tgindex
DR. Muhsin Labib

DR. Muhsin Labib

Статистика

https://muhsinlabib.com/

Последний пост
14 авг.
Последнее чтение
15 авг.
Постов за неделю
12
Всего постов
30
Тип
открытый
Язык
und
Категория
Религия (по похожим)
В каталоге с
13 авг.
Подписчики
1 790
−1 за 4 дн.
Сутки
−1
−0,06%
Неделя
 
Месяц
 
Просмотров на пост
76
30 постов
Вовлечённость
4,2%
к подписчикам
Постов в день
1,7
всего 30
Упоминаний
0
каналов
Охват размещения
оценка
1/24сутки в ленте
54
1/48двое суток
61
1/72трое суток
66

Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.

Посты

  • Pertanyaan itu mungkin lebih penting daripada apakah sebuah rumah sudah memasang bendera atau belum. Ada ironi yang kadang luput. Kita bisa sangat tegas mengingatkan warga memasang bendera sebagai penghormatan kepada kemerdekaan, tapi tidak selalu setegas itu menuntut keadilan, kesejahteraan, dan kekayaan negara benar-benar hadir dalam hidup warga. Bendera harus berdiri tegak. Tentu. Tapi keadilan juga seharusnya begitu. Kita marah kalau bendera dipasang sembarangan, tapi terlalu santai melihat ketidakadilan berlangsung bertahun-tahun. Kita ribut kalau ada yang tidak memasang merah putih, tapi tidak seribut itu ketika kesenjangan ekonomi kian melebar. Mungkin itu sebabnya saya tidak lagi terlalu cemas setelah melihat hampir tidak ada bendera di kompleks. Saya tetap akan memasang bendera ketika pesanan datang. Saya tetap menghormati simbol itu, tetap merasa ada yang indah ketika merah putih berkibar di depan rumah pada bulan Agustus. Hanya saja, saya tidak ingin menganggapnya bukti terakhir bahwa seseorang mencintai Indonesia. Saya tadi takut terlambat memasang bendera karena saya orang baru dan minoritas — takut berbeda, takut dianggap kurang peduli. Ternyata orang-orang di sekitar saya tidak sedang menunggu apa pun dari saya. Yang saya takutkan ternyata hanya penilaian yang saya ciptakan sendiri. Lucu juga menjadi orang baru: kita datang membawa kecemasan, sementara lingkungan tidak sedang mencemaskan kita. Tapi dari kecemasan kecil itu saya menemukan pertanyaan yang lebih besar — jangan-jangan kita terlalu sibuk mempertahankan bentuk kemerdekaan, sementara isinya belum selesai kita perjuangkan. Saya akan memasang bendera. Tapi setelah ia berkibar, saya tetap ingin bertanya tentang kemerdekaan yang lain: kapan hukum benar-benar adil, kapan kesenjangan berkurang, kapan kebutuhan pokok terasa murah, kapan kekayaan alam sungguh kembali kepada rakyat, dan kapan warga tak lagi merasa negara terutama hadir lewat kewajiban membayar pajak? Bendera adalah tanda bahwa kita pernah merdeka, atau ingin benar-benar merdeka. Kehidupan yang adil adalah tanda bahwa kemerdekaan itu benar-benar berarti. Dan mungkin, kalau yang kedua sudah cukup terasa, orang tak perlu terlalu banyak disuruh memasang yang pertama.

  • BENDERA Saya pulang-pulang langsung memesan tiang dan bendera. Sebentar lagi 17 Agustus, dan saya membayangkan merah putih berdiri tegak di depan rumah — setidaknya sebagai tanda saya tidak lupa negeri ini sedang merayakan kemerdekaannya. Ada sedikit kecemasan dalam urusan sederhana itu. Saya orang baru di kompleks ini, sekaligus minoritas. Belum tahu kebiasaan setempat, dan merasa harus lebih hati-hati. Jangan sampai keliru, jangan sampai dianggap tidak peduli. Maka saya memesan lebih awal, seperti mendahului keadaan — menunggu tiang dan bendera datang sebelum rumah lain memasang lebih dulu. Rasanya seperti mengikuti perlombaan yang tidak pernah diumumkan. Saya menunggu cukup lama. Lalu melihat sekeliling: ternyata hampir tidak ada yang memasang bendera. Saya sebenarnya berlomba dengan siapa? Tidak ada yang tahu, menunggu, atau menghitung. Tidak ada petugas nasionalisme berkeliling menilai tinggi tiang bendera warganya. Saya justru lega. Kecemasan yang saya pelihara sejak kemarin ternyata tidak punya objek. Saya sibuk takut terlambat, sementara orang lain bahkan tidak merasa sedang berangkat. Ada yang lucu dari pengalaman itu, tapi juga yang mengusik. Mengapa hampir tidak ada bendera di kompleks ini? Apakah orang sudah jenuh dengan seremoni? Apakah memasang bendera kini sekadar kebiasaan tahunan yang boleh dilakukan, boleh juga tidak — ataukah orang mulai punya ukuran sendiri tentang kemerdekaan? Tidak memasang bendera tak berarti tidak nasionalis. Nasionalisme terlalu besar untuk diukur dari sebatang tiang dan selembar kain. Seseorang bisa saja lupa, sibuk, malas, tidak punya tiang, atau memang merasa tidak perlu — seribu alasan, tidak semuanya soal kecintaan pada negara. Namun kalau ketidakpedulian ini memang mulai meluas, ia layak dilihat sebagai gejala sosial. Mungkin orang terlalu sering mendengar kata "kemerdekaan," tapi terlalu jarang merasakan isinya. Setiap Agustus kita sibuk memasang bendera dan umbul-umbul, menyelenggarakan upacara, menyanyikan lagu perjuangan, mendengarkan pidato jasa pahlawan. Semua itu baik — bangsa memang butuh simbol dan ingatan, dan negara tanpa simbol akan kehilangan sebagian ingatan kolektifnya. Tapi rakyat juga butuh sesuatu yang jauh lebih sulit daripada seremoni: keadilan. Kemerdekaan terasa ketika hukum tidak membedakan orang berdasarkan keyakinan, kekayaan, jabatan, koneksi, kesukuan, atau kekuasaan — ketika orang miskin dan minoritas tak perlu merasa lebih kecil di hadapan hukum daripada orang kaya. Kemerdekaan juga terasa ketika kesenjangan ekonomi tidak dibiarkan jadi pemandangan biasa. Sulit bicara panjang tentang kemerdekaan kepada orang yang tiap hari menghitung uang belanja sampai rupiah terakhir. Harga sembako yang masuk akal kadang lebih meyakinkan daripada pidato paling berapi-api tentang perjuangan bangsa. Lalu soal kekayaan alam. Negeri ini punya tanah, laut, hutan, tambang, energi yang besar — semestinya membuat rakyat merasa memiliki masa depan yang lebih baik. Jangan sampai orang tinggal di negeri kaya sumber daya tapi merasa miskin di atas tanahnya sendiri, apalagi bebannya ditambah regulasi pajak yang kian berat di tengah ekonomi sulit. Di sinilah kemerdekaan menjadi persoalan yang jauh lebih serius daripada memasang bendera. Bendera bisa dipesan lewat telepon, tiang dibeli, kurir mengantar ke rumah — tinggal pasang, ikat, selesai. Keadilan tidak bisa dipesan lewat aplikasi. Kesejahteraan tidak datang bersama kurir. Pemerataan tidak bisa dibayar dengan ongkos kirim. Kemerdekaan yang benar-benar terasa dalam hidup warga butuh sesuatu yang jauh lebih sulit: tata kelola yang adil, ekonomi yang tidak membuat rakyat terus cemas, dan sumber daya alam yang sungguh dikelola untuk kemakmuran rakyat. Negara tentu butuh pajak, untuk membiayai kebutuhan dan pelayanan publik. Tapi di negeri kaya sumber daya, wajar jika rakyat bertanya: mengapa kekayaan sebesar itu tidak cukup terasa dalam hidup mereka? Mengapa rakyat terus diminta membayar, sementara kekayaan alam yang semestinya jadi sumber kemakmuran bersama tidak selalu terasa demikian?

