BEDAH KITAB
СтатистикаPembina: Muhammad Habibullah Lc. MA Semua konten bebas untuk Share
- Последний пост
- 14 авг.
- Последнее чтение
- 15 авг.
- Постов за неделю
- 5
- Всего постов
- 22
- Тип
- открытый
- Язык
- индонезийский
- Категория
- Религия (по похожим)
- В каталоге с
- 13 авг.
- 1/24сутки в ленте
- 103
- 1/48двое суток
- 118
- 1/72трое суток
- 127
Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.
Посты
видео или голосовое, без подписи
Tidak ada manfaat dari sebuah ponsel yang tidak digunakan untuk menyebarkan ilmu syar‘i. Karena sesungguhnya menyampaikan ilmu adalah tugas para nabi. Lalu apalagi yang kalian tunggu?! Ambil segera kesempatan itu... Penuhilah ruang-ruang media sosial/internet dengan seruan-seruan tentang syariat Allah, tentang tauhid, Aqidah yang benar dan ajakan kepada Sunnah Imbangilah suara-suara kebatilan dan kebid'ahan, yang semakin banyak tersebar, hingga kebenaran akan tampak dengan jelas.
◾ HUKUMAN DARI DOSA ADALAH DIBIARKAN BERBUAT DOSA LAGI ◾ Seseorang yg berbuat dosa dan maksiat lalu dia tidak Bertaubat, apalagi dosa itu dilakukan Berkali-kali niscaya Allah akan memberikan hukuman dengan diberikan kemudahan, dan dibukakan kesempatan baginya utk mengerjakan dosa kembali ! Allah 'Azza wa Jalla berfirman : "Maka tatkala mereka telah "melupakan peringatan" yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua "pintu-pintu Kesenangan" untuk mereka. Hingga apabila mereka itu "Bergembira" dgn apa yang 'diberikan' kepada mereka Kami siksa mereka dengan se-konyong² maka saat itu mereka terdiam Berputus Asa" (QS. Al-An’aam [6]: 44) Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata : "Dan termasuk dari balasan kesalahan /dosa adalah (mengerjakan) kesalahan /dosa setelahnya" (Kitab Tafsiir Al-Qur’an Al-‘Azhiim VII/583) Abul Hasan al-Muzayyin رحمه الله brkta : "Dosa setelah dosa itu adalah hukuman atas dosa" (Shifatus Shafwah I/442) Imam Ibnul Jauzi رحمه الله berkata : "Seringkali orang yang suka bermaksiat melihat keselamatan badan & hartanya. Sehingga dia menganggap bahwa tiada hukuman baginya padahal Kelalaiannya terhadap hukuman yg "Telah Menimpa" dirinya itu sebenarnya adalah hukuman. Sebagian Ahli Hikmah itu telah berkata: Maksiat setelah maksiat itu merupakan Hukuman Maksiat" (Shaidul Khathir 98)
🖊️📌 “Bukanlah yang disebut keterasingan itu sekadar berpisah dari keluarga dan tanah air, atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Sesungguhnya orang yang benar-benar asing adalah dia yang mengamalkan Sunnah dan Al-Qur’an, namun tidak menemukan siapa pun yang membantunya dalam hal itu. Maka ia pun menjadi asing di tengah manusia, tetapi dekat di sisi Allah dan Rasul-Nya.” 📚 Idrīs at-Turkumāni, al-Luma‘ fī al-Ḥawādits wal-Bida‘ (hlm. 584)
◼️ 'BERSIHKAN DIRI' DARI DOSA DGN KETAATAN2, SEBELUM DIBERSIHKAN DENGAN MUSIBAH2 SERTA ADZAB ◼️ Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata : "Para pendosa memiliki "3 sungai besar", dimana mereka dpt membersihkan dosa mereka (selama mereka hidup) di Dunia. Apabila 3 sungai tersebut belum mampu "Membersihkan" mereka ; maka mereka akan 'dibersihkan' di sungai Neraka pada hari Kiamat nanti. Tiga sungai dunia tersebut adalah : ●》Sungai (dlm bentuk) 'Taubat Nasuha' ●》Sungai (dlm bentuk) Amal2 Kebaikan yang dapat menenggelamkan dosa-dosa ●》Sungai (dlm bentuk) "musibah besar" yang dapat menggugurkan dosa-dosa Jika Allah Menghendaki "Kebaikan" Bagi Seorang Hamba-Nya, maka ALLAH akan "Memasukkannya" ke Salah Satu Sungai tersebut. Lantas, dia akan datang dalam keadaan suci pada hari kiamat sehingga dia Tdk Butuh untuk dibersihkan dengan Sungai Yang Ke-4 (yaitu Sungai Neraka)" (Kitab Madaarijus Saalikiin I/64)
