Gen Saladin Channel
СтатистикаMedia Dakwah Berbasis Sejarah dan Kepalestinaan • "Learn History, Repeat Victory" • gensaberilmu.com • Free to share 😃
- Последний пост
- 14 авг.
- Последнее чтение
- 15 авг.
- Постов за неделю
- 16
- Всего постов
- 45
- Тип
- открытый
- Язык
- индонезийский
- Категория
- Религия (по похожим)
- В каталоге с
- 13 авг.
- 1/24сутки в ленте
- 504
- 1/48двое суток
- 577
- 1/72трое суток
- 622
Медиана по постам, которые мы застали свежими и померили через сутки.
Посты
Doakan selalu teman-teman. Doakan semoga gensa Istiqomah. Doakan kami bisa terus berbenah dan belajar relevan
Gambar ini selalu memberi energi bagi kami untuk terus belajar menyuguhkan konten sejarah terbaik bagi semua
Mungkin apa yang dirasakan Sufyan bin Uyainah, adalah yang juga kau rasakan... Suatu hari seseorang berjalan bersama Sufyan bin ‘Uyainah. Kemudian datanglah seorang meminta padanya. Tapi beliau tak memiliki sesuatu yang dapat diberikan kepadanya. Maka beliau pun menangis... Beliau pun ditanya, "apa yang membuat anda menangis?" Sufyan menjawab, "Musibah apa yang lebih besar daripada ketika seseorang berharap mendapatkan kebaikan darimu, tetapi ia tidak mendapatkannya?’” Asli ini dalem banget. Karena relate dengan keadaan kita melihat dunia. Poinnya itu relevan dengan kita yang ingin melakukan banyak hal demi membantu orang, tapi kitanya sendiri juga sedang struggle. Sufyan bin ‘Uyainah tak menangis karena dimintai, tetapi karena ada seseorang yang berharap kepadanya, sementara ia belum mampu memenuhi harapan itu. Misalnya, ada yang butuh bantuan kita, tapi kita bilang belum bisa bantu. Dan anehnya, setelah orang itu pergi, justru kita yang merasa bersalah. Padahal kita tidak menolak karena tidak peduli. Kita menolak karena memang tak seberdaya itu. Ditambah lagi: kita tahu ada yang berdaya, ada yang bisa membantu, tapi malah tone deaf. Malah blunder. Malah diam. Malah abai. Itu keselnya pasti terasa sekali. Yang ingin membantu malah tak begitu kuat. Yang kuat malah tak membantu. Seperti dunia memandang Gaza. Seperti kita di negeri sendiri. "Jika aku punya uang banyak, aku akan bantu mereka." "Jika aku pemegang kebijakan, aku pasti akan larang penjajah datang ke Bali." "Jika aku yang berkuasa, aku ingin kebijakan yang berbasis data dan arahan ahlinya." Kisah Sufyan tidak sedang mengajarkan bahwa kita akan mampu memenuhi semua harapan orang. Tidak mungkin. Namun hati kita boleh sedih ketika tidak mampu membantu, tetapi jangan sampai kesedihan itu berubah menjadi kebencian kepada diri sendiri. Dan semoga doa Rasul ini bisa kita renungkan; agar menjadi orang berdikari yang bisa mmbantu orang tercinta dan banyak manusia. Dalam doanya, Rasul berlindung dari Ajz dan Kasal. Ajz, saat tekad kuat tapi keadaan lemah. Dan kasal; saat keadaan sehat tapi tak punya tekad. @ceritaedgar | Edgar Hamas
*BINCANG BUKU & SAPA KELUARGA GAZA* *“ASSALAMU’ALAIKUM GAZA”* Bagaimana kabar saudara-saudara kita di Gaza? Di tengah gempuran dan kepungan genosida, keterbatasan, dan perjuangan yang masih berlangsung, suara mereka perlu terus kita dengarkan. Bukan sekadar melalui berita, tetapi juga melalui kisah, pengalaman, dan kesaksian mereka yang pernah hadir dan berkhidmat di Gaza. Melalui Bincang Buku dan Sapa Keluarga Gaza, kita akan menyelami kisah dalam buku: *_“Assalamu’alaikum Gaza”: Catatan Perjalanan Relawan Medis di Tengah Genosida Gaza_* Bersama: *dr. Rinaldi Tri Frisianto, Sp.An* Dokter yang berkhidmat di Gaza tahun 2025, penulis buku yang dibedah *Ustadz Edgar Hamas* Penulis, Aktivis *Kak Ari Berkisah* Host Mari hadir, mendengarkan, dan mengambil pelajaran dari kisah perjuangan kemanusiaan di Gaza 🗓️ Sabtu, 15 Agustus 2026 ⏰ Pukul 20.00 WIB – selesai 💻 Live via Zoom 🎟️ GRATIS 📲 Pendaftaran: *WA 085136943767* *Terbuka untuk ikhwan dan akhwat Semoga perjumpaan ini menjadi ruang untuk mengenal, memahami, dan terus menjaga kepedulian kita terhadap keluarga #GazaKita. Karena Gaza bukan sekadar berita; Gaza adalah saudara. #AssalamualaikumGaza #PalestinaKita #SatuGarisDepan #81TahunKemerdekaanRI #MenujuBaitulMaqdisMerdeka @kita_berkhidmat @gen.saladin www.satugarisdepan.com proumedia.co.id
