Mutiara Sunnah.
СтатистикаMenggali, Memahami dan Mengamalkan Mutiara yang Terkandung Dalam AlQuran , Sunnah & Atsar. Dinukil dari berbagai sumber نفعنا الله بهذا [أبو محمد خاتمي]
- Последний пост
- 12 авг.
- Последнее чтение
- 13 авг.
- Постов за неделю
- 4
- Всего постов
- 108
- Тип
- открытый
- Язык
- индонезийский
- В каталоге с
- 13 авг.
- 1/24сутки в ленте
- 31
- 1/48двое суток
- 35
- 1/72трое суток
- 38
Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.
Посты
فَإِنْ رَدَّ الْجَهْمِيُّ الْجَعْلَ إِلَىٰ الْمَعْنَىٰ الَّذِي وَضَعَهُ اللهُ فِيهِ، وَإِلَّا كَانَ مِنَ الَّذِينَ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ. Jika orang Jahmiyah mengembalikan makna kata (الْجَعْلَ) sesuai konteks yang ditempatkan oleh Allah, maka itu yang benar. Namun jika tidak, maka dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mendengar firman Allah, kemudian mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, padahal mereka mengetahui. فَلَمَّا قَالَ اللهُ: ﴿ إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا ﴾ [الزخرف: ٣]. يَقُولُ: جَعَلَهُ عَرَبِيًّا، جَعَلَهُ جَعْلًا عَلَىٰ مَعْنَىٰ فِعْلٍ مِنْ أَفْعَالِ اللهِ تَعَالَىٰ عَلَىٰ غَيْرِ مَعْنَىٰ خَلَقَ. Maka ketika Allah berfirman: "Sesungguhnya Kami menjadikannya Al-Qur'an dalam bahasa Arab" [QS. Az-Zukhruf: 3]. Dia berkata: Dia menjadikannya berbahasa Arab; penjelasannya adalah penataan/penetapan berdasarkan perbuatan Allah Ta'ala, bukan bermakna menciptakan (خَلَقَ). وَقَالَ فِي سُورَةِ الزُّخْرُفِ: ﴿ إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ﴾ [الزخرف: ٣]. Dan Dia berfirman dalam Surah Az-Zukhruf: "Sesungguhnya Kami menjadikannya Al-Qur'an dalam bahasa Arab agar kamu mengerti." [QS. Az-Zukhruf: 3]. وَقَالَ: ﴿ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ * بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ ﴾ [الشعراء: ١٩٤ - ١٩٥]. Dan Dia berfirman: "Agar engkau menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas." [QS. Ash-Shu'ara: 194-195]. وَقَالَ: ﴿ فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ ﴾ [مريم: ٩٧]. Dan Dia berfirman: "Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an itu dengan bahasamu (Muhammad)." [QS. Maryam: 97]. فَلَمَّا جَعَلَ اللهُ الْقُرْآنَ عَرَبِيًّا، وَيَسَّرَهُ بِلِسَانِ نَبِيِّهِ ﷺ، كَانَ ذٰلِكَ فِعْلًا مِنْ أَفْعَالِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ؛ جَعَلَ بِهِ الْقُرْآنَ عَرَبِيًّا، وَلَيْسَ كَمَا زَعَمُوا. مَعْنَاهُ: أَنْزَلْنَاهُ بِلِسَانِ الْعَرَبِ، وَقِيلَ: بَيَّنَّاهُ؛ يَعْنِي: هٰذَا بَيَانٌ لِمَنْ أَرَادَ اللهُ هُدَاهُ. Maka ketika Allah menjadikan Al-Qur'an berbahasa Arab dan memudahkannya dengan bahasa Nabi-Nya ﷺ, hal itu merupakan perbuatan dari perbuatan-perbuatan Allah Tabaraka wa Ta'ala—Dia yang menjadikan Al-Qur'an berbahasa Arab, tidak seperti apa yang diklaim oleh mereka (kaum Jahmiyah). Maknanya adalah: "Kami menurunkannya dengan bahasa Arab", dan ada yang berpendapat: "Kami menjelaskannya", yaitu sebagai petunjuk dan penjelasan bagi orang yang Allah kehendaki mendapat hidayah. [Kitab Sunnah, Abu Bakr Al Khallal] ============ t.me/mutiarasunna
وَقَالَ اللهُ تَعَالَىٰ لِإِبْرَاهِيمَ: إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا [البقرة: ١٢٤]. لَا يَعْنِي: إِنِّي خَالِقُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا؛ لِأَنَّ خَلْقَ إِبْرَاهِيمَ كَانَ مُتَقَدِّمًا. Dan firman Allah Ta'ala kepada Nabi Ibrahim: "Sesungguhnya Aku menjadikanmu (جَاعِلُكَ - menetapkanmu) sebagai pemimpin bagi manusia." [QS. Al-Baqarah: 124]. Bukan bermakna: "Sesungguhnya Aku menciptakanmu sebagai pemimpin bagi manusia"; karena penciptaan Nabi Ibrahim sudah terjadi jauh sebelum penetapan kedudukan tersebut. وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ: رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا [إبراهيم: ٣٥]. Nabi Ibrahim berdoa: "Ya Tuhan kami, jadikanlah (اجْعَلْ) negeri ini (Mekkah) negeri yang aman." [QS. Ibrahim: 35]. وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ: رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي [إبراهيم: ٤٠].لَا يَعْنِي: اخْلُقْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ. Nabi Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah aku (اجْعَلْنِي) orang yang tetap melaksanakan salat, dan begitu pula anak cucuku." [QS. Ibrahim: 40]. Bukan bermakna: "Ciptakanlah aku sebagai orang yang melaksanakan shalat." وَقَالَ: يُرِيدُ اللَّهُ أَلَّا يَجْعَلَ لَهُمْ حَظًّا فِي الْآخِرَةِ [آل عمران: ١٧٦]. لَا يَعْنِي: يُرِيدُ اللهُ أَنْ لَا يَخْلُقَ لَهُمْ حَظًّا فِي الْآخِرَةِ. Dan Dia berfirman: "Allah tidak berkehendak menjadikan (يَجْعَلَ) bagian (pahala) bagi mereka di akhirat." [QS. Ali 'Imran: 176]. Bukan bermakna: "Allah tidak berkehendak menciptakan bagian bagi mereka di akhirat." وَقَالَ لِأُمِّ مُوسَىٰ: ﴿ إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ ﴾ [القصص: ٧]. لَا يَعْنِي: خَالِقُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ؛ لِأَنَّ اللهَ تَعَالَىٰ وَعَدَ أُمَّ مُوسَىٰ أَنْ يَرُدَّهُ إِلَيْهَا، ثُمَّ يَجْعَلَهُ مِنْ بَعْدِ ذٰلِكَ مُرْسَلًا. Dan firman-Nya kepada ibunda Musa: "Sesungguhnya Kami akan mengembalikan dia kepadamu dan menjadikannya (جَاعِلُوهُ) salah seorang dari para rasul." [QS. Al-Qashash: 7].Bukan bermakna: "Menciptakannya sebagai rasul"; karena Allah Ta'ala berjanji kepada ibunda Musa untuk mengembalikan Musa kepadanya terlebih dahulu, lalu Allah menjadikannya seorang Rasul. وَقَالَ: وَيَجْعَلَ الْخَبِيثَ بَعْضَهُ عَلَىٰ بَعْضٍ فَيَرْكُمَهُ جَمِيعًا فَيَجْعَلَهُ فِي جَهَنَّمَ [الأنفال: ٣٧]. لَا يَعْنِي: فَيَخْلُقَهُ فِي جَهَنَّمَ. Dan firman-Nya: "Dan (Allah) menjadikan (يَجْعَلَ) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu Dia menumpukkannya semuanya, lalu menjadikannya (يَجْعَلَهُ) dimasukkan ke dalam neraka Jahanam." [QS. Al-Anfal: 37]. Bukan bermakna: "Lalu menciptakannya di dalam neraka Jahanam." قَالَ: وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ. [القصص: ٥]. لَا يَعْنِي: وَنَخْلُقَهُمْ أَئِمَّةً، وَنَخْلُقَهُمُ الْوَارِثِينَ. Dan firman-Nya: "Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu, dan menjadikan mereka (نَجْعَلَهُمْ) pemimpin-pemimpin serta menjadikan mereka (نَجْعَلَهُمْ) orang-orang yang mewarisi." [QS. Al-Qashash: 5]. Bukan bermakna: "Dan menciptakan mereka sebagai pemimpin, serta menciptakan mereka sebagai pewaris." وَقَالَ: ﴿ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا ﴾ [الأعراف: ١٤٣]. لَا يَعْنِي: خَلَقَهُ دَكًّا. Dan firman-Nya: "Maka ketika Tuhannya menampakkan keagungan-Nya kepada gunung itu, Dia menjadikannya (جَعَلَهُ) hancur luluh." [QS. Al-A'raf: 143]. Bukan bermakna: "Dia menciptakannya hancur luluh. وَمِثْلُهُ فِي الْقُرْآنِ كَثِيرٌ. Dan yang semisalnya sangat banyak di dalam Al-Qur'an. فَهٰذَا وَمَا يَكُونُ عَلَىٰ مِثْلِهِ لَا يَكُونُ عَلَىٰ مَعْنَىٰ: خَلَقَ. Maka ayat ini dan yang sejenis dengannya tidak dapat diartikan sebagai (خَلَقَ) "menciptakan". فَإِذَا قَالَ اللهُ: (جَعَلَ) عَلَىٰ مَعْنَىٰ خَلَقَ، وَقَالَ: (جَعَلَ) عَلَىٰ غَيْرِ مَعْنَىٰ (خَلَقَ)، فَبِأَيِّ حُجَّةٍ قَالَ الْجَهْمِيُّ: جَعَلَ عَلَىٰ مَعْنَىٰ خَلَقَ؟! Jika Allah menggunakan kata (جَعَلَ) ada yang bermakna "menciptakan" dan ada yang BUKAN bermakna "menciptakan", maka atas dasar argumen apa kaum Jahmiyah secara sepihak memaksakan bahwa kata (جَعَلَ) pada Al-Qur'an selalu bermakna "menciptakan"?! Bersambung 👇