Syekh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله berkata: “Mengalungkan Al-Qur’an kepada orang yang sakit atau kepada anak-anak, semuanya *tidak diperbolehkan menurut pendapat ulama yang paling kuat.* Sebagian ulama memang membolehkan hal tersebut, *tetapi tidak ada dalil yang mendukungnya.* Pendapat yang benar adalah bahwa *tidak boleh mengalungkan Al-Qur’an, dan juga tidak boleh mengalungkan doa-doa atau hadis-hadis, baik kepada anak-anak maupun kepada orang sakit lainnya, atau kepada orang yang sudah lanjut usia.* Hal ini karena Rasulullah ﷺ *melarang penggunaan tamimah (jimat).* Tamimah adalah sesuatu yang dikalungkan kepada anak-anak maupun orang dewasa. *Tamimah juga disebut hirz (pelindung/jimat) dan hijab.* Maka, pendapat yang benar adalah bahwa hal tersebut *tidak diperbolehkan,* berdasarkan sabda Nabi ﷺ: *"Barang siapa yang menggantungkan tamimah (jimat), semoga Allah tidak menyempurnakan urusannya.”* “Barang siapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka sungguh ia telah berbuat syirik.” *“Sesungguhnya ruqyah, tamimah (jimat), dan tiwalah adalah syirik.”* > 📚Fatawa Nur ‘ala ad-Darb — Situs Resmi Syekh. 🖇 https://t.me/almshkatf _مَثابَة.
Berkata Syaikh ibnu 'Utsaimin رحمه الله: "Di antara nikmat Allah yang paling besar kepada seorang hamba adalah ketika Allah menurunkan ketenangan ke dalam hatinya. Dengan itu, ia menjadi tenang, tidak gelisah dan tidak pula resah, ridha terhadap ketetapan dan takdir Allah. Bersama Allah عز وجل dalam menerima keputusan dan takdir-Nya: jika ia ditimpa kesulitan, ia bersabar dan menanti pahala dari Allah. Jika ia memperoleh kelapangan dan kenikmatan, ia bersyukur serta memuji Allah atas nikmat tersebut. Hatinya pun tetap tenang, dan tenteram. Ketenangan (as-sakinah) ini merupakan nikmat yang sangat agung. 📚 Syarah Riyadhusshalihin*
◾ *20 KIAT KHUSYU SAAT SHALAT* ◾ *Allah 'Azza wa Jalla berfirman :* "Pelihara semua shalat & shalat wustha. Dan laksanakanlah (SHALAT) itu karena Allah dgn khusyu" (QS. Al-Baqarah: 238) *Adapun beberapa kiat agar bisa khusyu' saat shalat di antaranya adalah :* [01]. Mengetahui keutamaan dan pahala serta keberuntungan orang yang khusyu' [02]. Mengetahui ancaman bagi orang yang tidak mau berusaha untuk khusyu' [03]. Yakin kepada Allah 'Azza wa Jalla [04]. Senantiasa ikhlas dalam beribadah [05]. Variasikan bacaan saat baca doa istiftah, setelah al-Fathihah, dzikir saat ruku', sujud, i'tidal serta tasyahud [06]. Berlindung kpd Allah dari gangguan syaithan dan dari hati yang tidak khusyu' [07]. Kosongkan pikiran dari dunia dan kesibukan, diisi dengan dzikrullah kira2 10 menit sebelum dimulainya shalat [08]. Memilih pekerjaan yg halal, karena makan harta yang haram menyebabkan doa tidak terkabul dan kekhusyu'an sirna [09]. Jika shalat berjama'ah, "usahakan" di belakang imam yg bacaannya bagus, dan makmum merasakan rasa takutnya kepada Allah 'Azza wa Jalla [10]. Merasa selalu diawasi Allah dalam setiap "gerak serta diam" ketika shalat [11]. Menyesuaikan dengan sunnah Nabi ﷺ dalam "bacaan serta gerakan" shalat [12]. Singkirkan hal2 yang mengganggu konsentrasi, sajadah warna/i, berisik dll [13]. Membaca al-Qur'an dengan "Tartil" [14]. Mengulang-ngulang ayat, berusaha merenungi makna serta tafsirnya [15]. Meninggalkan "dosa dan maksiat", seperti mengumbar pandangan mata dll [16]. Adanya perasaan cinta serta rindu untuk berjumpa dengan Allah Ta'ala [17]. Takut apabila shalat tidak diterima [18]. Takut akan pedihnya adzab Allah [19]. Membaca sirah orang2 yg shalih terkait dgn dahsyatnya shalat mereka [20]. Shalat seperti orang yang hendak mati
BAHAYA CHAT NON MAHRAM TANPA UDZUR Dia ngetiknya pake jari....Eeh kamu nya baca pake hati. Ada saja pihak dimana yg satu biasa² saja, dan yang satunya diam² menyimpan rasa. Merasa dispesialkan padahal hanya menjadi salah satunya. Pada akhirnya kenyataan datang, yang berharap pun tersakiti. Sedangkan yang diharapkan tidak merasa bersalah sama sekali. Maka, untukmu yang tengah berharap, jika kamu bertanya kenapa dia biasa² saja, maka jawabannya adalah dia memang tidak punya perasaan apa² padamu. Setiap balasan yang diketik hanyalah apa adanya dia. Leluconnya yang kamu terima pun karena memang orangnya seperti itu, trus kamu mau berharap apa? Sering chat bukan berarti suka kan? Jadi sekarang kamu mengerti? Berbalas pesan pada dia yg bukan milikmu hanya akan membuang waktu, membuat hatimu berharap lalu terjatuh. Hanya bikin imanmu runtuh. Maka sudahilah.. Mulai sekarang jaga dirimu, hatimu dari apa yang merusaknya, kamu mahal, pantaskah dihancurkan hanya karena pesan yg bahkan bisa diketik tanpa perasaan? Memakai emot cinta dan manja padahal hanya iseng saja? Maaf, hatimu tak semurah itu. Maka jadilah kamu berlian, bukan botol minuman yang setelah diteguk, habis lalu dibuang
tak sesuai harapan kisah seorang ikhwah.. yang amat mencintai istrinya.. namun istrinya tak mencintainya.. ia mengharapkan lelaki lain.. yang lebih darinya.. wanita itu telah pandai bahasa arab.. sementara suaminya.. hanya memahami bahasa indonesia.. wanita itu telah lama mengaji.. sementara suaminya.. sibuk membanting tulang mencari nafkah.. tuk membahagiakan kekasihnya.. wanita itu telah banyak menghafal al qur'an.. sementara suaminya tak banyak bisa menghafal.. mungkin.. kini suaminya sudah tak berharga di matanya.. mungkin.. kini cintanya telah pudar di hatinya.. karena tak sesuai harapannya.. demikianlah.. kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan.. karena istrinya tertipu oleh kepintarannya.. ilmu tak membuatnya semakin sayang pada suaminya.. ilmu tak membuatnya semakin berbakti kepada suaminya.. ilmu membuatnya angkuh.. tak ada lagi cinta dihatiku kilahnya.. saudariku.. engkau boleh lebih berilmu dari suamimu.. tapi mungkin suamimu lebih takut kepada allah darimu.. engkau boleh punya banyak kelebihan di atas suamimu.. tapi suamimu.. mungkin lebih dicintai oleh rabbmu karena ketawadlu'annya.. ↪ al hasan al bashri rahimahullah berkata : " ilmu itu bukanlah dengan banyak menghafal riwayat namun ilmu adalah yang menimbulkan rasa takut kepada allah." dimanakah hadits yang telah engkau hafal, "suamimu adalah surgamu atau nerakamu.." ya rabb.. berilah kami ilmu yang bermanfaat.. ✒ ditulis oleh : _ustadz abu yahya badrusalam, lc._ حفظه الله تعالى
