- Последний пост
- 15 авг.
- Последнее чтение
- 15 авг.
- Постов за неделю
- 21
- Всего постов
- 33
- Тип
- открытый
- Язык
- индонезийский
- Категория
- Религия (по похожим)
- В каталоге с
- 13 авг.
- 1/24сутки в ленте
- 71
- 1/48двое суток
- 81
- 1/72трое суток
- 87
Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.
Посты
без подписи
📚 Serial Untaian Mutiara Hikmah 📀 Audio 20: Kita butuh berdoa 🎙 Pemateri: Ustadz Abu Saif, حفظه الله تعالى. 🎧 Unduh & Simak Audio 🎧 ⚠️ _sebelum kedaluwarsa_ ⚠️ 📧 Telegram BIS: https://t.me/ilmusyar1 📲 Grup Whatsapp : https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSdTy-5UXxzOE-A3xhOeiznMhq2KbR7iS0Trr25MZQ4KOLa0xw/viewform 💰Infaq Dakwah :http://bit.ly/donasi_grupBIS ┈┈┈┈◈❆◉❒ 📚 ❒◉❆◈┈┈┈┈
Dalam madzhab lain dibagi menjadi rukun shalāt, wajib shalāt dan sunnah shalāt. ~~~ Sunnah-sunnah didalam shalāt terbagi menjadi 2 (dua) (dalam istilah madzhab syafii demikan) yaitu : 1. Al ib’adh, yaitu sunnah shalāt) yang apabila ditinggalkan dilakukan sujud sahwi (catatan: dalam madzhab lain dimasukkan dalam kategori wajib dalam shalāt). 2. Haiat, yaitu sunnah shalāt yang tidak ada pengaruhnya apabila ditinggalkan (catatan: dalam madzhab lain diistilahkan sebagai sunnah-sunnah dalam shalāt). Sunnah al ib’adh (atau diistilahkan dalam madzhab lain sebagai wajib-wajib dalam shalāt), seperti: Tasyahud awwal Duduk tasyahhud Shalawat atas nabi dalam tasyahhud, dan lain-lain. Sunnah al ib’adh apabila tertinggal maka dilakukan sujud sahwi, misalnya: ▪Seseorang lupa tasyahud awal, kemudian dia berdiri. Tasyahhud awwal merupakan sunnah ib’adh (termasuk wajib shalāt, sedangkan berdiri adalah termasuk al fard (rukun). Maka tatkala dia sudah berdiri kemudian ingat bahwasanya dia belum tasyahud awal, maka tidak diperkenankan untuk kembali duduk pada tasyahud awal (karena dia telah terlanjur melakukan kewajiban (rukun) shalāt yang lainnya) oleh karena itu langsung dia melanjutkan shalāt tersebut dan nanti diganti dengan sujud sahwi sebelum salam. Hal ini berdasarkan hadīts yang diriwayatkan oleh Abdullāh bin Buhinah, عن عبدِ اللهِ بنِ بُحينةَ، أنه قال: ((صلَّى لنا رسولُ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّمَ ركعتينِ، ثم قام فلمْ يجلِسْ، فقام الناسُ معه، فلمَّا قضى صلاتَه وانتظَرْنا التسليمَ كبَّر، فسجَدَ سجدتينِ وهو جالسٌ قبل التَّسليمِ، ثم سلَّمَ صلَّى الله عليه وسلَّمَ )) رواه المسلم “Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam shalāt 2 (dua) raka’at kemudian beliau berdiri dan tidak duduk, maksudnya tidak duduk tasyahud awal maka orang-orang pun berdiri mengikuti beliau, setelah beliau selesai shalātnya dan kami menunggu beliau untuk salam, maka beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertakbir dan sujud dengan dua kali sujud dan dia dalam keadaan duduk sebelum salam, kemudian setelah itu beliau salam” (Hadīts riwayat Muslim) Kemudian penulis melanjutkan, ((والهيئة لا يعود إليها بعد تركها ولا يسجد للسهو عنها)) Adapun sunnah Haiat maka tidak perlu kembali untuk melakukannya dan tidak perlu melakukan sujud sahwi karena meninggalkannya. Sunnah Haiat adalah sunnah yang tidak berpengaruh jika dilakukan. (Catatan: dalam madzhab lain dikategorikan dalam istilah sunnah-sunnah dalam shalāt). Sunnah Haiat seperti : √ Membaca tasbih √ Membaca takbir tatkala perpindahan gerak √ Membaca taawwudz, dll Apabila ditinggalkan baik sengaja ataupun lupa maka tidak perlu sujud sahwi. Kemudian penulis melanjutkan, ((وإذا شك في عدد ما أتى به من الركعات بنى على اليقين وهو الأقل وسجد للسه)) Apabila ragu terhadap jumlah bilangan raka’at yang dikerjakan maka ambilah patokan sesuatu yang yakin, yaitu dengan mengambil jumlah raka’at yang paling sedikit, kemudian setelah itu sujud sahwi. Disini jika seseorang ragu maka dia berpatokan kepada sesuatu yang yakin, namun apabila dia tetap ragu, maka ambilah jumlah bilangan raka’at yang terkecil, karena itu lebih yakin daripada raka’at yang lebih besar. Apabila seseorang lupa apakah dia shalāt 2 (dua) atau 3 (tiga) raka’at, dia yakin kalau 2 (dua) pasti, maka tinggalkan dia kembali untuk menghitung raka’at nya menjadi raka’at yang 2 (dua) ((وسجود السهو سنة ومحله قبل السلام)) Sujud sahwi hukumnya adalah sunnah dan dilakukan sebelum salam. Masalah ini sudah dibahas diawal yang merupakan mahzhab dari Imām Syāfi’ī bahwasanya hukumnya sunnah dan dilakukan sebelum salam, ini yang afdhal. Demikian yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat. وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته ~~~ ▪Tentang istilah pembagian gerakan atau bacaan dalam sholat Dalam madzhab Syafi’i ▪Al Fard ( Wajib2 dalam sholat) ➡ ini diistilahkan rukun sholat dalam madzhab lain ▪Sunnah Sunnah ib’adh (dalam madzhab lain diistilahkan wajib-wajib shalāt) Sunnah haiat (dalam madzhab lain diistilahkan sunnah-sunnah sholat) ____
📗 Matan Abu Syuja | Kitab Shalat 📝 Penulis: Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al-Asfahāniy (Imam Abū Syujā’) 🔊 Kajian 048 | Sujud Sahwi (Bagian 2) 👤 Ustadz Fauzan ST, MA 📧 Telegram BIS: https://t.me/ilmusyar1 *📲 Grup Whatsapp* :https://bit.ly/grupbis 〰〰〰〰〰〰〰 MATAN KITAB والمتروك من الصلاة ثلاثة أشياء فرض وسنة وهيئة فالفرض لا ينوب عنه سجود السهو بل إن ذكره والزمان قريب أتى به وبنى عليه وسجد للسهو والسنة لا يعود إليها بعد التلبس بالفرض لكنه يسجد للسهو عنها والهيئة لا يعود إليها بعد تركها ولا يسجد للسهو عنها وإذا شك في عدد ما أتى به من الركعات بنى على اليقين وهو الأقل وسجد للسه وسجود السهو سنة ومحله قبل السلام Dan perkara-perkara yang ditinggalkan didalam shalāt ada tiga macam jenisnya, Fardu, Sunnah-Sunnah dan Haiat. Adapun perkara yang wajib, maka tidak bisa digantikan dengan sujud sahwi. Apabila dia ingat dan waktunya masih pendek atau masih dekat, maka kewajiban yang ditinggalkannya tadi dikerjakan pada saat dia ingat, dan dilanjutkan serta kemudian sujud sahwi setelahnya. Adapun sunnah-sunnah shalāt maka tidak diulang dan tidak perlu kembali untuk melakukannya apabila telah melakukan gerakan lain yang merupakan wajib didalam shalāt akan tetapi tetap perlu melakukan sujud sahwi karena lupa melakukannya. Adapun sunnah Haiat maka tidak perlu kembali untuk melakukannya dan tidak perlu melakukan sujud sahwi karena meninggalkannya. 〰〰〰〰〰〰〰 بسم الله الرحمن الرحيم السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و بعد Para sahabat Bimbingan Islam yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita lanjutkan halaqah yang ke-48 masuk pada fasal tentang “Sujud sahwi bagian ke-2” قال المصنف Penulis melanjutkan, ((فالفرض لا ينوب عنه سجود السهو بل إن ذكره والزمان قريب أتى به وبنى عليه وسجد للسهو)) Kata beliau, adapun perkara yang faraid (rukun), maka tidak bisa digantikan dengan sujud sahwi. Apabila dia ingat (kalau dia meninggalkan rukun) dan waktunya masih pendek atau masih dekat (belum lama), maka rukun yang ditinggalkannya tadi segera dikerjakan pada saat dia ingat, dan dilanjutkan (gerakan shalāt setelahnya) (yakni) tidak perlu diulang dari awal (shalāt) lalu kemudian sujud sahwi setelahnya (maksudnya) sebelum salam. Faraid atau rukun shalāt, apabila ditinggalkan maka harus (kembali) untuk dikerjakan. Ada beberapa keadaan: ⑴ Apabila dia ingat (rukun yg ditinggalkan) dan masih dalam keadaan shalāt, maka wajib kembali mengulang mulai dari rukun yang ditinggalkan, lalu sujud sahwi. Adapun gerakan sebelum rukun yang lupa tadi tidak perlu diulang. Jadi apabila ingat dan masih dalam keadaan shalāt, maka wajib untuk kembali kepada shalāt yang ditinggalkan dan tidak perlu mengulangi dari awal, kemudian sujud sahwi. (2) Apabila dia ingat setelah salam (selesai shalāt), namun belum lama jeda waktunya, maka segera kembali mulai dari al fard (rukun) yang ditinggalkan tadi dan gerakan setelahnya dan tidak perlu mengulang dari awal . (3) Apabila dia ingat setelah salam (setelah selesai shalāt), namun ada jeda cukup panjang maka dia wajib mengulangi shalāt tersebut dari awal. Hal ini berlaku bagi imam maupun orang yang shalāt munfarid (shalāt sendirian). Adapun makmum, maka apabila dia lupa maka dia tidak melakukan sujud sahwi dan imam menanggung apa yang dilupakan oleh makmumnya. Kemudian penulis melanjutkan, ((والسنة لا يعود إليها بعد التلبس بالفرض لكنه يسجد للسهو عنها)) “Adapun sunnah-sunnah shalāt maka tidak perlu mengulang kembali untuk melakukannya. ” Jika dia telah melakukan gerakan lain yang merupakan perkara faraid (rukun) di dalam shalāt. Tetapi tetap perlu melakukan sujud sahwi karena lupa melakukan perkara yg termasuk wajib shalāt. ~~~ Catatan: Diibaratkan dalam matan dengan sunnah maksudnya adalah perkara yg termasuk wajib dalam shalāt. Dan disebutkan alfaraid maksudnya adalah rukun shalāt. Hal ini karena perbedaan pembagian dalam madzhab syafii di dalam shalāt hanya ada wajib shalāt dan sunnah shalāt. Wajib shalāt yg diistilahkan rukun shalāt pada madzhab lain, dan sunnah shalāt yg meliputi wajib shalāt dan sunnah shalāt dalam istilah madzhab lainnya.
