat dicintai. ⁣ Apa yang membedakan? Mereka memang tak terbiasa membombardir anaknya dengan kata “anak hebatnya Mama” atau “I love you, My Sweet Heart” atau kata-kata sejenis. Tetapi mereka merasa diperhatikan. Sebab, cinta memerlukan perhatian untuk dapat dirasakan anak. ⁣ Hari ini, banyak orangtua yang sangat manis kata-katanya. Bahkan terlalu manis. Tetapi anak tidak merasa disayang. Kata-kata itu terasa hambar. ⁣ Kasih sayang menjadi nyata ketika diwujudkan dalam kehadiran. https://www.facebook.com/100064427930419/posts/pfbid0mcSJtmcgxzMkx4EZUAm3VKeyyBAjMVvrJaa6Apbwbiy13FCoW8r493EBD3S4BgMrl/

  • Saya khawatir kita sedang kehilangan sesuatu yang tidak kita sadari. Tampak sederhana, padahal sangat berharga. Banyak yang merindukannya, tetapi kita biarkan lepas begitu saja. ⁣ Di banyak rumah di berbagai keluarga, hubungan orangtua dan anak seperti memegangi barang pecah belah yang retak kiri-kanannya. Begitu pula hubungan suami dan istri. Hubungan retak bukan karena konflik. Bukan. Retaknya hubungan tidak selalu karena konflik. Kadang hubungan perlahan melemah karena perhatian yang terus terbagi. Sedikit demi sedikit. Hari demi hari. Bukan karena bertambahnya kesibukan, bukan pula karena semakin banyaknya amanah yang harus mendapat perhatian, tetapi karena kita lebih sering memandangi wajah gawai kita dibandingkan menatap wajah istri maupun anak-anak kita. ⁣ Di antara tanda hubungan yang melemah ialah semakin rumitnya komunikasi. Semakin kita memerlukan teknik dalam berkomunikasi, semakin orangtua harus ekstra hati-hati memilih kata dan memilih diksi, menunjukkan semakin tidak eratnya hubungan di antara mereka. Tsiqah dan hurmat (trust & respect) melemah. ⁣ Komunikasi paling baik adalah yang spontan, alami dan terarah. Bukan sekedar spontan. Bukan sekedar alami. ⁣ Perubahan mendadak seringkali membuat kita cepat bertindak. Tampak berbahaya, tetapi langkah penanganannya cenderung segera dan nyata. Yang paling berbahaya sering kali bukan yang tiba-tiba, melainkan yang berlangsung perlahan. https://www.facebook.com/100064427930419/posts/pfbid0yRwvTDAipmr9WX7JDe6PfTN4rMrbCmkGXq4hXunT9CGBK4o88NXrQetvV7CfWJw7l/

  • Banyak yang keluar bersama, ke tempat makan yang sama, menghadap meja yang sama, tetapi tidak makan bersama. Mereka hanya sama-sama makan di tempat yang sama, meskipun mereka satu keluarga. Padahal, sangat berbeda antara sama-sama makan dengan makan bersama. ⁣ Saat menunggu makanan yang dipesan tiba, ibu sibuk dengan medsosnya, ayah sibuk chatting di WA, sementara anak-anak menunggu kapan ia bisa ngobrol dengan ayah-ibunya tanpa gawai. ⁣ Berkali-kali anak memberi isyarat untuk bisa berbincang hangat, tetapi orangtua menanggapinya dengan berat. Ketika anak berteriak marah, ibunya segera meminjamkan gawai. Bukan memberikan waktu dan perhatiannya untuk berbincang. ⁣ Hari itu anak belajar. Hari itu anak mulai merasakan, gawai menanggapi lebih cepat dibandingkan ibunya. Anak belajar bahwa gawai lebih penting dari orangtuanya, justru saat keluar untuk makan bersama, tetapi tanpa kebersamaan. ⁣ Ada yang perlu kita sadari, tidak semua yang kita anggap sebagai kebersamaan akan mendatangkan kedekatan hati. Sebab, yang terjadi memang hanya berdekat-dekat. Bukan kebersamaan. ⁣ Menyadari masalah itu penting. Kita tidak bisa memperbaiki sesuatu yang tidak kita sadari letak masalahnya. https://www.facebook.com/100064427930419/posts/pfbid035p4NSMnZxaGaxqhitN3jZTVLERGgXpiQasbPmAVsTUkQQyXJDsxvW1g8MWToAxWbl/

  • Anak Anda tidak sedang tumbuh di era digital. Mereka sedang tumbuh di era distraksi. Itulah sebabnya saya sering bingung kalau diminta berbicara tentang mendidik anak di era digital. Seolah-olah masalahnya pada anak. Seolah-olah masalahnya timbul karena beda generasi. Padahal akar masalahnya ada pada kita, para orangtua, yang sulit mempertahankan perhatian. Masalah anak-anak kita bukan disebabkan hadirnya teknologi digital. Masalah bukan teknologi. Masalahnya adalah perhatian orangtua menjadi semakin mudah terpecah. Lagi bicara sama anak, tiba-tiba terputus karena perhatian orangtua beralih ke gadget. Dan anak-anak tumbuh di tengah situasi itu. Belajar dari situ. Belajar menemukan keasyikan melalui gadget, meskipun awalnya mereka sebenarnya lebih senang bercanda bersama orangtuanya, termasuk dibersihkan telinganya oleh ibu. Oh, karunia luar biasa. https://www.instagram.com/p/DaK4m9Qj-2C/?igsh=OW95M3I0OG44cHNx

