tgindex
Taujihat KH. Hilmi Aminuddin

Taujihat KH. Hilmi Aminuddin

Статистика
@t4ujihatРелигияиндонезийский

Kumpulan taujih KH. Hilmi Aminuddin rahimahullah tentang dakwah dan tarbiyah. By Forum Dakwah dan Tarbiyah Islamiyah (FDTI)

Последний пост
2 авг.
Последнее чтение
15 авг.
Постов за неделю
0
Всего постов
20
Тип
открытый
Язык
индонезийский
Категория
Религия (по похожим)
В каталоге с
13 авг.
Подписчики
7 157
−1 за 4 дн.
Сутки
−3
−0,04%
Неделя
 
Месяц
 
Просмотров на пост
3 504
20 постов
Вовлечённость
49,0%
к подписчикам
Постов в день
0,0
всего 20
Упоминаний
0
каналов
Охват размещения
оценка
1/24сутки в ленте
2 123
1/48двое суток
2 432
1/72трое суток
2 624

Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.

Посты

  • 2 авг.1 38783

    Diantara Peran Jama'ah Dakwah: Daurul Himayah (Peran Advokasi) Sebagai muhami, sebagai pengacaranya umat yang melakukan advokasi terhadap umat, pertama-tama sudah barang tentu  advokasi terhadap nilai-nilai ajarannya dulu. Advokasi terhadap nilai-nilai ajaran Islam tahrif yang menimbulkan ihtiraf, penyimpangan. Tahrif dalam ajaran Islam menimbulkan inhiraf min umatil Islamiyah. Begitu juga kita melakukan himayah terhadap umat ini dari usaha-usaha tajziyah, sektoralisasi, parsialisasi dari ajaran Islam. Tajziyah ini berefek tafriqah di kalangan umat Islam, menimbulkan semangat kullu hizbin  bimaa ladaihim farihuun (tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka masing-masing). Lembaga-lembaga, jamaah-jamaah, jam’iyah-jam’iyah, ikatan-ikatan dan himpunan-himpunan bukan menjadi lembaga manajemen administratif penataan potensi umat, tapi sudah menjadi ashabiyah. Begitu juga kita melakukan himayah, melakukan advokasi terhadap ajaran Islam dan sisi tasywih (pengaburan). Tasywih ini memberikan label-label yang buruk, dimana doktrin-doktrin, ajaran-ajaran Islam dianggap sumber malapetaka di dunia ini. Umat Islam akibat kampanye tasywih dimana-mana kehidupannya defensif: saya tidak melakukan itu, saya tidak melakukan ini bahkan saya tidak pergi ke situ dan saya tidak pergi ke sana, cenderung defensif. Padahal dakwah harus ofensif dan ofensif selalu. Akibat tasywih daya ofensif menjadi tumpul dan mandul. Padahal kalau kita lihat ayat-ayat Qur’an yang mendorong penyaluran potensi umat Islam ini rata-rata perintah bersifat ofensif. Ayat-ayat yang menyebutkan fantasyiru fil ardh adalah ayat ofensif, wa saari-uu ilaa maghfiratin mirrabbikum adalah ayat ofensif. Fastabiqul khaerat adalah ayat ofensif. Wajahiduu biamwalihim adalah bagian dan ayat ofensif. Perintah-perintah adalah ofensif. Ud’u ila sabili rabikka bil hikmati wal mau’idzatil hasanah juga bagian dan ayat-ayat ofensif. Jika umat ini dibebani oleh tasywih, maka sifat ofensif ini menjadi tumpul dan mandul. Karena sibuk menolak ini dan itu, menolak keterlibatan di sana dan di situ, dan seterusnya. _____ Simak terus hikmah dakwah dan tarbiyah di channel Telegram: 📚 KH. Hilmi Aminuddin ✅️ Join Channel: https://t.me/t4ujihat

