tgindex
penempatan | end

penempatan | end

Статистика
@aupenempatanиндонезийский

- wadah nyampah soal au (esp. penempatan) - cek pinned buat baca dari atas atau klik https://t.me/c/1899741804/18 - arsip #whatif https://t.me/whatifpenempatan

Последний пост
7 июн.
Последнее чтение
15 авг.
Постов за неделю
0
Всего постов
20
Тип
открытый
Язык
индонезийский
В каталоге с
15 авг.
Подписчики
7 952
+28 за 3 дн.
Сутки
+4
+0,05%
Неделя
 
Месяц
 
Просмотров на пост
14,1 тыс
19 постов
Вовлечённость
177,6%
к подписчикам
Постов в день
0,0
всего 20
Упоминаний
0
каналов
Охват размещения
оценка
1/24сутки в ленте
1/48двое суток
1/72трое суток

Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.

Посты

  • 7 июн.4 9103066

    без подписи

  • 2 февр.11,3 тыс23852

    2,8k (lebih panjang dikit dari yang gue hapus lol). https://forms.gle/cAp3QWBqszg7kkX59

  • 2 мая 2025 г.26,8 тыс18

    без подписи

  • 2 мая 2025 г.26,6 тыс19

    без подписи

  • 2 мая 2025 г.26,4 тыс19

    без подписи

  • 2 мая 2025 г.26 тыс19

    без подписи

  • 2 мая 2025 г.26,8 тыс86919

    Epilog 2

  • 1 мая 2025 г.22,4 тыс99217

    Epilog 1: Yang pertama kali Laksa sama Prabu kunjungi habis turun dari pesawat adalah Erafone. Bener-bener tokonya lagi siap-siap tutup. Tapi waktu Laksa sebutin merk hp yang dia mau, mereka langsung kasih karpet merah buat dia masuk. “Warna apa?” “Apapun.” “Oke.” Pas mau bayar, Prabu awalnya udah mau sodorin kartu kreditnya. Tapi Laksa cegah dan ambil dompetnya sendiri buat keluarin kartunya. Kartu kredit Laksa sekarang bisa sebelahan sama kartu kredit Prabu dan kalau ada yang pernah bilang ke Laksa ini bakal terjadi dulu, Laksa bakal ketawa sampai ngompol kayaknya. Tempat kedua yang Laksa dan Prabu kunjungi adalah mall—yang juga hampir tutup kalau bukan karena ada film tengah malam. Mereka mampir tanya ke Sports Station yang pegawainya lagi beberes. “New Balance 530 ada nggak, Kak?” Tanya Laksa. “Nggak ada, Mas,” jawab pegawainya. Jadi tempat ketiga yang Laksa sama Prabu kunjungi adalah bioskop. Bukan buat nonton, bukan. Tapi buat makan. Tiga porsi fish and chips—karena Laksa felt like he needed two portions for himself, avocado matcha, dan java tea dihidangkan di depan mereka. Waktu mau bayar, Laksa tepis tangan Prabu sebelum memberikan kartu kreditnya sendiri. Waktu makan, Laksa tanya, “lo ada sesuatu yang mau dibeli gitu nggak, Bu?” Prabu jawab, “enggak.” “Seriusan?” Laksa kekeuh. “Gimana kalau kita mampir kantor developer dan beli tan—“ “Nope.” Laksa mengangguk dan balik makan fish and chipsnya lagi. *** Prabu antar Laksa ke kosnya. Mereka belum ada kesepakatan tinggal bareng lagi, tapi sejujurnya Prabu nggak mau ninggalin Laksa sendirian di saat kayak gini. Tapi Prabu bahkan nggak tau mereka sekarang apa. Jadi di depan pintu kos Laksa, Prabu dengan canggung bergumam, “see you tomorrow, I gue—“ “Mau nginep nggak?” “Hah?” “Nginep di tempat gue,” Laksa memperjelas, “mau?” Prabu menelan ludah. Laksa sekarang beneran unpredictable maunya apa. Tapi Prabu menduga kalau ini kesempatannya buat ngejagain Laksa selama ada di masa-masa nggak enak ini jadi dia ngangguk. “Mau.” Laksa kaitkan kelingking mereka buat ajak Prabu masuk ke kamarnya. Masih rapi tanpa debu setelah ia tinggal beberapa hari itu. Prabu menatap kaitan kelingking mereka, dan mulutnya bekerja lebih cepat dibanding otaknya waktu tanya, “jadi kita ini apa?” Prabu pengen pukul bibirnya sendiri karena takut ngerusak suasana. Laksa mengangkat jemari mereka yang bertaut. Ada cincin dari Laksa yang pertama kali ia beri ke Prabu waktu ajak penempatan bareng selamanya. Cincinnya masih bagus. Bahkan setelah mereka putus pun, Prabu nggak pernah lepas cincin itu. “Let’s get married.” “Hah?!” “Akan gue perjuangkan lo dan restu nyokap lo itu,” Laksa kecup cincinnya. “So let’s get married and go the fuck out of this shitty hell hole that dares to call itself a country.” Prabu thinks Laksa is hot. Jadi alih-alih menjawab, ia bawa Laksa ke ciuman yang dalam.