🌥️ *SABTU* 🗓 02 Rabi'ul Awal 1448 Hijriah 🗓 15 Agustus 2026 Masehi *السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ* 🍂 Alhamdulillāh.. Segala puji bagi Allāh ﷻ, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasūlullāh ﷺ. 🔓 Kita buka grup ini dengan membaca *بِسمِ الله* dan berdoa: *اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً* _*"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima."*_ (📚 HR. Ibnu Majah) 🇫🇦🇪🇩🇦🇭 🇵🇦🇬🇮 *📋 JIWA YANG MERDEKA, BEBAS & LEPAS* Berdiri di atas kaki sendiri dengan selalu bergantung kepada Allah ta'ala, jauh lebih nikmat daripada mengharap belas kasih orang lain. Berharap dan bermohon hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala; tidak meminta, mengeluh dan menceritakan kebutuhan kepada makhluk, adalah kemuliaan jiwa. وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah maka cukuplah Allah sebagai Penolongnya.” [Ath-Tholaq: 3] إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ "Jika kamu meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika kamu memohon pertolongan maka mohonlah kepada Allah." [HR. At-Tirmidzi dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, Ash-Shahihah: 2382] Adapun bergantung kepada selain Allah adalah kebodohan, dan meminta-minta kepada selain Allah adalah kehinaan, karena segala sesuatu selain Allah adalah makhluk yang lemah, yang juga butuh kepada Allah 'azza wa jalla. 🌐 Sumber: https://web.facebook.com/taawundakwah/posts/2278852339014231 ------------ Demikianlah faedah yang ringkas ini semoga bermanfaat bagi kita semua. Semoga apa2 yg kita lakukan bisa bernilai ibadah di sisi Allah ﷻ بَارَكَ اللهُ فِيْكُم ✍ *Admin* 📧 Telegram BIS: https://t.me/ilmusyar1 *📲 Grup Whatsapp* :https://bit.ly/grupbis •┈◎❅❀❦ *BIS* ❦❀❅◎┈•
*🕌💰 𝗣𝗔𝗛𝗔𝗟𝗔 𝗕𝗘𝗥𝗟𝗜𝗠𝗣𝗔𝗛 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗠𝗘𝗠𝗕𝗔𝗡𝗧𝗨 𝗗𝗔𝗞𝗪𝗔𝗛* 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 𝗦𝘂𝗯𝗵𝗮𝗻𝗮𝗵𝘂 𝘄𝗮 𝗧𝗮'𝗮𝗹𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗳𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻: مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَآءُ ۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ 🌴 "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. 🌴 Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui." (📚 QS. Al-Baqarah 2: Ayat 261) 🎓 𝗔𝘀-𝗦𝘆𝗮𝗿𝗯𝗶𝗻𝗶 – 𝘂𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗦𝘆𝗮𝗳𝗶𝗶𝘆𝗮𝗵 – (𝘄. 𝟵𝟳𝟳 𝗛) *Dalam kitabnya al-Iqna fi Halli Alfadz Abi Syuja’, beliau menjelaskan tentang hari jumat. Beliau menyatakan tentang sedekah hari jumat,* ويسن كثرة الصدقة وفعل الخير في يومها وليلتها، ويكثر من الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم في يومها وليلتها لخبر: إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة، فأكثروا علي من الصلاة فيه، فإن صلاتكم معروضة علي _Dianjurkan memperbanyak sedekah dan beramal soleh di hari jumat atau malam jumat. Memperbanyak shalawat untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam atau siang hari jumat. Berdasarkan hadis: “Sesungguhnya hari yang paling afdhal adalah hari jumat. Karena itu, perbanyaklah membaca shalawat untukku. Karena shalawat kalian diperlihatan kepadaku.”_ (📚 al-Iqna’, 1/170) *Mari saudara muslim yang dermawan.. Sisihkan sedikit dari rezeki Anda untuk mendukung operasional DAKWAH dalam menyebarkan kebaikan dengan ta'awun dan infak melalui rekening berikut ini:* | Bank Syariah Indonesia | Kode Bank [451] | No. Rekening : 1184242374 | a.n : APENDI | Konfirmasi : wa.me/+6282280288925 🔖 Kami mengucapkan terima kasih dan Jazaakumullahu Khairan atas donasi dan infak yang telah diberikan oleh para Donatur/Muhsinin. "Barakallahu fii Maalikum Wa ahliikum" •═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•
без подписи
📚 Serial Untaian Mutiara Hikmah 📀 Audio 19: Kisah Nabi Ya'kub Dan Anak Anaknya 🎙 Pemateri: Ustadz Abu Saif, حفظه الله تعالى. 🎧 Unduh & Simak Audio 🎧 ⚠️ _sebelum kedaluwarsa_ ⚠️ 📧 Telegram BIS: https://t.me/ilmusyar1 📲 Grup Whatsapp : https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSdTy-5UXxzOE-A3xhOeiznMhq2KbR7iS0Trr25MZQ4KOLa0xw/viewform 💰Infaq Dakwah :http://bit.ly/donasi_grupBIS ┈┈┈┈◈❆◉❒ 📚 ❒◉❆◈┈┈┈┈