◼️ IBADAH TAPI HATINYA BURUK ◼️ "Tidak sedikit" dari kaum muslimin yang beribadah tapi tidak berdampak kepada hatinya. Sudah selayaknya semakin byk ibadah, maka menjadikan Hati Semakin Bersih dan terhindar dari penyakit2 hati. Terkadang ibadah, namun bersikap Ujub (ber-bangga² dgn apa yg dilakukan) atau sombong dengan menolak Kebenaran & tidak mau dinasehati atau tujuan ibadah Semata-mata ingin Mendapatkan Pujian dan Ketenaran atau beribadah tapi tidak berdasarkan ilmu, contoh dan tuntunan. Imam Ibnul Jauzi رحمه الله berkata : "Betapa banyak orang yang terlihat giat dalam ibadah 'memperbanyak' shalat & puasa. Tetapi dia tidak memperhatikan kebaikan hatinya. Terkadang di hatinya terdapat ujub, sombong, riya, nifaq dan jahil terhadap "ilmu" tapi dia tdk pernah merasakannya. Dan ini adalah penyakit yang tidak ada obatnya kecuali dengan "melatih diri" dengan ilmu (mensucikan "jiwa") agar dia dpt mengobati penyakit "hatinya". Ibadah menjadi bermanfaat & pengaruhnya akan terasa hanya dengan memperbaiki hati" (At-Tabshirah II/208)
Dari Mujib bin Musa al-Aṣbahani, ia berkata: "Aku pernah menjadi penunjuk jalan bagi Sufyan ats-Tsauri menuju Makkah. Beliau sering menangis. Maka aku berkata kepadanya, *Wahai Abu 'Abdillah apakah tangisan ini karena takut terhadap dosa-dosa?* Beliau menjawab, Ambillah sebatang ranting dari pelana itu, lalu lemparkan. Aku pun mengambilnya dan melemparkannya. *Kemudian beliau berkata,* *Dosa-dosaku lebih ringan bagiku daripada ini Akan tetapi yang paling aku takutkan adalah jika aku dicabut (wafat) dalam keadaan kehilangan tauhid.* > 📚Akhbār Aṣbahān karya Abū Nu'aim, no. 1923. _مثابة.
◾ 8 SYARAT TAUBAT NASUHA !!! ◾ Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : (1). "Wahai orang-orang yang beriman !! "BERTAUBATLAH" kepada Allah dengan Taubat Nasuha" (QS. At-Tahrim [66]: 8) (2). "Dan bertaubatlah kamu semua kpd Allah, Wahai orang-orang yang Beriman, agar kamu Beruntung" (QS. An-Nur : 31) (3). "Dan barangsiapa yang mengerjakan "kejahatan, dan menganiaya dirinya", lalu dia mohon ampun kepada Allah, niscaya dia dapati Allah "Maha Pengampun", lagi Maha Penyayang" (QS.An-Nisaa' [4]: 110) Setiap Manusia Pasti ia pernah Berbuat Dosa & Kesalahan Sepanjang Hidupnya. Maka wajib bagi mereka utk "bertaubat" kepada Allah Ta'ala, dan Tidak berputus asa dari Rahmat-Nya yang Sangat Luas. Karena Sebanyak apapun Dosa yg Telah dilakukan seorang hamba, maka ALLAH Tetap akan Mengampuninya Selama dia bertaubat dengan cara Taubat Yg Benar. Agar taubat diterima Allah, hendaknya seseorang itu melaksanakan 8 syarat : (1). Menyesali "dosa-dosa" yg dilakukan, Sehingga Tdk Ingin Mengulangi Kembali (2). Istighfar (memohon ampun) kepada Allah atas Dosa2 yang pernah dilakukan (3). Berniat dan bertekad untuk tidak lagi mengulangi perbuatan dosa dan maksiat (4). "Meminta Maaf" kepada orang yang pernah dizhalimi, atau disakiti, dan juga mengembalikan barang orang lain yang pernah diambil (5). Taubat dilakukan pada waktu masih terbukanya peluang untuk "Diterimanya" taubat, yaitu "sebelum ruh" itu sampai di kerongkongan, atau sebelum "Matahari" terbit dari arah barat, atau saat sebelum datangnya "ADZAB" hukuman dari Allah (6). Memperbanyak amal setelah taubat "Dan barangsiapa yang telah "bertaubat" dan juga telah mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia telah bertaubat kepada Allah dengan Taubat Nasuha (yg Sebenar-Benarnya)" (QS. Al-Furqan : 71) (7). Taubat itu dilakukan dengan "ikhlas", bukan karena "makhluk / tujuan duniawi" (8). Seseorang