ð»ððððððð ðŽððð (Ù ØØš Ø§ÙØ¹ÙÙ )
СÑаÑОÑÑОкаChannel berbagi ilmu seputar akidah, fiqih, akhlak dan adab ð ÙØ£ÙÙ ÙÙÙØ¯ÙÙ٠اÙÙÙÙÙ ØšÙÙ٠رجÙÙÙØ§ ÙØ§ØÙØ¯ÙØ§ Ø®ÙÙÙØ±Ù ÙÙÙ Ù Ù ØÙÙ ÙØ±Ù اÙÙÙÙØ¹Ù Channel Instagram: https://instagram.com/pencintailmu.official
- ÐПÑлеЎМОй пПÑÑ
- 14 авг.
- ÐПÑлеЎМее ÑÑеМОе
- 13 авг.
- ÐПÑÑПв за МеЎелÑ
- 1
- ÐÑегП пПÑÑПв
- 25
- ТОп
- ПÑкÑÑÑÑй
- ЯзÑк
- und
- РкаÑалПге Ñ
- 13 авг.
- 1/24ÑÑÑкО в леМÑе
- 47
- 1/48ЎвПе ÑÑÑПк
- 53
- 1/72ÑÑПе ÑÑÑПк
- 58
ÐÑеМка пП пÑПÑЌПÑÑаЌ ÐœÐµÐŽÐ°Ð²ÐœÐžÑ Ð¿ÐŸÑÑПв: пПÑÑ ÐœÐ°Ð±ÐžÑÐ°ÐµÑ Ð¿ÐŸÑÑО вÑÑ Ð·Ð° пеÑвÑе ÑÑÑкО.
ÐПÑÑÑ
без пПЎпОÑО
ðð»ðŽðžð®ð ð ð²ð»ðŽð¶ð¿ð® ðð¶ð¿ð¶ ð§ð¶ð±ð®ðž ðð¶ðµððžððº ð®ðð®ð ððŒðð®-ððŒðð®ðºð?! - Engkau telah dihalangi dari syahdunya shalat malam, padahal matamu sering terjaga hingga larut! - Engkau dihalangi dari indahnya membaca Al-Qur'an, padahal engkau memiliki begitu banyak waktu luang! - Engkau dihalangi dari basahnya lidah mengingat Allah, padahal lisanmu begitu fasih dan pandai berkata-kata! - Engkau dihalangi dari indahnya berdoa, hingga engkau melupakannya dan jiwamu merasa enggan melantunkannya tanpa pernah engkau sadari! - Engkau dihalangi dari nikmatnya khusyuk dalam shalat! - Engkau dihalangi dari tangisan penyesalan atas dosa-dosamu di kala sunyi! Betapa malangnya engkau⊠seorang hamba yang terhalang bahkan dari ibadah yang paling mudah! >>> ððð¥ð®, ðð§ð ð€ðð® ðŠðð¬ð¢ð¡ ðŠðð§ð ð¢ð«ð ððð¡ð°ð ðð§ð ð€ðð® ðð¢ððð€ ð¬ðððð§ð ðð¢ð¡ð®ð€ð®ðŠ?! Tidakkah hatimu merintih nestapa, memohon untuk kembali lurus?! ÙÙٱسۡتÙÙÙÙ Û¡ ÙÙÙ ÙØ§Û€ Ø£ÙÙ ÙØ±Û¡ØªÙ "Maka tetaplah engkau di jalan yang lurus, sebagaimana yang diperintahkan kepadamu." [Surat Hud: 112] ðððð§ðð¢ð§ðð ðð¥ðŠð®
Fikih Syafi'iyah memberikan rambu yang sangat tegas dalam masalah ini, ððð¡ð°ð ðð¡ð¢ððð§ ð°ðð£ð¢ð ðð¢ðð®ð§ðð ð£ð¢ð€ð ððð ð€ðð€ð¡ðð°ððð¢ð«ðð§ ð€ðð¬ðð¥ððŠðððð§ ð£ð¢ð°ð ðððð® ð€ðð¬ðð¡ðððð§ ðð§ðð€. Mengkhitan anak dalam kondisi fisik yang rapuh hingga membahayakan nyawanya adalah tindakan yang dilarang. Baiklah setelah ini, mari kita tarik refleksi ini ke kehidupan kita sehari-hari. Kapan terakhir kali kita memandang syariat khitan dari kacamata medis dan kehati-hatian fikih sedalam ini? Kita sering kali tergesa-gesa menjadikan khitan sekadar selebrasi pesta keluarga, tanpa mempelajari batasan teknis, kondisi kesehatan anak, dan adab-adab syariat yang menyertainya. Fikih Islam tidak hanya menyuruh kita menjalankan ritual, tetapi juga memastikan bahwa setiap tindakan ibadah itu aman, penuh rahmat, dan terja ga secara medis. ÙØ§ÙÙ٠تعاÙ٠أعÙÙ ØšØ§ÙØµÙاؚ ðððð§ðð¢ð§ðð ðð¥ðŠð®
ðð¶ðžð¶ðµ ððµð¶ðð®ð»; ðððžð®ð» ðŠð²ðžð®ð±ð®ð¿ ð§ð¿ð®ð±ð¶ðð¶, ðð±ð® ð£ð¿ð²ðð¶ðð¶ ð ð²ð±ð¶ð ð±ð®ð» ðð®ðð®ð ðððžððºð»ðð® Di masyarakat kita, khitan sering kali dipandang sebatas perayaan budaya atau sekadar seremoni mengkhitan anak sebelum masuk usia sekolah. Padahal, di dalam kitab fikih klasik, khitan dimasukkan dalam kategori ibadah yang terikat oleh hukum syara' yang sangat detail, bahkan sampai mengatur teknik pemotongannya hingga konsekuensi hukum jika terjadi kesalahan tindakan medis. Syeikh Thoha bin Abd Hamid di dalam kitab ðð¢ðµð©ð¶ð ðð¢ð©ð¢ð£ ð¢ð ðð¢ððªð¬ menegaskan: (ÙÙØ¬Øš Ø§ÙØ®ØªØ§Ù) ÙÙ ØÙ Ø§ÙØ±Ø¬Ù