- Последний пост
- 10 авг.
- Последнее чтение
- 15 авг.
- Постов за неделю
- 10
- Всего постов
- 20
- Тип
- открытый
- Язык
- und
- Категория
- Религия (по похожим)
- В каталоге с
- 13 авг.
- 1/24сутки в ленте
- 98
- 1/48двое суток
- 112
- 1/72трое суток
- 121
Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.
Посты
✧○ꊞ○ꊞ○•̩̩͙✩•̩̩͙○♡๑•୨୧ ୨୧•๑♡○•̩̩͙✩•̩̩͙○ꊞ○ꊞ○✧
Senin , 10 Agustus 2026 / 27 Safar 1448 H Bahaya Riyaa’ (Syirik Kecil) قال رسول الله ﷺ: «إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكَ الأَصْغَرُ» قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللهُ ﷻ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جَزَى النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاؤُونَ فِي الدُّنْيَا، فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً» — رواه أحمد Rasūlullāh ﷺ bersabda: “Sesungguhnya perkara yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasūlullāh ﷺ, apakah syirik kecil itu?” Beliau ﷺ menjawab: “Yaitu riyaa’. Pada hari kiamat Allah ﷻ berfirman kepada mereka (yang berbuat riyaa’), ketika manusia diberi balasan atas amal-amal mereka: ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu kalian ingin pamer kepada mereka di dunia, lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka.’” (HR. Ahmad) Pelajaran dari Hadits Riyaa’ termasuk syirik kecil, namun bahayanya sangat besar karena bisa merusak amal. Amal yang disertai riyaa’ tidak diterima oleh Allah ﷻ. Riyaa’ adalah penyakit hati yang sering samar, sehingga seorang mukmin wajib berhati-hati. Ancaman bagi pelaku riyaa’ di akhirat: tidak mendapatkan balasan apa-apa kecuali kehinaan. Ayat Al-Qur’an yang Terkait Allah ﷻ berfirman: ﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾ (الكهف: 110) “Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Kahf: 110) •Al-Fuḍail bin ‘Iyāḍ رحمه الله berkata: “ترك العمل لأجل الناس رياء، والعمل لأجل الناس شرك، والإخلاص أن يعافيك الله منهما.” “Meninggalkan amal karena manusia adalah riyaa’, beramal karena manusia adalah syirik, dan ikhlas adalah ketika Allah ﷻ menyelamatkanmu dari keduanya.” (Ibn Rajab, Jāmi‘ al-‘Ulūm wal-Ḥikam) •Ibnul Qayyim رحمه الله berkata: “أعظم ما يُبتلى به العبد هو الرياء، فإنه يحبط العمل ويُسخط الرب.” “Musibah terbesar yang menimpa seorang hamba adalah riyaa’, karena ia membatalkan amal dan mendatangkan murka Rabb.” (al-Fawāid) Riyaa’ sangat halus, bahkan bisa bercampur dengan amal tanpa disadari. Obat riyaa’ adalah selalu mengingat Allah ﷻ, menyembunyikan amal shalih sebisa mungkin, dan memperbanyak doa agar diberi keikhlasan. Para salaf lebih takut riyaa’ dalam amal mereka dibandingkan dosa besar, karena riyaa’ bisa menghancurkan amal yang banyak. اللَّهُمَّ اجعل عملنا كلَّه صالحًا، واجعله لوجهك خالصًا، ولا تجعل لأحد فيه شيئًا. “Yā Allāh, jadikanlah seluruh amal kami shalih, dan jadikan ia ikhlas hanya untuk wajah-Mu, serta jangan Engkau jadikan untuk seorang pun di dalamnya bagian.” Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Ahad , 9 Agustus 2026 / 26 Safar 1448 H Sunah Mendoakan Saudara yang Sakit عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أَتَى مَرِيضًا أَوْ أُتِيَ بِهِ إِلَيْهِ قَالَ: أَذْهِبِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا (رواه البخاري ومسلم) Dari ‘Āisyah رضي الله عنها berkata: “Apabila Nabi ﷺ menjenguk orang sakit atau dibawa kepadanya orang yang sakit, beliau berdoa: ‘Hilangkanlah penyakit, wahai Rabb manusia, sembuhkanlah! Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit.’” (HR. al-Bukhārī dan Muslim) Pelajaran dari hadits 1. Doa adalah salah satu sebab utama kesembuhan, karena hanya Allah ﷻ yang memberi syifa’. 2. Nabi ﷺ mengajarkan doa khusus untuk orang sakit dengan kalimat tauhidiyah, menegaskan bahwa kesembuhan hanya milik Allah ﷻ. 3. Kesembuhan yang sempurna adalah yang tidak menyisakan penyakit maupun kelemahan. 