  • Channel name was changed to «penempatan | end»

  • 30 апр. 2025 г.13,9 тыс94224

    2: Laksa cerita semuanya; nggak bisa kasih bukti, tapi dia cerita semuanya. Dia sama Prabu malam itu jalan kaki mengarungi ramai jakarta berdua, sementara Laksa cerita semuanya. “Gue nggak punya rumah,” Laksa menggigit bibir. “Gue—gue mau pulang kemana, Prabu? Gue nggak punya rumah…” Prabu cuma bisa jadi pendengar, nggak tau gimana harus menanggapi semua cerita Laksa. Sampai dia tahan bahunya Laksa. “Sebentar.” Langkah Laksa terhenti. Prabu berlutut di depan Laksa, lalu mengikat tali sepatunya yang longgar. Laksa bahkan nggak sadar kalau tali sepatunya udah lepas. “Laksa,” Prabu memulai sementara tangannya masih sibuk dengan tali. “Hm?” “Gue juga nggak punya rumah,” Prabu cerita sambil mengikat tali sepatu Laksa sebelah kanan. “Gue pergi dari rumah ketika mutusin kalau gue mau sakit asal itu sama lo.” Laksa memejamkan mata, membiarkan air matanya ngalir. Prabu mendongak. “Kita cari rumah bareng-bareng gimana, Sa? Kita coba lagi—berdua aja.” “But I hurt you, Prabu.” Prabu menggeleng. “Because you are hurt—and still hurting too, Laksa.” Laksa bergumam, “kalau gue sembuhnya lama gimana?” “I will be in every step, beside you,” janji Prabu. “Langkah lo mungkin bakal kecil dan tertatih, but I’m good at following you like a puppy sejak kuliah, no?” “Kalau luka gue ternyata selamanya gimana?” “Ya kita belajar hidup sama luka itu,” Prabu jawab. “Kita belajar hidup sama paitnya. Belajar hidup berdampingan sama sakitnya. Nggak pa-pa, Sa.” “Why are you so good to me?” Keluh Laksa. “I hurt you so badly but why are you so good to me? Kenapa lo mau aja ngikutin gue yang kayak gini?” Prabu berdiri. “Gue nggak akan pernah capek bilang gini; tapi gue harap lo bisa liat lo dari sudut pandang gue, Sa.” Dan itu bikin Laksa makin sedih karena Prabu bisa liat sesuatu dari Laksa yang nggak pernah bisa ibuknya liat. Yang Laksa bahagiain setengah mati aja nggak bisa liat. Jadi Laksa menutup wajahnya, menahan isak. Sementara Prabu langsung menariknya dalam pelukan. Tapi ini tangis terakhir. Besok-besok nggak akan ada lagi. Karena setelah ini Prabu sama Laksa bakal terbang balik ke Sulawesi. Terus Laksa bakal somehow nemuin kartu kredit hitam asing di dompetnya dengan notes kecil rapi dari Yangti; “Enjoy.” Dan ponsel baru. Serta hidup baru. Sama Prabu. —end.

  • 1: Prabu baru balik ke meja mereka sambil bawain dua piring nasi campur. Mereka berdua lagi makan di warteg paling sepi yang ada di sekitar RS—soalnya di sebelahnya ada Warteg Bahari yang jauh lebih ramai. Mbak-mbak wartegnya balik nonton sinetron setelah ngelayanin pilihan makanan Prabu. “Mbaknya jutek banget,” bisik Prabu, meskipun mata Laksa masih terpaku di ponselnya sendiri. “Masa habis gue pesen langsung ditinggal gitu aja? Pantesan sep—kenapa, Sa?” Laksa mengangkat kepala, menggigit bibir dengan mata berkaca-kaca. “Laksa?” Prabu letakkan piringnya di meja dan cepat-cepat tangkup pipi mantannya itu. “Kenapa? Eh, kok nangis? Kenapa?” Tapi yang Laksa lakuin habis itu bikin dia kaget: Mata Laksa masih berkaca-kaca sambil menatap Prabu, lalu ia lemparkan ponselnya sampai keluar warteg. Nggak lama, ponsel Laksa tertindas mobil yang lewat. “S-Sa?” Prabu bingung. “Kok—?” “Nyokap gue udah mati,” bisik Laksa. “Mati.” “S-serius?” Prabu langsung panik. “O-Oh God. What should we do? Balik ke RS—“ Pandangan Laksa masih jauh, nggak terjangkau Prabu. “Udah mati. Gue anggap mati.” “Laksa?”

  • Turning point.

  • без подписи

  • без подписи

  • What she said was true, after all.

  • Bu Ayu membuka mata—rasanya obat tidur dari dokter udah hilang khasiatnya. Ia membaca catatan kecil dengan tulisan tangan Laksa di meja; “Keluar sebentar, mau ketemu temen.” Akhir-akhir ini hubungannya sama Laksa emang agak kurang baik. Bu Ayu takut mati. Bu Ayu takut sama kanker yang menggerogoti tubuhnya. Tapi Laksa keliatan kayak… apa ya? Di matanya keliatan kayak nggak sepengen itu berusaha bantu. Bahkan di malam kedua Bu Ayu masuk rumah sakit, Laksa menggenggam tangannya sembari bilang, “Laksa udah nggak mampu kalau nggak pakai BPJS, Buk. Laksa urus ya? Kata dokter meskipun baru daftar masih bisa ditanggung.” Ada patah dalam hatinya ketika tau kalau anaknya sekarang udah benar-benar… nggak mampu. Kayak hidup mereka benar-benar di ujung tanduk dan Laksa udah nggak bisa bawa dia naik lagi kayak dulu. Bu Ayu mengambil selebaran pengobatan ke Singapura yang ia dapatkan dari dokternya—mencengkram lembarannya karena bahkan Singapura rasanya jauh. Nggak terjangkau. She didn’t sign up for this ketika setuju menikahi pria bangsat itu. Pikirannya masih penuh penyesalan ketika tiba-tiba gorden biliknya dibuka. Mata Bu Ayu melebar waktu sadar. Mantan mertuanya. Tersenyum. “Long time no see, Ayu.”