ÙØ§Ù٠رأة ØÙØ« ÙÙ ÙÙÙØ¯Ø§ ٠ختÙÙÙÙ "ðð¢ð¯ ðžð¢ð«ðªð£ ð©ð¶ð¬ð¶ð®ð¯ðºð¢ ð¬ð©ðªðµð¢ð¯ ð£ð¢ðšðª ðð¢ð¬ðª-ðð¢ð¬ðª ð®ð¢ð¶ð±ð¶ð¯ ð±ðŠð³ðŠð®ð±ð¶ð¢ð¯, ðŽðŠð¬ðªð³ð¢ð¯ðºð¢ ð¬ðŠð¥ð¶ð¢ð¯ðºð¢ ðµðªð¥ð¢ð¬ ð¥ðªðð¢ð©ðªð³ð¬ð¢ð¯ ð¥ð¢ðð¢ð® ð¬ðŠð¢ð¥ð¢ð¢ð¯ ðŽð¶ð¥ð¢ð© ðµðŠð³ð¬ð©ðªðµð¢ð¯." Beliau melanjutkan menukil pendapat ð¥ð©ð°ðªð§ (lemah) di dalam madzhab: ÙÙÙÙ Ø§ÙØ®ØªØ§Ù ÙØ§Ø¬Øš عÙÙ Ø§ÙØ±Ø¬ÙØ Ø³ÙØ© ÙÙÙØ³Ø§Ø¡Ø ÙÙÙÙ Ø¹Ù Ø£ÙØ«Ø± Ø§ÙØ¹Ù٠اء "ðð¢ð¯ ð¢ð¥ð¢ ðºð¢ð¯ðš ð£ðŠð³ð±ðŠð¯ð¥ð¢ð±ð¢ðµ ð£ð¢ð©ðžð¢ðŽð¢ð¯ðºð¢ ðð©ðªðµð¢ð¯ ðªðµð¶ ðžð¢ð«ðªð£ ð£ð¢ðšðª ðð¢ð¬ðª-ðð¢ð¬ðª ð¥ð¢ð¯ ðŽð¶ð¯ð¯ð¢ð© ð£ð¢ðšðª ð±ðŠð³ðŠð®ð±ð¶ð¢ð¯, ðŽðŠð£ð¢ðšð¢ðªð®ð¢ð¯ð¢ ð¥ðªð¯ð¶ð¬ðªð ð¥ð¢ð³ðª ð®ð¢ðºð°ð³ðªðµð¢ðŽ ð¶ðð¢ð®ð¢. " Mengapa ada perbedaan hukum? Bagi laki-laki, keberadaan kulup yang menutup ujung organ intim dapat menghalangi keabsahan bersuci. Jika tidak dikhitan, sisa air seni dapat tersimpan dan membatalkan shalat. Maka, statusnya menjadi wajib. Namun, yang jauh lebih menarik adalah bagaimana fikih mengatur ððð€ð§ð¢ð€ ðð€ð¬ðð€ð®ð¬ð¢ð§ð²ð. Syariat tidak membiarkan tindakan medis ini dilakukan secara asal-asalan. Lebih lanjut Syeikh Thohah menjelaskan teknis yang disunnahkan untuk khitan perempuan berdasarkan pesan Rasulullah ï·º kepada tukang khitan perempuan di zamannya: أ؎٠٠ÙÙØ§ تÙÙÙÙØ ÙØ¥ÙÙ Ø£ØØžÙ ÙÙ٠رأة ÙØ£ØØš ÙÙØšØ¹Ù "ðð°ðµð°ð¯ðšðð¢ð© ðŽðŠð¥ðªð¬ðªðµ ðŽð¢ð«ð¢ ð¥ð¢ð¯ ð«ð¢ð¯ðšð¢ð¯ ð¥ðªð±ð°ðµð°ð¯ðš ð©ð¢ð£ðªðŽ/ð£ðŠð³ððŠð£ðªð©ð¢ð¯. ðð¢ð³ðŠð¯ð¢ ð©ð¢ð ðªðµð¶ ð®ðŠð®ð£ð¶ð¢ðµ ðžð¢ð«ð¢ð© ððŠð£ðªð© ð£ðŠð³ðŽðŠð³ðª ð¥ð¢ð¯ ððŠð£ðªð© ð¥ðªðŽð¶ð¬ð¢ðª ð°ððŠð© ðŽð¶ð¢ð®ðª" Perhatikan betapa presisinya syariat. Fikih dengan tegas melarang praktik pemotongan ekstrem atau yang lebih dikenal dengan istilah ðððŠðð¥ð ð ðð§ð¢ððð¥ ðŠð®ðð¢ð¥ððð¢ðšð§/ ð ðð. Yang dianjurkan hanyalah pemotongan sangat sedikit di bagian atas (al-bizhr/klitoris), murni demi menjaga kebersihan tanpa mengorbankan fungsi biologis atau kenyamanan pasangan di kemudian hari. Lalu selanjutnya, "ððð©ðð§ ð°ðð€ðð® ð°ðð£ð¢ðð§ð²ð? ððð§ ðð©ðð€ðð¡ ðð§ðð€ ððð²ð¢ ð¬ð®ð§ð§ðð¡ ð¥ðð§ð ð¬ð®ð§ð ðð¢ð€ð¡ð¢ððð§?" Para ulama membedakan antara Waktu Wajib dan Waktu yang dianjurkan. Secara hukum fardhu/wajib, khitan baru mengikat secara penuh ketika seseorang sudah mencapai usia ððð¥ð¢ð ð¡ ððð§ ððð«ðð€ðð¥. Sebab, sebelum baligh seseorang belum terkena beban taklif syariat. Namun, menundanya hingga baligh jelas akan menyulitkan. Maka, syariat memberikan panduan waktu terbaik (mustahab) adalah ððð«ð¢ ð€ððð®ð£ð®ð¡ ð¬ðððð¥ðð¡ ð€ðð¥ðð¡ð¢ð«ðð§. Sebagaimana dicatat dalam hadits shahih, Rasulullah ï·º mengkhitan kedua cucunya, Sayyidina Hasan dan Husain ð³ð¢ð¥ð©ðªðºð¢ððð¢ð©ð¶ 'ð¢ð¯ð©ð¶ð®ð¢, tepat pada hari ketujuh setelah mereka lahir. Bahkan para ulama menjelaskan, khitan di usia bayi jauh lebih ringan rasa sakitnya dan penyembuhannya relatif lebih cepat dibanding menundanya hingga usia baligh. Jika ditunda dari hari ketujuh, maka disunahkan pada hari ke-40. Jika tidak, maka dilakukan pada tahun ketujuh (usia 7 tahun), karena usia tersebut merupakan waktu dianjurkannya memerintahkan anak untuk shalat. Tapi, tunggu dulu. Bagaimana jika kondisi medis anak sedang lemah, atau cuaca sedang sangat dingin/panas yang berisiko memperburuk luka?
