- Последний пост
- 2 февр.
- Последнее чтение
- 15 авг.
- Постов за неделю
- 0
- Всего постов
- 20
- Тип
- открытый
- Язык
- und
- Категория
- Религия (по похожим)
- В каталоге с
- 13 авг.
- 1/24сутки в ленте
- —
- 1/48двое суток
- —
- 1/72трое суток
- —
Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.
Посты
без подписи
5 TANDA KESENGSARAAN _Nasihat Fudhoil bin Iyadh rahimahullah_ Ada lima tanda kesengsaraan, 1. Kerasnya hati 2. Mata yang tidak pernah menangis (karena takut kepada Allah) 3. Sedikitnya rasa malu 4. Panjang angan-angan 5. Cinta pada dunia. --------••♛♛♛••---------- ISLAMPOS MEDIA Islampos Media merupakan Channel Telegram yang berisikan informasi dan bahasan seputar Islam (sirah, fiqih, aqidah, motivasi, ibrah, hadist, dsj) Yuuk untuk teman - teman yang ingin bergabung di Telegram Islampos ini silahkan join di ↓↓↓↓ https://t.me/islamposgroupmedia ♻️ Silahkan berbagi informasi ini, semoga bermanfaat♻️
без подписи
JANGAN MENUNDA KEBAIKAN Saudaraku, Berbuat kebaikan bahkan sebelum dilakukan, memang sudah dicatat sebuah kebaikan. Dalam hadits qudsi, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Sesungguhnya Allah mencatat berbagai kejelekan dan kebaikan lalu Dia menjelaskannya. Barangsiapa yang bertekad untuk melakukan kebaikan lantas tidak bisa terlaksana, maka Allah catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia bertekad lantas bisa ia penuhi dengan melakukannya, maka Allah mencatat baginya 10 kebaikan hingga 700 kali lipatnya sampai lipatan yang banyak.” (HR. Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 130) Namun, meskipun sudah dicatat sebuah kebaikan, terkadang kita malah jadi sering menunda-nunda berbuat baik. “Ah, nanti saja.” Saudaraku, Ketahuilah, menunda-nunda kebaikan itu merupakan salah satu strategi Iblis dalam melancarkan misinya. Itulah penyakit At Taswif (menunda-nunda melakukan kebaikan) Saudaraku, Abu Al Jald rahimahullah berkata: “Aku mendapati bahwa at taswif (menunda-munda kebaikan) adalah salah satu dari tentara Iblis, ia telah membinasakan banyak makhluk-makhluk Allah.” Lihat kitab Hilyat Al Awliya’ wa Thabaqat Al Ashfiya’, 6/54. Saudaraku, Dia berkata, "Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.” QS Al Fajr 23-24. []
без подписи
RASULULLAH Muhammad ﷺ adalah teladan terbaik bagi umat manusia. Bukan hanya sebagai nabi dan pemimpin umat, beliau juga seorang ayah yang penuh kasih sayang. Dari pernikahannya dengan Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ dikaruniai putra dan putri yang kelak menjadi bagian penting dalam sejarah Islam. Berikut penjelasannya. Putra-putra Rasulullah ﷺ 1. Qasim Al-Qasim adalah putra pertama Rasulullah ﷺ. Karena beliau, Rasulullah mendapat kuniah Abul Qasim. Namun, Al-Qasim wafat saat masih kecil, sebelum usia baligh. Meski singkat, namanya tetap harum dalam sejarah. 2. Abdullah Abdullah juga dikenal dengan julukan Ath-Thayyib dan Ath-Thahir. Ia lahir setelah Rasulullah ﷺ diangkat menjadi nabi. Sayangnya, Abdullah pun wafat ketika masih bayi. Dari sinilah Allah menguji Rasulullah ﷺ dengan kesabaran luar biasa, hingga kaum Quraisy mengejek beliau sebagai abtar (terputus keturunannya). Maka turunlah Surah Al-Kautsar sebagai jawaban langit. 3. Ibrahim Ibrahim adalah putra Rasulullah ﷺ dari Maria Al-Qibthiyyah radhiyallahu ‘anha. Ia lahir di Madinah dan menjadi buah hati yang sangat dicintai Rasulullah. Nabi sering menggendongnya, menciumnya, dan menunjukkan kasih sayang yang lembut. Namun, Ibrahim wafat saat masih bayi, belum genap dua tahun. Saat Ibrahim meninggal, Rasulullah ﷺ menangis. Beliau bersabda, “Sesungguhnya mata menangis dan hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali yang diridai Allah.” Wafatnya Ibrahim menjadi pelajaran besar tentang keikhlasan dan keteguhan iman. Rasulullah menunjukkan bahwa kesedihan adalah manusiawi, namun ridha kepada takdir Allah adalah kemuliaan. SELENGKAPNYA: https://islamposmedia.com/2026/01/23/siapa-sajakah-putra-putri-rasulullah-%ef%b7%ba/
Apakah karena kekuatan mereka? Ataukah karena kesombongan yang tak terbendung? Mengapa mereka yang dikenal perkasa justru dihancurkan dengan angin yang sangat dahsyat? Apa peringatan Allah bagi umat setelah mereka? Dan… apakah kisah ini masih relevan dengan kondisi manusia hari ini? Semua jawabannya ada dalam kisah kaum ‘Aad. Sebuah pelajaran besar tentang iman, kesombongan, dan azab Allah yang nyata. 📌 Tonton videonya sampai akhir 👍 Jangan lupa LIKE jika bermanfaat 💬 COMMENT: pelajaran apa yang paling mengena bagi Anda? 📤 SHARE agar semakin banyak yang mengambil ibrah SIMAK DI SINI: https://openyoutu.be/EMes6jGVDZ4?si=sAuo-K6FBQq0ROef
без подписи
ABU HANIFAH DAN PAKAIAN KUSAM Abu Hanifah melihat salah seorang temannya mengenakan pakaian usang. Abu Hanifah menyuruhnya untuk tetap duduk hingga semua orang pergi. Setelah hanya ia seorang diri, Abu Hanifah berkata kepadanya, “Angkatlah wadah itu dan ambillah isinya.” Orang itu kemudian mengangkat wadah itu dan di bawahnya ada uang sebanyak seribu dirham. Abu Hanifah berkata kepadanya, “Ambillah dirham-dirham itu dan gunakan untuk mengubah kondisimu.” Orang itu berkata, “Aku ini orang kaya dan aku berada dalam kenikmatan. Aku tidak memerlukannya.” Abu Hanifah berkata kepadanya, “Apakah belum sampai kepadamu hadits bahwa Allah suka melihat jejak nikmat-Nya pada hamba-Nya. Kau sepatutnya mengubah kondisimu agar temanmu tidak sedih karenamu.” [] _Sumber: 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Abi Hanifah An-Nu man -100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Malik bin Anas – 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Asy-Syafii – 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Ahmad bin Hanbal (400 Kisah Hidup Imam Empat Madzhab) /Penulis: Dr Muhammad Shiddiq Al-Minsyawi / Penerbit: Zam Zam Cetakan V: September 2023_ --------••♛♛♛••---------- ISLAMPOS MEDIA Islampos Media merupakan Channel Telegram yang berisikan informasi dan bahasan seputar Islam (sirah, fiqih, aqidah, motivasi, ibrah, hadist, dsj) Yuuk untuk teman - teman yang ingin bergabung di Telegram Islampos ini silahkan join di ↓↓↓↓ https://t.me/islamposgroupmedia ♻️ Silahkan berbagi informasi ini, semoga bermanfaat♻️
без подписи
PERISTIWA jatuhnya Baghdad ke tangan pasukan Mongol pada tahun 1258 M sering dikenang sebagai salah satu tragedi terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Dalam banyak narasi populer, kehancuran ini digambarkan bukan sekadar sebagai penaklukan militer, tetapi sebagai konspirasi besar untuk memusnahkan ilmu pengetahuan Islam, dengan simbol utama berupa penghancuran Perpustakaan Baghdad—terutama Bayt al-Hikmah (Baitul Hikmah). Namun, benarkah kehancuran ini merupakan hasil konspirasi terencana untuk menghancurkan peradaban Islam? Ataukah ia lebih merupakan tragedi politik dan militer yang kemudian dibalut mitos sejarah? Baghdad: Pusat Ilmu Pengetahuan Dunia Sejak abad ke-8, Baghdad menjadi jantung peradaban Islam dan pusat intelektual dunia. Di kota ini, ilmu pengetahuan dari Yunani, Persia, India, dan Romawi diterjemahkan, dikembangkan, dan diajarkan. Bayt al-Hikmah bukan sekadar perpustakaan, melainkan pusat riset, observatorium, dan akademi ilmiah yang melahirkan tokoh-tokoh besar dalam matematika, kedokteran, filsafat, dan astronomi. Karena posisinya yang sangat strategis sebagai pusat ilmu, kehancuran Baghdad sering dipersepsikan sebagai upaya sistematis untuk mematikan cahaya intelektual Islam. Serangan Hulagu Khan dan Jatuhnya Baghdad Pada tahun 1258, Hulagu Khan—cucu Jenghis Khan—memimpin pasukan Mongol menyerbu Baghdad. Khalifah Abbasiyah terakhir, Al-Musta‘shim, dianggap lemah secara militer dan politik. Kota yang selama berabad-abad menjadi simbol kejayaan Islam itu akhirnya runtuh hanya dalam hitungan hari. Catatan sejarah menyebutkan pembantaian besar-besaran terhadap penduduk kota, penghancuran masjid, istana, dan lembaga-lembaga pendidikan. Dalam narasi yang paling terkenal, buku-buku dari perpustakaan dilemparkan ke Sungai Tigris hingga airnya menghitam oleh tinta. Narasi Konspirasi: Fakta atau Legenda? Di sinilah muncul tuduhan konspirasi. Sebagian sejarawan dan penulis modern berpendapat bahwa kehancuran Baghdad bukan sekadar ekspansi Mongol, melainkan didorong oleh: 1- Pengkhianatan internal, terutama dari elit politik Abbasiyah dan sebagian pejabat istana. SELENGKAPNYA: https://islamposmedia.com/2026/01/09/penghancuran-perpustakaan-baghdad-1258-apa-akibatnya-bagi-peradaban-islam/
без подписи
KENAPA GA PERNAH BISA TAHAJJUD? SIAPA pun yang jujur pada dirinya pasti pernah bergumam lirih: “Kenapa ya, aku kok nggak pernah bisa tahajjud?” Alarm bunyi, tangan mematikannya. Niat ada, tapi badan rasanya berat. Hati ingin bangun, tapi kasur lebih memikat. Tenang, kamu tidak sendirian. Para ulama salaf sejak dahulu sudah membedah penyakit batin ini dengan sangat jujur—bahkan kadang menohok. 1. Bukan Karena Kamu Lemah, Tapi Karena Dosa Terlalu Akrab Imam Sufyan ats-Tsauri pernah berkata kurang lebih maknanya: “Aku terhalang dari shalat malam selama berbulan-bulan hanya karena satu dosa yang aku lakukan.” Tahajjud bukan sekadar ibadah fisik, tapi kehormatan ruhani. Dosa-dosa yang kita anggap sepele—pandangan haram, lisan yang tajam, hati yang dengki—perlahan menggelapkan jiwa. Saat jiwa berat, badan ikut berat. Bukan Allah yang menjauh, tapi kitalah yang menutup pintu. Rasulullah ﷺ dan Tahajjud, Bagaimana dengan Dirimu? 2. Hati Terlalu Kenyang Dunia Al-Hasan al-Bashri pernah ditanya: “Kenapa kami sulit bangun malam?” Beliau menjawab, “Karena dosa-dosa kalian membelenggu hati kalian.” Dalam riwayat lain, beliau juga mengisyaratkan: hati yang terlalu sibuk dunia akan sulit menikmati sepi bersama Allah. Siang kita habiskan untuk mengejar pujian, validasi, dan layar yang tak pernah gelap. Malam, Allah memanggil—tapi hati sudah kelelahan oleh dunia, bukan oleh ibadah. 3. Terlalu Banyak Makan, Terlalu Sedikit Menahan Diri Yahya bin Mu’adz ar-Razi pernah mengingatkan: “Bagaimana mungkin seseorang berharap bisa shalat malam, sementara perutnya penuh dan syahwatnya liar?” Tahajjud itu ringan bagi orang yang siangnya menjaga diri. Tapi berat bagi yang siangnya memanjakan nafsu. Bukan karena Allah tidak memberi taufik, tapi karena kita menimbun penghalangnya sendiri. 4. Kamu Mengira Tahajjud Itu Beban, Bukan Kehormatan Ibn Mas’ud pernah berkata dengan makna: “Tidaklah seseorang terhalang dari qiyamul lail kecuali karena dosa yang ia lakukan.” Para salaf tak pernah mengeluh capek tahajjud. Justru mereka menangis kalau terhalang. Karena bagi mereka, tahajjud bukan kewajiban tambahan—tapi undangan khusus. Kalau kita masih berkata, “Tahajjud berat,” mungkin masalahnya bukan di badan, tapi di cara kita memandang Allah. 5. Allah Sedang Mengajarimu Rendah Hati Ada satu hikmah yang sering dilupakan: kadang Allah menunda tahajjudmu agar kamu sadar, kamu butuh Dia. Bukan semua yang rajin tahajjud itu mulia, dan bukan semua yang belum tahajjud itu hina. Ada orang yang belum bisa bangun malam, tapi hatinya remuk karena rindu. Dan ada yang bangun malam, tapi hatinya penuh ujub. Allah lebih peduli kerendahan hatimu daripada jumlah rakaatmu. Penutup: Jangan Berhenti Mengetuk Kalau hari ini kamu belum bisa tahajjud, jangan putus asa. Perbaiki siangmu. Ringankan dosamu. Jujurlah pada Allah. Ulama salaf tidak mengajarkan kita untuk putus asa, tapi untuk terus mengetuk pintu—meski dengan tangan gemetar dan mata sembab. Karena suatu malam nanti, tanpa kamu sadari, Allah akan membangunkanmu. Bukan oleh alarm, tapi oleh rindu. [] --------••♛♛♛••---------- ISLAMPOS MEDIA Islampos Media merupakan Channel Telegram yang berisikan informasi dan bahasan seputar Islam (sirah, fiqih, aqidah, motivasi, ibrah, hadist, dsj) Yuuk untuk teman - teman yang ingin bergabung di Telegram Islampos ini silahkan join di ↓↓↓↓ https://t.me/islamposgroupmedia ♻️ Silahkan berbagi informasi ini, semoga bermanfaat♻️
Pernahkah kamu membayangkan… Cinta yang harus memilih antara iman dan pernikahan? Bagaimana rasanya menjadi putri Nabi, namun diuji dengan suami yang belum beriman? Apa yang terjadi ketika sebuah kalung lama membuat Rasulullah ﷺ menangis di hadapan para sahabat? Mampukah cinta bertahan puluhan tahun, terpisah oleh keyakinan, perang, dan hijrah? Dan benarkah kesabaran seorang wanita bisa mengubah takdir seorang lelaki? 🎥 Kisah cinta Abul ‘Ash dan Zainab binti Muhammad ini bukan kisah biasa. Ada air mata, pengorbanan, dan janji yang dijaga hingga akhir. Tonton sampai akhir, karena satu bagian kisah ini… tak akan kamu lupakan. 👉 Jangan lupa LIKE, COMMENT, dan SHARE agar lebih banyak yang belajar tentang cinta karena Allah. ___ SIMAK KISAH LAINNYA DI SINI: https://openyoutu.be/3HVT25ijLYk?si=k8Temh6UWnp_Fokq
JANGAN PERNAH MENGUNGKIT PEMBERIAN Lisan itu kecil. Namun lukanya bisa panjang. Di antara penyakit lidah, yang sering diremehkan, adalah mengungkit pemberian. Kalimatnya terdengar biasa. Namun racunnya perlahan. “Dulu aku yang menolongmu.” “Aku yang memenuhi kebutuhanmu.” “Tanpa aku, kau tak akan begini.” Ucapan seperti ini bukan sekadar kata. Ia menyayat kehormatan. Dan meruntuhkan pahala. Allah sudah mengingatkan. “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian batalkan sedekah kalian dengan mengungkit-ungkit pemberian dan menyakiti (perasaan yang diberi).” (QS. Al-Baqarah: 264) Sedekah bukan hanya soal memberi. Tapi juga menjaga hati orang yang diberi. Jika pahala itu hancur, bukan karena kurang besar nominalnya, melainkan karena buruknya adabnya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Amal tanpa adab, seperti jasad tanpa ruh.” Mengungkit pemberian adalah tanda hati belum ikhlas. Masih ingin dikenang. Masih ingin dibalas. Padahal balasan sejati bukan dari manusia. Tapi dari Allah. Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik. Ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” Ayat ini diawali dengan panggilan iman. “Wahai orang-orang yang beriman.” Seolah Allah berkata, jika iman itu hidup, lidah akan dijaga. Hati akan dibersihkan. Memberi lalu diam. Menolong lalu lupa. Berbuat baik lalu pergi. Itulah sedekah yang selamat. Tidak melukai. Tidak menghapus pahala. Karena orang beriman tahu, apa yang ia beri kepada manusia, sejatinya sedang ia simpan di sisi Allah. Allahu a‘lam. [] --------••♛♛♛••---------- ISLAMPOS MEDIA Islampos Media merupakan Channel Telegram yang berisikan informasi dan bahasan seputar Islam (sirah, fiqih, aqidah, motivasi, ibrah, hadist, dsj) Yuuk untuk teman - teman yang ingin bergabung di Telegram Islampos ini silahkan join di ↓↓↓↓ https://t.me/islamposgroupmedia ♻️ Silahkan berbagi informasi ini, semoga bermanfaat♻️
без подписи
ISTIGHFAR Hidup tak selalu lapang. Hati sering terasa sempit. Masalah datang bergantian. Di saat seperti itu, Islam tidak mengajarkan pelarian. Tapi kembali. Kembali kepada Allah. Rasulullah ﷺ memberi jalan. Sederhana. Namun dalam. “Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah melapangkan setiap kegundahannya, melepaskan setiap kesempitannya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud) Istighfar bukan hanya ucapan. Ia pengakuan. Bahwa kita lemah. Dan Allah Mahakuat. Ia adalah bahasa orang yang sadar. Bahwa dosa, sering menjadi sebab sempitnya hidup. Allah sendiri yang menjanjikan. “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu dan bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu.” (QS. Hud: 3) Bukan sekadar cukup. Tapi baik. Dan diberkahi. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Perbanyaklah istighfar di rumah-rumah kalian, di meja makan kalian, di jalan-jalan kalian, dan di pasar-pasar kalian. Kalian tidak tahu, di saat mana rahmat Allah turun.” [] --------••♛♛♛••---------- ISLAMPOS MEDIA Islampos Media merupakan Channel Telegram yang berisikan informasi dan bahasan seputar Islam (sirah, fiqih, aqidah, motivasi, ibrah, hadist, dsj) Yuuk untuk teman - teman yang ingin bergabung di Telegram Islampos ini silahkan join di ↓↓↓↓ https://t.me/islamposgroupmedia ♻️ Silahkan berbagi informasi ini, semoga bermanfaat♻️
Apakah semua bangsa besar selalu meninggalkan keturunan? Mengapa ada bangsa Arab yang begitu kuat, membangun kerajaan dan benteng, namun justru lenyap tanpa jejak silsilah? Dan pertanyaan yang lebih mengguncang: mengapa Al-Qur’an mengabadikan bangsa yang punah, sementara banyak bangsa yang bertahan justru tidak disebut? Siapakah sebenarnya Arab Ba’idah—bangsa Arab pertama yang musnah, tetapi kisahnya tetap hidup dalam wahyu? Mengapa hanya ‘Ād dan Tsamūd yang dibuka arsip kehancurannya oleh Al-Qur’an? Apakah kehancuran mereka sekadar tragedi sejarah, atau pola peradaban yang terus berulang hingga hari ini? Dalam video ini, Islampos Media menelusuri jejak Arab Ba’idah dari Babilon hingga Jazirah Arab, dari puncak kekuasaan hingga penghapusan total, serta mengungkap ironi terbesar: bahasa Al-Qur’an berasal dari bangsa yang telah binasa. Apakah kejayaan tanpa ketaatan memang selalu berakhir sama? SIMAK DI SINI: https://openyoutu.be/Nutsnn1eYhM?si=HaXrr3awDwuxtdAV
без подписи
KEHIDUPAN tak lepas dari ujian, baik berupa sakit fisik, kegelisahan hati, hingga tekanan batin yang tak terlihat. Namun, Islam sebagai agama yang sempurna telah memberi petunjuk yang indah: setiap penyakit, baik lahir maupun batin, pasti ada obatnya. Bukan hanya dengan obat medis, tetapi juga dengan pendekatan ruhani yang telah diajarkan Rasulullah ﷺ dan diteruskan oleh para ulama salaf. Berikut adalah “resep” yang bisa dicoba, sederhana namun mendalam, karena bersumber dari tradisi keimanan yang kokoh. 1. Sering Sakit? Coba Puasa Rasulullah ﷺ bersabda, “Berpuasalah kamu, niscaya kamu akan sehat.” (HR. Thabrani). Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi bentuk detoksifikasi tubuh dan jiwa. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata, “Puasa termasuk pengobatan yang menakjubkan bagi penyakit-penyakit badan dan hati.” Dengan berpuasa, metabolisme tubuh diperbaiki, dan hati dilatih untuk lebih sabar dan berserah kepada Allah. 2. Wajah Gelap? Hidupkan Malam dengan Tahajud Wajah yang tampak muram seringkali berasal dari jiwa yang jauh dari Allah. Sholat tahajud, meskipun berat, membawa cahaya ke dalam hati dan memancar ke wajah. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kebaikan itu memancarkan cahaya di hati, sinar di wajah, keluasan rezeki, dan kecintaan di hati manusia.” Maka, bangunlah di akhir malam, mengadulah hanya kepada Allah. Perlahan, cahaya itu akan tampak. 3. Hati Sempit? Baca Al-Qur’an Hati yang sempit biasanya dipenuhi keluh kesah dan prasangka. Obatnya adalah memperbanyak membaca dan mentadabburi Al-Qur’an. Kitab suci ini bukan sekadar bacaan, tapi juga penenang jiwa. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa yang ingin mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka bacalah Al-Qur’an.” Dengan Al-Qur’an, hati akan menjadi lapang, lebih sabar, dan lebih kuat menghadapi kehidupan. SELENGKAPNYA: https://islamposmedia.com/2025/07/22/8-penyakit-cobalah-sembuhkan-dengan-obat-ini/