  • 22 июл.2 37231

    без подписи

  • 20 июл.2 932129

    Tugas Usroh Tugas usroh yang paling utama adalah memegang kendali masyarakat (ad daurul al qiyadi) sehingga masyarakat bisa menjadi qaidah al ijtimai'yah (basis sosial) bagi harakah Islamiyah (gerakan Islam). Untuk mencapai pengendalian Ini tentu saja harus dengan bertahap, sesuai dengan tuntutan medan da'wah dan kematangan jama'ah dalam memimpin ummat Islam. Dalam pengendalian, perlu diingat tiga urutan sasaran agar kelak masyarakat menjadi basis sosial harakah yang murni. Pertama, tersebarnya opini umum yang Islami (ar ra'yul aam al Islam). Yaitu bila isu sentral yang tumbuh di masyarakat adalah issu Islam. Masyarakat membicarakan Islam di mana-mana; di kantor, di sekolah, di pasar, di terminal, atau di tempat-tempat keramaian lainnya. Untuk itu da'wah Islam yang berbentuk umum perlu sekali digalakkan ditunjang dan disokong oleh jama'ah. Kedua, setelah opini umum ini tercapai sebagian masyarakat menunjukkan tingkah laku yang Islami (as suluk al ijtima'i al Islami) sehingga kegtatan-kegiatan Islam menjadi milik masyarakat atau menjadi sesuatu yang biasa. Ketiga, setelah dua unsur di atas, maka wajib dibentuk lingkungan yang menunjang gerakan Islam (al bi'ah al harakiyah al Islamiyah), yaitu bi'ah (lingkungan) yang memungkinkan inqilabul Islami (transformasi islami) berlangsung dengan dukungan yang total dari massa ummat. Dalam ketiga tahapan di atas, sikap ummat itu paling tidak berbentuk toleran (at tasamuh), yaitu membiarkan kegiatan da'wah berlangsung, tanpa usil atau ingin menganggu. Sampai menjadi mendukung (ta'yid), yaitu selalu membantu dan membela gerakan da'wah baik dengan tenaga maupun harta. (Dikutip dari Manhaj Harakah Islamiyah, KH. Hilmi Aminuddin, Winaya Ilahi, Bandung: 2026) __ Simak terus hikmah dakwah dan tarbiyah di channel Telegram: 📚 KH. Hilmi Aminuddin ✅️ Join Channel: https://t.me/t4ujihat

  • 20 июл.2 41731

    без подписи

  • 9 июл.3 31055

    Kehadiran buku ini adalah sebuah ikhtiar untuk menghadirkan kembali khazanah pemikiran strategis dalam gerakan dakwah Islam. Buku ini merupakan kumpulan dari tiga materi penting yang pernah diterbitkan pada tahun 2001, yaitu: Siyasatu Ad-Da'wah, Aspek-aspek Pertumbuhan Harakah Islamiyah, dan Siyasah Idarah Da'wah. Ketiga materi tersebut, yang dahulu hadir secara terpisah, kini kami himpun dalam satu judul yang lebih utuh dan tematik: Manhaj Harakah Islamiyah: Strategi, Pertumbuhan, dan Idarah Da'wah. Penggabungan ini kami maksudkan agar pembaca dapat menangkap benang merah yang menghubungkan ketiga aspek tersebut sebagai satu kesatuan sistem dalam gerakan dakwah. Spesifikasi buku: Ukuran A5 | 138 halaman | Kertas HVS 70 gr | Soft Cover Harga: Rp 43.000,- Pemesanan Hubungi: Ummu Hisan 0857-4510-3723