ثُمَّ ذَكَرَ (جَعَلَ) مِنَ اللهِ عَلَىٰ مَعْنَىٰ: خَلَقَ، وَ(جَعَلَ) عَلَىٰ غَيْرِ مَعْنَىٰ خَلَقَ، وَالَّذِي قَالَ اللهُ تَعَالَىٰ: (جَعَلَ) عَلَىٰ غَيْرِ مَعْنَىٰ خَلَقَ، لَا يَكُونُ إِلَّا خَلْقًا، وَلَا يَقُومُ إِلَّا مَقَامَ خَلَقَ، لَا يَزُولُ عَنْهُ الْمَعْنَىٰ. Kemudian beliau (Imam Ahmad) menyebutkan bahwa kata (جَعَلَ) dari Allah itu ada yang bermakna (خَلَقَ) "menciptakan", dan ada pula kata (جَعَلَ) yang bukan bermakna "menciptakan". Kata yang Allah Ta'ala maksudkan sebagai (جَعَلَ) dengan makna "menciptakan", maka maknanya pasti merujuk pada penciptaan dan menempati posisi kata (خَلَقَ) tanpa bergeser dari makna tersebut. فَإِذَا قَالَ تَعَالَىٰ: (جَعَلَ) عَلَىٰ غَيْرِ مَعْنَىٰ خَلَقَ لَا يَكُونُ خَلْقًا، وَلَا يَقُومُ مَقَامَ خَلَقَ، وَلَا يَزُولُ عَنْهُ الْمَعْنَىٰ. Sebaliknya, jika Allah Ta'ala menggunakan kata (جَعَلَ) bukan dalam arti "menciptakan", maka kata itu tidak bermakna penciptaan, tidak menempati posisi kata (خَلَقَ), dan tidak bergeser dari maknanya yang sebenarnya. فَمِمَّا قَالَ اللهُ جلَّ وعَزَّ: (جَعَلَ) عَلَىٰ مَعْنَىٰ: (خَلَقَ): Di antara contoh kata (جَعَلَ) dari Allah yang bermakna (خَلَقَ) "Menciptakan": قَوْلُهُ: ﴿ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ﴾ [الأنعام: ١]؛ يَعْنِي: وَخَلَقَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ. Firman-Nya: "Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan (وَجَعَلَ) gelap dan terang." [QS. Al-An'am: 1]; maksudnya: Dan menciptakan gelap dan terang. وَقَالَ: ﴿ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ ﴾ [النحل: ٧٨]، يَقُولُ: وَخَلَقَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ. Firman-Nya: "Dan Dia menjadikan (وَجَعَلَ) bagi kamu pendengaran dan penglihatan." [QS. An-Nahl: 78]; maksudnya: Dia menciptakan untuk kalian pendengaran dan penglihatan. وَقَالَ: ﴿ وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ ﴾ [الإسراء: ١٢]، يَقُولُ: وَخَلَقْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ. Firman-Nya: "Dan Kami menjadikan (جَعَلْنَا) malam dan siang sebagai dua tanda (kekuasaan Kami)." [QS. Al-Isra: 12]; maksudnya: Dan Kami menciptakan malam dan siang sebagai dua tanda. وَقَالَ: ﴿ وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا ﴾ [نوح: ١٦]. Firman-Nya: "Dan Dia menjadikan (وَجَعَلَ) matahari sebagai pelita." [QS. Nuh: 16]. وَقَالَ: ﴿ هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا ﴾ [الأعراف: ١٨٩]. يَقُولُ: وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا، يَقُولُ: خَلَقَ مِنْ آدَمَ حَوَّاءَ. Firman-Nya: "Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan darinya Dia menjadikan (وَجَعَلَ) pasangannya." [QS. Al-A'raf: 189]. Maksudnya: Dan menciptakan darinya pasangannya, yaitu menciptakan Hawa dari Adam. قَالَ: ﴿ وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ ﴾ [النمل: ٦١]. يَقُولُ: وَخَلَقَ لَهَا رَوَاسِيَ. Firman-Nya: "Dan Dia menjadikan (وَجَعَلَ) di atas bumi itu gunung-gunung yang kokoh." [QS. An-Naml: 61]; maksudnya: Dan menciptakan baginya gunung-gunung yang kokoh. وَمِثْلُهُ فِي الْقُرْآنِ كَثِيرٌ. فَهٰذَا وَمَا كَانَ عَلَىٰ مِثْلِهِ لَا يَكُونُ إِلَّا عَلَىٰ مَعْنَىٰ: خَلَقَ. Dan contoh seperti ini sangat banyak di dalam Al-Qur'an. Maka ayat ini dan yang sejenis dengannya tidak lain maknanya adalah (خَلَقَ) "menciptakan". ثُمَّ ذَكَرَ (جَعَلَ) عَلَىٰ مَعْنَىٰ غَيْرِ (خَلَقَ)؛ قَوْلُهُ: ﴿ مَا جَعَلَ اللَّهُ مِن بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ ﴾ [المائدة: ١٠٣]، لَا يَعْنِي: مَا خَلَقَ اللهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ. Kemudian beliau menyebutkan kata (جَعَلَ) yang bukan bermakna "menciptakan", yaitu seperti firman-Nya: "Allah tidak pernah menjadikan (مَا جَعَلَ اللَّهُ - mensyariatkan/menetapkan) adanya Bahirah, Sa'ibah..." [QS. Al-Ma'idah: 103]. Maksud ayat ini bukanlah: "Allah tidak pernah menciptakan Bahirah dan Sa'ibah (unta-unta yang dikeramatkan tradisi jahiliyah)", melainkan Allah tidak pernah menetapkan/mensyariatkan aturan tersebut. Bersambung 👇
Bagian 25: Salah Memahami Mengenai Makna Kata " جَعَلَ" (Menciptakan vs Menjadikan/Menamai) ٢٥ - قَالَ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ: فَمِمَّا يُسْأَلُ عَنْهُ الْجَهْمِيُّ يُقَالُ لَهُ: تَجِدُ فِي كِتَابِ اللهِ آيَةً تُخْبِرُ عَنِ الْقُرْآنِ أَنَّهُ مَخْلُوقٌ؟! 25. Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Di antara hal yang ditanyakan kepada seorang Jahmiyah, dikatakan kepadanya: "Apakah kamu menemukan satu ayat pun di dalam Kitabullah (Al-Qur'an) yang mengabarkan bahwa Al-Qur'an itu adalah makhluk?!" فَلَا يَجِدُ. Maka dia tidak akan menemukan. فَيُقَالُ لَهُ: فَتَجِدُهُ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ الْقُرْآنَ مَخْلُوقٌ. Lalu dikatakan lagi kepadanya: "Apakah engkau menemukannya dalam Sunnah Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda: 'Sesungguhnya Al-Qur'an itu makhluk'?" فَلَا يَجِدُ. Maka dia pun tidak akan menemukan. فَيُقَالُ لَهُ: فَلِمَ قُلْتَ؟ Lalu ditanyakan kepadanya: "Lantas atas dasar apa kamu berpendapat begitu?" فَسَيَقُولُ: مِنْ قَوْلِ اللهِ تَعَالَىٰ: ﴿ إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا ﴾ [الزخرف: ٣]. Maka dia akan menjawab: Dari firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Kami menjadikannya (جَعَلْنَاهُ) Al-Qur'an dalam bahasa Arab." [QS. Az-Zukhruf: 3]. وَزَعَمَ أَنَّ: (جَعَلَ)، بِمَعْنَىٰ: (خَلَقَ)، فَكُلُّ مَجْعُولٍ هُوَ مَخْلُوقٌ، فَادَّعَىٰ كَلِمَةً مِنَ الْكَلَامِ الْمُتَشَابِهِيَحْتَجُّ بِهَا مَنْ أَرَادَ أَنْ يُلْحِدَ فِي تَنْزِيلِهَا، وَيَبْتَغِيَ الْفِتْنَةَ فِي تَأْوِيلِهَا، Dan dia menyatakan bahwa kata (جَعَلَ) di sini bermakna (خَلَقَ) "menciptakan", sehingga setiap yang مَجْعُولٍ (yang dijadikan) berarti مَخْلُوقٌ (yang diciptakan). Dengan begitu, dia menggunakan satu kata dari Kalam Mutasyabih (ayat yang samar) sebagai argumen, yang biasa dipakai oleh orang yang ingin menyimpang dari maksud diturunkannya ayat tersebut dan mencari-cari fitnah dalam menakwilkannya. Makna جَعَلَ Dalam Al Qur'an وَذٰلِكِ أَنَّ: (جَعَلَ)، فِي الْقُرْآنِ مِنَ الْمَخْلُوقِينِ عَلَىٰ وَجْهَيْنِ: Padahal kata (جَعَلَ) dalam Al-Qur'an jika dikaitkan dengan perbuatan makhluk itu terbagi menjadi dua makna: أ - عَلَىٰ مَعْنَىٰ: التَّسْمِيَةِ. ب - وَعَلَىٰ مَعْنَىٰ: فِعْلٍ مِنْ أَفْعَالِهِمْ. a. Bermakna: Penamaan (At-Tasmiyah). b. Bermakna: Suatu perbuatan/tindakan nyata dari perbuatan-perbuatan para makhluk. قَوْلُهُ تَعَالَىٰ: ﴿ الَّذِينَ جَعَلُوا الْقُرْآنَ عِضِينَ ﴾ [الحجر: ٩١]. (Contoh makna penamaan (At-Tasmiyah)), firman-Nya Ta’ala: "Yaitu orang-orang yang