Yang Pernah "MENYERU" kepada kesesatan lalu diikuti oleh orang lain, hendaknya dia pun "mengumumkan taubatnya, & menjelaskan kesalahannya" "Kecuali mereka yang telah BERTAUBAT, telah mengadakan perbaikan, dan (juga) Menjelaskan (Kebenaran), maka mereka itulah yang Aku "TERIMA" taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang" (QS. Al-Baqarah : 160) Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata : ولهذا كان من توبة الداعي إلى البدعة أن يبين أن ما كان يدعو بدعة وضلالة وإن الهدى في ضده "Oleh karena itu, di antara bentuk taubat penyeru bid'ah adalah dia "Menjelaskan" bahwa apa yang pernah dia 'seru' adalah kebid'ahan & kesesatan, & Bertentangan dengan petunjuk" ('Uddatus Shabirin 55) Wahai Saudaraku... Laksanakanlah 8 Syarat Utk Diterimanya taubat seperti di atas dan bergembiralah dengan sabda Nabi صلى الله عليه و سلم : "Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang Tidak punya dosa" (HR. Ibnu Majah dan ath-Thabrani, hadits dari Ibnu Mas'uud, Shahiihut Targhiib no. 3145)
Mereka dahulu bersama Al-Qur’an, sebagaimana kita hari ini bersama gadget Perhatikan keadaan kita sekarang! - Setelah shalat, tangan segera meraih ponsel; - Sebelum shalat, ponsel pula yang lebih dulu disentuh; - Sebelum tidur, saat bangun tidur, di perjalanan, di meja makan, bahkan di sela-sela percakapan—gadget menjadi teman setiap momen, tak lepas dari genggaman dan pikiran. 🌧 Adapun keadaan para salaf bersama Kitabullah, mereka membuka hati dengan Al-Qur’an, dan tak pernah merasakan kesempitan kecuali sebuah ayat melapangkannya. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan barangsiapa berpaling dari mengingat-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Ṭāhā: 124) Hari ini kita mengeluhkan kegelisahan dan kesedihan, ujian terasa semakin berat, namun kita lupa bahwa kita nyaris tidak memberi Al-Qur’an kecuali sisa-sisa waktu. Padahal, membaca satu juz hanya membutuhkan sekitar setengah jam—namun ia mampu melapangkan dada dan menerangi jalan.
◼️ HUKUMAN ATAS DOSA "TERJADI", MESKI DILAKUKAN 40 TAHUN LALU ◼️ Allah 'Azza Wa Jalla berfirman : "Dan tinggalkanlah dosa yg terlihat, atau pun yang tersembunyi. Sungguh, orang2 yg mengerjakan (perbuatan) dosa 'kelak' akan diberi balasan sesuai dgn apa yang mereka kerjakan" (QS. Al-An'aam [6]:120) Hukuman dari Allah Tidak Selalu berupa musibah & kesulitan. Bisa jadi hukuman itu berupa kesenangan dan nikmat yang membuatnya semakin jauh dari ALLAH. Dan sering sekali Allah Tdk langsung utk memberikan 'Hukuman Atas Maksiat' Yg Dilakukan, namun 'dampak' dari maksiat bisa saja terjadi "setelah beberapa lama" dan seseorang sudah lupa dgn dosanya. Bisa jadi karena dia tidak juga Bertaubat, atau dia bertaubat namun Tidak Nasuha, atau taubatnya sudah nasuha, kemudian Allah gugurkan dosa2-nya dengan sebab "kesabaran" menghadapi ujian & cobaan. Al-Hakam bin 'Utaibah رحمه الله berkata : إذ كثُرَت ذنوبُ العبدِ و لم يكن له من العمل ما يُكفِّر ذنوبه ابتلاه الله بالهم يكفر به ذنوبه "Jika hamba memiliki dosa yang Banyak, sementara amalannya tidak cukup untuk 'Menghapuskan' dosa-dosanya itu, maka Allah akan memberikan kepadanya Ujian utk menghapus dosa-dosanya" (Syu'abul Iman no. 9457) Hukuman dari Allah Tidak Selalu berupa musibah & kesulitan. Bisa jadi hukuman itu berupa kesenangan dan nikmat yang membuatnya semakin jauhdari ALLAH. Sufyan ats-Tsauri رحمه الله berkata : حرمت قيام الليل بذنب أحدثته منذ خمسة أشهر "Aku tidak dapat melaksanakan qiyamul lail disebabkan oleh 'DOSA' yg telah aku lakukan 5 bulan lalu" (Al-Hilyah VII/17) Suatu hari Kurz Bin Wabirah didapatkan Sedang Menangis. Kemudian ketika dia ditanya apa penyebabnya, maka dia pun lantas berkata > "Tadi Malam Aku Gagal membaca al-Qur'an seperti biasanya, itu semuanya gara-gara 'Satu dosa' yg telah aku kerjakan" (Shifatus Shafwah III/122) Muhammad bin Siiriin رحمه الله berkata : إِنِّي لَأَعْرِفُ الذَّنْبَ الَّذِي حُمِلَ عَلَيَّ بِهِ الدَّيْنُ مَا هُوَ، قُلْتُ لِرَجُلٍ مِنْ أَرْبَعِينَ سَنَةً: يَا مُفْلِسُ "Sesungguhnya aku mengetahui sebuah dosa yg membuatku pada saat ini terlilit hutang...! 40 tahun yang lalu aku pernah memanggil seseorang dengan ucapan : "Wahai orang yang bangkrut !" Lantas, diceritakan perkara tersebut kpd Abu Sulaiman Ad-Daaraani. Kemudian ia berkata : "Dosa mereka sedikit, sehingga mereka mengetahui dosa manakah yang telah 'menyebabkan' datangnya musibah yg menimpa mereka. Sedangkan dosaku dan dosamu 'banyak' sehingga kita tidak tahu dosa 'manakah' yang menyebabkan datangnya musibah yang telah menimpa kita" (Shifatus Shafwah III/246) "Abu Abdillah Bin al-Jalla' pernah suatu saat tdk menjaga pandangan matanya. Kemudian Datang Seseorang Menegur, lalu berkata kepadanya > "Engkau akan merasakan akibatnya walaupun di hari kelak dan ia baru merasakan akibatnya 40 tahun setelah dari kejadian tersebut. Lantas ia berkata: "Maka aku menemui akibat perbuatanku Setelah 40 TAHUN aku pun menjadi lupa" (akan ayat-ayat) al-Qur’an" (Dzammul Hawaa hal 76) Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata : لا تغترّ إذا لم تر أثر ذنبك في حينه، فقد تجد أثره بعد أربعين سنة ! "Janganlah Engkau Tertipu saat engkau tdk mendapati pengaruh dosamu waktu engkau melakukan dosa itu. 'Terkadang' engkau akan merasakan pengaruh dosa itu Setelah 40 Tahun" (lihat Ad-Daa' wad Dawaa' hal 130) قَدْ لَا يُؤَثِّرُ الذَّنْبُ فِي الْحَالِ "Demikianlah, terkadang efek dosa tidak menimpa secara langsung" (Ad-Daa' Wa ad-Dawaa' 1/53) Imam Ibnul Jauzi رحمه الله berkata : قد تأخر العقوبة و تأثي في آخر العمر، فيا طول التعثر مع كبر السن لذنوب كانت في الشباب "Terkadang hukuman itu "Ditunda", dan akan datang di "akhir umur" seseorang. Duhai Betapa Lamanya Kesulitan yang akan dihadapi bersamaan dengan usia yang sudah renta, karena dosa-dosa di masa muda" (Shaidul Khaathir hal 315)
Ucapan Salaf Dan Ucapan Kita Abdullah bin Al-Mubarak رحمه الله berkata, Hamdun bin Ahmad pernah ditanya, ما بال كلام السلف أنفع من كلامنا “Mengapa ucapan para salaf lebih bermanfaat daripada ucapan kita?” قال: لأنهم تكلموا لعز الإسلام ونجاة النفوس ورضا الرحمن، ونحن نتكلم لعز النفوس وطلب الدنيا ورضا الخلق Beliau menjawab, “Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa dan keridhaan Ar-Rahman. Sedangkan kita berbicara untuk kemuliaan diri, mencari dunia dan keridhaan manusia.” 📚 Shifatush Shafwah (4/122)