“Sujud sahwi adalah dua sujud dengan duduk diantara keduanya, dan disunnahkan duduk iftirasy (seperti duduk diantara dua sujud) dan setelah sujud kedua duduk tawarruk (duduk seperti akhir shalāt) sampai salam. dan tata cara sujud sahwi serta tata cara berdzikirnya sama dengan sujud tatkala shalāt”, Wallāhu a’lam. Adapun mengucapkan takbir didalam sujud adalah disunnahkan berdasarkan hadīts yang tertera didalam shahihain. ▪▪Kita masuk didalam matan Abū Syujā’. قال المصنف Penulis berkata, Rahimahullāh ((والمتروك من الصلاة ثلاثة أشياء)) ((Dan perkara-perkara yang ditinggalkan didalam shalāt ada tiga macam jenisnya.)) ((فرض وسنة وهيئة)) ① Fardhu didalam shalāt/perkara yang wajib didalam shalāt. ② Sunnah-sunnah didalam shalāt (sunnatul ab’adh). ③ Haiat yaitu shalāt yang tidak berpengaruh jika ditinggalkan. Sujud sahwi disyariatkan baik pada shalāt fardhu maupun shalāt sunnah. Dan ketentuan sujud sahwi adalah apabila melakukan perkara-perkara yang dilarang seperti : √ Menambah rakaat √ Menambah ruku’ atau √ Menambah sujud Maka diperintahkan untuk sujud sahwi. Atau juga meninggalkan perkara yang diperintahkan seperti : √ Meninggalkan rakaat. √ Meninggalak ruku’ ataupun. √ Meninggalkan sujud. Maka diperintahkan untuk sujud sahwi. Dan sudah dijelaskan sebabnya ada 3 (tiga) yaitu : ⑴ Adanya penambahan ⑵ Adanya pengurangan dan ⑶ Adanya keraguan Dan terjadi pada 3 hal yaitu : ⑴ Wajib shalāt. ⑵ Sunnah-sunnah shalāt. ⑶ Haiat shalāt. Dalilnya yang menjadi pegangan di dalam sujud sahwi adalah hadīts yang diriwayatkan Imām Muslim dan senada dengan itu juga hadīts dalam Bukhāri, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا، فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ، وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ “Apabila kalian ragu didalam shalāt dan tidak tahu apakah shalāt 3 (tiga) raka’at atau 4 (empat) raka’at dalam keadaan ragu, maka buanglah rasa ragu dan berpeganglah pada yang yakin, kemudian sujud 2 (dua) kali sujud sebelum salam, jika ternyata dia shalāt 5 (lima) raka’at maka sujud itu menggenapkan jumlahnya, namun apabila ternyata shalāt sempurna 4 (empat) raka’at, maka sujud tadi (sujud sahwi) sebagai penghinaan bagi syaithān”. (Hadīts riwayat Muslim I/400) Demikan yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat. وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته ____
📗 Matan Abu Syuja | Kitab Shalat 📝 Penulis: Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al-Asfahāniy (Imam Abū Syujā’) 🔊 Kajian 047 | Sujud Sahwi (Bagian 1) 👤 Ustadz Fauzan ST, MA 📧 Telegram BIS: https://t.me/ilmusyar1 *📲 Grup Whatsapp* :https://bit.ly/grupbis 〰〰〰〰〰〰〰 MATAN KITAB والمتروك من الصلاة ثلاثة أشياء فرض وسنة وهيئة فالفرض لا ينوب عنه سجود السهو بل إن ذكره والزمان قريب أتى به وبنى عليه وسجد للسهو والسنة لا يعود إليها بعد التلبس بالفرض لكنه يسجد للسهو عنها والهيئة لا يعود إليها بعد تركها ولا يسجد للسهو عنها وإذا شك في عدد ما أتى به من الركعات بنى على اليقين وهو الأقل وسجد للسه وسجود السهو سنة ومحله قبل السلام Dan perkara-perkara yang ditinggalkan didalam shalāt ada tiga macam jenisnya, Fardu, Sunnah-Sunnah dan Haiat. Adapun perkara yang wajib, maka tidak bisa digantikan dengan sujud sahwi. Apabila dia ingat dan waktunya masih pendek atau masih dekat, maka kewajiban yang ditinggalkannya tadi dikerjakan pada saat dia ingat, dan dilanjutkan serta kemudian sujud sahwi setelahnya. Adapun sunnah-sunnah shalāt maka tidak diulang dan tidak perlu kembali untuk melakukannya apabila telah melakukan gerakan lain yang merupakan wajib didalam shalāt akan tetapi tetap perlu melakukan sujud sahwi karena lupa melakukannya. Adapun sunnah Haiat maka tidak perlu kembali untuk melakukannya dan tidak perlu melakukan sujud sahwi karena meninggalkannya. 〰〰〰〰〰〰〰 بسم الله الرحمن الرحيم السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و بعد Para sahabat Bimbingan Islam yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita lanjutkan halaqah yang ke-47, masuk pada fasal tentang (Sujud sahwi). Sebelum membahas matan Abū Syujā’, ada beberapa hal yang perlu ditambahkan dalam pengantar masalah sujud sahwi. Sujud sahwi adalah salah satu nikmat yang besar dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang harus kita syukuri, karena dia merupakan salah satu jalan keluar bagi manusia yang secara tabi’at mudah lupa. Adapun pengertian sujud sahwi maka dijelaskan oleh para ulama سجدتان يسجدهما المصلِّي قبل السَّلام أو بعده لِجَبْرِ خلَلٍ في صلاته. Sujud sahwi adalah dua sujud yang dilakukan oleh orang yang shalāt, baik sebelum salam atau pun sesudahnya dengan tujuan untuk menutupi kekeliruan di dalam shalātnya. ▪Hukum Sujud Sahwi Mengenai hukum sujud sahwi para ulama sepakat bahwa hukumnya masyru’ atau disyariatkan. Adapun tingkatnya: 🔗 Menurut Hanafiyyah hukumnya adalah wajib, dan orang yang meninggalkannya berdosa akan tetapi tidak membatalkan shalāt. 