Al-Hijri
Статистика© Kritik & Saran: +62 853-6176-8769 Channel Al-Hijri adalah sebuah media yang menampilkan; ※ Penanggalan Hijriyah. ※ Beberapa peristiwa dalam sejarah Islam. ※ Nasehat-nasehat ulama salafus shalih/rabbani yang sesuai dengan manhaj Ahlussunnah wal jama'ah.
- Последний пост
- 14 авг.
- Последнее чтение
- 15 авг.
- Постов за неделю
- 3
- Всего постов
- 43
- Тип
- открытый
- Язык
- индонезийский
- Категория
- Религия
- В каталоге с
- 13 авг.
- 1/24сутки в ленте
- 234
- 1/48двое суток
- 268
- 1/72трое суток
- 289
Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.
Посты
без подписи
без подписи
без подписи
#LembarAkhlak ARS-TZH-1448.II.24 TIDAK SEMUA HAL LAYAK DIKOMENTARI Hari ini, hampir semua hal bisa kita komentari. Apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, bahkan perkara yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan kita. Namun, kebebasan berbicara tidak berarti setiap perkara harus kita komentari. Islam tidak melarang seseorang berbicara dan menyampaikan pendapat. Namun, seorang muslim diajarkan untuk mempertimbangkan apa yang ia bicarakan dan apakah perkara tersebut memang layak ia masuki. Di antara nasihat salaf yang patut direnungkan dalam masalah ini ialah perkataan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu: أَكْثَرُ النَّاسِ ذُنُوبًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ خَوْضًا فِي الْبَاطِلِ “Orang yang paling banyak dosanya pada hari Kiamat adalah mereka yang paling banyak menghabiskan waktunya dalam kebatilan.”¹ Nasihat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu ini mengingatkan bahwa seseorang dapat menabung dosa ketika ia menghabiskan banyak waktunya untuk perkara yang tidak bermanfaat baginya, ikut menanggapi perkara yang bukan urusannya, atau larut dalam pembicaraan yang sebenarnya tidak membawa manfaat. Di media sosial, kebiasaan ini menjadi semakin mudah dilakukan. Kita melihat seseorang sedang sakit, lalu merasa perlu berkomentar dengan ucapan yang justru memperburuk keadaan, bukan mendoakan kesembuhannya. Kita melihat seseorang yang sudah lanjut usia masih berusaha mencari rezeki dengan berjualan, lalu merasa bebas mengomentari usia, penampilan, atau pekerjaannya. Padahal, apa manfaat yang kita dapatkan dengan merendahkan seseorang yang sedang berusaha mencari rezeki yang halal? Ia tidak mencuri, tidak mengambil hak kita, dan tidak mengganggu kita. Namun, kita justru menghabiskan waktu untuk meninggalkan komentar yang mungkin menjadi luka bagi orang lain. Demikian pula ketika menemukan persoalan yang sebenarnya bukan urusan kita, lalu merasa perlu memberikan pendapat meskipun tidak memiliki ilmu yang cukup tentang perkara tersebut. Tanpa disadari, waktu dan perhatian kita pun habis untuk perkara yang sebenarnya tidak perlu kita tanggapi. Namun, yang perlu kita khawatirkan bukan hanya ucapan yang salah, tetapi kebiasaan merasa perlu ikut campur dalam segala hal. Kita mungkin merasa komentar itu hanya membutuhkan beberapa detik, tetapi jika kebiasaan tersebut terus diulang, bukankah kita sedang menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak memberi manfaat kepada kita? Karena itu, sudahkah kita menghitung kembali ke mana waktu dan perhatian kita selama ini diarahkan? Mungkin ada banyak hal yang selama ini kita komentari, tetapi sedikit sekali yang benar-benar memberi manfaat. Maka, sebelum menulis atau berbicara, tidak ada salahnya bertanya: apakah ini perlu, apakah ini bermanfaat, dan apakah saya akan dimintai pertanggungjawaban atasnya? Menahan diri dari perkara yang tidak bermanfaat adalah bagian dari menjaga lisan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” HR. Bukhari (no. 10) dan Muslim (no. 40) dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu ‘anhuma. Jadilah orang yang kehadirannya membuat orang lain merasa aman, bukan merasa terganggu, terancam, dan terluka. 📚 Catatan Referensi ¹ Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Az-Zuhd, karya Waki' bin al-Jarrah, no. 284. ² HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40, dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma. •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM= 📟 WA alilmoe: https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b