ððšððšð ð ðð¡ððð£ðð§ð ððð¥ ðŠðð§ðððð ð§ðð¬ðð ð ðšð ð ðð¬ðð§ ððð«ððð§ð²ððð§: Bagaimana hukumnya jika jenazah sudah ditayammumkan (karena tidak ada air), tetapi kemudian air ditemukan sebelum atau saat shalat jenazah berlangsung? ððð°ðððð§: Kedudukan tayammum pada mayit pada dasarnya ð¬ððŠð ððð§ð ðð§ ððð²ððŠðŠð®ðŠ ð©ððð ðšð«ðð§ð ð²ðð§ð ð¡ð¢ðð®ð©, khususnya dalam hal kriteria perincian hukum ketika air ditemukan. Adapun kriteria & ketentuan hukum sebagai berikut: 1. Ditemukan Sebelum Shalat Jenazah Ditunaikan: Maka tayammum jenazah tersebut ððððð¥. Wajib hukumnya untuk memandikan jenazah tersebut dengan air yang baru ditemukan dan mengulangi kembali shalat jenazahnya. 2. Ditemukan di Tengah-Tengah/ Setelah Shalat Jenazah: Jika tayammumnya di tempat yang biasanya memang ada air, maka tayammumnya ððððð¥. Wajib memandikan jenazah dan mengulang shalatnya. Jika tayammumnya di tempat yang langka air, maka tayammumnya tetap sah, shalat dapat dilanjutkan/dianggap cukup, dan tidak perlu diulang. 3. ððð°ðð£ð¢ððð§ ðŠððŠðð§ðð¢ð€ðð§ ððð§ ðŠðð§ð ð®ð¥ðð§ð ð¬ð¡ðð¥ðð ð¢ð§ð¢ ððððð© ððð«ð¥ðð€ð® ðŠðð¬ð€ð¢ð©ð®ð§ ðŠðð²ð¢ð ð¬ð®ððð¡ ðð¢ðð®ð§ð ð€ð®ð¬ ððð¥ððŠ ð€ðð¢ð§ ð€ðððð§, selama mayit belum dimakamkan/dilepas ke dalam liang lahad. Referensi: ~ Kitab Ghoyatul Muna, hlm. 215 ÙÙØªÙÙÙÙ ÙÙ٠٠اÙÙÙ ÙÙÙÙØªÙ Ù ÙØ«ÙÙ٠تÙÙÙÙ ÙÙ٠٠اÙÙØÙÙÙÙ ÙÙÙ Ø§ÙØªÙÙÙÙØµÙÙÙ٠اÙÙÙ ÙØ°ÙÙÙÙØ±ÙØ ÙÙÙÙÙÙ ÙÙÙ ÙÙÙ Ù Ù ÙÙÙÙØªÙ Ø«ÙÙ ÙÙ ÙÙØ¬Ùد٠اÙÙÙ ÙØ§Ø¡Ù ÙÙØšÙÙÙ Ø§ÙØµÙÙÙÙØ§Ø©Ù عÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙØ¬ÙØšÙ ØºÙØ³ÙÙÙÙÙØ ÙÙØ¥ÙÙÙ ÙÙØ§ÙÙ ØšÙØ¹ÙØ¯Ù Ø§ÙØµÙÙÙÙØ§Ø©Ù Ø£ÙÙÙ ÙÙÙ Ø£ÙØ«ÙÙÙØ§ØŠÙÙÙØ§ ÙÙØ¥ÙÙÙ ÙÙØ§ÙÙ ØšÙÙ ÙØÙÙÙÙ ÙÙØºÙÙÙØšÙ ÙÙÙÙÙ ÙÙØ¬ÙÙØ¯Ù اÙÙÙ ÙØ§Ø¡Ù ÙÙØ¬ÙØšÙ ØºÙØ³ÙÙÙÙÙ ÙÙØ§ÙصÙÙÙÙØ§Ø©Ù عÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙÙÙ Ø£ÙØ¯ÙØ±ÙØ¬Ù ÙÙ٠أÙÙÙÙÙØ§ÙÙÙÙ Ù ÙØ§ ÙÙÙ Ù ÙÙØ¯ÙÙÙÙÙ.
ðŠð²ð¿ð¯ð®-ðð²ð¿ð¯ð¶ ðŠðð·ðð± ð§ð¶ð¹ð®ðð®ðµ ððð«ðŠðð¬ðð¥ðð¡ðð§ 1ïžâ£: Jika seorang imam membaca ayat yang mengandung sujud tilawah dalam shalat ðŽðªð³ð³ðªðºð¢ð© seperti shalat Dzuhur, atau dalam shalat ð«ð¢ð©ð³ðªðºð¢ð© di masjid yang besar; dianjurkan bagi imam untuk menunda sujud tersebut hingga setelah salam, selama tidak berselang lama. Ibnu Hajar ð³ð¢ð©ðªð®ð¢ð©ð¶ððð¢ð© mengatakan: "ØšÙ ØšØØ« ÙØ¯Øš ØªØ£Ø®ÙØ±Ù ÙÙ Ø§ÙØ¬ÙØ±ÙØ© Ø£ÙØ¶Ùا ٠ع Ø§ÙØ¬Ùا٠ع Ø§ÙØ¹ØžØ§Ù Ø ÙØ£ÙÙ ÙØ®ÙØ· عÙ٠اÙ٠أ٠ÙÙ ÙÙ". "ðð¢ð©ð¬ð¢ð¯ ð£ðŠððªð¢ð¶ ð®ðŠð®ð£ð¢ð©ð¢ðŽ ð¢ð¯ð«ð¶ð³ð¢ð¯ ð¶ð¯ðµð¶ð¬ ð®ðŠð¯ð¶ð¯ð¥ð¢ð¯ðºð¢ ð¥ð¢ðð¢ð® ðŽð©ð¢ðð¢ðµ ð«ð¢ð©ð³ðªðºð¢ð© ð¥ðª ð®ð¢ðŽð«ðªð¥-ð®ð¢ðŽð«ðªð¥ ð£ðŠðŽð¢ð³ ð¬ð¢ð³ðŠð¯ð¢ ð¥ð¢ð±ð¢ðµ ð®ðŠð®ð£ðªð¯ðšð¶ð¯ðšð¬ð¢ð¯ ð®ð¢ð¬ð®ð¶ð®." Pernyataan ini dibantah dengan dalil yang shahih bahwa Nabi ï·º pernah bersujud tilawah dalam shalat Dzuhur. Jawabannya: Beliau terkadang memperdengarkan ayat tersebut kepada para sahabat, mungkin karena jumlah makmum sedikit sehingga tidak menimbulkan kebingungan, atau tujuannya untuk menjelaskan kebolehannya. ððððððð§ ð¬ðð²ð: Apa yang disebutkan oleh al-Allamah Ibnu Hajar ð³ð¢ð©ðªð®ð¢ð©ð¶ððð¢ð© ini sangat penting. Karena sebagian imam dalam shalat Maghrib atau Isya membaca ayat sajdah lalu langsung sujud, hal ini menyebabkan kebingungan dan kekacauan bagi jamaah wanita di tempat shalat mereka. Karena mereka tidak bisa melihat imam, mereka mengira imam telah rukuk sehingga mereka pun ikut rukuk. Ketika imam menyelesaikan sujud dan kembali berdiri, sebagian wanita ikut berdiri melanjutkan shalat, sementara yang lain keluar dari shalatnya dan mengulanginya dari awal. Oleh karena itu, yang lebih utama bagi imam adalah menunda sujud hingga setelah salam. ððð«ðŠðð¬ðð¥ðð¡ðð§ 2ïžâ£: Jika seseorang membaca ayat sajdah atau surat yang mengandung sujud (seperti surat ð¢ð-ðð¯ðŽðºðªð²ð¢ð²) di dalam shalat dengan tujuan untuk bersujud, lalu ia bersujud; maka shalatnya batal jika ia mengetahui hukumnya dan sengaja melakukannya. Karena seorang muslim dilarang menambah sujud dalam shalat tanpa sebab yang dibenarkan. Membaca dengan niat untuk bersujud adalah bentuk sengaja