🔗 Menurut jumhur, maka hukumnya adalah sunnah. Sebab-sebab disunnahkannya sujud sahwi ada 3 hal yang disebutkan para ulama, yaitu : ⑴ Adanya penambahan ( الزيادة) ⑵ Adanya kekurangan ( والنقص) ⑶ Adanya keraguan pada orang yang shalāt ( والشك) Hadits-hadits yang terkait dalam sujud sahwi secara umum ada 6 buah hadīts, yang merupakan sumber dari permasalahan sujud sahwi (menjadi rujukan didalam masalah sujud sahwi) ▪Waktu Sujud Sahwi Waktu dilakukannya sujud sahwi, disana ada khilaf diantara para ulama tentang afdaliyyah, apakah sebelum salam ataukah setelah salam. Namun pada hakikatnya, tidak ada perbedaan pendapat tentang bolehnya melakukan sujud sahwi baik sebelum salam atau setelah salam. Perbedaan pendapat adalah seputar mana yang lebih utama atau lebih sunnah antara sujud sahwi sebelum salam dan sujud sahwi setelah salam. ▪Berkata kalangan 🔗 Kalangan Hanafiyyah Bahwasanya yang lebih utama dilakukan setelah salam, baik pada perkara adanya tambahan ataupun adanya kekurangan. 🔗 Kalangan Mālikiyyah Jika yang terlupa padahal adanya kekurangan, maka dilakukan sebelum salam, namun jika disana, shalāt nya ada tambahan maka dilakukan setelah salam 🔗 Kalangan Syāfi’iyah Mereka mengatakan lebih utama dilakukan sebelum salam, baik pada perkara tambahan atau adanya kekurangan di dalam shalāt 🔗 Kalangan Hanābilah Adapun Hanābilah, mereka mempersilahkan karena kedua-duanya adalah sama. Apakah ingin sebelum salam atau setelah salam keduanya utama (sesuai dengan sunnah) ▪Tata Cara Sujud Sahwi Imām Nawawi berkata:
🌥️ *JUM'AT* 🗓 01 Rabi'ul Awal 1448 Hijriah 🗓 14 Agustus 2026 Masehi *السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ* 🍂 Alhamdulillāh.. Segala puji bagi Allāh ﷻ, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasūlullāh ﷺ. 🔓 Kita buka grup ini dengan membaca *بِسمِ الله* dan berdoa: *اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً* _*"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima."*_ (📚 HR. Ibnu Majah) 🇫🇦🇪🇩🇦🇭 🇵🇦🇬🇮 *👂🏻🔊 MEMBERSIHKAN HATI DARI SIFAT BANGGA DIRI DAN INGIN DIPUJI* 🎙 Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullahu ta’ala mengatakan, والإخلاصُ يا إخواني صعبٌ والإنسانُ لا يخلو من رياءٍ ولو يسيرًا ، ولا يخلو من إعجابٍ بنفسِهِ ولو يسيرًا أعـاذنا اللهُ وإيَّاكُم من ذلك. فطهِّر قلبك ، وٱجعل عملَكَ خالصًا للهِ تعالى ، فأنتَ عبدُ الله ، لستَ عبدًا للخلق ، والذي ينفعُكَ ويضرُّك الله ، والذي يدخلكَ الجنةَ وينجيك من النَّارِ الله ، والذي بيدِهِ ملكوتُ كل شيءٍ الله Ikhlas merupakan sesuatu yang sulit wahai saudaraku. Manusia tidak pernah terlepas dari keinginan untuk riya (beramal agar dipuji orang lain) dan dari sifat kagum terhadap diri sendiri walaupun kecil. Semoga Allah melindungi kami dan kalian dari hal itu. Maka bersihkanlah hatimu dan Jadikanlah semua perbuatan yang kamu lakukan ikhlas karena mengharapkan ridha Allah. Kamu adalah hamba Allah, bukan hamba makhluk !! Yang bisa memberi manfaat dan menimpakan bahaya kepadamu hanyalah Allah. Yang bisa mengkaruniakan Surga kepadamu serta yang menyelamatkanmu dari neraka hanyalah Allah. Bahkan Yang ada di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu hanyalah Allah. 📚 Sumber : Syarah al-Misykah, (jilid: 1/hal. 143) •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• Demikianlah faedah yang ringkas ini semoga bermanfaat bagi kita semua. Semoga apa2 yg kita lakukan bisa bernilai ibadah di sisi Allah ﷻ بَارَكَ اللهُ فِيْكُم ✍ *Admin* 📧 Telegram BIS: https://t.me/ilmusyar1 *📲 Grup Whatsapp* :https://bit.ly/grupbis •┈◎❅❀❦ *BIS* ❦❀❅◎┈•
без подписи
📚 Serial Untaian Mutiara Hikmah 📀 Audio 18: Keutamaan Tawakkal 🎙 Pemateri: Ustadz Abu Saif, حفظه الله تعالى. 🎧 Unduh & Simak Audio 🎧 ⚠️ _sebelum kedaluwarsa_ ⚠️ 📧 Telegram BIS: https://t.me/ilmusyar1 📲 Grup Whatsapp : https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSdTy-5UXxzOE-A3xhOeiznMhq2KbR7iS0Trr25MZQ4KOLa0xw/viewform 💰Infaq Dakwah :http://bit.ly/donasi_grupBIS ┈┈┈┈◈❆◉❒ 📚 ❒◉❆◈┈┈┈┈
📗 Matan Abu Syuja | Kitab Shalat 📝 Penulis: Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al-Asfahāniy (Imam Abū Syujā’ Kajian 046 | Jumlah Rakaat dan Gerakan (Bagian 2) 👤 Ustadz Fauzan ST, MA 📧 Telegram BIS: https://t.me/ilmusyar1 *📲 Grup Whatsapp* :https://bit.ly/grupbis ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️ بسم الله الرحمن الرحيم السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد Para sahabat Bimbingan Islam yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla kita. ▪TATACARA SHALĀT SAMBIL DUDUK ① Posisi Berdiri. Kaedahnya, seseorang semampu mungkin untuk melakukan rukun sesempurna mungkin yang dia mampu, apabila tidak mampu maka berpindah pada keadaan berikutnya yaitu duduk. Apabila mampu berdiri dengan bertelekan tongkat, atau dengan bersandar, maka tetap wajib berdiri. Apabila mampu berdiri 1 raka’at atau 2 raka’at, maka wajib untuk berdiri walaupun pada raka’at lainnya sudah tidak mampu, maka posisi berdiri pada saat itu digantikan dengan duduk, apakah duduk iftirasy seperti dalam shalāt, atau tarabbu’ (yaitu posisi bersila) atau duduk di atas kursi. ② Posisi Ruku’ Jika seseorang tidak mampu berdiri, namun mampu ruku’, maka pada saat ruku’ mengambil posisi yang sempurna, namun apabila tidak mampu, maka