без подписи
#LembarAkhlak ARS-TZH-1448.II.23 TIDAK ADA NIKMAT YANG LEBIH BESAR DARIPADA IMAN Ketika berbicara tentang nikmat, kebanyakan orang langsung teringat harta, kesehatan, keluarga, atau kedudukan. Tidak sedikit waktu, pikiran, dan tenaga dicurahkan untuk menjaga semua itu. Namun, sering kali kita melupakan satu nikmat yang tanpanya seluruh kenikmatan dunia tidak akan pernah mengantarkan seorang hamba kepada kebahagiaan yang hakiki. Di antara doa yang menunjukkan betapa berharganya nikmat tersebut ialah doa yang dipanjatkan oleh Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma (w. 73 H). Beliau berdoa: اللَّهُمَّ لَا تَنْزِعْ مِنِّي الْإِيمَانَ كَمَا أَعْطَيْتَنِيهِ "Ya Allah, janganlah Engkau cabut dariku nikmat iman yang telah Engkau anugerahkan kepadaku."¹ Melalui doa ini, Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma mengajarkan bahwa iman adalah anugerah dari Allah yang harus terus dijaga. Beliau tidak hanya bersyukur karena telah diberi nikmat iman, tetapi juga memohon agar nikmat tersebut tidak dicabut darinya. Sebab, seorang mukmin tidak cukup hanya diberi hidayah pada awal kehidupannya, tetapi juga membutuhkan keteguhan hingga akhir hayat. Mengapa seorang mukmin perlu terus memohon agar imannya tetap terjaga? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa iman tidak selalu berada dalam keadaan yang sama. Beliau bersabda: إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ "Sesungguhnya iman di dalam hati salah seorang di antara kalian dapat menjadi usang sebagaimana pakaian menjadi usang. Karena itu, mintalah kepada Allah agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian."² Hadits ini menunjukkan bahwa iman di dalam hati seorang hamba tidak selalu berada dalam keadaan yang sama. Sebagaimana pakaian dapat menjadi usang karena sering dipakai, demikian pula iman dapat melemah apabila tidak dipelihara. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ tidak hanya mengabarkan keadaan tersebut, tetapi juga mengajarkan jalan keluarnya, yaitu dengan senantiasa memohon kepada Allah agar iman di dalam hati kita terus diperbarui. Apabila pakaian yang usang saja kita berusaha menggantinya dengan yang baru, maka bukankah iman jauh lebih layak untuk terus kita perbarui? Barangkali selama ini kita lebih sering berdoa agar harta, kesehatan, dan keluarga tetap terjaga. Namun, sudahkah kita menjadikan iman sebagai nikmat yang paling sering kita mohon agar Allah pelihara? Semoga Allah menjaga nikmat iman yang telah Dia anugerahkan kepada kita, memperbaruinya setiap waktu, dan mewafatkan kita dalam keadaan tetap beriman kepada-Nya. Āmīn. --- 📚 Catatan Referensi ¹ Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma (w. 73 H). Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, no. 30964. ² HR. At-Thabrani dalam Al-Mu'jam al-Kabir no. 13559, dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam As-Silsilah ash-Shahihah, no. 1585. •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM= 📟 WA alilmoe: https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b
без подписи
без подписи