4. Mendoakan orang sakit merupakan bentuk kasih sayang, ukhuwah, dan amal kebajikan yang mendatangkan pahala. Ayat Al-Qur’an Terkait 1. Allah ﷻ yang menyembuhkan ﴿وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ﴾ (الشعراء: 80) “Dan apabila aku sakit, Dialah (Allah) yang menyembuhkan aku.” (QS. asy-Syu‘arā’: 80) 2. Perintah saling mendoakan dalam kebaikan ﴿وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ﴾ (الحشر: 10) “Dan orang-orang yang datang setelah mereka (para sahabat) berdoa: ‘Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman.’” (QS. al-Ḥasyr: 10) •‘Abdullāh bin al-Mubārak رحمه الله berkata: «الدُّعَاءُ أَنفَعُ مِنَ الدَّوَاءِ، وَبِقَدْرِ التَّقْوَى تَكُونُ الْإِجَابَةُ» “Doa itu lebih bermanfaat daripada obat, dan sesuai kadar ketakwaanlah doa itu dikabulkan.” (Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm, Ibn ‘Abd al-Barr) Doa untuk orang sakit adalah sunnah yang diajarkan Nabi ﷺ. Boleh meletakkan tangan di tempat sakit sambil membaca doa. Jangan mendoakan keburukan, tetapi doakan kebaikan dan kesembuhan. Termasuk sunnah: menjenguk orang sakit (ʿiyādah al-marīḍ) yang menjadi hak sesama muslim. اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَاسَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ، شِفَاءً تَامًّا عَاجِلًا لَا يُغَادِرُ سَقَمًا “Ya Allāh, Rabb manusia, hilangkanlah penyakit, sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami dan kaum muslimin, dengan kesembuhan yang sempurna, segera, dan tidak menyisakan penyakit.” Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
➖➖➖➖➖➖
Sabtu , 8 Agustus 2026 / 25 Safar 1448 H Do'a Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Agung عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا وَرَجُلٌ يُصَلِّي ثُمَّ دَعَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى. Dari Anas رضي الله عنه, bahwa ia duduk bersama Rasulullah ﷺ, lalu ada seorang laki-laki yang shalat kemudian berdoa: "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu bahwa bagi-Mu segala pujian. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, Engkau Maha Pemberi, Pencipta langit dan bumi. Wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai Yang Maha Hidup lagi Maha Mengatur." Maka Nabi ﷺ bersabda: "Sungguh ia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang agung. Jika Dia diminta dengannya, Dia akan memberi. Dan jika Dia dipanggil dengannya, Dia akan mengabulkan." (HR. Abu Dawud no. 1277 – Shahih) Pelajaran dari Hadits 1.Doa yang disertai dengan pujian kepada Allah dan penyebutan sifat-sifat-Nya yang agung lebih dekat untuk dikabulkan. 2. Waktu terbaik berdoa adalah setelah shalat. 3. Di antara doa yang mengandung nama Allah Al-A‘zham (yang Maha Agung) adalah: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ Ayat Al-Qur'an yang Terkait 1. Berdoa dengan menyebut nama Allah وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا “Dan hanya milik Allah Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu.” (QS. Al-A‘rāf: 180) 2. Allah memerintahkan berdoa, dan menjanjikan jawaban وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Dan Rabbmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu...” (QS. Al-Mu’min: 60) •Al-Imām Al-Auza‘i رحمه الله berkata: "Dahulu dikatakan, doa yang dikumpulkan dengan pujian kepada Allah sebelum permintaan adalah lebih cepat dikabulkan." Ibnul Qayyim, al-Fawāid (hal. 93) •Ibnul Qayyim رحمه الله juga menegaskan: "Doa dengan Asmaul Husna adalah doa yang paling agung dan paling dicintai Allah." Badā’i‘ al-Fawāid (1/24) Doa adalah ibadah, bahkan inti ibadah. Menyebut Asmaul Husna dalam doa adalah bentuk pengagungan kepada Allah. Jangan terburu-buru dalam doa, hiasilah dengan pujian sebelum permintaan. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، الْمَنَّانُ، بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَيَسِّرْ لَنَا أُمُورَنَا، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dengan segala pujian, tidak ada sesembahan selain Engkau, Yang Maha Pemberi, Pencipta langit dan bumi, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai Yang Maha Hidup dan terus mengurus makhluk-Mu, ampunilah dosa-dosa kami, mudahkanlah segala urusan kami, dan karuniakan kepada kami husnul khatimah. Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Jum'at , 7 Agustus 2026 / 24 Safar 1448 H Do'a Berlindung Dari Syirik أن النبي ﷺ قال لأبي بكر رضي الله عنه : ( وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَلشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ ، أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى شَيْءٍ إِذَا قُلْتَهُ ذَهَبَ عَنْكَ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ ؟ قَالَ : قُلِ: اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُهُ ) رواه البخاري، وصححه الألباني في صحيح الأدب المفرد Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda kepada Abu Bakar رضي الله عنه: “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya syirik itu lebih samar daripada merayapnya semut. Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang apabila engkau membacanya, maka akan hilang darimu syirik yang sedikit maupun yang banyak?” Beliau bersabda: “Ucapkanlah: اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُهُ (Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak kami ketahui).” (HR. Bukhari) Pelajaran dari Hadits 1. Doa ini berbentuk isti‘adzah (memohon perlindungan), dipanjatkan dari sesuatu yang sangat ditakuti, yaitu syirik. 2. Syirik adalah bahaya besar yang dapat menghancurkan kehidupan dunia dan akhirat. 3. Seorang muslim wajib khawatir dan waspada terhadap syirik, baik besar maupun kecil. 4. Syirik sangat samar, sebagaimana diumpamakan oleh Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه: “Bagaikan semut kecil yang berjalan di atas batu hitam di malam yang gelap” (Riwayat Ibnu Abi Hatim). 5. Mustahil selamat dari syirik kecuali dengan taufik dan pertolongan Allah ﷻ. 6. Doa ini adalah jalan keselamatan dari syirik, baik yang besar maupun yang kecil. 7. Orang mukmin sejati selalu memohon perlindungan kepada Allah ﷻ dari syirik yang diketahui maupun yang tidak disadari. Ayat Al-Qur’an yang Terkait إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa’ : 48) إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya adalah neraka.” (QS. Al-Ma’idah : 72) لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ “Jika engkau berbuat syirik, niscaya akan hapuslah amalmu dan sungguh engkau termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar : 65) •Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه berkata: “Kesyirikan itu lebih samar dari semut kecil yang merayap di atas batu hitam di malam yang gelap.” (Tafsir Ibnu Abi Hatim, 4/1110) Syirik adalah dosa terbesar yang wajib diwaspadai. Samarnya syirik membuat seorang muslim harus selalu berdoa meminta perlindungan dari Allah ﷻ. Syirik kecil sekalipun dapat merusak amal ibadah jika tidak disadari. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُهُ Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak kami ketahui. Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
➖➖➖➖➖➖➖➖
Kamis , 6 Agustus 2026 / 23 Safar 1448 H Do’a Menetapkan Hati di Atas Tauhid عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ: «يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ» فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ، فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا؟ قَالَ: «نَعَمْ، إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ إِصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ ﷻ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ» رواه الترمذي (٢١٤٠) Dari Anas رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ sering berdoa: "Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu." Aku berkata: "Wahai Rasulullah ﷺ, kami telah beriman kepadamu dan dengan apa yang engkau bawa, apakah engkau masih khawatir terhadap kami?" Beliau bersabda: "Ya, sesungguhnya hati-hati berada di antara dua jari dari jari-jari Allah ﷻ, Dia membolak-balikkan hati sesuai kehendak-Nya." (HR. At-Tirmiżī no. 2140) Pelajaran dari Hadits Hati manusia sangat lemah dan mudah berubah, maka seorang hamba wajib banyak berdoa kepada Allah ﷻ agar ditetapkan di atas tauhid dan iman. Nabi ﷺ saja yang maksum masih sering berdoa dengan doa ini, maka umatnya lebih membutuhkan lagi. Tauhid adalah pondasi keselamatan, sehingga doa ini penting untuk menjaga keistiqamahan. Ayat Al-Qur’an yang Terkait Allāh ﷻ berfirman: رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ "Ya Rabb kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri kami petunjuk, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi." (QS. Āli ‘Imrān: 8) •Umar bin Khattab رضي الله عنه berkata: "Sesungguhnya hati ini berbolak-balik lebih cepat dari periuk yang sedang mendidih." (Hilyatul Awliya’, 1/52) •Sufyān ats-Tsaurī رحمه الله berkata: "Aku tidak merasa takut terhadap sesuatu atas diriku sebagaimana aku takut terhadap hatiku." (Siyar A‘lām an-Nubalā’, 7/261) Doa ini sebaiknya sering dibaca, terutama di waktu fitnah dan banyaknya syubhat. Doa bukan hanya penguat hati, tetapi juga wujud pengakuan bahwa kita lemah dan butuh pertolongan Allah ﷻ. Istiqamah di atas tauhid adalah nikmat terbesar, lebih utama dari nikmat dunia apa pun. اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَوَفِّقْنَا لِلتَّمَسُّكِ بِالتَّوْحِيدِ وَالسُّنَّةِ حَتَّى نَلْقَاكَ وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا "Ya Rabb, wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati-hati kami di atas agama-Mu. Berilah kami taufik untuk senantiasa berpegang teguh kepada tauhid dan sunnah hingga kami berjumpa dengan-Mu dalam keadaan Engkau ridha kepada kami." Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
Rabu , 5 Agustus 2026 / 22 Safar 1448 H Doa Berlindung dari Ilmu yang Tidak Bermanfaat, Hati yang Tidak Khusyu’, dan Jiwa yang Tidak Pernah Puas عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رضي الله عنه قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجَابُ لَهَا» رواه مسلم (2722) Dari Zaid bin Arqam رضي الله عنه berkata: Rasūlullāh ﷺ biasa berdoa: "Ya Allāh ﷻ, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan." (HR. Muslim no. 2722) Pelajaran dari Hadits 1. Doa ini menunjukkan pentingnya memohon perlindungan kepada Allāh ﷻ dari perkara-perkara yang merusak kehidupan dunia dan akhirat. 2. Ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak diamalkan atau ilmu yang tidak mengantarkan kepada takut dan tunduk kepada Allāh ﷻ. 3. Hati yang tidak khusyuk adalah hati yang keras, tidak tunduk dalam ibadah, dan lalai dari mengingat Allāh ﷻ. 4. Jiwa yang tidak puas adalah sifat tamak dan rakus terhadap dunia, yang membuat seseorang tidak pernah merasa cukup. 5. Doa yang tidak dikabulkan bisa disebabkan oleh hati yang lalai, makanan haram, atau sebab lain yang menjadi penghalang terkabulnya doa. Ayat Al-Qur’an yang Terkait Allāh ﷻ berfirman: ﴿ يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ • إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ﴾ “(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang datang kepada Allāh dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘arā’ 26: 88-89) •Al-Fuḍail bin ‘Iyāḍ رحمه الله berkata: «العلم يهتف بالعمل، فإن أجابه وإلا ارتحل» "Ilmu itu menyeru kepada amal, bila amal menyambutnya maka ilmu itu akan menetap, bila tidak maka ilmu itu akan pergi." (Ibnul Qayyim, Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, 1/65) •Al-Hasan al-Bashri رحمه الله berkata: «العلم علمان: علم باللسان فذلك حجة الله على ابن آدم، وعلم في القلب فذاك العلم النافع» "Ilmu itu ada dua: ilmu yang hanya di lisan, maka itu adalah hujjah Allāh atas anak Adam; dan ilmu yang tertanam di hati, itulah ilmu yang