semampunya dengan memiringkan badan, sambil berdiri jika mampu, atau sambil duduk jika tidak mampu. ③ Posisi sujud Apabila mampu untuk sujud secara sempurna, maka berpindah ke posisi sujud secara sempurna, namun apabila tidak mampu, maka dengan memiringkan badan lebih rendah dari posisi ruku’ dan demikian seterusnya ▪TATACARA SHALĀT SAMBIL BERBARING Apabila tidak mampu untuk duduk dalam shalāt fardhu, maka diperbolehkan untuk shalāt sambil berbaring sebagaimana hadits yang sudah disebutkan. Adapun tata cara shalāt sambil berbaring sebagai berikut: ① Posisi berbaring: → bertumpu pada sisi kanan jika mampu dan menghadap kiblat → kemudian bertakbir dan meletakkan kedua tangan diatas dada jika mampu → kemudian ruku’ dengan cara menundukkan kepala → i’tidal dengan kembali lagi → kemudian sujud dengan menundukkan kepala → kemudian kembali lagi dan begitu seterusnya (setiap perubahan pergerakan dengan menundukkan kepala). ② Jika tidak mampu bertumpu pada sisi kanan, maka pada sisi kiri, agak miring dan menghadap kiblat, dan lakukan yang sama ③ Jika tidak mampu maka berbaring diatas punggungnya, dengan posisi kiblat dikakinya, dan bertakbir dan melakukan gerakan semampu mungkin, dengan mengangkat kepala setiap perubahan gerakan. ④ Jika tidak mampu maka dengan mengedipkan mata pada setiap pergerakan ⑤ Jika tidak mampu maka dengan isyarat tangan ⑥ Jika tidak mampu maka niatkan dengan hatinya setiap perubahan gerakan Demikianlah secara ringkas tata cara shalāt yang diajarkan dalam syariat dan kita bisa menyimpulkan tentang: 🔗Ibadah Shalat sangat penting dan agungnya shalāt, sehingga tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan bagaimanapun dan kondisi apapun. 🔗Dan juga bagaimana Islam adalah agama yang mudah dan memberikan kemudahan, memberikan keringanan dalam setiap kondisi yang tidak mungkin dilakukan secara sempurna. Oleh karena itu hendaknya kita bersyukur atas anugrah yang Allāh berikan kepada kita berupa syariat yang lengkap dan mudah. Demikian yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat. وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته ____
🌥️ *KAMIS* 🗓 29 Safar 1448 Hijriah 🗓 13 Agustus 2026 Masehi *السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ* 🍂 Alhamdulillāh.. Segala puji bagi Allāh ﷻ, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasūlullāh ﷺ. 🔓 Kita buka grup ini dengan membaca *بِسمِ الله* dan berdoa: *اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً* _*"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima."*_ (📚 HR. Ibnu Majah) 🇫🇦🇪🇩🇦🇭 🇵🇦🇬🇮 *🔝 JANGAN MERASA KAGUM DENGAN AMALAN* 🎙 Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala mengatakan : إذا فتح الله عليك في باب قيام الليل؛ فلا تنظر للنائمين نظرة ازدراء. وإذا فتح الله عليك في باب الصيام؛ فلا تنظر للمفطرين نظرة ازدراء. وإذا فتح الله عليك في باب الجهاد؛ فلا تنظر للقاعدين نظرة ازدراء. فرب نائم ومفطر وقاعد؛ أقرب إلى الله منك. وإنك أن تبيت نائما وتصبح نادما خير من أن تبيت قائما وتصبح مُعجَباً، فإن المعجب لا يصعد له عمل. Jika Allah membukakan untukmu pintu shalat malam, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidur dengan pandangan merendahkan. Jika Allah ﷻ memudahkan untuk berpuasa kepadamu; maka janganlah engkau melihat kepada orang-orang yang tidak berpuasa dengan pandangan meremehkan !! Jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidak berjihad dengan pandangan merendahkan! Karena mungkin jadi orang yang tertidur, orang yang tidak berpuasa, dan orang yang tidak berjihad, mereka lebih dekat dengan Allah dibandingkan dirimu. Dan sungguh engkau menghabiskan malam dengan tidur dan bangun pagi dalam keadaan menyesal, itu lebih baik dibandingkan engkau menghabiskan malam dengan shalat, namun di pagi hari engkau merasa bangga/kagum (dengan amalmu). Karena sesungguhnya orang yang merasa 'ujub (bangga dan kagum) dengan amalannya; amalannya itu tidak akan naik diterima Allah ﷻ. 📚 Sumber : Madarijus Saalikiin (jilid1/hal.177) •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• Demikianlah faedah yang ringkas ini semoga bermanfaat bagi kita semua. Semoga apa2 yg kita lakukan bisa bernilai ibadah di sisi Allah ﷻ بَارَكَ اللهُ فِيْكُم ✍ *Admin* 📧 Telegram BIS: https://t.me/ilmusyar1 *📲 Grup Whatsapp* :https://bit.ly/grupbis •┈◎❅❀❦ *BIS* ❦❀❅◎┈•
без подписи
📚 Serial Untaian Mutiara Hikmah 📀 Audio 17: Siapakah Luqman Al Hakim 🎙 Pemateri: Ustadz Abu Abdiddayyan, حفظه الله تعالى. 🎧 Unduh & Simak Audio 🎧 ⚠️ _sebelum kedaluwarsa_ ⚠️ 📧 Telegram BIS: https://t.me/ilmusyar1 📲 Grup Whatsapp : https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSdTy-5UXxzOE-A3xhOeiznMhq2KbR7iS0Trr25MZQ4KOLa0xw/viewform 💰Infaq Dakwah :http://bit.ly/donasi_grupBIS ┈┈┈┈◈❆◉❒ 📚 ❒◉❆◈┈┈┈┈
