ILMU DAN RENUNGAN
СтатистикаMerupakan chanel untuk menyimpan arsip faidah-faidah ilmiyyah dan renungan. Pemilik @rozanabdullah (Muqim di lingkungan sekitar Ma'had Anwarussunnah-Petanahan)
- Последний пост
- 7 авг.
- Последнее чтение
- 15 авг.
- Постов за неделю
- 0
- Всего постов
- 20
- Тип
- открытый
- Язык
- индонезийский
- В каталоге с
- 13 авг.
- 1/24сутки в ленте
- 459
- 1/48двое суток
- 526
- 1/72трое суток
- 567
Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.
Посты
Melepaskan Adalah Bagian dari Menjaga Pada diri manusia ada hal-hal yang memang perlu dilepaskan, karena bila dibiarkan mengendap malahan akan merusaknya. Maka melepaskannya adalah salah satu cara menjaga diri agar tetap baik dan nyaman. Misalnya, darah-darah yang kotor, kadang perlu dibuang melalui bekam. Lemak yang berlebih, sisa-sisa nutrisi dari makanan, dan sebagainya perlu dikeluarkan dari tubuh agar tetap sehat. Demikian halnya pikiran-pikiran negatif, perlu disingkirkan agar hidup tertap jernih dan kewarasan tetap terjaga. Sama halnya dengan harapan-harapan terhadap manusia, terkadang memang perlu ditanggalkan agar hati tetap tentram. Terlebih, seringnya harapan yang digantungkan kepada manusia muaranya adalah kecewa. Maka memutus harapan dan rasa butuh kepada manusia adalah sesuatu yang mesti dilakukan demi ketenangan hati. Berkata Abu Hatim Al-Bustiy, "Memutus harapan kepada manusia adalah ketentraman dan kemuliaan, sementara harapan yang berlebih kepada mereka hanyalah membuahkan keletihan dan kehinaan. Betapa banyak orang yang terlalu berharap kepada manusia hanya menemukan letih dan kehinaan sedang ia tidak sempat meraih harapannya. Dan betapa banyak orang yang memutus harapan dari manusia bisa lebih tenang dan mulia dalam keadaan hal-hal yang dia citakan dan yang tidak dia citakan datang kepadanya." (Raudhatul Uqala, hal. 160) Maka perlu melepas harapan kepada manusia, untuk kemudian memberikannya hanya kepada Allah Al-Mudabbir agar segala hirap yang kita gantungkan tidak berujung kecewa. Begitu juga dalam merubah diri menuju arah yang lebih baik, terkadang perlu meninggalkan hal-hal yang akan menghambat perubahannya. Masa lalu yang kelam, pertemanan yang buruk, dosa dan candu harus ditinggalkannya demi cahaya yang ia ingin gapai. Memang tidak mudah, akan melewati masa sulit, ada rasa sakit, tetapi itulah bagian dari pengorbanan dalam menempuh jalan yang lebih terang. Ibaratnya tanaman, dalam proses merawatnya bukan hanya menyirami dan memupuknya saja, tetapi juga membuang bagian-bagian yang akan merusak bila tetap dibiarkan. Kebumen , 23 Shafar 1448 https://t.me/ilmudanrenungan
"Maka, syaithan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya. Ia berkata, "Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa?" Qs. Thaha: 120 4. At-Taswif (Menunda Kebaikan) Berkata sebagian salaf, "Menunda-nunda adalah tentara dari tentara-tentaranya Iblis." Syaithan menghasutnya untuk tetap melakukan dosa dan membuatnya memandang ajal serasa jauh, sehingga iapun menunda untuk bertaubat. Atau ketika seorang hendak melakukan kebaikan, syaithan akan membuatnya memandang waktu itu masih panjang sehingga bisa dilakukan nanti saja, akhirnya waktu habis sementara ia belum sempat mengerjakannya. 5. Menumbuh keraguan dalam hati manusia. Ragu tentang Allah, ragu terhadap risalah, ragu terhadap syariat Islam, ragu terhadap negeri akhirat. Iblis; bapak para syaithan telah menegaskan hal tersebut di hadapan Allah, ketika ia divonis mendapatkan laknat selamanya sebab ia enggan melaksanakan perintah Allah untuk sujud menghormati nabi Adam. Ia berkata, : قَالَ فَبِمَاۤ اَغۡوَيۡتَنِىۡ لَاَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَاطَكَ الۡمُسۡتَقِيۡمَۙ ثُمَّ لَاَتِيَنَّهُمۡ مِّنۡۢ بَيۡنِ اَيۡدِيۡهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ اَيۡمَانِهِمۡ وَعَنۡ شَمَآٮِٕلِهِمۡؕ وَلَاٰ تَجِدُ اَكۡثَرَهُمۡ شٰكِرِيۡنَ "Iblis berkata: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)." Qs. Al-A'raf 16-17 Dari muka, maksudnya membuatnya ragu terhadap negeri akhirat. Dari belakang, maksudnya memperdayanya dengan kehidupan dunia. Dari samping kanan dan kiri, maksudnya ialah meracuninya dengan syubhat dan syahwat. Maka, termasuk dari hal yang penting kita lakukan adalah meminta perlindungan kepada Allah dari syaithan, dari tipu dayanya, godaannya, dan bisikan-bisikan kejahatannya. Berkata Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, "Bahwasannya minta perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk merupakan seutama-utamanya ibadah, karena Allah memerintahkan hamba-Nya yang beriman untuk berlindung dari setan yang yang terkutuk pada ayat-ayat yang muhkam dalam al-Qur`an al-karim." [Butsanul Wa'izhin] Allah ﷻ berfirman, وَاِمَّا يَنۡزَغَـنَّكَ مِنَ الشَّيۡطٰنِ نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰهِؕ اِنَّهٗ سَمِيۡعٌ عَلِيۡمٌ "Dan jika syaithan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah Sungguh, Dia Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui." Qs. Al-A'raf: 200 Adapun upaya agar terjaga dari syaithan, antara lain: 1. Merealisasikan tauhid. Karena syaithan tidak akan mampu menggoda orang-orang yang kuat pondasi tauhidnya. Namun mereka hanyalah akan mampu menggoda orang-orang yang menyimpang dan berbuat kesyirikan. Allah ﷻ berfirman, إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُم بِهِ مُشْرِكُونَ "Sesungguhnya ia (syaithan) tidak memiliki pengaruh terhadap orang-orang yang beriman dan bertawakal hanya kepada Tuhan mereka. Pengaruhnya hanyalah terhadap orang-orang yang menjadikannya pemimpin dan orang-orang yang menjadi musyrik karena (tipu daya)-nya." Qs. An-Nahl: 99-100 2. Banyak berdzikir kepada Allah. Berdzikir kepada Allah laksana benteng kokoh yang memagarinya dari serangan dan sergapan musuh, ibarat tameng yang melindungi dari bidikan musuh. Sebab, salah satu faidah terbesar dzikir selain diingat Allah adalah terlindungi dari syaithan. Banyak berdzikir kepada Allah, tentunya adalah merutinkan wirid-wirid dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Semisal dzikir pagi dan sore, dzikir sebelum tidur dan ketika bangun, ketika makan, ketika keluar rumah, ketika masuk rumah, dan selainnya. [Disusun untuk materi Khutbah di Masjid Siti Khadijah-Mirit, Kebumen] https://t.me/ilmudanrenungan
Mewaspadai Tipu Daya Syaithan Manusia semenjak lahir sudah memiliki musuh alami, yaitu syaithan. إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُوا۟ حِزْبَهُۥ لِيَكُونُوا۟ مِنْ أَصْحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala" Qs. Fathir: 6 Sesungguhnya syaithan selalu menggoda manusia untuk memalingkan mereka dari jalan Allah dengan beragam cara; menumbuhkan keraguan dan kejelekan di antara mereka, dan memperdayanya dengan kehidupan dunia, sehingga berpaling dari kehidupan akhirat. Karena itu, Allah ta'ala mengajarkan kepada kita untuk meminta perlindungan kepada-Nya dari bujuk rayunya. Allah ta'ala berfirman; قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ مَلِكِ النَّاسِۙ اِلٰهِ النَّاسِۙ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ "Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, Sesembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaithan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari kalangan jin dan manusia". Qs. An-Nas: 1-6 Syaithan menggunakan beragam cara untuk menyesatkan manusia, antara lain: 1. Menampakkan diri sebagai pemberi nasihat. Sebagaimana yang dilakukan Iblis ketika menggoda Adam dan Hawa. Allah ta'ala berfirman menceritakan kejadian tersebut; وَقَاسَمَهُمَآ اِنِّيْ لَكُمَا لَمِنَ النّٰصِحِيْنَۙ "Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku ini benar-benar termasuk para penasihatmu." Qs. Al-A'raf: 21. 2. Memperindah kebathilan dan kemaksiatan Allah ta'ala berfirman; وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطٰنُ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ "Dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan." Qs. Al-An'am: 43 Allah ﷻ berfirman tentang ucapan Hud hud saat menceritakan Ratu Saba dan kaumnya, وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ "Dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk." Qs. An-Naml: 24 Upaya syaithan dalam menggoda manusia agar terjerumus melakukan kebathilan ada beberapa langkah, antara lain: Menggodanya untuk melakukan syirik besar, jika tidak berhasil akan menggodanya untuk melakukan syirik kecil. Lalu menggodanya untuk melakukan dosa-dosa besar, jika tidak berhasil akan menggodanya untuk melakukan dosa-dosa kecil. Dan jika langkah ini tidak berhasil, akan menggodanya untuk sibuk dengan perkara mubah. Jika orang tersebut memiliki semangat dalam ibadah, syaithan akan membuatnya semakin semangat dalam beramal, namun amalan-amalan yang tidak di atas sunnah; bid'ah. Jika orang itu enggan melakukan bid'ah, syaithan akan mendorongnya untuk semangat mengamalkan amalan yang sunnah tetapi melalaikan amalan yang wajib. Jika langkah-langkah ini tidak berhasil, syaithan akan mengirimkan bala tentaranya dari kalangan jin dan manusia untuk mengganggu dan menyakiti orang tersebut. 3. Talbis / pengkaburan. Disamarkan antara kebenaran dan kebathilan, sehingga manusia tertipu; mengira di atas haq, ternyata di atas kebathilan. Allah ta'ala berfirman; اِنَّ الَّذِيْنَ ارْتَدُّوْا عَلٰٓى اَدْبَارِهِمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطٰنُ سَوَّلَ لَهُمْۗ وَاَمْلٰى لَهُمْ "Sesungguhnya (bagi) orang-orang yang berbalik (pada kekufuran) setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, setan menggoda mereka dan memanjangkan (angan-angan) mereka." Termasuk bentuk talbis ialah menamakan perkara-perkara haram dengan nama-nama yang indah dan menarik, seperti yang dilakukan Iblis ketika menggoda Adam dan Hawa dengan mengganti nama pohon yang dilarang untuk didekati menjadi syajaratul khuldi. (Pohon keabadian). فَوَسْوَسَ اِلَيْهِ الشَّيْطٰنُ قَالَ يٰٓاٰدَمُ هَلْ اَدُلُّكَ عَلٰى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلٰى
Pentingnya Banyak Berdzikir Allah ﷻ berfirman, الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ "Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." Qs. Ar-Ra'ad: 28 Dzikrullah, berdzikir mengingat Allah salah satu amalan yang ringan namun memiliki banyak manfaat. Banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan berdzikir, baik secara umum maupun secara spesifik. Berdzikir bukan hanya membasahi lisan dengan kalimat-kalimat dzikir, namun jauh lebih dalam dari itu, yaitu meresap ke dalam bagian terdalam seorang, yakni kalbunya. Orang yang banyak berdzikir akan terbimbing jalannya. Karena itu, berdzikir itu dibutuhkan oleh semua kalangan, baik laki-laki maupun perempuan, orang dewasa maupun anak-anak. Banyak berdzikir adalah upaya seorang mendekat kepada Allah, lantaran ia akan selalu ingat dengan-Nya. Sehingga.... Orang yang banyak berdzikir akan tenang jiwanya dan tenteram hatinya ketika ada masalah menghantam, karena ia selalu ingat kepada Allah sehingga ia tahu ke mana harus bersandar. Ketika gejolak hawanasfu meletup-letup, ia akan mampu meredamnya lantaran kalbunya selalu ingat kepada Allah, Dzat yang Maha Melihat lagi Maha Teliti. Petanahan, 07 Shafar 1448 https://t.me/ilmudanrenungan
Dua Pilar Penting Dalam Menghadapi Tantangan Hidup Alur hidup dunia memang bisa dibilang keras; dipenuhi letih dan susah. Banyak tantangan yang mesti dihadapi oleh manusia, bahkan hingga ajal menjemput. (Lihat Qs. Al-Balad: 4) Sabar dan memperbanyak dzikir adalah dua bekal penting yang sangat membantu menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Dengan sebab keduanya, tantangan-tantangan yang berat sekalipun akan bisa dilewati. Sabar akan membuatnya bertahan. Ibarat benteng kokoh yang akan melindunginya dari serangan musuh. Memang sabar tidak bisa menghentikan datangnya cobaan, namun setidaknya ia bisa meredam deritanya hingga membuatnya tetap sanggup melangkah. Banyak berdzikir akan membuka hati sehingga menjadi lebih tenang dan berpikir jernih, lantaran ia selalu ingat dengan Allah; Rabbnya. Maka sabar dan banyak berdzikir mengingat Allah adalah dua pilar penting dalam menghadapi perkara-perkara yang berat. Allah ﷻ memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk memegangi keduanya dalam menghadapi tantangan dan gangguan ketika mengemban amanah dakwah. Allah ﷻ berfirman, وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَاِنَّكَ بِاَعْيُنِنَا وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِيْنَ تَقُوْمُۙ وَمِنَ الَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَاِدْبَارَ النُّجُوْمِ "Bersabarlah (Nabi Muhammad) menunggu ketetapan Tuhanmu karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami! Bertasbihlah seraya bertahmid (memuji) Tuhanmu ketika engkau bangun! Bertasbihlah kepada-Nya pada sebagian malam dan pada waktu terbenamnya bintang-bintang (waktu fajar)." Qs. Ath-Thur: 48-49 Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata, "Dahulu sebagian orang-orang shalih biasa menaruh secarik kertas di sakunya agar mereka bisa melihatnya sewaktu-waktu. Tertulis dalam secarik kertas tersebut firman-Nya, وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَاِنَّكَ بِاَعْيُنِنَا "Bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami!" Qs. Ath-Thur: 48 (Nurul Iqtibas, hal. 122) Allah ﷻ juga memerintahkan kaum muslimin dengan keduanya dalam menghadapi situasi-situasi yang berat. Allah ﷻ berfiman, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا لَقِيْتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوْا وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ "Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung." Qs. Al-Anfal: 45 Dalam ayat ini, Allah ﷻ memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk bersabar tidak lari saat bertemu musuh dan diiringi dengan berdzikir mengingat Allah sebanyak-banyaknya, agar hati tetap tenang dan bersikap optimis akan datangnya pertolongan dari Allah. Situasi saat bertemu musuh adalah situasi yang sangat chaos, mencekam, dan mengguncang hati. Namun itu bisa dilewati dengan sabar dan banyak berdzikir mengingat Allah, mengingat janji-Nya, pertolongan-Nya, dan rahmat-Nya. Demikianlah hendaknya seorang dalam menghadapi tantangan hidupnya. Ia bekali dirinya dengan sabar dan banyak berdzikir mengingat Allah. Allah ﷻ berfirman, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ "Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." Qs. Al-Baqarah: 153 Petanahan, 26 Muharram 1448 https://t.me/ilmudanrenungan
Bilamana kamu didera ujian-ujian berat dan kamu tidak melihat ada yang dapat menolongmu terbebas darinya, hingga hal itu membuatmu gundah karena berada dalam cengkeraman ujian yang kian berlanjut hingga kaupun merasa terjerat lagi sengsara, Ketahuilah di sana ada Dzat Mahamulia yang dapat memecahkan (kegundahanmu) dan membuat segala sesuatu yang sulit menjadi mudah. Dialah Allah Yang Mahatinggi, Mahabesar, Mahamengetahui, Mahamampu, Mahalembut, Mahateliti, Maha Mendengar, lagi Mahamelihat. Dialah yang menciptakan makhluq lalu menetapkan adanya hamba yang bersyukur dan ada yang kufur, ada yang berbahagia juga kaya dan ada yang sengsara lagi fakir. Dia memiliki keutamaan dan keadilan pada setiap keputusan-Nya, sehingga ada segolongan yang berbahagia, dan ada segolongan lain sengsara. 📝 Ibnul Jauzi Rahimahullah | At-Tadzkirah fil Wa'zh
Ketika kamu berdiri di sana, atau menjadi bagian darinya, anggaplah itu adalah kesempatan yang diberikan kepadamu. Sehingga kamu bisa lebih bersyukur, dan memaksimalkan kesempatan tersebut dengan penuh tanggung jawab. Jangan pernah sekali-kali merasa sebagai yang dibutuhkan. Karena yang demikian akan mendorongmu bersikap angkuh dan sombong. Bukan hanya di sana, bahkan di manapun ma'had, markaz, rumbel, tempat tarbiyah itu berada, yang kamu menjadi bagian darinya. Dan apapun statusmu darinya; apakah sebagai pengajar, musyrif, pengurus, santri, wali santri, atau selain dari itu.. Maka itu adalah nikmat dari Allah yang dianugerahkan kepadamu, maka jagalah! Itu adalah kesempatan dari Allah yang dibukakan bagimu, maka manfaatkanlah! __ Gedung Baru Ma'had Anwarussunnah 22 Muharram 1448
Ketika Kebodohan Merajalela Nabi ﷺ telah menyebutkan bahwa semakin mendekati akhir zaman, ilmu semakin terkikis dan kebodohan tumbuh subur seperti jamur setelah hujan. Beliau ﷺ bersabda, إنَّ بيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ لَأَيّامًا، يَنْزِلُ فيها الجَهْلُ، ويُرْفَعُ فيها العِلْمُ، ويَكْثُرُ فيها الهَرْجُ والهَرْجُ: القَتْلُ "Sesungguhnya menjelang hari kiamat nanti ada hari-hari yang padanya kebodohan turun sedang ilmu diangkat. Padanya banyak terjadi kekacauan. Dan kekacauan itu adalah pembunuhan." (HR. Bukhari, no. 7062; dari Sahabat Abdullah bin Mas'ud dan Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy'ary radhiyallahu'anhuma) Bukan karena tidak ada halaqah ilmu, dan bukan karena pintu-pintu ilmu itu tertutup. Bahkan, media-media ilmu itu ada banyak dan mudah diakses, hanya saja hawanafsu lebih mendominasi. Akibatnya, sedikit dari manusia yang mengambil manfaat dari ilmu. Dan kebodohanlah yang lebih dominan membingkai perilaku dan ucapannya. Ucapan-ucapannya bukan didasari ilmu. Sikap-sikapnya tidak dilandasi ilmu. Tindakan-tindakannya jauh dari koridor ilmu. Perbuatannya juga tidak dibangun di atas ilmu. Melainkan didorong oleh hawanafsu. Akibatnya, moralitas merosot, budi luhur semakin ditinggalkan, dan menyebarlah kekacauan. Rasulullah ﷺ bersabda, إنَّ مِن أشْرَاطِ السَّاعَةِ أنْ يُرْفَعَ العِلْمُ، ويَكْثُرَ الجَهْلُ، ويَكْثُرَ الزِّنَا، ويَكْثُرَ شُرْبُ الخَمْرِ "Sesungguhnya di antara tanda-tanda (dekatnya) kiamat ialah diangkatnya ilmu dan banyaknya kebodohan, maraknya zina, maraknya minum khamr." (HR. Bukhari 5231 dan Muslim 2671; dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu'anhu) Maka kebodohan bukan hanya tidak ada ilmu, tetapi hakikat kebodohan adalah lebih mengikuti hawanafsu. Wallahua'lam 15 Muharram 1448 https://t.me/ilmudanrenungan
Pada hari ini, Kamis 10 Muharram 1448, terkumpul padanya banyak keutamaan. Pertama: hari Kamis. Termasuk hari yang paling baik untuk berpuasa. Hari yang padanya pintu-pintu surga dibuka, turun ampunan,¹ dan amal-amal para hamba diangkat kepada Allah ta'ala.² Kedua: hari 'Asyura. Hari kesupuluh dari Syahrullah, bulan suci Muharram. Hari yang mulia. Termasuk hari yang sangat dianjurkan berpuasa padanya, bahkan Nabi ﷺ sangat antusias untuk berpuasa padanya demi mengejar kemuliaannya.³ Beliau menyatakan bahwa Puasa di hari 'Asyura itu menghapuskan dosa-dosa setahun sebelumnya.⁴ Maka, ini merupakan hari yang baik untuk bertabarruk; ngalap barokah. Dengan apa? Tentunya dengan mengikuti apa yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ, karena di situlah letak barokahnya, bukan dengan selainnya. Dalam hal ini adalah mengerjakan puasa. Sebab, baik untuk hari Kamis ataupun untuk hari 'Asyura, yang Nabi ﷺ anjurkan dan contohkan adalah berpuasa. Wallahua'lam. Catatan: 1. HR. Muslim, no. 2565. 2. HR. Ahmad 8343, Tirmidzi, no. 747 dan Ibnu Majah, no. 1740. 3. HR. Nasai no. 2369. 4. HR. Tirmidzi no. 752. https://t.me/ilmudanrenungan
Ujian atau Hukuman ? Merujuk kepada firman-Nya (Qs. Al-Baqarah: 286) لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا "Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya." Lahirlah kata-kata para motivator : Allah tidaklah memberimu ujian di atas batas kesanggupanmu. Kamu orang hebat! Allah memberimu ujian ini, sebab Dia tahu jika kamu mampu memikulnya. Dan kata-kata bijak yang semisal, ditujukan untuk menguatkan orang-orang yang sudah mulai melemah lantaran beratnya ujian. Seakan sudah lindap harapan, tak lagi menyisakan sedikitpun seberkas cahayanya. Maka, kata-kata itu hadir bak angin segar yang memberi kesejukan. Menuntun untuk berbaik sangka kepada Sang Pengatur Segalanya; Allah Al-Mudabbir. Memang kata-kata bijak yang bagus lagi memotivasi. Namun seringnya kita melupakan lanjutan ayat tersebut, padahal sangat bermakna. Barangkali di situlah kita menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan : Kenapa luka ini datang? Mengapa saya diuji sedemikian ini? Apa yang kulakukan, sehingga menyebabkan datangnya semua penderitaan ini? Barangkali di sinilah jawabannya; لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ "Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya." Apa yang kita tabur itulah yang kita tuai. Kebajikan akan melahirkan kebajikan, sementara keburukan akan menyebabkan keburukan. Di sinilah kita perlu mengevaluasi diri, barangkali semua derita ini adalah akibat dari keburukan yang pernah kita buat; kita sadari ataupun tidak. Bukan sekedar ujian, bahkan mungkin hukuman atas dosa yang kita lakukan. Karena itu, banyak-banyaklah memuhasabah diri dan memohon ampunan kepada Allah atas semua kesalahan yang pernah kita perbuat, baik yang kita lakukan dengan sengaja, karena lupa, atau karena kejahilan. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ "Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir." (Terjemah ayat dicopas dari Al-Qur'an terjemah versi Kemenag RI) Petanahan, 06 Muharram 1448 https://t.me/ilmudanrenungan
Tidak keluar dari Imam Ibnul Qayyim rahimahullah kalimat celaan dan cercaan kepada Al-Harawiy pada kesalahan-kesalahannya di dalam kitabnya itu. Bahkan, beliau berusaha meng-interpretasikan kalam Al-Harawiy kepada kemungkinan yang paling baik. Beliau juga mengatakan di akhir bantahannya pada permasalahan tersebut (yakni tentang ar-Raja adalah kedudukan paling lemah dalam perjalanan spiritual manusia menuju Allah), "Semoga Allah memberikan balasan kepada Syaikhul Islam atas usahanya, meninggikan derajatnya, membalasnya dengan balasan paling mulia, dan mengumpulkan antara kita dengan beliau di tempat yang mulia (surga). Seandainya pengkritiknya (Ibnul Qayyim) mendapati keluasan dan kelonggaran untuk tidak menyanggaghnya, dan membantah ucapannya, tentu dia tidak akan melakukannya. Karena bagaimana mungkin, sementara Allah telah membukakan manfaat melalui ucapannya?! Dan dia (Ibnul Qayyim) di hadapannya juga selayaknya seorang murid yang duduk di hadapan gurunya?!" •••• Maka kutipan kalam Ibnul Qayyim rahimahullah ini sedianya bukan sekedar memberi pelajaran untuk tidak bersikap taqlid; membebek kepada individu tertentu. Namun juga tentang sikap adil, bijaksana, beradab dalam hal mengkritik dan membantah kesalahan orang yang berilmu. Wallahua'lam Petanahan, 29 Dzulhijjah 1447 https://t.me/ilmudanrenungan
Bijak Membantah dan Beradab dalam Mengkritik Salah satu kutipan yang sering kita dengar dinisbatkan kepada Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah, bunyinya; شيخ الإسلام حبيبٌ إلينا، والحقُّ أحبُّ إلينا منه، وكلُّ من عدا المعصوم فمأخوذٌ من قوله ومتروك. "Syaikhul Islam tentu kami mencintainya, tapi al-Haq (kebenaran) lebih kami cintai. Semua orang -selain al-Ma'shum (yang terjaga dari kesalahan; Rasulullah ﷺ)- ucapannya itu bisa diambil dan bisa ditinggalkan." Kalam beliau ini bisa kita temukan di kitab Madarijus Salikin, juz 2, halaman 38, cetakan Dar al-Kitab al-'Arabi-Beirut, Libanon th. 1423/2003. Lebih tepatnya pada fashl yang menjelaskan tentang kedudukan ar-Raja (harapan). •••• Sebuah kalimat yang patut ditulis dengan tinta emas. Mengajarkan untuk tidak bersikap taqlid, bahkan meski kepada orang yang dicintainya. Karena bagaimanapun, kedudukan al-Haq lebih tinggi darinya. Sebab, al-Haq bukanlah diukur dengan perseorangan, namun merekalah yang diukur dengan al-Haq. Besarnya jasa seorang, bukan berarti tameng yang memagari kesalahannya dari kritikan dan bantahan. Kesalahan tetaplah kesalahan, tidak boleh diikuti ataupun dibela. (Lihat Jinayatut Tamayyu', jawaban soal pertama-Asy-Syaikh Ubaid Al-Jabiriy rahimahullah). •••• Namun, terlepas dari itu, ada detail yang sering terlewat. Yaitu, tentang gelar; Syaikhul Islam, siapa yang dimaksud oleh Imam Ibnul Qayyim? Banyak yang mengira kalau Syaikhul Islam yang dimaksud adalah guru beliau; Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim, yang memang terkenal dengan gelar tersebut. Dan dalam beberapa kitabnya, Imam Ibnul Qayyim menyebutnya dengan Syaikhul Islam. Tetapi, bagi yang pernah membaca kitab Madarijus Salikin tentu akan menyadari bahwa gelar Syaikhul Islam dalam kalam tersebut yang beliau maksudkan adalah Syaikhul Islam Al-Anshari; Abu Ismail Abdullah bin Muhammad Al-Harawiy rahimahullah (wafat: 481 H), penulis kitab Manazilus Sairin. (Biografinya bisa lihat di Siyar A'lamin Nubala, 18/503) Yang kitab Madarijus Salikin sendiri adalah Syarh untuk kitab tersebut. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya itu sedang menjelaskan isi dari kitab Manazilus Sairin, serta meluruskan dan membantah kesalahan-kesalahan yang ada padanya. Kalam beliau ini juga bagian dari bantahan beliau terhadap ucapan Al-Harawiy yang menyatakan bahwa ar-Raja (harapan) adalah kedudukan paling lemah dalam perjalanan spiritual manusia menuju Allah. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengkritik pernyataan tersebut dan membantahnya, bahwa ar-Raja adalah kedudukan tertinggi lagi paling mulia dalam perjalanan spiritual manusia menuju Allah. Bahkan bersanding dengan kedudukan al-Khauf dan al-Mahabbah, sebagai rukun-rukun ibadah. Sebelum beliau membantah ucapan Al-Harawiy, beliau menyatakan kalam yang masyhur ini. شيخ الإسلام حبيبٌ إلينا، والحقُّ أحبُّ إلينا منه، وكلُّ من عدا المعصوم فمأخوذٌ من قوله ومتروك، "Syaikhul Islam tentu kami mencintainya, tapi al-Haq (kebenaran) lebih kami cintai. Semua orang -selain al-Ma'shum (yang terjaga dari kesalahan; Rasulullah ﷺ)- ucapannya itu bisa diambil dan bisa ditinggalkan." Lalu beliau melanjutkan, ونحن نحمل كلامه على أحسن محامله، ثمَّ نبيِّن ما فيه. "Dan kami akan meng-interpretasi kalam beliau kepada sebaik-baik kemungkinan, lalu akan kami jelaskan (kesalahan) yang ada padanya." Setelahnya, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan sisi kemungkinan paling baik dari maksud ucapan Al-Harawiy, dan mengupayakannya tidak keluar dari garis al-Haq. Baru beliau menyebutkan bantahan beliau. Tidak hanya pada permasalahan ini saja beliau melakukan ini. Tapi pada semua permasalahan. Beliau menukil lengkap ucapan Al-Harawiy, lalu meng-interpretasikannya kepada sebaik-baik kemungkinan, dan jika ada kesalahan, beliau jelaskan letak-letak kesalahannya dan meluruskannya. •••• Ini merupakan contoh nyata sikap bijak dalam hal bantah-membantah, dan beradab dalam mengkritik kepada yang lebih tua dan lebih mendahului.