menjadikan (جَعَلُوا) Al-Qur'an itu terbagi-bagi." [QS. Al-Hijr: 91]. قَالُوا: هُوَ شِعْرٌ، وَأَنْبَاءُ الْأَوَّلِينَ، وَأَضْغَاثُ أَحْلَامٍ، فَهٰذَا عَلَىٰ مَعْنَىٰ: التَّسْمِيَةِ. Maksudnya: Mereka menamai/menyebut Al-Qur'an sebagai puisi/syair, dongeng orang-orang dahulu, atau mimpi-mimpi yang kosong. Maka penggunaan di sini bermakna penamaan. وَقَالَ: ﴿ وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَٰنِ إِنَاثًا ﴾ [الزخرف: ١٩]؛ يَعْنِي: أَنَّهُمْ سَمَّوْهُمْ إِنَاثًا. Dan Dia berfirman-Nya: "Dan mereka menjadikan (وَجَعَلُوا) malaikat-malaikat yang hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih itu sebagai jenis kelamin perempuan." [QS. Az-Zukhruf: 19]; maksudnya: Mereka menamai/menganggap para malaikat itu sebagai perempuan. ثُمَّ ذَكَرَ: (جَعَلَ) عَلَىٰ غَيْرِ مَعْنَىٰ التَّسْمِيَةِ، فَقَالَ: ﴿ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِم ﴾ [البقرة: ١٩]، فَهٰذَا عَلَىٰ مَعْنَىٰ: فِعْلٍ مِنْ أَفْعَالِهِمْ. Kemudian Dia menyebutkan kata (جَعَلَ) yang bukan bermakna penamaan, seperti firman-Nya: "Mereka menyumbat (يَجْعَلُونَ - menjadikan) jari-jarinya ke dalam telinganya." [QS. Al-Baqarah: 19], maka ini bermakna tindakan/perbuatan nyata dari mereka. وَقَالَ: ﴿ حَتَّىٰ إِذَا جَعَلَهُ نَارًا ﴾ [الكهف: ٩٦]، هٰذَا عَلَىٰ مَعْنَىٰ: فِعْلٍ، هٰذَا جَعْلُ الْمَخْلُوقِينَ. Dan firman-Nya: "Hingga apabila dia telah menjadikannya (جَعَلَهُ) api." [QS. Al-Kahfi: 96], ini juga bermakna perbuatan/tindakan. Inilah penggunaan kata جَعْلُ (menjadikan) pada perbuatan para makhluk. Bersambung 👇
فَقُلْنَا: إِنَّ الشَّيْءَ الَّذِي لَا كَالْأَشْيَاءِ قَدْ عَرَفَ أَهْلُ الْعَقْلِ، أَنَّهُ لَا شَيْءٌ. Maka kami katakan: "Sesungguhnya 'sesuatu yang tidak seperti sesuatu apapun' itu telah diketahui oleh orang-orang yang berakal bahwasanya itu adalah 'tidak ada'." فَعِنْدَ ذَلِكَ، تَبَيَّنَ لِلنَّاسِ أَنَّهُمْ لَا يُثْبِتُونَ شَيْئًا؛ وَلَكِنَّهُمْ يَدْفَعُونَ عَنْ أَنْفُسِهِمُ الشُّنْعَةَ بِمَا يُقِرُّونَ مِنَ الْعَلَانِيَةِ. Maka pada saat itulah menjadi jelas bagi orang-orang bahwa mereka (kaum Jahmiyyah) pada hakikatnya tidak menetapkan keberadaan sesuatu pun (menolak keberadaan Allah); akan tetapi mereka hanya berusaha menepis keburukan dari diri mereka dengan apa yang mereka akui secara terang-terangan. فَإِذَا قِيلَ لَهُمْ: مَنْ تَعْبُدُونَ؟ Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Siapa yang kalian sembah?" قَالُوا: نَعْبُدُ مَنْ يُدَبِّرُ أَمْرَ هَذَا الْخَلْقِ. Mereka menjawab: "Kami menyembah Zat yang mengatur urusan ciptaan ini." فَقُلْنَا: فَهَذَا الَّذِي يُدَبِّرُ أَمْرَ هَذَا الْخَلْقِ هُوَ مَجْهُولٌ لَا يُعْرَفُ بِصِفَةٍ. Maka kami katakan: "Maka Pengatur urusan ciptaan ini yang kalian maksud adalah sesuatu yang tidak dikenal (majhul), yang tidak diketahui dengan sifat apa pun." قَالُوا: نَعَمْ. Mereka menjawab: "Ya." قُلْنَا: قَدْ عَرَفَ الْمُسْلِمُونَ أَنَّكُمْ لَا تُثْبِتُونَ شَيْئًا، وَإِنَّمَا تَدْفَعُونَ عَنْ أَنْفُسِكُمُ الشُّنْعَةَ بِمَا تُظْهِرُونَهُ. Kami katakan: "Kaum muslimin telah mengetahui bahwa kalian sebenarnya tidak menetapkan keberadaan sesuatu pun (meniadakan Allah), dan kalian hanyalah menepis keburukan dari diri kalian dengan apa yang kalian tampakkan." وَقُلْنَا لَهُمْ: هَذَا الَّذِي يُدَبِّرُ هُوَ الَّذِي كَلَّمَ مُوسَى. Dan kami katakan kepada mereka: "Zat Yang Maha Mengatur ini adalah Zat yang telah berbicara kepada Musa." قَالُوا: لَمْ يَتَكَلَّمْ، وَلَا يَتَكَلَّمُ؛ لِأَنَّ الْكَلَامَ لَا يَكُونُ إِلَّا بِجَارِحَةٍ، وَالْجَوَارِحُ عَنِ اللَّهِ مَنْفِيَّةٌ. Mereka menjawab: "Dia tidak pernah berbicara dan tidak akan berbicara; karena perkataan itu tidak terjadi kecuali dengan anggota tubuh (alat bicara), sedangkan anggota tubuh itu dinafikan dari Allah." فَإِذَا سَمِعَ الْجَاهِلُ قَوْلَهُمْ يَظُنُّ أَنَّهُمْ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ تَعْظِيمًا لِلَّهِ سُبْحَانَهُ، وَلَا يَشْعُرُ أَنَّهُمْ إِنَّمَا يَعُودُ قَوْلُهُمْ إِلَى فِرْيَةٍ فِي اللَّهِ، وَلَا يَعْلَمُ أَنَّهُمْ إِنَّمَا يَعُودُ قَوْلُهُمْ إِلَى ضَلَالَةٍ وَكُفْرٍ. Maka apabila orang bodoh mendengar perkataan mereka, ia akan mengira bahwa mereka adalah orang-orang yang paling mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta'ala, padahal ia tidak menyadari bahwa perkataan mereka itu justru berujung pada kedustaan terhadap Allah, dan ia tidak mengetahui bahwa ucapan mereka itu berujung pada kesesatan dan kekufuran. [Kitab Sunnah, Abu Bakar Al Khallal] ========== t.me/mutiarasunna
فَبَنَى أَصْلَ كَلَامِهِ عَلَى هَؤُلَاءِ الْآيَاتِ، وَتَأَوَّلَ الْقُرْآنَ عَلَى غَيْرِ تَأْوِيلِهِ، وَكَذَّبَ بِأَحَادِيثِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَزَعَمَ أَنَّ مَنْ وَصَفَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا مِمَّا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ، أَوْ حَدَّثَ عَنْهُ رَسُولُهُ كَانَ كَافِرًا، وَكَانَ مِنَ الْمُشَبِّهَةِ. Maka ia membangun landasan pemikirannya di atas ayat-ayat ini, lalu ia mentawilkan Al-Qur'an tidak sesuai dengan makna/penafsiran yang sebenarnya, mendustakan hadits-hadits Rasulullah ﷺ, dan mengklaim bahwa siapa saja yang menyifati Allah dengan sesuatu dari apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya sendiri dalam kitab-Nya, atau yang diriwayatkan oleh Rasul-Nya, maka ia telah kafir dan termasuk kelompok Musyabbihah (penyerupa Allah dengan makhluk). فَأَضَلَّ بِكَلَامِهِ بَشَرًا كَثِيرًا، وَتَبِعَهُ عَلَى قَوْلِهِ رِجَالٌ مِنْ أَصْحَابِ أَبِي حَنِيفَةَ، وَأَصْحَابُ عَمْرِو بْنِ عُبَيْدٍ بِالْبَصْرَةِ، وَوَضَعَ دِينَ الْجَهْمِيَّةِ. Maka ia menyesatkan banyak orang dengan pemikirannya tersebut, dan beberapa orang dari pengikut Abu Hanifah serta pengikut 'Amr bin 'Ubaid di Bashrah mengikutinya, hingga akhirnya ia meletakkan dasar paham Jahmiyyah. فَإِذَا سَأَلَهُمُ النَّاسُ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ ﷻ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾، وَمَا تَفْسِيرُهُ؟ Maka apabila orang-orang bertanya kepada mereka tentang firman Allah ﷻ: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia”, dan apa tafsirnya? يَقُولُونَ: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ مِنَ الْأَشْيَاءِ، وَهُوَ تَحْتَ الْأَرَضِينَ السَّبْعِ، كَمَا هُوَ عَلَى الْعَرْشِ، لَا يَخْلُو مِنْهُ مَكَانٌ، وَلَا يَكُونُ فِي مَكَانٍ دُونَ مَكَانٍ، Mereka menjawab: "Tidak ada sesuatu pun dari segala hal yang serupa dengan-Nya, dan Dia berada di bawah bumi yang tujuh sebagaimana Dia berada di atas 'Arsy, tidak ada satu tempat pun yang kosong dari-Nya, dan Dia tidak berada di suatu tempat tanpa tempat yang lain," وَلَمْ يَتَكَلَّمْ، وَلَا يَتَكَلَّمُ، وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِ أَحَدٌ فِي الدُّنْيَا، وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِ أَحَدٌ فِي الْآخِرَةِ، وَلَا يُوصَفُ، وَلَا يُعْرَفُ بِصِفَةٍ، وَلَا بِفِعْلٍ، وَلَا لَهُ غَايَةٌ، وَلَا لَهُ مُنْتَهًى، "(Dia) tidak pernah berbicara dan tidak akan berbicara, tidak ada seorang pun yang melihat-Nya di dunia dan tidak ada seorang pun yang melihat-Nya di akhirat, Dia tidak disifati dan tidak dikenal dengan suatu sifat ataupun perbuatan, Dia tidak memiliki batas akhir dan tidak memiliki kesudahan," وَلَا يُدْرَكُ بِعَقْلٍ، وَهُوَ وَجْهٌ كُلُّهُ، وَهُوَ عِلْمٌ كُلُّهُ، وَهُوَ سَمْعٌ كُلُّهُ، وَهُوَ بَصَرٌ كُلُّهُ، وَهُوَ نُورٌ كُلُّهُ، وَهُوَ قُدْرَةٌ كُلُّهُ، "dan tidak dapat dijangkau oleh akal. Dia adalah wajah secara keseluruhan, Dia adalah ilmu secara keseluruhan, Dia adalah pendengaran secara keseluruhan, Dia adalah penglihatan secara keseluruhan, Dia adalah cahaya secara keseluruhan, dan Dia adalah kekuasaan secara keseluruhan," وَلَا يَكُونُ شَيْئَيْنِ مُخْتَلِفَيْنِ، وَلَا يُوصَفُ بِوَصْفَيْنِ مُخْتَلِفَيْنِ، وَلَيْسَ لَهُ أَعْلَى وَلَا أَسْفَلُ، وَلَا نَوَاحِي وَلَا جَوَانِبُ، وَلَا يَمِينٌ وَلَا شِمَالٌ، "dan Dia tidak terbagi menjadi dua hal yang berbeda, tidak disifati dengan dua sifat yang berlainan, Dia tidak memiliki bagian atas maupun bawah, tidak memiliki penjuru maupun sisi, serta tidak memiliki kanan maupun kiri," وَلَا هُوَ ثَقِيلٌ وَلَا خَفِيفٌ، وَلَا لَهُ لَوْنٌ وَلَا لَهُ جِسْمٌ، وَلَيْسَ هُوَ بِمَعْلُومٍ وَلَا مَعْقُولٍ، وَكُلُّ مَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِكَ أَنَّهُ شَيْءٌ تَعْرِفُهُ فَهُوَ عَلَى خِلَافِهِ. "Dia tidak berat dan tidak ringan, tidak memiliki warna dan tidak memiliki tubuh (jasad), Dia tidak dapat diketahui dan tidak dapat dicerna oleh akal, dan segala sesuatu yang terlintas dalam hatimu tentang sesuatu yang dapat engkau kenali, maka Allah adalah kebalikan dari hal itu." Bantahan Imam Ahmad قَالَ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللَّهُ: فَقُلْنَا: فَهُوَ شَيْءٌ؟ Ahmad rahimahullah berkata: Maka kami katakan : "Lalu apakah Dia (Allah) itu sesuatu (ada)?" فَقَالُوا: هُوَ شَيْءٌ لَا كَالْأَشْيَاءِ. Mereka menjawab: "Dia adalah sesuatu yang tidak seperti sesuatu (lainnya)." Bersambung 👇
ثُمَّ إِنَّهُ اسْتَدْرَكَ حُجَّةً مِثْلَ حُجَّةِ زَنَادِقَةِ النَّصَارَى؛ وَذَلِكَ أَنَّ زَنَادِقَةَ النَّصَارَى يَزْعُمُونَ أَنَّ الرُّوحَ الَّتِي هِيَ فِي عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ؑ هِيَ رُوحُ اللَّهِ مِنْ ذَاتِ اللَّهِ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُحْدِثَ أَمْرًا دَخَلَ فِي بَعْضِ خَلْقِهِ فَتَكَلَّمَ عَلَى لِسَانِ خَلْقِهِ، فَيَأْمُرُ بِمَا يَشَاءُ وَيَنْهَى عَمَّا يَشَاءُ، وَهُوَ رُوحٌ غَائِبٌ عَنِ الْأَبْصَارِ. Kemudian ia menemukan argumen seperti argumen orang-orang zindiq dari kalangan Nasrani. Hal itu karena orang-orang zindiq Nasrani menyatakan bahwa ruh yang ada pada Isa putra Maryam ؑ adalah ruh Allah yang berasal dari Zat Allah. Maka apabila Dia hendak mewujudkan suatu perkara, Dia masuk ke dalam sebagian makhluk-Nya lalu berbicara melalui lisan makhluk-Nya, maka Dia memerintahkan apa yang Dia kehendaki dan melarang apa yang Dia kehendaki, sedangkan Dia adalah ruh yang gaib dari pandangan mata. فَاسْتَدْرَكَ الْجَهْمُ حُجَّةً مِثْلَ هَذِهِ الْحُجَّةِ، فَقَالَ لِلسُّمَنِيِّ: Maka Jahm menyusun argumen yang serupa dengan argumen ini, lalu ia berkata kepada orang Sumani (pengikut paham Sumaniyyah) tersebut: أَلَسْتَ تَزْعُمُ أَنَّ فِيكَ رُوحًا؟ "Bukankah engkau mengklaim bahwa di dalam dirimu ada ruh?" قَالَ: نَعَمْ. Orang Sumani menjawab: "Ya." فَقَالَ: فَهَلْ رَأَيْتَ رُوحَكَ؟ Jahm bertanya: "Lalu apakah engkau pernah melihat ruhmu?" قَالَ: لَا. Orang Sumani menjawab: "Tidak." قَالَ: فَهَلْ سَمِعْتَ كَلَامَهُ؟ Jahm bertanya: "Lalu apakah engkau pernah mendengar suaranya?" قَالَ: لَا. Orang Sumani menjawab: "Tidak." قَالَ: فَوَجَدْتَ لَهُ حِسًّا أَوْ مَجَسًّا؟ Jahm bertanya: "Lalu apakah engkau pernah merasakan keberadaannya secara fisik atau menyentuhnya?" قَالَ: لَا. Orang Sumani menjawab: "Tidak." قَالَ: فَكَذَلِكَ اللَّهُ لَا يُرَى لَهُ وَجْهٌ، وَلَا يُسْمَعُ لَهُ صَوْتٌ، وَلَا يُشَمُّ لَهُ رَائِحَةٌ، وَهُوَ غَائِبٌ عَنِ الْأَبْصَارِ، وَلَا يَكُونُ فِي مَكَانٍ دُونَ مَكَانٍ. Jahm berkata: "Demikian pulalah Allah; tidak terlihat wajah-Nya, tidak terdengar suara-Nya, tidak tercium bau-Nya, Dia tidak terlihat oleh pandangan mata, dan Dia tidak berada di suatu tempat tanpa tempat yang lain (berada di mana-mana)." وَوَجَدَ ثَلَاثَ آيَاتٍ فِي الْقُرْآنِ مِنَ الْمُتَشَابِهِ: Dan ia menemukan tiga ayat di dalam Al-Qur'an dari kalangan ayat mutasyabihat: قَوْلَهُ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾ [الشورى: ١١]. Firman-Nya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” (QS. Asy-Syura: 11). وَقَوْلَهُ: ﴿وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ﴾ [الأنعام: ٣]. Dan firman-Nya: “Dan Dialah Allah (yang disembah) di langit maupun di bumi.” (QS. Al-An'am: 3). وَقَوْلَهُ: ﴿لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ﴾ [الأنعام: ١٠٣]. Dan firman-Nya: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Mahalembut lagi Mahamengetahui.” (QS. Al-An'am: 103) Bersambung 👇
Bagian 24 : Tentang Jahm Bin Shafwan Dan Asal Kesesatannya ٢٤ – قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللَّهُ: 24 – Imam Ahmad rahimahullah berkata: وَكَانَ الْجَهْمُ وَشِيعَتُهُ كَذَلِكَ، دَعَوُا النَّاسَ إِلَى الْمُتَشَابِهِ مِنَ الْقُرْآنِ وَالْحَدِيثِ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا بِكَلَامِهِمْ بَشَرًا كَثِيرًا. Dan Jahm (bin Safwan) serta pengikutnya adalah demikian; mereka mengajak manusia kepada ayat-ayat dan hadits-hadits yang mutasyabih (samar/butuh pemahaman mendalam), lalu mereka tersesat dan menyesatkan banyak orang dengan perkataan mereka. فَكَانَ مِمَّا بَلَغَنَا مِنْ أَمْرِ الْجَهْمِ عَدُوِّ اللَّهِ: أَنَّهُ كَانَ مِنْ أَهْلِ خُرَاسَانَ، مِنْ أَهْلِ التِّرْمِذِ، وَكَانَ صَاحِبَ خُصُومَاتٍ وَكَلَامٍ، وَكَانَ أَكْثَرُ كَلَامِهِ فِي اللَّهِ تَعَالَى، Di antara perkara yang sampai kepada kami tentang Jahm musuh Allah: bahwasanya ia berasal dari Khurasan, dari penduduk Tirmid. Ia adalah seorang yang suka berdebat dan bertengkar (ilmu kalam), dan sebagian besar pembicaraannya adalah mengenai Allah Ta'ala. فَلَقِيَ أُنَاسًا مِنَ الْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهُمُ: السُّمَنِيَّةُ، فَعَرَفُوا الْجَهْمَ، فَقَالُوا لَهُ: نُكَلِّمُكَ، فَإِنْ ظَهَرَتْ حُجَّتُنَا عَلَيْكَ دَخَلْتَ فِي دِينِنَا، وَإِنْ ظَهَرَتْ حُجَّتُكَ عَلَيْنَا دَخَلْنَا فِي دِينِكَ، Lalu ia bertemu dengan sekelompok orang musyrik yang disebut kaum Sumaniyyah, mereka pun mengenali Jahm. Mereka berkata kepadanya: "Kami ingin berdebat denganmu. Jika argumen kami menang atasmu, engkau harus masuk ke dalam agama kami. Namun jika argumenmu menang atas kami, kami akan masuk ke dalam agamamu." فَكَانَ مِمَّا كَلَّمُوا بِهِ الْجَهْمَ أَنْ قَالُوا لَهُ: أَلَسْتَ تَزْعُمُ أَنَّ لَكَ إِلَهًا؟ Maka di antara perkataan yang mereka sampaikan kepada Jahm adalah perkataan mereka: "Bukankah engkau menyatakan bahwa engkau memiliki Tuhan?" قَالَ الْجَهْمُ: نَعَمْ. Jahm menjawab: "Ya." فَقَالُوا لَهُ: فَهَلْ رَأَيْتَ إِلَهَكَ؟ Mereka bertanya lagi kepadanya: "Lalu, apakah engkau pernah melihat Tuhanmu?" قَالَ: لَا. Jahm menjawab: "Tidak." قَالُوا: فَهَلْ سَمِعْتَ كَلَامَهُ؟ Mereka bertanya: "Lalu apakah engkau pernah mendengar suara/perkataan-Nya?" قَالَ: لَا. Ia menjawab: "Tidak." قَالُوا: فَشَمَمْتَ لَهُ رَائِحَةً؟ Mereka bertanya: "Lalu apakah engkau pernah mencium bau-Nya?" قَالَ: لَا. Ia menjawab: "Tidak." قَالُوا: فَوَجَدْتَ لَهُ حِسًّا؟ Mereka bertanya: "Lalu apakah engkau pernah merasakan keberadaan-Nya secara fisik?" قَالَ: لَا. Ia menjawab: "Tidak." قَالُوا: فَوَجَدْتَ لَهُ مَجَسًّا؟ Mereka bertanya: "Lalu apakah engkau pernah menyentuh-Nya?" قَالَ: لَا. Ia menjawab: "Tidak." قَالُوا: فَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهُ إِلَهٌ؟ Mereka bertanya: "Lalu apa yang membuatmu tahu bahwa Dia adalah Tuhan?" قَالَ: فَتَحَيَّرَ الْجَهْمُ فَلَمْ يَدْرِ مَنْ يَعْبُدُ أَرْبَعِينَ يَوْمًا. Perawi berkata: "Maka Jahm pun kebingungan hingga ia tidak tahu siapa yang ia sembah selama empat puluh hari." Bersambung 👇