Dan untuk shalāt sunnah diperbolehkan untuk duduk (walaupun dia mampu untuk berdiri). Namun dia akan mendapatkan separuh dari pahala shalāt dengan berdiri. Hal ini berdasarkan hadīts yang diriwayatkan Imām Muslim dari ‘Abdullah bin Amr, bahwasanya beliau dikabari bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: لما روى مسلم (1214) عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضي الله عنه قَالَ : حُدِّثْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( صَلاةُ الرَّجُلِ قَاعِدًا نِصْفُ الصَّلاةِ “Shalāt orang yang duduk separuh (pahala) shalāt (berdiri).” Maksudnya pahalanya separuh dari shalāt orang yang berdiri. Demikian yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat. وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته ____
① Jika dia berdiri menyebabkan kesulitan yang sangat. ② Seseorang yang sakit (apabila berdiri dia akan bertambah sakit). ③ Orang yang lumpuh atau orang yang sudah tua yang tidak mampu untuk berdiri. ④ dll Berdasarkan hadīts Bukhāri: عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ ، فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الصَّلَاةِ ، فَقَالَ : ( صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ). “Dari Imran bin Husain radhiyallāhu”anhu berkata, saya dulu punya penyakit bawasir (ambeien), maka sayapun bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang shalātnya maka beliaupun bersabda, ‘Shalātlah berdiri, jika tidak mampu maka sambil duduk, jika tidak mampu maka berbaringlah’.” وقال النووي رحمه الله : ” أجمعت الأمة على أن من عجز عن القيام في الفريضة صلاها قاعدا ولا إعادة عليه , قال أصحابنا : ولا ينقص ثوابه عن ثوابه في حال القيام , لأنه معذور , وقد ثبت في صحيح البخاري أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ( إذا مرض العبد أو سافر كتب له ما كان يعمل صحيحا مقيما ) . قال أصحابنا : ولا يشترط في العجز أن لا يتأتّى القيام ، ولا يكفي أدنى مشقة ، بل المعتبر المشقة الظاهرة ، فإذا خاف مشقة شديدة أو زيادة مرض أو نحو ذلك أو خاف راكب السفينة الغرق أو دوران الرأس صلى قاعدا ولا إعادة ” انتهى من “المجموع” (4/201) . Berkata Imām Nawawi rahimahullāh dalam kitab Al majmu’, “Umat telah sepakat bahwa orang yang tidak mampu berdiri di dalam shalāt wajib maka boleh shalāt sambil duduk dan tidak perlu mengulang shalātnya.” Beliau berkata, “Sahabat-sahabat kami (para ulama syāfi’iyah) berkata: Bahwasanya shalāt dalam keadaan duduk, tidak mengurangi pahalanya sedikitpun karena dia memiliki alasan (udzur syar’i).” Dan disebutkan di dalam Shahīh Bukhāri: ( إذا مرض العبد أو سافر كتب له ما كان يعمل صحيحا مقيما ) Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, maka akan tetap dicatatkan pahala amalan yang biasa dia lakukan dalam keadaan sehat dan mukim (tidak bepergian). Sahabat-sahabat kami (oara ulama syāfi’iyah) mengatakan bahwa: Tidak disyaratkan bahwa seseorang yang dikatakan tidak mampu berdiri, bahwasanya dia sama sekali tidak bisa berdiri, dan tidak cukup juga hanya dengan sedikit masyaqqoh (kesulitan) maka langsung dikategorikan sebagai seseorang yang tidak mampu (misalnya kesemutan). Kesulitan yang masuk dalam kategori yang diperbolehkan adalah kesulitan yang tampak jelas. Jika seseorang mengkhawatirkan bahwasanya dengan berdiri akan timbul kesulitan yang sangat, atau menyebabkan sakitnya bertambah parah atau yang semisalnya, atau dikhawatirkan dia akan tenggelam jika berdiri (misalnya seseorang sedang naik perahu) atau akan merasakan pusing yang sangat, maka pada saat itu diperbolehkan shalāt sambil duduk. Demikian yang disampaikan oleh Imām An nawawi (Al Majmū’ 4/201). Jadi, seseorang apabila dia tidak mampu berdiri, bukan berarti sama sekali tidak bisa berdiri, namun apabila dia memiliki alasan-alasan yang disebutkan di atas dengan kaedah masyaqqoh dzahirah (kesulitan yang benar-benar jelas) atau di sana ada mudharat yang jelas maka masuk pada kategori “al ajzu” atau tidak mampu yang dengan alasan tersebut boleh berpindah dari posisi berdiri menjadi posisi duduk atau berbaring. Para sahabat sekalian, • Posisi duduk. Untuk posisi duduk, tidak diharuskan dengan posisi duduk tertentu, boleh dengan posisi duduk iftirasy (seperti dalam shalāt) dan boleh juga dengan posisi bersila. Sebagian ulama mengatakan lebih afdal posisi iftirasy, sebagian mengatakan bahwasanya lebih afdal posisi bersila (karena lebih nyaman). Akan tetapi di dalam hadīts tidak dijelaskan, yang dijelaskan adalah boleh seseorang berpindah dari posisi berdiri menjadi posisi duduk. Dan diperbolehkan juga duduk di atas kursi dan ini juga masuk dalam kaedah posisi duduk. Adapun didalam shalāt sunnah dijelaskan oleh para ulama bahwasanya boleh seseorang duduk di dalam shalātnya (shalāt sunnah) walaupun dia mampu untuk berdiri. Ini berbeda dengan shalāt wajib, shalāt (wajib) wajib untuk berdiri.