Apa itu keberhasilan dalam menuntut ilmu? Berhasil dalam menuntut ilmu adalah manakala membuahkan kataqwaan. Pemiliknya semakin dekat dengan Allah. Ia menjadi lebih khasyah terhadap Rabbnya, dan semakin rendah hati kepada sesamanya. اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ "Sungguh, yang takut kepada Allah dari para hamba-Nya adalah ulama." Qs. Fathir: 28. Itulah ilmu yang diamalkan oleh pemiliknya. Akan memberikan pengaruh positif pada diri seorang. Berkata Imam Ats-Tsauri rahimahullah, "Kemuliaan ilmu itu karena digunakan untuk bertaqwa kepada Allah dengannya. Bila tidak demikian, maka itu menjadi perkara-perkara biasa seperti yang lainnya." (Dzammul Mal wal Jah-Ibnu Rajab) Para salaf mengatakan, "Seorang apabila menuntut ilmu niscaya tidak lama kemudian pengaruh ilmu itu akan terlihat pada kekhusyukannya, pandangannya, lisannya, tangannya, shalatnya dan zuhudnya." (Tadzkiratus Sami'-Ibnu Jama'ah) Tolok ukurnya bukanlah dari banyaknya, gelarnya, atau semacamnya. Tapi yang membuahkan taqwa, khasyyah, khusyuk, tawadhu', zuhud, dan taqarrub itulah yang berhasil menuntut ilmunya. Jika ilmu bertambah tapi kesembongan ikut tumbuh mengirinya, lalu semakin berani melakukan dosa dan meremehkan beramal, maka dia bukan orang yang berhasil dalam menuntut ilmu. Wallaua'lam Ruang Kelas 2 MTs Ma'had Anwarussunnah Dzulhijjah 23/1447 https://t.me/ilmudanrenungan
Bukankah mereka sudah terikat perjanjian dalam Kitab (Taurat) bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Negeri akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu mengerti?" Qs. Al-A'raf: 169 (selesai penukilan) Ayat ini menceritakan tentang generasi setelah Nabi Musa 'alaihissalam. Generasi yang mewarisi kitab Taurat, namun sayang mereka lebih mengikuti hawanafsunya sehingga mereka rela menukar warisan yang berharga itu dengan harta benda dunia. Setiap kali ada tawaran dunia, mereka akan mengambilnya tanpa peduli halal dan haram. Ibnul Qayyim rahimahullah melanjutkan, "Allah mengabarkan bahwa mereka selalu mengambil tawaran dunia yang rendah itu meski mereka mengetahui itu haram atas mereka, namun mereka akan mengatakan, "Kami akan diberi ampun." Jika datang tawaran yang lain, mereka akan mengambilnya juga. Mereka selalu seperti itu. Itulah yang mendorong mereka untuk mengatakan sesuatu terhadap Allah tanpa kebenaran, sehingga mereka akan berkata, "Ini hukum Allah, ini syariat-Nya, ini agaman-Nya" padahal mereka mengetahui jikalau hukum Allah, syariat-Nya, dan agama-Nya itu berbeda dengan pernyataan mereka itu. Atau bahkan mereka benar-benar tidak mengetahui hukum Allah, syariat-Nya, dan agama-Nya? Sehingga terkadang mereka mengatakan terhadap Allah apa yang tidak mereka ketahui, dan terkadang mengatakan sesuatu yang dia tahu kalau itu batil. Karenanya, mereka ini pasti akan terjatuh dalam mengada-adakan sesuatu yang baru dalam agama dibarengi dengan perbuatan yang dipenuhi lumuran dosa. Karena mengikuti hawanafsu itu akan membutakan mata hati seorang, sehingga ia tidak bisa membedakan antara yang sunnah dan yang bid'ah, atau bahkan membuat pandangannya terbalik hingga menyangka bid'ah sebagai sunnah dan sunnah sebagai bid'ah. (Selesai penukilan). Wallaua'lam Petanahan, 15 Dzulhijjah 1447 https://t.me/ilmudanrenungan
Nestapa Para Ambisius Dunia Dunia, bukan cuma soal harta. Namun, Asmara, tahta, kedudukan, popularitas, followers (baca: pengikut), validasi, audens, dan semua hal yang akan sirna itu juga bagian dari dunia. Maka siapa yang kepentingannya berporos pada salah satunya atau lebih maka dia adalah orang yang berambisi terhadap dunia. Meski pada awalnya tampak menggiurkan dan menjanjikan, tetaplah muaranya adalah kebinasaan. Sebab, ambisi terhadap dunia akan meremukkan renjana menggapai akhirat. مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِى ٱلْءَاخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا۟ فِيهَا وَبَٰطِلٌ مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ "Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." Qs. Hud: 15-16. Ambisi terhadap dunia akan berseberangan dengan mengikuti kebenaran. Walau di awal seakan bisa berjalan beriringan, pada akhirnya ia akan sampai pada persimpangan yang ia harus memilih salah satunya: ambisinya, atau kebenaran. Mengapa demikian? Karena kepentingannya itu tidak akan sempurna dia dapatkan bila terus mengikuti kebenaran. Maka akan sangat berbahaya keadaannya jikalau ada orang yang menisbatkan dirinya kepada ilmu tetapi hatinya dipenuhi ambisi terhadap dunia. Ia akan bungkam dari kebenaran karena khawatir akan membuyarkan kepentingannya. Bahkan dalam berfatwa pun ia berani menyelisihi kebenaran demi kepentingannya itu. Ia tidak pernah benar-benar berdiri di atas kebenaran, melainkan di atas kepalsuan. Ia akan selalu mengubah posisinya sesuai arah angin yang menguntungkannya. Dia hanya memihak kepada siapa yang akan menguntungkannya. Ia adalah orang yang berbahaya terhadap ilmu dan agama. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (dalam Al-Fawaid hal. 99) berkata, "Siapa saja yang mementingkan dunia dan menyukainya, dia pasti akan berkata terhadap Allah dengan tanpa kebenaran, baik pada fatwanya, keputusannya, pernyataannya, dan kebijakannya. Sebab, seringnya hukum-hukum Allah itu bertentangan dengan keinginan-keinginan manusia. Terutama orang yang berambisi kedudukan. Maka orang yang menuruti hawanafsunya itu tidaklah akan sempurna tujuan-tujuan mereka kecuali dengan menyelisihi kebenaran pada banyak hal. Apabila orang yang berilmu atau penguasa menyukai kedudukan dan mengikuti hawanafsu, maka tidak akan sempurna tujuan mereka itu kecuali mesti menyelisihi kebenaran yang bertolak belakang dengan tujuannya itu. Apalagi jika dibingkai syubhat, maka syubhat dan syahwat pun berkolaborasi sehingga semakin mendominasilah hawanafsu sementara kebenaran menjadi samar, bahkan tertutupi. Andaikan kebenaran itu tampak jelas tanpa kesamaran sedikitpun, ia akan tetap memilih menyelisihinya. Ia akan berkata, "Aku punya jalan keluar, yaitu taubat." Allah ta'ala berfirman tentang orang-orang yang semisal ini, فَخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَّرِثُوا الْكِتٰبَ يَأْخُذُوْنَ عَرَضَ هٰذَا الْاَدْنٰى وَيَقُوْلُوْنَ سَيُغْفَرُ لَنَاۚ وَاِنْ يَّأْتِهِمْ عَرَضٌ مِّثْلُهٗ يَأْخُذُوْهُۗ اَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِّيْثَاقُ الْكِتٰبِ اَنْ لَّا يَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوْا مَا فِيْهِۗ وَالدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ١٦٩ "Maka setelah mereka, datanglah generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini. Lalu mereka berkata,"Kami akan diberi ampun." Dan kelak jika harta benda dunia datang kepada mereka sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga).
penyimpangan. 3. Keluarga bukanlah hambatan dalam menjalankan perintah Allah. Bahkan keluarga yang sehat itu mendahulukan kecintaan kepada Allah di atas segalanya. Saling dukung-mendukung dalam kebaikan dan taqwa. Dengan itu keluarga akan diberkahi. 4. Mendapatkan surga Allah butuh pengorbanan. Seorang harus siap mengorbankan apa yang dimiliki; jiwa raga dan hartanya untuk meraihnya. Menggunakan jiwa raga, harta, dan umurnya untuk ketaatan kepada Allah. Allah berfirman, إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." Qs. At-Taubah; 111
Tentang Sebuah Jarak 1.233 km. Kurang lebih itulah jarak antara Palestina dengan Mekkah. Bukan jarak yang main-main. Berapa hari kiranya bila ditempuh dengan jalur darat? Bisa dibayangkan bagaimana pengorbanan Nabi Ibrahim Al-Khalil dalam melaksanakan perintah Allah. Allah memerintahkah Nabi Ibrahim untuk membawa istrinya dan putranya; Ismail yang masih bayi ke Mekkah dan meninggalkan mereka di sana. Pada saat itu, Mekkah masih berupa lembah yang tandus; tidak ada air, tidak juga berpenghuni. Kisah mereka disebutkan oleh Imam Bukhari dengan panjang lebar dalam kitab Shahihnya dari Sahabat Abdullah bin Abbas; no. 3364. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah mereka, di antaranya; 1. Pengorbanan seorang ayah dalam menjalankan perintah Allah. Tentu, ayah mana yang tidak berat hati dan bersedih kala harus berpisah jauh dari istri dan anaknya, terlebih saat itu komunikasi yang terbatas, dan kendaraan yang masih ala kadarnya. Namun karena itu perintah Allah, Nabi Ibrahim mau-tidak mau, berat-tidak berat hatinya harus tetap menjalankannya. Begitulah prinsip seorang mukmin. Mesti rela mengorbankan apa yang dimiliki untuk menunaikan perintah Allah. Jika itu perintah Allah, maka tidak ada pilihan lain selain melaksanakannya. Allah berfirman, وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka." Qs. Al-Ahzab: 36 2. Kesabaran seorang ibu dalam mendukung suaminya dalam menjalankan perintah Allah. Ummu Ismail Hajar; sikap beliau patut dijadikan panutan. Tentu begitu berat bagi seorang ibu yang baru melahirkan dibawa ke tempat yang jauh dan ditinggalkan di sana dengan sedikit perbekalan. Kalau melihat kisahnya dalam hadits Ibnu Abbas seakan menggambarkan kalau mereka itu jalan kaki. Disebutkan di situ Nabi ﷺ bersabda, أَوَّلَ ما اتَّخَذَ النِّسَاءُ المِنْطَقَ مِن قِبَلِ أُمِّ إسْمَاعِيلَ؛ اتَّخَذَتْ مِنْطَقًا لِتُعَفِّيَ أَثَرَهَا علَى سَارَةَ "Wanita pertama yang memakai ikat pinggang adalah Ummu Ismail. Ia memakainya untuk menutupi jejak kakinya dari Saroh". Pada awalnya, Nabi Ibrahim membawa Hajar dan Ismail yang masih bayi untuk menghindari pengaruh kecemburuan Saroh. Kemudian Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membawa mereka berdua ke Mekkah. Hal yang patut dijadikan teladan di sini ialah sikap Hajar ketika mengetahui kalau Nabi Ibrahim meninggalkan dirinya dan putranya itu atas perintah Allah. Tidak keluar dari beliau ucapan-ucapan yang memojokkan, ungkapan keluhan, bahkan ia mengucapkan kalimat yang semakin menguatkan hati sang suami. Ketika Nabi Ibrahim mulai beranjak meninggalkan Hajar dan Ismail, sontak Hajar mengejar dan bertanya, "Mengapa kamu meninggalkan kami di tempat ini; lembah tandus yang tidak ada orang maupun air padanya?" Nabi Ibrahim diam dan terus berjalan. Hajar mengejar dan menanyakan hal tersebut berulang-ulang, namun Nabi Ibrahim tetap diam tidak mengatakan sepatah katapun. Kemudian Hajar bertanya, "Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk melakukan ini?" "Iya" jawab Ibrahim. Maka Hajar pun berucap, "Kalau begitu, Dia tidak akan menelantarkan kami". Itulah kemantapan hati seorang mukmin. Ia selalu berprasangka baik kepada Allah. Prasangka baik akan menumbuhkan sikap optimis. Jika seorang melaksanakan perintah Allah, tentu Allah akan memberinya penjagaan dan pertolongan. Dalam hadits disebutkan, احفظ الله يحفظك "Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu". HR. Tirmidzi. Maksudnya, siapa yang menjaga perintah Allah dengan menjalankannya, menjaga larangan Allah dengan meninggalkannya, dan menjaga batasan Allah dengan tidak melewatinya, niscayalah Allah akan memberinya penjagaan, mencukupi kebutuhannya, melindunginya dari bahaya, mencukupinya dari kesedihan dan kecemasannya, memberinya jalan keluar dari segala yang membuatnya sempit, dan menjaganya dari terjatuh ke dalam dosa dan
Akibat Mengikuti Hawanafsu Allah ta'ala berfirman, وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ "Dan janganlah kamu mengikuti hawanafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah." Qs. Shaad: 26. _🖊 Mengikuti hawanafsu sebab kesesatan. Karenanya, hendaklah seorang jangan menjadikan hawanafsu sebagai penggerak utama segala perbuatannya, apakah itu ibadahnya, muamalahnya, atau selainnya. Begitu juga dalam mengambil fatwa dalam masalah yang diperselisihkan di antara para ulama, terlebih dalam mengambil kesimpulan mandiri dari nash-nash dalil. Karena, mengikuti hawanafsu itu lebih dekat dengan kesesatan daripada petunjuk, ibaratnya seperti menyusuri jalan berkabut di tepian jurang. Ruang Kelas 3 MTs Ma'had Anwarussunnah Dzulhijjah, 07-1447 https://t.me/ilmudanrenungan
Mustahil Dua Hal yang Berlawanan Bisa Disatukan Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, المحل لا يقبل ضدين "Satu tempat tiadalah dapat menerima dua hal yang berlawanan" (Al-Fawaid) Ini merupakan kaidah yang mencakup banyak permasalahan. Bahwa, dua hal yang saling berlawanan tiadalah mungkin terkumpul dalam satu wadah. Pasti akan unggul salah satunya, dan terkalahkan yang lain. Tidak bisa berdampingan. Tauhid dan syirik misalnya. Dua hal ini tidaklah mungkin terkumpul pada diri seorang. Bila ia memilih syirik, maka tauhid akan tertanggalkan dari dirinya. Bila ia bertauhid, mestilah ia meninggalkan syirik. Karenanya, ketika orang Quraisy menawarkan kepada Nabi ﷺ untuk menyudahi pertikaiannya dengan cara bersama-bsama beribadah kepada Allah selama setahun, dan mengibadahi berhala setahun berikutnya, Allah menurunkan surat Al-Kafirun untuk membatalkan tawaran tersebut; bahwa bagaimanapun, mereka bukanlah penyembah Allah selama masih mengibadahi berhala. Allah berfirman, قُلْ يٰٓاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ لَآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَۙ وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۚ وَلَآ اَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْۙ وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۚ لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ "Katakanlah (hai Rasul), “Wahai orang-orang kafir! aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku." Qs.-Al-Kafirun: 1-6 Maka seorang tidak bisa dikatakan bertauhid dari satu sisi, dan berbuat syirik dari sisi lain. Selama ia berbuat syirik, meski ia kadang menyembah Allah, dengan itu ia tidak bisa dikatakan penyembah Allah. Karena ibadah intinya adalah tauhid, maka siapa yang tidak mendatangkan tauhid, atau tidak dibangun di atas tauhid, maka dia bukanlah penyembah Allah. Tauhid dan syirik adalah dua hal yang terpisahkan, saling bermusuhan. Ahlu tauhid mestilah membenci ahlu syirik. Sebaliknya, ahli syirik juga tidak nyaman dengan ahlu tauhid. Begitu juga sunnah dan bid'ah. Dua hal yang berlawanan tidak mungkin disatukan. Tidaklah seorang melakukan bid'ah, melainkan ia akan meninggalkan sunnah yang semisalnya. Maka seorang bukanlah ahlussunnah selama ia melakukan amalan bid'ah. Begitu juga Al-Qur'an dan nyanyian. Tidak bisa disatukan pada hati seorang, melainkan akan terkalahkan salah satunya. Maka bila seorang hendak mengisi hatinya dengan Al-Qur'an, ia harus membuang nyanyian dari hatinya. ترجو حفظ القرءان و قلبك ... ليس تطهره من الغنى كيف تصلح، فإن من المحال ... أن يجتمع الماء و النار فى الإنا Kamu berharap hafal Al-Qur'an sementara hatimu tidak kamu bersihkan dari nyanyian.. Bagaimana engkau akan bisa, sementara merupakan kemustahilan berkumpulnya air dan api dalam bejana. Begitu juga mengharap akhirat dengan mengejar dunia. Tidak bisa disatukan dalam hati seorang. Berkata Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaury rahimahullah, مَنْ سُرَّ بِالدُّنْيَا، نُزِعَ خَوْفُ الآخِرَةِ مِنْ قَلْبِهِ "Siapa yang senang dengan dunia, maka akan dicabut dari hatinya rasa takut terhadap akhirat". Siyar A'lamin Nubala (7/26) Sungguh, kaidah ini merupakan yang sangat mencakup dan memberi banyak faidah bagi siapa yang mau merenunginya. https://t.me/ilmudanrenungan
Tawakal Itu Separuh Agama Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (2/114) menerangkan, "Tawakal itu separuh dari agama, sedangkan separuhnya yang lain adalah inabah. Karena agama adalah Isti'anah (memohon pertolongan) dan ibadah. Maka tawakal itu memohon pertolongan, dan inabah adalah ibadah." Beliau merujuk kepada salah satu ayat di dalam surat Al-Fatihah, yang kitab Madarijus Salikin sendiri isinya adalah mengungkap rahasia di balik dari ayat tersebut. Yaitu firman-Nya, إيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." Qs. Al-Fatihah: 5 Maka tawakal sebagai bentuk memohon pertolongan lantaran hati bersandar kepada Allah dalam mengatur dan menegakkan urusan-urusannya, sementara inabah itu hati yang selalu kembali kepada Allah dan mendekat kepada-Nya. Itulah wujud ibadah. Karena ini, tawakal bukan pada soal urusan dunia, tetapi juga dalam urusan akhirat. Bahkan tawakal dalam urusan akhirat itu jauh lebih penting, sebab itu berkaitan dengan menggapai rahmat, ampunan, surga, dan terhindar dari segala keburukan di akhirat. Tawakal dan inabah adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, melainkan saling berhubungan. Lantaran kehidupan seorang itu diwarnai dengan dua hal; tantangan & rintangan, dan ketergelinciran. Ketika mencoba suatu tantangan pasti akan ada rintangan, apapun itu, baik membina rumah tangga, menaikkan ekonomi, tarbiyah anak, hubungan sosial, dan semisalnya, maka di situlah peran tawakal. Karena bagaimanapun usaha seorang untuk memperbaiki hubungan yang retak, ekonomi yang merosot, hati yang membandel, jikalau tidak ditolong oleh Allah niscaya akan sulit terwujud. Maka penting untuk memasrahkan segala urusan kepada Allah, sebab Dia-lah yang berkuasa atas segalanya, di tangan-Nya segala urusan, dan Dia-lah yang Maha Mampu untuk membolak-balikkan hati manusia. Di sisi lain, seorang juga perlu mengevaluasi diri, karena barangkali rintangan-rintangan itu menghadang karena sebab dirinya yang sudah jauh dari Allah, untuk kemudian kembali mendekat kepada-Nya dan memohon ampunan atas kesalahannya. Itulah inabah. Maka supaya seorang terbimbing hidupnya, hendaknya dia menetapi tawakal dan inabah; hati yang selalu bersandar kepada-Nya, dan selalu kembali kepada-Nya. Itulah pemenuhan janjinya kepada Rabbnya yang selalu ia ucap di dalam shalatnya, yaitu ketika dia membaca, إيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." Qs. Al-Fatihah: 5 Petanahan, 25 Dzulqa'dah 1447 https://t.me/ilmudanrenungan