ARSIP SERI ARS-AQD-1448.II.17 ILMU YANG DIBERKAHI TIDAK MENCARI VALIDASI Semakin Allah melapangkan ilmu seorang hamba, semakin besar pula amanah yang dipikulnya. Sebab, ilmu bukanlah jalan untuk mencari penghormatan, tetapi sarana mengajak manusia kembali kepada Allah serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Semakin luas ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya menjaga kemurnian dakwah. Ia mengajak manusia mendekat kepada Allah, bukan mengikat hati mereka kepada dirinya sendiri. Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah (w. 1421 H) berkata¹: مَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِ بِالْعِلْمِ النَّافِعِ فَإِنَّهُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَدْعُوَ النَّاسَ إِلَى عِبَادَةِ نَفْسِهِ "Siapa yang dianugerahi Allah ilmu yang bermanfaat, maka tidak mungkin ia mengajak manusia untuk menghambakan diri kepadanya." Nasihat Syaikh Ibnu 'Utsaimin ini mengingatkan bahwa ilmu yang bermanfaat selalu mengarahkan manusia kepada Allah. Semakin luas ilmu seseorang, semakin kecil keinginannya untuk dipuji, diutamakan, atau dijadikan pusat perhatian. Sebab, para nabi diutus bukan untuk membangun pengagungan terhadap pribadi mereka, melainkan untuk mengajak manusia memurnikan ibadah kepada Allah semata. Karena itu, keberhasilan dakwah tidak diukur dari besarnya penghormatan yang diterima seorang dai, tetapi dari sejauh mana manusia semakin mengenal Allah, mencintai syariat-Nya, dan mengikuti Rasulullah ﷺ. Apabila perhatian manusia lebih banyak tertuju kepada pribadi daripada kepada petunjuk yang disampaikan, maka seorang penuntut ilmu perlu kembali mengoreksi niat dan arah dakwahnya. Setiap penuntut ilmu perlu terus mengoreksi niatnya. Jangan sampai ilmu yang semestinya mengantarkan manusia kepada Allah justru membuat hati mereka bergantung kepada dirinya. Sebab, ilmu yang diberkahi melahirkan kerendahan hati, bukan keinginan untuk terus dipuji, dihormati, atau diutamakan. Semakin bertambah ilmu kita, ke manakah hati manusia kita arahkan? Kepada Allah, atau tanpa disadari kepada diri kita sendiri? Ilmu adalah amanah sebelum menjadi kemuliaan. Semoga Allah menjadikan ilmu yang kita pelajari sebagai jalan yang mengantarkan manusia kepada-Nya, bukan kepada diri kita. 📚 Catatan Referensi: ¹ Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin (w. 1421 H). Tafsir Surah Āli 'Imrān, penjelasan QS. Āli 'Imrān ayat 79. #berilmusebelumberamal #akidah #kajianislam #tauhid #nasihatulama •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe 📟 Telegram Al-Ilmoe: https://t.me/alilmoe
без подписи
ARSIP SERI ARS-TZH-1448.II.16 GENERASI SALAF DAN KEINGINAN UNTUK TIDAK TERKENAL Di saat banyak orang berlomba agar dikenal karena ilmunya, para ulama justru lebih berharap ilmunya tersebar daripada namanya selalu disebut-sebut. Sebab, bagi mereka ukuran keberhasilan seorang penuntut ilmu bukanlah banyaknya orang yang mengenalnya, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan manusia dari ilmu tersebut. Di antara nasihat yang menunjukkan keikhlasan para ulama ialah apa yang dinukil oleh Harmalah bin Yahya at-Tujibi al-Mishri rahimahullah (w. 243 H). Beliau berkata bahwa dirinya pernah mendengar Imam asy-Syafi'i rahimahullah (w. 204 H) berkata: وَدِدْتُ أَنَّ كُلَّ عِلْمٍ أَعْلَمُهُ تَعَلَّمَهُ النَّاسُ، أُؤْجَرُ عَلَيْهِ وَلَا يَحْمَدُونِي. "Aku berharap setiap ilmu yang aku ketahui dipelajari oleh manusia. Aku memperoleh pahala karenanya, tanpa mereka harus memujiku."¹ Ucapan Imam asy-Syafi'i ini menunjukkan salah satu bentuk keikhlasan yang sangat sulit diwujudkan. Sebab, jiwa manusia pada dasarnya senang dipuji, dihormati, dan diakui. Karena itu, semakin besar manfaat yang diberikan seseorang kepada manusia tanpa mengharapkan pujian, semakin tampak pula keikhlasan amalnya. Imam asy-Syafi'i tidak berharap namanya selalu disebut setiap kali ilmunya diajarkan. Beliau juga tidak menginginkan manusia mengingatnya karena popularitasnya. Yang beliau harapkan hanyalah satu: ilmu itu dipelajari oleh manusia, sementara pahala dari Allah terus mengalir, meskipun tidak ada seorang pun yang memujinya. Di setiap zaman, manusia memiliki kecenderungan untuk senang dikenal dan dipuji. Pada masa ini, keinginan tersebut