مقتطفات الفوائد
Статистикаمقتطفات من الكتب والمشايخ الفضلاء.... Beberapa fawaidh dari kitab dan para masyaikh...
- Последний пост
- 14 июл.
- Последнее чтение
- 15 авг.
- Постов за неделю
- 0
- Всего постов
- 20
- Тип
- открытый
- Язык
- арабский
- Категория
- Религия (по похожим)
- В каталоге с
- 13 авг.
- 1/24сутки в ленте
- —
- 1/48двое суток
- —
- 1/72трое суток
- —
Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.
Посты
📚 مراقي الوعي للشيخ صالح السندي حفظه الله تعالى، ص ٢٢
📚 مراقي الوعي للشيخ صالح السندي حفظه الله تعالى، ص ٢٢
✉️ رسالة الإمام النووي إلى طلاب العلم. مع اقتراب فتح باب التسجيل في معهد الإمام النووي للتفقه الشافعي. 💬 يقول الإمام النووي رحمه الله في مقدمته المنهجية الماتعة لكتاب المجموع: ينبغي أن يكون [طالب العلم] حريصا على التعلم، مواظبًا عليه في جميع أوقاته ليلًا ونهارًا، حضرًا أو سفرًا، ولا يذهب من أوقاته شيئًا في غير العلم، إلا بقدر الضرورة، لأكل ونوم قدرًا لا بد منه، ونحوهما كاستراحة يسيرة لإزالة الملل، وشبه ذلك من الضروريات. وليس بعاقل من أمكنه درجة ورثة الأنبياء ثم فوتها. 🔸وقد قال الشافعي -رحمه الله- في رسالته: "حق على طلبة العلم بلوغ غاية جهدهم في الاستكثار من علمه، والصبر على كل عارض دون طلبه، وإخلاص النية لله تعالى في إدراك علمه نصا واستنباطا، والرغبة إلى الله تعالى في العون عليه" وفي صحيح مسلم عن يحيى بن أبي كثير قال: "لا يستطاع العلم براحة الجسم". فيسبوك - تليجرام - تويتر - يوتيوب #معهد_الإمام_النووي #الفقه_الشافعي #مشاريع_تميز
без подписи
https://youtu.be/cUJVpjsOUJA?si=tLT0C_i1bMHHxy0W
без подписи
без подписи
https://youtu.be/zoedbThHnzQ?si=26JPagxp6A16Bk25
https://youtu.be/7IAwgi9ywU4?si=fcuRR4Ab3cFNCLel
без подписи
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: وَأَمَّا الْحَجُّ، فَشَأْنٌ آخَرُ لَا يُدْرِكُهُ إِلَّا الْحُنَفَاءُ الَّذِينَ ضَرَبُوا فِي الْمَحَبَّةِ بِسَهْمٍ، وَشَأْنُهُ أَجَلُّ مِنْ أَنْ تُحِيطَ بِهِ الْعِبَارَةُ، وَهُوَ خَاصَّةُ هَذَا الدِّينِ الْحَنِيفِ، حَتَّى قِيلَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿حُنَفَاءَ للهِ﴾ [الْحَجِّ: ٣١]: «أَيْ: حُجَّاجًا». Adapun haji, maka ia adalah sebuah ibadah yang berbeda dari yang lain; hakikatnya tidak akan benar-benar dirasakan kecuali oleh jiwa-jiwa hanif (hati yang bersih), yang telah menempuh jalan cinta kepada Allah. Haji, ibadah yang kedudukannya terlalu agung untuk bisa diungkapkan dengan kata-kata. Haji merupakan kekhususan dari agama yang lurus ini, sampai-sampai ada yang menafsirkan firman Allah Ta‘ala: حُنَفَاءَ لِله “Orang-orang yang hanif (bertauhid) karena Allah” (QS. Al-Hajj: 31) dengan makna: yakni, orang-orang yang berhaji. 📚 Miftāh Dār As-Sa'ādah Cet. Athā'āt Al-Ilmi, hal. 868 https://t.me/fawaidhsaeed
"Nabi Muhammad ﷺ, beliaulah sosok pemimpin dan guru terbesar yang mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah, yang mana sumber-sumber ilmu semuanya memancar dari mata air keduanya. Beliau ﷺ mengajarkan umatnya Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (Sunnah), menjelaskan kepada mereka berbagai hikmah dan rahasia yang tersirat dalam hukum-hukum Allah. Seluruh perjalanan hidup beliau — baik itu ucapan, perbuatan, persetujuan, petunjuk, serta akhlaknya yang lahir maupun batin, dan sirah beliau yang sempurna lagi beragam dalam setiap sisi kehidupan — merupakan pendidikan bagi kaum mukminin, sekaligus penjelasan nyata terhadap Al-Kitab dan Al-Hikmah.” 📚 Taysīr Al-Lathīf Al-Mannān karya Syaikh As-Sa'di rahimahullah, hal. 38 https://t.me/fawaidhsaeed
"Bukankah termasuk keburukan yang paling buruk dan kezaliman yang paling besar: ketika para hamba menikmati rezeki-Nya, hidup dengan kebaikan dari-Nya, namun justru memakai semua itu untuk melakukan hal-hal yang mendatangkan murka-Nya dan bermaksiat kepada-Nya?! Meski demikian—karena sempurnanya kesabaran, ampunan, dan maaf-Nya—Allah ﷻ terus melimpahkan kebaikan kepada mereka. Kebaikan-Nya senantiasa turun kepada mereka tanpa henti, sementara keburukan mereka terus naik kepada-Nya setiap waktu." 📚 Taysīr Al-Lathīf Al-Mannān karya Syaikh As-Sa'di rahimahullah, hal. 35 https://t.me/fawaidhsaeed
Allah ﷻ berfirman: وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19) Yakni: mintalah kepada Rabb-mu ampunan atas dosa-dosamu, dengan menempuh jalan-jalan yang mengantarkan kepada ampunan-Nya. Di antara jalannya adalah: - memperbanyak doa memohon ampunan, - kembali kepada Allah dengan taubat yang tulus, - memperbanyak amal saleh yang menghapus dosa, - meninggalkan kemaksiatan, - serta melapangkan hati untuk memaafkan manusia dan berbuat baik kepada mereka. Dan termasuk di antaranya adalah memohonkan ampunan untuk kaum mukminin dan mukminat. Karena itulah Allah berfirman: “dan untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.” Inilah salah satu indahnya buah keimanan; karena ikatan iman yang menyatukan mereka, setiap mukmin memiliki hak atas saudaranya untuk diingat dalam doa dan dimohonkan ampunan kepada Allah untuknya. 📚 Taysīr Al-Lathīf Al-Mannān, karya Syaikh As-Sa'di rahimahullah, hal. 24 https://t.me/fawaidhsaeed
без подписи
📝 Syaikh Muhammad Khalil Harros رحمه الله berkata: وَمَنْ اسْتَقَامَ عَلَى صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي هُوَ دِينُهُ الْحَقُّ فِي الدُّنْيَا اسْتَقَامَ عَلَى هَذَا الصِّرَاطِ فِي الْآخِرَةِ “Barang siapa istiqamah di atas jalan Allah — yaitu agama-Nya yang haq (benar) — di dunia, maka ia akan istiqamah di atas shirath itu di akhirat.” 📚 Syarah Aqidah Washithiyyah Syaikh Muhammad Khalil Harros رحمه الله, hal. 319 https://t.me/fawaidhsaeed
"Dan ibadah, yaitu hikmah (tujuan) yang karenanya Allah menciptakan makhluk, sebagaimana firman Allah Ta‘ālā: ‘Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.’ (QS. Adz-Dzāriyāt: 56) Maka kesempurnaan seorang makhluk terletak pada terwujudnya tujuan tersebut. Semakin seorang hamba merealisasikan penghambaan (ubudiyyah)nya kepada Allah, semakin bertambah pula kesempurnaan dan semakin tinggi derajatnya. Karena itulah Allah menyebut Nabi-Nya dengan gelar ‘hamba’ pada keadaan-keadaan beliau yang paling agung dan paling mulia." 📚 Syarah Aqidah Washithiyyah Syaikh Muhammad Khalil Harros رحمه الله, hal. 74 https://t.me/fawaidhsaeed
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: وَالشُّكْرُ يَتَعَلَّقُ بِالْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَالْجَوَارِحِ؛ فَالْقَلْبُ لِلْمَعْرِفَةِ وَالْمَحَبَّةِ، وَاللِّسَانُ لِلثَّنَاءِ وَالْحَمْدِ، وَالْجَوَارِحُ لِاسْتِعْمَالِهَا فِي طَاعَةِ الْمَشْكُورِ وَكَفِّهَا عَنْ مَعَاصِيهِ. “Syukur itu berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan. - Hati digunakan untuk mengenal (Allah) dan mencintai-Nya, - Lisan untuk memuji dan menyanjung-Nya, - Dan anggota badan digunakan dalam ketaatan kepada Dzat yang disyukuri (yaitu Allah) serta menahannya dari kemaksiatan.” 📚 Kitab ‘Uddatush Shābirīn karya Ibnul Qayyim, hlm. 154. https://t.me/fawaidhsaeed
Kehidupan Hati Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: كما أنَّ الإنسان لا حياةَ له حتى يَنفُخَ فيه الملَكُ -الذي هو رسولُ الله- من روحِه فيصيرَ حيًّا بذلك النفخ وكان قبل ذلك من جملة الأموات، فكذلك (١) لا حياةَ لروحه وقلبه حتى يَنفُخَ فيه الرسولُ ﷺ من الرُّوح الذي ألْقِي إليه؛ قال تعالى: ﴿يُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ﴾ [النحل: ٢]، وقال: ﴿يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ﴾ [غافر: ١٥]، وقال: ﴿وَكَذَلِكَ أَوْحَينَا إِلَيكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا﴾ [الشورى: ٥٢]؛ فأخبر أَنَّ وحيَهُ روحٌ ونورٌ. فالحياةُ والاستنارةُ موقوفةٌ على نفخ الرسول المَلَكيِّ [والرسول البشريِّ]؛ فمن أصابه نفخُ الرسول الملكيِّ ونفخُ الرسول البشريِّ حصلتْ له الحياتانِ، ومن حصلَ له نفخُ الملَكِ دون نفخ الرسول حصلتْ له إحدى الحياتين وفاتتْه الأخرى. Sebagaimana manusia tidak memiliki kehidupan sampai malaikat—yang merupakan utusan Allah—meniupkan ruh ke dalamnya, sehingga ia menjadi hidup setelah sebelumnya termasuk golongan orang mati; demikian pula ruh dan hati tidak akan hidup sampai Rasul ﷺ “meniupkan” kepadanya ruh yang diwahyukan kepadanya. Allah Ta‘ala berfirman: “Dia menurunkan para malaikat dengan membawa ruh dari perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya.” (QS. An-Nahl: 2) “Dia melemparkan ruh dari perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya.” (QS. Ghafir: 15) “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh dari perintah Kami; sebelumnya engkau tidak mengetahui apa itu Kitab dan iman, tetapi Kami menjadikannya sebagai cahaya, yang dengannya Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki.” (QS. Asy-Syura: 52) Maka Allah mengabarkan bahwa wahyu itu adalah ruh dan cahaya. Dengan demikian, kehidupan (sejati) dan cahaya hati bergantung pada 'tiupan' Rasul malaikat (Jibril) dan Rasul manusia (Nabi ﷺ). Siapa yang mendapatkan “tiupan” malaikat dan juga “tiupan” Rasul (yakni wahyu yang disampaikan), maka ia mendapatkan dua kehidupan: kehidupan jasad dan kehidupan hati. Dan siapa yang hanya mendapatkan tiupan malaikat (yakni hidup secara fisik saja) tanpa “tiupan” Rasul, maka ia hanya mendapatkan satu kehidupan, sementara kehidupan yang lain (kehidupan hati) luput darinya. قال تعالى: ﴿أَوَمَنْ كَانَ مَيتًا فَأَحْيَينَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا﴾ [الأنعام: ١٢٢]، فجَمعَ له بين النور والحياة؛ كما جَمعَ لمن أعرض عن كتابه بين الموت والظلمة. Allah Ta‘ala berfirman: “Apakah orang yang tadinya mati lalu Kami hidupkan, dan Kami berikan kepadanya cahaya yang dengannya ia berjalan di tengah manusia, sama seperti orang yang keadaannya berada dalam kegelapan dan tidak bisa keluar darinya?” (QS. Al-An‘am: 122) Maka Allah mengumpulkan bagi orang tersebut dua hal: kehidupan dan cahaya. Sebagaimana Dia juga mengumpulkan bagi orang yang berpaling dari Kitab-Nya dua hal: kematian dan kegelapan. 📚 Al-Fawaid, Ibnul Qayyim rahimahullah
без подписи