Halaman belakang buku tulis Muhammad Al Fatih. Sumber: Ottoman Archives
без подписи
без подписи
без подписи
без подписи
без подписи
peta perang riddah. yang warna merah nabi-nabi palsu. yang warna ungu tak mau bayar zakat
без подписи
без подписи
Ahli Politik Baitul Maqdis Ini Bilang: Aktivis Pembela Al Aqsha Harus Dekat Sama Ayat Ini... Gen Saladin • @gen.saladin Beberapa waktu lalu, aku membaca satu analisa Dr Yaser Zaatreh, seorang ahli politik dunia Islam. Beliau sangat aktif membahas tentang Thufan Al Aqsha, pembelaan pada Baitul Maqdis dan Umat Islam. Belasan, puluhan tahun beliau melakukannya. Pasti sempat ada rasa lelah dan dikungkung putus asa. Namun beliau memberikan satu tadabbur mengenai Surat An Nisa 104, "Dan janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka ketahuilah mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan, sedang kamu masih dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana." Kebanyakan muslimin mulai merasa bahwa perjuangan ini hanya berujung sakit pada kita sendiri, tidak berefek apapun pada musuh. Namun kenyataannya tidak. Kedua pihak merasakan sakit. Kita sakit dengan luka Ghazzah, penjajah pun sakit dengan betapa terhinanya mereka di medan Ghazzah. Kedua pihak sama-sama merasakan sakit. Untaian ayat "Jika kamu menderita... mereka pun menderita..." menjelaskan bahwa apa yang kita lakukan punya efek langsung. Dr Yaser mengingatkan bahwa keletihan dan dampak tidak hanya dirasakan oleh satu pihak. Musuh pun mengalami tingkat kesulitan, kecemasan, dan kelemahan yang sama, meskipun mereka berusaha menutupinya dengan visualisasi kekuatan, namanya propaganda. Itulah mengapa di awal ayat, Allah memberikan penguatan, "Janganlah kamu berhati lemah..." Dalam dunia perjuangan, apalagi berkaitan dengan pembebasan Baitul Maqdis yang penuh tekanan, stabilitas psikologis, bertambahnya ilmu dan keteguhan sikap adalah modal utama untuk mempertahankan posisi dan prinsip. Agar aksi itu berkelanjutan. Agar boikot itu tajam dan menekan. Dan menurut Dr Yaser Zaatreh, hal paling krusial dari perjuangan ini adalah pada bagian ayat yang berbunyi, "sedang kamu mengharapkan dari Allah apa yang tidak mereka harapkan." Itulah keunggulan strategis yang menjadi pembeda total. Sekarang ini penjajah mengejar target materialistis, kekuasaan duniawi, atau kemenangan taktis yang bersifat sementara. Sementara pejuang? Mereka dan kita punya visi jangka panjang yang bersifat ukhrawi, keyakinan akan pertolongan Allah, dan yakin akan ada pahala atas ketabahan. Itulah selalu yang digaungkan juru bicara pejuang, "dan ini adalah perjuangan: berakhir dengan kemenangan, atau kesyahidan." Semua yang kita lakukan punya balasannya kelak di hari perimbangan amal; sesuatu yang penjajah dan sekutunya berbeda dimensi sama sekali. Mari kita ringkas tadabbur An Nisa 104 itu. Yakni: 1. Larangan Bersikap Lemah (Mentalitas Pantang Menyerah) 2. Kita Sakit, Mereka Pun Sakit (Hukum Timbal Balik) 3. Keunggulan Strategis: kita berharap pada Allah, mereka tidak punya. Dan Allah menutup ayat An Nisa itu dengan sebuah asma Allah nan indah, "Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." Ia memberikan ketenangan bagi pejuang bahwa setiap strategi, pengorbanan, dan proses yang melelahkan; ia berada dalam pengawasan Allah. Kemenangan atau kekalahan taktis di dunia diatur dengan kebijaksanaan-Nya yang Mahaadil...
Aliansi baru? Bagaimana menurutmu?
без подписи
без подписи
без подписи