  • Pertanyaan yang sangat sering muncul, “Bagaimana mengatasi kecanduan gadget pada anak saya? Bagaimana menghadapi anak yang keras kepala?” ⁣ Itu bukan masalah. Itu akibat. Kita tidak bisa memperbaiki sesuatu yang tidak kita sadari letak masalahnya. Akar masalahnya. ⁣ Persoalan utamanya seringkali bukan berapa lama anak kita menatap gadget. Ada yang lebih sulit dari itu. ⁣ Selama bertahun-tahun kita sibuk menghitung screen time anak. Tetapi jarang ada yang bertanya, "Berapa kali hari ini anak merasa benar-benar diperhatikan?" ⁣ Barangkali persoalan terbesar kita hari ini bukan berapa lama anak bermain gadget. Persoalan kita hari ini adalah anak-anak yang kehilangan perhatian dari orangtua. ⁣ Sesungguhnya, anak-anak tidak menghitung berapa lama waktu kita bersama mereka. Anak tidak menghitung menit. Tetapi mereka merasakan kehadiran atau tidak. ⁣ ⁣ https://www.instagram.com/p/DaJaaaDEi8Y/?img_index=1

  • https://www.instagram.com/p/DYMN4U2E918/?igsh=MXI2b2Y1NW9seGt4NA==

  • Banyak sekolah hancur bukan karena tidak punya gedung bagus. Banyak kelas kacau bukan karena muridnya bodoh. Dan banyak anak gagal bukan karena mereka tidak punya masa depan. ⁣ Tetapi sekolah perlahan hancur karena: standar diturunkan sedikit demi sedikit…

  • Banyak sekolah hancur bukan karena tidak punya gedung bagus. Banyak kelas kacau bukan karena muridnya bodoh. Dan banyak anak gagal bukan karena mereka tidak punya masa depan. ⁣ Tetapi sekolah perlahan hancur karena: standar diturunkan sedikit demi sedikit, disiplin dilonggarkan sedikit demi sedikit, kebiasaan buruk dibiarkan sedikit demi sedikit. ⁣ Dan kabar baiknya… Jika kehancuran bisa dimulai dari perubahan buruk yang kecil dan diabaikan, maka kebangkitan juga bisa dimulai dari perubahan kecil. ⁣ In sya Allah kita akan belajar dari sekolah maupun kelas yang tadinya dianggap “mustahil diselamatkan” tetapi berhasil berubah total. Kita bahas dalam acara 𝗞𝗲𝗣𝗢𝗶𝗡 𝗣𝗿𝗼-𝗨 (Kelas Parenting Online @proumedia ) bertajuk Perubahan Kecil Dampaknya Besar besok pada hari: ⁣ ⁣ ⁣ 𝗦𝗲𝗹𝗮𝘀𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗥𝗮𝗯𝗼 ⁣ ⁣ 12 dan 13 Mei 2026 ⁣ ⁣ Jam 20:00 – 21:30 WIB ⁣ Informasi dan pendaftaran bisa melalui WA di nomor: ⁣ ⁣ https://wa.me/6281808919000 (Mbak Ana)

  • 5 мар.1 040

    Ayah Bunda, dunia anak kita hari ini penuh tantangan. Mereka butuh iman yang kuat, mental tangguh, dan daya juang untuk tetap berdiri tegak di masa depan 🌱 Yuk, upgrade bekal parenting kita di: ✨ Seminar Parenting: “Memupuk Iman untuk Anak Tangguh dan Berdaya…

  • 5 мар.1 030

    Ayah Bunda, dunia anak kita hari ini penuh tantangan. Mereka butuh iman yang kuat, mental tangguh, dan daya juang untuk tetap berdiri tegak di masa depan 🌱 Yuk, upgrade bekal parenting kita di: ✨ Seminar Parenting: “Memupuk Iman untuk Anak Tangguh dan Berdaya Juang” ✨ 🗓 Ahad, 8 Maret 2026 ⏰ 08.00 WITA – selesai 📍 Gedung Koperasi Karyawan Pupuk Kaltim 🎙 Bersama Ustadz Mohammad Fauzil Adhim (Pakar Parenting Islami dan Penulis Buku) 🎟 Daftar sekarang: https://bit.ly/DaftarSeminarParentingAnakRamadhan1447H Kuota terbatas. Yuk ajak pasangan & sahabat, tuntut ilmu dan tebar manfaat 🤍 #RamadhanSATUHATI #BPUIPupukKaltim #SekolahAlamBaiturrahman

  • без подписи

  • Ada beberapa proses yang perlu diperhatikan agar pendidikan adab alias ta'dib tidak hanya berhenti sebagai kebiasaan. Apalagi jika kebiasaan saja tidak. Hanya menjadikan anak terbiasa. Tetapi begitu terlepas dari pengawasan atau memungkinkan untuk mengelak dari kewajiban, maka apa yang dianggap sebagai kebiasaan itu pun hilang tanpa perlu menunggu waktu. Upaya agar pembiasaan melahirkan ‘adah (عادة) alias kebiasaan (habit) yang kuat dan menetap, kemudian melangkah ke tingkat berikutnya sehingga menjadi adab (أدب) melalui proses ta'dib (تأديب), awalnya adalah imtitsal (امتثال) yang sifatnya instruksional. Tetapi anak seharusnya sudah disiapkan sikap dasar imannya sehingga nilai-nilai yang menjadi pilar adab benar-benar diyakini, dihayati dan diilmui. Itu sebabnya, adab pun harus didahului ilmu. Ada ilmu yang harus mendahului adab. Ada pula ilmu yang harus diawali adab. In sya Allah besok akan mendiskusikan topik ini bersama beberapa orang guru di Bontang. Sebagai pelengkap, in sya Allah akan membahas juga perspektif psikologi mengenai hal ini. https://www.instagram.com/p/DVe7z7Lkl7o/?igsh=eDUyZHhhazlyaTd4