  • без подписи

  • 30 апр. 2025 г.10,9 тыс5858

    Bocil minta maap

  • “Kannon yang meyakinkan ayahnya buat percaya padamu,” cerita Yangti, “dia bilang, dia lebih baik menyerahkan semua jatah warisannya untukmu daripada ke kedua kakaknya.” Laksa menoleh ke Kannon nggak percaya. “Dia menganggapmu seperti kakak yang nggak pernah dia punya, kamu tau?” Yangti menyeruput tehnya lagi. “Dia tau kalau dia nggak akan sanggup mengikuti jejak ayahnya dengan keadaannya yang sekarang. Jadi dia memilih untuk mundur dan mencarimu. Anak baik, Kannon itu.” Laksa masih menatap Kannon, tapi melanjutkan pembicaraan mereka dengan Bahasa Jerman. “So that’s it? Yangti akan kasih semuanya dengan cuma-cuma? Nggak mungkin.” Yangti terkekeh. “Untukmu, aku punya proposal.” “Oke?” “Kamu akan mendapatkan lagi hakmu. Semuanya. Aku akan membawa ibumu untuk berobat bahkan sampai ke ujung dunia dan memastikan hidupnya juga cukup. Aku nggak akan memaksamu untuk, katakanlah, meninggalkan hidupmu sekarang. Kamu mau tetap kerja di kantor bergaji kecil itu? Silakan. Mau pergi dari sini? Silakan. Kamu akan selalu punya backup plan. Tapi aku punya satu syarat.” “Apa?” “Kamu harus putus hubungan dengan orangtuamu.” “Orangtua—“ mata Laksa melebar, “—termasuk Ibuk?” “Mereka parasitnya. Dan peraturan pertama di Wardoyo adalah kita harus menyingkirkan siapapun yang jadi parasit—“ “Ibuku korban!” Laksa nyaris menaikkan nadanya. “Ibuku korbanmu! Gimana bisa Yangti bilang kalau dia adalah parasit sementara dia harus hidup penuh trauma juga karena kelakuan anakmu?!” Mata Yangti menggelap. Kannon sebetulnya nggak paham mereka ngomong apa tapi it was so tense jadi dia cuma bisa menelan ludah. Kedua tangan Yangti terlipat. “Aku akui dia adalah kesalahanku dalam mendidik.” Laksa terdiam. “Tapi ibumu—dia nggak mencintai kamu kayak kamu mencintai dia, Laksa. Dia cinta sama dirinya sendiri dan cuma sama dirinya sendiri, lalu dia merepresentasikan keresahannya sama diri sendiri ke kamu. Yang korban itu kamu.” “Dia nggak kayak gitu—“ “Dia kayak gitu,” Yangti menyimpulkan. “Dan tinggal tunggu waktu sebelum kamu sadar akan hal itu.” Laksa menggeretakkan gigi karena marah. Ia langsung berdiri dari kursinya dan pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.