melakukan sebab (untuk sujud), sama seperti orang yang masuk masjid pada waktu terlarang dengan niat sengaja untuk mengerjakan shalat tahiyatul masjid. Dikecualikan dari hal ini adalah orang yang membaca surat as-Sajdah pada shalat Subuh hari Jumat dengan tujuan bersujud; maka shalatnya tidak batal karena membaca surat tersebut dan sujud di dalamnya adalah sunnah. ððð«ðŠðð¬ðð¥ðð¡ðð§ 3ïžâ£: Jika seseorang membaca ayat sajdah atau surat yang mengandung sujud (seperti surat al-Insyiqaq) di waktu terlarang (untuk shalat); maka haram hukumnya melakukan sujud. Jika ia tetap bersujud, maka tidak sah jika ia mengetahui hukumnya dan sengaja melakukannya. Karena waktu terlarang dilarang untuk shalat kecuali karena adanya sebab. Membaca di waktu tersebut dengan niat khusus untuk bersujud adalah sama dengan sengaja menciptakan sebab, seperti orang yang masuk masjid hanya dengan niat untuk shalat tahiyatul masjid. ððð«ðŠðð¬ðð¥ðð¡ðð§ 4ïžâ£: Tidak boleh bagi orang yang shalat, baik imam maupun ð®ð¶ð¯ð§ð¢ð³ðªð¥ (sendirian), untuk sujud karena bacaan orang lain. Jika ia melakukannya secara sengaja dan mengetahui keharamannya, maka shalatnya batal. Adapun bagi makmum, ada perinciannya: Tidak boleh bagi makmum bersujud karena bacaan selain imamnya; jika dilakukan, shalatnya batal. âªïžTidak boleh bagi makmum bersujud karena bacaan imamnya jika imamnya tidak bersujud; jika dilakukan, shalatnya batal. Wajib bagi makmum bersujud karena bacaan imamnya jika imamnya bersujud; jika ia tidak melakukannya, shalatnya batal. Jika imam membaca ayat sajdah namun tidak bersujud, maka disunnahkan bagi makmum untuk bersujud setelah salam, selama jeda waktunya tidak lama menurut 'ð¶ð³ð§ (adat/ kebiasaan). ðð¢ððð¢ð©ð¶ ð¢'ðð¢ð®. ~ Faidah dari Syaikh Abdullah al-Baidhani ~ Ma'had Imam an-Nawawi ðððð§ðð¢ð§ðð ðð¥ðŠð®
Para ulama menjelaskan, selain demi alasan kebersihan, menguburnya adalah bentuk penghormatan terhadap bagian tubuh manusia agar tidak tercecer di tempat yang tidak layak atau disalahgunakan. Dan hukum menguburnya bisa menjadi wajib seperti halnya bagi perempuan jika dikhawatirkan dilihat sama ajnabi (orang asing). Sekarang, mari kita bawa realita ini ke dalam kebiasaan hidup kita sehari-hari. Kapan terakhir kali kita mengecek kalender hanya untuk memastikan bahwa kuku dan rambut rahasia kita tidak terabaikan lebih dari 40 hari? Sering kali kita terlalu sibuk merawat penampilan luar yang dinilai manusia, sampai-sampai abai pada batas waktu ð¬ð©ðªðŽð¢ð ð¢ð-ð§ðªðµð³ð¢ð© yang telah digariskan oleh syariat. Fikih telah memberikan panduan yang begitu rapi dan detail, tinggal bagaimana kita menyambutnya sebagai bagian dari ibadah, bukan sekadar rutinitas bersih-bersih badan. ðððð§ðð¢ð§ðð ðð¥ðŠð®
ð¥ð®ðµð®ðð¶ð® ðð¶ðžð¶ðµ ð±ð¶ ðð®ð¹ð¶ðž ð ð²ðºðŒððŒð»ðŽ ððð¹ð ðð²ðºð®ð¹ðð®ð» Bagi sebagian besar orang, membersihkan bulu kemaluan mungkin hanya dianggap sebagai urusan sepele di kamar mandi. Masuk ranah higienitas personal semata. Padahal, jika kita membuka lembaran fikih klasik, ada detail syariat yang sangat presisi, bahkan membedakan secara tegas metode eksekusinya antara pria dan wanita. Di dalam kitab ðð¢ðµð©ð¶ð ðð¢ð©ð¢ð£ ð¢ð ðð¢ððªð¬, Syeikh Thoha bin Abd Hamid mengatakan: ÙÙÙÙÙ Ù ÙØ§Ù ØÙÙ Ø§ÙØ¹Ø§ÙØ© ÙØµÙا Ø£Ù ÙØªÙÙØ§ ÙÙÙ Ø§ÙØ³ÙØ© ÙÙ ØÙ Ø§ÙØ±Ø¬Ù ØÙÙÙØ§Ø ÙØ£Ù ا اÙ٠رأة ÙÙØ³Ù ÙÙØ§ ÙØªÙÙØ§ "ððŠð¯ð€ð¶ð¬ð¶ð³ ð£ð¶ðð¶ ð¬ðŠð®ð¢ðð¶ð¢ð¯ ð£ðªðŽð¢ ð¥ðªðšð¢ð¯ðµðªð¬ð¢ð¯ ð¥ðŠð¯ðšð¢ð¯ ð®ðŠð®ð°ðµð°ð¯ðš ð¢ðµð¢ð¶ ð®ðŠð¯ð€ð¢ð£ð¶ðµð¯ðºð¢. ðð¬ð¢ð¯ ðµðŠðµð¢ð±ðª, ðºð¢ð¯ðš ðŽð¶ð¯ð¯ð¢ð© ð£ð¢ðšðª ðð¢ð¬ðª-ðð¢ð¬ðª ð¢ð¥ð¢ðð¢ð© ð®ðŠð¯ð€ð¶ð¬ð¶ð³ð¯ðºð¢ (ð®ðŠð¯ðšðšð¶ð¯ð¢ð¬ð¢ð¯ ð±ðªðŽð¢ð¶ ð€ð¶ð¬ð¶ð³), ðŽðŠð¥ð¢ð¯ðšð¬ð¢ð¯ ð£ð¢ðšðª ð±ðŠð³ðŠð®ð±ð¶ð¢ð¯ ð¥ðªðŽð¶ð¯ð¯ð¢ð©ð¬ð¢ð¯ ð¶ð¯ðµð¶ð¬ ð®ðŠð¯ð€ð¢ð£ð¶ðµð¯ðºð¢." Perhatikan perbedaan metodenya: => ðð«ð¢ð ðð¢ð¬ð®ð§ð§ðð¡ð€ðð§ ðŠðð§ðð®ð€ð®ð«, ð¬ðððð§ð ð€ðð§ ð°ðð§ð¢ðð ðð¢ð¬ð®ð§ð§ðð¡ð€ðð§ ðŠðð§ðððð®ð. Kenapa mazhab fikih sampai sedetail itu membedakan cara