  • Kita tidak berkata sekadar ṣallaytu ‘alā Muḥammad dalam formula yang menjadikan manusia sebagai sumber independen tindakan itu. Formula yang diajarkan adalah Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa āli Muḥammad. Ya Allah, lakukanlah shalat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Dan kita juga mengatakan Ṣalawātullāh ‘alā Muḥammad wa āli Muḥammad, shalawat Allah atas Muhammad dan keluarga Muhammad. Keduanya mempertahankan satu hal yang sama: Allah adalah pelaku shalat yang utama. Karena itu, tidak aneh mengatakan bahwa Allah menyalatkan Nabi. Justru Al-Qur'an sendiri mengatakan demikian. Tidak aneh mengatakan bahwa malaikat menyalatkan Nabi. Al-Qur'an juga mengatakan demikian. Tidak aneh manusia bershalawat kepada Nabi. Al-Qur'an memerintahkannya. Dan tidak aneh jika dalam tradisi Syiah shalawat menjadi kultur yang sangat kuat, karena bagi Syiah, shalawat bukan hanya sebuah formula yang dibaca sesekali. Ia menjadi salah satu bentuk paling sederhana dan paling terus-menerus untuk menghubungkan umat dengan Muhammad dan Ahlulbait melalui Allah. Dengan demikian, ketika seorang Muslim mengucapkan Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa āli Muḥammad, ia sebenarnya sedang mengucapkan sebuah doa yang sangat mendasar: “Ya Allah, bershalatlah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.” Manusia meminta. Allah melakukan. Muhammad dan Āl Muhammad menerima. Maka, justru di dalam shalawat yang kita ucapkan sendiri terdapat pengakuan bahwa shalat itu pada akhirnya adalah milik Allah. REFERENSI Referensi Syiah 1. Muḥammad ibn ʿAlī ibn Bābawayh al-Ṣadūq, Al-Amālī, riwayat wasiat Nabi kepada Imam Ali menjelang wafat, termasuk riwayat bahwa al-Jabbār adalah pihak pertama yang memberikan shalat kepada Nabi. 2. al-Faḍl ibn al-Ḥasan al-Ṭabrisī, Rawḍat al-Wāʿiẓīn wa Baṣīrat al-Muttaʿiẓīn, bagian mengenai kehidupan dan wafat Rasulullah saw. 3. Muḥammad Bāqir al-Majlisī, Biḥār al-Anwār, jilid 22, bagian mengenai wafat Rasulullah saw. 4. Muḥammad ibn Masʿūd al-ʿAyyāshī, Tafsīr al-ʿAyyāshī, tafsir ayat-ayat mengenai ṣalāt dan Rasulullah. 5. al-Syaikh al-Ṭūsī, Al-Tibyān fī Tafsīr al-Qurʾān, tafsir QS al-Aḥzāb 33:43 dan 33:56. 6. al-Faḍl ibn al-Ḥasan al-Ṭabrisī, Majmaʿ al-Bayān fī Tafsīr al-Qurʾān, tafsir QS al-Aḥzāb 33:43 dan 33:56. 7. al-Sayyid Hāshim al-Baḥrānī, Al-Burhān fī Tafsīr al-Qurʾān, pembahasan ayat-ayat tentang shalat Allah dan shalawat kepada Nabi. 8. Muḥammad ibn al-Ḥasan al-Ḥurr al-ʿĀmilī, Wasāʾil al-Shīʿah, bab-bab mengenai shalawat kepada Rasulullah dan Ahlulbait. 9. ʿAlī ibn Yūnus al-ʿĀmilī, Al-Ṣirāṭ al-Mustaqīm, pembahasan mengenai kedudukan Rasulullah dan Ahlulbait. Referensi Sunni 10. Al-Qur'an, QS al-Aḥzāb [33]:43 — هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ. 11. Al-Qur'an, QS al-Aḥzāb [33]:56 — إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ. 12. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 3370 — hadis Kaʿb ibn ʿUjrah mengenai formula Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad. 13. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 4797 — hadis tentang shalawat dalam kaitannya dengan QS al-Aḥzāb 33:56. 14. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 6357 — bab tentang shalawat kepada Nabi. 15. Al-Qurṭubī, Al-Jāmiʿ li-Aḥkām al-Qurʾān — tafsir QS al-Aḥzāb 33:43 dan 33:56. 16. Al-Ṭabarī, Jāmiʿ al-Bayān — tafsir QS al-Aḥzāb 33:43 dan 33:56. 17. Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qurʾān al-ʿAẓīm — tafsir QS al-Aḥzāb 33:43 dan 33:56.

  • Allah memberikan shalat kepada Nabi. Para malaikat memberikan shalat kepada Nabi. Kemudian manusia memberikan shalat kepada Nabi. Ada suatu gerak dari langit menuju bumi, tetapi seluruh rangkaian itu tetap berpusat pada Allah. Dengan demikian, riwayat tersebut bukan sekadar menyampaikan tata cara pemakaman. Ia memperlihatkan bagaimana tradisi Syiah memahami kedudukan Nabi bahkan pada saat beliau meninggalkan kehidupan duniawi. Wafat tidak menghapus kedudukan Nabi. Sebaliknya, dalam gambaran riwayat tersebut, wafat Nabi membuka sebuah rangkaian penghormatan yang pertama-tama berlangsung antara Allah dan Nabi, lalu diikuti alam malaikat dan manusia. Yang menarik, gagasan ini tidak berdiri sendirian di dalam tradisi Syiah. Ia mempunyai fondasi Qur'ani yang sangat jelas. Al-Qur'an mengatakan, إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ, Allah dan para malaikat melakukan shalat kepada Nabi. Riwayat Syiah mengenai wafat Nabi kemudian memberikan bentuk temporal kepada gagasan tersebut: Allah adalah yang pertama memberikan shalat kepada Nabi, kemudian para malaikat. Dengan demikian, ada kesinambungan antara Al-Qur'an dan riwayat. Al-Qur'an memberikan prinsipnya, riwayat memberikan gambaran peristiwanya, dan kultur shalawat memberikan bentuk praktisnya dalam kehidupan umat. Manusia kemudian mengucapkan, Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa āli Muḥammad. “Ya Allah, berikanlah shalat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.” Di sini seluruh rangkaian bertemu: Allah sebagai pelaku, Muhammad dan Āl Muhammad sebagai penerima, dan manusia sebagai pihak yang memohon. Dengan demikian, shalawat tidak sekadar menjadi ungkapan penghormatan kepada Nabi. Ia merupakan sebuah doa yang menghubungkan manusia kepada Allah melalui Nabi dan Ahlulbait. Itulah sebabnya shalawat memperoleh kedudukan yang begitu kuat dalam kultur Syiah. Ia dibaca secara individual, tetapi juga secara kolektif. Ia hadir dalam doa, tetapi juga dalam percakapan. Ia hadir dalam majelis, tetapi juga dalam respons spontan jamaah. Ia bukan hanya bagian dari teks keagamaan, tetapi telah menjadi bagian dari bunyi kehidupan keagamaan Syiah. Ketika nama Nabi disebut, jamaah menjawab dengan shalawat. Ketika nama Imam disebut, jamaah menjawab dengan shalawat. Ketika sebuah majelis dibuka, shalawat dibaca. Ketika majelis ditutup, shalawat dibaca. Ketika doa dipanjatkan, shalawat hadir. Karena itu, orang yang mengenal kultur Syiah hampir pasti akan mengenali shalawat sebagai salah satu karakter paling menonjol dari komunitas tersebut. Tetapi sekali lagi, karakter khas tidak berarti eksklusivitas doktrinal. Sunni juga bershalawat. Sunni juga membaca Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad. Sunni juga menerima QS al-Aḥzāb 33:56. Sunni juga mempunyai tafsir yang menjelaskan bahwa shalat Allah berbeda dari shalat malaikat dan shalat manusia. Al-Qurṭubī menjelaskan bahwa shalat Allah merupakan rahmat dan keridaan-Nya, sedangkan shalat malaikat adalah doa dan istighfar. Al-Ṭabarī juga memberikan penjelasan yang membedakan tindakan Allah dari tindakan malaikat. Ibn Kathīr menukil penjelasan tentang pujian Allah terhadap hamba-Nya di hadapan para malaikat. Dengan demikian, konsep bahwa Allah melakukan shalat kepada Nabi tidak berada di luar khazanah Sunni. Yang berbeda adalah kultur dan intensitasnya. Syiah menjadikan shalawat begitu menonjol sehingga ia menjadi bagian dari identitas bunyi sebuah majelis. Ketika seseorang mendengar ribuan orang mengucapkan Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa āli Muḥammad secara serentak, ia hampir seketika dapat mengenali suasana komunitas Syiah. Itulah yang membuat shalawat menjadi salah satu fenomena kultur yang menarik dalam Syiah. Namun, semakin menariknya kultur tersebut justru terlihat ketika kita kembali kepada makna kata shalat itu sendiri. Shalat berasal dari Allah. Shalat kepada Nabi berasal dari Allah. Ketika manusia bershalawat, manusia memohon kepada Allah. Maka, pada akhirnya, seluruh struktur shalawat kembali kepada Allah.