  • Kannon tungguin Laksa di depan kafe dengan senyum cerah di wajahnya. Ia berdiri dan melambaikan tangan, bikin Laksa sadar kalau hari ini Kannon nggak pakai kursi roda. Laksa berusaha nggak khawatir, tapi nggak bisa. “Lu beneran nggak pa-pa jalan?” “Nggak pa-pa dong.” Kannon nyengir dan dorong pelan Laksa buat memasuki pintu kafe. “Ayo masuk. Lu mau makan apa? Gue traktir—“ Kata-kata Kannon mendadak nggak kedengeran di telinga Laksa waktu dia liat kafe itu kosong melompong dan cuma diisi sama satu orang; perempuan berumur yang keliatan bersahaja di kursinya. Dari ujung rambut sampai ujung kakinya screams “duit duit duit”. Ia menyesap teh hangatnya sebelum mengerlingkan pandangan ke arah Laksa sama Kannon. Laksa menggeram ke arah Kannon. “You—“ Tapi Kannon yang sejujurnya jauh lebih besar dari Laksa menahan bahu Laksa sebelum ia berbalik. “It’s going to be okay, Bang.” It’s going to be okay matamu ini kenapa mendadak ada Yangti! adalah jeritan hati Laksa yang tertahan di kerongkongan karena Kannon keburu dorong tubuhnya buat menghampiri perempuan itu. “Long time no see, Laksa.” Perempuan itu tersenyum. “Have a seat, have a seat.” Laksa masih ragu. Tapi entah kenapa mata tajam perempuan itu bikin Laksa takut buat ngelawan. Jadi dia duduk di depannya dengan awas. Kannon, si anak baik, salim dulu selayaknya cucu ke eyangnya sebelum duduk juga dan membolak-balik buku menu. “Yangti wants to order something more nggak?” “I’m good, Sayang.” Yangti lalu mengarahkan pandangan ke Laksa. “Have your breakfast, Laksa. You look pale.” Ya gimana nggak pucet ngent— tapi Laksa tahan. “Air putih aja, Kannon,” gumam Laksa. “Air putih? Really?” Kannon keliatan khawatir. “Brownie cheesecake mereka enak banget tau, Bang—“ “Whatever.” Laksa pengen cepet-cepet selesai. “Just—order anything. I’m not picky.” Kannon keliatan ceria lagi. “Okay!” Lalu ia meninggalkan mereka berdua untuk pesan makanan. „Na, wie geht’s da, Laksa?“ Jerman. Laksa noleh ke Kannon, wondering dia bisa bahasa apa aja. Ruangan ini literally kosong dan nggak perlu pakai bahasa aneh-aneh kalau emang mau ngobrol bertiga. Kecuali kalau Kannon emang nggak diajak. Tapi Kannon kelihatannya tau diri dan sadar kalau dia nggak diajak, jadi dia lama-lamain pesen makanannya. Laksa terlalu emosional buat jawab ramah-tamah, jadi keluarnya malah, „Was brauchen Sie von Laksa, Yangti?“ “So straightforward,” Yangti terkekeh sebelum melanjutkan dengan Jerman lagi, „Das Leben ist gerade schwer für dich, oder?“ “Aku benar-benar nggak ngerti mau Yangti apa,” Laksa balas dengan Jerman juga, tapi menolak buat jawab pertanyaan Yangti-nya itu. “Untuk apa menemuiku? After all this time.” Yangti meletakkan tangannya di meja. “Aku tau hidupmu sedang berantakan, Laksa. Aku datang memberimu solusi.” “Solusi Yangti seperti Kannon?” Yangti bersandar di kursinya, sementara Kannon balik bawa pesanan Laksa; air putih dan brownie cheesecake. “Kamu bisa jadi nggak pemilih soal makanan, tapi kamu memutuskan jadi pemilih untuk hal seperti ini?” Laksa terdiam. “Kamu pikir harga dirimu akan terinjak kalau ikut Yangti?” Yangti mengangkat satu alisnya. “Kenapa kamu nggak mikir sebaliknya?” Laksa terdiam. “Ibumu sakit dan butuh uang. Restu dari orangtua pacarmu juga butuh uang. Hutang-hutangmu juga butuh uang. Bahkan air putih dan brownie cheesecake-mu,” Yangti melirik makanan Laksa, “juga butuh uang.” “Tapi kenapa sekarang?” Laksa masih nggak habis pikir. “Kenapa tiba-tiba?” “Nggak tiba-tiba,” Yangti tersenyum tipis. “Aku mengamatimu bertahun-tahun sampai mendapat kesimpulan kalau kamu nggak akan sedestruktif ayahmu—then here I am.” Laksa terdiam. “Nggak ada yang percaya sama Yangti soal kamu, jadi agak sulit buat memutuskan ini. But our little anak baik right here,” Yangti mengacak rambut tebal Kannon yang terlihat nggak peduli sama percakapan mereka—ya gimana mau peduli kalau mereka sengaja ngomong pakai bahasa yang nggak dia tau? “Been a very big help. Right, Sayang?” Kannon mengangkat bahu sambil mengunyah croissant-nya.