TIDAK ADA PERTENTANGAN/KONTRADIKSI DALAM AL QURAN =========== Allah Ta'ala berfirman: أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُوا۟ فِيهِ ٱخْتِلَٰفًا كَثِيرًا "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya." [ QS. An Nisa : 82] قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبَّاسٍ: ﴿وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا﴾، أَيْ: تَفَاوُتًا وَتَنَاقُضًا كَثِيرًا. Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata mengenai firman-Nya: {Sekiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya} [QS. An-Nisa': 82], yaitu: ketidaksesuaian (ketimpangan) dan kontradiksi yang banyak. قَالَ مُقَاتِلُ بْنُ سُلَيْمَانَ: فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ ﴿وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا﴾، يَعْنِي: كَذِبًا كَبِيرًا؛ لِأَنَّ الِاخْتِلَافَ فِي قَوْلِ النَّاسِ، وَقَوْلُ اللهِ - عَزَّ وَجَلَّ - لَا اخْتِلَافَ فِيهِ. Muqatil bin Sulaiman berkata: "Maka mereka mengetahui bahwasanya {Sekiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya}, Maksudnya: kebohongan yang besar. Hal itu karena pertentangan (ketidakselarasan) terjadi pada perkataan manusia, sedangkan firman Allah 'Azza wa Jalla tidak ada pertentangan sama sekali di dalamnya." الْمُنْكَدِرِ يَقُولُ، وَقَرَأَ: ﴿وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا﴾، فَقَالَ: إِنَّمَا يَأْتِي الِاخْتِلَافُ مِنْ قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَأَمَّا مَا جَاءَ مِنْ عِنْدِ اللهِ فَلَيْسَ فِيهِ اخْتِلَافٌ. Al Munkadir berkata, dan ia membaca ayat: {Sekiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya}, lalu ia berkata: "Sesungguhnya pertentangan (perselisihan) itu hanya timbul dari hati para hamba. Adapun apa yang datang dari sisi Allah, maka tidak ada pertentangan sedikit pun di dalamnya." عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ - مِنْ طَرِيقِ ابْنِ وَهْبٍ - قَالَ: إِنَّ الْقُرْآنَ لَا يُكَذِّبُ بَعْضُهُ بَعْضًا، وَلَا يَنْقُضُ بَعْضُهُ بَعْضًا، مَا جَهِلَ النَّاسُ مِنْ أَمْرٍ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ تَقْصِيرِ عُقُولِهِمْ وَجَهَالَتِهِمْ. وَقَرَأَ: ﴿وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا﴾. قَالَ: فَحَقٌّ عَلَى الْمُؤْمِنِ أَنْ يَقُولَ: كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللهِ. وَيُؤْمِنَ بِالْمُتَشَابِهِ، وَلَا يَضْرِبَ بَعْضَهُ بِبَعْضٍ، إِذَا جَهِلَ أَمْرًا وَلَمْ يَعْرِفْهُ أَنْ يَقُولَ: الَّذِي قَالَ اللهُ حَقٌّ. وَيَعْرِفَ أَنَّ اللهَ لَمْ يَقُلْ قَوْلًا وَيَنْقُضَهُ، يَنْبَغِي أَنْ يُؤْمِنَ بِحَقِيقَةِ مَا جَاءَ مِنَ اللهِ. Dari Abdul Rahman bin Zaid bin Aslam—melalui jalur Ibn Wahb—ia berkata: "Sesungguhnya Al-Qur'an itu tidak saling mendustakan antara satu bagian dengan bagian lainnya, dan tidak pula saling membatalkan/menentang satu bagian dengan bagian lainnya. Adapun perkara yang tidak diketahui (tidak dipahami) oleh manusia, hal itu hanyalah bersumber dari keterbatasan akal dan kebodohan mereka sendiri." Kemudian ia membaca ayat: {Sekiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya}, lalu ia berkata: "Maka sudah kewajiban bagi seorang mukmin untuk mengatakan: 'Semuanya datang dari sisi Allah', beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat (yang samar/butuh penafsiran mendalam), serta tidak mempertentangkan ayat satu dengan yang lainnya. Jika ia tidak mengetahui atau tidak memahami suatu perkara, hendaknya ia mengatakan: 'Apa yang difirmankan oleh Allah adalah benar'. Dan hendaklah ia menyadari bahwa Allah tidak pernah menyampaikan suatu firman lalu membantahnya sendiri. Sudah sepatutnya seseorang beriman akan kebenaran hakiki apa pun yang datang dari Allah." ========={= t.me/mutiarasunna
Bagian 23 : Penguasaan Imam Ahmad Terhadap Bahasa Arab ٢٣ – قَالَ الْخَلَّالُ: 23 – Al-Khallal berkata: أَخْبَرَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ جَابِرٍ، قَالَ: ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَبِيبٍ، قَالَ: قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ -: كَتَبْتُ مِنَ الْعَرَبِيَّةِ أَكْثَرَ مِمَّا كَتَبَ أَبُو عَمْرٍو الشَّيْبَانِيُّ. Telah mengabarkan kepadaku Ibrahim bin Ja'far bin Jabir, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Habib, ia berkata: Ahmad bin Hanbal berkata: "Aku telah mencatat bahasa Arab lebih banyak daripada apa yang dicatat oleh Abu 'Amr Asy-Syaibani." [Kitab Sunnah, Abu Bakar Al Khallal] ============ Abu 'Amr Asy-Syaibani (110-206 H) adalah seorang ahlu hadits yang tsiqah dan ahli bahasa, beliau merupakan salah satu guru dari Imam Ahmad
Bagian 22 : Mengenai Kalimat "Kami" dan "Aku" Dalam Firman Allah ============ ٢٢ – وَأَمَّا قَوْلُهُ لِمُوسَى: ﴿إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى﴾ [طه: ٤٦]. Dan adapun firman-Nya kepada Musa: “Sungguh, Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thaha: 46). وَقَالَ فِي آيَةٍ أُخْرَى: ﴿إِنَّا مَعَكُمْ مُسْتَمِعُونَ﴾ [الشعراء: ١٥]. Dan Dia berfirman dalam ayat yang lain: “Sungguh, Kami bersamamu mendengarkan.” (QS. Asy-Syu'ara: 15). Syubhat Kaum Zindik : وَقَالُوا: كَيْفَ قَالَ: ﴿إِنَّنِي مَعَكُمَا﴾ [طه: ٤٦]. Dan mereka (kaum zindik) berkata: Bagaimana bisa Dia berfirman: “Sungguh, Aku bersama kamu berdua”. (Menggunakan bentuk tunggal) وَقَالَ فِي آيَةٍ أُخْرَى: ﴿إِنَّا مَعَكُمْ مُسْتَمِعُونَ﴾ [الشعراء: ١٥]. Dan berfirman dalam ayat lainnya: “Sungguh, Kami bersamamu mendengarkan” (menggunakan bentuk jamak). فَشَكُّوا فِي الْقُرْآنِ مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ. Maka mereka meragukan Al-Qur'an disebabkan hal tersebut. Bantahan Imam Ahmad : أَمَّا قَوْلُهُ: ﴿إِنَّا مَعَكُمْ﴾ فَهَذَا فِي مَجَازِ اللُّغَةِ، يَقُولُ الرَّجُلُ... لِلرَّجُلِ: إِنَّا سَنُجْرِي عَلَيْكَ رِزْقًا، إِنَّا سَنَفْعَلُ بِكَ كَذَا خَيْرًا. Adapun firman-Nya: “Sungguh, Kami bersamamu”, maka hal ini termasuk dalam gaya kiasan (majaz), sebagaimana seorang laki-laki berkata kepada seseorang: "Sesungguhnya Kami akan mengalirkan rezeki kepadamu, sesungguhnya Kami akan berbuat demikian padamu berupa kebaikan." وَأَمَّا قَوْلُهُ: ﴿إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى﴾ [طه: ٤٦]، فَهُوَ فِي جَائِزِ اللُّغَةِ، يَقُولُ الرَّجُلُ الْوَاحِدُ لِلرَّجُلِ: سَأُجْرِي عَلَيْكَ رِزْقَكَ، أَوْ سَأَفْعَلُ بِكَ خَيْرًا. Adapun firman-Nya: “Sungguh, Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat” (QS. Thaha: 46), maka hal itu termasuk kebolehan dalam tata bahasa. Seseorang secara pribadi dapat berkata kepada orang lain: "Aku akan memberikan keadamu rezekimu, atau aku akan berbuat kebaikan padamu." [Kitab Sunnah, Abu Bakar Al Khallal]