bermanfaat." *(Ibn Rajab, Jāmi‘ al-‘Ulūm wal-Ḥikam, hlm. 61)* Doa ini mencakup empat bentuk keburukan yang harus dihindari seorang Muslim. Maka seorang hamba hendaknya bersemangat dalam menuntut ilmu yang bermanfaat, berusaha menundukkan hatinya untuk khusyuk, melatih jiwa agar qana‘ah, serta memperhatikan adab-adab berdoa agar dikabulkan oleh Allāh ﷻ. اللَّهُمَّ اجعل علمنا نافعًا، وقلبنا خاشعًا، ونفسنا قانعةً، وأعذنا من دعاء لا يُستجاب. "Ya Allāh ﷻ, jadikanlah ilmu kami ilmu yang bermanfaat, hati kami hati yang khusyuk, jiwa kami jiwa yang qana‘ah, dan lindungilah kami dari doa yang tidak Engkau kabulkan." Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
без подписи
Selasa , 4 Agustus 2026 / 21 Safar 1448 H Tahapan Penciptaan, Taqdir Manusia dan Amalan Terakhirnya عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رضي الله عنه قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ ﷺ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ: إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ... Dari Abū ‘Abdir-Raḥmān ‘Abdullāh bin Mas‘ūd رضي الله عنه ia berkata: Rasūlullāh ﷺ menyampaikan kepada kami—dan beliau adalah orang yang benar lagi dibenarkan: “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian penciptaannya dikumpulkan di dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nutfah (air mani), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu pula, kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu pula, lalu diutuslah malaikat kepadanya, kemudian malaikat itu meniupkan ruh ke dalamnya, dan diperintahkan menulis empat hal: rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya (di akhirat) Demi Allāh ﷻ yang tidak ada ilāh (sesembahan yang haq) selain-Nya, sungguh ada di antara kalian yang melakukan amalan penduduk surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta saja, namun ketetapan takdir mendahuluinya, maka ia pun beramal dengan amalan penduduk neraka lalu masuk neraka. Dan sungguh ada pula di antara kalian yang melakukan amalan penduduk neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta saja, namun ketetapan takdir mendahuluinya, maka ia pun beramal dengan amalan penduduk surga lalu masuk surga.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim) Pelajaran dari Hadits: 1. Taqdir makhluk telah ditentukan jauh sebelum ia lahir, termasuk rizki, ajal, amal, dan nasib akhir (celaka atau bahagia). 2. Amalan dinilai berdasarkan akhir hayatnya, bukan awal atau tengah perjalanan hidup. Maka jangan tertipu dengan kebaikan masa lalu, tetaplah mohon keteguhan di atas iman. 3. Rizki dan ajal sudah tertulis, maka jangan gelisah secara berlebihan dalam mengejarnya. Lakukan sebab yang halal dan bertawakallah kepada Allāh ﷻ. 4. Husnul khātimah adalah anugerah besar, yang hanya diberikan kepada orang yang istiqāmah dan jujur dalam niatnya. 5. Su’ul khātimah adalah bahaya nyata, yang menimpa orang-orang yang berbuat baik hanya di luar atau karena riya', bukan keikhlasan. 6. Tumbuh kembang janin yang bertahap adalah bentuk kasih sayang Allāh ﷻ kepada ibu, bukan karena ketidakmampuan-Nya untuk menciptakan sekaligus. Ayat Al-Qur’an yang terkait: •Tahapan penciptaan manusia: يَا أَيُّهَا النَّاسُ... مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ... (QS. Al-Ḥajj: 5) •Catatan takdir: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ... إِلَّا فِي كِتَابٍ... (QS. Al-Ḥadīd: 22) •Husnul khatimah: قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ... وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (QS. Al-Baqarah: 133) •Su’ul khatimah: إِنِّي تُبْتُ الْآنَ... وَهُمْ كُفَّارٌ... (QS. An-Nisā’: 18) •Pengorbanan ibu: حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ... (QS. Luqmān: 14) •Ibn Rajab رحمه الله berkata: “Sesungguhnya seseorang bisa melakukan amalan ahli surga dalam pandangan manusia, namun sejatinya dia melakukan amalan ahli neraka. Lalu ia mati di atasnya.” (Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, 1/24) Jangan kagum dengan amal-amalmu, karena Allāh ﷻ menilai akhir hayatmu, bukan awalnya. Jaga hati dari riya’ dan ujub, karena itu sebab utama su’ul khatimah. Perbanyak doa: "Yā muqallibal qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik” (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu) اللَّهُمَّ اجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّه، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِيْمَانِ، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ “Yā Allāh, jadikanlah akhir ucapan kami di dunia ini ‘lā ilāha illallāh’, dan wafatkan kami dalam keadaan beriman, serta karuniakan kepada kami husnul khātimah.” Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
без подписи
Senin , 3 Agustus 2026 / 20 Safar 1448 H Ikatan Iman yang Paling Kokoh عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ (عليه السلام) قَالَ: «مِنْ أَوْثَقِ عُرَى الْإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ فِي اللَّهِ، وَتُبْغِضَ فِي اللَّهِ، وَتُعْطِيَ فِي اللَّهِ، وَتَمْنَعَ فِي اللَّهِ» Dari Abū ‘Abdillāh رضي الله عنه berkata, Rasulullāh ﷺ bersabda: "Ikatan iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan (tidak memberi) karena Allah." [HR. Abu Dāwud no. 4681, at-Tirmiżī no. 2510, ia berkata: “Hadits ḥasan”] Pelajaran dari Hadits 1. Cinta dan benci seorang mukmin harus dilandasi karena Allah, bukan karena hawa nafsu atau kepentingan pribadi. 2. Memberi atau menahan pemberian hendaknya berdasarkan keridhaan dan larangan Allah. 3. Cinta karena Allah adalah kasih sayang kepada orang beriman karena iman dan ketaatannya. 4. Benci karena Allah adalah tidak menyukai orang yang bermaksiat atau mempersekutukan Allah karena perbuatannya yang dimurkai-Nya. 5. Ikatan iman yang kokoh menjaga seorang hamba dari loyalitas yang salah kepada orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Ayat Al-Qur'an yang Terkait لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ... "Kamu tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, atau kerabat mereka..." [QS. Al-Mujādilah: 22] لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ... "Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah..." [QS. Āli ‘Imrān: 28] •Imām Aḥmad bin Ḥanbal رحمه الله berkata: "Pokok iman adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah." [Al-Ādāb asy-Syar‘iyyah, Ibnu Mufliḥ, 3/561] •Ibn ‘Abbās رضي الله عنهما berkata: "Cinta karena Allah dan benci karena Allah adalah pengikat tali iman yang paling kokoh." [Kitāb az-Zuhd, Imām Aḥmad no. 2345] Cinta dan benci karena Allah adalah standar keimanan yang benar, bukan berdasarkan ikatan darah atau keuntungan duniawi. Menyalahgunakan cinta dan benci untuk kepentingan pribadi akan merusak keikhlasan dan mengurangi iman. اللَّهُمَّ اجعل حبَّنا وبغضَنا وعطاءَنا ومنعَنا كلَّه فيك، وأحسن نياتِنا وأعمالَنا "Ya Allah, jadikanlah seluruh cinta kami, benci kami, pemberian kami, dan penolakan kami semata-mata karena-Mu, dan perbaikilah niat serta amal kami." Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
без подписи
Ahad , 2 Agustus 2026 / 19 Safar 1448 H Hakikat Kebangkrutan عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟" قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ، فَقَالَ: "إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ" Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: "Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?" Mereka (para sahabat) menjawab: "Orang yang bangkrut di antara kami adalah yang tidak punya dirham dan tidak punya harta." Beliau bersabda: "Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga datang dengan mencela ini, menuduh itu, memakan harta ini, menumpahkan darah itu, dan memukul ini. Maka diberikanlah kepada orang-orang tersebut pahala kebaikannya. Jika kebaikannya habis sebelum lunas tanggung jawabnya, diambil dosa-dosa mereka lalu dibebankan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka." (HR. Muslim no. 2581, Tirmidzi no. 2418, Ahmad 2/303) Pelajaran dari Hadits: 1. Amal ibadah seperti shalat, puasa, dan zakat adalah prioritas utama yang akan dihisab di akhirat. 2. Rasulullah ﷺ mengajarkan definisi bangkrut yang hakiki: kerugian di akhirat, bukan sekadar kehilangan harta di dunia. 3. Dosa kepada sesama manusia akan dituntut hingga lunas, bahkan dengan mengambil pahala amal ibadah. 4. Berbuat baik (ihsan) dalam muamalah adalah kewajiban, bahkan terhadap hewan. 5. Metode Nabi ﷺ dalam mendidik sahabat: tanya jawab interaktif untuk memancing perhatian, lalu penjelasan yang tuntas. Ayat Al-Qur’an yang Terkait: وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا... "Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia..." (QS. Al-Qashash: 77) يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ . إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih. (QS. Asy-Syu’ara: 88–89) وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا... "Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya." (QS. Al-Hujurat: 12) •Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Hakikat kebangkrutan adalah seseorang yang melihat pahala amalnya di akhirat, namun ternyata pahala itu berpindah ke timbangan orang yang pernah ia zalimi." (Lihat: Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm. 63) اللَّهُمَّ اجعلنا من الذين يأتونك يوم القيامة بقلوب سليمة وأعمال مقبولة، ونجنا من أن نكون من المفلسين الخاسرين. "Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang datang kepada-Mu di hari kiamat dengan hati yang bersih dan amal yang diterima, dan selamatkan kami dari menjadi orang-orang yang bangkrut dan merugi." Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
Sabtu , 1 Agustus 2026 / 18 Safar 1448 H Di Antara Tanda Dekatnya Kiamat: Hilangnya Ilmu dan Merebaknya Kemaksiatan عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا» Dari Anas bin Mālik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah diangkatnya ilmu, tersebarnya kebodohan, diminumnya khamr, dan tampaknya perzinaan." (HR. al-Bukhārī dan Muslim) Pelajaran dari Hadits Diangkatnya ilmu agama adalah musibah besar bagi umat Islam, karena dengannya manusia kehilangan petunjuk. Kebodohan terhadap agama bukan sekadar tidak tahu, tetapi fitnah yang merusak iman. Merebaknya khamr dan zina adalah buah langsung dari matinya ilmu syar‘i. Kerusakan moral tidak muncul tiba-tiba, tetapi didahului oleh rusaknya aqidah dan ilmu. Ayat Al-Qur’an yang Terkait Allah ﷻ berfirman: أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Dan apakah orang yang tadinya mati (kafir), lalu Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang dengan cahaya itu ia berjalan di tengah-tengah manusia, sama dengan orang yang keadaannya berada dalam kegelapan-kegelapan yang tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadikan indah bagi orang-orang kafir apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-An‘ām: 122) Ilmu adalah cahaya, dan kebodohan adalah kegelapan yang menjerumuskan ke dalam maksiat. _ •Imam asy-Syāfi‘ī رحمه الله berkata: «إِذَا مَاتَ الْعِلْمُ فِي قَوْمٍ، ظَهَرَتْ فِيهِمُ الْمُنْكَرَاتُ» "Apabila ilmu telah mati pada suatu kaum, maka akan tersebar di tengah mereka berbagai kemungkaran." Dinukil dalam: Manāqib asy-Syāfi‘ī karya al-Baihaqī •Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: «وَأَصْلُ كُلِّ شَرٍّ فِي الدُّنْيَا هُوَ الْجَهْلُ وَالظُّلْمُ» "Pokok segala keburukan di dunia adalah kebodohan dan kezaliman." Majmū‘ al-Fatāwā (10/353) ~Kebodohan terhadap ilmu agama adalah akar fitnah dan kehancuran umat. _ Fitnah akhir zaman bermula dari kebodohan, bukan semata dari maksiat. Menuntut ilmu syar‘i adalah benteng iman, bukan sekadar keutamaan sunnah. _ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجَهْلِ وَفِتْنَةِ الزَّمَانِ، اللَّهُمَّ احْفَظْنَا بِالدِّينِ، وَأَحْيِنَا بِالْعِلْمِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ تُحْيِي بِهِمُ الْأُمَمَ. . "Ya Allah ﷻ, lindungilah kami dari kebodohan dan fitnah zaman. Hidupkan hati kami dengan ilmu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang Engkau jaga dari merebaknya kemaksiatan dan kemungkaran." Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