◼️ SAAT HIDAYAHNYA DICABUT ◼️ Seseorang yg di "awalnya" mendapatkan Hidayah bisa jadi setelah itu dia menjadi sesat & hidayah pun "dicabut" oleh Allah. Kenapa bisa demikian, & apa sebabnya ? Imam 'Abdul Aziz bin Baaz berkata : إما أنه لم يسأل الله الثبات ، أو أنه لم يشكر الله على الإستقامة، فحين اختارك الله لطريق هدايته، ليس لأنك مميز أو لطاعةٍ منك، بل هي رحمة منه شملتك، قد ينزعها منك في أي لحظة، لذلك لا تغتر بعملك ولا بعبادتك، ولا تنظر باستصغار لمن ضلّ عن سبيله، فلولا رحمة الله بك لكنت مكانه "Mungkin dia Tidak Pernah meminta kpd Allah utk diteguhkan (di atas kebenaran), atau dia Tdk Bersyukur setelah diberikan keistiqomahan oleh Allah. Pada saat Allah telah "Memilihmu" untuk berjalan di atas jalan Hidayah-Nya, maka hal itu bukanlah karena keistimewaanmu atau karena "Ketaatanmu", melainkan itu adalah rahmat dari-Nya yang meliputimu. Allah dapat "Mencabut" Rahmat tersebut kapan saja darimu. Karena itu, janganlah engkau "Tertipu" dengan amalanmu, dan juga ibadahmu. Dan jangan engkau memandang "remeh" orang yang tersesat dari jalan-Nya. Kalau bukan Karena "Rahmat Allah" kepadamu, niscaya posisimu itu akan SAMA dengan orang yang tersesat itu" Ya Allah, berikan kepada kami HIDAYAH, & jadikan kami Berpegang Teguh di atas kebenaran dan istiqomah di jalan-Mu.....
📌 LIHAT DENGAN SIAPA GURUMU BERGAUL Al Imam Al-A'msy rahimahullahu berkata, "Dahulu generasi salaf tidak lagi bertanya tentang seseorang setelah mengetahui tiga hal tentang dirinya: teman berjalannya, teman bergaulnya, dan teman dekatnya." Al Ibanah Al-Kubro, no. 419
Betapa banyaknya mimpi dan harapan yang pernah dibawa oleh tengkorak ini.. Dan betapa dahulu tubuh ini berjalan dengan penuh kesombongan di tengah manusia. Ia pernah memiliki nama, nasab, harta, dan mungkin juga wibawa atau kedudukan yang membuat semua orang segan kepadanya. Namun hari ini, tidak tersisa dari semua itu kecuali tulang-belulang yang diam, yang menyampaikan nasihat terbesar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dunia tidak akan kekal bagi siapa pun. Keindahan akan layu, harta akan sirna, jabatan akan lenyap, dan nama-nama akan dilupakan. Yang akan tetap menemani seseorang di dalam kuburnya hanyalah amal saleh. Maka barang siapa menginginkan keabadian, hendaklah ia meninggalkan jejaknya dalam kebaikan dan mempersiapkan bekal untuk suatu hari yang tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat.”
*HILANGNYA NIKMAT IBADAH..*◾ (1). *Dzun Nun رحمه الله telah berkata* : "Jasad sakit karena penyakit, dan hati sakit dikarenakan dosa. Maka sebagaimana jasad itu tidak akan dapat utk merasakan lezatnya makan ketika sakit, begitu pula dengan hati, dia tidak akan mampu mengecap nikmatnya ibadah karena berbagai dosa" (Lihat Shifatus Shafwah IV/316) (2). Wuhaib bin al-Warad رحمه الله ditanya* : "Apakah orang yang melakukan maksiat itu bisa merasakan nikmatnya beribadah ?" Dia menjawab : "Tidak", begitu pula bagi orang yang di dalam hatinya *"TERBESIT"* keinginan untuk melakukan maksiat" (Dzammul Hawaa hal 196 oleh Imam Ibnul Jauzi). (3). *Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata :* "Tidaklah seorang hamba yang melakukan sebuah dosa, melainkan akn lenyap darinya sebuah kenikmatan dari Allah Ta'ala sesuai dengan besarnya dosa tersebut. Maka jika dia bertaubat serta kembali kepada Allah, niscaya nikmat tersebut atau yang semisal dengannya akan kembali kepadanya. Namun apabila dia terus menerus melakukan dosa, niscaya nikmat tersebut tidak akan kembali kepadanya serta dosa-dosa itu akan terus nanti melenyapkan sebuah kenikmatan dari seorang hamba hingga mencabut semua kenikmatan" (Thariiqul Hijratain hal 271) ✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar https://telegram.me/najmiumar ✒ Editor : Admin Asy-Syamil.com Collab series : @reelssunnah x @thequran_path