Bagian 21 : Mengenai Pandangan Orang Kafir أَعْمَى (Buta) dan حَدِيدٌ (Sangat Tajam) Pada Hari Kiamat 21 – وَأَمَّا قَوْلُهُ ﷻ: ﴿وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى * قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا﴾ [طه: 124-125]. Dan adapun firman-Nya ﷻ: “Dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: 'Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?'” (QS. Thaha: 124-125). وَقَالَ فِي الْآيَةِ الْأُخْرَى: ﴿فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ﴾ [ق: 22]. Dan Dia berfirman dalam ayat lainnya: “Maka penglihatanmu pada hari ini amat tajam.” (QS. Qaf: 22). Syubhat Kaum Zindik: فَقَالُوا: كَيْفَ يَكُونُ هَذَا مِنَ الْكَلَامِ الْمُحْكَمِ؟ يَقُولُ: إِنَّهُ أَعْمَى، وَيَقُولُ: ﴿فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ﴾، فَشَكُّوا فِي الْقُرْآنِ. Maka mereka berkata: "Bagaimana bisa ini termasuk perkataan yang jelas? Di satu sisi Dia mengatakan: 'Sesungguhnya ia buta', namun di sisi lain Dia berfirman: 'Maka penglihatanmu pada hari ini amat tajam'"—sehingga mereka meragukan Al-Qur'an. Bantahan Imam Ahmad : أَمَّا قَوْلُهُ: ﴿وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى﴾ [طه]؛ يَعْنِي: عَنْ حُجَّتِهِ، قَالَ: ﴿رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى﴾، عَنْ حُجَّتِي ﴿وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا﴾، لَهَا مُخَاصِمًا بِهَا. Adapun firman-Nya: “Dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”; maksudnya adalah: buta dari hujjahnya (argumentasi/alasan). Dan ucapannya: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta”, maksudnya buta dari hujjahku, “padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat”, yaitu memiliki hujjah dan pandai berdebat dengannya. فَذَلِكَ قَوْلُهُ: ﴿فَعَمِيَتْ عَلَيْهِمُ الْأَنْبَاءُ يَوْمَئِذٍ فَهُمْ لَا يَتَسَاءَلُونَ﴾ [القصص: 66]، يَقُولُ: الْحُجَجُ. Maka hal itu sesuai dengan firman-Nya: “Maka gelaplah bagi mereka segala alasan pada hari itu, karena itu mereka tidak saling bertanya” (QS. Al-Qashash: 66). Maknanya adalah: (gelap/buta dari) hujjah-hujjah (alasan). وَأَمَّا قَوْلُهُ: ﴿فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ﴾، وَذَلِكَ أَنَّ الْكَافِرَ إِذَا خَرَجَ مِنْ قَبْرِهِ شَخَصَ بَصَرُهُ، وَلَا يَطْرِفُ بَصَرُهُ حَتَّى يُعَايِنَ جَمِيعَ مَا كَانَ يُكَذِّبُ بِهِ مِنْ أَمْرِ الْبَعْثِ. Adapun firman-Nya: “Maka penglihatanmu pada hari ini amat tajam”, hal itu dikarenakan orang kafir ketika keluar dari kuburnya, matanya terbelalak dan tidak berkedip sampai ia menyaksikan secara langsung seluruh perkara kebangkitan yang dahulu ia dustakan. فَذَلِكَ قَوْلُهُ: ﴿لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ﴾، يَقُولُ: غِطَاءَ الْآخِرَةِ، ﴿فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ﴾؛ يَحُدُّ النَّظَرَ، لَا يَطْرِفُ حَتَّى يُعَايِنَ جَمِيعَ مَا كَانَ يُكَذِّبُ بِهِ مِنْ أَمْرِ الْبَعْثِ. فَهَذَا تَفْسِيرُ مَا شَكَّتْ فِيهِ الزَّنَادِقَةُ. Maka demikianlah firman-Nya: “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan darimu tutup (yang menghalangi) matamu”, maknanya: penutup akhirat. “Maka penglihatanmu pada hari ini amat tajam”; artinya matanya mempertajam pandangan dan tidak berkedip sampai ia melihat langsung seluruh perkara kebangkitan yang dahulu ia dustakan. Maka inilah penjelasan (tafsir) atas apa yang kaum Zanadiqah meragukannya. [Kitab Sunnah, Abu Bakar Al Khallal]
Bagian 20 : Mengenai Kalimat نَنْسَاكُمْ ( Kami Melupakanmu) Padahal Allah Tidak Pernah Lupa 20 – وَأَمَّا قَوْلُ اللَّهِ لِلْكُفَّارِ: ﴿الْيَوْمَ نَنْسَاكُمْ كَمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا﴾ [الجاثية: 34]. Adapun firman Allah kepada orang-orang kafir: “Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu dahulu melupakan pertemuan dengan harimu ini.” (QS. Al-Jatsiyah: 34). وَقَالَ فِي آيَةٍ أُخْرَى: ﴿فِي كِتَابٍ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى﴾ [طه: 52]. Dan Dia berfirman dalam ayat yang lain: “Di dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh), Tuhanku tidak akan salah dan tidak pula lupa.” (QS. Thaha: 52). Syubhat Kaum Zindik: فَشَكُّوا فِي الْقُرْآنِ. Maka mereka (kaum zindik) meragukan Al-Qur'an (karena menganggap ada pertentangan). Bantahan Imam Ahmad : أَمَّا قَوْلُهُ: ﴿الْيَوْمَ نَنْسَاكُمْ﴾، يَقُولُ: نَتْرُكُكُمْ فِي النَّارِ ﴿كَمَا نَسِيتُمْ﴾، كَمَا تَرَكْتُمُ الْعَمَلَ لِلِقَاءِ يَوْمِكُمْ هَذَا. Adapun firman-Nya: “Pada hari ini Kami melupakan kamu”, maknanya adalah: Kami meninggalkan kamu di dalam neraka, “sebagaimana kamu melupakan”, yaitu sebagaimana kamu meninggalkan amal untuk menghadapi pertemuan harimu ini. وَأَمَّا قَوْلُهُ: ﴿فِي كِتَابٍ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى﴾ [طه: 52]، يَقُولُ: لَا يَذْهَبُ مِنْ حِفْظِهِ وَلَا يَنْسَاهُ. Dan adapun firman-Nya: “Di dalam kitab, Tuhanku tidak akan salah dan tidak pula lupa”, maknanya adalah: Tidak ada yang hilang dari hafalan/pengetahuan-Nya dan Dia tidak melupakannya. [Kitab Sunnah, Abu Bakar Al Khallal]
Bagian 19. Kemampuan Iblis Atas Hamba Allah Dalam Menggoda HambaNya ١٩ - وَأَمَّا قَوْلُهُ جَلَّ ثَنَاؤُهُ لِإِبْلِيسَ: ﴿إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ﴾ [الحجر: ٤٢]. 19 - Dan adapun firman-Nya—Mulia sebutan pujian-Nya—kepada Iblis: "Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa (mempunyai kekuasaan) atas mereka." [QS. Al-Hijr: 42]. وَقَالَ مُوسَى حِينَ قَتَلَ النَّفْسَ: ﴿هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ﴾ [القصص: ١٥]. Sementara Musa berkata ketika membunuh seseorang (dari kaum Fir'aun): "Ini adalah perbuatan setan." [QS. Al-Qashash: 15]. Syubhat Kaum Zindik : فَشَكُّوا فِي الْقُرْآنِ، وَزَعَمُوا أَنَّهُ مُتَنَاقِضٌ. Lalu mereka (kaum Zanadiqah) meragukan Al-Qur'an dan menyatakan bahwa Al-Qur'an itu kontradiktif (saling bertentangan) Bantahan Imam Ahmad : أَمَّا قَوْلُهُ: ﴿إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ﴾ ، يَقُولُ: عِبَادِيَ الَّذِينَ اسْتَخْلَصَهُمُ اللهُ لِدِينِهِ لَيْسَ لِإِبْلِيسَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ أَنْ يُضِلَّهُمْ فِي دِينِهِمْ أَوْ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِمْ، وَلَكِنَّهُ يُصِيبُ مِنْهُمْ مِنْ قِبَلِ الذُّنُوبِ، فَأَمَّا فِي الشِّرْكِ فَلَا يَقْدِرُ إِبْلِيسُ أَنْ يُضِلَّهُمْ عَنْ دِينِهِمْ؛ لِأَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ اسْتَخْلَصَهُمْ لِدِينِهِ. Adapun firman-Nya: "Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka", Dia