Jum'at , 31 Juli 2026 / 17 Safar 1448 H Fitnah ad-Duhaimā' Fitnah yang Mengguncang Aqidah dan Memilah Manusia Menjadi Dua Golongan «ثُمَّ تَكُونُ فِتْنَةُ الدُّهَيْمَاءِ، لَا تَدَعُ أَحَدًا مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا لَطَمَتْهُ لَطْمَةً، فَإِذَا قِيلَ انْقَضَتْ تَمَادَتْ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، حَتَّى يَصِيرَ النَّاسُ إِلَى فُسْطَاطَيْنِ: فُسْطَاطِ إِيمَانٍ لَا نِفَاقَ فِيهِ، وَفُسْطَاطِ نِفَاقٍ لَا إِيمَانَ فِيهِ.» Dari Abdullah bin Umar رضي الله عنهما, Rasulullah ﷺ bersabda: "Kemudian akan datang fitnah ad-Duhaimā'. Fitnah itu tidak membiarkan seorang pun dari umat ini melainkan mengenainya. Setiap kali dikatakan telah selesai, ternyata ia semakin meluas. Seseorang pada pagi hari beriman lalu pada sore harinya menjadi kafir, atau pada sore hari beriman lalu pada pagi harinya menjadi kafir. Hingga akhirnya manusia terbagi menjadi dua golongan: golongan yang beriman tanpa sedikit pun kemunafikan di dalamnya, dan golongan munafik yang tidak memiliki keimanan sedikit pun." *(HR. Abu Dawud no. 4242, dinyatakan hasan oleh para ulama)* --- *Pelajaran dari Hadits* 1. Fitnah terbesar di akhir zaman adalah fitnah yang menyerang agama, bukan sekadar harta, jabatan, atau keamanan. 2. Tidak ada yang selamat kecuali orang yang Allah ﷻ beri taufik. Karena itu, seorang mukmin harus senantiasa memohon keteguhan hati kepada Allah. 3. Fitnah tidak berhenti, tetapi terus berkembang. Setiap kali manusia mengira telah usai, ternyata ia muncul dalam bentuk yang lebih besar dan lebih halus. 4. Yang dipertaruhkan adalah aqidah. Seseorang dapat kehilangan imannya karena syubhat, hawa nafsu, atau lebih memilih kepentingan dunia daripada kebenaran. 5. Akhir dari fitnah adalah tersingkapnya hakikat manusia. Tidak ada lagi wilayah abu-abu; manusia akan terbagi menjadi dua golongan: ahlul iman dan ahlun nifaq. --- *Ayat Al-Qur'an yang Berkaitan* Allah ﷻ berfirman: «يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ» "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur." *(QS. At-Taubah: 119)* Allah ﷻ juga berfirman: «يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ» "Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat." *(QS. Ibrahim: 27)* --- •Sufyan ats-Tsauri رحمه الله: «إِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَنَا الرُّخْصَةُ مِنْ ثِقَةٍ، فَأَمَّا التَّشْدِيدُ فَيُحْسِنُهُ كُلُّ أَحَدٍ» "Ilmu yang benar menurut kami adalah rukhsah (keringanan) yang datang dari ulama yang terpercaya. Adapun sikap keras, hampir setiap orang mampu melakukannya." Kemudian beliau juga berkata: «اسْتَوْصُوا بِأَهْلِ السُّنَّةِ خَيْرًا، فَإِنَّهُمْ غُرَبَاءُ» "Berbuat baiklah kepada Ahlus Sunnah, karena mereka adalah orang-orang yang asing." *(Syarḥ Uṣūl I'tiqād Ahlis Sunnah karya al-Lālakā'ī)* --- Fitnah ad-Duhaimā' bukan sekadar kekacauan politik atau peperangan. Bahaya terbesarnya adalah ketika manusia mulai menggadaikan tauhid, mengikuti hawa nafsu, membela kebatilan, atau memusuhi kebenaran demi kepentingan dunia. Pada saat itulah fitnah telah menghantam inti agama. Maka, keselamatan hanya dengan berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih, memperbanyak doa agar diteguhkan di atas agama, serta tidak tergesa-gesa mengikuti setiap arus dan opini -- «يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ» "Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. At-Tirmidzi no. 2140, shahih) Wallāhu a'lam bish-shawāb
➖➖➖➖➖➖➖