membersihkannya? Para ulama kita menjelaskan sebuah alasan biologis yang menarik,yaitu mencukur dinilai dapat memperkuat atau menstimulasi syahwat, dan itu yang lebih selaras untuk pria. Sebaliknya, mencabut dapat melemahkan syahwat, dan itu dianggap lebih ideal untuk menjaga stabilitas biologis wanita. Namun, di sinilah diskusi ilmiahnya menjadi menarik. Syeikh Thoha langsung menyajikan sebuah plot twist dengan mengutip kritik tajam dari Ibn al-Qayyim dalam kitab monumental-nya, ð'ðð¢ð® ð¢ð-ðð¶ðžð¢ð²ð²ðª'ðªð¯. Ibn al-Qayyim mematahkan asumsi populer di masyarakat zaman itu yang mengklaim bahwa syahwat wanita berlipat ganda melebihi pria karena alasan tersebut. Beliau menegaskan: ÙÙÙØ³ Ù٠ا ÙØ§Ù ÙØ§ÙØŽÙÙØ© Ù ÙØšØ¹Ùا Ø§ÙØØ±Ø§Ø±Ø©Ø ÙØ£ÙÙ ØØ±Ø§Ø±Ø© Ø§ÙØ£ÙØ«Ù Ù Ù ØØ±Ø§Ø±Ø© Ø§ÙØ°ÙØ±Ø "ððªð¥ð¢ð¬ðð¢ð© ðŽðŠð±ðŠð³ðµðª ðºð¢ð¯ðš ð®ðŠð³ðŠð¬ð¢ ð¬ð¢ðµð¢ð¬ð¢ð¯. ðð¶ð®ð£ðŠð³ ðŽðºð¢ð©ðžð¢ðµ ðªðµð¶ ð¢ð¥ð¢ðð¢ð© ð±ð¢ð¯ð¢ðŽ ðµð¶ð£ð¶ð© (ðŠð¯ðŠð³ðšðª ð£ðªð°ðð°ðšðªðŽ), ð¥ð¢ð¯ ð¥ðª ð®ð¢ð¯ð¢ð¬ð¢ð© ððŠðµð¢ð¬ ð±ð¢ð¯ð¢ðŽð¯ðºð¢ ðžð¢ð¯ðªðµð¢ ð«ðªð¬ð¢ ð¥ðªð£ð¢ð¯ð¥ðªð¯ðšð¬ð¢ð¯ ð¥ðŠð¯ðšð¢ð¯ ð±ð¢ð¯ð¢ðŽð¯ðºð¢ ð±ð³ðªð¢?" Menurut Ibn al-Qayyim, pandangan bahwa wanita punya syahwat berlipat ganda hanyalah ilusi. Lonjakan itu sering kali terjadi bukan karena faktor bawaan biologis murni, melainkan karena ruang kosong secara psikologis, waktu luang yang tidak teralihkan, atau ketika pikiran mereka sedang didominasi oleh hal tersebut tanpa ada benteng yang mengalihkan. Baik, terlepas dari metodenya, apakah ada batas waktu maksimal untuk membersihkannya? Atau boleh ditunda sesuka hati kita? Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahi Muslim menegaskan bahwa waktu pembersihan ini harus disesuaikan dengan kebutuhan dan panjangnya bulu tersebut. Namun, ada batas maksimal yang tidak boleh dilanggar. Rasulullah ï·º melalui hadits Anas bin Malik telah memberikan batasan waktu konkrit: ÙÙØª ÙÙØ§ ÙÙ ÙØµ Ø§ÙØŽØ§Ø±Øš ÙØªÙÙÙÙ Ø§ÙØ£ØžÙار ÙÙØªÙ Ø§ÙØ¥ØšØ· ÙØÙÙ Ø§ÙØ¹Ø§ÙØ© Ø£Ù ÙØ§ ÙØªØ±Ù Ø£ÙØ«Ø± ٠٠أرؚعÙÙ ÙÙÙØ© "ðð¢ð®ðª ð¥ðªð£ðŠð³ðª ð£ð¢ðµð¢ðŽ ðžð¢ð¬ðµð¶ ð¥ð¢ðð¢ð® ð®ðŠð®ð°ðµð°ð¯ðš ð¬ð¶ð®ðªðŽ, ð®ðŠð®ð°ðµð°ð¯ðš ð¬ð¶ð¬ð¶, ð®ðŠð¯ð€ð¢ð£ð¶ðµ ð£ð¶ðð¶ ð¬ðŠðµðªð¢ð¬, ð¥ð¢ð¯ ð®ðŠð¯ð€ð¶ð¬ð¶ð³ ð£ð¶ðð¶ ð¬ðŠð®ð¢ðð¶ð¢ð¯ ð¢ðšð¢ð³ ðµðªð¥ð¢ð¬ ð®ðŠð®ð£ðªð¢ð³ð¬ð¢ð¯ð¯ðºð¢ ððŠð£ðªð© ð¥ð¢ð³ðª ðŠð®ð±ð¢ðµ ð±ð¶ðð¶ð© ð®ð¢ðð¢ð®" Jadi hukum membiarkannya lebih dari 40 hari adalah sangat dimakruhkan. Lebih jauh lagi, ada satu sunnah yang luput dan jarang dipraktikkan di masyarakat modern kita hari ini. Apa itu? ððð§ð ð®ðð®ð« ð©ðšððšð§ð ðð§ ð€ð®ð€ð® ððð§ ð«ððŠðð®ð. Menukil riwayat dari Al-Baihaqi tentang para sahabat Nabi ï·º yang terbiasa mengumpulkan potongan kuku mereka lalu menguburnya ke dalam tanah, seraya berkata: "ððŠðšðªð¯ðªðð¢ð© ð¬ð¢ð®ðª ð®ðŠððªð©ð¢ðµ ðð¢ðŽð¶ðð¶ððð¢ð© ï·º ð®ðŠðð¢ð¬ð¶ð¬ð¢ð¯ð¯ðºð¢."
Al-Faqih Ibnu Hajar al-Haitami رØÙ ٠اÙÙÙ berkata di dalam kitab Al-Fatawa: "Seorang (ulama/pengajar) Syafi'iyah yang mengajarkan kitab-kitab dari mazhab selain mazhabnya, tidaklah diperbolehkan (tidak sah secara metodologi) baginya melakukan hal itu, kecuali jika ia telah membaca/mempelajari kitab yang ia ajarkan tersebut di hadapan seorang alim yang terpercaya yang merupakan tokoh dari pimpinan mazhab tersebut. Ketentuan ini berlaku apabila yang dimaksudkan dengannya adalah mengajarkan pendapat yang menjadi mu'tamad (official opinion) dalam mazhab tersebut." Komentarku: "Dan permisalan bagi Syafi'iyah tersebut berlaku pula bagi yang lainnya. Maka, tidak diperbolehkan bagi orang non-Syafi'iyah untuk mengajarkan Mazhab Syafi'i, kecuali jika ia telah mengambil (belajar) Mazhab Syafi'i tersebut langsung dari para ahlinya yang mengamalkannya. Betapa banyak orang di masa sekarang yang tampil ke depan untuk membacakan kitab-kitab suatu mazhab dan mengajarkannya, padahal ia sendiri belum pernah mengambil kitab tersebut dari para ahlinya. Padahal, ilmu fikih itu memiliki hubungan rahim (keterikatan guru-murid) dan garis nasab ilmu yang jelas." ~ Faidah dari Syeikh Sa'id al-Jabiri