sering kali tampak melalui banyaknya pengikut, tingginya jumlah tayangan, atau beragam bentuk apresiasi dari manusia. Nasihat Imam asy-Syafi'i mengajak kita mengoreksi kembali niat dalam menuntut dan menyebarkan ilmu. Jangan sampai perhatian kita lebih tertuju kepada bertambahnya pengikut daripada bertambahnya orang yang memperoleh manfaat. Sebab, yang akan menjadi pemberat timbangan amal bukanlah popularitas atau banyaknya orang yang mengenal nama kita, melainkan banyaknya manfaat yang Allah hadirkan melalui ilmu yang Dia titipkan kepada kita. Popularitas akan berakhir bersama dunia, sedangkan pahala dari ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir hingga setelah kita tiada. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita keikhlasan dalam menuntut, mengamalkan, dan menyebarkan ilmu, serta menjadikan ilmu yang kita pelajari sebagai amal jariyah yang terus mengalir pahalanya, meskipun nama kita tidak dikenal manusia. 📚 Catatan Referensi: ¹ Adz-Dzahabi (w. 748 H). Siyar A'lām an-Nubalā'. Jilid 10, hlm. 55. #berilmusebelumberamal #ikhlas #ilmu #adab #muhasabah #tazkiyah #kajianislam #imamsyafii #dakwah #nasihatulama •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM= 📟 WA alilmoe: https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b
без подписи
ARSIP SERI ARS-TZH-1448.II.15 BERGANTI TAHUN BUKAN SEKADAR MENAMBAH USIA Banyak orang bergembira ketika usianya bertambah satu tahun. Padahal, setiap tahun yang berlalu bukan sekadar menambah angka usia, tetapi juga mengurangi jarak antara kita dengan kubur. Artinya, setiap pergantian tahun membuat perjalanan menuju akhir kehidupan semakin pendek. Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah (w. 1421 H) memberikan sebuah renungan yang singkat. Menurut beliau, pergantian tahun bukan sekadar bertambahnya angka pada usia, tetapi juga pengingat bahwa perjalanan menuju akhirat semakin dekat. Beliau berkata¹: كُلُّ عَامٍ يَمُرُّ بِكُمْ يُقَرِّبُكُمْ مِنَ الْقُبُورِ عَامًا، وَيُبْعِدُكُمْ عَنِ الْقُصُورِ عَامًا. "Setiap tahun yang berlalu akan semakin mendekatkan kita kepada kubur selama satu tahun, dan semakin menjauhkan dari istana-istana (kemewahan dunia) selama satu tahun." Renungan ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak memandang bertambahnya usia sebagaimana kebanyakan manusia memandangnya. Setiap tahun yang berlalu bukan sekadar pertambahan angka, tetapi juga pengingat bahwa waktu untuk beramal semakin berkurang, sedangkan perjalanan menuju akhirat semakin dekat. Ungkapan "semakin jauh dari istana-istana" bukanlah larangan untuk memiliki dunia. Yang diingatkan adalah bahwa seluruh kemewahan yang dikejar manusia pada akhirnya akan ditinggalkan. Rumah, harta, jabatan, dan segala yang dibanggakan tidak akan ikut menemani seseorang ketika memasuki alam kubur. Yang akan menyertainya hanyalah amal yang telah dipersiapkannya selama hidup di dunia. Tidak sedikit orang bergembira menyambut bertambahnya usia, bahkan merayakannya setiap tahun. Padahal, jika direnungkan, setiap bertambahnya usia juga berarti semakin dekatnya perjalanan menuju kubur. Maka, yang lebih pantas disyukuri bukanlah sekadar bertambahnya angka usia, melainkan apabila bertambah pula iman, amal saleh, dan bekal untuk akhirat. Semoga Allah menjadikan setiap hari yang kita lalui sebagai tambahan iman, amal saleh, dan persiapan untuk bertemu dengan-Nya. Sebab, setiap tahun yang berlalu bukan sekadar menambah usia, tetapi juga mengurangi sisa waktu yang Allah berikan kepada kita untuk beramal. Hasan al-Bashri rahimahullah (w. 110 H) pernah berkata²: يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ "Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka berlalulah sebagian dari dirimu." 📚 Catatan Referensi: ¹ Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin (w. 1421 H). Adh-Dhiyā' al-Lāmi'. Hlm. 703. ² Diriwayatkan dari Hasan al-Bashri rahimahullah (w. 110 H). Lihat: Abū Nu'aim al-Aṣbahānī, Ḥilyat al-Auliyā', jil. 2, hlm. 148. #berilmusebelumberamal #muhasabah #tazkiyah #kajianislam #islam #dakwah #nasihatulama #akhirat #kematian •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM= 📟 WA alilmoe: https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b