  • Hadis dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī justru menunjukkan sebaliknya. Yang menjadi lebih menarik adalah makna gramatikal dan teologis dari formula itu sendiri. Kita mengatakan, Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa āli Muḥammad. Kita menerjemahkannya sebagai, “Ya Allah, bershalatlah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.” Perhatikan siapa yang menjadi pelaku dalam kalimat itu. Bukan manusia. Manusia sedang memohon kepada Allah. Kata ṣalli merupakan permohonan kepada Allah agar Allah melakukan shalat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Jadi, ketika kita mengatakan bahwa kita “bershalawat kepada Nabi”, dalam struktur teologis formula tersebut kita sebenarnya sedang memohon kepada Allah agar Allah memberikan shalawat kepada Nabi. Dengan kata lain, manusia tidak mengambil alih posisi Allah sebagai pelaku utama. Manusia berdoa; Allah yang dimohonkan untuk melakukan shalat. Itulah sebabnya hubungan antara shalawat dan Allah tidak pernah terputus. Bahkan formula shalawat itu sendiri mempertahankan hubungan tersebut. Kita mengatakan, Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa āli Muḥammad, atau صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ, Ṣalawātullāh ‘alā Muḥammad wa āli Muḥammad, “Shalawat Allah atas Muhammad dan keluarga Muhammad.” Dalam formula kedua, penyandaran itu bahkan lebih eksplisit. Shalawat adalah shalawat Allah. Muhammad dan keluarga Muhammad adalah yang menerima shalawat. Maka, kalau kita memperhatikan struktur bahasanya, justru menjadi sulit untuk memisahkan shalawat kepada Nabi dari Allah. Shalawat itu sendiri mengarah kepada Allah sebagai pelaku yang dimohonkan tindakannya. Karena itu, ungkapan “Allah menyalatkan Nabi” sesungguhnya tidak aneh. Yang aneh justru jika shalat terlebih dahulu dipahami hanya sebagai gerakan ritual manusia, lalu pengertian yang sudah dipersempit itu digunakan untuk membaca seluruh penggunaan kata shalat dalam Al-Qur'an. Al-Qur'an tidak melakukan reduksi semacam itu. Allah melakukan shalat. Malaikat melakukan shalat. Orang-orang beriman melakukan shalat. Tindakan mereka berbeda karena pelakunya berbeda. Dan di dalam shalawat yang kita ucapkan setiap hari, struktur itu kembali muncul. Manusia berkata kepada Allah, “Ya Allah, lakukanlah shalat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.” Dengan demikian, ketika kita bershalawat, kita sebenarnya sedang mengakui bahwa Allah adalah pihak yang memberikan shalawat. Hal ini menjadi semakin menarik apabila kita memasuki literatur hadis Syiah mengenai saat-saat terakhir kehidupan Nabi Muhammad saw. Dalam riwayat yang dinukil al-Syaikh al-Ṣadūq dalam Al-Amālī, Nabi memberikan wasiat kepada Imam Ali mengenai apa yang harus dilakukan setelah ruh beliau berpisah dari jasad. Di dalam rangkaian wasiat tersebut terdapat pernyataan, فَأَوَّلُ مَنْ يُصَلِّي عَلَيَّ الْجَبَّارُ جَلَّ جَلَالُهُ مِنْ فَوْقِ عَرْشِهِ, “Orang pertama yang memberikan shalat kepadaku adalah al-Jabbār, Yang Mahamulia.” Kemudian disebut para malaikat, di antaranya Jibril, Mikail, Israfil, Malaikat Maut, dan para malaikat lainnya. Rangkaian itu kemudian bergerak dari alam malaikat menuju Ahlulbait dan manusia. Pernyataan tersebut sangat menarik karena memberikan bentuk yang konkret kepada gagasan yang sudah terdapat dalam Al-Qur'an. Setelah Nabi wafat, menurut riwayat tersebut, pihak pertama yang memberikan shalat kepada Nabi adalah Allah. Bukan manusia, bukan keluarga beliau, bukan para sahabat yang berkumpul di sekitar jasad beliau. Allah terlebih dahulu, kemudian para malaikat, kemudian makhluk lainnya. Riwayat ini dinukil dalam Al-Amālī karya al-Ṣadūq dan kemudian dihimpun dalam karya-karya Syiah seperti Rawḍat al-Wāʿiẓīn dan Biḥār al-Anwār. Al-Majlisī mencantumkannya dalam Biḥār al-Anwār, jilid 22, dalam pembahasan mengenai wafat Rasulullah saw. Di sini terdapat sebuah gambaran yang sangat kuat. Wafat Nabi tidak digambarkan hanya sebagai peristiwa biologis yang kemudian ditangani oleh manusia. Wafat Nabi ditempatkan dalam suatu tatanan yang lebih luas, yang menghubungkan Allah, alam malaikat, Nabi, Ahlulbait, dan umat manusia.

  • ALLAH MELAKUKAN SHALAT ATAS NABI Mungkin karena kurang akrab dengan literatur Syiah, baru mengenal Syiah, atau belum pernah memperoleh penjelasan yang memperlihatkan pandangan keagamaan Syiah secara langsung, sebagian orang akan terkejut ketika mendengar ungkapan bahwa Allah menyalatkan Nabi. Bagi orang yang terbiasa memahami kata shalat hanya sebagai ibadah ritual manusia, ungkapan itu mungkin terdengar ganjil. Bagaimana mungkin Allah melakukan shalat kepada Nabi? Padahal, keganjilan itu muncul karena kata shalat lebih dahulu dipersempit maknanya. Dalam Al-Qur'an, shalat tidak selalu menunjuk pada tindakan yang sama. Maknanya mengikuti siapa yang menjadi pelakunya. Al-Qur'an sendiri menyatakan, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya melakukan shalat atas Nabi.” (QS al-Aḥzāb [33]: 56). Ayat ini seharusnya sudah cukup untuk menunjukkan bahwa shalat tidak dapat direduksi menjadi tindakan ritual manusia. Allah disebut sebagai pelaku yuṣallūna. Para malaikat juga disebut sebagai pelaku yuṣallūna. Setelah itu, orang-orang beriman diperintahkan untuk bershalawat kepada Nabi. Satu akar kata digunakan untuk tiga kelompok pelaku, tetapi tentu saja tindakan ketiganya tidak identik. Allah tidak melakukan shalat sebagaimana manusia melakukan shalat. Malaikat tidak melakukan shalat sebagaimana manusia melakukan shalat. Karena itu, ketika Al-Qur'an mengatakan Allah melakukan shalat kepada Nabi, yang harus dipahami adalah makna shalat sesuai dengan pelakunya. Para mufasir Sunni sendiri menjelaskan hal ini. Al-Qurṭubī, misalnya, membedakan shalat Allah dari shalat malaikat dan shalat manusia. Shalat Allah berkaitan dengan rahmat, pujian dan keridaan-Nya; shalat malaikat berupa doa dan istighfar; sedangkan shalat manusia merupakan doa dan penghormatan kepada Nabi. Al-Qur'an bahkan menggunakan ungkapan yang sama terhadap orang-orang beriman: “Dialah yang melakukan shalat atas kalian, dan para malaikat-Nya.” (QS al-Aḥzāb [33]: 43). Jadi, bukan hanya Nabi yang menerima shalat Allah. Orang-orang beriman juga menerima shalat Allah. Yang berbeda bukan kata yang digunakan, melainkan modus tindakan sesuai dengan subjeknya. Di sinilah kultur shalawat dalam Syiah menjadi sangat menarik. Shalawat memang menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan keagamaan Syiah. Dalam majelis, ceramah, doa, ziarah, peringatan kelahiran dan kesyahidan Ahlulbait, serta berbagai pertemuan keagamaan, shalawat kepada Nabi Muhammad dan Ahlulbait terdengar sangat kuat. Ketika nama Nabi atau salah seorang Ahlulbait disebut, jamaah sering merespons secara serentak, Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa āli Muḥammad. Bagi orang yang memasuki lingkungan Syiah, suara shalawat kolektif semacam itu merupakan salah satu tanda yang paling mudah dikenali. Shalawat bukan sekadar formula yang dibaca pada waktu tertentu, tetapi telah menjadi bagian dari kultur keagamaan. Namun, shalawat bukan milik eksklusif Syiah. Sunni juga bershalawat kepada Nabi. Bahkan formula yang sangat identik dengan kultur Syiah itu mempunyai dasar yang kuat dalam hadis Sunni. Dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kaʿb ibn ʿUjrah meriwayatkan bahwa para sahabat bertanya kepada Nabi bagaimana mereka harus bershalawat kepada beliau. Nabi mengajarkan, اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ, Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, “Ya Allah, lakukanlah shalat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad.” Hadis itu tercantum dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī no. 3370 dan juga diriwayatkan dalam bagian-bagian lain dari kitab tersebut. Karena itu, ada perbedaan yang perlu dijaga dengan cermat. Shalawat bukan praktik yang hanya dilakukan Syiah, tetapi kultur shalawat yang sangat kuat, intens, dan kolektif memang merupakan salah satu ciri khas kehidupan keagamaan Syiah. Perbedaan itu penting. Kalau seseorang melihat ribuan orang Syiah mengucapkan Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa āli Muḥammad secara bersama-sama, benar bahwa fenomena tersebut sangat khas bagi komunitas Syiah. Tetapi tidak benar jika dari situ disimpulkan bahwa Sunni tidak mengenal shalawat kepada Muhammad dan Āl Muhammad.

  • Barat tidak sedang berubah menjadi Timur. Sebagian dari kita sedang kehilangan apa yang dahulu dengan bangga kita sebut karakter ketimuran, sambil mengenakan wajah yang bukan milik kita. Kita menyadari keduanya ketika seorang bule memperagakannya sambil tertawa, di bulan yang seharusnya menjadi pengingat bahwa merdeka berarti berdiri di atas kaki dan wajah sendiri. Ia tertawa, kita ikut tertawa. Berlaku hukum tak tertulis dan tak logis: orang cantik, apalagi londo, orang kaya, dan orang berkuasa boleh berkata apa saja. Setelah keriuhan itu reda, yang tersisa bukan bule yang sedang berakting, melainkan kita: delapan puluh satu tahun merdeka dari penjajah, tetapi belum tentu merdeka dari kebiasaan menganggap kekasaran sebagai kelucuan dan Barat sebagai ukuran tentang siapa kita seharusnya menjadi.