bermaksud : Hamba-hamba-Ku yang telah Allah pilih secara khusus untuk agama-Nya, tidak ada kemampuan bagi Iblis untuk menguasai mereka dalam bentuk menyesatkan mereka dari agama mereka atau dari menyembah Tuhan mereka. Akan tetapi, Iblis (hanya) bisa mempengaruhi mereka lewat celah dosa-dosa (selain kesyirikan). Sedangkan untuk menyeret ke dalam syirik, Iblis tidak akan mampu menyesatkan mereka dari agamanya; karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memilih mereka secara murni untuk agama-Nya. وَأَمَّا قَوْلُ مُوسَى: ﴿هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ﴾ ؛ يَعْنِي: مِنْ تَزْيِينِ الشَّيْطَانِ، كَمَا زَيَّنَ لِيُوسُفَ وَلِآدَمَ وَحَوَّاءَ، وَهُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ الْمُخْلَصُونَ. فَهَذَا تَفْسِيرُ مَا شَكَّتْ فِيهِ الزَّنَادِقَةُ. Adapun perkataan Musa: "Ini adalah perbuatan setan"; maknanya adalah: Termasuk bagian dari bujuk rayu/godaan setan, sebagaimana setan menggoda Yusuf, serta Adam dan Hawa, padahal mereka semua adalah hamba-hamba Ar-Rahman yang dipilih secara murni. Maka inilah penjelasan (tafsir) atas apa yang kaum Zanadiqah meragukannya. [Kitab Sunnah, Abu Bakar Al Khallal]
فَلَمَّا كَثُرَ الْمُهَاجِرُونَ رَدَّ اللهُ الْمِيرَاثَ عَلَى الْأَوْلِيَاءِ هَاجَرُوا أَوْ لَمْ يُهَاجِرُوا، فَذَلِكَ قَوْلُهُ: ﴿وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ﴾ [الأحزاب: ٦]. Kemudian ketika jumlah kaum Muhajirin telah banyak, Allah mengembalikan hukum waris-mewarisi kepada hubungan kekerabatan, baik mereka ikut berhijrah maupun tidak berhijrah. Maka dari itulah firman-Nya: 'Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (dalam hal waris) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin.' [QS. Al-Ahzab: 6]. وَأَمَّا قَوْلُهُ: ﴿وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ﴾ ؛ يَعْنِي: فِي الدِّينِ، وَالْمُؤْمِنُ يَتَوَلَّى الْمُؤْمِنَ فِي دِينِهِ. فَهَذَا تَفْسِيرُ مَا شَكَّتْ فِيهِ الزَّنَادِقَةُ. Dan adapun firman-Nya: 'Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong (أَوْلِيَاءُ) bagi sebagian yang lain' [QS. At-Tawbah: 71]; maknanya adalah: Dalam hal agama, di mana orang mukmin loyal dan mendukung orang mukmin lainnya dalam urusan agamanya. Maka inilah penjelasan atas apa yang kaum Zanadiqah meragukannya. [Kitab Sunnah, Abu Bakar Al Khallal]
Bagian 18. Mengenai Makna kalimat Awliya (أَوْلِيَاءُ) dan walayah (ولاية) ١٨ - وَأَمَّا قَوْلُهُ: ﴿وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ﴾ [التوبة: ٧١]. 18 - Adapun firman-Nya: "Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain." [QS. At-Tawbah: 71]. وَقَالَ فِي آيَةٍ أُخْرَى: ﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّى يُهَاجِرُوا﴾ [الأنفال: ٧٢]. Dan Dia berfirman di ayat yang lain: "Dan terhadap orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah." [QS. Al-Anfal: 72] . Syubhat kaum zindik : فَكَانَ هَذَا عِنْدَ مَنْ لَا يَعْرِفُ مَعْنَاهُ يَنْقُضُ بَعْضُهُ بَعْضًا. Ayat ini, bagi orang yang tidak mengetahui maknanya, dianggap saling bertolak belakang satu sama lain. Bantahan Imam Ahmad : أَمَّا قَوْلُهُ: ﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ﴾؛ يَعْنِي: مِنَ الْمِيرَاثِ، Adapun firman-Nya: "Dan terhadap orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi (ولاية) mereka"; maknanya adalah: Dalam hal waris-mewarisi. وَذَلِكَ أَنَّ اللهَ ﷻ حَكَمَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ لَمَّا هَاجَرُوا إِلَى الْمَدِينَةِ أَنْ لَا يَتَوَارَثُوا إِلَّا بِالْهِجْرَةِ، فَإِنْ مَاتَ رَجُلٌ بِالْمَدِينَةِ مُهَاجِرٌ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، وَلَهُ أَوْلِيَاءُ بِمَكَّةَ لَمْ يُهَاجِرُوا كَانُوا لَا يَتَوَارَثُونَ، وَكَذَلِكَ إِنْ مَاتَ رَجُلٌ بِمَكَّةَ وَلَهُ وَلِيٌّ مُهَاجِرٌ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ كَانَ لَا يَرِثُهُ الْمُهَاجِرُ؛ فَذَلِكَ قَوْلُهُ: ﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّى يُهَاجِرُوا﴾ ، مِنَ الْمِيرَاثِ. Hal itu karena Allah ﷻ menetapkan hukum atas kaum mukminin ketika mereka berhijrah ke Madinah bahwa mereka tidak saling mewarisi kecuali dengan ikatan hijrah. Jika ada seorang laki-laki Muhajirin meninggal dunia di Madinah bersama Nabi ﷺ, sedangkan ia mempunyai kerabat-kerabat penolong (ahli waris) di Makkah yang tidak ikut berhijrah, maka mereka dahulu tidak saling mewarisi. Demikian pula jika ada seorang laki-laki meninggal di Makkah dan ia mempunyai kerabat penolong yang telah berhijrah bersama Nabi ﷺ, maka orang yang berhijrah tersebut tidak mewarisinya. Maka dari itulah firman-Nya: 'Dan terhadap orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah' [QS. Al-Anfal: 72], maksudnya adalah dalam perkara warisan. Bersambung 👇
Bagian 17. Mengenai Firman Allah الْمُقْسِطِينَ (Orang-orang Yang Berlaku Adil) dan الْقَاسِطُونَ ١٧ - وَأَمَّا قَوْلُهُ: ﴿إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ﴾ [المائدة: ٤٢]. 17 - Adapun firman-Nya: " Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil (الْمُقْسِطِينَ)." [QS. Al-Ma'idah: 42]. وَقَالَ فِي آيَةٍ أُخْرَى: ﴿وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا﴾ [الجن: ١٥]. Dan Dia berfirman di ayat yang lain: " Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran (الْقَاسِطُونَ), maka mereka menjadi bahan bakar bagi neraka Jahanam." [QS. Al-Jinn: 15]. Syubhat kaum zindik : فَقَالُوا: كَيْفَ يَكُونُ هَذَا مِنَ الْكَلَامِ الْمُحْكَمِ؟ Lalu mereka (kaum Zanadiqah) bertanya: "Bagaimana mungkin ini termasuk perkataan yang muhkam ?" (Mereka memaknai الْمُقْسِطِينَ sama dengan الْقَاسِطُونَ yaitu menyimpang dari kebenaran, mereka menafsirkan Al Maidah : 42, bahwa Allah mencintai orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dan mengatakan ini bertentangan dengan Al Jin. : 15 ) Bantahan Imam Ahmad : أَمَّا قَوْلُهُ: ﴿وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا﴾؛ يَعْنِي: الْعَادِلُونَ بِاللهِ، الَّذِينَ يَجْعَلُونَ لَهُ عِدْلًا مِنْ خَلْقِهِ فَيَعْبُدُونَهُ مَعَ اللهِ. Adapun firman-Nya: "Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran (الْقَاسِطُونَ), maka mereka menjadi bahan bakar bagi neraka Jahanam"; maknanya adalah: Orang-orang yang berbuat العدل (menyamakan) terhadap Allah, yaitu orang-orang yang menjadikan makhluk sebagai tandingan bagi-Nya lalu menyembah makhluk tersebut bersama Allah. وَأَمَّا قَوْلُهُ: ﴿وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ﴾ [الحجرات : ٩ ]. يَقُولُ: اعْدِلُوا فِيمَا بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ النَّاسِ، إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ. Adapun firman-Nya: "Dan berlakulah adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil (الْمُقْسِطِينَ)" [QS. Al-Hujurat: 9]. Dia berfirman: Berlakulah adil di antara sesama kalian dan di antara manusia, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang menegakkan keadilan. وَقَالَ فِي آيَةٍ أُخْرَى: ﴿أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ﴾ [النمل: ٦٠]؛ يَعْنِي: يُشْرِكُونَ. فَهَذَا تَفْسِيرُ مَا شَكَّتْ فِيهِ الزَّنَادِقَةُ. Dan Dia berfirman di ayat yang lain: "Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan mereka adalah orang-orang yang menyimpang (يَعْدِلُونَ)" [QS. An-Naml: 60]; artinya: Mereka berbuat syirik. Maka inilah penjelasan (tafsir) atas apa yang kaum Zanadiqah meragukannya. [Kitab Sunnah, Abu Bakar Al Khallal]