📗 Matan Abu Syuja | Kitab Shalat 📝 Penulis: Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al-Asfahāniy (Imam Abū Syujā’) 🔊 Kajian 045 | Jumlah Rakaat dan Gerakan (Bagian 1) 👤 Ustadz Fauzan ST, MA 📧 Telegram BIS: https://t.me/ilmusyar1 *📲 Grup Whatsapp* :https://bit.ly/grupbis 〰〰〰〰〰〰〰 MATAN KITAB (فصل) وركعات الفرائض سبعة عشر ركعة: فيها أربع وثلاثون سجدة وأربع وتسعون تكبيرة وتسع تشهدات وعشر تسليمات ومائة وثلاث وخمسون تسبيحة. وجملة الأركان في الصلاة مائتان وأربعة وثلاثون ركنا: في الصبح ثلاثون ركنا وفي المغرب اثنان وأربعون ركنا وفي الرباعية أربعة وخمسون ركنا. ومن عجز عن القيام في الفريضة صلى جالسا ومن عجز عن الجلوس صلى مضطجعا. Jumlah raka’at shalāt fardhu ada 17 (tujuh belas) raka’at: 34 sujud, 94 takbir, 9 tahiyat, 10 salam, 153 tasbih. Jumlah rukun dalam shalāt ada 234 rukun: shalāt subuh 30 rukun, maghrib 42 rukun, shalāt empat raka’at ada 54 rukun. Barangsiapa yang tidak mampu berdiri dalam shalāt fardhu maka boleh shalāt duduk, yang tidak mampu duduk, boleh shalāt tidur miring. 〰〰〰〰〰〰〰 بسم الله الرحمن الرحيم السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد Para sahabat Bimbingan Islam yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla kita lanjutkan pada halaqah yang ke-45, dan kita masuk pada fasal tentang jumlah raka’at di dalam shalāt dan gerakan-gerakan lainnya yang ada di dalam shalāt. قال المصنف Penulis rahimahullāh berkata: ((وركعات الفرائض سبعة عشر ركعة)) 🔹Shalāt yang wajib itu ada 17 raka’at (dalam sehari semalam), yaitu: √ Subuh 2 raka’at √ Dhuhur 4 raka’at √ Ashar 4 raka’at √ Maghrib 3 raka’at √ Isya 4 raka’at Adapun bagi musafir maka dia mengqashar shalāt yang 4 raka’at menjadi 2 raka’at, sehingga total raka’at dalam sehari semalam menjadi 11 raka’at. ((فيها أربع وثلاثون سجدة وأربع وتسعون تكبيرة وتسع تشهدات وعشر تسليمات ومائة وثلاث وخمسون تسبيحة)) 🔹Di dalam shalāt tersebut ada: √ 17 kali ruku, √ 34 kali sujud, √ 94 kali takbir, √ 9 kali tasyahud, yang 5 kalinya adalah wajib, √ 10 kali salam, √153 kali tasbih. ((وجملة الأركان في الصلاة مائتان وأربعة وثلاثون ركنا؛ في الصبح وثلاثون ركنا، وفي المغرب اثنان وأربعون ركنا وفي الرباعية أربعة وخمسون ركنا)) 🔹 Jumlah rukun di dalam shalāt ada 234 rukun, dengan rincian: √ Pada shalāt subuh ada 30 rukun. √ Pada shalāt maghrib ada 42 rukun. √ Pada shalāt yang 4 raka’at (Dhuhur, Ashar, Isya) masing-masing 54 rukun. Ini adalah jumlah-jumlah yang disebutkan oleh penulis di sini, bahwasanya shalāt terdiri dari 17 raka’at, dan kalau ditotal maka semua macam-macam yang ada dalam shalāt baik rukunnya, sujudnya dan rukunya sebagaimana yang disebutkan oleh penulis rahimahullāh. Kemudian beliau mengatakan: ((ومن عجز عن القيام في الفريضة صلى جالسا )) Barangsiapa yang tidak mampu untuk berdiri di dalam shalāt wajib maka dia shalāt dalam keadaan duduk. ((ومن عجز عن الجلوس صلى مضطجعا (أي على جنبه الأيمن) )) Barangsiapa yang tidak mampu shalāt sambil duduk maka shalāt dalam keadaan berbaring (berbaring pada posisi bertumpu pada sisi sebelah kanan). ((ومن عجز عن ذلك يصلي بالإيماء)) Apabila dia juga tidak mampu untuk shalāt sambil berbaring maka dia shalāt dengan memberikan isyarat. ((وإن عجز عن ذلك يصلي بطرفه وينوي بقلبه)) Jika masih tidak mampu untuk shalāt dengan isyarat mengerakan sebagian dari kepalanya misalnya maka dia shalāt dengan mengekedipkan matanya dan berniat dalam hatinya. Ini adalah beberapa perkara yang disebutkan bahwasanya bila seseorang tidak mampu shalāt sambil berdiri maka dia shalāt dalam keadaan duduk. Para sahabat sekalian, Bahwasanya berdiri di dalam shalāt hukumnya adalah wajib dan termasuk di dalam rukun. Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla: وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ “Dan berdirilah kalian untuk Allāh dalam shalātmu dalam keadaan yang khusyū’.” (QS Al Baqarah: 238) Oleh karena itu, hukum asal berdiri di dalam shalāt adalah rukun. Apabila seseorang meninggalkan rukun tersebut tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat maka shalātnya batal. 🔹Diantara alasan yang dibenarkan untuk shalāt sambil duduk atau sambil berbaring, adalah: