روضة الواعظين من مقتطفات الأعيان والصالحين
СтатистикаSilahkan disebarkan jika bermanfaat dengan mencantumkan sumbernya. Instagram: https://www.instagram.com/https.alfawaaaed WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VacLaD57Noa3JNkVyt3o
- Последний пост
- 8 авг.
- Последнее чтение
- 15 авг.
- Постов за неделю
- 0
- Всего постов
- 20
- Тип
- открытый
- Язык
- индонезийский
- Категория
- Религия (по похожим)
- В каталоге с
- 13 авг.
- 1/24сутки в ленте
- 119
- 1/48двое суток
- 136
- 1/72трое суток
- 147
Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.
Посты
Di antara hal yang bikin pelajar manapun merenungkan keadaannya—mungkin hingga mengucurkan air mata adalah ketakwaan bapak dan kegigihannya dalam menuntut ilmu -dengan izin Allah- dapat tertular dan diikuti oleh anaknya. Dalam al-Jarh wa at-Ta'dīl, Abu Muhammad, Abdurrahman bin Abi Hātim menjelaskan keadaan Al-Hasan bin Yahya (Abu Rabī') Al-Jurjāni, سمعت منه مع أبي "Aku mendengar hadis darinya *bersama ayahku*." Ia adalah seorang shadūq (jujur). Sedangkan ayahku, pernah ditanya tentang keadaanya, beliau menjawab, "seorang syaikh". 'Ala kulli hāl. Karena ada lafaz samā' dr keduanya, yang bermaksud bolehnya mendengar dan mencatat hadis dari Al-Hasan bin Abi Ar-Rabī' Al-Jurjāni. [Sumber: al-Jarh wa at-Ta'dīl li Ibn Abi Hātim, jld. 3. hal. 44]
без подписи
Anugerah Cinta Seorang hamba bebas memilih untuk mencintai siapapun. Bahkan, perasaan itu cenderung semakin kuat menjadi cinta karena pandangan. Kāhil berkata tentang perlakuan orang-orang terhadapnya karena cintanya kepada Salma yang telah membelenggu jiwanya, يلومونني في حب سلمى كأنما ... يرون الهوى شيئا تيممته عمدا ألا إنما الحب الذي صدع الحشا ... بلاء من الرحمن يبلو به العبدا "Orang-orang mencelaku karena cintaku kepada Salma. Apa mereka menyangka bahwa mencintai adalah sesuatu yang kupaksakan? Padahal, rasa cinta yang membelah diri ini adalah cobaan dari Yang Maha Pengasih untuk menguji hamba-Nya." [Raudhat al-Muhibbīn wa Nuzhat al-Musytāqīn li Ibn Qayyim al-Jauziyyah, hal. 218] Ibnul Jauzi meriwayatkan dari Abdul Azīz bin 'Imrān, bahwasanya ada seseorang yang pernah curhat kepada Umar bin Khaththāb, يا أميرَ المؤمنين! إني رأيت امرأةً فعَشِقْتُها! "Wahai, Amīr al-Mu'minīn, aku pernah melihat wanita yang begitu mempesona, sehingga aku pun terpikat olehnya." Umar pun menjawab, ذاك ممَّا لا يُمْلك "Perasaan itu adalah sesuatu di luar kendali manusia." [Dzamm al-Hawa li Ibn al-Jauzi, hal. 586] Cinta bukanlah sekadar ketukan tanpa nada; ia adalah pilihan yang bertaut pada amanah. Bahkan, dapat menjadi cahaya saat bertaut pada rida-Nya, namun akan berubah menjadi belenggu nestapa saat gairahnya hanya mengejar bayang-bayang dunia, atau ketika berani menabrak pagar syariat. Oleh karenanya, Allah ta'ala berfirman, وَلَا تَنكِحُواْ ٱلۡمُشۡرِكَٰتِ حَتَّىٰ يُؤۡمِنَّۚ وَلَأَمَةٞ مُّؤۡمِنَةٌ خَيۡرٞ مِّن مُّشۡرِكَةٖ وَلَوۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡ وَلَا تُنكِحُواْ ٱلۡمُشۡرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤۡمِنُواْۚ وَلَعَبۡدٞ مُّؤۡمِنٌ خَيۡرٞ مِّن مُّشۡرِكٖ وَلَوۡ أَعۡجَبَكُمۡ "Janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun ia memikat hatimu; jangan pula kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun ia memikat hatimu." [QS. Al-Baqarah: 221] Wallahu A'lam 📝 Ibn Zuhair https://t.me/alfawaaaed
без подписи
متعب: هل تستطيع النظم ببيت على هذا المعنى كما تفعل حفظكم الله ؟ عامر بهجت: حسبك من فضائل الصلاةِ على النبيّ سيد الهداةِ بأنها سبب عرض الاسمِ عليه فليهنا الذي قد سُمٌي= لديه صلى ربنا وسلما عليهِ تفديه النفوس والدِّمَا
без подписи
𝙍𝙞𝙣𝙜𝙠𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙎𝙚𝙥𝙪𝙩𝙖𝙧 "𝙋𝙪𝙖𝙨𝙖 𝘼𝙨𝙮𝙪𝙧𝙤" 🌿 Ibnu 'Abbas radhiyallahu anhu berkata, ما رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يتحرَّى صيام يوم فضَّله على غيره إلا هذا اليوم يوم عاشوراء "Aku tidak pernah melihat Nabi ﷺ begitu semangat sengaja berpuasa pada suatu hari yang beliau istimewakan dibanding hari-hari lainnya kecuali hari Asyuro" 📚 HR Bukhari no. 2006 🌿 Dari Abu Qatadah (al Harits Bin Rab'i al Anshoriy) radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, صيام يوم عاشوراء، أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله "Puasa hari Asyuro, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa-dosa pada tahun yang lalu" 📚 HR Muslim no. 1162 🌿 Imam az Zuhri (Abu Bakar, Muhammad Bin Muslim Bin 'Ubaidullah Bin Syihab az Zuhri, w. 124 H) rahimahullah berkata, رمضان له عدة من أيام أخر، وعاشوراء يفوت، ونص الإمام أحمد على أنه يستحب أن يصام في السفر "Puasa ramadhan dapat diganti pada hari-hari yang lain, adapun puasa Asyuro tentu akan terlewatkan), dan pendapat Imam Ahmad bahwasanya dianjurkan berpuasa ketika safar. 📚 Lathaif al Ma'arif, hal. 52 ونقل عياض أن بعض السلف كان يرى بقاء فرضية عاشوراء لكن انقرض القائلون بذلك al Qadhi 'Iyadh (Abul Fadhl, 'Iyadh Bin Musa Bin 'Iyadh as Subtiy, w. 544 H) rahimahullah menukilkan bahwa sebagian salaf berpandangan (hukum puasa Asyuro) wajib, namun pendapat ini sudah tidak dijadikan hujjah lagi. ونقل بن عبد البر الإجماع على أنه الآن ليس بفرض و الإجماع على أنه مستحب Imam Ibnu 'Abdil Barr (Abu 'Umar, Yusuf Bin Abdullah Bin Muhammad Bin 'Abdil Barr al Qurthubi, w. 463 H) rahimahullah menukilkan ijma' bahwa berpuasa Asyuro dianjurkan. 📚 Fath al Bari, jilid 4, hal. 289 🌿 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (Abul Abbas, Ahmad Bin Abdul Halim Bin Taimiyyah al Harrani, w. 728 H) rahimahullah berkata, صيام يوم عاشوراء كفارة سنة، ولا يكره إفراده بالصوم "Berpuasa Asyuro dapat menghapuskan dosa-dosa setahun penuh, dan termasuk perkara yang tidak dibenci apabila melakukan puasa tersebut sendiri saja" 📚al Fatawa al Kubro, jilid 4, hal. 461 🌿 Ibnu Rajab (Abul Faraj, Abdurrahman Bin Ahmad Bin Rajab al Hanbali, w. 795 H) rahimahullah berkata, وكل ما روي في فضل الاكتحال في يوم عاشوراء والاختضاب والاغتسال فيه فموضوع لا يصح "Semua yang diriwayatkan tentang keutamaan memakai celak, memakai inai, dan mandi wajib ketika hari Asyuro tidaklah sahih. 📚 Lathaif al Ma'arif, hal. 52 ✨ Rasulullah ﷺ berpuasa pada hari Asyuro dan hari sebelumnya sebagai bentuk penyelisihan terhadap umat yahudi, حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ، وَالنَّصَارَى، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ - إِنْ شَاءَ اللَّهُ - صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ". قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. "Ketika Rasulullah ﷺ berpuasa pada hari 'Asyuro dan memerintah (para sahabat) untuk mengerjakannya, para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, sungguh hari Asyuro adalah hari yang diagungkan umat yahudi dan nasrani". Maka Rasulullah ﷺ menimpali: "Tahun depan - Inshaa Allah - kita akan berpuasa pada hari kesembilan". Abdullah Bin 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Hanya saja tahun depan belum kunjung tiba, Rasulullah ﷺ telah wafat terlebih dahulu" 📚HR Muslim no. 1134 🌿 Diriwayatkan oleh Syu'bah (Abu Yahya, Syu'bah Bin Dinar al Hasyimi) maula Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, أنه كان يصوم عاشوراء في السفر، ويوالي بين اليومين؛ خشية فواته Dahulu Ibnu 'Abbas berpuasa Asyuro ketika safar bahkan meneruskan dua hari berturut-turut khawatir akan terluput (puasa Asyuro). وكذلك روي عن أبي إسحاق أنه صام يوم عاشوراء ويوما قبله، ويوما بعده، وقال: إنما فعلت ذلك خشية أن يفوتني. Diriwayatkan pula oleh Abu Ishaq ('Amr Bin 'Abdillah as Subai'iy al Kufiy, w. 126 H) bahwa beliau berpuasa Asyuro, sehari sebelum dan setelahnya. Beliau berkata: "Sungguh, aku melakukannya khawatir akan terluput hari Asyuro" 📚 Lathaif al Ma'arif, hal. 99
Ketika mempelajari Lathāif al-Isyārāt bersama Syaikh Fida Munādzir pada pembahasan bab al-'Ām, Yahyā al-'Imrīthi (w. 1003 H) berkata, ولفظ من في عاقل ولفظ ما ... في غيره ولفظ أي فيهما "(Termasuk kata yang bersifat umum) adalah lafaz 'man' pada sesuatu yang berakal, lafaz 'ma' pada selain yang berakal, serta lafaz 'ay' digunakan untuk keduanya." 📄 Syaikh Abdul Hamīd Asy-Syāfi'i Al-Indūnīsi (w. 1335 H) rahimahullah menjelaskan, "Di antara kata yang bersifat umum adalah lafaz 'man' selain 'man' maushūfah (yang diikuti dengan sifat tertentu) yang digunakan secara umum atau merujuk kepada individu yang berakal, baik kedudukannya sebagai: 1. Syarthiyyah 2. Maushūlah Contoh: من دخل بيتي فهو آمن "Siapa yang masuk ke dalam rumahku, maka ia aman." (Terdapat 'man' syarthiyyah dan maushūlah) 3. Istifhāmiyyah Contoh: من عندك؟ "Siapa orang di sebelahmu?" Syaikh Abdul Hamīd memberikan kritik jika saja nāzhim (Yahyā Al-'Imrithi) menjadikan mathla' baitnya, ولفظ من فيمن يعلم ولفظ ما ... في غيره ولفظ أي فيهما Itu lebih baik, karena mencakup lebih luas hingga Allah ta'ala. Sebagaimana firman-Nya, ومن لستم له برازقين "(Kami ciptakan pula) makhluk-makhluk yang kalian (manusia) bukan pemberi rezeki untuk mereka." [QS. Al-Hijr: 20] 📖 Abdul Hamīd bin Muhammad 'Ali Quds Al-Makki, Lathāif al-Isyārāt ila Syarh Tashīl ath-Thuruqāt li Nazhm al-Waraqāt, hal. 72. Dār Al-Bairūti 1430 H/2009 M Dari penjelasan tersebut, Syaikh Fidā hafizhahullah melontarkan pertanyaan, "Mana yang lebih tinggi, 'āqil (orang berakal) atau 'alīm (orang berilmu)?." Beliau membawakan sebuah bait (yang dinisbatkan kepada Al-Hārits Al-Muhāsibi) tentang perdebatan ilm dan aql, علم العليم وعقل العاقل اختلفا ... من ذا الذي منهما قد أحرز الشرفا فالعلم قال أنا أحرزت غايته ... والعقل قال أنا الرحمن بي عرفا فأفصح العلم إفصاحا وقال له ... بأينـــــا الله في فرقانه اتصفا فبان للعقل أن العلم سيده ... وقبل العقل رأس العلم وانصرفا "Ilmu sang alim dan akal sang bijak berseteru. Mencari tahu, siapa yang meraih kemuliaan tertinggi. Ilmu menantang, "Aku berhasil mencapai puncak tujuan." Tak mau kalah, akal pun menyahut, "Lewat diriku, Ar-Rahmān pun dikenal (manusia)." Ilmu pun menegaskan, "Dengan apa Allah menyifati diri-Nya di dalam Al-Qur'ān?." Seketika, akal pun sadar bahwa ilmu adalah tuannya. Ia pun menyudahi dengan mencium kepala ilmu." Hal itu menegaskan, bahwa Allah disifati dengan sesuatu yang Allah sematkan untuk zat-Nya yang maha agung sebagaimana di dalam kitab-Nya, yaitu al-'Ilm. Pun termasuk di antara nama-nama-Nya adalah al-'Alīm." Wallahu A'lam 📝 Ibn Zuhair https://t.me/alfawaaaed
без подписи
без подписи
Penuntut Ilmu dan Olahraga Fisik Wahai penuntut ilmu, ketahuilah bahwa tubuhmu adalah kendaraan dalam perjalanan panjang menuntut ilmu. Jangan biarkan ia kelelahan sebelum sampai ke tujuan. Sebagaimana engkau memberi makan akalmu dengan ilmu, berilah pula tubuhmu asupan berupa gerak dan olahraga. Sebab fisik yang lemah akan menjadi beban bagi jiwa yang besar. Para ulama terdahulu menempuh padang pasir dengan berjalan kaki, menembus berbagai kesulitan demi mencari dan mengumpulkan hadis. Andai mereka tidak memiliki fisik yang kuat, tentu mereka tidak akan mencapai derajat ilmu yang mereka raih. Karena itu, olahraga bukanlah sekadar hiburan atau pengisi waktu luang, melainkan bekal yang membantu menapaki jalan ilmu yang panjang dan melelahkan. Jadikan olahraga sebagai rutinitas, sebagaimana engkau memiliki rutinitas membaca. Gerak tubuh menyegarkan hati, menjernihkan pikiran, dan membuatmu lebih kuat saat belajar dan mengkaji ilmu. Berjalanlah di pagi hari, niscaya pikiranmu lebih segar dan jiwamu lebih tenang. Latihlah otot-ototmu sebagaimana engkau menguatkan hatimu dengan zikir. Bukankah Rasulullah ﷺ bersabda bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah? Kekuatan itu mencakup semangat, tekad, dan juga fisik. Seorang penuntut ilmu tidak akan mencapai cita-citanya kecuali dengan jiwa yang berkobar, akal yang aktif, dan tubuh yang tahan menghadapi perjuangan. Karena itu, jangan meremehkan kesehatanmu. Namun jangan pula tenggelam dalam olahraga dan hiburan yang melalaikan. Niatkan olahraga sebagai ibadah, sebagai sarana untuk memperkuat diri dalam ketaatan dan kesungguhan belajar. Fida' Munadzir Abdul Lathif Catatan Ringkas | Silahkan share!
без подписи
ويلي يا ويلي كلما طالت أيامي ... بالشر كثرت آثامي يا ويلي كلما دنا أجلي ... عظمت بليتي وعنامي "Binasa diriku. Setiap kali berganti hari, justru makin bertumpuk dosa dan keburukan. Celaka diriku. Seiring dekatnya waktu kematian, makin besar pula ujian dan kepedihan hidupku." https://t.me/alfawaaaed
без подписи
Ibnul Mulaqqin juga berkata, هذا الشاهد يحتاج إلى دعائم؛ فعطية واه، وفيه معه داود بن عبد الحميد الكوفي، قال أبو حاتم: حديثه يدل على ضعفه. وقال العقيلي: روى عن عمرو بن قيس الملائي أحاديث لا يتابع عليها منها هذا الحديث. قال: وفيه رواية أخرى من غير هذا الوجه فيها لين أيضا. قلت: لعله أراد الطريقة الأولى فتلخص ضعف الأصلي والشاهد، لا جرم قال ابن أبي حاتم في «علله» : سألت أبي عن حديث سعيد هذا، فقال حديث منكر "Syāhid (hadis 'Athiyyah dari Abu Sa'íd Al-Khudri) pun membutuhkan penopang; sebab, 'Athiyyah wāhin (lemah parah), pun di dalam sanadnya ada Dāwud bin 'Abdil Humaid Al-Kūfi. Abu Hātim Ar-Rāzi berkata, "Hadis yang diriwayatkan Dāwūd menunjukkan betapa lemahnya ia." Muhammad bin 'Amr Al-'Uqaili berkata, "Dāwūd meriwayatkan hadis-hadis dari 'Amr bin Qais Al-Mulā'i yang tidak dapat ditopanh dari jalur yang lain, di antaranya adalah hadis ini. Beliau juga berujar, "Sebenarnya, hadis ini memiliki jalur periwayatan lain. Namun, sama-sama lemah parah (Layyin)." Ibnul Mulaqqin berkata, "Maksud Al-'Uqaili adalah jalur pertama (Hadits 'Imrān bin Hushain). Jadi kesimpulannya, baik hadis utama dan pendukungnya sama-sama lemah. Maka, tidak heran jika Ibn Abi Hātim berkata di dalam 'Al-'Ilal' miliknya, 'Aku bertanya ayahku (Abu Hātim Ar-Rāzi) tentang hadis Abu Sa'īd ini. Maka, Abu Hātim menjawab, "Itu adalah hadis mungkar." [al-Badr al-Munīr fi Takhrīj al-Ahādīts wa al-Atsār al-Wāqi'ah fi asy-Syarh al-Kabīr (jld. 9. hal. 313-314) li Ibn al-Mulaqqin] https://t.me/alfawaaaed
📝 Catatan Ibn Zuhair 1. Menyembelih kurban sendiri adalah sunnah sebagaimana yang diriwayatkan dari 'Urwah bin Az-Zubair dari Ummul Mukminīn, 'Aisyah radhiyallahu 'anha, أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمر بكبش أقرن، يطأ في سواد، ويبرك في سواد، وينظر في سواد. فأتي به. فقال لها: "يا عائشة! هلمي المدية". ثم قال: "اشحذيها بحجر" ففعلت. ثم أخذها، وأخذ الكبش فأضجعه. ثم ذبحه. ثم قال: باسم الله، اللهم! تقبل من محمد وآل محمد، ومن أمة محمد" ثم ضحى به. "Bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meminta untuk disediaka Kabsy (domba) bertanduk dengan karakteristik: kakinya hitam, perutnya hitam, dan matanya hitam pekat. Kemudian dibawa kehadapan beliau. Lantas, ia pun meminta Aisyah untuk membawakan pisau dan berkata, "Asah dengan batu hingga tajam." Aisyah pun melakukannya. Setelah menajamkannya, beliau mengambil pisau, merebahkan domba, lalu bersiap menyembelihnya seraya berdoa, "Bismillah. Ya Allah, terimalah ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, serta umat Muhammad. Kemudian beliaupun menyembelihnya sebagai kurban." [Sahīh Muslim no. 1967] Diriwayatkan dari Anas bin Mālik radhiyallahu anhu, ia berkata, ضحى النبي صلى الله عليه وسلم بكبشين أملحين أقرنين، ذبحهما بيده، وسمى وكبر، ووضع رجله على صفاحهما "Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkurban dengan dua domba jantan yang gemuk, berbulu putih bercampur hitam, serta bertanduk indah. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri seraya membaca basmalah dan bertakbir, sambil meletakkan kaki beliau di atas leher kedua domba tersebut." [Sahīh al-Bukhāri 5558 dan Sahīh Muslim 1966] 2. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hākim dari jalur Abu Hamzah Ats-Tsumāli dari Sa'īd bin Jubair dari 'Imrān bin Hushain - kemudian menyebutkan hadisnya -. Di dalamnya terdapat ucapan, وقولي: إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين، لا شريك له، وبذلك أمرت وأنا من المسلمين "Katakanlah (wahai, Fāthimah): Sesungguhnya salatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya. Demikian yang diperintahkan kepadaku dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya." [al-Mustadrak 'ala ash-Shahihain no. 7714] Imam Al-Hākim rahimahullah berkata, هذا حديث صحيح الإسناد، ولم يخرجاه. وشاهده حديث عطية عن أبي سعيد الذي "Hadis tersebut adalah sahihul Isnād, namun tidak dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhāri dan Muslim. Pun datang syāhid hadis tersebut dari 'Athiyyah dari Abu Sa'īd Al-Khudri - kemudian menyebutkan hadisnya tanpa ada perintah ucapan -." [al-Mustadrak 'ala ash-Shahihain no. 7715] 📄 Sirājuddīn Ibnul Mulaqqin Asy-Syāfi'i (804 H) rahimahullah berkata, قلت: فيه نظر؛ لأن في إسناده أبا حمزة الثمالي ثابت بن أبي صفية مولى المهلب بن أبي صفرة وهو ضعيف جدا . قال أحمد وابن معين: ليس بشيء. وقال ابن حبان: فحش خطؤه، وكثر وهمه فاستحق الترك "Dalam sanad hadis 'Imran bin Hushain, ada Abu Hamzah Ats-Tsumāli, nama beliau adalah Tsābit bin Abi Shafiyyah Maula (bekas budaknya) Al-Muhallab bin Abi Shafrah. Beliau sangat lemah (dha'īf jiddan). Imam Ahmad dan Yahyā bin Ma'īn berkata, "Sanadnya tidak bisa dipertimbangkan." Abu Hātim Ibn Hibban berkata, "Kesalahannya sangat parah, kerancuannya banyak, maka pantas untuk ditinggalkan."
Beberapa Sunnah Ketika Penyembelihan 📄 Al-Khathīb Asy-Syirbīni Asy-Syāfi'i (977 H) rahimahullah berkata, "Disunnahkan bagi lelaki untuk menyembelih hewan kurbannya sendiri jika memang mampu menyembelih sebagai upaya ittibā' (mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam)¹. Adapun jika yang berkurban wanita, maka yang sunnah adalah diwakilkan penyembelihannya, sebagaimana yang dijelaskan okeh Syaikh Muhyiddin An-Nawawi di dalam al-Majmū' (Syarh al-Muhadzdzab). Begitupula jika yang berkurban khuntsa (disabilitas fisik yang memiliki dua kelamin, bukan perilaku atau gaya hidup). Adapun yang belum mampu menyembelih sendiri karena uzur atau yang lainnya, maka hendaknya ia menyaksikan kurbannya. Hal itu sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hākim bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan anaknya, Fathimah radhiyallahu 'anha, يا فاطمة، قومي إلى أضحيتك فاشهديها، فإنه يغفر لك عند أول قطرة تقطر من دمها كل ذنب عملتيه "Wahai, Fāthimah. Pergi dan saksikanlah sembelihanmu. Karena sungguh, pada tetesan darah pertama yang mengalir darinya, setiap dosa yang pernah engkau lalukan akan diampuni Allah." 'Imrān bin Hushain radhiyallahu anhu bertanya, يا رسول الله، هذا لك ولأهل بيتك خاصة -فأهل ذاك أنتم- أم للمسلمين عامة؟ قال: "لا، بل للمسلمين عامة "Wahai, Rasulullah. Ini untukmu dan keluargamu khusus atau untuk kaum muslimin seluruhnya?." Beliau shallallahu alaihi wa sallam pun menjawab, "Untuk kaum muslimin seluruhnya."² 📖 Syamsuddin Al-Khatīb Muhammad bin Ahmad Asy-Syirbini Asy-Syāfi'i, al-Iqnā' fi Hall Alfāzh Abi Syujā' (jld. 2. hal. 588). Beirut: Dār Al-Fikar https://t.me/alfawaaaed
без подписи
без подписи
Besarnya Ampunan di Hari Yang Mulia 📄 Abdullah bin Al-Mubārak Al-Hanzhali (w. 181 H) rahimahullah berkisah, جئت إلى سفيان الثوري عشية عرفة، وهو جاث على ركبتيه، وعيناه تهملان، فالتفت إلي، فقلت له: من أسوأ هذا الجمع حالا؟ قال: الذي يظن أن الله لا يغفر لهم "Aku pernah mendatangi Sufyān Ats-Tsauri ketika sore hari Arafah, di mana beliau sedang bertaut dengan kedua lututnya, sedangkan air matanya bercucuran deras. Lalu, beliau menoleh ke arahku. Aku pun bertanya, "Siapa orang yang paling tidak beruntung di tengah keramaian (wukuf) sekarang ini?" Beliau menjawab, "Yaitu orang yang mengira bahwa dirinya tidak diampuni oleh Allah atas dosa-dosanya." 📖 Zainuddin Abul Farj Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbali, Lathāif al-Ma'ārif fī mā li Mawāsim al-'Ām min al-Wazhāif (hal. 632). Riyādh: Dār Ibn Khuzaimah 1428 H/2007 M 📝 Ibn Zuhair https://t.me/alfawaaaed