  • Tetapi karena kita begitu sering membanggakan diri sebagai bangsa yang ramah, santun, penuh tenggang rasa, dan menjunjung nilai ketimuran, cermin kecil seperti ini tidak sepatutnya buru-buru kita pecahkan hanya karena bayangannya tidak menyenangkan. Ada pergeseran yang layak direnungkan. Dahulu kita membedakan diri dari Barat dengan menonjolkan kelembutan tutur kata, tenggang rasa, kerendahan hati, kemampuan menjaga perasaan orang lain. Barat kita gambarkan sebagai dunia yang dingin, individualistis, dan keras. Dalam banyak ruang sosial modern hari ini, masyarakat Barat justru berkembang dalam cara memperlakukan perasaan, keberhasilan, kesehatan, dan batas pribadi orang lain—ada kesadaran yang menguat untuk menghindari penghinaan, memberi apresiasi, tidak menjadikan kelemahan orang lain sebagai hiburan. Kita bergerak ke arah berlawanan. Bahasa ejekan dianggap biasa. Keberhasilan dicurigai. Kecerdasan ditertawakan. Kepedulian dianggap berlebihan. Penderitaan orang lain menjadi bahan candaan. Identitas sendiri dianggap kurang bernilai, sehingga sebagian orang mengenakan topeng budaya lain agar terlihat lebih modern, lebih berkelas, lebih "maju". Semua itu diselamatkan oleh kata "santai", seolah meremehkan sesuatu adalah bukti ketangguhan mental dan meniru bangsa lain adalah bukti kemajuan. Kebetulan renungan ini datang di bulan Agustus, bulan ketika bendera dikibarkan di setiap gang dan lomba panjat pinang digelar seolah kemerdekaan adalah perayaan tahunan yang cukup diperingati, bukan tugas yang harus terus dilunasi. Kemerdekaan yang diproklamasikan delapan puluh satu tahun lalu adalah kemerdekaan dari penjajah, dari kekuasaan asing atas tanah dan tubuh bangsa ini. Tetapi ada jenis penjajahan lain yang tidak pernah benar-benar berakhir hanya karena bendera asing diturunkan: penjajahan atas cara kita memandang diri sendiri. Video seorang bule yang menertawakan orang Indonesia yang berusaha menjadi bule adalah bukti kecil bahwa sebagian dari kita belum merdeka dari anggapan bahwa Barat adalah rujukan tertinggi tentang bagaimana seharusnya manusia bersikap, berbicara, dan bergaya. Kita merdeka secara politik, tetapi sebagian dari kita masih menjajah diri sendiri dengan cara mengukur harga diri lewat kedekatan dengan Barat. Kemerdekaan sejati bukan sekadar bebas dari kekuasaan asing atas wilayah, melainkan bebas dari kebutuhan untuk disahkan oleh pandangan asing tentang siapa kita. Bangsa yang merdeka tidak perlu meniru logat, gaya, atau nilai bangsa lain untuk merasa berharga. Bangsa yang merdeka juga tidak perlu menutupi kekasarannya sendiri dengan kata "bercanda", karena kemerdekaan sejati termasuk keberanian untuk jujur melihat cacat sendiri tanpa harus dipermalukan oleh orang luar lebih dulu. Yang paling menggelitik dari sindiran sang kreator asing: ia tidak perlu berceramah untuk mengkritik Indonesia. Ia tidak perlu berorasi tentang merosotnya kesantunan atau krisis kepercayaan diri. Ia hanya memantulkan kembali apa yang biasa kita katakan dan lakukan, lalu tertawa. Kita mendengar untuk pertama kalinya betapa ganjil ucapan dan perilaku kita sendiri. Meresponsnya dengan kemarahan, sikap defensif, atau tuduhan bahwa orang asing tidak berhak menilai Indonesia tidak menyelesaikan apa pun. Membalas dengan membeberkan keburukan Barat juga tidak menyelesaikan apa pun. Itu hanya cara lain mengalihkan pandangan dari cermin. Cermin yang memperlihatkan bayangan buruk tidak berubah hanya karena cerminnya dihancurkan. Yang perlu kita akui: kita sedang mengalami perubahan karakter sosial sekaligus krisis kepercayaan diri terhadap identitas sendiri. Masyarakat yang dahulu bangga akan kelembutan dan kepekaan sosialnya kini akrab dengan sinisme, ejekan, dan budaya saling menjatuhkan. Sebagian orang yang mengaku bangga dengan nilai ketimuran sibuk menanggalkan identitas itu demi terlihat keren di mata dunia. Kekasaran dan peniruan semacam ini tidak muncul dalam satu malam. Keduanya tumbuh perlahan, dinormalisasi sebagai humor dan gaya hidup, diwariskan menjadi kebiasaan.

  • KETIKA BULE MENJADI CERMIN KITA Kreator konten asing, khususnya dari negara-negara Barat, membanjiri ruang digital Indonesia. Fenomena ini hampir selalu memanen perhatian besar. Bule yang fasih berbahasa Indonesia, melahap kuliner lokal, mengenakan pakaian daerah, menumpangi angkutan umum dengan logat asing yang khas, laris manis di pasar konten Indonesia. Alasannya beragam: anggapan bahwa orang bule lebih menarik secara fisik, persepsi bahwa Barat melambangkan kemajuan dan kemakmuran, residu pandangan lama yang menempatkan manusia Barat sebagai sosok yang secara peradaban sudah "selesai". Apa pun alasannya, konten tentang bule memiliki pasar di Indonesia. Ada daya tarik lain yang lebih tajam daripada pujian terhadap keindahan alam atau keramahan warga. Sebagian kreator asing tidak menjual sanjungan, melainkan menjadikan perilaku keseharian orang Indonesia sebagai bahan lelucon. Salah satunya seorang perempuan Jerman yang membandingkan respon orang Barat dan orang Indonesia dalam situasi sehari-hari. Cara penyampaiannya mengundang tawa. Substansinya ironis. Ketika seseorang tertimpa musibah, ia menggambarkan respon orang Barat yang penuh empati, "Are you okay? What can I do to help?" Versi Indonesia: "Syukurin!" Ketika seseorang tampak berwawasan, orang Barat memujinya sebagai educated. Di sini ia disambut cemoohan, "Sok pinter lo!" Pasangan yang harmonis dipuji "Lovely couple" di Barat, disindir "Halah, pret!" di sini. Makanan yang jatuh atau terbuka, yang di Barat diperingatkan berisiko bakteri, di Indonesia ditepis dengan logika jenaka, "Belum lima menit!"—seolah bakteri punya jam kerja dan baru diperbolehkan menyerang setelah batas waktu itu lewat. Video lainnya menukik ke sumber persoalan yang berbeda sekaligus berkaitan. Ia menirukan gaya orang Indonesia yang berusaha tampil "Amerika" atau "Eropa" karena merasa sering bepergian ke luar negeri, terbiasa dengan gaya hidup Barat, atau ingin dipandang lebih berkelas. Ia sengaja berbicara bahasa Indonesia dengan logat kebule-bulean yang dibuat-buat, padahal ia orang Barat asli dan mampu berbicara bahasa Indonesia dengan baik. Ia sedang memperagakan orang Indonesia yang berusaha terdengar seperti dirinya sendiri. Di situlah sindirannya menjadi tajam. Seorang bule asli meniru orang Indonesia yang ingin menjadi bule. Ia memperagakan bukan Barat yang sebenarnya, melainkan gambaran tentang Barat yang dibentuk oleh sebagian orang Indonesia sendiri. Orang Indonesia yang mengejek gaya kebarat-baratan mudah dituduh iri, anti-Barat, atau picik. Seorang Barat yang memperagakannya memaksa kita melihat bahwa yang dipertontonkan itu bukan kekaguman terhadap Barat, melainkan imitasi dangkal terhadap citra Barat yang kita bangun sendiri di kepala. Kita tertawa karena kita mengenali semua itu. Sebagian dari kita pernah melakukannya—mengubah cara berbicara agar terdengar lebih "internasional", memamerkan perjalanan ke Eropa atau Amerika sebagai penanda kelas, menganggap gaya hidup tertentu lebih bergengsi karena berasal dari Barat. Video-video itu tajam bukan karena perbedaan bahasa, melainkan karena ia memantulkan kebiasaan yang sudah terlalu sering kita lakukan hingga kita lupa mempertanyakannya. Kita tertawa bukan karena asing terhadap perilaku itu, melainkan karena terlalu akrab dengannya. Polanya jelas. Ketika seseorang menderita, kita merespon dengan ejekan. Ketika seseorang menonjol secara intelektual, kita merendahkannya. Ketika seseorang bahagia, kita mencurigainya. Ketika ada potensi bahaya kesehatan, kita meremehkannya. Ketika kita mengalami krisis kepercayaan diri terhadap identitas sendiri, kita meminjam identitas bangsa lain dan mengenakannya sebagai kostum. Kekasaran, ejekan, dan peniruan yang dipaksakan itu kita bungkus dengan satu kata pemungkas, "Bercanda." Ini bukan klaim bahwa seluruh masyarakat Indonesia berperilaku demikian, atau bahwa masyarakat Barat steril dari cela. Barat memiliki kekerasan, diskriminasi, dan kesombongannya sendiri. Tidak ada masyarakat yang memonopoli kesantunan.

  • BATALKAN DUKUNGAN UNTUK PALESTINA DAN PULIHKAN HUBUNGAN DENGAN ISTAEL, KOLOMBIA DIGUNCANG GEMPA BESAR Pada Mei 2024, pemerintahan Gustavo Petro memutus hubungan diplomatik dengan Israel dan mengusir duta besarnya sebagai protes atas operasi militer di Gaza. Kemudian pada 2026, setelah Abelardo de la Espriella (presiden baru dari sayap kanan) dilantik 7 Agustus, Kolombia dengan cepat memulihkan hubungan penuh, membatalkan rencana kedutaan di Ramallah, memindahkan kedutaan ke Yerusalem, dan pada 10 Agustus bahkan mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan — menjadi negara kedua di dunia (setelah AS) yang melakukannya. Ironisnya, pada hari yang sama (10 Agustus 2026), gempa magnitudo 7,4 mengguncang barat Kolombia (episentrum di Chocó). Gempa ini merupakan yang terkuat di abad ke-21 di negara itu, menyebabkan ratusan korban jiwa, ribuan luka, dan kerusakan luas di beberapa daerah termasuk Cali, Pereira, dan sekitarnya. Pemerintah menyatakan keadaan darurat nasional. Rakyat Kolombia yang sangat menderita hari ini membutuhkan donasi masyarakat dunia. Semoga mereka tabah dan mendapatkan bantuan masyarakat dunia. Semoga pemerintah Kolombia yang baru saja memalingkan muka dari Palestina mendapatkan perhatian besar Amerika dan Israel. Mungkin bencana ini menjadi pengingat rakyat entang derita yang dialami oleh rakyat Palestina terutama di Gaza selama 70 tahun lebih bukan akibat gempa tapi pembantaian, perampasan, pendudukan, pengusirsn, penahanan dan pengepungan.

  • "MISI MULIA" SAUDI DI YAMAN Yaman-Ansarallah membalas dan menghujani posisi pasukan Saudi dan milisi penopangnya di Yaman dengan drone dan rudal. Sasarannya tegas: konsentrasi pasukan serta fasilitas militer yang digunakan tentara Saudi dan rezim artifisialnya di bawah naungan Riyadh. Dengan dalih menjaga keamanan dan menopang pemerintahan yang diklaim "sah", Saudi mengintervensi Yaman, merongrong pemerintahan populer Yaman-Ansarallah, dan menyerang pasukannya. Riyadh berkepentingan melemahkan kekuatan Yaman-Ansarallah sembari bersuara nyaring bahwa mereka sedang "menjaga" jalur pelayaran Laut Merah. Di sisi lain, rezim ilegal terus membombardir Gaza, meratakan bumi Palestina, dan menyerang Iran yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Yaman-Ansarallah kemudian membuka front perlawanan dari Yaman—menyerang kota-kota di wilayah yang diduduki rezim ilegal dan memblokade seluruh kapal yang terafiliasi dengan rezim ilegal di Laut Merah. Maka, ketika Yaman-Ansarallah menghujani posisi Saudi dengan drone dan rudal, yang sedang berlangsung bukan sekadar bentrokan lokal antara Riyadh dan Yaman. Ini adalah aksi pembalasan terhadap konspirasi Saudi dan rezim pasangannya yang secara tidak langsung justru melindungi Israel dari jangkauan rudal dan drone Yaman-Ansarallah. Lalu, apa sebenarnya kepentingan Saudi berdiri sebagai penghadang Yaman-Ansarallah? Donald Trump sendiri menjawabnya secara gamblang "If you look at Israel, Israel would be in big trouble without Saudi Arabia." ("Jika Anda melihat Israel, Israel akan berada dalam masalah besar tanpa Arab Saudi.") Trump secara terbuka menyebut Saudi sebagai sekutu kuat yang sangat membantu posisi geopolitik Amerika Serikat dan rezim ilegal di Timur Tengah. Fakta ini menyingkap tabir di balik intervensi Saudi terhadap Yaman. Saudi tidak perlu mengibarkan bendera rezim ilegal. Saudi juga tidak perlu mengaku sebagai proksinya—hal itu tentu terlalu mengejutkan bagi para pengagumnya yang masih menganggap rezim tersebut semata pelindung Dua Kota Suci. Rezim ini cukup menyerang dan memblokade Yaman-Ansarallah—sebuah kekuatan sosial, politik, dan militer yang didukung luas oleh rakyat Yaman yang terus berkomitmen membuka front perlawanan terhadap rezim ilegal. Kini, siapa yang sebenarnya paling dibantu oleh tindakan Saudi di Yaman? Jalur pelayaran siapa yang sebetulnya terganggu? Keamanan dan ekonomi siapa yang sedang terancam? Sapa yang paling berkepentingan ketika Saudi berhadapan dengan Yaman-Ansarallah? Siapa yang paling diuntungkan saat benteng perlawanan Yaman digempur? Jawabannya tidak sulit.

  • PANIK AMERIKA SUDAH MASUK KE DALAM KAPAL PERANGNYA Panik Amerika tampaknya sudah tidak lagi berhenti di pucuk pimpinan. Ia sudah turun ke bawah, masuk ke kapal perang, masuk ke antara personel, bahkan mulai menggerogoti disiplin yang selama ini menjadi salah satu kebanggaan militer Amerika. Tujuh personel Angkatan Laut Amerika dilaporkan tewas dan sejumlah lainnya terluka dalam bentrokan di atas USS Abraham Lincoln. Laporan ini muncul di tengah kondisi awak kapal yang memang sudah berada di bawah tekanan berat setelah berbulan-bulan berada di laut dalam operasi perang. Keluarga para personel sebelumnya telah mengungkap soal kelelahan ekstrem, kekurangan makanan, fasilitas sanitasi yang bermasalah, dan tekanan mental yang semakin berat. Sekarang persoalannya menjadi lebih telanjang: ketika tekanan perang sudah sedemikian besar, kepanikan tidak lagi hanya terlihat dari keputusan-keputusan politik di Washington. Ia mulai muncul di tempat yang paling tidak boleh kehilangan kendali—di dalam kapal perang. USS Abraham Lincoln bukan kapal sembarangan. Ia adalah kapal induk Amerika, simbol supremasi militer yang dikirim untuk menunjukkan bahwa Washington masih mengendalikan keadaan. Tetapi ketika personel di dalamnya mulai bentrok dan saling menyerang, simbol kekuatan itu berubah menjadi panggung yang memperlihatkan betapa mahalnya harga sebuah perang yang tidak kunjung selesai. Ini bukan lagi cerita tentang siapa memiliki rudal lebih banyak. Ini soal disiplin.�Ini soal moral. Ini soal manusia yang sudah terlalu lama berada di bawah tekanan. Amerika boleh mengirim kapal induk, pesawat tempur, kapal perusak, rudal, satelit, dan segala perangkat perang yang dimilikinya. Tetapi ketika tekanan itu sudah masuk ke dalam barisan sendiri, persoalannya menjadi jauh lebih serius. Iran tidak perlu menghancurkan kapal dari luar kalau ketegangan di dalam sudah cukup membuat awaknya kehilangan kendali. Yang lebih menarik, di laut, kapal yang seharusnya menjadi lambang ketenangan justru dihantam persoalan yang sangat sederhana: Amerika lelah dan kewalahan. Mungkin saatnya Washington sadar bahwa klaim Amerika kuat sudah basi dan klise. Ketika Amerika sendiri mulai menghadapi kekacauan di dalam kapal perangnya, sebenarnya tidak banyak pilihan yang tersisa. Tinggal satu keputusan yang paling sederhana. Menyerah.

  • TRUMP, MANUSIA PALING PARANOID DI DUNIA Trump ikut membunuh Khamenei. Ia mengklaim kemenangan atas Iran di depan dunia. Ia menyebut Khamenei salah satu manusia paling jahat dalam sejarah, lalu berbicara seolah dirinya berdiri di sisi sejarah yang tak tersentuh. Lima bulan kemudian, ia bersembunyi. Di Turki, dalam KTT NATO, muncul laporan intelijen tentang ancaman pembunuhan terhadap Trump yang dikaitkan dengan Iran. Cukup dianggap serius sehingga Dinas Rahasia menjalankan operasi penyamaran penuh. Trump naik Air Force One di depan kamera, melambai, pergi. Beberapa menit kemudian ia sudah tidak ada di pesawat itu. Truk katering menaikkannya lewat pintu di sisi berlawanan, membawanya ke pesawat militer C-32A. Air Force One diterbangkan sebagai umpan, membawa staf dan wartawan yang tidak tahu presiden mereka sudah tidak ada di dalamnya. Wartawan diminta menutup tirai jendela. Bahkan mereka menjadi properti dalam sandiwara yang tidak mereka pahami. Manusia paling gemar memamerkan keberanian di dunia harus diselundupkan keluar dari bandara sekutunya sendiri. Ia menghantam Iran. Bayang-bayang Iran kini menghantam nyalinya. Paranoia Trump bukan lagi perasaan yang bisa disangkal di podium. Paranoia itu punya anggaran, pesawat cadangan, truk katering, jalur rahasia, dan Air Force One yang direlakan jadi umpan bagi orang-orangnya sendiri. Pola ini selalu sama. Yang paling nyaring bicara keberanian, paling dulu menyiapkan jalan kabur. Trump masih bisa berdiri di podium, mengucap Amerika kuat, musuh tak akan berani macam-macam. Tapi pesawat yang benar-benar ia naiki tidak ikut berbohong dengannya. Identitasnya disamarkan. Jalurnya dirahasiakan bahkan dari staf yang mengira duduk satu kabin dengannya. Negara adidaya butuh truk katering untuk memindahkan presidennya sendiri. Itu bukan prosedur keamanan biasa. Itu pengakuan diam-diam bahwa ancaman yang beredar sudah cukup nyata untuk membuatnya tak percaya pada pesawatnya sendiri. Trump menyerang Iran agar Iran takut kepadanya. Kabar tentang Iran itu sendiri sudah cukup membuatnya bersembunyi di balik truk katering. Rasain!

  • "SEMI NEGOSIASI", CETOLEH TERBARU TRUMP Dunia sudah lama berhenti menganggap Donald Trump sebagai pemimpin negara. Kini, setiap kali mulutnya terbuka, orang tinggal mengangguk-angguk sambil menghela napas: “Ah, lagi. Celoteh orang depresi.” Minggu lalu ia lagi-lagi mengeluarkan “pernyataan resmi” yang isinya kurang lebih: Amerika sedang “low-keying it” (merendahkan intensitas / mengendurkan pendekatan). Hanya “semi-negotiating” (semi-bernegosiasi / bernegosiasi setengah-setengah). Tidak usah terburu-buru. Tinggal duduk manis sambil menonton inflasi Iran meledak dan kas negara mereka kosong. “Mereka tidak punya uang bayar tentara,” katanya, seolah-olah sedang membacakan laporan keuangan dari balik meja kerja yang sudah penuh noda kopi dan sisa amarah. Lalu, sebagai penutup yang klasik, ia menambahkan: “Ini seperti permainan catur (chess game). Akan beres. Selalu beres (It will work out. It always works out).” Hampir enam bulan perang, Selat Hormuz masih macet, harga minyak masih menari-nari, stok amunisi Amerika menipis, dan pemilu tengah masa jabatan sudah mengintai di depan mata. Tapi presidennya malah berbicara seolah-olah sedang menonton serial Netflix sambil makan popcorn. “Kami hanya semi-bernegosiasi (only semi-negotiating).” Seolah-olah negosiasi itu bisa dilakukan setengah-setengah, seperti orang yang setengah sadar setelah minum obat tidur. Lebih-lebih lagi ketika yang diajak “semi-negotiating” itu adalah Iran—negara yang sudah menutup rapat-rapat pintu perundingan dengan orang yang membunuh Imam Khamenei bersama keluarga dan cucunya. Bagi Teheran, tidak ada meja perundingan dengan pembunuh itu kecuali satu syarat saja: mengaku kalah dan menyerah. Tidak ada “low-keying”, tidak ada “chess game”, tidak ada celoteh tentang inflasi. Hanya ada satu bahasa yang mereka terima: penyerahan total. Dunia tidak lagi bereaksi dengan panik. Dunia hanya tersenyum sinis. Karena semua orang sudah paham: ini bukan strategi. Ini bukan “chess game” (permainan catur). Ini adalah igauan orang yang semakin lama semakin tenggelam dalam realitanya sendiri. Ia bilang Iran “sangat buruk” (in very bad shape), padahal yang semakin buruk adalah kemampuannya membedakan antara ancaman, bluff, dan omong kosong yang keluar dari mulutnya sendiri—terutama ketika lawan bicaranya sudah lama memutuskan bahwa dengan pembunuh Imam, tidak ada negosiasi. Hanya ada pengakuan kalah. Dan yang paling menggelikan: ia masih percaya orang-orang di sekelilingnya—dan di luar sana—masih menganggapnya serius. Padahal di ruang-ruang redaksi, di kantor-kantor intelijen, bahkan di meja makan keluarga biasa, orang-orang sudah lama punya kode tersendiri setiap kali Trump bicara. Mereka hanya saling pandang, lalu bergumam pelan: “Lagi. Celoteh orang depresi.”

  • TRUMP AJAK TUHAN IKUT BERKOALISI MENGHADAPI IRAN Sebuah video beredar dari halaman Gedung Putih. Dalam video itu, doa dipimpin Franklin Graham, presiden dan CEO Billy Graham Evangelistic Association dan Samaritan's Purse, dengan permohonan agar Iran dan Persia dihancurkan karena dianggap membenci orang Yahudi. Yang penting bukan siapa yang memegang mikrofon, melainkan siapa yang menyediakan panggung. Franklin Graham hanya pengkhotbah yang menjalankan perannya. Di balik panggung itu adalah Donald Trump, yang menjadikan Gedung Putih sebagai tempat mempertontonkan perpaduan antara kekuasaan, propaganda, dan agama. Bom, sanksi, tekanan, dan propaganda tidak berhasil mematahkan Iran. Maka Tuhan pun direkrut ke barisan perang melalui mikrofon seorang pengkhotbah. Alasan yang dipakai adalah fitnah lama yang sengaja dipelihara. Iran memang menentang Israel dan Zionisme, tetapi menyamakan penentangan terhadap sebuah negara dan ideologi dengan kebencian terhadap orang Yahudi adalah kebohongan. Iran memiliki komunitas Yahudi resmi, termasuk perwakilan yang memiliki kursi di parlemen. Fakta ini terlalu jelas untuk disebut sebagai kekeliruan. Ia sengaja diabaikan karena kebohongan tersebut berguna secara politik. Karena itu, yang beredar bukan sekadar doa, melainkan propaganda yang mengenakan jubah doa. Franklin Graham bukan pusat persoalannya. Ia hanya suara yang mengucapkan apa yang ingin didengar oleh kekuasaan. Pusat persoalannya adalah Donald Trump, yang membawa bahasa perang ke dalam ruang yang seharusnya menjadi tempat doa. Donald Trump yang selama ini menunjukkan perilaku yang jauh dari ketundukan kepada Tuhan, sementara kebijakan dan tindakannya telah berkontribusi pada kematian begitu banyak manusia, tiba-tiba tampil dengan kepala tertunduk dan tangan terangkat kepada Tuhan. Sulit melihatnya sebagai sesuatu selain sandiwara politik. Tuhan dipanggil bukan karena manusia kehabisan kata kepada Tuhan, melainkan karena politik kehabisan alasan di hadapan manusia. Fitnah yang tidak mampu berdiri sebagai argumen disuntikkan nama Tuhan agar tampak seperti wahyu; kebencian dibungkus menjadi kesalehan. Tuhan tidak membutuhkan kamera, tepuk tangan, atau simpati pemilih. Yang membutuhkan semua itu adalah Donald Trump dan kekuasaan politik yang sedang mencari legitimasi, terutama di hadapan lobi pro-Israel dan basis evangelikal Amerika. Di sinilah satirnya. Setelah bom, sanksi, tekanan, dan propaganda tidak menghasilkan kemenangan yang diinginkan, dicoba senjata terakhir: doa di Gedung Putih. Donald Trump bahkan membawa seorang pengkhotbah untuk mengucapkan permohonan yang tidak sanggup dibenarkan oleh politik dan tidak mampu diwujudkan oleh kekuatan militer. Mimbar diminta mengerjakan apa yang tidak sanggup dikerjakan rudal. Tetapi doa yang dibangun di atas fitnah tidak menjadi suci hanya karena diucapkan dengan tangan terangkat. Kebohongan tetap kebohongan meski dilafalkan di depan kamera. Memohon kehancuran sebuah bangsa dengan alasan palsu bukan ibadah. Itu adalah kebencian yang sedang mencari restu, lalu meminjam jubah kependetaan untuk mendapatkannya. Video itu mungkin dimaksudkan untuk memperlihatkan kekuatan Donald Trump. Yang justru terlihat adalah kekuasaan yang mulai kehabisan akal. Dari mengirim pesawat pengebom, kini mengirim pengkhotbah. Franklin Graham hanya suruhan yang memegang mikrofon. Donald Trump adalah orang yang menyediakan panggung. Bahkan Tuhan pun diminta ikut menuntaskan perang yang tidak sanggup dimenangkan oleh kekuasaan Amerika sendiri.