  • 9 июл.2 89544

    ISLAMISASI BUKANLAH ARABISASI صِبۡغَةَ اللّٰهِ ۚ وَمَنۡ اَحۡسَنُ مِنَ اللّٰهِ صِبۡغَةً وَّنَحۡنُ لَهٗ عٰبِدُوۡنَ "Shibgah Allah. Siapa yang lebih baik shibgah-nya daripada Allah? Dan kepada-Nya kami menyembah." Kata shibghah dalam surat Al Baqarah ayat 138 tersebut merupakan isyarat adanya kewajiban mewarnai masyarakat dengan nilai-nilai Islam atau disebut pula sebagai Islamisasi. Namun perlu diingat Islamisasi bukanlah Arabisasi, sehingga misalnya ikhwah di Sumatera Barat tidak perlu merubah kultur Sumatera Barat menjadi kultur Arab. Hal yang perlu dilakukan adalah bagaimana meng-shibghah kulturnya dengan nilai-nilai Islam. Demikian pula dengan ikhwah di Sumatera Utara, Jawa Barat dan Iain-lain. Mereka tetap bisa memelihara kulturnya asalkan diwarnai dengan nilai-nilai Islami. Penjelasan saya ini sangat penting bagi Antum semua sebagai kepala-kepala daerah agar dapat memahami bagaimana meng-shibghah aspek politik, budaya, sosial dan ekonomi dengan nilai-nilai Islam, tanpa perlu menghapus ciri-ciri khas kultur daerah yang tidak bertentangan dengan Islam. (Taujih KH. Hilmi Aminuddin pada acara Saresehan Kepala Daerah di Hotel Sahid Jakarta/Kamis, 30 Januari 2014) ____ Simak terus hikmah dakwah dan tarbiyah di channel Telegram: 📚 KH. Hilmi Aminuddin ✅️ Join Channel: https://t.me/t4ujihat

  • 30 июн.3 449911

    без подписи

  • 30 июн.3 710817

    без подписи

  • 30 июн.3 05079

    без подписи

  • 29 июн.2 83256

    Yang keempat, at-tawazun fit-tamtsil (keseimbangan dalam perwakilan), artinya fungsi-fungsi, tugas-tugas, pendelegasian-pendelegasian yang kita berikan harus juga seimbang kepada potensi-potensi semuanya merasa terwakili; potensi ulama, intelektual, potensi birokrat, potensi teknokrat, potensi bisnismen, potensi pendidik, seluruhnya terwakili, tawazun fit-tamtsil. Mengingat jamaah kita ini semakin luas dari segi tajnid jamahiri dimana para tokoh-tokoh, pakar-pakar, shahibul kafaah bergabung dengan kita atau fit tajnid rekruiting kaderisasi sudah menampakkan aneka ragam kafaah, aneka ragam muyul, yang kita rekrut, sudah barang tentu mereka secara structural merasa terwakili. Ini harus diperhatikan mengingat qa’idah tanzhimiyah kita semakin luas semakin menjangkau aneka entitas kemasyarakatan. Ikhwan dan akhwat fillah, sudah barang tentu dengan ketawazunan-ketawazunan fit tauzhif, fit tafwidh, fit-taqrir, fit tamtsil tadi insya Allah kekokohan jamaah ini bisa lebih terjamin karena semuanya terwakili. Semuanya bisa mengekspresikan, bisa mengaktualisasikan, bahkan bisa mengartikulasikan ide-idenya, pendapat-pendapatnya, bakat-bakatnya, ahli-ahlinya, seluruhnya tampil dalam hidup kejamaahan yang memang membutuhkan mereka semua karena doktrin kesyumuliyahannya dan ketakamuliyahannya. Yang kelima, at-tawazun fi tamwil, sebagai dukungan bagi kokohnya tawazun fi tauzhif, tawazun fi tafwidh, tawazun fi taqrir dan tawazun fi tamtsil jama’ah. Kita memerlukan tawazun fi tamwil. Kekokohan istiqrar tanzhimi selalu membutuhkan keseimbangan anggaran, keseimbangan pendanaan, atau keseimbangan pembiayaan. Karena amwal merupakan darah dari aktivitas manusia, begitu juga gerakan dakwah kita memerlukan darah itu, sesuai dengan tuntutan dan tuntunan Al-Qur’an surat At-Taubah: 41, "Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (Q.S. At-Taubah: 41) Ikhwan dan akhwat fillah, Keseimbangan anggaran dalam jamaah adalah merupakan keharusan, jangan sampai terjadi adanya bidang miskin dan bidang kaya, atau departemen ‘basah’ dan departemen ‘kering’, atau wilayah dakwah gemuk dan wilayah dakwah kurus. Untuk terjaganya tawazun fi tamwil atau keseimbangan anggaran, atau keseimbangan pembiayaan diperlukan dua hal: Pertama, adanya keadilan anggaran antar pusat dan daerah, antara wilayah, dan antar bidang, antar departemen. Keadilan anggaran juga berarti keharusan memperhatikan keseimbangan antara kemampuan otoritas keuangan jamaah dalam memenuhi anggaran dengan tuntutan kebutuhan bidang-bidang, departemen-departemen, dan wilayah-wilayah atas anggaran. Kedua, adanya semangat ta’awun, semangat tadhamum, dan semangat takaful antar bidang, antar departemen, antar wilayah dan bahkan antar personil jamaah dakwah ini, sehingga jamaah dakwah ini benar-benar menjadi 'kal jasadil wahid’ yang seluruh komponennya saling merespon satu sama lain secara proaktif. (Kutipan Taujih KH. Hilmi Aminuddin pada acara Pembukaan Musyawarah Majelis Syura 01, Jakarta, 18 Juli 2003) Simak terus hikmah dakwah dan tarbiyah di channel Telegram: 📚 KH. Hilmi Aminuddin ✅️ Join Channel: https://t.me/t4ujihat