Bagian 16. Mengenai Firman Allah Bahwa Dia Adalah مَوْلَى (Pelindung) Yang Sebenarnya ١٦ - وَأَمَّا قَوْلُهُ: ﴿ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَى لَهُمْ﴾ [محمد: ١١]. 16 - Adapun firman-Nya: "Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung (مَوْلَى) bagi orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung (مَوْلَى)." [QS. Muhammad: 11]. ثُمَّ قَالَ فِي آيَةٍ أُخْرَى: ﴿ثُمَّ رُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ﴾ [الأنعام: ٦٢]. Kemudian Dia berfirman dalam ayat yang lain: "Kemudian mereka (manusia) dikembalikan kepada Allah, Pelindung (مَوْلَى) mereka yang sebenarnya." [QS. Al-An'am: 62]. Syubhat kaum zindik : فَقَالُوا: كَيْفَ يَكُونُ هَذَا مِنَ الْكَلَامِ الْمُحْكَمِ؟! يُخْبِرُ أَنَّهُ مَوْلَى مَنْ آمَنَ، ثُمَّ قَالَ: ﴿وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَى لَهُمْ﴾ [محمد: ١١]. فَشَكُّوا فِي الْقُرْآنِ. Lalu mereka (kaum Zindik bertanya: "Bagaimana mungkin ini termasuk perkataan yang muhkam?! Dia mengabarkan bahwa Dia adalah pelindung bagi orang yang beriman, lalu Dia berfirman: 'dan sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung'." Maka mereka pun meragukan Al-Qur'an. Bantahan Imam Ahmad: أَمَّا قَوْلُهُ: ﴿ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا﴾ ، يَقُولُ: نَاصِرُ الَّذِينَ آمَنُوا، Adapun firman-Nya: "Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung (مَوْلَى) bagi orang-orang yang beriman", maksudnya adalah: Penolong bagi orang-orang yang beriman, ﴿وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَى لَهُمْ﴾ [محمد: ١١] يَقُولُ اللهُ : لَا نَاصِرَ لَهُمْ. "...dan bahwa sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung (مَوْلَى)" [QS. Muhammad: 11], Allah maksud : Adalah tidak ada penolong bagi mereka. وَأَمَّا قَوْلُهُ: ﴿ثُمَّ رُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ﴾ [الأنعام: ٦٢]؛ لِأَنَّ فِي الدُّنْيَا أَرْبَابًا بَاطِلَةً. فَهَذَا تَفْسِيرُ مَا شَكَّتْ فِيهِ الزَّنَادِقَةُ. Dan adapun firman-Nya: "Kemudian mereka (manusia) dikembalikan kepada Allah, Pelindung (مَوْلَى) mereka yang sebenarnya" [QS. Al-An'am: 62]; karena di dunia ini terdapat tuhan-tuhan yang batil. Maka inilah penjelasan (tafsir) atas apa yang kaum Zanadiqah meragukannya. [Kitab Sunnah, Abu Bakar Al Khallal]
Bagian 15. Firman Allah Tentang Makanan Penghuni Neraka ١٥ - وَأَمَّا قَوْلُ اللهِ تَعَالَى: ﴿لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِنْ ضَرِيعٍ﴾ [الغاشية: ٦]. 15 - Adapun firman Allah Ta'ala: "Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri (dhori')." [QS. Al-Ghasyiyah: 6]. ثُمَّ قَالَ: ﴿إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ طَعَامُ الْأَثِيمِ﴾ [الدخان: ٤٣ - ٤٤] ، فَقَدْ أَخْبَرَ أَنَّ لَهُمْ طَعَامًا غَيْرَ الضَّرِيعِ . Kemudian Dia berfirman (di ayat lain): "Sesungguhnya pohon zaqqum itu, makanan bagi orang yang banyak dosa." [QS. Ad-Dukhan: 43-44]. Maka di sini Dia mengabarkan bahwa mereka memiliki makanan selain dari' pohon berduri. Syubhat kaum zindik : فَشَكُّوا فِي الْقُرْآنِ، وَزَعَمُوا أَنَّهُ مُتَنَاقِضٌ. Lalu mereka (kaum Zanadiqah) meragukan Al-Qur'an dan menuduh bahwa Al-Qur'an itu kontradiktif. Bantahan Imam Ahmad: أَمَّا قَوْلُهُ: ﴿لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِنْ ضَرِيعٍ﴾ ، يَقُولُ: لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ فِي ذَلِكَ الْبَابِ ﴿إِلَّا مِنْ ضَرِيعٍ﴾ ، وَيَأْكُلُونَ الزَّقُّومَ فِي غَيْرِ ذَلِكَ الْبَابِ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ: ﴿إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ طَعَامُ الْأَثِيمِ﴾. فَهَذَا تَفْسِيرُ مَا شَكَّتْ فِيهِ الزَّنَادِقَةُ. Adapun firman-Nya: "Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri", maksudnya adalah: tidak ada makanan bagi mereka di pintu/bagian neraka tersebut melainkan Dhari', sementara mereka memakan pohon Zaqqum di pintu/bagian neraka yang lain. Maka dari itulah firman-Nya: "Sesungguhnya pohon zaqqum itu, makanan bagi orang yang banyak dosa." Maka inilah penjelasan (tafsir) atas apa yang kaum Zanadiqah meragukannya. [Kitab Sunnah, Abu Bakar Al Khallal]
Bagian 14. Mengenai Firman Allah Terkait Tingkatan Adzab Bagi Orang-orang Kafir. ١٤ - وَأَمَّا قَوْلُ اللهِ ﷻ: ﴿أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ﴾ [غافر: ٤٦]. 14 - Dan adapun firman Allah ﷻ: "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras." [QS. Ghafir: 46]. وَقَالَ فِي آيَةٍ أُخْرَى: ﴿فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لَا أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ﴾ [المائدة: ١١٥]. Dan Dia berfirman di ayat yang lain: "Maka sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia." [QS. Al-Ma'idah: 115]. وَقَالَ فِي آيَةٍ أُخْرَى: ﴿إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ﴾ [النساء: ١٤٥]. Dan Dia berfirman di ayat yang lain: "Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka." [QS. An-Nisa': 145]. Syubhat kaum zindik: فَشَكُّوا فِي الْقُرْآنِ، وَقَالُوا: إِنَّهُ يَنْقُضُ بَعْضُهُ بَعْضًا. Maka mereka (kaum Zanadiqah) meragukan Al-Qur'an dan berkata: "Sesungguhnya ayat-ayatnya saling bertolak belakang satu sama lain." Bantahan Imam Ahmad: أَمَّا قَوْلُهُ: ﴿أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ﴾ ؛ يَعْنِي: أَشَدَّ عَذَابِ ذَلِكَ الْبَابِ الَّذِي هُمْ فِيهِ. Adapun firman-Nya: "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras"; artinya: azab yang paling keras di pintu/bagian neraka tempat mereka berada." وَأَمَّا قَوْلُهُ: ﴿فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لَا أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ﴾ ، وَذَلِكَ أَنَّ اللهَ مَسَخَهُمْ خَنَازِيرَ ، فَعَذَّبَهُمْ بِالْمَسْخِ بِمَا لَمْ يُعَذِّبْ بِهِ مَنْ سِوَاهُمْ مِنَ النَّاسِ. Dan adapun firman-Nya: "Maka sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia (di zaman itu)." Hal itu karena Allah mengubah rupa mereka menjadi babi, lalu Allah mengazab mereka dengan pengubahan rupa tersebut, suatu azab yang belum pernah ditimpakan kepada manusia selain mereka." وَأَمَّا قَوْلُهُ: ﴿إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ﴾ ؛ لِأَنَّ جَهَنَّمَ لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ: جَهَنَّمُ، وَلَظَى، وَالْحُطَمَةُ، وَسَعِيرُ، وَسَقَرُ، وَالْجَحِيمُ، وَالْهَاوِيَةُ، وَهُمْ فِي أَسْفَلِ دَرْكٍ فِيهَا. Dan adapun firman-Nya: "Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka." Karena neraka Jahanam itu memiliki tujuh pintu (tingkatan): Jahanam, Lazha, Al-Huthamah, Sa'ir, Saqar, Al-Jahim, dan Al-Hawiyah; dan mereka (kaum munafik) berada di tingkatan paling bawah di dalamnya." [Kitab Sunnah, Abu Bakar Al Khallal]