  • DIPECAT KARENA MENGUCAPKAN "FREE PALESTINE DAN JADI SIMBOL SOLIDARITAS Tanggal 4 Agustus 2026, di sebuah gerai Burger King di Breinigsville, Pennsylvania, seorang pegawai muda bernama Arianna Hamilton melayani pelanggan seperti hari-hari biasanya. Ia bertanya asal seorang pelanggan, musisi Amerika-Israel bernama Rami Feinstein. Ketika Feinstein menjawab bahwa ia berasal dari Israel, Arianna mengucapkan dua kata yang kemudian mengubah hidupnya: "Free Palestine." Dua kata. Bukan makian, bukan ancaman — hanya ungkapan keyakinan yang ia pegang teguh, kalimat yang di banyak sudut dunia diucapkan setiap hari sebagai bentuk empati kepada mereka yang kehilangan rumah, keluarga, dan masa depan di Gaza. Namun bagi Feinstein, kalimat itu terasa mengancam. Ia merekam momen itu, meminta pengembalian uang, lalu pergi. Videonya menyebar luas, dan hanya dalam hitungan hari, Burger King memecat Arianna dengan alasan "ujaran kebencian" — sebuah label yang ia tolak mentah-mentah. Baginya, itu bukan kebencian, melainkan keberpihakan. Setelah pemecatan itu, yang tersisa bukan hanya kemarahan di dunia maya, tapi juga kesunyian yang nyata: seorang pekerja muda, tanpa penghasilan, menanggung beban viralitas yang tak pernah ia minta. Namun di tengah kehilangan itu, sesuatu yang lain mulai tumbuh. Publik dari berbagai penjuru dunia — banyak yang bahkan tak pernah bertemu dengannya — memilih berdiri di sisinya. Penggalangan dana bertajuk "Support Arianna After Job Loss for Free Speech" terkumpul lebih dari US$170.000 dari ribuan donatur, sebagian besar orang biasa yang memberi sedikit demi sedikit, namun bersama-sama membentuk jaring pengaman bagi seseorang yang kehilangan pijakan karena bersuara jujur. Dari titik itulah kisahnya berbalik arah. Arianna tidak menghilang dalam kesunyian yang biasanya menyambut mereka yang dipecat karena keberanian. Ia kembali bekerja — kali ini di Queen Burger, bisnis burger lain yang membuka pintu baginya. Sebuah video memperlihatkan dirinya mempromosikan menu bernama "Palestine Burger," dan video itu pun ikut menyebar luas, seolah dunia hendak menegaskan sesuatu: kebenaran yang membuatnya kehilangan satu pekerjaan justru menjadi jalan menuju pekerjaan baru yang tak memintanya diam. Ada sesuatu yang puitis dari keseluruhan perjalanan ini. Seorang gadis biasa, bekerja di balik meja kasir restoran cepat saji, tanpa nama besar — tiba-tiba menjadi simbol tentang harga sebuah keberanian kecil, dan tentang bagaimana dunia, dengan caranya sendiri, kadang membalas kejujuran dengan lebih banyak ruang untuk berdiri tegak. Ia tidak merancang semua ini. Ia hanya menjawab jujur ketika ditanya — dan ternyata, kejujuran itu punya jalan pulangnya sendiri. Burger King kehilangan seorang pegawai karena dua kata. Dunia justru menemukan satu lagi alasan untuk percaya bahwa keberpihakan yang tulus, cepat atau lambat, akan menemukan tempatnya kembali.

  • JAS PUTIH BUKAN MAHKOTA Ketika masih kecil dan ditanya apa cita-cita kita, sebagian besar mungkin menjawab dokter. Profesi ini sejak dahulu memiliki tempat istimewa dalam imajinasi kita. Dokter dibutuhkan ketika manusia sakit, dipercaya ketika tubuh sedang rapuh, dihormati karena dianggap mampu menyelamatkan nyawa, dan secara sosial juga memperoleh penghargaan serta imbalan yang besar. Tidak mengherankan jika menjadi dokter dipandang sebagai cita-cita yang mulia. Memang, dokter adalah profesi penting. Pendidikan panjang, kompetensi tinggi, tanggung jawab besar, dan keputusan yang diambil seorang dokter kadang menyangkut hidup dan mati manusia. Tetapi di sinilah kita perlu membedakan dua hal: profesi dapat mulia, tetapi penyandang profesi tidak otomatis mulia. Seorang pasien, karena menyadari dirinya memerlukan tindakan medis darurat, mengeluhkan pelayanan yang diterimanya. Keluhan itu kemudian ditanggapi seorang dokter dengan kalimat yang justru menyentuh batas paling sensitif dari kemanusiaan: “Kalau mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong.” Pasien tersebut kemudian meninggal dunia. Tentu tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa kematiannya disebabkan oleh ucapan itu. Tetapi persoalannya bukan semata-mata apakah sebuah kalimat menyebabkan kematian. Persoalannya adalah bagaimana mungkin seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan medis, bahkan karena menyadari kondisinya darurat, justru diperlakukan dengan ucapan yang menjadikan kematian sebagai bahan sindiran. Dokter tentu boleh lelah dan kewalahan. Rumah sakit juga bisa kekurangan tempat dan tenaga. Tetapi semua itu tidak menghapus martabat pasien. Justru ketika berada dalam tekanan, profesionalisme diuji. Pasien datang bukan untuk mengganggu dokter. Dokter ada karena pasien ada. Tanpa manusia yang membutuhkan pertolongan, profesi dokter kehilangan alasan sosial keberadaannya. Karena itu, jas putih bukan mahkota, gelar dokter bukan sertifikat moral, dan rumah sakit bukan kerajaan. Pasien bukan manusia kelas dua. Dokter memiliki keahlian yang lebih tinggi dalam bidang medis, tetapi tidak memiliki derajat kemanusiaan yang lebih tinggi. Perbedaan kompetensi bukan perbedaan martabat. Dokter lebih memahami kedokteran daripada pasien, tetapi itu tidak membuat dokter lebih manusia daripada pasien. Di sinilah kita sering keliru. Kita mengubah keunggulan profesional menjadi keunggulan kemanusiaan. Kita juga terlalu mudah mengukur kemuliaan berdasarkan profesi. Petugas kebersihan, teknisi listrik, pemadam kebakaran, sopir, pekerja sanitasi, dan banyak profesi lain mungkin tidak memperoleh penghormatan sebesar dokter, tetapi kehidupan masyarakat juga bergantung pada pekerjaan mereka. Yang membedakan manusia bukan semata-mata pekerjaan yang dilakukan, melainkan bagaimana pekerjaan itu dijalankan. Seorang dokter dapat menjadi manusia yang sangat mulia. Tetapi seorang dokter juga dapat menjadi manusia yang arogan. Sebaliknya, seseorang dengan pekerjaan sederhana dapat memiliki kejujuran dan kerendahan hati yang jauh lebih tinggi. Profesi menunjukkan apa yang kita kerjakan. Karakter menunjukkan siapa kita. Pada akhirnya, dokter pun bisa menjadi pasien. Gelar tidak membuat manusia kebal terhadap penyakit, dan jas putih tidak membuat seseorang lebih dekat kepada keabadian. Orang yang hari ini berdiri di sisi ranjang pasien suatu hari mungkin terbaring di ranjang yang sama dan membutuhkan pertolongan orang lain. Maka, jika profesi membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada manusia yang dilayaninya, ada sesuatu yang telah terbalik. Profesi yang seharusnya menjadi amanah justru telah berubah menjadi sumber kesombongan. Dan sungguh ironis jika seseorang bertahun-tahun belajar bagaimana menyembuhkan manusia, tetapi lupa belajar bagaimana menghormati manusia. Jas putih boleh membuat seseorang dihormati. Tetapi kerendahan hati yang membuatnya layak dihormati.

  • Padahal internet tidak bekerja mengikuti waktu penemuan pribadi. Sesuatu yang baru bagi kita belum tentu baru bagi orang lain. Sesuatu yang membuat kita terkejut belum tentu mengejutkan orang lain. Dan sesuatu yang menurut kita menarik belum tentu layak memenuhi layar telepon semua anggota grup. Internet sudah begitu luas dan bergerak begitu cepat sehingga hampir tidak ada alasan untuk menganggap diri sendiri sebagai pusat penemuan informasi. Masalahnya bukan berbagi informasi. Berbagi tentu baik. Yang melelahkan adalah ketika berbagi berubah menjadi membanjiri. Banjir kiriman bukan hanya memenuhi memori telepon, tetapi juga memenuhi perhatian. Konsentrasi terganggu, pesan yang penting tenggelam, dan percakapan yang sebenarnya memiliki tujuan menjadi sulit diikuti. Dalam ruang komunikasi bersama, perhatian orang lain juga perlu dihormati. Mungkin yang diperlukan bukan kemampuan untuk semakin cepat menemukan sesuatu, melainkan kemampuan untuk memilih apa yang pantas dikirim. Sebelum menekan tombol “kirim”, cukup tanyakan satu hal: apakah ini memang relevan bagi grup? Jika tidak, mungkin informasi itu tidak perlu berangkat dari layar kita menuju layar semua orang. Tidak semua yang kita temukan harus dibagikan. Tidak semua yang membuat kita tertarik harus dikirim. Tidak semua yang baru kita ketahui harus diumumkan seolah-olah kita baru saja membuka jendela dan menemukan dunia untuk pertama kalinya. Grup WhatsApp bukan kantor berita, bukan gudang video, dan bukan tempat untuk membuktikan siapa yang paling cepat menemukan sesuatu. Grup WhatsApp adalah ruang bersama. Ia akan tetap hidup jika orang-orang di dalamnya mampu membedakan antara percakapan yang perlu dibangun bersama dan informasi yang cukup dinikmati sendiri. Sebab ukuran kehidupan sebuah grup bukan banyaknya notifikasi, bukan panjangnya daftar kiriman, dan bukan siapa yang paling rajin menekan tombol kirim. Ukurannya adalah apakah orang-orang di dalamnya masih merasa nyaman untuk hadir dan berbicara. Internet sudah lama ditemukan. Hanya saja, kadang ada orang yang bertindak seolah-olah baru menemukannya pagi ini.

  • SEOLAH-OLAH INTERNET BARU DITEMUKAN PAGI INI Ada satu fenomena lucu di zaman media sosial. Setiap kali seseorang menemukan video, berita, foto, atau informasi tertentu, seolah-olah dunia baru saja menerima kabar tersebut. Informasi itu pun segera dikirim ke grup WhatsApp, bukan sekali, melainkan kadang bertubi-tubi. Seolah-olah seluruh anggota grup baru saja keluar dari gua, tidak memiliki akses internet, dan selama ini menunggu seseorang datang membawa kabar dari dunia luar. Padahal, grup WhatsApp bukan sekadar tempat memindahkan isi internet dari satu layar ke layar yang lain. Grup WhatsApp kadang justru menjadi ruang untuk membicarakan hal-hal yang memang menjadi kepentingan bersama dan tidak selalu dibicarakan di media sosial. Di sana orang bisa membicarakan peluang bisnis, masalah anak, kebutuhan seseorang, atau merencanakan camping, berlibur, kopdar, reuni, bahkan sekadar memasak bersama. Percakapan semacam itu mungkin tidak menarik bagi algoritma dan tidak menjadi konten apa pun, tetapi justru itulah yang membuat sebuah grup memiliki kehidupan. Karena itu, persoalannya bukan banyaknya pesan. Diskusi yang hidup memang membutuhkan banyak pesan. Perencanaan perjalanan bisa panjang, pembicaraan bisnis bisa ramai, persiapan reuni bisa memenuhi percakapan, dan urusan bersama memang membutuhkan komunikasi. Yang melelahkan adalah ketika percakapan semacam itu harus bersaing dengan banjir video, foto, dan berita yang sebenarnya tidak berkaitan dengan kepentingan grup. Satu video masuk, disusul video lain, kemudian berita, foto, tautan, lalu kiriman berikutnya sebelum yang sebelumnya sempat dibuka. Percakapan yang seharusnya menjadi ruang komunikasi berubah menjadi arus informasi tanpa rem. Orang yang sedang mencari pembicaraan tentang rencana liburan harus menggulir melewati belasan video. Orang yang ingin menemukan pesan tentang kebutuhan bersama harus menyusuri tumpukan kiriman yang tidak ada hubungannya dengan urusan grup. Pada titik tertentu, grup bukan lagi ruang percakapan, melainkan gudang digital tempat segala sesuatu yang kebetulan lewat di layar dilemparkan begitu saja. Yang lebih menarik, kadang sebuah grup beranggotakan puluhan bahkan ratusan orang, tetapi yang aktif hanya tiga atau empat orang. Mereka saling bersahutan, berlomba mengirim video, berita, gambar, dan berbagai kiriman lain seolah-olah sedang mengikuti perlombaan siapa yang paling cepat memenuhi grup. Anggota lainnya ada, tetapi praktis hanya menjadi penonton. Diam bukan selalu berarti setuju. Bisa jadi diam adalah bentuk kelelahan. Mungkin sebagian anggota sudah jenuh, sudah capek, bahkan sudah malas membuka percakapan. Ada yang mungkin sebenarnya ingin keluar dari grup karena merasa tidak lagi mendapatkan manfaat apa pun selain notifikasi yang tidak ada habisnya. Tetapi demi menjaga perasaan, demi menghormati hubungan, demi tidak menimbulkan kesan tidak sopan, akhirnya tetap bertahan. Grupnya masih berisi banyak nama, tetapi secara sosial sebagian anggotanya sebenarnya sudah pergi jauh-jauh hari. Di sinilah ada ironi yang sering tidak disadari. Pengirim yang paling aktif mungkin merasa sedang menghidupkan grup. Padahal bisa saja justru sedang membuat semakin banyak orang diam. Ia melihat banyak kiriman sebagai tanda kehidupan, sementara anggota lain melihatnya sebagai alasan untuk mematikan notifikasi. Ia merasa percakapan sedang ramai, sementara orang lain sudah memilih untuk tidak lagi mengikuti percakapan itu. Yang lebih lucu, informasi yang dikirim sering kali bukan sesuatu yang baru. Berita itu mungkin sudah beredar sejak pagi, videonya sudah berkeliling ke berbagai platform, bahkan mungkin sudah berkali-kali dilihat oleh sebagian anggota grup. Tetapi begitu informasi itu sampai ke telepon seseorang, mendadak ia memperoleh status istimewa: breaking news. Ada semacam perasaan menjadi orang pertama yang mengetahui sesuatu, sehingga informasi yang baru ditemukan itu harus segera diselamatkan dari ketidaktahuan orang lain.

  • LOGIKA SUNGSANG DI BALIK ALIANSI BENTUKAN SAUDI Tiga kepala negara berkumpul di kota tersuci Islam untuk menandatangani dokumen yang menyatakan bahwa serangan terhadap salah satu dari mereka adalah serangan terhadap ketiganya. Upacara ini disebut historis. Yang tidak disebut, dan memang sengaja tidak disebut, adalah nama musuh yang sesungguhnya membuat pakta ini perlu ada. Pernyataan resminya menggunakan bahasa "deterrence terhadap segala bentuk agresi" — bahasa yang begitu netral hingga ia bisa merujuk pada siapa saja, atau, yang lebih tepat, sengaja dirancang agar tidak merujuk pada satu pihak tertentu. Iran disebut di setiap laporan berita sebagai pemicu, karena Iran yang menembaki kilang-kilang minyak Teluk. Tapi siapa yang sesungguhnya sudah menyerang Qatar, sekutu dekat Riyadh, hanya beberapa hari sebelum pakta ini diteken? Bukan Teheran. Israel menyerang wilayah Qatar, dan Riyadh menjawabnya bukan dengan kecaman melainkan dengan menandatangani pakta pertahanan yang justru berpotensi menghadapkan mereka pada Iran, bukan pada negara yang benar-benar baru saja melanggar kedaulatan sekutunya. Ini adalah logika yang terbalik dengan sempurna. Sebuah negara yang telah menyatakan, lewat peta yang dipajang di podium Perserikatan Bangsa-Bangsa, bahwa wilayahnya membentang hingga menelan sebagian Semenanjung Arab dalam konsepsi "Israel Raya" — negara itu tidak menjadi alasan pembentukan pakta pertahanan trilateral. Yang menjadi alasan adalah Iran, yang sejak Februari memang menembaki Teluk sebagai balasan atas serangan Amerika-Israel terhadap wilayahnya sendiri. Sebab-akibat dibalik sedemikian rapi sehingga korban serangan awal — Iran — kini didudukkan sebagai ancaman utama bagi ketiga negara ini, sementara pihak yang memulai eskalasi, yang mempertahankan proyek ekspansi teritorial paling terang-terangan di kawasan, diperlakukan sebagai mitra keamanan yang tidak perlu disinggung. Erdogan menandatangani pakta ini sambil pemerintahannya sendiri secara retoris mengecam genosida di Gaza. Pakistan menandatangani sebagai pemilik satu-satunya senjata nuklir di dunia Muslim, kekuatan pencegah yang justru paling relevan jika diarahkan pada negara yang sudah menduduki Tepi Barat, mencaplok Golan, meratakan Gaza, dan menyerang Lebanon, Suriah, Yaman, serta terbaru Qatar — bukan pada Iran yang tidak pernah menyatakan niat mencaplok tanah Arab manapun. Kombinasi kekuatan finansial Saudi, industri pertahanan Turki, dan daya gentar nuklir Pakistan adalah persis apa yang dibutuhkan untuk menekan Israel menghentikan proyek Israel Raya dan mengakhiri pendudukan Palestina. Kombinasi itu justru dirumuskan untuk skenario lain. Yang lebih menyingkap adalah argumen "purely defensive in nature" yang dipakai pejabat Turki untuk meredakan kekhawatiran. Defensif terhadap apa? Terhadap negara yang selama tiga tahun terakhir menembaki delapan negara berbeda di kawasan, termasuk terbaru Qatar, ataukah terhadap negara yang membalas serangan yang lebih dulu dijatuhkan atasnya? Definisi "agresi" dalam pakta ini ternyata cair, tergantung siapa yang menembak lebih dulu di narasi resmi, bukan siapa yang menembak lebih dulu di kenyataan. Anggota parlemen Iran menyebut pakta ini "perjanjian di atas kertas" yang tidak akan memberi keamanan sungguhan. Ironinya, ia mungkin benar — bukan karena Turki dan Pakistan lemah, melainkan karena pakta ini dirancang untuk menghadapi ancaman yang bukan ancaman utama, sambil membiarkan yang sesungguhnya berjalan tanpa hambatan tambahan apa pun.