без подписи
ARSIP SERI ARS-TZH-1448.II.14 KETIKA ADAB MULAI MEMUDAR Tidak semua ucapan yang kita sesali diucapkan dalam keadaan marah. Ada pula yang keluar ketika sedang bercanda. Bahkan, betapa banyak orang yang baru menyesal setelah kata-kata itu terucap. Karena itu, para ulama memberikan sebuah nasihat yang sangat singkat, tetapi mengandung pelajaran yang amat dalam. Ibnu Qutaibah rahimahullah (w. 276 H) menukil sebuah nasihat yang sangat singkat. Meskipun ringkas, kalimat ini layak menjadi pegangan setiap muslim dalam menjaga lisannya agar tetap berada dalam batas-batas adab. إِذَا قَلَّ أَدَبُكَ فَالْزَمِ الصَّمْتَ "Apabila adabmu mulai berkurang, maka jagalah lisanmu dengan diam."¹ Nasihat ini bukan berarti seseorang harus selalu diam dalam setiap keadaan. Yang diajarkan adalah mengenali dirinya sendiri. Ketika emosi mulai menguasai hati, ketika adab mulai memudar, atau ketika ucapan dikhawatirkan lebih banyak membawa mudarat daripada manfaat, saat itulah diam menjadi penjaga lisan. Betapa banyak hubungan yang rusak hanya karena satu kalimat yang diucapkan tanpa dipikirkan. Sebaliknya, sangat sedikit orang yang menyesal karena memilih diam pada waktu yang tepat. Sebab, tidak setiap hal harus ditanggapi, tidak setiap perdebatan harus dimenangkan, dan tidak setiap pembicaraan harus diikuti. Rasulullah ﷺ juga mengajarkan prinsip yang sama: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam."² Tidak setiap keadaan menuntut kita untuk berbicara. Terkadang menjaga adab jauh lebih utama daripada memenangkan perdebatan. Sebab, satu kalimat dapat melukai hati seseorang, sedangkan diam karena takut kepada Allah bisa menjadi ibadah yang tidak disadari. Nasihat ini dipertegas oleh Ibnu al-Wazir rahimahullah (w. 840 H). Beliau berkata: وَأَكْثَرُ النَّاسِ لَا يَصْبِرُ عَنِ الْخَوْضِ فِيمَا لَا يَعْنِيهِ، وَلَا يَتَكَلَّمُ بِتَحْقِيقِ مَا يَخُوضُ فِيهِ، وَهَذَا هُوَ الَّذِي أَفْسَدَ الدِّينَ وَالدُّنْيَا، فَرَحِمَ اللَّهُ مَنْ تَكَلَّمَ بِعِلْمٍ، أَوْ سَكَتَ بِحِلْمٍ. "Kebanyakan manusia tidak mampu menahan diri untuk tidak membicarakan perkara yang tidak bermanfaat baginya. Mereka juga tidak mampu berbicara dengan benar dalam perkara yang mereka ikuti. Inilah yang merusak agama dan dunia seseorang. Semoga Allah merahmati orang yang berbicara dengan ilmu atau memilih diam dengan penuh kelembutan."³ 📚 Catatan Referensi: ¹ Ibnu Qutaibah ad-Dīnawarī (w. 276 H). ʿUyūn al-Akhbār. Jilid 1, hlm. 19. ² HR. al-Bukhari (no. 6018) dan Muslim (no. 47), dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. ³ Ibnu al-Wazir (w. 840 H). Al-'Awāṣim wa al-Qawāṣim fī adz-Dzabbi 'an Sunnati Abī al-Qāsim. Jilid 7, hlm. 5. #berilmusebelumberamal #adab #akhlak #muhasabah #tazkiyah #kajianislam #dakwah #nasihatulama #islam •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM= 📟 WA alilmoe: https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b
без подписи
Di antara doa yang senantiasa dibaca Rasulullah ﷺ setiap selesai shalat Subuh adalah³: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik (halal), dan amal yang diterima." Betapa indah doa ini. Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita sekadar meminta ilmu, rezeki, dan amal, tetapi meminta ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima. Sebab, setiap nikmat yang tidak diberkahi dapat menjadi sebab kesengsaraan, sedangkan nikmat yang diberkahi akan mengantarkan seorang hamba menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. 📚 Catatan Referensi: ¹ Usāmah bin Munqidh (w. 584 H). Lubāb al-Ādāb. Jilid 1, hlm. 255, menukil perkataan Dzu an-Nun al-Mishri rahimahullah. ² Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H). Al-Fawā'id. Hlm. 155. ³ HR. Ibnu Mājah no. 925, dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Mājah. #berilmusebelumberamal #muhasabah #tazkiyah #kajianislam #islam #dakwah #nasihatulama •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM= 📟 WA alilmoe: https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b