  • 29 июн.2 411108

    ISTIQROR TANDZIMI (Kekokohan Organisasi) Ikhwan dan akhwat fillah, sudah barang tentu untuk mencapai istiqrar tanzhimi itu ada beberapa rukunnya, ada beberapa muqawwimat-nya, ada beberapa sendinya bagi istiqrar tanzhimi, yaitu adanya ketawazunan, adanya keseimbangan. Pertama, at-tawazun fit tauzhif, keseimbangan dalam memfungsikan potensi yang tersedia, potensi yang ada pada ikhwan dan akhwat, apakah potensi itu, potensi intelektual dengan tsaqafah kauniyah nya ataukah potensi ulama dengan tsaqafah syar’iyah nya ataukah potensi para praktisi bisnis apakah para budayawan, para seniman, para pedagang menengah, pedagang kecil, para pendidik, para sosiolog, seluruhnya harus seimbang terfungsikan. Saya sebutkan seimbang, terfungsikan, mengingat selain fungsi-fungsi dakwah, mereka pun dituntut akan fungsi-fungsi dari kafaah masing-masing. Kafaah mereka sebagai mu’allim, kafaah mereka sebagai mudarris kafaah mereka sebagai birokrat, kafaah mereka sebagai politisi, kafaah mereka sebagai pedagang dan kafaah-kafaah yang lain juga perlu difungsikan, karena semuanya adalah bagian dari khazanatud da’wah. Sekali lagi harus dengan tawazun, at-tawazun fit tauzhif. Allahu akbar walillahil hamd. Jangan sampai terjadi seolah-olah dakwah ini paradoks dengan aktivitas perdagangan, paradoks dengan tugas-tugas di kepegawaian negeri, paradoks dengan aktivitas seorang akunting, paradoks dengan aktivitas manajemen sekolah dan paradoks dengan aktivitas para guru. Sehingga kalau prestasi menjadi guru berkurang, beralasan terganggu oleh aktivitas dakwah. Kalau pegawai negeri tidak lancar, beralasan terganggu oleh aktivitas dakwah. Sangat tidak riil dakwah ini menjadi kambing hitam akan terhambatnya prestasi-prestasi di bidang kafaah apapun. Justru dakwah ini harus menjadi pemicu dan pemacu semangat penjabaran kafaah masing-masing di bidangnya masing-masing di lahannya masing-masing. Tawazun fit tauzhif adalah salah satu rukun dasar bagi istiqrar tanzhimi. Ikhwan dan akhwat fillah, yang kedua, at-tawazun fit tafwidh, keseimbangan dalam pendelegasian wewenang. Ikhwan dan akhwat semuanya masulin dan masulat amamallah, jangan sampai menjadi seksi sibuk sementara yang lainnya tidak kebagian pekerjaan, karena kurang pendelegasian. Pendelegasian pekerjaan sudah barang tentu dengan keseimbangan. Jangan sampai dengan alasan kekurangan pendelegasian akhirnya si pemegang wewenang tidak melakukan apa-apa. Itu namanya tidak seimbang. At-tawazun fit-tafwidh, seimbang dalam mendelegasikan wewenangnya, seimbang dalam melalui saluran-saluran wazhifah tanzhimiyah yang tersedia di bawah tanggung jawabnya kita salurkan, karena dengan kurang seimbangnya kadar atau tafwidh pendelegasian maka akan terjadi akumulatif kesibukan, tertumpuknya kerepotan, yang akhirnya kadang-kadang menuntut diri kita menjadi otoriter, dictator, karena semuanya harus memutuskan sendiri. Padahal banyak hal yang sebetulnya bisa didelegasikan untuk memutuskan. Oleh karena itu sekali lagi at-tawazun fit-tafwidh itu harus dilakukan agar seluruh fungsionaris, ikhwan dan akhwat di jajarannya masing-masing bisa mustaqir tanzhimiyan (stabil secara struktural). Yang ketiga, at-tawazun fit-taqrir (keseimbangan dalam pengambilan keputusan), sebab pendelegasian wewenang tanpa diberi hak mengambil keputusan dalam bidangnya juga adalah pendelegasian yang mubadzir, pendelegasian yang membuat terbengkalainya potensi orang yang menerima pendelegasian itu, makanya harus ada juga keseimbangan dalam pengambilan keputusan. Sesuatu yang kita delegasikan itu bukan saja pekerjaannya, tapi juga keputusannya dalam bidang-bidang teknis operasionalnya juga kita delegasikan. Di sini sekaligus merupakan suatu kaderisasi dalam kepemimpinan, yaitu upaya menumbuhkan an-nukhbah al-qiyadiyah (kader-kader kepemimpinan). Tumbuh bermunculan karena sudah biasa bukan saja difungsikan, diberi wewenang pendelegasian, tapi juga diberi hak mengambil keputusan di dalam bidang yang telah didelegasikan.

  • 26 июн.2 942128

    Tujuan Perjuangan Kita Banyak analis politik mengatakan bahwa semua partai saat ini secara ideologi bergeser ke tengah sehingga tidak bisa dibedakan satu sama lain. Kemudian partai-partai tersebut tidak lagi berbicara soal ideologi melainkan tentang kesejahteraan rakyat.   Maka kita pun perlu mengajukan pertanyaan kepada diri kita sendiri apakah tujuan perjuangan kita hanya untuk menjadikan bangsa Indonesia makmur dan sejahtera seperti halnya bangsa Jepang atau bangsa-bangsa Barat. Saya perlu menegaskan bahwa memperjuangkan kesejahteraan rakyat hanyalah salah satu tujuan perjuangan, agar mudah dicerna oleh logika publik namun kita tidak boleh mengalami pergeseran perjuangan yakni bagaimana umat, bangsa dan kemanusiaan pada umumnya ya'buduunanii wa laa yusyrikuuna bii syai-aa yakni hanya menyembah Allah dan bukan yang lain atau dengan kata lain menjadikan umat dan bangsa yang bertauhid dan bukan bangsa kafir yang sejahtera. Walaupun kondisi bangsa kita saat ini mengalami ketertinggalan dalam segah aspek kehidupan, kita tidak akan menjadikan bangsa-bangsa Barat yang sejahtera tapi kafir sebagai rujukan atau acuan. Kita berharap dapat menjadikan bangsa Indonesia baldatun thoyyibatun ghofur, negeri yang sejahtera dan diridhai serta diampuni Allah. Memang banyak fakta menyedihkan di negeri ini karena kita bangsa yang kaya namun yadus suflaa (tangan di bawah) masih didonasi oleh negara-negara yang lain. Kebanggaan kita akan swasembada beras sudah tidak ada lagi bahkan kita malah memiliki  impor beras dan gandum dari berbagai negara. Hal inilah yang disebut sebagai food trap (perangkap makanan) karena jika perut bangsa ini sudah tergantung dengan bangsa lain, maka dikhawatirka  secara bertahap kita akan memiliki ketergantungan dalam segi akal dan hati. Masalah menipisnya bahan bakar padahal kita belum memiliki alternatif-alternatif juga menjadi persoalan serius bangsa kita demikian pula deforestasi atau penggundulan hutan-hutan di Kalimantan menyebabkan masa kejayaan produksi kayu kita habis. Oleh karena itu masih banyak sekali yang perlu kita benahi di dalam negara dan bangsa ini dan untuk bisa membenahi kita membutuhkan otoritas dan kekuasaan. Untuk meraih hal itu, mau tidak mau kita harus mempersiapkan nashr-nashr berikutnya agar terakumulasi menjadi marhalatut tamkin yang bermuara pada tegaknya syariat Islam, sebagaimana digariskan oleh Allah;     اَلَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ وَاَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَلِلّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ "(Yaitu) Orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allahlah kembali segala urusan.” وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـًٔاۗ "..dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun." Maka jelas persepsi kesejahteraan kita berbeda dengan kesejahteraan ala Barat atau Timur, karena sejak dulu kita ummatan wasathan (umat pertengahan). Para penguasa dalam perpekstif Islam memiliki kewajiban membebaskan rakyatnya dari rasa lapar dan takut, seperti dalam surat Al Quraisy ayat 4: الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ   "Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan.” (Kutipan taujih KH. Hilmi Aminuddin pada konsolidasi TPPW DPW PKS Jawa Barat, 1 April 2014) ___ Simak terus hikmah dakwah dan tarbiyah di channel Telegram: 📚 KH. Hilmi Aminuddin ✅️ Join Channel: https://t.me/t4ujihat

  • 24 июн.3 29341

    без подписи

  • 18 июн.4 1712610

    "KAMUKAH YANG MENUMBUHKANNYA ATAU KAMIKAH YANG MENUMBUHKANNYA?" (QS. Al-Waqi'ah ayat 64) Kita bisa menanam tetapi tidak bisa menumbuhkan. Profesor ahli pertanian sekalipun, bagaimana hebatnya bisanya hanya menanam tetapi tidak bisa menumbuhkan.   Inilah pentingnya bagi da'i, untuk menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Ketika menyebarkan benih-benih mas'uliyah, amanah, karam, sidiq pada hakekatnya kita cuma menyebarkan, karena nanti yang akan menumbuhkan adalah Allah. Oleh karena itu Allah sendiri dengan tegas menyatakan kepada Rasul, innaka lan tahdi (sesungguhnya kamu tidak bisa memberi petunjuk). Ketika membimbing orang, kita harus berkomunikasi dengan Allah SWT, sebab Allah yang akan menghidupkan apa yang kita tanam. Operasi dakwah sangat sinkron dan membentuk harmoni dengan alam semesta. Saya sering mengingatkan betapa pun kita sedikit, atau bahkan boleh jadİ secara fisik sendirian, kita tidak akan pernah merasa sendirian karena semua makhluk Allah sudah tertata untuk harmonis dengan kita, mendukung dan menopang kita. Di sinilah pentingnya tsiqah seorang da'i bahwa "kita tidak sendirian” karena selalu beserta mahluk Allah yang lain. Saya sering pula mengatakan bahwa mungkin saja da'i di dunia ini minoritas, tapi pada hakikatnya di semesta raya merupakan mayoritas. Oleh karena itu, kita harus percaya diri, sebab seandainyapun kita di suatu negara bahkan di dunia seorang diri, sesungguh  di semesta raya kita memiliki banyak teman. Sekali lagi kita harus meyakini bahwa dalam berjuang, angin pasti membantu kita, demikian pula matahari dan bulan pasti ikut membantu. (Kutipan Taujih KH. Hilmi Aminuddin dalam Silaturahim Syawal dengan Bidang Perempuan di Lembang, 11 Syawwal 1432 H/10 September 2011). ___ Simak terus hikmah dakwah dan tarbiyah di channel Telegram: 📚 KH. Hilmi Aminuddin ✅️ Join Channel: https://t.me/t4ujihat

  • 9 июн.4 593134

    Negara yang Kita Cita-citakan Masa depan kita tergambar dalam mihwar tanzhimi (fokus kerja pembangunan organisasi, red.), kemudian mihwar sya'bi (fokus kerja pembinaan masyarakat) dan muassasi (kelembagaaan formal), sebentar Iagi memasuki mihwar dauli (fokus kerja kenegaraan). Harus dicatat dalam dimensi masa depan itu, format politik yang kita cita-citakan adalah negara yang membawa misi kebaikan dan perbaikan (daulah risalah wa dakwah). Tanpa pemahaman yang jelas itu, maka memasuki poros kekuasaan akan dianggap sebagai tujuan sesaat untuk menikmati jabatan dan kekayaan. Justru, dengan memasuki pusat kekuasaan, maka risalah dan dakwah akan semakin besar. Pernahaman selanjutnya bahwa politik yang kita perjuangkan ialah negara yang mengayomi dan melayani rakyatnya (daulah riayah). Negara yang santun, menyembuhkan orang yang sakit, mengenyangkan mereka yang kelaparan, sehingga siapapun yang hidup di dalamnya mendapatkan rasa aman, kesejukan dan ketenangan. Setiap orang merasakan sentuhan rahmatan lil 'alamin. Negara yang kita cita-citakan itu adalah daulah hadlarah, negara berperadaban tinggi yang sanggup mewarnai (shibghah) bidang sosial-budaya, politik-ekonomi, dan seluruh aspek kehidupan manusia, sehingga menjadi guru bagi seluruh dunia (ustadziyaatul 'alam). Persiapan menuju cita-cita itu harus diperkokoh, sebagaimana tercermin dalam program kerja ini yang memperkuat sisi kaderisasi (tajnid) dan kemasyarakatan (ijtimaiyyah).    Dalam aspek ijtimaiyah sudah terkandung agenda iqtishadiyah (perbaikan ekonomi masyarakat) yang sangat dinantikan. Sementara dalam aspek tajnid nukhbawi terkandung target pembinaan qiyadah fikriyah wa siyasiyah, karena mengelola negara memerlukan pakar dalam berbagai bidang. Demikianlah  harapan saya, program kerja kita memperhatikan aspek  sejarah, realitas kekinian dan masa depan yang penuh tantangan. _ Simak terus hikmah dakwah dan tarbiyah di channel Telegram: 📚 KH. Hilmi Aminuddin ✅️ Join Channel: https://t.me/t4ujihat

  • 1 июн.5 245189

    BERJUANG DALAM KORIDOR KONSTITUSI Kader PKS harus tampil sebagai entitas yang berdisiplin dengan konstitusi yang sering dirinci sebagai 4 Pilar. Sebagai kader dakwah kita tidak mempermasalahkan Pancasila, karena Pancasila merupakan kontrak politik nasional antar komponen bangsa. Di masa Orde Baru, umat Islam mempermasalahkan Pancasila karena rezim pada saat itu memaksakan adanya tafsir tunggal yang dirumuskan Oleh BP7 dalam bentuk P4. Hal tersebut sudah saya jelaskan ke pimpinan TNI bahwa PKS tidak mempermasalahkan ideologi Pancasila sepanjang Pancasila menjadi ideologi yang hidup dan terbuka serta tidak memiliki tafsir tunggal yang dipaksakan kepada segenap komponen bangsa. Sebab ketika ada kelompok, institusi, ataupun negara sekalipun memaksakan tafsir tunggal terhadap ideologi Pancasila, maka pasti akan menimbulkan keresahan dan kericuhan seperti di masa Orde Baru. Oleh karena itu sebagai partai Islam dan sekaligus partai dakwah kita tidak mempermasalahkan butir-butir Pancasila karena kita memiliki bingkai dan perspektif  Islam untuk  memahami  dan menafsirkannya. Demikian pula halnya UUD '45, tidak kita permasalahkan karena merupakan produk tahkim berdasarkan kesepakatan nasional dan bersifat tidak mutlak sehingga bisa direvisi atau diamandemen. Selanjutnya kita juga tidak mempermasalahkan Bhinneka Tunggal Ika, karena kitapun menyadari bahwa perbedaan dan keberagaman (tanawwu) adalah bersİfat fitrah. Allah SWT menciptakan keberagaman di muka bumi ini, sehingga kita juga harus mengakui keberagaman bahkan keberagaman agarna. Sebab walaupun kita tidak mengakui kebenarannya tetap lıarus mengakui keberadaannya dan tidak boleh menzhaliminya, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Anam: 108.   "Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka yang nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan." Dalam ayat tersebut kita dilarang mencaci-maki mereka karena agama-agama tersebut walaupun kita tidak akui kebenarannya tetap menjadi sumber kekuatan moral bagi manusia tertentu. Dalam ayat lainnya yakni surat Al Hajj: 40, dijabarkan oleh Allah  SWT tentang sunnatul mudaafa'ah, yang jika tidak ada sunnatul mudaafa'ah, saling mengoreksi dan saling mengingatkan di antara umat manusia maka akan hancurlah rumah-rumah peribadatan yakni sinagog, kelenteng-kelenteng, gereja-gereja dan masjid-masjid. Sebab di tempat-tempat ibadah tersebut mereka sebenarnya menyebut Allah walaupun dengan cara dan sebutan yang salah. Bagaimanapun juga agama tersebut telah menjadi kekuatan kendali moral bagi manusia tersebut. Sekali Iagi, masalah keberagaman adalah masalah fitrah yang harus diakui dan kita akan binasa jika menabrak fitrah. Demikian pula akhirnya dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang jelas kita akui karena ini adalah negara kita dan umat Islam adalah mayoritas penduduk negeri ini. Bahkan di masa Soeharto, Jenderal Faisal Tanjung dengan jujur dan berani di masa itu mengatakan bahwa Islam merupakan daya kohesif nasional bangsa Indonesia. Oleh karena itu kita tidak perlu ragu Iagi untuk berada di koridor konstitusi dan piawai beragumentasi dengannya sehingga kita tidak kena delik yakni dituduh anti Pancasila, anti UUD '45 atau anti NKRI. (Kutipan taujih KH. Hilmi Aminuddin pada Raker Bidang Kaderisasi DPP PKS; Lembang, 30 Agustus 2014) _____ Simak hikmah dakwah dan tarbiyah di chamnel Telegram: 📚 KH. Hilmi Aminuddin ✅️ Join Channel: https://t.me/t4ujihat

  • 30 мая4 244157

    Peringatan Kepada Kader Gerakan Perubahan: Musyarokah Jangan Menjadi Musaroqoh Sebagai kader gerakan perubahan, terkait dengan pemilu, kita tidak boleh mengumpulkan harta, apalagi dengan korupsi, manipulasi, atau cara-cara haram. Kadang-kadang semangat intifa’ (pemanfaatan) dari musyarokah (partisipasi/persekutuan politik) , kalau gegabah—tidak dikontrol secara syar’i, akan berubah menjadi musaroqoh (saling mencuri). Hati-hati Walikota! Hunaka khutharah—disana ada hal-hal yang membahayakan—jangan berpikir, ‘mumpung berkuasa, ngumpulin dana buat pemilu’. Kadang-kadang dibingkai dengan sebutan ‘Infaq Dana Dakwah’. Hati-hati, kenapa? Karena selain gerakan Islam, kita ini adalah partai dakwah. Kita tidak ingin melakukan perubahan dengan mengorbankan akhirat kita; memperbaiki kehidupan dunia kita tapi dengan mencabik-cabik agama kita. Akhirnya laahiquna yabqa walaa ma yurakhiqu, dunia tidak didapat, bahkan tidak tersisa, diin (agama) kita hilang. Itu bukan manhaj kita. Dan kita memang bukan harakah tarqi’iyah, harakah (gerakan) yang tambal sulam, tapi kita adalah harakah ishlahiyah (gerakan perbaikan). -------------------------- Simak terus hikmah dakwah dan tarbiyah di channel Telegram: 📚 KH. Hilmi Aminuddin ✅️ Join Channel: https://t.me/t4ujihat

  • 27 мая4 548122

    без подписи

  • 23 мая5 01333

    Hati-hati, jangan terjebak dalam penyimpangan dakwah! Jangan menyimpang dari khittah syumuliyyah dan takamuliyyah... https://youtu.be/tsYI8LsOQJ8?si=AwVpVpkVs5Jpu5ik | Taujih KH. Hilmi Aminuddin

  • 19 мая5 27443

    без подписи