Maka dari itu, Imam Al-Bukhari sampai merekam kesaksian dari Atha' yang berkata: "ðð¬ð¶ ð®ðŠð¯ð¥ð¢ð±ð¢ðµðª ð¥ð¶ð¢ ð±ð¶ðð¶ð© ð°ð³ð¢ð¯ðš ðŽð¢ð©ð¢ð£ð¢ðµ ð¯ð¢ð£ðª ð¥ðª ð®ð¢ðŽð«ðªð¥ ðªð¯ðªâðºð¢ð¬ð¯ðª ðð¢ðŽð«ðªð¥ðªð ðð¢ð³ð¢ð®âð«ðªð¬ð¢ ðªð®ð¢ð® ð®ðŠð¯ðšð¶ð€ð¢ð±ð¬ð¢ð¯ 'ðžð¢ðð¢ð¥ð©ð¥ð©ð¢ðððªðªð¯', ð®ð¢ð¬ð¢ ðŽð¶ð¢ð³ð¢ 'ðð¢ð®ðªðªð¯' ð®ðŠð³ðŠð¬ð¢ ðµðŠð³ð¥ðŠð¯ðšð¢ð³ ð£ðŠð³ðšðŠð®ð¶ð³ð¶ð©." Sekarang, mari kita bawa realita ini ke masjid-masjid di sekitar kita hari ini. Kapan terakhir kali kalian shalat jamaah dan merasakan getaran "Aamiin" yang kompak, tegas, dan bergemuruh murni karena mengejar keselarasan dengan malaikat? Sering kali, "Aamiin" kita terdengar lesu, sahut-menyahut tidak beraturan, atau bahkan sebagian jamaah memilih diam seribu bahasa karena menganggapnya tidak penting. Kita kehilangan fadhilah ampunan besar hanya karena abai terhadap satu sunnah yang dinilai remeh. Jangan biarkan kelengahan kita menjadi kemenangan bagi rasa dengki kaum yang tahu rahasia kata ini. Mulai shalat waktu berikutnya, saat ðžð¢ðð¢ð¥ð©ð¥ð©ð¢ðððªðªð¯ selesai digaungkan, sambutlah ia dengan "Aamiin". Siapa tahu, di detik itulah suara tersebut berpapasan dengan kepakan sayap malaikat yang siap menghapus lembaran dosamu. ðððð§ðð¢ð§ðð.ðð¥ðŠð®
ð¥ð®ðµð®ðð¶ð® ðŠð®ðð ðð®ðð® ðð®ð»ðŽ ðð¶ðžð¶ð» ðð®ððº ð¬ð®ðµðð±ð¶ ðð²ð»ðŽðžð¶ ðŠð²ðð²ð»ðŽð®ðµ ð ð®ðð¶ Pernahkah kita menyadari, ada satu kata yang kita ucapkan berkali-kali setiap hari di dalam shalat, kedengarannya sepele, tapi punya daya ledak luar biasa di alam malakut? Kata itu adalah: "ðððŠð¢ð¢ð§." Bagi sebagian orang, mengucapkan "Aamiin" setelah imam selesai membaca ðžð¢ðð¢ð¥ð©ð¥ð©ð¢ðððªðªð¯ mungkin hanya dianggap sebagai rutinitas pemanis shalat. Refleks lisan saja. Padahal, status hukumnya tidak main-main. Di dalam kitab ðð©ð°ðºð¢ðµð¶ð ðð¶ð¯ð¢, ditegaskan: ÙÙÙÙØ³ÙÙÙ٠عÙÙÙØšÙ ÙÙØ±ÙØ§Ø¡ÙØ©Ù اÙÙÙØ§ØªÙØÙة٠أÙÙÙ ÙÙÙÙÙÙÙ: Ø¢Ù ÙÙÙÙØ سÙÙÙØ§Ø¡Ù Ø£ÙÙÙØ§ÙÙ ÙÙÙ Ø¯ÙØ§Ø®ÙÙÙ Ø§ÙØµÙÙÙÙØ§Ø©Ù Ø£ÙÙÙ Ø®ÙØ§Ø±ÙجÙÙÙØ§Ø Ø¥ÙÙÙÙØ§ Ø£ÙÙÙÙÙÙ ÙÙÙ Ø§ÙØµÙÙÙÙØ§Ø©Ù Ø£ÙØŽÙدÙÙ Ø§ÙØ³ÙØªÙØÙØšÙاؚا٠ððªðŽð¶ð¯ð¯ð¢ð©ð¬ð¢ð¯ ðŽðŠðµðŠðð¢ð© ð®ðŠð®ð£ð¢ð€ð¢ ðð-ðð¢ðµðªð©ð¢ð© ð¶ð¯ðµð¶ð¬ ð®ðŠð¯ðšð¶ð€ð¢ð±ð¬ð¢ð¯ "ðð¢ð®ðªðªð¯", ð£ð¢ðªð¬ ð¥ðª ð¥ð¢ðð¢ð® ðŽð©ð¢ðð¢ðµ ð®ð¢ð¶ð±ð¶ð¯ ð¥ðª ðð¶ð¢ð³ ðŽð©ð¢ðð¢ðµ. ðð¢ð®ð¶ð¯, ð¥ðª ð¥ð¢ðð¢ð® ðŽð©ð¢ðð¢ðµ, ð±ðŠð¯ðŠð¬ð¢ð¯ð¢ð¯ ð¬ðŠðŽð¶ð¯ð¯ð¢ð©ð¢ð¯ð¯ðºð¢ ð«ð¢ð¶ð© ððŠð£ðªð© ð¬ð¶ð¢ðµ. Perhatikan redaksinya: ðŒðšð®ððððª ððšð©ððððððð£ (ð¬ðð§ð ðð-ð¬ðð§ð ðð ðð¢ðð§ð£ð®ð«ð€ðð§). Bahkan bukan cuma untuk imam atau munfarid (orang yang shalat sendiri). Bagi kita yang menjadi makmum, disunnahkan untuk menyuarakan "Aamiin" itu dengan keras (jahr) bersamaan dengan imam kalian. Kenapa harus keras dan bersamaan? Rasulullah ï·º bersabda dalam hadits riwayat Abu Hurairah: Ø¥ÙØ°Ùا ÙÙØ§ÙÙ Ø§ÙØ¥ÙÙ ÙØ§Ù Ù: {غÙÙÙØ±Ù اÙÙ ÙØºÙضÙÙØšÙ عÙÙÙÙÙÙÙÙ Ù ÙÙÙÙØ§ Ø§ÙØ¶ÙÙØ§ÙÙÙÙÙÙ} ÙÙÙÙÙÙÙÙØ§: Ø¢Ù ÙÙÙÙØ ÙÙØ¥ÙÙÙÙÙÙ Ù ÙÙÙ ÙÙØ§ÙÙÙÙ ÙÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙÙ٠اÙÙ ÙÙÙØ§ØŠÙÙÙØ©Ù غÙÙÙØ±Ù ÙÙÙÙ Ù ÙØ§ تÙÙÙØ¯ÙÙÙ Ù Ù ÙÙ٠ذÙÙÙØšÙÙÙ ððªð¬ð¢ ðªð®ð¢ð® ð®ðŠð¯ðšð¶ð€ð¢ð±ð¬ð¢ð¯ "ðð©ð¢ðªð³ðªð ð®ð¢ðšð©ð¥ð©ð¶ð£ðª 'ð¢ðð¢ðªð©ðªð® ðžð¢ðð¢ð¥ð©ð¥ð©ð¢ðððªðªð¯", ð®ð¢ð¬ð¢ ð¶ð€ð¢ð±ð¬ð¢ð¯ðð¢ð© "ðð¢ð®ðªðªð¯". ðð¢ð³ðŠð¯ð¢ ð£ð¢ð³ð¢ð¯ðšðŽðªð¢ð±ð¢ ðºð¢ð¯ðš ð¶ð€ð¢ð±ð¢ð¯ ð¢ð¢ð®ðªðªð¯-ð¯ðºð¢ ð£ðŠð³ð£ð¢ð³ðŠð¯ðšð¢ð¯ ð¥ðŠð¯ðšð¢ð¯ ð¶ð€ð¢ð±ð¢ð¯ ð¢ð¢ð®ðªðªð¯-ð¯ðºð¢ ð±ð¢ð³ð¢ ð®ð¢ðð¢ðªð¬ð¢ðµ, ð®ð¢ð¬ð¢ ð¥ð°ðŽð¢-ð¥ð°ðŽð¢ð¯ðºð¢ ðºð¢ð¯ðš ðµðŠðð¢ð© ðð¢ðð¶ ð¢ð¬ð¢ð¯ ð¥ðªð¢ð®ð±ð¶ð¯ðª. Bayangkan skenarionya. Ketika imam selesai membaca Al-Fatihah, langit bergemuruh karena para malaikat ikut mengucapkan "Aamiin". Jika di saat yang sama suara "Aamiin" kalian bergetar kompak di bumi dan selaras dengan waktu malaikat di langit, detik itu juga seluruh dosa masa lalu kalian diputihkan. Mungkin muncul difikiran kita, "ðð©, ð®ð¢ðŽð¢' ðšð¢ð³ð¢-ðšð¢ð³ð¢ ðŽð¢ðµð¶ ð¬ð¢ðµð¢ ð±ðŠð¯ð¥ðŠð¬ ðªðµð¶, ð£ð°ð¯ð¶ðŽð¯ðºð¢ ðð¢ð¯ðšðŽð¶ð¯ðš ð¢ð®ð±ð¶ð¯ð¢ð¯ ð¥ð°ðŽð¢ ðµð°ðµð¢ð? ðð°ð¬ ðšð¢ð®ð±ð¢ð¯ðš ð£ð¢ð¯ðšðŠðµ?" Kalau kalian meremehkannya, kalian harus tahu fakta sejarah ini: ððð®ðŠ ððð¡ð®ðð¢ ð£ð®ð¬ðð«ð® ð¬ðð§ð ðð ð©ðð¡ððŠ ððððð©ð ðŠðð¡ðð¥ð§ð²ð ð€ððð ð¢ð§ð¢. Dikutip sebuah hadits dari Sayyidah Aisyah ð³ð¢ð¥ð©ðªðºð¢ððð¢ð©ð¶ 'ð¢ð¯ð©ð¢ secara marfu': Ù ÙØ§ ØÙØ³ÙØ¯ÙÙÙ٠٠اÙÙÙÙÙÙØ¯Ù عÙÙÙÙ ØŽÙÙÙØ¡Ù Ù ÙØ§ ØÙØ³ÙØ¯ÙÙÙÙ٠٠عÙÙÙÙ Ø§ÙØ³ÙÙÙÙØ§Ù Ù ÙÙØ§ÙتÙÙØ£ÙÙ ÙÙÙÙ "ððªð¥ð¢ð¬ðð¢ð© ð¬ð¢ð¶ð® ð ð¢ð©ð¶ð¥ðª ð¥ðŠð¯ðšð¬ðª ð¬ðŠð±ð¢ð¥ð¢ ð¬ð¢ððªð¢ð¯ ð¢ðµð¢ðŽ ðŽðŠðŽð¶ð¢ðµð¶, ð®ðŠððŠð£ðªð©ðª ð¬ðŠð¥ðŠð¯ðšð¬ðªð¢ð¯ ð®ðŠð³ðŠð¬ð¢ ð¬ðŠð±ð¢ð¥ð¢ ð¬ð¢ððªð¢ð¯ ð¥ð¢ðð¢ð® ð©ð¢ð ð¶ð€ð¢ð±ð¢ð¯ ðŽð¢ðð¢ð® ð¥ð¢ð¯ ð¶ð€ð¢ð±ð¢ð¯ ðð¢ð®ðªðªð¯. Mengapa mereka harus dengki? Karena "Aamiin" bukan sekadar kata tanpa makna. Secara bahasa, para ulama seperti Imam At-Tirmidzi menukil bahwa maknanya adalah: "Ya Allah, jangan engkau sia-siakan doa kami" atau "Ya Allah, kabulkanlah." Bahkan ada ulama yang menyebut bahwa "Aamiin" adalah salah satu kunci dari sekian banyak simpanan kekayaan di bawah Arsy (ðð¢ð¯ð»ð¶ð¯ ð®ðªð¯ ð¬ð¶ð¯ð¶ð»ðªð 'ðð³ðŽðº). Mereka tahu, ketika umat Islam merapatkan barisan, lalu suara "Aamiin" mereka bergemuruh memecah masjid secara serentak, ada dinding-dinding langit yang sedang ditembus, dan ada ampunan massal yang sedang turun ke bumi.
ðððžððº ðð²ð¿ðŒð¯ð®ð ð±ð²ð»ðŽð®ð» ðð²ð»ð±ð®-ðð²ð»ð±ð® ð¡ð®ð·ð¶ð âªïžHukum asalnya adalah diharamkan berobat dengan benda najis, akan tetapi boleh berobat dengannya dengan dua syarat: 1. Jika pasien mengetahui sendiri atau diberi tahu oleh seorang dokter yang adil tentang adanya manfaat kesembuhan pada pengobatan tersebut. 2. Jika ia tidak menemukan benda suci yang dapat menggantikan kedudukan (fungsi) benda najis tersebut. âªïžDan diperbolehkan berobat dengan benda najis meskipun ada obat alternatif lain yang suci, apabila diketahui bahwa obat yang najis tersebut lebih cepat mendatangkan kesembuhan, atau apabila obat yang tidak najis (obat suci) tersebut tidak tersedia di daerahnya atau di daerah lain, atau obat suci itu ada namun harganya sangat mahal sekiranya ia tidak mampu untuk membelinya. ~ Faidah dari Durus Syeikh Labib Najib
Live stream finished (50 minutes)
Live stream started
ð ð®ðð®ð¹ð®ðµ ð§ð²ð¿ðžð®ð¶ð ððð¿ð¯ð®ð»: (ð±) ðð©ðð€ðð¡ ððð®ðð§ ððð€ðð® ðð®ð«ððð§ ððð«ððð¬ðð«ð€ðð§ ððð ðð«ð¢ ðð«ðð§ð ð²ðð§ð ððð«ð€ð®ð«ððð§ (ðð®ð°ðð€ð€ð¢ð¥) ðððð® ðððŠð©ðð ððð§ð²ððŠððð¥ð¢ð¡ðð§? Seseorang mungkin saja mewakilkan orang lain untuk menyembelih hewan kurbannya. Namun, apakah dalam penyembelihan tersebut harus memperhatikan waktu di negeri orang yang berkurban (Muwakkil) atau waktu di negeri tempat penyembelihan jika terjadi perbedaan waktu? Misalnya, seseorang di Indonesia mewakilkan penyembelihan kepada orang di Palestina, lalu matahari hari terakhir Tasyrik sudah terbenam di Indonesia sedangkan di Palestina belum terbenam. ððð§ððð©ðð ððð³ð¡ðð ððð§ððð¢: Ulama Hanafi menegaskan bahwa acuannya adalah ðððŠð©ðð ðð¢ ðŠðð§ð ð©ðð§ð²ððŠððð¥ð¢ð¡ðð§ ð¢ðð® ðð¢ð¥ðð€ð®ð€ðð§, yaitu negeri tempat wakil yang menyembelih berada, sebagaimana disebutkan dalam kitab ðð-ðð¢ð¶ð©ð¢ð³ð¢ð© ð¢ð¯-ðð¢ðºðºðªð³ð¢ð©. ððð¥ððŠ ððð³ð¡ðð ðð²ððð¢'ð¢: Penulis (Syeikh Sa'id al-Jabiri) menyatakan tidak menemukan teks eksplisit dalam kitab-kitab mazhab Syafi'i mengenai masalah ini secara spesifik. Namun, pendapat bahwa acuannya adalah tempat penyembelihan didukung oleh beberapa cabang hukum fikih lainnya, yaitu: - Dalam masalah pembagian zakat, jika seseorang mewakilkan pembagiannya, maka acuannya adalah ð§ðð ðð«ð¢ ðððŠð©ðð ð¡ðð«ðð ð¢ðð® ððð«ððð, bukan negeri pemilik harta. Hal ini bisa dianalogikan ke hukum kurban dengan titik temu bahwa keduanya merupakan hak harta yang boleh diwakilkan. ððšð§ð€ð¥ð®ð¬ð¢: Berdasarkan hal tersebut, jika waktu kurban telah habis di negeri orang yang berkurban/ muwakkil (misalnya matahari hari terakhir Tasyrik sudah terbenam), namun di negeri wakilnya matahari belum terbenam, maka ððšð¥ðð¡ (ð¬ðð¡) baginya untuk menyembelih kurban atas nama orang yang mewakilkannya karena waktu kurban di tempat tersebut masih ada. Hal ini juga didukung oleh kaidah fikih bahwa: ïºïº£ï»ïºï»¡ اï»ï»ï»ïºª ïºïºï»ï» ï» ïºïºï»ï»®ï»ï»Žï» ﺩï»ï»¥ اï»ï»€ï»®ï»ï» "ðð¶ð¬ð¶ð®-ð©ð¶ð¬ð¶ð® ð¢ð¬ð¢ð¥ ð£ðŠð³ð¬ð¢ðªðµð¢ð¯ ð¥ðŠð¯ðšð¢ð¯ ðžð¢ð¬ðªð, ð£ð¶ð¬ð¢ð¯ ð°ð³ð¢ð¯ðš ðºð¢ð¯ðš ð®ðŠðžð¢ð¬ðªðð¬ð¢ð¯." Maka hal-hal seperti melihat barang, kepastian akad dengan sudah berpisahnya di majelis akad, serta serah terima dalam majelis akad, semuanya merujuk pada wakil, bukan orang yang mewakilkan. â Syeikh Said al-Jabiri ØÙ؞٠اÙÙÙ Link tulisan: https://t.me/saeed_algabry/8270 ð ððð§ðð¢ð§ðð ðð¥ðŠð®
Live stream finished (1 hour)
Live stream started
Live stream finished (1 hour)
Live stream started
ð ð®ðð®ð¹ð®ðµ ð§ð²ð¿ðžð®ð¶ð ððð¿ð¯ð®ð»: (ð°) ðð®ð€ð®ðŠ ðððŠð¢ð§ððð¡ð€ðð§ ððð ð¢ð§ð ðð®ð«ððð§ ððð§ ðððŠð¢ð§ððð¡ð€ðð§ ðð¢ðð²ð (ððð§ð ) ðð®ð«ððð§ Tempat pelaksanaan kurban adalah di lokasi orang yang berkurban berada, baik itu di daerah tempat tinggalnya maupun di tempat ia sedang melakukan perjalanan, sebagaimana disebutkan dalam kitab ðð-ðð¢ð«ð®ð¶'. âªïžðððŠð¢ð§ððð¡ð€ðð§ ððð ð¢ð§ð ðð®ð«ððð§ (ÙÙÙ Ø§ÙØ£Ø¶ØÙØ©) Secara asal, tidak diperbolehkan memindahkan daging kurban dari daerah orang yang berkurban ke daerah lain. Hal ini berlaku baik untuk kurban sunah maupun kurban wajib (kurban nazar). Pada kurban sunah, ada kewajiban untuk menyedekahkan sebagian dagingnya; bagian inilah yang tidak boleh dipindahkan ke luar daerah, sedangkan selebihnya diperbolehkan. Larangan memindahkan daging kurban ini didasarkan pada larangan memindahkan zakat (ÙÙÙ Ø§ÙØ²Ùاة). Jika kita melarang pemindahan zakat âsebagaimana pendapat resmi dalam mazhab (Syafi'i)â maka kurban pun demikian. Namun, jika kita membolehkannya, maka kurban pun boleh dipindahkan. - ððð§ððð©ðð ððŠððŠ ðð¥-ðð¬ð§ðð°ð¢: Beliau membenarkan pendapat yang membolehkan pemindahan daging kurban. Beliau beralasan bahwa para ulama telah membenarkan pemindahan sedekah nazar dalam bab pembagian sedekah, dan kurban adalah salah satu bentuknya. - ððð§ððð©ðð ððð§ð® ðð¥-ððŠðð: Beliau melemahkan pendapat tersebut dan memberikan perbedaan, bahwa kurban sangat dinanti-nantikan oleh kaum fakir miskin (di daerah tersebut) karena waktunya sudah tertentu seperti zakat. Berbeda dengan nazar (umum) dan kafarat yang tidak terlalu disadari keberadaannya oleh kaum fakir sehingga mereka tidak terlalu menantinya. âªïžðððŠð¢ð§ððð¡ð€ðð§ ððð§ð/ððð§ð ðð®ð«ððð§ Adapun mengirimkan sejumlah uang dari satu daerah ke daerah lain dengan tujuan untuk dibelikan hewan kurban dan disembelih di daerah tujuan tersebut, maka hukumnya ððšð¥ðð¡. Penulis kitab ð'ð¢ð¯ð¢ðµð¶ðµð© ðð©ð¢ððªð£ðªð¯ menukil fatwa dari Mufti Syafi'iyah pada zamannya, Syekh Ahmad Zaini Dahlan, dari fatwa Imam al-Kurdi yang menyatakan bolehnya memindahkan dana tersebut. Imam al-Kurdi berdalil bahwa Nabi SAW pernah mengirimkan ð©ð¢ð¥ðºð¶ (hewan kurban) dari Madinah untuk disembelih di Makkah. Dalam ðð©ð¢ð©ðªð©ð¢ðªð¯, Ibunda Aisyah RA berkata: "ðð¬ð¶ ðºð¢ð¯ðš ð®ðŠð®ðªð¯ðµð¢ð ð¬ð¢ðð¶ð¯ðš ð¶ð¯ðµð¶ð¬ ð©ðŠðžð¢ð¯ ð©ð¢ð¥ðºð¶ ðð¢ðŽð¶ðð¶ððð¢ð© ððð ð¥ðŠð¯ðšð¢ð¯ ðµð¢ð¯ðšð¢ð¯ð¬ð¶, ð¬ðŠð®ð¶ð¥ðªð¢ð¯ ðð¢ð£ðª ððð ð®ðŠð¯ðšð¢ðð¶ð¯ðšð¬ð¢ð¯ð¯ðºð¢ ð¥ðŠð¯ðšð¢ð¯ ðµð¢ð¯ðšð¢ð¯ ð£ðŠððªð¢ð¶, ðð¢ðð¶ ð£ðŠððªð¢ð¶ ð®ðŠð¯ðšðªð³ðªð®ð¬ð¢ð¯ð¯ðºð¢ ð£ðŠð³ðŽð¢ð®ð¢ ðð£ð¶ ðð¢ð¬ð¢ð³ ðð." ððð¬ð¢ðŠð©ð®ð¥ðð§: Diperbolehkan memindahkan atau mengirimkan uang ke daerah lain untuk membeli dan menyembelih hewan kurban di sana. Wallahu a'lam. â Syeikh Said al-Jabiri Link tulisan: https://t.me/saeed_algabry/8256 ___ Catatan Tambahan: Poin ini sangat relevan bagi kita saat ini, terutama bagi yang ingin menyalurkan kurban ke daerah pelosok atau ke luar negeri melalui relawan atau lembaga sosial. Secara prinsip fikih, yang dilarang adalah memindahkan dagingnya setelah disembelih di lokasi kita, sementara jika uangnya dikirim lalu disembelih di sana, hal itu diperbolehkan. ð ððð§ðð¢ð§ðð ðð¥ðŠð®