tgindex
#GenerasiTarbiyah

#GenerasiTarbiyah

Статистика
@generasitarbiyahРелигияиндонезийский

Tarbiyah

Последний пост
24 июн.
Последнее чтение
14 авг.
Постов за неделю
0
Всего постов
20
Тип
открытый
Язык
индонезийский
Категория
Религия (по похожим)
В каталоге с
13 авг.
Подписчики
2 858
−3 за 4 дн.
Сутки
−3
−0,10%
Неделя
 
Месяц
 
Просмотров на пост
915
19 постов
Вовлечённость
32,0%
к подписчикам
Постов в день
0,0
всего 20
Упоминаний
0
каналов
Охват размещения
оценка
1/24сутки в ленте
1/48двое суток
1/72трое суток

Оценка по просмотрам недавних постов: пост набирает почти всё за первые сутки.

Посты

  • без подписи

  • Lagi. Kembali mengetuk ruang ini bukan sekadar urusan unjuk rupa, melainkan cara menjemput pulang jiwa yang sempat jeda. Menatap arah yang sempat tertunda, menyadari setiap desis di dada ini sebenarnya adalah panggilan sunyi untuk melangkah lagi dan merawat kepedulian yang tak boleh padam. Dari sinilah arah keberpihakan itu bermula, mengalir menuju janji setia yang terpatri di dalam dada: seluruh detak ini tetap tertambat di tanah Palestina. Ini bukan tentang tren yang lekas padam saat dunia abai, melainkan komitmen yang enggan mati menemani perjuangan mereka. Sebab, setiap karya yang lahir adalah tentang melanjutkan estafet dakwah yang belum selesai. Selama napas dipinjamkan dan jemari mampu bersuara, jeritan luka di sana akan terus digaungkan agar tidak senyap ditelan sepi. Kini, generasi pengingat ini memijakkan langkah lebih kokoh. Menolak diam, memilih konsisten menyuarakan kebenaran, dan memastikan kita tidak pernah menyerah untuk mereka. Kami kembali lagi, kawan. 📷 @tarbiyah.generation

  • без подписи

  • Lagi. Ternyata, perjalanan terjauh adalah pulang ke dalam diri. Menatap cermin yang lama dihindari, menyadari setiap seruan ke luar sana sebenarnya tamparan keras yang berbalik memukul angkuhku yang paling dalam. Riuh di media sosial hanyalah cara meredam sunyi di dada. Sebuah upaya menjemput kembali bagian jiwa yang tercecer, karena selama ini pandangan terlalu sibuk mengurusi hal-hal di luar selain-Nya. Kembali merilis karya visual dan berbagi pesan bukan berarti aku sudah selesai membenahi diri. Justru sebaliknya; ini caraku bertahan, memaksa hati yang keras mendengar kebenaran—meski lewat poster sederhana yang kusuguhkan sendiri. Kini, fokusnya bukan lagi siapa yang berhasil diyakinkan, melainkan seberapa jujur mengenali rapuh diri. Ini proses panjang untuk merunduk, mengaku bahwa yang paling butuh diperbaiki adalah ruang hampa di dada ini. Kami kembali lagi, kawan. 📷 @tarbiyah.generation

  • без подписи

  • без подписи

  • без подписи

  • без подписи

  • без подписи

  • без подписи

  • без подписи

  • Channel photo updated

  • без подписи

  • без подписи

  • Keluarga besar #GenerasiTarbiyah Mengucapkan: Selamat Hari Raya Iduladha, 10 Dzulhijjah 1446 H. تقبل الله منا ومنكم Semoga Allah menerima (amal ibadah) dari kami dan dari kalian. Tahun ini, maafkan kami karena masih qurban perasaan lagi. Belum mampu menyembelih selain ego, harap yang tak terpenuhi, dan keluh kesah yang diam-diam tumbuh. Tapi kami belajar, bahwa qurban bukan hanya tentang hewan yang disembelih, melainkan tentang hati yang rela melepaskan dan jiwa yang berserah sepenuhnya. Semoga yang belum bisa berqurban tahun ini, Allah cukupkan rezekinya dan lapangkan jalannya di waktu yang terbaik. Dan semoga setiap niat baik dicatat sebagai amal yang diterima. Untuk kalian yang diam-diam berjuang, menjaga niat tetap bersih, menundukkan diri, dan terus melangkah dalam kebaikan—kalian luar biasa. Selamat bergembira, kawan. 📷 @tarbiyah.generation

  • без подписи

  • без подписи

  • World. Mereka ingin menghapus sebuah nama, sebuah tanah, sebuah bangsa—dengan tekanan, pembatasan, dan narasi yang direkayasa. Namun yang terjadi justru sebaliknya: kesadaran tumbuh. Dari jalan-jalan kecil hingga mural di kota besar, Palestina hidup di hati yang menolak diam. Saat sebagian suara dipadamkan, gema justru datang dari penjuru lain. Palestina tak pernah benar-benar sendiri—ia hidup di hati banyak orang, menjelma jadi simbol keteguhan di tengah luka, harapan di tengah sunyi yang disengaja. Kini bukan lagi soal titik di peta, tapi di mana hati memilih berpijak. Palestina hadir sebagai nurani yang terjaga—mengalir dalam doa, tumbuh dalam empati yang menembus sekat. Ia mengingatkan kita: selama hati masih hidup, kebenaran tak bisa dipadamkan. Mereka berkata, “Palestina akan hilang.” Namun dunia menjawab: “Kami semua Palestina.” Bukan hanya dalam nama, tapi dalam sikap, dalam pilihan-pilihan kecil yang penuh makna. Jangan biarkan cerita mereka padam, kawan. 📷 @tarbiyah.generation

  • без подписи

  • без подписи