ARSIP SERI ARS-TZH-1448.II.13 SAAT NIKMAT MENJADI SEBAB KESENGSARAAN Tidak sedikit orang takut kehilangan nikmat, tetapi lupa bahwa nikmat itu sendiri dapat menjadi awal kesengsaraan apabila tidak melahirkan rasa syukur dan ketaatan. Padahal, para ulama mengajarkan bahwa nikmat yang sama dapat melahirkan dua keadaan yang berbeda. Ada hamba yang meraih kebahagiaan karenanya, dan ada pula yang justru terjerumus ke dalam kesengsaraan. Karena itu, yang lebih penting bukanlah nikmat apa yang sedang kita kejar, melainkan bagaimana keadaan kita setelah Allah menganugerahkannya. Dzu an-Nun al-Mishri rahimahullah (w. 245 H) berkata¹: وَعَلَامَةُ الشَّقَاءِ ثَلَاثٌ: مَتَى مَا زِيدَ فِي عُمُرِهِ زِيدَ فِي حِرْصِهِ، وَمَتَى مَا زِيدَ فِي مَالِهِ زِيدَ فِي بُخْلِهِ، وَمَتَى مَا زِيدَ فِي قَدْرِهِ زِيدَ فِي تَجَبُّرِهِ وَقَهْرِهِ وَتَكَبُّرِهِ. "Tanda kesengsaraan ada tiga: semakin bertambah usianya, semakin bertambah pula kerakusannya terhadap dunia; semakin bertambah hartanya, semakin bertambah pula kekikirannya; dan semakin tinggi kedudukannya, semakin bertambah pula kesewenang-wenangan, sikap menindas, dan kesombongannya." Dzu an-Nun tidak sedang mencela panjang umur, banyak harta, ataupun tingginya kedudukan. Yang beliau ingatkan ialah ketika nikmat-nikmat dunia itu tidak lagi melahirkan rasa syukur dan ketaatan, tetapi justru menumbuhkan kerakusan, kekikiran, dan kesombongan. Di situlah nikmat berubah menjadi sebab kesengsaraan bagi pemiliknya. Jika Dzu an-Nun mengingatkan bahaya nikmat dunia yang tidak diberkahi, maka Ibnu al-Qayyim rahimahullah² menunjukkan bahwa hal yang sama juga dapat menimpa nikmat agama. Ilmu dan amal yang seharusnya semakin mendekatkan seorang hamba kepada Allah justru dapat berubah menjadi sebab kesengsaraan apabila tidak melahirkan tawadhu', keikhlasan, dan rasa takut kepada-Nya. وَعَلَامَاتُ الشَّقَاوَةِ أَنَّهُ كُلَّمَا زِيدَ فِي عِلْمِهِ زِيدَ فِي كِبْرِهِ وَتِيهِهِ، وَكُلَّمَا زِيدَ فِي عَمَلِهِ زِيدَ فِي فَخْرِهِ وَاحْتِقَارِهِ لِلنَّاسِ وَحُسْنِ ظَنِّهِ بِنَفْسِهِ، وَكُلَّمَا زِيدَ فِي عُمُرِهِ زِيدَ فِي حِرْصِهِ، وَكُلَّمَا زِيدَ فِي مَالِهِ زِيدَ فِي بُخْلِهِ وَإِمْسَاكِهِ، وَكُلَّمَا زِيدَ فِي قَدْرِهِ وَجَاهِهِ زِيدَ فِي كِبْرِهِ وَتِيهِهِ. "Di antara tanda kesengsaraan ialah ketika bertambahnya ilmu justru menambah kesombongan dan rasa tinggi diri; bertambahnya amal menambah kebanggaan terhadap diri, meremehkan manusia, dan merasa dirinya lebih baik; bertambahnya usia menambah kerakusan; bertambahnya harta menambah kekikiran dan keengganan untuk memberi; serta bertambahnya kedudukan dan kehormatan menambah kesombongan dan rasa tinggi diri." Melalui penjelasan ini, Ibnu al-Qayyim mengajarkan bahwa fitnah seorang hamba tidak hanya terdapat pada nikmat dunia, tetapi juga pada nikmat agama. Harta dapat melahirkan kekikiran, kedudukan dapat melahirkan kesombongan, ilmu dapat melahirkan ujub, dan amal dapat melahirkan rasa bangga terhadap diri sendiri. Semakin besar nikmat yang Allah berikan, semakin besar pula amanah untuk menjaganya agar tetap mengantarkan seorang hamba semakin dekat kepada-Nya. Karena itu, seorang muslim tidak hanya memohon kepada Allah agar diberikan nikmat, tetapi juga memohon keberkahan pada setiap nikmat yang diterimanya. Sebab, ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima bukan sekadar banyaknya karunia, tetapi karunia yang diberkahi oleh Allah.
без подписи
ARSIP SERI ARS-AKH-1448.II.12 KETIKA NIKMAT BERUBAH MENJADI PERANGKAP SETAN Setiap orang tentu menginginkan nikmat. Rezeki yang lapang, kedudukan yang baik, kesehatan, keluarga, dan berbagai kemudahan hidup merupakan karunia yang selalu diharapkan oleh setiap manusia. Namun, tidak semua orang mampu menyikapi nikmat dengan benar. Ada yang semakin bersyukur ketika nikmat bertambah, tetapi tidak sedikit pula yang justru berubah menjadi sombong, merasa lebih mulia daripada orang lain, bahkan semakin jauh dari Allah. Di sinilah letak salah satu ujian terbesar dalam kehidupan seorang hamba. Karena itu, para salaf tidak hanya mengingatkan bahaya maksiat, tetapi juga mengingatkan bahwa nikmat yang tidak disikapi dengan benar dapat berubah menjadi pintu masuk setan untuk menyesatkan manusia. Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma berkata: ««إِنَّ لِلشَّيْطَانِ مَصَائِدَ وَفُخُوخًا، وَإِنَّ مِنْ مَصَائِدِهِ وَفُخُوخِهِ: الْبَطَرَ بِأَنْعُمِ اللَّهِ، وَالْفَخْرَ بِعَطَاءِ اللَّهِ، وَالْكِبْرَ عَلَى عِبَادِ اللَّهِ، وَاتِّبَاعَ الْهَوَى فِي غَيْرِ ذَاتِ اللَّهِ»» “Sesungguhnya setan memiliki perangkap-perangkap dan jerat-jerat. Di antara perangkap dan jeratnya ialah terpedaya oleh nikmat Allah hingga menjadi sombong, berbangga dengan karunia-Nya, bersikap sombong kepada hamba-hamba Allah, serta lebih mengikuti hawa nafsunya daripada petunjuk Allah.”¹ Perkataan Nu'man bin Basyir menunjukkan bahwa setan tidak selalu menjerumuskan manusia melalui kemiskinan, kesulitan, atau kemaksiatan yang tampak jelas. Terkadang, ia justru memanfaatkan nikmat yang Allah berikan agar seseorang lupa bersyukur, membanggakan dirinya, meremehkan orang lain, hingga akhirnya menjadikan hawa nafsu sebagai pedoman hidup. Inilah hakikat al-baṭar. Bukan sekadar bergembira karena memperoleh nikmat, tetapi gagal menyikapi nikmat tersebut sebagaimana yang Allah kehendaki. Nikmat yang seharusnya mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya justru berubah menjadi sebab lahirnya kesombongan dan kebinasaan. Maka, setiap kali Allah menambah nikmat kepada kita, hendaknya yang pertama kali kita khawatirkan bukanlah berkurangnya nikmat itu, tetapi apakah hati kita masih dipenuhi rasa syukur atau justru mulai dipenuhi rasa bangga terhadap diri sendiri. Sebab, tidak sedikit orang yang gagal menghadapi ujian ketika hidupnya menjadi lebih mudah. Semoga Allah menjadikan setiap nikmat yang kita miliki sebagai jalan untuk semakin bersyukur, semakin tawadhu', dan semakin dekat kepada-Nya, serta melindungi kita dari setiap perangkap setan yang tersembunyi di balik berbagai kenikmatan yang Dia karuniakan. 📚 Catatan Referensi: ¹ Dinukil dalam Naḍrah an-Na'īm fī Makārim Akhlāq ar-Rasūl al-Karīm, Bab Al-Bathar, Juz 9, hlm. 4070. #akhlak #tazkiyatunnafs #adab #dakwah #nasihatulama #berilmusebelumberamal •┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM= 📟 WA alilmoe: https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b